Selasa, 12 September 2017

Indonesia Paling Liberal dalam Perdagangan Beras

Jakarta, RMI NU Tegal. Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LP2NU) menilai Indonesia merupakan negara yang paling liberal dibanding negara lain dalam hal perdagangan beras.



Indonesia Paling Liberal dalam Perdagangan Beras (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Paling Liberal dalam Perdagangan Beras (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Paling Liberal dalam Perdagangan Beras

Ketua LP2NU Rachmat Pambudy di Jakarta, Kamis (8/3) menyatakan, hal itu terlihat dari tidak adanya tarif bea masuk impor beras yang diterapkan pemerintah untuk melindungi petani dalam negeri. "Di negara-negara lain pemerintahnya menerapkan tarif impor beras rata-rata diatas 50 persen sedangkan di Indonesia justru tanpa ada bea masuk," katanya.

Rahmat yang juga Sekjen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mengungkapkan, Thailand yang merupakan negara produsen sekaligus eksportir beras terbesar di Asean menerapkan bea masuk impor diatas 50 persen begitu juga dengan India.

RMI NU Tegal

Bahkan, tambahnya, di Jepang tarif bea masuk impor beras ditetapkan sebesar 300 persen sementara Indonesia yang petani padinya sangat besar tarif impor beras kurang dari 25 persen.

RMI NU Tegal

Menurut dia, tanpa adanya proteksi maupun subsidi dari pemerintah maka petani Indonesia tidak akan mampu bersaing dengan petani negara lain yang mendapatkan perlindungan serta dukungan insentif dari pemerintahnya.

Rachmat menyatakan, pada tahun 1970-an Indonesia mengimpor beras sebanyak 700 ribu ton untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri namun 15 tahun kemudian berbalik menjadi eksportir beras karena tercapainya program swasembada beras pada 1984.

Namun kondisi tersebut tak berlangsung lama, karena harga beras dunia menurun maka komoditas pangan tersebut banyak yang masuk ke dalam negeri dengan harga dumping sehingga Indonesia kembali menjadi importir beras.

Bahkan, menurut anggota Dewan Pakar Dewan Beras Nasional (DBN) itu, pada tahun 2000 impor beras Indonesia pernah mencapai tingkat yang tertinggi selama ini yakni mencapai 7 juta ton.

Jika impor 1 juta ton setara 200 ribu hektar (ha) lahan, tambahnya, sedangkan satu ha lahan pertanian menyerap rata-rata lima orang tenaga kerja maka 1 juta orang kehilangan pekerjaan. (mad/nam)Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Lomba, Kajian, AlaSantri RMI NU Tegal

RMI NU Tegal - Rabithah Ma'ahid Islamiyah.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock