Rabu, 13 Desember 2017

Cegah Terorisme, Pers Didorong Minimalisir Persaingan

Gorontalo, RMI NU Tegal. Anggota Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Willy Pramudya, menyebut persaingan media menjadikan profesionalisme wartawan semakin turun. Untuk mencegah penyebarluasan paham radikal terorisme, media disarankan meminimalisir persaingan. 

Hal itu disampaikan Willy saat menjadi narasumber Visit Media Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Gorontalo ke Mimoza TV, Rabu (8/11).

Cegah Terorisme, Pers Didorong Minimalisir Persaingan (Sumber Gambar : Nu Online)
Cegah Terorisme, Pers Didorong Minimalisir Persaingan (Sumber Gambar : Nu Online)

Cegah Terorisme, Pers Didorong Minimalisir Persaingan

"Karena alasan persaingan media sekarang mendewakan klik, rating, dan oplah; yang ujungnya media menjadi tidak profesional," kata Willy.

Ketidakprofesionalan media, lanjut Willy, di antaranya tampak dari terjadinya glorifikasi, fabrikasi, justifikasi. Dalam isu terorisme, tak jarang berbagai pelanggaran menjadikan berita yang disajikan media menjadi teror baru bagi masyarakat. 

"Contoh kasus bom di Jalan Thamrin, Jakarta. Kejadiannya tidak besar, tapi karena media mengejar rating dan membuatnya heboh, masyarakat yang di Gorontalo juga merasakan kengeriannya," tambah Willy.

RMI NU Tegal

Willy menambahkan, menjadi tugas industri pers dan wartawan secara pribadi untuk meningkatkan independensi dan profesionalismenya.

"Profesionalisme akan mencegah persaingan antarmedia," tutupnya. 

RMI NU Tegal

Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo mendukung apa yang disampaikan Willy Pramudya. Menurutnya, pencegahan terorisme bukan hanya menjadi tugas pemerintah. 

"Pers adalah bagian dari yang wajib ikut terlibat dalam pencegahan terorisme. Bagaimana keterlibatannya, salah satunya dengan menjaga profesionalisme," kata Yosep. 

Stanley, demikian Yosep Adi Prasetyo disapa, juga menyampaikan empat fungsi pers, yaitu penyampaian informasi kepada masyarakat, media pendidikan, media hiburan serta sarana pengingat dan pengawal pemerintahaan. Pemberitaan media diminta tidak meninabobokkan aparat pemerintahan. 

"Media juga harus mampu menyampaikan kritik apabila menemukan ketidakadilan, karena ketidakadilan dalah salah satu penyebab seseorang menjadi radikal dan mau melakukan aksi terorisme," tandas Stanley.   

Stanley mengajak media menjalankan fungsi mata dan telinga bagi masyarakat, mengingatkan bahwa ancaman radikalisme dan terorisme ada di mana-mana dan bisa terjadi kapan saja. 

Visit Media merupakan salah satu metode yang dijalankan di kegiatan Pelibatan Media Massa dalam Pencegahan Terorisme. Satu metode lainnya adalah Dialog Literasi Media sebagai Upaya Cegah dan Tangkal Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sunnah, Ahlussunnah, Habib RMI NU Tegal

RMI NU Tegal - Rabithah Ma'ahid Islamiyah.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock