Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Asosiasi Petambak Garam Nusantara Terbentuk

Jakarta, RMI NU Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Perekonomian (LPNU) telah melaksanakan Kongres Garam Rakyat di Madura pada awal Juli 2012 lalu.

Salah satu tindak lanjutnya adalah membentuk Asosiasi Petambak Garam Nusantara, disingkat Aspegnu. Aspegnu bertujuan untuk mensejahterakan petani garam. Targetnya, Indonesia swasemba garam pada tahun 2014. Salah satu caranya dengan menghubungkan petani garam dengan pihak-pihak konsumen garam.

Asosiasi Petambak Garam Nusantara Terbentuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Asosiasi Petambak Garam Nusantara Terbentuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Asosiasi Petambak Garam Nusantara Terbentuk

Rencana terdekat, Aspegnu akan menandatangani kesepakatan bersama (MoU) dengan PT. Garuda Food terkait pembelian garam rakyat. Kesepakatan akan digelar di Pati Jawa tengah, Sabtu, 24 November 2012.

RMI NU Tegal

Menurut Wakil Sekretaris LPNU, Ahmad Salechan, sebelum kesepakatan bersama tersebut akan digelar konferensi pers di gedung PBNU lantai 5, Jl. Kramat Raya No. 164 Jakarta Pusat pada Kamis, (22/11), pukul 14.00.

Pada kesempatan tersebut akan hadir Prof. Dr. Rokhmin Dahuri (Ketua Komite Garam PBNU)  Prof. Dr. Moh. Maksum Mahfud (Ketua PBNU, Pakar pangan UGM) dan Perwakilan Garuda Food.

RMI NU Tegal

“Selanjutnya, setelah paparan siaran pers, akan dilanjutkan dengan forum tanya jawab,” ungkap Ahmad Solechan.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Jadwal Kajian, Amalan RMI NU Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Habib Yahya Terpilih sebagai Mudir Jatman Lampung

Pringsewu, RMI NU Tegal

Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mutabaroh An-Nahdliyyah (Jatman) Provinsi Lampung menggelar Musyawaroh Idaroh Wusto (Musidwus) V yang dilaksanakan di Komplek Islamic Centre Lampung Timur. Musidwus yang berlangsung dari tanggal 15 Juni sampai dengan 18 Juni 2012 ini dilaksanakan untuk memilih kepengurusan Jatman Provinsi Lampung masa khidmat 2012-2014.

Sementara kepengurusan Jatman Pringsewu yang terdiri dari segenap Perwakilan dan Pengurus Thariqah di Kabupaten Pringsewu ikut serta dalam kegiatan tersebut. Pelepasan Rombongan dilakukan di Pendopo Kabupaten Pringsewu oleh Bupati Pringsewu KH. Sujadi Saddad pada tanggal 15 Juni 2012.

Habib Yahya Terpilih sebagai Mudir Jatman Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Yahya Terpilih sebagai Mudir Jatman Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Yahya Terpilih sebagai Mudir Jatman Lampung

Dalam pengarahannya, KH Sujadi mengharapkan Kegiatan Musidwus dapat berlangsung sukses dan rombongan dari Jatman Pringsewu dapat mengikuti kegiatan dengan baik dan aktif dalam sidang-sidang komisi yang akan dilakukan di Musidwus tersebut.

RMI NU Tegal

Rombongan yang berjumlah 17 orang ini berangkat ke lampung Timur dan tiba pada pukul 15.00 WIB. Setelah melakukan registrasi peserta, rombongan mengikuti Acara Pembukaan yang diikuti oleh seluruh rombongan dari 14 kabupaten yang ada di Provinsi Lampung.

Salah satu sambutan Pembukaan yaitu dari Danrem Lampung yang mengharapkan seluruh Jamaah Thariqah yang ada di Provinsi Lampung untuk ikut andil bagian dalam menjaga keutuhan NKRI dan mengisi kemerdekaan yang telah diraih.

RMI NU Tegal

Dalam Musidwus kali ini, terpilih sebagai Rais yaitu KH. Jamaluddin Al-Bustomi dan sebagai Mudir yaitu Habib Yahya As-Segaf. Sebagaimana diketahui bahwa Habib Yahya As-Segaf adalah Pimpinan Pondok Pesantren Sunan Jati Agung Pringsewu yang dikenal energik dengan wawasan keilmuan yang sangat tinggi. Ia juga pernah menjadi Mudir Aam Jatman Kabupaten Tanggamus ketika Pringsewu masih berada di bawah Pemerintah Daerah Kabupaten Tanggamus.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Muhammad Faizin

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Amalan, Pemurnian Aqidah, Budaya RMI NU Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

PBNU Siap Fasilitasi Ishlah PKB

Jakarta, NU.Online
Keinginan Matori untuk islah dengan PKB "Batutulis" pimpinan Alwi Sihab bukan isapan jempol, untuk itu ia mengaku sudah bertemu dengan ketua Dewan Syuro PKB KH.Abdurrahman Wahid untuk menyelesaikan persoalan PKB.

"Lebih cepat akan lebih baik karena sebentar lagi menghadapi pemilu," kata Matori di sela-sela sebuah seminar di Yogyakarta, Rabu (25/6). Perseteruan antara PKB Matori dan Alwi Shihab belum juga menemui titik temu. Bahkan, dua kepemimpinan partai itu terjadi saat mereka datang ke Kantor Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, Rabu lalu? (26/6).

Selain mengaku telah bertemu Abdurrahman Wahid enam kali, Matori juga mengaku telah bertemu dengan Alwi Shihab untuk membicarakan islah. "Pembicaraan dengan Gus Dur sampai pada suatu titik di mana kami bertekad untuk islah, bersatu kembali antara saya dan Gus Dur," ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Agil Shiraj mengatakan, pihak PBNU siap memfasilitasi upaya rujuk kedua kubu.

"Namun, hingga kini belum ada permintaan dari kedua kubu agar PBNU memfasilitasi islah," ujar Rais Syuriah PBNU Said Agil Shiraj. Namun dia mengatakan, PBNU tidak akan berinisiatif mengajak kedua kubu untuk islah. Mereka menunggu permintaan salah satu kubu agar difasilitasi untuk islah. Sikap tersebut, kata Said Agil, sengaja diambil karena PBNU tidak ingin dituduh ikut campur.? "Kami takut pertolongan yang kami berikan ternyata tidak mereka perlukan. Kita kan bisa malu," ungkapnya.

Said Agil mengatakan, pertikaian kedua kubu membuat massa di bawah PKB bingung untuk mengambil sikap. Ini sangat berbahaya dan bisa memicu perpecahan di tingkat massa. "Oleh karena itu, kami merekomendasikan agar kedua kubu islah saja," ujarnya.

Ia menambahkan format rujuk harus dicari secara tepat oleh pihak-pihak? yang berbeda pendapat. Format rujuk itu harus disesuaikan dengan? substansi perbedaan yang ada dalam tubuh partai. Wujud rujuk itu bisa Muktamar atau bisa juga dengan pertemuan antar pribadi pimpinan? partai atau cara lain yang disepakati kedua belah pihak..

Untuk merujukkan kedua kubu, mereka harus bersilaturahmi satu sama lain. Jalan tersebut sedapat mungkin diutamakan. Jangan sampai kedua kubu dan massa di bawahnya pecah. "Semua pihak harus tulus dan harus mengevaluasi diri sendiri," katanya.

Bagaimanapun juga pertikaian yang terjadi selama ini kontra produktif? bagi kemajuan partai. tidak ada untungnya gonthok-gonthokan dan sudah saatnya elit di PKB melakukan islah internal sebagai upaya untuk menjaga kewibawaan partai.? (Cih)

?


?

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal AlaSantri, Amalan, Khutbah RMI NU Tegal

PBNU Siap Fasilitasi Ishlah PKB (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Siap Fasilitasi Ishlah PKB (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Siap Fasilitasi Ishlah PKB

Kamis, 18 Januari 2018

Aktivis Lesbumi Lampung Jadi Staf Bidang Budaya Kapolda

Way Kanan, RMI NU Tegal

Salah seorang pengurus Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Lampung Dr Farida Aryani, pada Jumat 8 April 2016 ditetapkan sebagai Staf Ahli Bidang Budaya Kapolda Lampung oleh Brigjen Pol Ike Edwin. Penetapan itu berdasar surat tugas Kapolda Lampung nomor SGAS /01/Ini/2016 tertanggal 23 Maret 2016.

Selain menjadi Ketua Dewan Pendidikan Way Kanan, cucu ulama sekaligus komandan pasukan tentara Hizbullahdari KH Gholib ini memulai kiprahnya sebagai pejuang Bahasa Lampung sejak September 1998.

Aktivis Lesbumi Lampung Jadi Staf Bidang Budaya Kapolda (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis Lesbumi Lampung Jadi Staf Bidang Budaya Kapolda (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis Lesbumi Lampung Jadi Staf Bidang Budaya Kapolda

"Sebagai Gusdurian dan warga Nahdlatul Ulama, saya mengucapkan selamat atas penetapan tersebut, kami bangga. Semoga senantiasa memberikan yang terbaik bagi Lampung, hidup dan kehidupan," ujar Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Kamis (14/4).

RMI NU Tegal

Farida Aryani adalah Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila. Semasa remaja, istri Sekdakab Way Kanan Bustam Hadori itu aktif? bergiat di Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Lampung.

RMI NU Tegal

Farida mengaku bangga ketika bahasa Lampung digunakan banyak mahasiswa, khususnya mahasiswa bahasa Lampung di lingkungan kampus. Apa yang ia perjuangkan bersama beberapa rekannya bisa menjadi kenyataan, yakni perjuangan untuk tetap menjaga bahasa ibu yang saat itu mulai ditinggalkan. Saat Jurusan Bahasa Lampung terbentuk di Unila, Farida diminta menjadi ketua jurusan.

"Apa yang dilakukan Dr Farida sejalan dengan upaya-upaya NU. Selain itu, apa yang dilakukan juga merupakan satu dari sembilan nilai keutaman yang diajarkan Gus Dur, yakni kearifan lokal," kata Gatot lagi.

Kearifan lokal bersumber dari nilai-nilai sosial-budaya yang berpijak pada tradisi dan praktik terbaik kehidupan masyarakat setempat. Kearifan lokal Indonesia di antaranya berwujud dasar negara Pancasila, Konstitusi UUD 1945, prinsip Bhineka Tunggal Ika, dan seluruh tata nilai kebudayaan nusantara yang beradab.

Gus Dur menggerakkan kearifan lokal dan menjadikannya sebagai sumber gagasan dan pijakan sosial-budaya-politik dalam membumikan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan, tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap perkembangan peradaban. (Syuhud Tsaqafi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nasional, Amalan, Syariah RMI NU Tegal

Dubes Swiss Kunjungi PBNU, Jelaskan Masalah Prakarsa Pelarangan Menara Masjid

Jakarta, RMI NU Tegal. Duta besar Swiss untuk Indonesia Bernardino Regazzoni melakukan kunjungan? ke PBNU untuk menjelaskan masalah Prakarsa pelarangan menara masjid yang diajukan oleh sebagian masyarakat Swiss. Ia diterima oleh Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi.

Prakarsa pelarangan pembangunan menara masjid ini diajukan pada 8 Juli 2008 yang ditandatangani 113.540 orang inisiatif ini diajukan oleh komite independent yang mewakili berbagai partai politik.

Dubes Swiss Kunjungi PBNU, Jelaskan Masalah Prakarsa Pelarangan Menara Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Swiss Kunjungi PBNU, Jelaskan Masalah Prakarsa Pelarangan Menara Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Swiss Kunjungi PBNU, Jelaskan Masalah Prakarsa Pelarangan Menara Masjid

Pada tanggal 29 November mendatang akan dilakukan voting apakah pembangunan masjid ini akan dilarang atau tidak. Menurut UU Swiss, sebuah prakarsa harus ditindaklanjuti jika ditandatangani minimal 100 ribu orang.

RMI NU Tegal

Regazzoni menjelaskan pemerintah dan parlemen menentang keberadaan Prakarsa ini dan merekomendasikan pemilik hak suara untuk menentangnya.

“Pemerintah Swiss percaya bahwa pelarangan pembangunan menara merupakan larangan yang tak dapat diterima bagi komunitas muslim untuk menjalankan keyakinan agamanya,” katanya.

RMI NU Tegal

Pelarangan ini merupakan diskriminasi terhadap umat Islam, dan tidak mengacu pada simbol arsitektural agama lain. Karena itu, pelarangan ini tidak sesuai dengan nilai kebebasan dan masyarakat demokratis.

Karena itu, Dewan Federal dan Parlemen meminta dilakukannya dialog yang didasarkan pada sikap saling menghormati untuk mempromosikan saling pengertian antara agama yang berbeda dan integrasi mereka di Swiss.

Dukungan terhadap kebebasan membuat menara masjid juga datang dari masyarakat Yahudi dan Kristen yang ada di Swiss yang tergabung dalam The Swiss Council of Religions (SCR) seperti dalam siaran pers yang mereka sebarluaskan pada awal September 2009 lalu. The Swiss Council of Churches menuntut adanya integrasi, bukan pengeluaran bagi komunitas beragama.

SCR berpendapat bahwa prakarsa ini merupakan wujud dari kekhawatiran dan ketakutan terhadap muslim. Perbedaan pandangan yang ada saat ini harus disikapi dengan serius agar tidak mengganggu hak kebebasan beragama yang merupakan hak dasar universal.

Jumlah muslim di Swiss diperkirakan mencapai 350-400 ribu jiwa yang mayoritas berasal dari Eropa Tenggara dan dari Turki. Terdapat sekitar 150 pusat kebudayaan dan jamaah muslim. Jumlah masjid atau tempat ibadah lain berkisar 100 buah. Sebagian dari masjid tersebut memiliki menara.?

Mayoritas dari komunitas muslim ini juga terintegrasi dengan baik dengan masyarakat Swiss. Hubungan antara muslim dan non-muslim berjalan dengan damai dan tak ada problem. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Amalan RMI NU Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Perguruan Tinggi Riset Berbasis Pesantren

Di kota Pati tepatnya di desa Purworejo berdirilah Sekolah Tinggi Agama Islam Mathaliul Falah (STAIMAFA). Lembaga tersebut diresmikan tahun 2008 di bawah kepemimpinan ketua H Abdul Ghaffar Rozien, M. Ed. Nama Mathaliul Falah tak lepas dari madrasah atau Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM).

STAIMAFA merupakan Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta yang dibangun di atas landasan tradisi dan diselenggarakan secara integral dengan pesantren. Pendirian STAIMAFA merupakan masa kemajuan bagi PIM. Hal ini tak lepas dari Yayasan Nurussalam Kajen sebagai kelanjutan dari unit pendidikan dasar dan menengah yang hampir satu abad dikelola oleh PIM. Dalam kurun hampir dua dasawarsa STAIMAFA melewati proses panjang dan pergulatan pemikiran sebelum resmi didirikan.

Perguruan Tinggi Riset Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Perguruan Tinggi Riset Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Perguruan Tinggi Riset Berbasis Pesantren

Hal ini dilatarbelakangi dari gagasan program "takhassus" pasca Aliyah sebagaimana diungkapkan KH Asnawi Rohmat salah seorang asatidz PIM. Gagasan ini semakin menguat setelah studi banding guru-guru Mathaliul Falah di Darun Najah Jakarta, Darur Rahmah Jakarta, dan Dar el-Qalam Tangerang. Atas masukan dan desakan dari alumni PIM, maka dibentuklah tim yang menggodok pendirian Sekolah Tinggi. Maka, rapat-rapat intensif di Jakarta, Yogyakarta, dan Kajen terus berlangsung. (Mempersiapkan Insan Sholih Akrom Potret Sejarah dan Biografi Pendiri PIM Kajen Margoyoso Pati 1912-2012 (1 Abad): 2012)

RMI NU Tegal

Berawal dari "kegelisahan" para pendiri PIM yang merasa bahwa untuk melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kedalaman keilmuan agama dan moral sekaligus kompetitif dalam menjawab perkembangan zaman, tidak cukup hanya dengan memberikan keilmuan bekal kepada peserta didik sampai pada tingkat aliyah (SMA). Oleh karena itu, para pendiri berinisiatif menggagas sistem pendidikan lanjutan bagi para lulusan PIM dengan membuka program pasca aliyah. Akan tetapi, program tersebut ternyata dirasakan masih belum memberikan jawaban atas kegelisahan tersebut. ?

Berdasarkan kajian yang mendalam dan masukan dari berbagai pihak, akhirnya disepakati pilihan bulat untuk mendirikan STAIMAFA yang diawali dengan menyelenggarakan pendidikan pada tiga jurusan dengan tiga program studi, yaitu Tarbiyah/Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Syariah/Perbankan Syariah (PS) dan Dakwah/Pengembangan Masyarakat Islam (PMI). Ketiga jurusan dan program studi tersebut merupakan pendidikan jenjang strata satu (S1) program reguler.

RMI NU Tegal

Sejak berdirinya STAIMAFA mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, khususnya para alumni dan siswa-siswi PIM. Dalam waktu yang singkat, STAIMAFA mengalami perkembangan dengan jumlah mahasiswa kurang lebih 600 sampai tahun 2012.

Dan alhamdulillah, bekat rahmat dan pertolongan Allah pada tahun ajaran 2012-2013 ini, STAIMAFA membuka lagi program studi baru yang cukup familier, yaitu Pendidikan Guru Raudlatul Athfal (PGRA) yang dirasakan urgensinya di era sekarang, mengingat Jawa Tengah menempati provinsi tertinggi dalam tingkat partisipasi anak-anak playgrup di seluruh Indonesia. Antusiasme para guru dan para pelajar yang belajar di program studi PGRA ini sangat besar. Hingga pembukaan pendaftaran mahasiswa baru tahun ajaran 2015-2016 STAIMAFA membuka jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Komunikasi & Penyiaran Islam dan Zakat & Wakaf. Harapannya dimasa yang akan datang STAIMAFA mampu menjadi Institut dari informasi yang dihimpun RMI NU Tegal sekarang sedang proses mengajukan pemberkasan syarat menuju institut.

Secara akademik setelah menjadi alumni dan melihat alumni dari perguruan tinggi lain dengan program studi yang sama secara materi tidak terlalu tertinggal jauh. Hal ini dungkapkan Nur Khoiriyah (24) sebagai alumni angkatan kedua. "Melihat perkembangan lembaga, saya bangga melihat progres yang sedang ada, Insya Allah dalam proses menuju institut, ini menunjukkan bahwa kampus ini digarap dengan sungguh", ungkap Nur yang sekarang melanjutkan studi pascasarjana di Universitas Gajah Mada.

Sebagai alumni prodi PMI Nur Khoiriyah menyatakan secara pribadi lebih enak dalam memahami kontekstualisasi ajaran Islam, mengontekstualisasikan ilmu-ilmu untuk memahami teks, seperti Tafsir, Hadis dan Fikih. Hal ini baru dirasakan betul ketika menempuh studi lanjut di Jogjakarta. Nur menjelaskan pentingnya pemahaman Islam yang lebih "luwes" untuk bisa berteman lintas organisasi masyarakat bahkan lintas agama, bukan dalam rangka mencampuradukkan tetapi memahami perbedaan.

Irza Syaddad (25) menceritakan ketika masih menjadi mahasiswa bahwa dulu pihak kampus sering kali mengadakan hibah penelitian kepada civitas akademi. Selain itu, nilai-nilai pesantren di lingkungan kampus masih terjaga dengan baik. Irza yang sekarang menempuh studi lanjut di Universitas Al-Imam Muhammad bin Saud, Arab Saudi mencontohkan menghormati guru (baca: dosen) masih berlaku dengan melanggengkan budaya cium tangan.

Hal ini tak lepas dari visi STAIMAFA "Menjadi Perguruan Tinggi Riset Berbasis Nilai-Nilai Pesantren". STAIMAFA ingin menjadi perguruan tinggi yang menggabungkan kemampuan metodologi ilmu modern yang berbasis penelitian dengan kekayaan khazanah klasik yang ada di pesantren sesuai dengan kaidah "Almuhafadzatu ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah", konsistensi menjaga tradisi yang relevan dan aktif mengadopsi khazanah baru yang lebih progresif.

Ditambah visi STAIMAFA ini untuk meneruskan spirit "Tafaqquh Fiddin" dan "Sholih-Akrom" yang menjadi tujuan berdirinya PIM. Tafaqquh Fiddin ada dalam pelestarian nilai-nilai pesantren yang mengedepankan ketakwaan, ketuhanan, ketawadhuan, dan konsisten memegang khazanah Islam klasik yang biasa dipelajari di pesantren dan Sholih-Akrom ada dalam kemampuan risetnya, dan orientasi ketuhannya yang mengedepankan nilai-nilai kebenaran, keikhlashan dan kepedulian sosial. (M. Zulfa)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nahdlatul Ulama, Amalan RMI NU Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Panglima TNI: Umat Islam Jangan Terpecah Belah

Tegal, RMI NU Tegal. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta umat Islam di Indonesia jangan sampai terpecah belah dan berperang sendiri.

Panglima TNI: Umat Islam Jangan Terpecah Belah (Sumber Gambar : Nu Online)
Panglima TNI: Umat Islam Jangan Terpecah Belah (Sumber Gambar : Nu Online)

Panglima TNI: Umat Islam Jangan Terpecah Belah

Hal itu ditegaskan Gatot ? saat Safari Ramadhan dan buka bersama di Lapangan Markas Brigade Infanteri (Brigif)/4 Dewa Ratna di Slawi, Kabupaten Tegal, Rabu (14/6).

?

Gatot menilai, saat ini ada indikasi benih-benih perpecahan mulai muncul seiring dengan sikap saling menjelek-jelekkan dan menyalahkan satu sama lain.

"Benih-benih ini sudah mulai ada. Mari kita ingatkan teman-teman kita yang suka mencaci dan menjelekkan orang, mengkafirkan orang. Jika kita biarkan ini, negara kita bisa porak poranda," ujar Jenderal bintang empat ini.

RMI NU Tegal

Orang nomor satu di jajaran TNI itu menyebutkan, setiap muslim harus rendah hati. Sifat sombong hanya milik Allah. Dalam konteks kekinian, banyak orang yang cenderung mengklaim bahwa diri dan kelompoknya adalah benar sementara yang lain salah.

Menurutnya, jika umat Islam tidak berpedoman pada nilai-nilai ini (rendah hati dan tidak menyalahkan orang lain-red), maka perang saudara tidak terelakkan. Perang saudara dan hilangnya sikap cinta tanah air inilah yang menjadi salah satu sebab negara-negara Muslim di kawasan Timur Tengah berkecamuk hingga sekarang.

RMI NU Tegal

Meski demikian, Jenderal kelahiran Tegal itu menyebut, Jawa Tengah merupakan daerah yang adem ayem. Di saat beberapa daerah lain sedikit bergejolak, Jawa Tengah telah menunjukkan diri bahwa masyarakatnya hidup guyup dan rukun.

Menurut dia, hal itu tak lepas dari peran ulama yang bersinergi dengan TNI-Polri, serta semua lapisan masyarakat.

Lebih lanjut, Gatot merencanakan gerakan doa bersama seluruh elemen masyarakat yang akan digelar bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus mendatang. Kegiatan itu dikhususkan pada khataman Al-Qur’an yang digelar di seluruh markas atau kantor satuan jajaran TNI dari Sabang sampai Merauke.

Adapun buka bersama diikuti oleh ribuan santri dari berbagai daerah. Selain itu, juga digelar santunan kepada 1.423 anak yatim.?

Kegiatan tersebut juga diikuti Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen Tatang Sulaiman, Kapolda Irjen Condro Kirono, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Ulama Kharismatik asal Pekalongan Maulana Habib Luthfi bin Yahya, Habib Tohir Alkaf, Bupati Tegal Enthus Susmono dan tokoh-tokoh lainnya. (Hasan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Amalan, Tegal RMI NU Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

LP Ma’arif Magelang Siapkan Guru Implementasikan Kurikulum 2013

Magelang, RMI NU Tegal. Dalam rangka meningkatkan kemampuan tenaga pendidik dan pencapaian tujuan dari dunia pendidikan, Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Magelang mengadakan Workshop Implementasi Kurikulum 2013.

Kegiatan yang berlangsung Sabtu-Ahad (11-12/10) ini diikuti seluruh guru madrasah/sekolah tingkat dasar sampai SLTA di bawah naungan LP Ma’arif NU Kabupaten Magelang, di SMK Ma’arif Kota Mungkid, Magelang, Jawa Tengah.

LP Ma’arif Magelang Siapkan Guru Implementasikan Kurikulum 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Ma’arif Magelang Siapkan Guru Implementasikan Kurikulum 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Ma’arif Magelang Siapkan Guru Implementasikan Kurikulum 2013

H. Nur Yahman, ketua panitia, mengungkapkan bahwa seorang guru wajib mengembangkan wawasan dan pengetahuannnya melalui berbagai cara, salah satunya lokakarya. Hal tersebut dinilai penting demi kelancaran guru dalam proses pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas.

RMI NU Tegal

“Di sisi lain, guru juga diharapkan untuk dapat memberikan stimulus bagi siswanya melalui berbagai macam metode dan model pembelajaran”.

Menurut Ketua LP Ma’arif NU Magelang Sugeng Riyadi, kegiatan lokakarya ini akan? terus dilakukan guna meningkatkan mutu tenaga pendidik? madrasah/sekolah di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU.

RMI NU Tegal

“Sebenarnya kita sudah beberapa kali mengadakan workshop serupa. Ini adalah bentuk konkret keseriusan LP Ma’arif NU Kabupaten Magelang dalam peningkatan kualitas tenaga pendidik yang mampu mencetak kader bangsa yang berilmu dan religious,” tambahnya. (Dipo Granada/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Amalan RMI NU Tegal

Kamis, 23 November 2017

Fatayat NU Bondowoso Gelar Lomba Hadrah

Bondowoso, RMI NU Tegal. Pimpinan Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Bondowoso berkerjasama dengan Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Bondowoso dan Majelis Taklim An Nahdhiyah Kabupaten Bondowoso akan mengadakan lomba Hadrah Perempuan dalam rangka Hari Kesatuan Gerakannya (HKG) dan Harlah Ke-66 Fatayat NU.

Fatayat NU Bondowoso Gelar Lomba Hadrah (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Bondowoso Gelar Lomba Hadrah (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Bondowoso Gelar Lomba Hadrah

Kegiatan tersebut akan dilaksanakan tada 11 April ini di Gedung Olahraga (GOR) Pelita Kabupaten Bondowoso. Peserta merupakan perwakilan dari masing-masing kecamatan yang jumlahnya ada 23 se-Kabupaten Bondowoso.

Ketua Fatayat NU Bondowoso Nurdiana Khalidah menjelaskan tujuan diadakan lomba ini adalah untuk memberikan pesan dan cara membaca Mahallul Qiyam dengan memakai hadrah yang benar, nyaman, dan khidmat.

"Selain untuk memunculkan kreatifitas, talenta di kalangan Fatayat," imbuhnya.

RMI NU Tegal

Ia berharap ada bacaan yang terstandarkan dengan polesan kreatifitas seni. Ia tidak menginginkan banyak yang lagunya enak, kreasi baru tapi sampai mengubah bacaan dan akhirnya mengubah arti dan memgurangi khidmat dalam membacanya. (Ade Nurwahyudi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Amalan, Tokoh RMI NU Tegal

RMI NU Tegal

Kamis, 16 November 2017

Menuntun Syahadat Orang Sakratulmaut dan Jenazah

Pelafalan kalimat “Lâ ilâha illallâh” dianjurkan untuk mereka yang segar bugar. Pelafalan ini sangat dianjurkan terlebih lagi untuk mereka yang sedang menghitung detik-detik terakhir kehidupannya di dunia. Untuk mereka yang lemah seperti sakrat, orang lain bisa menuntunnya untuk pelafalan kalimat mulia ini. Praktik ini disebut talqin.

Talqin lazimnya dipraktikkan oleh kalangan pelaku tarekat. Tetapi praktik ini dilakukan umat Islam terhadap calon jenazah yang sedang sakratulmaut dan jenazah yang baru saja dimakamkan.

Menuntun Syahadat Orang Sakratulmaut dan Jenazah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menuntun Syahadat Orang Sakratulmaut dan Jenazah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menuntun Syahadat Orang Sakratulmaut dan Jenazah

Habib Abdullah bin Husein bin Thahir Ba‘alawi dalam kitab Is‘adur Rafiq wa Bughyatus Shadiq menyebutkan cara menalqin orang sakit yang tengah mengalami peralihan dari alam dunia ke alam barzakh.

RMI NU Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? ?.

Bila sudah datang tanda-tanda kematian, kita dianjurkan untuk membaringkan orang sakratulmaut itu di atas sisi kanan tubuhnya dan menghadapkan wajahnya ke arah kiblat seperti posisi jenazah di kubur. Sementara tengkuk belakang pada sisi kirinya. Wajah dan bagian tengah badannya dihadapkan ke arah kiblat.

RMI NU Tegal

Pada posisi itu kita dianjurkan untuk membimbingnya mengucap “Lâ ilâha illallâh” tanpa mendesaknya (dengan perlahan). Kita (cukup diam) tidak perlu mengulangi “Lâ ilâha illallâh” kalau ia sudah mengucapkannya. Lain soal kalau ia mengucapkan selain “Lâ ilâha illallâh”. Hal ini dimaksudkan agar “Lâ ilâha illallâh” menjadi ucapan terakhir yang keluar dari bibirnya sebagaimana hadits Rasulullah SAW “Siapa saja yang ucapan terakhirnya ‘Lâ ilâha illallâh’, masuk surga”. Maksudnya ia masuk surga bersama orang-orang yang beruntung di akhirat.

Namun patut untuk diperhatikan bahwa orang lain yang menuntun calon jenazah cukup seorang. Orang-orang di sekelilingnya juga diharapkan tidak membaca apapun atau suara-suara gaduh lainnya. Pasalnya, orang yang sedang sakratulmaut membutuhkan suasana tenang. Demikian anjuran Imam An-Nawawi dalam karyanya Al-Adzkar.

Adapun perihal menalqin jenazah yang baru dikebumikan, Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid menerangkan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ? ? ? ?" ? "? ? ? ? ? ? ? ? ? ?"

Bab Pertama memuat perihal praktik yang dianjurkan saat menghadapi orang yang sedang sakratulmaut dan setelah orang itu wafat. Kita dianjurkan menuntun calon jenazah mengucap kalimat syahadat “Lâ ilâha illallâh” sesuai hadits Rasulullah SAW, “Bisikkan lah kalimat syahadat ‘Lâ ilâha illallâh’ kepada mayitmu,” dan hadits “Siapa saja yang ucapan terakhirnya ‘Lâ ilâha illallâh’, masuk surga.”

Kenapa jenazah juga perlu ditalqin? Karena usai dikebumikan, jenazah diharuskan menjawab pertanyaan malaikat yang ditugaskan untuk itu. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kiai, Amalan, Pahlawan RMI NU Tegal

Rabu, 01 November 2017

Bagaimana Negara Merespon Gerakan Ideologis Non-Pancasila?

Oleh Mohamad Muzamil

Aparat keamanan dinilai berbagai kalangan masih ragu-ragu dalam menghadapi gerakan kelompok masyarakat yang menyebarluaskan paham yang bertentangan dengan paham (ideologi) Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Penilaian itu misalnya terungkap dalam berbagai pertemuan sosialisasi gerakan deradikalisasi? antara pemerintah dan tokoh masyarakat serta tokoh agama yang akhir-akhir ini sering dilakukan pemerintah dan masyarakat di berbagai daerah.

Bagaimana Negara Merespon Gerakan Ideologis Non-Pancasila? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Negara Merespon Gerakan Ideologis Non-Pancasila? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Negara Merespon Gerakan Ideologis Non-Pancasila?

Aparat sendiri merasa tidak bisa berbuat banyak terhadap gerakan yang mengatasnamakan gerakan hak asasi manusia (HAM). Hal ini bisa dipahami karena tindakan aparat harus dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, atau istilah populernya disebut "sesuai dengan prosedur".

Dalam mengantisipasi gerakan yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI, selama ini aparat melakukan tindakan pencegahan dan deradikalisasi serta penegakan hukum. Kebijakan ini misalnya diterapkan Kapolri melalui pembentukan Satgas Kontra Radikal dan Deradikalisasi sejak tanggal 20 April 2015.

RMI NU Tegal

Karena itu bagaimanakah cara mengantisipasi gerakan ideologis tersebut agar persatuan dan kesatuan bangsa ini tetap lestari serta mampu mencapai cita-cita dan tujuan nasional?

Gerakan Ideologis

RMI NU Tegal

Sejak reformasi sosial politik tahun 1997/1998, gerakan ideologis selain Pancasila yang sebelumnya tidak mendapat ruang untuk bergerak, menemukan momentum untuk bangkit kembali di Indonesia tercinta ini. Ideologi-ideologi tersebut adalah kiri radikal, ideologi kanan, dan Islamisme.

Kalau ideologi kiri dan kanan bersumber dari pemikiran sekuler maka ideologi islamisme bersumber dari gerakan keagamaan Islam. Masing-masing ideologi tersebut tidak semuanya radikal, tetapi juga ada yang moderat.

Asad Said Ali, mantan Wakil Ketua BIN, pernah menyebutkan ada dua jenis gerakan kiri radikal, yaitu anarkis marxisme dan populisme kiri. Gerakan kiri yang pertama hakikatnya tidak percaya pada demokrasi, karena bagi mereka, demokrasi hanya menguntungkan kaum kapitalis liberal. Sedangkan jenis kedua inti perjuangannya adalah persamaan sosial dan ekonomi. Mereka menginginkan bentuk demokrasi partisipatoris dari bawah sebagai strateginya.

Berbeda dari kiri radikal, gerakan ideologi kanan radikal menginginkan bentuk demokrasi elitis dan melihat demokrasi dari atas sebagai yang paling bisa dijalankan. Gerakan ini juga ada variannya yaitu kanan konservatif dan kanan liberal. Termasuk gerakan kanan konservatif adalah konservatisme ellitis dan nasionalisme puritan. Sedangkan kanan liberal adalah liberalisme itu sendiri dan kini berkembang menjadi neo liberalisme.

Ideologi kanan tersebut sama-sama menginginkan penguasaan aset melalui pembentukan lembaga-lembaga multinasional yang strategis guna memengaruhi kebijakan publik di negara-negara berkembang sesuai dengan mekanisme pasar. Dengan demikian, menurut mereka, negara tidak boleh campur tangan dalam pembangunan ekonomi dan keuangan.

Setelah reformasi, gerakan kanan tersebut nyata-nyata efektif bekerja di Indonesia karena saat ini sekitar 85 persen saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah dikuasai swasta.

Selain itu saat ini akibat perkembangan teknologi informasi, budaya masyarakat awalnya taat pada nilai-nilai tradisi, kini menjadi semakin jauh dari nilai-nilai tradisional.

Sementara itu umat Islam yang mayoritas di negeri ini kekuatannya telah terpolarisasi cukup tajam antarberbagai gerakan Islam. Satu sisi ada sebagian yang menginginkan Islam sebagai sistem negara, dan di sisi yang lain menghendaki Islam tidak perlu jauh memasuki sistem negara, tetapi cukup substansi ajaran-ajarannya. Polarisasi gerakan Islam ini telah berlangsung lama sejak? negeri ini merumuskan ideologi dan bentuk negara yang akhirnya muncul penghapusan tujuh kata dalam piagam jakarta.

Meskipun sampai saat ini pola gerakan kedua yang tampil menjadi arus utama di negeri ini, namun akibat kebijakan aparat sekarang yang kurang tegas telah turut andil dalam menyuburkan pola gerakan Islam model pertama. Bahkan kementerian agama dan kementerian pendidikan sendiri seringkali mengaku "kecolongan" terhadap munculnya kurikulum dan "bahan ajar" yang berbau formalisme Islam.

Semakin Kompleks



Dengan melihat kategori-kategori ideologis tersebut, menjadi nyata bagi kita bahwa hubungan negara dengan ideologi-ideologi gerakan yang saat ini berkembang tampak semakin kompleks. Sementara itu setelah reformasi peran Negara semakin melemah akibat amandemen UUD 1945 menjadi UUD tahun 2002.

Akibat amandemen terhadap UUD 1945 tersebut muncul peraturan perundang-undangan di berbagai bidang dan sektor kehidupan yang semangat, cita-cita dan tujuannya bertentangan dengan pembukaan UUD 1945, yang di dalamnya terdapat rumusan tentang peran negara dan Pancasila. Jadi tampak adanya ketidaksesuaian antara ideologi negara, UUD dan peraturan perundang-undangan di bawahnya serta realitas kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan saat ini.

Karena itu terjadilah krisis di negara kita saat ini, baik ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Haruskah hal ini kita biarkan berlarut-larut tanpa adanya upaya yang sistematis dan massif untuk mengambil sikap tegas dan bukan sikap keras dalam merealisasi cita-cita para pendiri bangsa dan negara ini sebagaimana tertulis dalan pembukaan UUD 1945?

Penulis adalah Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Lomba, Kiai, Amalan RMI NU Tegal

Selasa, 31 Oktober 2017

Muslimat Luncurkan Buku 70 Tahun Kiprah dan Karya Perempuan NU

Jakarta, RMI NU Tegal. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (PP Muslimat NU) Hj Khofifah Indar Parawansa meluncurkan buku “70 Tahun Muslimat NU: Kiprah dan Karya Perempuan NU” menjelang penutupan Kongres Muslimat, Sabtu (26/11) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.

Buku yang ditulis oleh Dr Hj Sri Mulyati ini berisi perjalanan organisasi permpuan terbesar di Indonesia ini dari masa ke masa beserta kiprah dan karya-karyanya.

Muslimat Luncurkan Buku 70 Tahun Kiprah dan Karya Perempuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat Luncurkan Buku 70 Tahun Kiprah dan Karya Perempuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat Luncurkan Buku 70 Tahun Kiprah dan Karya Perempuan NU

“Semoga buku ini menjadi referensi untuk siapa saja yang ingin memahami Muslimat NU,” ujar Khofifah dalam sambutannya.

Perempuan yang juga Menteri Sosial ini menerangkan, buku ini adalah gagasan Ketua Umum PP Mulsimat NU 1995-2000 Hj Aisyah Hamid Baidlowi. Dia juga ingin menegaskan bahwa tradisi sejarah kita bukan hanya tradisi lisan, tetapi juga tulisan.

Penulis buku Hj Sri Mulyati menyatakan, buku karya Muslimat NU bukan hanya buku tersebut, tetapi banyak karya lain. Di bidang pendidikan, akunya, Muslimat NU melalui Yayasan Pendidikan Muslimat NU (YPM NU) banyak menelorkan buku-buku praktis pendidikan.

RMI NU Tegal

Buku ini juga tidak akan selesai tanpa dukungan dari seluruh pengurus Muslimat NU. “Sebab itu, bagi saya buku ini adalah karya ibu-ibu Muslimat yang luar biasa,” ujar Ketua YPM NU ini.





RMI NU Tegal

Dalam Kongres Ke-17 Muslimat NU ini, Khofifah dipilih secara aklamasi oleh 34 pengurus wilayah, 525 pengurus cabang, dan 4 pengurus cabang istimewa (Hongkong, Arab Saudi, Malaysia, dan Sudan) yang memiliki hak suara dalam kongres. Dengan demikian, perempuan kelahiran Surabaya 51 tahun lalu ini memegang pucuk pimpinan Muslimat NU selama 4 periode (2000-2021).? (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sholawat, Amalan RMI NU Tegal

Kamis, 19 Oktober 2017

Merdeka di Era Digital

Oleh Muhammad Sulton Fatoni

Era digital saat ini telah menggiring masyarakat mempunyai kesadaran informasi dan kegiatan sosial yang tidak pernah ada pada masyarakat tradisional sebelumnya. Sisi positif era digital di Indonesia adalah telah memaksakan bergulirnya proses demokratisasi dan kesetaraan informasi di tengah dominasi politik. Berarti telah terjadi perkembangan partisipasi rakyat di semua sektor kehidupan, termasuk ekonomi dan politik dan berkurangnya praktik-praktik otoriter dan hal ini berpotensi mendorong kemakmuran masyarakat secara cepat (Adam Przeworski:1993).

Merdeka di Era Digital (Sumber Gambar : Nu Online)
Merdeka di Era Digital (Sumber Gambar : Nu Online)

Merdeka di Era Digital

Era digital bisa dimaksimalkan di tengah relasi demokratisasi dan perubahan ekonomi yang dapat dilihat dari studi transformasi rezim yang berorientasi makro. Memang saling terkait antara era digital dan demokrasi yang secara tipikal merupakan konsekuensi dari pembangunan ekonomi, transformasi struktur kelas, peningkatan pendidikan dan semacamnya. Negeri ini pernah terpuruk pada paruh kedua 1997 yang telah menggoyahkan ekonomi (Anne Booth: 2001).

Harga-harga melonjak tinggi, kurs rupiah merambat naik, hutang luar negeri naik berlipat-lipat, dunia perbankan bank-bank berada terpuruk, dan indikasi-indikasi kebangkrutan ekonomi lainnya. Bersamaan dengan itu Indonesia mulai menemukan titik terang demokratisasi sejak tumbangnya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaannya pada 1998. Demokrasi tidak sebatas suatu sistem yang telah mencapai perimbangan kekuasaan yang pelik antara lembaga-lembaga politik dan kekuatan-kekuatan sosial yang dinamis. Lebih dari itu, ia adalah acuan gagasan bagi orang-seorang dalam semua dimensi kegiatannya.8 Tentu dalam proses tersebut terdapat kontribusi teknologi informasi dan dunia digital.

RMI NU Tegal

Era digital saat ini terlanjur diposisikan sebagai pintu masuk bagi perubahan ekonomi menuju ke arah yang lebih baik, terutama bagi masyarakat kecil. Tentu ini terobosan di tengah ekonomi di Indonesia yang pada kenyataannya masih dikuasai oleh segelintir orang dan status quo. Beberapa alasan yang mendorong hal ini terjadi. Pertama, era digital terlanjur perkasa di hadapan siapa saja kecuali di tangan anak-anak muda yang kreatif yang kemudian tumbuh menjadi kekuatan baru yang sukses. Di sisi lain negara belum mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan institusi politik dan pesatnya perkembangan institusi-institusi ekonomi digital. Percepatan dunia digital tidak secara otomatis berimplikasi positif kepada perilaku politik yang mendukung perubahan ekonomi menjadi lebih baik. Tradisi yang sebenarnya sudah lama terjadi, Dulu di era Orde Baru juga terjadi kelambanan di bidang politik dengan alasan memprioritaskan perbaikan ekonomi sebagai alasan langkah balik dari Orde Lama yang terlalu mengabaikan bidang ekonomi tapi juga mencampurinya (Sigmund Neumann: 1980).

RMI NU Tegal

Kedua, era digital telah memberikan perlakuan yang sama berbanding terbalik dengan proses demokratisasi di Indonesia yang masih tidak bisa melepaskan diri dari pola patron-klien yang bersifat tertutup dan berkelompok terbatas (Richard Borsuk: 2001). Akibatnya, peluang usaha, fasilitas dan manfaat regulasi ekonomi yang semula tidak bergulir pada lapisan massa yang besar jumlahnya saat ini menjadi lepas bebas. Dulu segelintir penguasa aset produktif merasa aman di dalam sistem tertutup namun sekarang mereka harus survive di tengah gempuran anak muda yang akrab dengan era digital. Zaman sudah berubah di mana tak ampuh lagi jaringan ekonomi-politik yang tertutup bercirikan korporatisme di mana Pemerintah memainkan peran sebagai sumber regulasi, lisensi, dan fasilitas, dimainkan secara tertutup untuk kalangan terbatas.

Ketiga, era digital telah menyadarkan masyarakat untuk mencari celah mengimbangi kekuatan politik yang dikendalikan segelintir elite. Akhirnya ketergantungan masyarakat terhadap elite politik di era digital berkurang drastis. Kekuatan politik dan konglomerasi yang terpusat tidak lagi menjadi faktor paling menentukan dalam perubahan sistem dan struktur sosial ekonomi.

Maka akan lebih mendidik mengakui bahwa era digital saat ini telah memberi arti kepada perubahan sosial budaya. Proses demokrasi  saat ini  sedikit demi sedikit mampu menggeser "status quo” ekonomi. Watak perekonomian Indonesia yang dulu beraroma “imperialisme” sudah bergerak pupus. Sebenarnya kedigjayaan era digital ini bukan cuma fenomena di Indonesia saja tetapi seluruh negara-negara berkembang sehingga implikasinya terhadap perubahan sosial budaya secerah yang terjadi di negara-negara maju.

Era digital telah mengurai kerumitan masyarakat Indonesia sehingga mulai berdaya untuk tidak lagi terjabak dalam proses-proses perubahan yang hanya berfungsi ritual. Karena itu kenyataan ini pun menyeret Pemerintah untuk tidak lagi menjalankan fungsi secara minimal agar tidak kehilangan fungsi substansialnya. Era Pemerintah prosedural telah usang. Tuntutan politik substansial menjadi pilihan satu-satunya untuk memecahkan berbagai persoalan sosial ekonomi. Kesenjangan, permusatan aset produktif, kemiskinan dan pengangguran yang meluas tidak saja memerlukan relaksasi pengembangan mekanisme pasar, tetapi juga keputusan-keputusan politik yang tepat yang hanya bisa ditempuh dengan menjunjung tinggi substansi demokrasi. Jika di era digital ini masih nekat mengambil keputusan ekonomi politik yang “anti digital” pasti akan menggiring sistem ini tergelincir lebih dalam lagi dibanding yang pernah dirasakan di era-era sebelumnya.

Era digital itu dibangun dengan biaya yang sangat besar. Karena itu tidak berlebihan jika kado terbesar kemerdekaan Indonesia tahun ini adalah era digital.  Maka akan tidak proporsional jika merayakan kemerdekaan masih sebatas ritual dan prosedural. Kelompok besar masyarakat mulai ke tengah maka itulah kemerdekaan. Telah lahir kesadaran bahwa status quo ekonomi   adalah ganjalan yang memicu kesenjangan dan kepincangan penguasaan aset produktif.

Di hari kemerdekaan ini Indonesia perlu merumuskan visi digitalnya. Salah satu yang dapat dijadikan stategi dalam membangun visi digital adalah—meminjam istilah Anthony Giddens—dengan menempuh “jalan ketiga”. Pola pikir Anthony Giddens tentang  “jalan ketiga” merupakan alternatif untuk menutupi kelemahan demokrasi yang berkembang saat ini yang telah melahirkan kelompok kecil yang menguasai aktivitas perekonomian dunia dari hulu sampai ilir serta di sisi lain ketidakmampuannya mengangkat kelompok besar untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi.

“Jalan ketiga” menginspirasi pelaku ekonomi dari kalangan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) untuk merangsek ke tengah aktivitas pasar belum mengandung prinsip keadilan serta jauh dari  sempurna. “Jalan ketiga” dapat dijadikan pisau analisa untuk mendelegitimasi struktur pasar yang telah bersifat monopoly powers sebagai implikasi dari liberalisasi ekonomi.

Penguasaan teknologi informasi sebagai prasyarat memasuki era digital itu penting untuk ikut andil dalam proses delegitimasi struktur pasar yang bersifat monopoly powers mengingat komitmennya terhadap UKM sangat rendah. Monopoly powers kental dengan inefesiensi ekonomi berhadapan dengan ekonomi digital yang sangat efisien.  Jika dulu terjadi peningkatan dislokasi sosial di kota-kota besar yang menjadi tempat utama pelaku ekonomi kuat memburu keuntungan, kini ekonomi digital yang digerakkan masyarakat kecil pun mampu berkembang pesat di kota-kota besar. Dalam konteks ini, visi digital teori “Jalan Ketiga” adalah kemitraan antara negara dan masyarakat untuk membangkitkan perekonomian masyarakat secara luas. Giddens menegaskan (2000), “Third way politics has very wide purchase, since parties or goverments all over the world have to respond to the fact that the other two ways are no longer applicable.”

Maka visi era digital saat ini bukan berarti apriori terhadap kekuatan lama atau status quo, tapi lebih pada penciptaan peluang yang sama bagi seluruh masyarakat, pembukaan dan perluasan akses perekonomian dan politik bagi  masyarakat luas serta komitmen Pemerintah atau negara atas sikapnya yang menempatkan masyarakat sebagai mitra. Lantas dalam tataran aplikatif, model perekonomian seperti apa yang dapat dijalankan? Selanjutnya silakan didiskusikan. Merdeka!

*) Ketua PBNU; Dosen Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Amalan, Kajian, Khutbah RMI NU Tegal

Minggu, 15 Oktober 2017

Diberikan Penghargaan kepada 3 Tokoh NU dan 4 Website Terbaik

Jakarta, RMI NU Tegal. Acara tasyakuran hari lahir (Harlah) ke-84 Nahdlatoel Oelama (1428 H) dan ke-4 RMI NU Tegal diadakan pada Selasa (28/8) nanti malam di Hotel Acacia Jakarta, Jl Kramat Raya 73 depan gedung PBNU.

Selain orasi kebangsaan oleh Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, tasyakuran Harlah akan diisi dengan pemberian penghargaan kepada 3 tokoh NU yang telah berjasa dalam pengembangan teknologi informasi di lingkungan NU, juga penghargaan kepada 4 website NU dan pesantren terbaik.

Diberikan Penghargaan kepada 3 Tokoh NU dan 4 Website Terbaik (Sumber Gambar : Nu Online)
Diberikan Penghargaan kepada 3 Tokoh NU dan 4 Website Terbaik (Sumber Gambar : Nu Online)

Diberikan Penghargaan kepada 3 Tokoh NU dan 4 Website Terbaik

Penghargaan kepada tokoh NU itu, menurut Ketua Panitia Harlah Suwadi D Pranoto, merupakan wujud ucapan terimakasih dari organisasi NU, dalam hal ini diwakili oleh RMI NU Tegal atas kiprah 3 tokoh NU yang telah mendorong pengembangan teknologi informasi di kalangan organisasi NU dan pesantren. Namun dirinya belum bersedia menyebutkan nama tiga tokoh yang dimaksud. “Biar ada kejutan,” katanya singkat.

Selain itu, penghargaan juga terkait upaya 3 tokoh NU itu yang telah melakukan terobosan-terobosan dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk mengembangkan kajian-kajian falakiyah (astronomi) dan pengembangan kawasan pedesaan sebagai basis warga NU.

Sementara itu penghargaan kepada 4 website terbaik di lingkungan NU dan pesantren dipilih dari 21 website yang memenuhi kriteria penilaian. 21 website adalah meliputi website milik perangkat-perangkat organisasi NU (lajnah, lembaga, dan badan otonom) baik tingkat pusat dan daerah, juga website Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di luar negeri, juga website pesantren.

RMI NU Tegal

4 website terbaik itu dinilai berdasarkan kelengkapan teknis semisal desain grafis, standar kepantasan, keamanan, kemudahan navigasi, pencarian internal, dan kelancaran mesin pencari data. Kelengkapan non teknis meliputi isi website baik menyangkut kontinuitas, konsistensi dan relevansi dengan back-ground instansi, juga menyangkut jumlah pengunjung dan respon publik, inovasi teknologi serta dampak dan manfaat website bagi masyarakat.

Direktur sekaligus Pemimpin Redaksi RMI NU Tegal Abdul Mun’im DZ mengatakan, pemberian penghargaan itu adalah sebagai wujud perhatian dan apresiasi PBNU atas perkembangan teknologi informasi di lingkungan NU dan pesantren yang selama ini kurang mendapat perhatian. “Mereka patah tumbuh hilang berganti,” katanya.

Sebelumnya, dalam rangkaian acara Harlah ke-84 NU dan ke-4 RMI NU Tegal pada 8-9 Agustus 2007 lalu diadakan lokakarya para pakar dan peminat teknologi informasi (TI) di lingkungan NU yang berasal dari beberapa perguruan tinggi dari dalam dan luar negeri, juga warga Nahdliyyin yang bekerja di bidang TI. Sebuah forum yang diberi nama Jaringan Komunitas Information Technology NU (Jarkitnu) telah dibentuk dan bertekad mengembangkan dan memanfaatkan sebesar-besarnya teknologi informasi untuk menggiatkan dakwah bil hal Jami’yyah Nahdlatul Ulama.(nam)



RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Amalan RMI NU Tegal

Jumat, 13 Oktober 2017

Usep Romli HM Setia Menulis Sepanjang Usia

Pria kelahiran Balubur Limbangan, Garut, 16 April 1949 ini menjadi PNS Guru SD di pedesaan Kecamatan Kadungora. Profesi guru dijalani hingga th.1983, ketika diangkat menjadi Kepala Seksi di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.

Namun tahun 1984, mengundurkan diri dari PNS tanpa meminta pensiun karena ingin fokus kepada professi wartawan yang telah dirintis sejak th.1966 dengan menjadi koresponden “freelance” untuk beberapa suratkabar terbitan Bandung, Jakarta dan Medan.

Usep Romli HM Setia Menulis Sepanjang Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
Usep Romli HM Setia Menulis Sepanjang Usia (Sumber Gambar : Nu Online)

Usep Romli HM Setia Menulis Sepanjang Usia

Pria yang nyantri di beberapa pesantren kecil dekat rumah (1955-1964) sering mengikuti “pengajian politik” di rumah Bapak KH Prof.Dr.Anwar Musaddad, Jl.Ciledug, Garut, yang berlangsung setiap awal bulan. Kegiatan tersebut dihadiri para politikus NU dan para ajengan pesantren terkenal dari Garut dan sekitarnya. Masa mudanya pernah aktif sebagai anggota Ikatan Pelajar Nahdlotul Ulama (IPNU) dan GP Ansor.

RMI NU Tegal

Tahun1964 mulai mengumumkan tulisan sastra (prosa dan puisi),serta jurnalistik. Dimuat dalam surat kabar “Harian Banteng” (corong PNI Jabar), “Harian Rakyat (corong PKI Jabar). Tapi tak pernah satu kalipun dimuat di “Harian Karya” (corong NU Jabar), walapun sering direkomendasikan oleh pengurus IPNU, GP Ansor dan PCNU Garut.

Pria ini terampil menulis dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Para pemerhati bahasa Sunda pasti tahu karyanya Sabelas Taun (kumpulan sajak), Nyi Kalimar Bulan (ceritera anak-anak) Oray Bedul Macok Mang Konod (humor pedesaan), Bongbolongan Nasrudin (humor terjemah dari bahasa Arab), dan belasan karya lain.

RMI NU Tegal

Dalam bahasa Indonesia di antaranya Si Ujang Anak Peladang (ceritera anak-anak), Pahlawan-Pahlawan Hutan Jati (ceritera anak-anak), Sehari di Bukit Resi (ceritera anak-anak), Desa Tercinta (ceritera anak-anak), Berlibur di Kaki Gunung (ceritera anak-anak), dan lain-lain.

Ia juga menulis Percikan Hikmah (kumpulan anekdote sufi), Pertaruhan Domba dan Kelinci (ceritera anak-anak bergambar), Zionis Israel di Balik Serangan AS ke Irak (analisa). Tulisan-tulisan dia masih bisa kita jumpai saban minggu di surat kabar, tabloid, dan majalah daerah Jawa Barat.

Pria bernama Usep Romli HM tersebut telah menerima beberapa penghargaan atas dedikasinya dalam dunia penulisan dan kecintaanya terhadap bahasa daerahnya. Dua kali ia menerima Hadiah Rancage dari Yayasan Rancage.

Pada tahun 2014, Usep yang pernah menjabat penasihat Lajnah Ta’lif wan Nasr PWNU Jabar (1996-2001) terpilih sebagai penerima Hadiah Asrul Sani kategori Kesetian Berkarya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Amalan, Hadits RMI NU Tegal

Minggu, 08 Oktober 2017

Lima Pemikiran Kritis yang Perlu Dimiliki Mahasiswa Islam

Bandung, RMI NU Tegal. Saat ini mahasiswa perlu konsentrasi memikirkan kelemahan mendasar dari umat Islam yang kurang memiliki pemahaman tentang hakikat hidup berbangsa dan bernegara melalui pandangan kewargaan.

Lima Pemikiran Kritis yang Perlu Dimiliki Mahasiswa Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Pemikiran Kritis yang Perlu Dimiliki Mahasiswa Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Pemikiran Kritis yang Perlu Dimiliki Mahasiswa Islam

Demikian dikatakan Dr. Asep Salahudin, peneliti Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakspesdam) Jawa Barat di hadapan puluhan mahasiswa Jurusan Syariah Universitas Islam Negeri Bandung (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung dalam diskusi "Apa itu Civic-Islam" di kampus setempat, Jumat (27/2) lalu.

Dalam pandangan studi kewargaan ala civic-Islam, umat Islam selalu gagal dalam urusan kenegaraan karena lebih mengedepankan simbol-simbol keagamaan dan lupa akan substansi perjuangan hakiki Islam, yakni memperjuangkan umat, terutama kelompok masyarakat lapisan bawah.

RMI NU Tegal

"Ketika sudah berbicara ‘Indonesia’ maka segenap ihwal pra politik etnik, agama, dan seterusnya harus ditanggalkan dan lebih berpikir pada substansi perjuangan. Menanggalkan identitas, misalnya identitas Islam itu bukan berarti meninggalkan Islam, tetapi supaya lebih berfokus pada upaya perwujudan Islam yang sejati dalam arena politik yang dijalankan," jelasnya.

RMI NU Tegal

Dengan memandang realitas gagalnya Islam-Politik dan kemandulan demokrasi saat ini, Salahudin berharap mahasiswa-mahasiswa bersikap kritis terhadap realitas politik Indonesia saat ini. Menurutnya, kebangsaan Indonesia, meliputi tanah air, bangsa dan bahasa, bukan bertaut dengan sentimentalisme agama, etnik dan sentimen sempit lainnya.

"Tanpa harus melakukan formalisasi agama, puritanisasi etnisitas, justru kita akan masuk dalam jantung penghayatan keagamaan yang subtil. Sejarah sumpah pemuda misalnya, memakai agama sebagai ‘daya keyakinan’, bukan sebagai identitas untuk melakukan perlawanan terhadap kaum penindas/kolonial,” tuturnya.

Surat Al-Maun, lanjutnya, di tangan KH Ahmad Dahlan menjadi teks yang menyadarkan pentingnya trasformasi ekonomi, tradisi di tangah KH Hasyim Asyari benar-benar bisa dipadupadankan dengan kekuatan kultur lokal dan pada saat yang sama tidak menghilangkan sikap kritis kepada Hindia-Belanda.

Berpihak pada semangat kebangsaan tersebut, Salahudin menilai, saat ini mahasiswa muslim yang berada di pergerakan seperti HMI, PMII, KAMMI, KMNU dan lain sebagainya perlu memiliki paradigma yang konkret dan realistis terkait realitas Indonesia saat ini dengan beberapa hal penting.

"Pertama, mahasiswa harus punya hubungan sinergis dengan warga sebagai basis perjuangan. Kedua, menumbuhkan spirit? intelektualisme dan keberagamaan dengan kesadaran permasalahan territorial tetapi berpijak pada keindonesiaan dan keislaman yang universal,” paparnya.

Sementara ketiga, tambahnya, melihat multikulturalisme kewargaan sebagai realitas harian yang harus disikapi secara lapang, kritis terhadap problem-problem kehidupan dari arus liberalisme, neo-liberalisme, konservatisme, dan radikalisme agama untuk dicarikan jawabannya; dan keempat, kritis menyikapi politik khilafah, Wahabisme dan yang sehaluan dengan itu karena memang tidak mencerminkan sikap politik Islam sejati dan a-historis, bahkan sekadar menampakkan kebuntuan akal sehat.

“Dan kelima, mahasiswa juga harus kritis pada soal ruang publik agar warga Indonesia tetap memiliki semangat hidup yang sehat dengan agena partisipasi dan deliberasi," jelasnya. (Yusuf Makmun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Amalan, Santri, Pendidikan RMI NU Tegal

Senin, 25 September 2017

Gus Ipul Optimis Jombang Tuan Rumah Muktamar Ke-33 NU

Jombang, RMI NU Tegal. Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf optimis Mukatamar NU ke-33 pada tahun 2015 akan digelar di Jombang, Jawa Timur. Menurutnya, usulan Jombang menjadi tuan rumah sudah disepakati PWNU Jatim dan disampaikan kepada PBNU.

Pria yang akrab disapa Gus Ipul ini mengungkapkan hal itu pada acara tasyakuran penganugerahan gelar pahlawan nasional untuk KH Wahab Chasbullah di Jalan Gus Dur, depan GOR Merdeka, Jombang, Sabtu malam (15/11).

Gus Ipul Optimis Jombang Tuan Rumah Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ipul Optimis Jombang Tuan Rumah Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ipul Optimis Jombang Tuan Rumah Muktamar Ke-33 NU

“Sudah saatnya NU kembali ke pendirinya, di Jombang ada tiga tokoh pendiri NU, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri yang harus dikenal lebih dekat dan diteladani oleh nahdliyin,” lanjut mantan ketua umum GP Ansor dua periode ini.

RMI NU Tegal

Ia juga mengatakan, empat pesantren besar yang ada di Jombang sudah menyatakan kesiapannya. “Gus Sholah Tebuireng sudah siap, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, dan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso juga demikian. Serta pondok-pondok lainnya juga harus siap,” ujarnya.

Menanggapi hal ini, Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah pagelaran akbar NU ini. Kita siap dan mendukung penuh Jombang jadi tuan rumah Muktamar NU. Bahkan, kita sudah menyiapkan anggaran khusus untuk kegiatan ini, tuturnya tanpa menyebutkan nominal anggarannya. (Romza/Mahbib)

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Amalan RMI NU Tegal

Senin, 18 September 2017

Manuver Politik dan Autentisitas Ramadhan Perspektif Maqashid Syariah

Oleh Nasrulloh Afandi



Ramadhan akan segera tiba, saya menemukan kliping tulisan berkualitas “Tuhan Itu Sama”, oleh Dr Mahfud MD” (Koran Sindo. Ramadhan,13/07/2013). Guru besar konstiusi itu menyatakan "Keberatannya jika aktivitas politik selama Ramadhan ditunda, karena politik juga bisa menjadi ibadah". Opini tersebut betul, namun kurang mengena. Ia sepihak dengan tidak melihat aspek-aspek lain yang berkaitan dengan autentisitas ibadah.?

Manuver Politik dan Autentisitas Ramadhan Perspektif Maqashid Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)
Manuver Politik dan Autentisitas Ramadhan Perspektif Maqashid Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)

Manuver Politik dan Autentisitas Ramadhan Perspektif Maqashid Syariah

Mengacu pada orientasi dan autentisitas ibadah, merespons opini tersebut, saya tertarik untuk menganalisa perspektif maqashid syariah, perlu disampaikan beberapa ulasan berikut:?

Pertama: Ramadhan Momentum Politik

Untuk pengantar wawasan, kita menengok Ramadhan pada zaman Nabi Muhammad SAW. Memang selain momentum diturunkanya Al-Qur’an, juga terjadi banyak tragedi-tragedi politik berskala besar, tidak hanya sebatas manuver di atas meja diplomasi, ? tetapi politik fisik, bahkan pertumpahan darah di medan peperangan.?

RMI NU Tegal

Perang Badar adalah tragedi politik paling besar yang terjadi di bulan Ramadhan pada jaman Nabi Muhammad, juga penaklukan kota Makkah. Termasuk persiapan perang Chondaq terjadi saat Ramadhan meskipun perangnya meletus pada bulan Syawal, selepas Ramadhan. Dan masih banyak berbagai peristiwa politik, di bulan yang umat Nabi Muhammad SAW sekarang ini diperintahkan untuk selalu menahan diri dan bersabar ini.?

Kenapa berperang di bulan Ramadhan? Hal perlu ditekankan adalah, di masa itu, meski di bulan Ramadhan, bermusuhan antara orang Mukmin pendukung Nabi Muhammad SAW, dan orang-orang kafir (harbi) yang membabi buta memusuhi dan ingin membinasakan Islam. Jadi ? adalah kewajiban orang Islam melakukan perlawanan.?

RMI NU Tegal

Untuk tepat sasaran dalam mengkaji tragedi tersebut, kita analisis opini Imam Asy-Syatibi, sang bapak maqhosid syariah, dalam kitab al-Muwafaqot, magnum opus-nya. Hal itu adalah bagian dari dhorurotu al-khoms (lima asas pokok yang wajib dipertahankan); pertama, hifduzu ad-din (menjaga agama) kedua; hifdzu an-nafs (menjaga jiwa) ketiga; hifdzu an-nasl (menjaga nasab) keempat; hifdzu aql (menjaga akal) kelima; hifdzu al-mal (menjaga harta)?

Alhasil, terkait tragedi peperangan di masa Nabi Muhamad tersebut, terdapat dua unsur yang mewajibkan berperang meskipun saat bulan Ramadhan. Pertama, hifduzu ad-din (menjaga agama) dan kedua; hifdzu an-nafs (menjaga jiwa).?

Kedua: Bagaimana Politik dan Ramadhan Sekarang?

Bagaimana politik di Indonesia sekarang? Relevansinya dengan politik sekarang dalam konteks keutamaan puasa Ramadhan. Untuk di Indonesia, publik pun paham, para politisi dominan memperebutkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan keluarga masing-masing, maksimal hanya untuk golongannya. Juga berhadapan dengan sama-sama orang Islam, sama-sama sedang berpuasa Ramadhan pula.?

Perspektif fikih, para perebut kekuasaan pun di negeri ini, mayoritas –dimaksud tidak semuanya— saat bermain di gelanggang melanggar norma agama, identik dengan “jurus busuk”, ? janji-janji palsu, kebohongan publik, bahkan mayoritas mengamalkan jurus machiavellianisme alias politik menghalalkan segala cara, meski ada yang jujur tapi sangat sedikit. Kasusnya rawan dengan faktor-faktor yang menggerogoti kualitas dan autentisitas ibadah (puasa) seperti menggunjing, bersilat lidah, berburuk sangka, dan lainnya, tak jarang pula yang secara langsung bermain fisik, atau sebatas mengerahkan masa untuk bermain fisik. Kondisi semacam itu, jelas tidak mendukung untuk bisa meraih kesempurnaan beribadah puasa.?

Analisis ilmu mantiq: ”Di tengah kobaran api akan terbakar”. Sang aktor politisi yang amanah, jujur dan bijaksana pun, ketika sedang bermain di gelanggang, gempuran manuver lawan–lawannya, sering mengakibatkan “si jujur” terpancing dan membuatnya mengadakan serangan balik dengan cara “kasar” pula.?

Di sinilah akar masalahnya. Atau meminjam opini Syeikh Ahmad Muhammad Az-Zarqo, dalam kitab kaidah fikihnya: daf ‘u al-mafasid aula min jalbi al-masholich (menjauhi sesuatu yang berakibat kerusakan itu lebih didahulukan, daripada melakukan sesuatu yang akan mengakibatkan kebaikan).

Efek negatif berpolitik saat puasa Ramadhan sudah sangat jelas, sementara kebaikan berpolitik (saat Ramadhan) masih belum tentu, atau dalam istilah maqashid syariahnya, kebaikan dalam berpolitik saat berpuasa Ramadhan itu hanya sebatas asumsi (maqashid al- wahmiyah). ?

Jadi, alangkah lebih baiknya, untuk menggapai nilai autentisitas berpuasa, sementara politik dikurangi, atau dihentikan sementara, mengingat kurang sehatnya iklim politik yang (sedang) berjalan di Indonesia. Rehat sejenak (meski hanya satu bulan dalam setahun sekali) untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Dan kembali bisa leluasa untuk berlaga di medan politik pasca Idul Fitri nanti, dengan hati dan pikiran lebih Islami untuk bekal bermanuver di lahan “perjuangannya” itu.?

Ketiga: Manuver Politik dan Orientasi Ibadah

Sekecil apa pun unsur yang bertujuan untuk kebaikan, entah ucapan, tulisan dan lainya -- termasuk berpolitik-- maka sangat di anjurkan oleh agama (Islam) kapan dan dimanapun, apalagi di bulan Ramadhan ini dilipatgandakan pahalanya. Setiap perbuatan kebaikan adalah bagian dari ibadah. Dan tentu bukanlah ibadah jika “kebaikan” itu hanya politis, apalagi sebagai klaim belaka.?

Bagi sebagian golongan, politik adalah pekerjaan tetap, ladang mencari nafkah keluarga, hal itu memang sah-sah saja. Bahkan menjadi kewajiban bagi kepala keluarga yang memang berprofesi (mencari nafkah) di medan tersebut, selagi tidak melanggar norma islami (agama) dan konstitusi negara. Di sisi lain, setiap kebijakan pemerintah (yang sedang memimpin) untuk merealisasikannya, tentu tidak bisa lepas dari strategi dan pandangan politis, contoh kecil mau menaikkan harga BBM.?

Namun perlu diingat. Di bulan Ramadhan ini, frekuensi ibadah harus lebih banyak dibandingkan urusan lainnya. Memang tidak ada salahnya jika di bulan Ramadhan tetap beraktivitas politik secara aktif. Demi memperjuangkan kepentingan publik atau dalam maqashid syariah-nya disebut al- maslahath al- ammah (kepentingan publik) dengan catatan; jika memang yakin bahwa Ia akan mampu menyelamatkan kualitas puasanya saat bermanuver di medan berpolitis.?

Politik dalam Islam sangat dianjurkan, tetapi opini Imam al-Ghozali dalam Ihya Ulumuddin-nya, hukumnya tidak sampai pada fardu ’ain (kewajiban bagi setiap orang) paling banter sampai pada posisi fardu kifayah (cukup diwakili oleh sebagian orang) maka sudah menggugurkan kewajiban orang lainnya. Itu pun dalam tinjaun ushul fikh, masih perlu melihat I’lath (latar belakangnya) situasi dan kondisi, mendesak ke sana apa belum(?)

Dipastikan mampukah atau tidak untuk tampil memperjuangkan hak-hak rakyat secara jujur, adil dan bijaksana(?) Masih ada tidak orang lain yang lebih mampu –yang ini berat memang, introspeksi kualitas diri – (?) ? Atau malah justru sebaliknya, ikut terseret ranah koalisi kezaliman kepada rakyat dan negara(?) Jika tidak memenuhi kriteria tersebut, maka lebih baik alih profesi saja, “beribadah” mengabdikan diri pada bangsa dan negara sesuai spesifikasi kemampuan yang dimilikinya, di luar area politik.?

Keempat: Puasa dan Polusi Politik

Puasa Ramadhan adalah ibadah yang sangat sensitif, gampang rusak hanya karena meluncur kalimat gunjingan dari mulut yang berpuasa, sehingga harus ekstra hati-hati dalam mengarungi ibadah puasa Ramadhan. Agar jangan sampai rusak, apalagi di “pagi buta” alias rawan godaan saat “jam kerja”.?

Dalam tinjauan ilmu ushul fikih-nya, siapa saja yang terlibat berurusan dengan orang-orang kurang bijaksana dan tidak amanah (politisi busuk) dalam kondisi berpuasa, maka akan sangat memungkinkan terkena jebakan ranjau, syad ad-dari’ah; posisi atau kondisi yang mengantarkan kepada sebuah kerusakan (mencemari Ibadah) Apalagi politik (meraih) Kekuasaan, yang tentunya rawan gesekan-gesekan dengan pihak lawan.

Lihatlah di kancah publik bangsa kita ini, paling gegap-gempita adalah aktivitas para politisi, sebelum Ramadhan, utamanya saat sedang berlangsungnya Ramadhan, bahkan sampai Ramadhan usai (Idul Fitri) segala macam manuver politik, pencitraan dilakukan oleh para pemburu kekuasaan untuk pencapaian target atau mempertahankan kekuasaanya. Menggunakan berbagai media online cetak, spanduk, baliho, dan media iklan lainnya, bukan hanya di kota –kota, tetapi juga di pelosok- pelosok desa seantero negeri. Mereka bersandiwara menjadi tokoh religius, dermawan atau lainnya, ? “menjual diri” agar “dibeli” oleh publik hanya dengan barter mengharapkan status; biar disebut tokoh ideal atau tokoh terbaik idola publik.?

Dalam tinjauan fikih, puasa sekedar menahan perut dari lapar dan dahaga itu cukup syah. Tetapi perlu diingat juga, dalam tinjauan tassawuf, Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin-nya, cukup moderat berpendapat, puasa semacam itu syah, tetapi hanya kelas paling bawah (shaum al- umum) yang dalam bahasa sehari-hari kita disebut “kelas ekonomi”.?

Untuk puasa lebih berkualitas, ? orang ? berpuasa juga hendaknya menjaga lisan, mata dan pendengaran dari kemaksiatan, itu adalah shaum al-khusus (puasa khusus) ? dalam bahasa sehari-hari kita disebut puasa “kelas bisnis”.?

Ada juga puasa yang sekaligus menjaga hati dan pikiran dari jangkitan fenomena prasangka tercela; ? itulah shaumu khusus al-khusus (puasa kelas orang-orang tertentu) puasa kelas tertinggi, atau dalam bahasa keseharian kita; puasa “kelas ekskutif”.?

Jadi, orang-orang yang elit di kancah politik itu, di bulan Ramadhan ini, mau pilih menjadi kelas apa, (orang) berpuasa kelas executive atau hanya puasa (orang) kelas ekonomi?





Penulis adalah peneliti ? maqashid syariah modern, Kepala Bagian Politik Yayasan Pondok Pesantren Asy- Syafi’iyyah Kedungwungu Krangkeng Indramayu Jabar

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Amalan RMI NU Tegal

Kamis, 31 Agustus 2017

Kitab Fiqih Karya KH Afifuddin Muhajir Mudahkan Santri Pemula

Jember, RMI NU Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, Ahad (28/9), menggelar bedah kitab “Fathu al-Mujib al-Qorib” di? Pondok Pesantren? Nuris, Antirogo, Jember, Jawa Timur. Bedah kitab dihadiri para kiai se-wilayah Tapal Kuda plus Sidoarjo, Probolinggo, dan Pasuruan.

Kitab Fiqih Karya KH Afifuddin Muhajir Mudahkan Santri Pemula (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Fiqih Karya KH Afifuddin Muhajir Mudahkan Santri Pemula (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Fiqih Karya KH Afifuddin Muhajir Mudahkan Santri Pemula

Pengarang kitab itu, KH Afifuddin Muhajir, dalam pengantarnya, menandaskan bahwa selain untuk mempermudah santri dalam memahami kitab fiqih, penulisan kitab tersebut juga dimaksudkan untuk menghidupkan tradisi menulis kitab di kalangan tokoh NU.

“Sebenarnya NU memilki banyak tokoh ulama yang mempunyai kemampuan menulis kitab, namun belum terbiasa menulis,” ujar Katib Syuriyah PBNU ini.

RMI NU Tegal

Wakil Ketua PCNU Jember menyambut baik peluncurun dan bedah kitab fiqih tersebut. Menurutnya, para kiai mempunyai pemikiran-pemikrian yang brillian dan kontekstual terkait dengan persoalan fiqih, namun belum dituangkan dalam bentuk? karya ilmiah.

RMI NU Tegal

Dikatakannya bahwa ulama Indonesia sesungguhnya banyak yang mempunyai kemampuan menulis kitab, yang tak kalah dengan ulama-ulama di Timur Tengah. “Kalau yang berhabasa Indonesia sudah banyak, tapi karya yang berbahasa Arab, masih? jarang. Mudah-mudahan karya Kiai Afifuddin ini bisa memacu yang lain untuk menulis,” ujarnya.

Fathu al-Mujib al-Qorib adalah kitab syarah? dari kitab Fathul Qorib dengan bahasa dan penjelasaan yang mudah dimengerti oleh santri pemula. “Kitab ini memang? tidak dilengkapi dengan dalil al-Quran maupun Hadits, karena target konsumennya adalah santri pemula,” ucap Kiai Afifuddin menjawab pertanyaan peserta. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nahdlatul Ulama, Amalan RMI NU Tegal

Cara Jemaah Haji Peringati HUT RI di Tanah Suci

Jeddah, RMI NU Tegal

Peringatan hari kemerdekaan di negeri orang memang tidak semeriah di negeri sendiri. Ada regulasi Arab Saudi yang harus dipatuhi terutama dalam hal pengibaran bendera negara asing.

Warga Negara Indonesia (WNI) tidak bisa seenaknya melakukan upacara bendera di ruang terbuka atau mengibarkan bendera di ruang publik. Namun begitu berbagai upaya dilakukan untuk turut berbahagia pada hari bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Cara Jemaah Haji Peringati HUT RI di Tanah Suci (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Jemaah Haji Peringati HUT RI di Tanah Suci (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Jemaah Haji Peringati HUT RI di Tanah Suci

Para petugas dan jemaah haji melakukan beberapa kegiatan kecil untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Ke-72 Republik Indonesia. Bahkan beberapa jemaah haji menggelar apel peringatan HUT RI di hotel.

RMI NU Tegal

Seperti yang dilakukan oleh jemaah haji asal Purbalingga embarkasi Solo kloter SOC-2. Situs resmi Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag RI melaporkan, apel kemerdekaan jemaah haji SOC-2 dilaksanakan layaknya upacara bendera di Indonesia mulai pukul 06.30 waktu Arab Saudi, Kamis (17/08/2017), di halaman Hotel Husaifan.

RMI NU Tegal

Ketua kloter SOC-2 bertindak sebagai Inspektur Upacara. Sedangkan Komandan Upacara dilaksanakan oleh Purn Suko, MC Laely Muthohir, dirigen oleh Ady, dan doa dipimpin oleh Kholidin. Dengan mengenakan seragam batik nasional, para jemaah dengan khidmat mengikuti upacara dalam nuansa kesederhanaan.

Subeno mengungkapkan alasannya dan para jemaah haji melaksanakan apel peringatan HUT RI ke-72 ini. “Ini merupakan kebanggaan yang luar biasa karena bisa melaksanakan peringatan ulang tahun kemerdekaan di Tanah Suci. Kami turut mendoakan kemajuan bagi bangsa dan negara Indonesia,” ucapnya.

Selain melaksanakan apel peringatan kemerdekaan, SOC-2 juga melakukan pengibaran bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di sekitar Jabal Rahmah.

Jemaah asal Purbalingga yang tergabung dalam SOC-43 juga melakukan hal sejenis di Madinah. Mereka membentangkan spanduk ucapan Dirgahayu Republik Indonesia Ke-72 di halaman Masjid Nabawi. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Amalan, AlaSantri, Humor Islam RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock