Yogyakarta, RMI NU Tegal - Nutizen sebagai media audio visual di bawah naungan NU Digital Media mengadakan Pertemuan Video Maker Pesantren/NU yang pertama kalinya? di Hotel Cakra Kembang Jalan Kaliurang km 4,5 Yogyakarta, Jumat (15/4). Pembukaan dipandu oleh Hamzah Sahal yang kemudian disambut oleh director NUtizen dan RMI NU Tegal, M Savic Alie.
Savic menjelaskan bahwa NUtizen adalah aplikasi berbasis android yang diharapkan dapat menyampaikan pemikiran-pemikiran NU yang tasamuh, tawasuth dan tawazun. Semua ini akan ditampilkan dalam bentuk audio visual.
| NUtizen Buka Pertemuan Video Maker Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online) |
NUtizen Buka Pertemuan Video Maker Pesantren
“Video merupakan media yang akan menjadi medium yang akan menjadi paling populer di dunia di masa mendatang” tegasnya.RMI NU Tegal
Lebih lanjut, ia menjelaskan ke depan, video-video yang dikumpulkan oleh NUtizen akan diterjemahkan ke beragam bahasa seluruh dunia. “Saya beberapa waktu ada PCINU Belanda minta izin untuk memberikan subtitle ke bahasa Belanda, kalau kita yang tidak memproduksi kontennya di sini, lalu siapa lagi?” tandasnya.Pertemuan yang diikuti oleh 25 peserta perwakilan pesantren dan elemen-elemen NU ini dibuka oleh Ketua PBNU H Imam Aziz.
RMI NU Tegal
Imam mengemukakan, NUtizen merupakan pilihan strategis yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.“Visi kita jelas, (yaitu) dalam upaya menyebarluaskan gagasan maupun perilaku dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang kita yakini sebagai ekspresi bentuk keyakinan kita. Ini penting kita pertahankan untuk peradaban Nusantara,” katanya.
Alat ini bisa menjangkau tidak hanya di lingkungan kecil, namun (sampai) di tingkat global yang sebelumnya (di NU) sudah ada RMI NU Tegal, namun NUtizen sedikit lebih maju dengan konten audio visual.
Diharapkan, yang pertama, NUtizen hadir sebagai media mengenalkan pesantren dan NU ke seluruh dunia. Kedua, advokasi, mencounter banyak pandangan orang luar yang memandang NU secara negatif terhadap pesantren/NU yang ada kalanya karena sengaja disalahpahami oleh pihak tertentu, dan ada kalanya karena memang kekurangtahuan mereka terhadap pesantren dan NU.
Ketiga, maintenance, menjaga pandangan orang terhadap apa yang kita miliki. Kita tak perlu menyerang orang, tak perlu ikut-ikuktan agresif terhadap orang lain. Namun, ada strategi untuk tetap memelihara kepercayaan orang terhadap pandangan mereka pada pesantren tradisional maupun NU.
Terakhir, Imam mengapresiasi kehadiran NUtizen yang bisa menampilkan Islam moderat. (Mundzir/Alhafiz K)
Dari Nu Online: nu.or.id
RMI NU Tegal Budaya, Pesantren RMI NU Tegal
