Jumat, 01 September 2017

Imam Masjid New York: Indonesia Jadi Model Keberagaman dan Toleransi Dunia

Jakarta, RMI NU Tegal. Direktur Jamaica Muslim Centre, New York City, Shamsi Ali, menyatakan Indonesia memiliki kredibilitas dan potensi untuk menjadi model bagi dunia dalam hal keberagaman dan toleransi.

Menurut Ali, toleransi telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sejarah pun telah mencatat bahwa keberagaman itu mewujud dalam keberadaan Candi Borobudur dan Prambanan yang merupakan peninggalan Buddha dan Hindu, di negara yang kini berpenduduk Muslim terbesar di dunia.

Imam Masjid New York: Indonesia Jadi Model Keberagaman dan Toleransi Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Imam Masjid New York: Indonesia Jadi Model Keberagaman dan Toleransi Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Imam Masjid New York: Indonesia Jadi Model Keberagaman dan Toleransi Dunia

"Kita perlu menampilkan apa yang baik dari bangsa ini bahwa kita bangsa Muslim terbesar tetapi tetap menjunjung nilai-nilai demokrasi," ujarnya usai mengisi salah satu rangkaian diskusi Kongres Diaspora Indonesia ke-4 di Jakarta, Sabtu (1/7).

Meskipun hingga kini bangsa Indonesia masih menghadapi berbagai dinamika dalam kerukunan dan hubungan antaragama, Imam Besar Masjid Al-Hikmah di New York itu yakin bahwa optimisme yang terus dibangun untuk menganyam keberagaman yang ada akan menjadikan bangsa Indonesia besar pada masa depan.

Langkah awal untuk memelihara kedamaian dalam keberagaman yakni dengan menyadari bahwa keberagaman baik itu warna kulit, bahasa, dan agama merupakan hukum alam atau "sunnatullah".

RMI NU Tegal

Kesediaan untuk bisa menerima dan menghormati keberagaman, menurut Ali, merupakan bagian dari keimanan seseorang.

Selain itu, semangat kerukunan antarumat beragama juga harus dibangun melalui pendekatan dan dialog, agar antara kelompok mayoritas maupun minoritas tidak merasa saling menjadi musuh satu sama lain.

RMI NU Tegal

"Misalnya seperti kami Muslim minoritas di Amerika, kami juga melakukan pendekatan dengan umat Yahudi dan Nasrani sehingga mereka ada confidence bahwa kami ini bukan enemy," tutur ulama yang telah lebih dari 30 tahun tinggal di Negeri Paman Sam itu.

Pendapat yang sama diungkapkan oleh Direktur Dialog Antaragama Vatikan untuk Asia Pasifik, Romo Markus Solo Kewuta SVD yang meyakini bahwa Indonesia merupakan negara majemuk yang mampu menjaga perdamaian.

Alasan itu pula yang membuat pria asal Flores, Nusa Tenggara Timur, itu terpilih menjadi salah satu penasihat ahli Paus Benediktus XVI, 10 tahun yang lalu.

"Pada saat itu paus mengatakan bahwa kehadiran saya di Vatikan karena mereka merasa tertarik dengan Indonesia, terutama setelah melihat orang dari berbagai agama dan latar belakang bisa hidup berdampingan dengan damai," kata dia.

Romo Markus percaya bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang jauh di dalam hatinya sangat mencintai kerukunan dan rasa saling menghormati satu sama lain, atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah "tepa selira".

"Kita ini bangsa yang sangat tepa selira. Semangat itu tidak pernah hilang, kita hanya perlu menghidupkannya terus," ujarnya. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ulama, IMNU RMI NU Tegal

RMI NU Tegal - Rabithah Ma'ahid Islamiyah.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock