Senin, 19 Juni 2017

Pesantren Perlu Masukkan Kurikulum “Tijariah”

Sukabumi, RMI NU Tegal . Sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam tradisional, pesantren terkait erat dengan berdirinya Nahdaltul Ulama (NU) sebagai sebuah organisasi sosial keagamaan di Indonesia. Salah satu unsur terbentuknya NU adalah karena perhatian para ulama tempo dulu terhadap kondisi perekonomian umat. Dalam sejarahnya sebelum NU terbentuk, lebih dulu diawali dengan munculnya gerakan Nahdhat al-Tujjar (kebangkitan pedagang). Untuk mengantisipasi perkembangan zaman dan tantangan globalisasi, kini, pesantren perlu memasukkan dan mengembangkan kurikulum ”tijariah” .



Pesantren Perlu Masukkan Kurikulum “Tijariah” (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Perlu Masukkan Kurikulum “Tijariah” (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Perlu Masukkan Kurikulum “Tijariah”

Pernyataan tersebut diungkapkann Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sukabumi, KH. Abdul Basyid saat membuka sebuah seminar tentang manajemen pendidikan pondok pesantren di Pondok Pesantren Al-Amin, Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (25/08).

Lebih lanjut, KH. Abdul Basyid yang juga Pengasuh Pesantren Al-Amin ini mengungkapkan bahwa lulusan pesantren sangat beragam.

RMI NU Tegal

” Tidak semua lulusan pesantren nantinya menjadi kiai dan ustadz. Jika orangtuanya tidak memiliki pesantren atau majelis taklim maka santri tadi ’lari’ ke bidang perdagangan yang kompetisinya sangat ketat di masyarakat. Maka perlu kiranya pesantren mempersiapkan santrinya mempunyai skill yang matang dalam bidang ekonomi,” terangnya di hadapan 60 peserta yang berasal dari pesantren-pesantren se-kebupaten Sukabumi.

Panitia pelaksana seminar, H Wildan Fadila, menjelaskan bahwa seminar ini merupakan kelanjutan program pengiriman kepala/wakil kepala sekolah NU di Universitas Leeds, Inggris. Seminar ini terlaksana berkat kerjasama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan British Embassy Jakarta.

RMI NU Tegal

Seminar ini juga menghadirkan pembicara dari Kepala Bidang Pekapontren Kanwil Depag Provinsi Jawa Barat, Drs H Sukanda Hidayat MM, Alumnus Program Pelatihan Singkat Manajemen Pendidikan, Universitas Leeds, Mulya Rahayu, LC, Dosen Pasca Sarjana Institut Manajemen Jakarta, Ir. Deni Kahyantini Dewi MM. Seminar juga dihadiri alumnus Universitas Leeds, Abdul Qadir Jailany, yang juga praktisi pendidikan di kota Jambi.

Sukandar memaparkan, Depag berusaha meningkatkan pesantren agar lebih maju dengan membuka kesempatan santri untuk memasuki universitas terkemuka di Indonesia seperti UI, UGM, ITS dan ITB. ” Setelah dua tahun program ini berjalan, ternyata lulusan pesantren mampu bersaing dengan lulusan di luar pesantren. Artinya persantren mempunyai kekuatan dan potensi,” ujar Sukandar. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pondok Pesantren, Nahdlatul RMI NU Tegal

RMI NU Tegal - Rabithah Ma'ahid Islamiyah.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock