Sabtu, 10 Maret 2012

Kirim Santri Ke Mesir, Inilah Motif Syekh A Khotib Minangkabau

Jakarta, RMI NU Tegal - Di antara ulama Nusantara yang menjadi imam besar di Mekkah adalah Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Selain mengajar di sekitaran Ka‘bah, ia juga mengarang beberapa kitab dengan berbagai macam bidang ilmu keislaman.

Syekh Ahmad Khatib Minangkabau memang tidak secara langsung menulis nasionalisme di dalam karya-karyanya, tetapi ia memiliki semangat nasionalisme. Hal itu ia buktikan dengan pengiriman murid-muridnya ke Mesir untuk menimba ilmu di sana dan menyerap semangat nasionalisme yang sedang menguat di Mesir.

Kirim Santri Ke Mesir, Inilah Motif Syekh A Khotib Minangkabau (Sumber Gambar : Nu Online)
Kirim Santri Ke Mesir, Inilah Motif Syekh A Khotib Minangkabau (Sumber Gambar : Nu Online)

Kirim Santri Ke Mesir, Inilah Motif Syekh A Khotib Minangkabau

Demikian disampaikan Zainul Milal Bizawie usai acara Kajian Turats Ulama Nusantara dengan tema Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Kemilau Nusantara di Tanah Mekkah di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangsel, Sabtu (29/7).

RMI NU Tegal

"Motif yang dilakukan Syekh Ahmad Khatib mengirim santrinya ke Mesir, saya pikir untuk menimba semangat nasionalisme," ujar Gus Milal.

RMI NU Tegal

Senada dengan Penulis buku Masterpiece Islam Nusantara itu, Pemateri diskusi A Ginanjar Syaban menerangkan, saat itu menjadi pusat pergerakan belajar Indonesia yang sedang belajar di sana untuk menyuarakan kemerdekaan Indonesia di dunia internasional.

"Ini bisa disimak dari dua majalah. Pertama, Majalah Seruan Al-Azar yang ditulis dalam Arab pegon berbahasa Melayu tahun 1925 sampai 1927 dan diterbitkan oleh Thohir Jalaluddin, Mahfud Yunus, dan Idris Marbawi. Kedua, Majalah Merdeka," urainya.

Alumni Al-Azhar Kairo Mesir itu menambahkan, terjadi korespondensi antara dua majalah tersebut dengan majalah pelajar Indonesia yang ada di Belanda, Bintang Timur. Mereka bertugas menyebarkan gagasan terkait dengan cara memerdekakan Bumi Putera.

"Semangat kemerdekaan ini terus diperjuangkan oleh para murid Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Dengan melobi para pejabat kerajaan Mesir," ungkapnya.

Lebih lanjut, Ginanjar menceritakan bahwa setelah Perdana Menteri Mesir saat itu Nukrashi Pasya mengetahui bahwa ada negara yang penduduk Muslimnya besar. Lalu kemudian, Nukrashi bersama dengan Sekjen Liga Arab mengampanyekan kemerdekaan Indonesia di koran-koran Negara Arab, bahkan dibawa ke dalam sidang Liga Arab.

"Liga Arab mendukung penuh dan berhasil menekan PBB. Sampai PBB menekan Belanda agar menghentikan agresi militernya. Makanya kemerdekaan Indonesia pada 1949, merdeka secara total," terangnya.

Menurut Dosen Turats STAINU itu, ini juga tidak lepas dari perjuangan santri-santri Nusantara yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari tempat di mana mereka belajar.

"Tentang nasionalisme Syekh Ahmad Khatib sangat jelas sekali traknya," tegas Direktur INC itu. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Hikmah RMI NU Tegal

RMI NU Tegal - Rabithah Ma'ahid Islamiyah.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock