Kamis, 18 Mei 2017

Ini Bedanya Wali Songo dan Para Dai Sekarang

Surabaya, RMI NU Tegal - Sejarah telah mencatat ratusan bahkan jutaan masyarakat yang awalnya beragama Hindu dan Budha tertarik menjadi Muslim. Hal ini terjadi lantaran para ulama mendakwahkan agama di Tanah Air secara santun. Bahkan tradisi yang ada diisi dengan nuansa Islami.

Penjelasan ini disampaikan Ustadz Maruf Khozin ketika menjadi pemateri pada Kajian Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah atau Kiswah yang diselenggarakan oleh PW Aswaja NU Center Jawa Timur, Sabtu (1/10) sore.

Ini Bedanya Wali Songo dan Para Dai Sekarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Bedanya Wali Songo dan Para Dai Sekarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Bedanya Wali Songo dan Para Dai Sekarang

"Ratusan ribu orang diislamkan oleh Wali Songo dengan tanpa menggunakan senjata," kata Dewan Pakar PW Aswaja NU Center Jatim tersebut.

Hal ini bisa terjadi lantaran dakwah yang dilakukan menghargai tradisi setempat serta mengemasnya dengan muatan Islami, lanjutnya.

RMI NU Tegal

"Kalau sekarang, banyak kalangan yang mengafirkan orang yang nyata-nyata Muslim," keluhnya. Padahal yang bersangkutan belum pernah mengislamkan. "Jangankan ratusan orang, satu orang saja belum pernah diislamkan oleh mereka yang gemar mengafirkan tersebut," sergahnya.

RMI NU Tegal

Kearifan dalam berdakwah inilah yang sekarang harus ditiru kaum muslimin, khususnya aktivis Nahdlatul Ulama. "Tradisi yang telah mengakar di masyarakat hendaknya dimaknai sebagai kearifan lokal, dan selama tidak bertentangan dengan syariat tentu tak layak dikatakan sebagai tradisi kaum kafir," ungkapnya.

Ustadz Maruf kemudian memberikan contoh sebagian kalangan yang gemar memelihara benda pusaka semacam keris dan sebagainya untuk tidak dicap sebagai orang menyekutukan Allah SWT. "Selama tetap meyakini bahwa penentu segalanya adalah Allah, memelihara benda pusaka dan sejenisnya tidak dilarang," tegasnya.

Alumus Pesantren Lirboyo ini kemudian membandingkan dengan kecenderungan orang modern untuk mempercayakan serta pasrah kepada dokter ketika sakit. "Kalau dokter dianggap bisa menyembuhkan penyakit, maka itu sama saja dengan menyekutukan Allah," ujarnya.

Pekerjaan berat bagi kaum muslimin khususnya penyeru agama adalah tidak mudah mengafirkan kalangan lain. Hal tersebut semakin penting untuk disadari khususnya kala memasuki bulan Muharram yang dalam tradisi Jawa dikenal dengan bulan Suro yang dikenal angker.

Dalam menjalankan perintah agama, ada tiga ukuran yang dapat menjadi pegangan. "Yang pertama adalah berdasarkan Al-Quran dan hadits, kedua adalah pendapat ulama serta tradisi yang tidak bertentangan dengan syara‘," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Jadwal Kajian RMI NU Tegal

RMI NU Tegal - Rabithah Ma'ahid Islamiyah.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock