Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2018

Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar

Jakarta, RMI NU Tegal. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, perbedaan itu adalah ketetapan Allah. Untuk itu, tugas manusia adalah bukan untuk menyeragamkan yang beda, tetapi bagaimana mereka menyikapi perbedaan tersebut dengan bijaksana dan saling menghormati.

“Perbedaan itu sunnatullah dan itu tidak perlu dipertentangkan. Yang kita lakukan adalah bagaimana menyikapi keberagaman itu, bukan menyeragamkannya,” kata Lukman saat memberikan materi kepada peserta Pelatihan Dai-Daiyah Kader NU 2017 di Gedung PBNU, Senin (29/5).

Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar

Lukman menguraikan, banyak orang yang tidak arif dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan dikarena mereka kurang memiliki wawasan yang cukup, terutama dalam melihat perbedaan yang ada. Menurut dia, kalau seandainya Allah menghendaki manusia itu seragam, maka itu mudah saja.?

Ia mengaku mendapatkan laporan bahwa saat ini tidak sedikit rumah-rumah ibadah yang dijadikan sebagai tempat untuk mempertentangkan perbedaan-perbedaan yang ada. Baginya, perbedaan itu tidak perlu dihadap-hadapkan karena itu adalah pilihan-pilihan.?

Terkait hal itu, ia memberikan contoh bahwa saat ibu-ibu pergi ke pasar untuk membeli sayuran, maka ia tidak harus mempertentangkan mana yang lebih baik antara sayur yang satu dengan yang lainnya.

“Kan tidak harus diperhadapkan bahwa bayam itu lebih baik dari kangkung, tergantung dari sudut mana. Kadar nutrisinya saja sudah beda, vitamin yang dikandungnya saja sudah beda, rasanya pun juga beda. Masing-masing punya kelebihan,” ungkapnya.

RMI NU Tegal

Ia mengaku sadar, setiap agama memiliki keyakinan bahwa agamanya lah yang paling benar. Alumni Universitas As-Syafiiyah itu menyesalkan pemeluk agama tertentu yang ingin menunjukkan kebenaran agamanya dengan menjelek-jelekkan agama orang lain karena itu akan meat mbupemeluk agama lain melakukan hal sama.

“Untuk mengatakan istri saya cantik, tidak perlu mengatakan istri lain itu jelek. Itu akan mengusik yang lainnya,” kata Lukman mencotohkan.?

“Agama itu benar menurut pemeluknya masing-masing,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal PonPes, Halaqoh RMI NU Tegal

Rabu, 28 Februari 2018

IPNU-IPPNU Sidoarjo Gelar Pondok Aswaja VII

Sidoarjo, RMI NU Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sidoarjo pada Ramadhan ini mengadakan acara Pondok Aswaja VII dengan mengangkat tema "Pengamalan Aswaja An-Nahdliyah untuk mewujudkan kesejahteraan di masyarakat".

Acara yang digelar di Pondok Pesantren Chusnaini Desa Klopo Sepoloh, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo itu diadakan selama dua hari, Sabtu hingga Ahad, (4-5/7) dengan diikuti sekitar 60 anggota delegasi dari Pimpinan Anak cabang IPNU-IPPNU hingga perguruan tinggi yang ada di Kabupaten Sidoarjo.

IPNU-IPPNU Sidoarjo Gelar Pondok Aswaja VII (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Sidoarjo Gelar Pondok Aswaja VII (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Sidoarjo Gelar Pondok Aswaja VII

"Melalui acara ini kami harapkan para kader IPNU-IPPNU Sidoarjo bisa membentengi dirinya sendiri, keluarganya dan lingkungan sekitarnya dari paham-paham yang tidak sesuai dengan ajaran ulama NU terdahulu," tegas Ketua PC IPNU Sidoarjo M Syaikhul Maarif.

RMI NU Tegal

Diceritakan Maarif, awal mula berdirinya IPNU-IPPNU itu dari pondok pesantren. Ini merupakan proses silaturahim para kader IPNU-IPPNU dengan pondok pesantren yang ada di wilayah Sidoarjo. Sehingga mereka terus memberikan sumbangsih kepada pondok pesantren.

RMI NU Tegal

"Banyak pembelajaran yang tidak pernah kita temukan seperti yang ada di pondok pesantren. Di pesantren, kita akan memberikan edukasi kepada para kader muda NU agar mereka mengerti bagaimana kondisi di pesantren itu. Karena banyak tokoh besar NU dan cendekiawan yang lahir dari pondok pesantren," kata Syaikhul Maarif.

Acara Pondok Aswaja tersebut sekaligus merealisasikan program PBNU "Ayo Mondok". Melalui bulan Ramadhan, pihaknya berupaya memberikan kajian keilmuan yang belum pernah kader IPNU-IPPNU dapatkan selama berada di bangku sekolah formal.

Sementara itu Kresna Aji Prayoga (12), delegasi dari Pimpinan Aanak Cabang IPNU Taman Sidoarjo, mengaku ingin mencari ilmu di pesantren supaya bisa termotivasi seperti para ulama besar NU.

"Saya ikut acara ini karena ingin mencari ilmu. Agar ke depannya bisa membentengi diri sendiri dan menjadi remaja yang baik. Selain itu supaya iman saya kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh remaja-remaja yang suka berbuat hal-hal kurang baik," ungkap Aji. (Moh Kholidun/Mahbib)

 

Foto: Ketua PC IPNU Sidoarjo M Syaikhul Maarif

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Halaqoh, Pondok Pesantren, Hadits RMI NU Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

PCNU Jombang Sepakat Usulkan “Ahlul Halli wal Aqdi”

Jombang, RMI NU Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang telah sepakat mengusulkan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi dalam Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) yang akan diadakan pada Selasa (16/4) besok. Mekanisme ini merupakan realisasi dari ketentuan mengenai “musyawarah mufakat”.

PCNU Jombang Sepakat Usulkan “Ahlul Halli wal Aqdi” (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jombang Sepakat Usulkan “Ahlul Halli wal Aqdi” (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Jombang Sepakat Usulkan “Ahlul Halli wal Aqdi”

Mekanisme pemilihan oleh dewan yang dibentuk atau Ahlul Halli wal Aqdi diusulkan akan diterapkan dalam pemilihan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur dalam Konferensi Wilayah (Konferwil NU Jawa Timur pada akhir Mei 2013 nanti. 

Demikian dalam Rapat Pengurus Harian PCNU Jombang yang diadakan, Sabtu (13/4) malam. Tampak hadir dalam rapat tersebut Rais Syuriah, KH Abd Nashir Fattah, beserta jajaran Syuriah, Ketua PCNU Jombang, Dr. KH Isrofil Amar beserta jajaran pengurus tanfidziyah.

RMI NU Tegal

Rapat rutin yang kali ini diadakan di rumah KH Isrofil Amar ini membahas beberapa hal. Salah satu bahasannya adalah tentang surat undangan Muskerwil dari PWNU Jatim. Karena agenda utama dalam Muskerwil sesuai dengan surat tersebut adalah akan membicarakan tentang mekanisme pemilihan pimpinan PWNU Jatim periode mendatang dalam Konferwil, maka rapat juga membicarakan tentang apa usulan dari PCNU Jombang dalam Muskerwil.

RMI NU Tegal

Di dalam rapat berkembang dua usulan, yang pertama PCNU Jombang akan membawa usulan pemilihan dilakukan secara musyawarah mufakat, dan yang kedua pemilihan dilakukan melalui pemungutan suara. Dua usulan ini sesuai dengan AD/ART Nahdlatul Ulama Bab XIV Pasal 42 ayat (1) point a dan b yang berbunyi "Rais (Ketua) dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam Konferensi Wilayah setelah yang bersangkutan menyampaikan kesediaannya".

Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang dan alot dengan berbagai argumentasi yang saling menguatkan, sebagaimana yang sering terjadi di NU, akhirnya disepakati, utusan dari PCNU Jombang yang akan diwakili oleh ketua Tanfidziyah KH Isrofil Amar dan Katib Syuriah, KH Abd Kholiq Hasan akan membawa mandat yang menyatakan bahwa “PCNU Jombang mendukung dan mengusulkan mekanisme pemilihan pimpinan PWNU Jatim melalui musyawarah mufakat, dengan teknis pelaksanaannya melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi atau Ahwa”.

Alasan utama pemilihan mekanisme musyawarah mufakat melalui Ahwa adalah memilih resiko yang lebih ringan dari dua resiko (akhoffudzarain) yang berkaitan dengan praktek riswah yang saat ini marak di mana-mana. Mekanisme Ahwa akan melokalisir praktek riswah, jika terjadi, hanya pada lingkaran kecil, tidak melebar pada semua peserta Konferwil.

PWNU Jawa Timur sendiri akan menyelenggarakan Konferwil pada 29 Mei - 2 Juni 2013 mendatang di Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat desa Lebo Kecamatan Sidoarjo. 

Foto: Suasana Muktamar ke-26 NU di Semarang, 1979.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis: Muslimin Abdilla

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pahlawan, Halaqoh RMI NU Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

PWNU Jateng: Jangan Jadikan Medsos Wasilah Keburukan

Jepara, RMI NU Tegal. Dampak positif dan negatif media sosial (medsos) saat ini memang luar biasa. Karena itulah, Sekretaris PWNU Jawa Tengah Mohamad Arja Imroni mengingatkan warga NU Jepara agar tidak mudah terprovokasi dari fitnah-fitnah yang berasal dari medsos.?

PWNU Jateng: Jangan Jadikan Medsos Wasilah Keburukan (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jateng: Jangan Jadikan Medsos Wasilah Keburukan (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jateng: Jangan Jadikan Medsos Wasilah Keburukan

Arja menyampaiakna hal itu pada Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) II PCNU Jepara yang digelar di Pesantren Darul Ulum desa Bandungharjo, kecamatan Donorojo pada Ahad (27/11).?

Sejatinya, kata dosen UIN Walisongo Semarang itu media sosial bisa untuk menambah amal kebaikan. “Sekarang medsos malah untuk wasilah amal buruk,” ungkapnya prihatin.?

Arja menyontohkan, seorang karyawan yang tidak sepakat dengan seorang kiai tentang larangan shalat Jum’at di jalan raya lantas berkomentar “bid’ah ndasmu” di twitter. Hal itu merupakan wasilah menambah amal buruk.?

Sehingga mewakili PWNU Jawa Tengah dirinya mengingatkan agar jangan mudah terprovokasi sumber dari media sosial.?

RMI NU Tegal

Kesempatan itu juga ia menceritakan seseorang yang sudah ketakutan dengan sebuah fatwa “tidak ikut demo sama dengan kafir”. Kemudian si fulan yang mendapatkan info dari salah satu medsos menyebarkannya. Dan, pada saat hari H demo, ia turut serta. Ternyata, kiai-kiai yang dikaguminya tidak turut serta dalam demo tersebut.?

Karenanya untuk hal fatwa keagamaan, warga NU harus konsultasi terlebih dahulu kepada syuriah NU.?

RMI NU Tegal

Arja menegaskan, fitnah kepada NU memang tidak henti-hentinya. Baik dari kanan dan kiri, kelompok yang ingin merongrong keutuhan NKRI.?

Karena posisi NU tawasuth (di tengah-tengah) maka cobaan dan goncangannya memang luar biasa dahsyatnya. “Saya membaca sebuah tulisan di majalah Aula baru-baru ini bahwa NU sendirian menjaga NKRI,” imbuhnya.?

Untuk itu, ia meminta kepada ratusan Nahdliyin agar selalu menjaga ukhuwah nahdliyyah. Persaudaraan berjamaah dan berjam’iyyah. “Dan berdoa agar kelompok-kelompok yang berusaha merongrong keutuhan NRKI “dihancurkan” oleh Allah SWT,” doanya.?

Hadir dalam kesempatan itu shahibul bait KH Ubaidillah Nur Umar sekaligus Rais Syuriah PCNU Jepara KH Hayatun Abdullah Hadziq Ketua PCNU Jepara H Ali Irfan Muhtar Ketua Yaptinu Jepara serta Ihwan Sudrajat Plt. Bupati Jepara.?

Kegiatan yang berlangsung sehari yang dihadiri MWCNU, Banom dan Lembaga se-kabupaten Jepara dibagi menjadi 3 komisi. Komisi A bidang organisasi, komisi B bidang program kerja dan komisi C bidang bahsul masail. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Tokoh, Halaqoh RMI NU Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Bupati Mesuji Minta Ansor Dukung Program Pembangunan

Mesuji, RMI NU Tegal

Bupati Mesjuji, Provinsi Lampung H Khamami berharap kader-kader Gerakan Pemuda Ansor dapat bersinergi dan bersama-sama mendukung program pembangunan di Kabupaten Mesuji. Ia juga mengaku prihatin dengan banyaknya tindak kriminal belakangan ini.

Bupati Mesuji Minta Ansor Dukung Program Pembangunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Mesuji Minta Ansor Dukung Program Pembangunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Mesuji Minta Ansor Dukung Program Pembangunan

Hal itu ia sampaikan saat membuka secara resmi Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) GP Ansor dan Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) Banser Angkatan 2 se-Kabupaten Mesuji, 27- 29 Mei 2016, di Pondok Pesantren Raudhotul Istiqomah, Desa Fajar Baru, Panca Jaya, Kabupaten Mesuji.

Khamami mengapresiasi proses kaderisasi yang digelar Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Mesuji tersebut. “Saya mendukung penuh kegiatan positif seperti ini, terlebih kondisi saat ini sudah sangat memprihatinkan dengan maraknya kasus-kasus narkoba, pencabulan disertai pembunuhan,” ujarnya, Jumat (27/6).

RMI NU Tegal

“Oleh karenanya dengan adanya agenda PKD Ansor dan Diklatsar Banser ini sangat baik bagi pengembangan karakter generasi muda, khususnya generasi muda NU,” tambahnya.

Adapun PKD Ansor dan Diklatsar Banser se-Kabupaten Mesuji diikuti oleh 32 peserta PKD Ansor dan 138 peserta Diklatsar Banser yang berasal dari seluruh kecamatan di Kabupaten Mesuji.

RMI NU Tegal

Menurut Jupri selaku Ketua PC GP Ansor Kebupaten Mesuji, acara ini merupakan agenda rutin yang wajib sebagaimana amanat organisasi. “Saya berharap bahwa melalui PKD dan Diklatsar Banser ini, kader-kader NU ke depan mampu untuk mendorong pola dakwah NU, di mana pola dakwah NU menggunakan metode ramah bukan marah yang dapat diimplemantasikan di Bumi Serasan Segawe,”ujarnya. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nusantara, Pertandingan, Halaqoh RMI NU Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Bagaimana Mbah Umar Mengislamkan Pak Mughizi?

Salah satu yang menonjol dari Mbah Umar adalah senang menghormati tamu. Jika ada tamu yang datang, siapa pun orangnya, pasti akan merasakan cara Mbah Umar dalam ikromudl dluyuf memuliakan tamu.

Seandainya beliau ditanya tentang hobi, bukan tidak mungkin beliau menjawab begini,”Hobi saya terima tamu.”

Bagaimana Mbah Umar Mengislamkan Pak Mughizi? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Mbah Umar Mengislamkan Pak Mughizi? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Mbah Umar Mengislamkan Pak Mughizi?

Santri-santri Al-Muayyad zaman Mbah Umar, kemungkinan besar mengenal Pak Mughizi, seorang petugas listrik di wilayah Laweyan dan sekitarnya. Pak Mughizi ini sering datang ke pesantren untuk mencatatan meteran listrik, juga menagih bayaran listrik. Selain dikenal sebagai petugas listrik, para santri juga mengenal Pak Mughizi dengan identitas seperti ini: nonmuslim, China, celana pendek dan tidak bisa berbahasa Jawa Kromo atau halus.

Tahun-tahun itu, di masyarakat yang tradisinya homogen, monokultur, sering memunculkan prasangka. Tapi ini tidak berlaku pada Mbah Umar. Mbah Umar kerap mengajak Pak Mughizi berbincang di rumahnya atau di serambi pesantren. Santri-santri yang melihatnya tak jarang yang risi melihat Pak Mughizi ngobrol akrab dengan kiainya, seperti tanpa batas. Harap maklum, identitas Pak Mushizi tidak ada di dalam pesantren.

RMI NU Tegal

Obrolan Mbah Umar dengan Pak Mughizi ringan-ringan saja, tak jauh dari tema keluarga, aktivitas sehari-hari. Tak pernah Mbah Umar tanya agama, berdialog tentang keyakinan seperti intelektual-intelektual di kota-kota itu. Tapi tak disangka banyak orang, Pak Mughizi masuk Islam. Ya namanya hidayah, datangnya tidak bisa diotak-atik, termasuk logika yang paling canggih sekalipun. Teori kausalitas, sebab musabab, pun tidak mutlak dalam urusan hidayah.

RMI NU Tegal

Jika ada hanya mengira-ngira, menduga-duga. Seperti tafsiran orang, juga saya, Pak Mughizi masuk Islam karena kepincut akhlak mulia Mbah Umar, hanyalah dugaan, memperkiraakan semata. Apakah akhlak mulia Mbah Umar adalah kesengajaan berdakwah agar Pak Mughiz masuk Islam? Tidak ada yang tahu.

Ternyata tidak masuk Islam kan? Walhasil, tidak terlalu tepat jika ada pertanyaan, “Bagaimana Mbah Umar mengislamkan Pak Mughizi?” Setelah Masuk Islam Keluarga besar Pesantren Al-Muayyad menyambut dengan suka cita si mata sipit yang suka bercelana pendek dan bicaranya ngoko. Keseriusan Pak Mughiz masuk Islam, di antaranya ditandai dengan sunatan.

Pasca sunatan, Pak Mughizi tinggal di pesantren, agar keluarganya tidak direpotkan memelihara “burung” Pak Mughizi yang sedang terluka (zaman itu belum ada sunat pakai laser yang langsung sembuh). Selama proses perawatan burung, Pak Mughizi empat hari di Al-Muayyad, persisnya di kamar 4 pondok lama.

Setelah Mbah Umar wafat di tahun 1980, Pak Mughizi bertemua Mbah Umar dalam mimpi. Di dalam mimpi Mbah Umar meminta agar dirinya berangkat haji. Tidak mikir panjang-panjang, Pak Mughizi bergegas daftar haji. Mimpi tersebut diceritakan pada Hj. Shofiyah, istri Mbah Umar.

"Aku hendak berangkat haji, Bu Nyai. Kiai Umar yang minta. Saya minta doanya.” "Alhamdulillah. Jika tahun ini berarti bareng sama anakku." (Muhammad Shofy Al Mubarok, Khodam di pesatren Brabo, Grobogan, Jawa Tengah)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Halaqoh, Ubudiyah, Aswaja RMI NU Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Dubes Inggris: NU dan Indonesia Miliki Peran Penting Wujudkan Perdamaian Dunia

Jakarta, RMI NU Tegal

Setelah melakukan penekenan nota kesepahaman dengan PBNU di sektor-sektor strategis, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik melaksanakan shalat Jumat di Masjid An-Nahdlah PBNU lantai dasar, Jumat (8/4). Usai sholat Jumat, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj yang menjadi khotib dan imam memperkenalkan Moazzam kepada para jamaah Jumat.

Setelah diperkenalkan oleh Kiai Said, Moazzam memberikan pernyataannya kepada jamaah. Dia mengatakan, NU dan negara Indonesia mempunyai peran startegis untuk mewujudkan perdamaian dunia di tengah serangan radikalisme dan terorisme.

Dubes Inggris: NU dan Indonesia Miliki Peran Penting Wujudkan Perdamaian Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Inggris: NU dan Indonesia Miliki Peran Penting Wujudkan Perdamaian Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Inggris: NU dan Indonesia Miliki Peran Penting Wujudkan Perdamaian Dunia

Dubes muslim pertama Inggris ini juga menjelaskan, kemitraan strategis dengan Nahdlatul Ulama ini diharapkan dapat mewujudkan perdamaian di antara banyak etnis di Inggris. NU bisa memberikan pemahaman-pemahaman Islam yang ramah dan toleran kepada seluruh warga Inggris, bahkan untuk perdamian dunia secara luas.

“Kita tunjukkan bahwa Islam adalah agama damai,” ujar Moazzam yang sudah bertugas selama 18 bulan sebagai Dubes Inggris untuk Indonesia.

Bidang strategis yang menjadi poin kerja sama di antaranya persoalan terorisme dan radikalisme, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.?

RMI NU Tegal

Dalam kesempatan shalat Jumat di Masjid An-Nahdlah PBNU tersebut, Moazzam didampingi oleh Ketua Umum dan Sekjen PBNU, Ketua PBNU Marsudi Syuhud, dan pengurus PBNU yang lainnya. Moazzam juga menerima kartu anggota NU, E-Kartanu dari PBNU sebagai warga istimewa Nahdlatul Ulama. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Halaqoh, Berita RMI NU Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Bumiputeraisme: Urgensi Penguatan Ekonomi Pribumi

Oleh M. Kholid Syeirazi

Ada suatu masa, di sebuah negara-bangsa yang masih muda, persamaan hak dan kewajiban di muka hukum diuji oleh ketimpangan ekonomi di antara warganya. Demokrasi politik dan hukum yang disuarakan kaum borjuis di Eropa sedari awal tidak menyertakan demokrasi ekonomi sebagai isu.?

Yang mereka tuntut sebagai pemilik uang dan pembayar pajak adalah hak politik dan hukum agar tidak dikepret secara sewenang-wenang oleh penguasa. Demokrasi lahir dari tradisi borjuis yang kekuatan uangnya mampu menekan penguasa untuk mendengar suara mereka. Barrington Moore bilang: No Bourgeoisie No Democracy!

Bumiputeraisme: Urgensi Penguatan Ekonomi Pribumi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bumiputeraisme: Urgensi Penguatan Ekonomi Pribumi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bumiputeraisme: Urgensi Penguatan Ekonomi Pribumi

Ketika diekspor ke seluruh dunia, demokrasi membawa cacat bawaan yang sama. Demokrasi dipikirkan sebagai prinsip equality before the law dan hak politik tanpa pandang bulu. Bagaimana dengan hak ekonomi? Itu urusan pasar. Pasar dengan tangan gaibnya akan membagi-bagi kesejahteraan tanpa perlu intervensi negara. Para pendiri Republik sadar perlunya campur tangan negara.?

Urusan perut rakyat terlalu penting untuk diserahkan sepenuhnya ke pasar yang rawan menjadi ring tinju bagi yang kuat melibas yang lemah. Karena itu, dipasanglah Pasal 33 yang ayat 1-nya menomorsatukan ko-operasi bukan kompetisi (Perekonomian disusun sebagai usaha bersama....). Belakangan, pada amandemen tahun 2001, ditambahkan ayat kompetisi melalui melalui frase efisiensi di ayat (4).

RMI NU Tegal

Nyatanya kesamaan akses tidak pernah terjadi bidang ekonomi. Konstitusi meruntuhkan kasta-kasta sosial dan politik, tetapi dalam ekonomi kasta-kasta itu terpelihara dalam tiga tingkat: Londo, Aseng, dan pribumi. Londo menguasai sektor industri besar. Aseng dan keturunan Arab menguasai retail dan eceran. Pribumi kelas jongos atau terpinggir sebagai petani miskin.

Upaya mengangkat harkat pribumi dalam perekonomian dilakukan dengan program ekonomi Benteng dan Bumiputeraisme yang berlangsung pada dekade 50-an. Program ini gagal karena yang terjadi adalah fronting atau istilahnya Ali - Baba: yang di depan Ali (pribumi) tetapi operator sebenarnya adalah Baba (aseng).

Kendatipun resmi dihentikan tahun 1957, kebijakan memproteksi pribumi yang berada di kasta terendah dalam perekonomian masih terus coba dilakukan, antara lain dengan menerbitkan PP No. 10 Tahun 1959 yang melarang asing dan aseng bergerak di perdagangan retail di tingkat kabupaten ke bawah. Padaa saat PP ini diterbitkan, dari 86.690 izin retail yang terdaftar, 90 persennya dikuasai warga keturunan Tionghoa. PP ini menimbulkan gejolak. Di sejumlah tempat di Jawa Barat, pedagang Cina diusir dan makan korban jiwa di Curut, Cibadak, dan Cimahi.?

Pemerintah Peking gusar, mengutuk pemerintah Indonesia dan mengajak warga keturunan Tionghoa balik ke "kehangatan Ibu Pertiwi." Dikabarkan dari 199 ribu yang mendaftar, 102 ribu orang diangkut ke Cina. Ketegangan mengendur setelah PM RRT, Zhou Enali, menemui Soekarno dan menormalisasi hubungan.

Apa sikap NU terkait gerakan Bumiputeraisme ini? Dalam Muktamar ke-25 di Surabaya Tahun 1971, NU mendukung penerapan PP No. 10/1959 sebagai ikhtiar melindungi perekonomian kecil yang menjadi basis Nahdlyin. Sebagaimana terlihat dalam dua kutipan Keputusan Muktamar di bawah ini, NU secara tegas mendukung upaya Pemerintah mengangkat dan melindungi perekonomian rakyat yang telah berabad-abad di bawah tindasan asing dan aseng.

RMI NU Tegal

Karena itu, jika PWNU Jawa Tengah dalam rapat di Magelang 5/12/2016 memutuskan haramnya pemberian lisensi kepada retail modern yang merugikan perekonomian rakyat kecil, keputusan itu punya benang merah dengan Keputusan Muktamar NU ke-25 tahun 1971.

Pasar bebas telah menembus ke jantung ekonomi akar rumput. Kapitalisme telah mengedarkan produk-produk MNC memenuhi hajat hidup rakyat kecil dari sejak membuka mata sampai beranjak ke tempat tidur. Gerai-gerai waralaba menghajar kampung-kampung, menggusur para pedagang kecil, mematikan warung-warung. Gempuran kapitalisme ini tidak kalah berbahayanya dengan gempuran radikalisme agama yang menjerat banyak anak muda di kota-kota.

Jihad muslim moderat bukan hanya melawan fundamentalisme agama, tetapi juga fundamentalisme pasar. Kata Richard Falk, fundamentalisme agama adalah anak kandung fundamentalisme pasar yang menjelma dalam globalisasi yang menimbulkan frustrasi bagi banyak orang miskin. Menyuarakan isu toleransi agama tanpa menyoal isu ketimpangan sama dengan memboyong demokrasi tanpa koreksi terhadap anasir borjuis yang melekat dalam sejarah kelahirannya.

Karena itu, perlu disampaikan esensi pengusungan Islam Nusantara: musuh kita bukan hanya fundamentalisme agama, tetapi juga fundamentalisme pasar yang menggusur ruang ekonomi rakyat kecil. Mengagungkan ide persamaan tanpa menyoal isu ketimpangan seumpama wudhu tanpa mengganti pakaian. Wudhunya sah, tetapi salatnya batal karena pakaiannya najis!

Penulis adalah Sekjen Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU).

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Halaqoh, Nahdlatul Ulama RMI NU Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Dua Barang yang Selalu Dihadiahkan Nyai Sofiyah Umar Solo untuk Tamunya

Almaghfurlaha Simbah Nyai Hj Sofiyah Umar (wafat 6 Muharram 1430) asal Solo adalah sosok yang terkenal dermawan. Nyai yang juga istri dari Pengasuh Pesantren Al Muayyad Mangkuyudan Solo, KH Umar bin Abdul Manan ini juga terkenal suka memuliakan tamunya dengan memberi hadiah menjelang kepulangan sang tamu.

Biasanya, seseorang memberikan hadiah sesuai dengan selera penerima. Apa pun bentuk hadiah tersebut, yang terpenting bagi orang awam adalah sesuatu yang memang disukai oleh sang penerima hadiah. Dan, kebanyakan dari mereka tidak mempertimbangkan tingkat kemanfaatan dari barang tersebut. Ibaratnya, asal orang itu suka, maka ia berikan barang tersebut sebagai hadiah.

Namun, lain halnya dengan Nyai Sofiyah atau akrab disapa santri-santrinya dengan panggilan Mbah Ti. 

Dua Barang yang Selalu Dihadiahkan Nyai Sofiyah Umar Solo untuk Tamunya (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Barang yang Selalu Dihadiahkan Nyai Sofiyah Umar Solo untuk Tamunya (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Barang yang Selalu Dihadiahkan Nyai Sofiyah Umar Solo untuk Tamunya

“Mbah Ti itu, mempunyai ciri khas ketika memberikan hadiah,  (alternatif pilihannya) hanya dua macam barang,” kenang Ustadz Agus Muhammad Hamim yang merupakan suami dari cucu Mbah Ti dari jalur keturunan Ibu Nyai Hj Maimunah Baidlowie, Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo.

Lalu, apakah dua barang tersebut?

RMI NU Tegal

“Kalau tidak sarung, ya mukena,” susul Gus Hamim kemudian.

Saat ditanya mengapa memilih dua barang tersebut, Mbah Ti menjawab, “Barang ini kan gunanya untuk beribadah. Nah, semoga saja saya kecipratan pahala sebabnya.”

Subhanallah, begitu telitinya Nyai Sofiyah ini. Ia bukannya mengabaikan selera penerima hadiah. Namun, darinya dapat dipetik sebuah hikmah bahwa kemanfaatan barang hadiah itu lebih utama, untuk dijadikan barometer dalam memilih hadiah. (Ulin Nuha Karim)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Tokoh, Halaqoh, Nusantara RMI NU Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan

Oleh Nasrulloh Afandi

Pasca Ramadhan hanya ada dua pilihan; beruntung atau buntung (dalam ketakwaan). Faktanya bermacam-macam kondisi ketakwaan orang-orang beriman selepas mengarungi “lautan mutiara” bernama bulan Ramadhan.

Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan

Esensi Ramadhan adalah momentum spesial “karantina suci” satu bulan penuh, menggembleng jiwa-jiwa yang beriman untuk menjadi lebih unggul, dan prestasi puncaknya yaitu menggapai “honoris causa” suci dari Allah swt berupa; takwa.

RMI NU Tegal

Identiknya suatu karantina, berkualitas atau buruknya hasil tergantung pada kemauan dan keseriusan pribadi peserta. Pasca karantina bernama Ramadhan, tentu berbeda-beda hasilnya, dari masing-masing “peserta”, ada yang mendapatkan hasil maksimal, ada yang sederhana.



Untuk Apa Takwa Setelah Ramadhan?


RMI NU Tegal

Ramadhan bukan momentum kesalehan musiman, kemudian “tidak perlu” saleh di bulan-bulan lainnya, dan hanya akan (kembali) beramal saleh pada Ramadhan tahun berikutnya.

Syekh Doktor Ali Jum’ah, mufti besar Mesir beropini: "Orang yang telah berada pada posisi benar-benar takwa, ia otomatis mendapatkan banyak keuntungan, bukan hanya dalam konteks beragama (ukhrawi) tetapi juga mendapatkan banyak kemudahan dan kesuksesan dalam hal duniawi."

Hal terpenting untuk diperhatikan dan dievaluasi adalah, apa yang dihasilkan setelah proses “karantina” selama satu bulan Ramadhan itu selesai? Bukan hanya dominan berlebihan gegap gempita, dalam aktivitas fisik saat “karantina” belaka, tanpa penghayatan mendalam, agar karantina (Ramadhan) yang dibayar mahal dengan “ongkos” haus dan dahaga selama sebulan itu, tidak sia-sia.

Idul Fitri adalah awal kembali suci, setelah segala noda, dosa, dan sifat-sifat tak terpuji dibersihkan dalam ruang karantina bernama Bulan Ramadhan. Oleh karenanya, sudah semestinya manusia menjaga kesucian tersebut setelah Ramadhan usai, ditandai dengan hari Raya Idul fitri, sampai dengan datangnya Ramadhan berikutnya.

Diharapkan setelah Ramadhan, takwa itu kemudian melekat pada kepribadian orang-orang beriman, yang secara estafet akan melahirkan hal-hal positif dan unsur-unsur kemanfaatan dalam kehidupan si muttaqin (orang bertakwa). Dan di konteks inilah titik temu puncak dari ibadah puasa Ramadhan dengan ibadah-ibadah lain seperti haji, zakat dan berbagai ibadah lainnya.

Ramadhan ladang mutiara bagi yang memfungsikan momentum itu sebaik-baiknya. Namun Ia bukan apa-apa bagi orang yang salah jalan dalam menelusurinya.

Sungguh kerugian besar Jika Pasca Karantina tidak menghasilkan hal-hal positif yang terkait dengan ketakwaan setelah Ramadhan berlalu. Kerugian tersebut bukan hanya karena dibayar dengan jerih payah haus-dahaga satu bulan penuh. Tetapi yang lebih harus ditangis-sesali adalah lewatnya peluang “Tambang mutiara” setahun sekali yang bernama bulan Ramadhan itu.

Ibarat kendaraan mewah, pasca Ramadhan, manusia adalah habis melakukan perbaikan total, atau “turun mesin”, sudah semestinya harus dijaga, agar jangan kembali rusak hanya dalam hitungan detik, setelah keluar dari “bengkel spesialis” bernama Ramadhan.

Dalam konteks menjaga kesucian Ramadhan setelah Idul Fitri. Waktu saya masih remaja, nasihat orang tua saya, dengan bahasa sederhana: “Janganlah panas setahun, sirna hanya diguyur hujan sesaat” . Maksudnya, janganlah kesucian pribadi muslim yang sudah dibersihkan, susah payah (selama bulan Ramadhan) itu kembali dikotori dengan kemaksiatan dalam sekejap, setelah Ramadhan berlalu.

Qaidah Fiqih pun berujar: “al-umuru bi maqashidiha” (status suatu amal perbuatan itu terganggun ikhlas dan tidaknya niat). Jadi, bila kemarin-kemarin saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan tanpa menyertakan (niat) baik untuk meningkatkan religiusitas selepas Ramadhan, untuk apa jerih payah berpuasa?

Melacak Kontrol Takwa

Dalam tinjauan Maqashid Syariah, bukan hanya ibadah puasa Ramadhan, namun semua amal ibadah adalah tangga untuk menggapai posisi tertinggi dalam beragama; bernama takwa.

Selain Ramadhan yang hanya setahun sekali. Jika diselami, sebenarnya setiap orang beriman, estafet diberi “pengingat” dipandu untuk selalu ikhlas dalam beribadah, harus berniat murni hanya untuk mengharap ridha Allah swt, sehari semalam dalam salat lima kali. Yaitu di rakaat awal, sebelum membaca al-Fatihah, ketika membaca doa iftitah: “Inna shalatî wa nusukî wa mahyâyâ wa mamâtî lillâhi rabil a’lamin.” Artinya: “Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS Al-An’am: 162)

Di konteks ini, juga ada momentum mingguan. Hari raya Islam setiap minggu, yaitu setiap hari Jumat, orang-orang beriman dianjurkan melakukan introspeksi diri (muhasabah nafs) atas amal-perbuatannya selama satu minggu, banyak mana antara amal buruk dan amal baiknnya dalam seminggu itu? Untuk kemudian meningkatkan ketaatan beribadah, menggapai takwa.

Karena itulah, Sang khatib Jumat pun disyaratkan dalam berkutbah untuk berpesan kepada para jamaahnya; untuk selalu bertakwa kepada Allah swt. Bahkan tidak syah khutbahnya jika meninggalkan pesan untuk bertakwa.

Inilah dua momentum introspeksi diri, harian dan mingguan, untuk menjaga kontinuitas dan kualitas ketakwaan, namun sering terabaikan oleh Muslim yang taat sekalipun.

Mengapa Takwa Menghilang Pasca Ramadhan?

Takwa adalah “bahan pokok” untuk menciptakan peradaban Islami manusia. Karena dengan takwa otomatis menjadikan pribadi manusia terhormat. Mencampakkan hal-hal yang kurang patut menurut agama dan bertentangan dengan norma sosial berbangsa. Dengan kata lain, menjauhkan diri dari fenomena-fenomena jahiliyah (egois, rakus kekuasaan, sombong, gila hormat, haus menumpuk harta dan sejenisnya)

Dalam tinjauan maqashid syariah, jika selepas Ramadhan, tidak tertanamnya ketakwaan pada kepribadian manusia, dan kembali bermaksiat, berarti Ia tidak mendapatkan target utama kewajiban beribadah puasa(Takwa) Itu.

Kemana dan dimanakah hasil puasa Ramadhan yang bernama takwa itu “lari” atau “bersembunyi”? Jika mulai komunitas “akar bumi” sampai “atap langit” pasca Ramadhan, kerusakan akhlak kian kembali menjadi-jadi, korup (Para pemegang jabatan) dan pergaulan bebas (generasi muda) adalah fenomena yang paling mencolok di pentas publik. Bukankah mereka beragama (Islam) dan fisiknya pun berpuasa setiap Ramadhan?

Merespon fenomena itu, publik Muslim religius tidak perlu heran. Sungguh banyak orang yang berpuasa Ramadhan, tetapi mereka masih belum termasuk golongan orang bertakwa. Karena landasan ibadah cuman “fisik” atau “kulit” belaka. Jadi wajar saja ketika Ramadhan usai, tidak “Saleh” atau tidak “Takwa” lagi.

Dalam tinjauan Ilmu Balaghoh, gegap gempita “seremonial” ibadah Ramadhan di ruang publik Indonesia ini (masih) sebatas pendahuluan (muqaddimah) dan belum menghasilkan kesimpulan (natijah), yaitu kondisi takwa. Perlu adanya introspeksi dari masing-masing individu yang melaksanakan puasa dan berbagai ibadah di bulan Ramadhan, untuk bisa menggapai natijah (hasil ibadah) yaitu takwa.

Jika Nabi saw bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.”(HR Turmudzi). Fakta pun berbicara, berapa banyak selepas Ramadhan yang (kembali) korupsi? Berapa banyak wanita saat Ramadhan mendadak berbusana Islami—Pun dengan harga sangat mahal—tetapi (kembali) berpakaian mini selepas Idul Fitri? Dan berbagai fenomena lainnya yang (kembali) menabrak rambu-rambu Ilahi setelah Idul Fitri?

Waspadalah! Itulah fenomena skandal berpuasa tetapi masih belum berkualitas (takwanya) pasca Idul Fitri.



Penulis adalah Kandidat Doktor Maqashid Syariah, Universitas al-Qurawiyin Maroko. Wakil Ketua Yayasan Pesantren Asy-Syafi’iyyah, Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu. ?



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Halaqoh RMI NU Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Kobarkan Semangat Juang, GP Ansor Genuk Gelar Donoh Darah

Semarang, RMI NU Tegal. Di tengah konferensi ke-10 yang bertema “Bangkitkan Semangat Juang Pemuda Untuk Keutuhan NKRI” di kampus MI Miftahush Shibyan Genuksari, GP Ansor Genuk Semarang menyelenggarakan kegiatan donor darah. Melibatkan kader IPNU-IPPNU, aksi donor ini menyedok banyak partisipasi masyarakat, Ahad (8/6).

Kobarkan Semangat Juang, GP Ansor Genuk  Gelar Donoh Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kobarkan Semangat Juang, GP Ansor Genuk Gelar Donoh Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kobarkan Semangat Juang, GP Ansor Genuk Gelar Donoh Darah

Ketua panita koferensi anak cabang GP Ansor Genuk Muslimin mengatakan, tema itu sengaja diangkat. Sebab, saat ini kita membutuhkan semangat kepemudaan mengingat pemuda penerus bangsa ini.

Senada dengan Muslimin, Ketua GP Ansor Semarang Saichu Amrin menambahkan, “Kita tidak mengkontrak negara ini. Kita adalah investor bagi bangsa ini. Maka dari itu, dengan semangat kepemudaan, kita harus memiliki kompetensi untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik.”

RMI NU Tegal

Amrin mengingatkan kader Ansor Genuk akan pilpres dalam waktu dekat. Para pemuda, menurutnya, dituntut untuk berperan dalam menyukseskan pilpres.

RMI NU Tegal

“Sebagai Gerakan Pemuda, kita selayaknya memilih dari golongan pemuda dan tentu pemimpin itu harus memiliki darah Nahdliyin,” tutur Ketua GP Ansor Genuk Muhammad Sodri.

Pada pemilu legislatif kemarin, Sodri terpilih menjadi anggota dewan Kota Semarang.

“Dengan semangat kepemudaan, saatnya kita bangkit menuju bangsa yang lebih bermartabat dan berdikari. Kita harus mewarnai bangsa ini sebagai bangsa yang hebat. Dari Ansor untuk Indonesia,” lanjutnya. (Lukni Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Halaqoh, Ubudiyah, Kajian RMI NU Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Kiat Kiai Umar Hadapi Santri Nakal

Meski berada di pesantren, sebuah lembaga yang mengajarkan akhlak serta ilmu agama, tetapi ada saja label “santri nakal” yang? dilekatkan pada beberapa santri.

Kenakalannya pun bertaraf, dari hanya sekadar ghasab (meminjam tanpa izin) sandal teman, membolos saat jam ngaji, sampai melakukan kenakalan lain yang dapat mengakibatkan si santri dapat sanksi berupa kepala plontos atau bahkan dikeluarkan.

Tak terkecuali dengan Kiai Umar (Allah yarham), salah seorang kiai terkemuka di Solo, Jawa Tengah. Ia memiliki beberapa “santri nakal”. Untuk memantau perkembangan kenakalannya, maka sang kiai menugaskan seorang pengurus pondok untuk mencatat catatan kenakalannya.

Semakin lama, catatan yang dikumpulkan pengurus sudah lumayan banyak. Bahkan terkadang, saat memergoki langsung kenakalan santri, ia ingin bertindak langsung. Namun, untungnya ia masih ingat dawuh sang kiai untuk mencatatnya secara diam-diam.

Kiat Kiai Umar Hadapi Santri Nakal (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiat Kiai Umar Hadapi Santri Nakal (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiat Kiai Umar Hadapi Santri Nakal

Hingga, suatu hari Kiai Umar memanggil pengurus tersebut. Dalam hati, betapa girangnya sang pengurus membayangkan hasil pekerjaannya selama ini, bakal menjadi dasar pertimbangan Kiai Umar untuk menghukum para santri nakal.

Namun, beberapa hari setelah penyerahan “daftar hitam” tersebut, para santri nakal tak kunjung jua dipanggil atau bahkan dihukum. Karena penasaran, pada sebuah kesempatan, ia kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada sang kiai.

RMI NU Tegal

Pangapunten Mbah Kiai, para santri yang kemarin sudah dicatat kenapa tidak diberi hukuman?” tanya dia dengan sedikit terbata-bata dan suara yang lirih.

“Sudah aku tindaklanjuti kok,” jawab kiai, singkat.

Santri hanya diam. Masih bingung dengan jawaban sang kiai.

“Daftar itu bukan untuk menghukum mereka. Justru, para santri nakal itu, tiap malam aku doakan mereka, agar hilang kenakalannya dan mereka dapat menjadi orang yang bermanfaat untuk lingkungannya,” lanjut Kiai Umar. (Ajie Najmuddin)

RMI NU Tegal

?

Dikembangkan dari ceramah KH Mustofa Bisri pada saat mengisi ceramah di acara haul Kiai Umar, Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta, beberapa tahun lalu.

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Meme Islam, Halaqoh RMI NU Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Haul Gus Dur, PMII Bandung Deklarasi Damai Mahasiswa Lintas Agama

Bandung, RMI NU Tegal. Dalam memperingati Haul ke-7 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Pengurus Cabang PMII Kota Bandung menggelar Deklarasi Damai bersama organisasi mahasiswa dan lintas agama yang ada di Bandung, Rabu (28/12) siang, di depan gedung PCNU kota Bandung.

Turut hadir dalam deklarasi ini dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Ahmadiyya Muslims Students Association (AMSA).

Haul Gus Dur, PMII Bandung Deklarasi Damai Mahasiswa Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Gus Dur, PMII Bandung Deklarasi Damai Mahasiswa Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Gus Dur, PMII Bandung Deklarasi Damai Mahasiswa Lintas Agama

Menurut Ketua PC PMII kota Bandung Ibnu Mahbub, salah satu yang terpenting dalam peringatan haul Gus Dur adalah spirit dari apa yang pernah dilakukan oleh Gus Dur sebagai seorang guru bangsa. Untuk itu, patut dicontoh para pemuda bagaimana menuai perdamaian, sertabagaimana memperkuat berbangsa dan bernegara.

“Sehingga kita sebagai generasi muda, mahasiswa, itu harus meneruskan jejak langkah apa yang dilakukan oleh Gus Dur, terutama bagaimana Gus Dur menjaga dan merawat kebhinnekaan,” ujarnya pada acara yang diisi pula dengan Orasi Kebangsaan dari tokoh lintas agama di kota Bandung.

Gus Dur melakukan perjuangan, lanjut Ibnu, untuk membumikan toleransi di Indonesia, bisa dilakukan hari ini khususnya bagi generasi muda. Oleh sebab itu, PMII hari ini masih meyakini konsisten menjaga NKRI, hal ini dilandasi dengan manhajul fikr (pola berpikir) yakni Aswaja yang di dalam terdapat prinsip-prinsip dasar, tasamuh, tawassuth, ta’adul, dan tawazun.

RMI NU Tegal

“Itu adalah prinsip-prinsip yang harus dilakukan ditataran kehidupan kita. Baik di masyarakat maupun relasa kita dengan lainnya,” tegasnya dihadapan puluhan mahasiswa dan badan otomom NU yang hadir juga dalam kesempatan itu.

“Prinsip itulah sampai detik ini menjaga ? kita untuk tetap konsisten merawat kebhinnekaan dan menjaga keutuhan NKRI. Dalam konteks keagamaan sangat beragam, oleh karena itu bagaimana kita bisa menerapkan toleransi secara universal, saling menghormati dan saling mendukung,” sambung Ibnu.

RMI NU Tegal

Di antara poin penting dalam yang dideklarasikan adalah selalu menjaga nilai-nilai keberagamaan sesuai budaya lokal yang ada di kota Bandung, serta mendorong Pemerintah kota Bandung untuk menjami kedamaian dan kondusifitas antarumat beragama di kota Bandung. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Halaqoh, Kajian, Nahdlatul RMI NU Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Ansor Sukoharjo Panen 2 Ton Nila, Kasatkornas Suntik Modal

Sukoharjo, RMI NU Tegal. PAC Ansor Bendosari, Sukoharjo, Jawa Tengah yang membudidayakan ikan nila dengan keramba di Waduk Mulur menghasilkan 2 ton saat panen perdana. Harakah nyata kemandirian ekonomi tersebut membuat Kepala Satkornas Banser H Alfa Isnaeni tertarik dan menyuntikan modal tambahan berupa dua petak keramba senilai Rp5 juta.

Kepala Asrendiklat Satkornas Banser Nuril Huda, di Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (3/8) menjelaskan, kemandirian ekonomi atau mengembangkan kewirausahaan tertuang dalam Peraturan Dasar Peraturan Rumah Tanggah (PD-PRT) Gerakan Pemuda Ansor.

Ansor Sukoharjo Panen 2 Ton Nila, Kasatkornas Suntik Modal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Sukoharjo Panen 2 Ton Nila, Kasatkornas Suntik Modal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Sukoharjo Panen 2 Ton Nila, Kasatkornas Suntik Modal

Ia lalu menambahkan, setelah ikut panen raya perdana bersama jajaran PC GP Ansor Sukoharjo pada Rabu 2 Agustus 2017 yang dikelola Kelompok Usaha Bersama (KUB) PAC Ansor Bendosari, H Alfa mendorong kader untuk semakin menggiatkan kemandirian ekonomi.

"Bantuan dua petak keramba tersebut diberikan Kasatkornas kepada Satkorcab Banser Sukoharjo sebagai penegasan dukungan terhadap gerakan kemandirian kader," ujar Nuril.

KUB Ansor Bendosari memiliki 5 petak keramba, satu keramba rata-rata menghasilkan 4 kuintal setiap kali panen. Adapun harga per kilogram ikan nila pada kisaran Rp22 ribu.?

RMI NU Tegal

Menggunakan sampan dan dayung tangan, H Alfa bersama kader Ansor dan Banser Sukoharjo menuju ke tengah Waduk Mulur tempat keramba berada kemudian melakukan pemanenan secara simbolis.

RMI NU Tegal

? Usaha lain dikembangkan Pemuda Ansor di Sukoharjo adalah ternak kambing dengan sistem modal bergulir kepada anggota.

"Bantuan tersebut untuk memotivasi kader Ansor dan Banser di Indonesia untuk berani melakukan gerakan wirausaha," demikian Nuril Huda. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Halaqoh, Ahlussunnah RMI NU Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Momentum Lahirkan Format Hubungan Ideal PMII-NU

Surabaya, RMI NU Tegal. Kongres PMII XVIII yang tengah berlangsung di Jambi dinilai sebagai momentum yang tepat bagi seluruh kader PMII untuk membicarakan secara utuh ihwal posisi ideal hubungan PMII dan NU.

“Saya berharap besar, dari kongres kali ini akan lahir keputusan bersejarah yang final dan mengikat terkait pola hubungan PMII dan NU. Sehingga tidak lagi muncul perdebatan serupa di kemudian hari,” ujar alumni PMII Surabaya, Syukron Dosi, Senin (2/5).

Momentum Lahirkan Format Hubungan Ideal PMII-NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Momentum Lahirkan Format Hubungan Ideal PMII-NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Momentum Lahirkan Format Hubungan Ideal PMII-NU

Ia menegaskan, ajakan PBNU agar PMII kembali ke pangkuan NU dengan kembali menjadi Badan Otonom NU, perlu disikapi secara arif. Menurutnya, PMII adalah bagian dari ‘Pandawa NU’ bersama Ansor, Muslimat, Fatayat, dan IPNU/IPPNU.

RMI NU Tegal

PMII yang lahir 17 April 1960 di Surabaya adalah bagian dari NU. PMII lahir dari rahim NU. Ibarat keluarga, hubungan NU-PMII seperti hubungan orangtua dan anak.

“Saya sepakat soal kemandirian organisasi. Memilih pergaulan organisasi adalah area independen bagi PMII. Tapi soal keterikatan organisatoris dengan NU, ini perlu dimusyawarahkan kembali,” tandasnya.

RMI NU Tegal

Independensi PMII yang lahir lewat deklarasi Murnajati pada tahun 1972 di Malang adalah pilihan sejarah di saat NU masih menjadi partai politik. Sejak 16 tahun pasca reformasi, PMII sama sekali tidak pernah menghadirkan pernyataan sikap yang bersejarah.

“Saya kira sangat kontekstual untuk kembali membicarakan secara jernih soal pola hubungan ideal antara PMII dan NU. Tentu perlu pembacaan bersama di kongres,” tegasnya.

Di momentum Kongres PMII di Jambi kali ini, Syukron menawarkan dua opsi yang perlu direfleksikan bersama oleh kader PMII. Pertama, PMII tetap independen, tetapi PMII tidak boleh menutup mata karena PMII butuh sparing partner dalam mencetak kader NU di kampus.

Terbukti, selama ini PMII masih mengalami kesulitan merebut kompetisi di kampus umum. Karena itu, PMII harus ikut terlibat aktif membantu NU dalam pembentukan ‘anak baru’ yakni Banom untuk Mahasiswa NU, baik IMANU, KMNU, Permanu, maupun pilihan nama lainnya.

“PMII harus turut andil dalam perumusan itu, karena itu adalah panggilan sejarah,” tandasnya.

Kedua, PMII back to Khittah. Sesuai konteks saat ini serta atas dasar tuntutan dan tuntunan zaman PMII memilih kembali ke pangkuan NU. Tentu dengan berbagai catatan, PMII tetap diberi kewenangan strategis terkait sikap serta pola kaderisasi, dan lain-lain.

Dua opsi tersebut harus diurai kembali secara jernih dan utuh, sehingga melalui forum tertinggi ini lahir sebuah manifesto yang cukup bersejarah soal hubungan PMII-NU.

“Ini momentum yang tepat untuk melahirkan sebuah manifesto. Tinta sejarah hari ini ada di tangan kader PMII soal posisi PMII yang tepat,” pungkasnya. (Abdul Hady JM/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Halaqoh RMI NU Tegal

Senin, 27 November 2017

IPNU-IPPNU Jateng Tolak Gerakan Ekstrem

Semarang, RMI NU Tegal. Ratusan pelajar NU se-Jawa Tengah menyatakan sikap penolakannya terhadap gerakan ekstrem asal luar negeri maupun dalam negeri yang mengatasnamakan agama. Mereka secara bersama mendeklarasikan sikap kebangsaannya di gedung PCNU Kota Semarang, Jumat (15/8).

Tampak hadir dalam deklarasi ini pelajar NU perwakilan Pekalongan, Batang, Brebes, Purbalingga, Semarang, Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Purworejo, Temanggung, Sragen, kota Semarang, dan pelajar NU di sekitar Semarang.

IPNU-IPPNU Jateng Tolak Gerakan Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Jateng Tolak Gerakan Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Jateng Tolak Gerakan Ekstrem

Pengurus IPNU-IPPNU Jateng merasa perlu untuk merespon gerakan radikal yang belakangan ramai di media. Mereka menggelar sarasehan budaya bertema “Menangkal Radikal dengan Menumbuhkan Semangat Kebangsaan”.

RMI NU Tegal

Hadir sebagai narasumber Habib Anis Sholeh Anis Ba’asyin, Ketua Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme Jawa Tengah H Najahan Musyafa’, Reltor Unwahasy Nor Ahmad, dan Ketua keluarga alumni Unwahasy Wahid Hasyim Ahmad Sururi.

Ketua IPNU Jateng Amir Musthofa Zuhdi mengatakan, “Salah satu target sasaran dari ideologi atau gerakan ISIS ini adalah generasi muda.”

RMI NU Tegal

Sementara Habib Anis memaparkan bagaimana sebenarnya khalifatullah di bumi ini. Dalam sarasehan ini, Najahan memaparkan bagaimana keadaan Indonesia secara geografis dan geopolitik mengapa ideologi seperti ISIS bisa masuk ke NKRI. (Mukhamad Zulfa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kajian, Hadits, Halaqoh RMI NU Tegal

Kamis, 23 November 2017

Ini Tiga Pesan Gus Ali Untuk Pengurus Baru MWCNU Gempol

Pasuruan, RMI NU Tegal - Istighotsah akbar digelar dalam rangka pelantikan pengurus harian Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Ahad (30/7) pagi. Sekitar 3000 jamaah sudah datang sejak pagi hari dan memenuhi area istighotsah.

Acara ini dimulai dengan penampilan pencak silat dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pagar Nusa serta penampilan paduan suara dari SMK Ar-Rahma. Selain itu, Stikes Ar-Rahma juga turut berpartisipasi dengan membuka layanan tes kesehatan gratis bagi warga yang hadir dalam acara istighotsah tersebut. Ikatan Seni Hadrah Indonesia Kecamatan Gempol juga ikut berpartisipasi dalam pelantikan ini.

Ini Tiga Pesan Gus Ali Untuk Pengurus Baru MWCNU Gempol (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Tiga Pesan Gus Ali Untuk Pengurus Baru MWCNU Gempol (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Tiga Pesan Gus Ali Untuk Pengurus Baru MWCNU Gempol

Ketua MWCNU Gempol M Nurul Huda mengatakan, "Saya berterima kasih kepada seluruh warga dan banom-banom NU di Kecamatan Gempol mulai dari Muslimat, Fatayat, GP Ansor, IPNU-IPPNU, Pagar Nusa, Ishari. Saya selaku Ketua MWCNU Gempol mengharapkan agar semakin kompak ke depannya."

RMI NU Tegal

Sementara Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur Gus Ali Mashuri menyampaikan arahannya. Menurutnya, ada tiga poin yang harus menjadi acuan dalam melakukan program kerja nantinya. Pertama, NU harus bisa mengambil alih pasar di sektor ekonomi, pendidikan, serta kesehatan.

“Saya akan membantu MWCNU Gempol nantinya untuk membuat program kerja agar NU di Gempol semakin maju," kata Gus Ali.

Sementara salah seorang kader IPNU di Kecamatan Gempol Aditya Mardani mengatakan, "IPNU dan IPPNU akan kita massifkan koordinasi dengan NU untuk kemajuan NU dan IPNU atau IPPNU di Gempol."

RMI NU Tegal

Seluruh Pengurus MWCNU Gempol sepakat memperkuat LP Maarif NU sebagai bagian dari NU guna berkontribusi membangun pendidikan berkarakter di Kecamatan Gempol khususnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Halaqoh, Olahraga RMI NU Tegal

Jumat, 17 November 2017

Kang Said: Capres Diterima Sebagai Tamu

Jakarta, RMI NU Tegal. Menjelang pemilihan presiden, sejumlah politikus bertandang ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kehadiran mereka di jalan Kramat Raya nomor 164 itu tidak bermakna permohonan dukungan politik tertentu. Mereka diterima jajaran pengurus NU seperti tamu pada umumnya.

Kang Said: Capres Diterima Sebagai Tamu (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Capres Diterima Sebagai Tamu (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Capres Diterima Sebagai Tamu

Demikian dikatakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Said Siroj sebelum rapat jajaran Rais Syuriyah dan Mustasyar PBNU di lantai lima jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Rabu (16/4) petang.

“Semua kita terima. Mereka itu tamu. Jadi siapa pun datang ke PBNU atau datang ke rumah, kita sambut terbuka,” kata Kang Said.

RMI NU Tegal

Ketika ditanya siapa lagi selain Jokowi dan Prabowo yang akan datang ke PBNU, Kang Said mengatakan tidak mengerti. “Baru Jokowi dan Prabowo saja,” tambah Kang Said.

RMI NU Tegal

“Kalau sekadar silaturahmi, kita terbuka. PBNU belum mengambil putusan dan sikap perihal capres. PBNU tidak mengarah ? ke siapa dan ke mana,” tandas Kang Said yang kemudian pamit untuk membuka rapat dengan jajaran Syuriyah dan Mustasyar yang juga dihadiri Pejabat Pelaksana Rais Aam PBNU KH A Musthofa Bisri Musthofa. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Cerita, Halaqoh RMI NU Tegal

Kamis, 16 November 2017

Wapres JK dan Rais Aam PBNU Tutup Kongres Muslimat NU Hari Ini

Jakarta, RMI NU Tegal. Perhelatan Kongres Ke-17 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) memasuki tahap akhir. Setelah menyatakan Hj Khofifah Indar Parawansa terpilih kembali secara aklamasi, kongres akan ditutup oleh Wapres RI Jusuf Kalla dan Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Sabtu (26/11) pukul 14.00 WIB di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.

Wapres JK dan Rais Aam PBNU Tutup Kongres Muslimat NU Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres JK dan Rais Aam PBNU Tutup Kongres Muslimat NU Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres JK dan Rais Aam PBNU Tutup Kongres Muslimat NU Hari Ini

Kehadiran Wapres JK telah dikonfirmasi oleh Ketua OC Kongres Ke-17 Muslimat NU Hj Mursyidah Tahir kepada RMI NU Tegal, Sabtu (26/11) di arena kongres.?

“Wapres JK telah mengonfimrasi untuk menutup kongres hari ini,” tegas Mursyidah.

Kongres yang berlangsung sejak 23 November 2016 ini sebelumnya dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo dan Ketua Umum PBNU KH said Aqil Siroj, Kamis (24/11).?

Pesta demokrasi lima tahunan ibu-ibu Muslimat NU ini juga menghadirkan beberapa Menteri Kabinet Kerja, Panglima TNI, Kapolri, dan para ulama untuk mengisi materi kongres.

RMI NU Tegal

Berbagai isu strategis dan penting terkait dengan problem-problem kebangsaan, sosial, dan agama dibahas sebagai bahan Muslimat NU untuk merancang berbagai program.

Dalam gelaran kongres kali ini, juga diluncurkan buku berjudul “70 Tahun Muslimat NU: Kiprah dan Karya Perempuan Indonesia” yang ditulis oleh Dr Hj Sri Mulyati, salah satu jajaran Ketua PP Muslimat NU.

Kongres ke-17 Muslimat NU ini juga dimanfaatkan untuk menegaskan diri dalam upaya kerja-kerja nyata dan mengabdikan diri untuk bangsa di bidang pendidikan, ekonomi, agama, dakwah, kesehatan, dan peran perempuan Indonesia.?

RMI NU Tegal

Dalam Kongres Ke-17 Muslimat NU ini, Khofifah dipilih secara aklamasi oleh 34 pengurus wilayah, 525 pengurus cabang, dan 4 pengurus cabang istimewa (Hongkong, Arab Saudi, Malaysia, dan Sudan) yang memiliki hak suara dalam kongres. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Lomba, Halaqoh RMI NU Tegal

Kamis, 09 November 2017

Pendeta Danang Kupas Gus Dur dalam Keindonesiaan

Jepara, RMI NU Tegal. Pendeta Gereja Injili Tanah Jawa (GITJ) Jepara, Danang Kristiawan didaulat untuk menjadi pembicara dalam “Ngaji Gus Dur; Tadarus Kemanusiaan, Budaya dan Islam Indonesia” di pesantren Darus aadah desa Bugel kecamatan Kedung kabupaten Jepara, Kamis (9/7) lalu.

Pendeta Danang Kupas Gus Dur dalam Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendeta Danang Kupas Gus Dur dalam Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendeta Danang Kupas Gus Dur dalam Keindonesiaan

Pada kesempatan itu ia diminta panitia kegiatan kerja sama Lakpesdam NU Jepara, Gusdurian Jepara, dan Fakultas Syariah dan Hukum Unisnu Jepara untuk berbicara Gus Dur dan keindonesiaan.

Danang membidik Gus Dur dari sisi demokrasi dengan mengutip 3 referensi, yaitu Islamku, Islam Anda dan Islam Kita (buku), Islam, Pluralism and Democracy (artikel) serta Islam and Indonesia; Religio Political Thought of Abdurrahman Wahid.

RMI NU Tegal

Demokrasi bagi Gus Dur merupakan ruang di mana setiap kelompok dapat berkontribusi untuk kebaikan bersama. Demokrasi memberi kesempatan setiap kelompok untuk menyelesaikan permasalahan secara dewasa.

“Demokrasi dengan demikian tidak sekadar suara terbanyak tetapi adanya kesempatan setiap kelompok bahkan yang kecil dan berbeda sekalipun untuk menyampaikan pendapat dan keinginannya.

RMI NU Tegal

Sehingga dalam berdemokrasi memiliki dua tantangan, yakni sikap yang sangat diperlukan dalam berdemokrasi. Kesediaan untuk peduli kepada kepentingan yang lain dan kesediaan untuk memberi dan menerima terhadap pihak lain. Ini merupakan sikap dan kerendahan hati.

“Jadi nilai dalam demokrasi menurut pembacaan saya terhadap Gus Dur adalah diperlukannya sikap kepedulian kepada yang lain yang berbeda dan kerendahan hati terhadap yang lain. Menurut saya inilah yang mewarnai pemikiran politik keindonesiaan Gus Dur,” terangnya.

Pembina Komite Sekolah Minggu GITJ Jepara ini menambahkan demokrasi tidak akan bisa hidup hanya secara formal saja misal pemilu dan sebagainya. Demokrasi perlu untuk dihidupi masyarakat dalam kehidupannya.

Berikutnya soal agama dan negara sebagai mutual supportive, saling mendukung. Jadi bukan negara agama dan negara sekuler. Dalam hubungan yang saling mendukung itu masing-masing punya fungsi yang beda. Agama sebagai landasan moral dan etis. Sedangkan negara melindungi dan memfasilitasi agama-agama.

Sehingga dalam konteks Indonesia yang plural, Pancasila adalah landasan terbaik. Karena merupakan kompromi dari kelompok yang ada. Pancasila bersumber juga pada nilai-nilai agama.?

“Jadi agama dalam konteks negara berperan dalam memberikan esensinya, nilai-nilainya, bukan bentuk atau sistemnya. Karenanya Gus Dur pernah berkata akan mempertahankan Pancasila sepenuh hidup,” imbuh Danang.

Dalam kesempatan ini hadir juga pembicara lain. Kholis Hauqola memaparkan Biografi Gus Dur dan Sholahuddin bicara tentang Gus Dur dan Pesantren. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Halaqoh RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock