Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Untuk Jadi Pengusaha, Uang Bukan Segalanya

Jombang, RMI NU Tegal. Umumnya orang menjadikan uang sebagai faktor utama ketika akan memulai usaha. Bila tidak ada modal berupa uang tunai, maka kesempatan berwiraswasta dianggap tidak mungkin dijalankan. Padahal uang bukanlah satu-satunya modal untuk berusaha, yang terpenting adalah kemauan kuat untuk berusaha.

Untuk Jadi Pengusaha, Uang Bukan Segalanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Jadi Pengusaha, Uang Bukan Segalanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Jadi Pengusaha, Uang Bukan Segalanya

Inilah pesan yang disampaikan H Muhammad Yasin, Ketua Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Wilayah Jawa Timur saat mengadakan silaturrahim ke Jombang, Senin (7/1)..

Gus Yasin -sapaan akrabnya- justru sangat mengeapresiasi beberapa santri yang berkeinginan kuat untuk menjadi pengusaha. "Modal utamanya adalah tekad dan jaringan," katanya. Tekad adalah merupakan keinginan kuat dari seseorang untuk terus mencoba dan berusaha berbagai peluang yang bisa diraih.

RMI NU Tegal

"Memang harus banyak belajar dan jangan gampang putus asa," kata pengelola Pesantren Al-Qurthuby, Pujer Bondowoso ini. 

Namun demikian, jangan terlalu membayangkan usaha yang akan dilakukan. "Langsung dikerjakan saja," katanya buka rahasia. Sebab kalau segala masalah yang berhubungan dengan usaha terlalu dipikirkan dengan detail, maka dapat dipastikan tidak dapat berjalan sesuai harapan. "Apalagi belum-belum sudah berfikir soal rugi," katanya. "Bagaimana mungkin kita bicara rugi kalau usaha belum dijalankan?" katanya balik bertanya.

RMI NU Tegal

Oleh sebab itu hal mendesak yang harus ditumbuhkan khususnya kepada para santri adalah keinginan kuat untuk berusaha.

Yang juga tidak kalah penting adalah memanfaatkan jaringan. "Terkadang dalam usaha tidak perlu memiliki modal uang, andai jaringan telah kita kuasai," ungkap suami dari Hj Zuhrotun Nikmah ini.

Dengan jaringan para pengusaha, maka dapat saja antara anggota hanya memberikan informasi peluang yang dimiliki. "Soal ketersediaan barang dan modal dapat menggunakan usaha dan modal orang lain," katanya. Dan inilah yang nantinya akan membedakan mereka yang memiliki jaringan dengan yang kurang punya koneksi. "Jaringan itu dapat dijalin dengan silaturahim," ungkapnya.

Karena itulah dengan terbentuknya HIPSI, maka diharapkan silaturahim antara pengusaha santri bisa terjalin dengan baik. "Dengan demikian, keinginan untuk menumbuhkan kesadaran berwirausaha dapat terealisir dalam waktu yang tidak lama," pungkasnya.  

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Saifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kyai, Budaya, Aswaja RMI NU Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Ini Suasana Perayaan Idul Adha di Libanon

Libanon, RMI NU Tegal - Kebahagiaan Hari Raya Idul Adha tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Indonesia di tanah air. Kebahagiaan ini juga dirasakan oleh mereka yang tinggal di bumi Imam Al-Awzai, Libanon. Pada momentum Idul Adha, KBRI melalui fungsi sosial dan budaya menyelenggarakan shalat Id bersama di ruang lobi kantor kedutaan.

Wakil Rais Syuriyah PCINU Libanon Lukmanul Hakim Al-Syarwi Lc menyebutkan, "KBRI Libanon memiliki perhatian yang tinggi untuk acara-acara keagamaan seperti ini. Hal ini dilakukan untuk mempererat tali persaudaraan di antara warga Indonesia yang sama-sama jauh dari ibu pertiwi."

Ini Suasana Perayaan Idul Adha di Libanon (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Suasana Perayaan Idul Adha di Libanon (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Suasana Perayaan Idul Adha di Libanon

Dalam khotbah, Lukman yang kini menempuh sekolah pascasarjana Fakultas Ushuluddin di Global Universty ini menyebutkan bahwa ‘Id atau hari raya adalah momen kebahagiaan dan saat bersenang-senang.

RMI NU Tegal

“Kebahagiaan dan kesenangan orang-orang mu’min di dunia adalah pada saat mereka berhasil menyempurnakan ketaatan pada Allah. Tidak lain pada saat mereka memperoleh pahala atas apa yang mereka perbuat, dan mendapatkan ampunan dosa dari Allah ta’ala," kata Lukman.

Usai shalat Id, para jamaah yang terdiri dari mahasiswa, pejabat kedutaan, pekerja profesional, dan TNI yang tergabung dalam pasukan UNIFIL saling berjabat tangan sebagai wujud persatuan dan kasih sayang. Sementara Duta Besar RI untuk Libanon HA Chozin Chumaidi mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha 1437 H untuk seluruh warga Indonesia di tanah air.

RMI NU Tegal

Perayaan Hari Raya Idul Adha dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban berupa dua ekor kambing dari HA Chozin Chumaidi dan istri. Sementara sambil menikmati hidangan pagi, para jamaah juga dimanjakan dengan acara nonton bareng film 99 Cahaya di Langit Eropa.

Dibandingkan negara di Timur Tengah lainnya, Libanon jarang terdengar. Namun demikian Libanon memiliki daya tarik tersendiri. Salah satunya adalah kualitas pendidikan yang mulai menarik perhatian para santri di tanah air. Di Libanon terdapat 35 mahasiswa yang tersebar di empat kampus, Global University, Institut Dakwah, Beirut Islamic University, dan Universitas Islam Tripoli. Mereka tergabung dalam organisasi PCINU Libanon. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal AlaSantri, Aswaja, Pesantren RMI NU Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

IPNU DKI Jakarta Siapkan Konferwil

Jakarta, RMI NU Tegal. Suksesi kepemimpinan baru di tubuh pelajar Nahdlatul Ulama yang dikemas dalam bentuk Konferensi Wilayah (Konferwil) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)  Provinsi DKI Jakarta tinggal menghitung hari.

IPNU DKI Jakarta Siapkan Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU DKI Jakarta Siapkan Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU DKI Jakarta Siapkan Konferwil

Beberapa kandidat pun mulai antusiasi, para kandidat berasal dari masing-masing perwakilan cabang yang ada di wilayah Ibu Kota Jakarta antara lain dari Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu. Ada juga yang calon dari kepengurusan sebelumnya di IPNU DKI Jakarta.

Menurut Ketua Panitia Arief Faturrahman, Konferwil yang bakal digelar  pada Sabtu-Ahad, 13-14 April 2013 mendatang tempat di Gedung PWNU DKI Jakarta ini bakal diikuti 350 peserta utusan dari 6 Pimpinan Cabang se-DKI Jakarta. Namun dimungkinkan akan dihadiri lebih dari 500 peserta. 

RMI NU Tegal

“Biasa, dalam tradisi konferensi tidak menutup kemungkinan hadirnya utusan tak resmi yang kita kenal akan kita tampung. Alhamdulillah persiapan sudah 70% ,” kata Fatur.

RMI NU Tegal

Acara tersebut akan dihadiri oleh Menteri Perumahan Rakyat, KNPI DKI Jakarta, Kemenag DKI Jakarta,  Ka. Dinas pendidikan DKI Jakarta, Dewan Pendidikan DKI Jakarta, dan  sambutan oleh Wakil DPRD DKI Jakarta serta jajaran pejabat di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Hery Susanto Ketua IPNU DKI menjelaskan, selain acara inti berupa laporan pertanggungjawaban pengurus, penyusunan program kerja dan pemilihan pengurus baru juga diagendakan. 

Hajatan IPNU DKI ini terus kita tingkatkan dari tahun ke tahun untuk memacu semangat para kader IPNU khususnya di wilayah DKI Jakarta semoga Konferwil ini berjalan dengan lancar, terangnya 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Yudhi Permana

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nahdlatul Ulama, Aswaja RMI NU Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Peluncuran Buku “Gus Dur di Mata Perempuan”

Yogyakarta, RMI NU Tegal. Pimpinan Pusat Fatayat NU membedah buku ‘Gus Dur di Mata Perempuan’ terbitan Gading, Yogyakarta. Mereka bersama para aktivis di Yogyakarta, mencoba mengkaji buku yang akan dipasarkan pada 2015 mendatang di Pendopo Hijau Yayasan LkiS, Yogyakarta, Sabtu (6/12).

Peluncuran Buku “Gus Dur di Mata Perempuan” (Sumber Gambar : Nu Online)
Peluncuran Buku “Gus Dur di Mata Perempuan” (Sumber Gambar : Nu Online)

Peluncuran Buku “Gus Dur di Mata Perempuan”

Buku setebal 294 halaman itu berisi pengalaman persinggungan para penulis dengan KH Abdurrahman Wahid. Mereka berasal dari pelbagai latar belakang. Para penulis kebanyakan memiliki pengalaman-pengalaman personal dengan kiai nyentrik itu.

Hadir sebagai pembicara pada peluncura buku ini salah seorang kontributor Ciciek Farha dan pengurus Fatayat NU Yogyakarta Maghfiroh Rahayu.

RMI NU Tegal

Menurut Rahayu, buku ini memberikan perspektif baru dalam memandang sosok Gus Dur. Sebab buku-buku yang membahas tentang sosok Gus Dur kebanyakan ditulis oleh kalangan lelaki. Padahal semasa hidupnya Gus Dur lantang berjuang untuk membela kaum yang diperlakukan tidak adil, termasuk perempuan.

RMI NU Tegal

Secara garis besar, kata Rahayu, buku ini menjelaskan dua hal mengenai keterkaitan Gus Dur dengan isu-isu perempuan di level kebijakan dan praktek.

“Pada Munas NU 1997 di Lombok, Gus Dur mengeluarkan keputusan mengenai bolehnya perempuan menjadi pimpinan,” ujar Rahayu mencontohkan kebijakan Gus Dur. Keputusan ini sangat penting bagi kalanga perempuan.

Sementara Ciciek lebih mengenalkan sosok Gus Dur kepada anak-anak di kampung halamannya. Menurutnya, mengenalkan Gus Dur bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan permainan engrang dan musik.

“Selama ini engrang sering diasumsikan sebagai permainan anak laki-laki. Tapi di kampung halamannya, permainan ini dilakukan oleh semua anak-anak tanpa memandang jenis kelamin,” kata Ciciek. (Sarjoko Subejo/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Aswaja, Sholawat RMI NU Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Silaturahim Mampu Tangkal Gerakan Radikal

Jombang, RMI NU Tegal. Merebaknya gerakan yang mengancam eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI sebenarnya dapat dicegah dengan mempererat konsolidasi. Hal ini bisa dilakukan oleh berbagai kalangan, khususnya pemimpin agama di semua tingkatan.

Silaturahim Mampu Tangkal Gerakan Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Silaturahim Mampu Tangkal Gerakan Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Silaturahim Mampu Tangkal Gerakan Radikal

Pesan ini disampaikan Wakil Bupati Jombang, Ny Hj Mundjidah Wahab saat membuka Rapat Koordinasi Menyikapi Berkembangnya Faham Radikal di Gedung Bung Tomo Pemerintah Kabupaten Jombang, Senin malam (25/8).

Dalam sambutannya, Mundjidah Wahab menekankan bahwa kemunculan gerakan ekstrem kanan maupun kiri di berbagai negara yang akhirnya juga masuk ke Indonesia sebagai konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan dari globalisasi. "Namun demikian, gerakan ini dapat ditangkal dengan mempererat silaturahim," katanya.

RMI NU Tegal

Silaturahim dalam pandangan mantan Ketua PC Muslimat NU Jombang ini adalah dengan mengintensifkan koordinasi di berbagai tingkatan agar peredaran sejumlah gerakan radikal bisa ditangkal. "Koordinasi dan silaturahim bisa dilakukan dari tingkatan paling bawah yakni desa hingga ke tingkat yang lebih tinggi," ungkapnya.

Koordinasi juga bisa bermakna bahwa para aparat dan pimpinan organisasi keagamaan dapat mendengar apa yang diinginkan masyarakat di komunitasnya. "Inilah makna dan manfaat dari silaturahim," tandasnya. Sehingga dari komunikasi yang terbangun dengan baik ini, maka sejumlah gejolak di semua tingkatan masyarakat dapat dihindari, lanjutnya.

RMI NU Tegal

Hal ini pula yang menjadi kata kunci dari suasana kondusif yang dirasakan di Jombang selama ini. "Dari mulai pemilihan kepala daerah yakni bupati dan wakil bupati Jombang, demikian pula pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur, pemilihan anggota legislatif hingga tahapan pemilihan presiden dan wakil berjalan dengan aman dan lancar," terangnya.

Ketua I PW Muslimat NU Jawa Timur ini kembali mengingatkan bahwa suasana yang demikian mendukung tersebut terjadi lantaran terjadi komunikasi dan koordinasi yang demikian baik antara masyarakat dengan aparat di semua tingkatan. "Karenanya, mari kita jaga suasana kondusif ini," harapnya.

Pada kegiatan yang dihadiri sejumlah pejabat pemerintah, ormas pemuda dan keagamaan ini Mundjidah mengingatkan bahwa keinginan menjadikan Jombang sebagai kawasan yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dapat diciptakan bila antara semua pihak saling merekatkan kebersamaan. "Sesuai dengan komitmen kami bahwa Jombang harus bisa mensejahterakan kita semua," katanya.

Dan bagi Mundjidah Wahab, hal itu dapat terjadi kalau koordinasi atau silaturahim antara semua pihak dapat terjalin dengan baik. "Karena itu kita sangat terbuka untuk mendengar aspirasi dan keinginan masyarakat," pungkasnya.

Rapat koordinasi diisi dengan pemaparan sejumlah narasumber yakni Kapolres dan Komandan Kodim 0814, serta Ketua PCNU Jombang. Ada sekitar 250 peserta yang hadir yang terdiri dari utusan organisasi sosial keagamaan, juga organisasi pemuda, serta tokoh masyarakat se Kabupaten Jombang. Di ujung acara, dibacakan pernyataan sikap bersama para pejabat Pemerintah Kabupaten Jombang dan ormas keagamaan dan pemuda yang hadir untuk menolak masuk dan berkembangnya gerakan radikal di kota santri ini. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nasional, Aswaja, Nusantara RMI NU Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Soal 5 Hari Sekolah, LP Ma’arif Jember Siap Laksanakan Instruksi PBNU

Jember, RMI NU Tegal

Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Jember H. Hobri Ali Wafa menyatakan mendukung dan siap melaksanakan instruksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Lembaga Pendidikan Ma’arif Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur bahwa hari masuk sekolah tetap enam hari, mulai Senin hingga Sabtu.

Soal 5 Hari Sekolah, LP Ma’arif Jember Siap Laksanakan Instruksi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal 5 Hari Sekolah, LP Ma’arif Jember Siap Laksanakan Instruksi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal 5 Hari Sekolah, LP Ma’arif Jember Siap Laksanakan Instruksi PBNU

“Kami siap mengikuti apa pun perintah PBNU. Kalau memang diinstruksikan tetap 6 hari sekolah, maka sekolah-sekolah di bawah LP Maarif di Jember, ya tetap 6 hari, dan mungkin juga Maarif di seluruh Indonesia sama,” jelasnya.

Kamis (15/6), PBNU secara eksplisit menolak kebijakan baru Kemendikbud tentang pemangkasan hari sekolah yang berakibat penambahan durasi belajar pelajar menjadi delapan jam sehari.

RMI NU Tegal

Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj berpandangan, daripada membuat kebijakan baru yang merugikan, Kemendikbud sebaiknya fokus pada peningkatan kualitas sistem pendidikan yang sudah ada. PBNU bahkan mengancam melakukan boikot bila kebijakan baru tersebut dipaksakan berlaku secara nasional.

RMI NU Tegal

(Baca: Pernyataan Resmi PBNU Menolak Kebijakan Sekolah 5 Hari)



Kebijakan Mendikbud Muhadjir Effendy untuk memberlakukan 8 jam pelajaran perhari atau 40 jam dalam seminggu juga mendapat reaksi keras dari Ketua Ikatan Keluarga Alumni PMII Jember, Akhmad Taufiq. Ahad (11/6), Dosen Universitas Jember itu mengeluarkan rilis menyikapi keputusan sang menteri yang? kontroversial tersebut.

Menurutunya, kebijakan tersebut terlalu dini untuk diterapkan di Indonesia, dan cenderung dipaksakan, karena belum mempertimbangkan secara seksama karakter? dan cakupan wilayah Indonesia yang sangat luas dan beragam. “Mestinya, aspek nasionalitas keindonesiaan menjadi pertimbangan utama dalam segala bentuk kebijakan pendidikan yang dilakukan (Muhadjir Effendy),” tuturnya.

Ia menambahkan, kalau penerapan 5 hari sekolah itu dilandaskan pada alasan untuk memenuhi minimal 40 jam pelajaran dalam seminggu, sungguh merupakan alasan yang tidak mendasar. Alasan tersebut baru pada tataran normatif dan prosedural semata. Sedangkan pada? tataran substantif tidak memenuhi derajat orientasi visional pendidikan nasional. “Karena itu kami menyerukan? agar keputusan 5 hari sekolah itu dibatalkan demi stabilitas dan kondusivitas pendidikan nasional yang sedang berjalan,” lanjutnya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nahdlatul Ulama, Aswaja, Fragmen RMI NU Tegal

Bagaimana Mbah Umar Mengislamkan Pak Mughizi?

Salah satu yang menonjol dari Mbah Umar adalah senang menghormati tamu. Jika ada tamu yang datang, siapa pun orangnya, pasti akan merasakan cara Mbah Umar dalam ikromudl dluyuf memuliakan tamu.

Seandainya beliau ditanya tentang hobi, bukan tidak mungkin beliau menjawab begini,”Hobi saya terima tamu.”

Bagaimana Mbah Umar Mengislamkan Pak Mughizi? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Mbah Umar Mengislamkan Pak Mughizi? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Mbah Umar Mengislamkan Pak Mughizi?

Santri-santri Al-Muayyad zaman Mbah Umar, kemungkinan besar mengenal Pak Mughizi, seorang petugas listrik di wilayah Laweyan dan sekitarnya. Pak Mughizi ini sering datang ke pesantren untuk mencatatan meteran listrik, juga menagih bayaran listrik. Selain dikenal sebagai petugas listrik, para santri juga mengenal Pak Mughizi dengan identitas seperti ini: nonmuslim, China, celana pendek dan tidak bisa berbahasa Jawa Kromo atau halus.

Tahun-tahun itu, di masyarakat yang tradisinya homogen, monokultur, sering memunculkan prasangka. Tapi ini tidak berlaku pada Mbah Umar. Mbah Umar kerap mengajak Pak Mughizi berbincang di rumahnya atau di serambi pesantren. Santri-santri yang melihatnya tak jarang yang risi melihat Pak Mughizi ngobrol akrab dengan kiainya, seperti tanpa batas. Harap maklum, identitas Pak Mushizi tidak ada di dalam pesantren.

RMI NU Tegal

Obrolan Mbah Umar dengan Pak Mughizi ringan-ringan saja, tak jauh dari tema keluarga, aktivitas sehari-hari. Tak pernah Mbah Umar tanya agama, berdialog tentang keyakinan seperti intelektual-intelektual di kota-kota itu. Tapi tak disangka banyak orang, Pak Mughizi masuk Islam. Ya namanya hidayah, datangnya tidak bisa diotak-atik, termasuk logika yang paling canggih sekalipun. Teori kausalitas, sebab musabab, pun tidak mutlak dalam urusan hidayah.

RMI NU Tegal

Jika ada hanya mengira-ngira, menduga-duga. Seperti tafsiran orang, juga saya, Pak Mughizi masuk Islam karena kepincut akhlak mulia Mbah Umar, hanyalah dugaan, memperkiraakan semata. Apakah akhlak mulia Mbah Umar adalah kesengajaan berdakwah agar Pak Mughiz masuk Islam? Tidak ada yang tahu.

Ternyata tidak masuk Islam kan? Walhasil, tidak terlalu tepat jika ada pertanyaan, “Bagaimana Mbah Umar mengislamkan Pak Mughizi?” Setelah Masuk Islam Keluarga besar Pesantren Al-Muayyad menyambut dengan suka cita si mata sipit yang suka bercelana pendek dan bicaranya ngoko. Keseriusan Pak Mughiz masuk Islam, di antaranya ditandai dengan sunatan.

Pasca sunatan, Pak Mughizi tinggal di pesantren, agar keluarganya tidak direpotkan memelihara “burung” Pak Mughizi yang sedang terluka (zaman itu belum ada sunat pakai laser yang langsung sembuh). Selama proses perawatan burung, Pak Mughizi empat hari di Al-Muayyad, persisnya di kamar 4 pondok lama.

Setelah Mbah Umar wafat di tahun 1980, Pak Mughizi bertemua Mbah Umar dalam mimpi. Di dalam mimpi Mbah Umar meminta agar dirinya berangkat haji. Tidak mikir panjang-panjang, Pak Mughizi bergegas daftar haji. Mimpi tersebut diceritakan pada Hj. Shofiyah, istri Mbah Umar.

"Aku hendak berangkat haji, Bu Nyai. Kiai Umar yang minta. Saya minta doanya.” "Alhamdulillah. Jika tahun ini berarti bareng sama anakku." (Muhammad Shofy Al Mubarok, Khodam di pesatren Brabo, Grobogan, Jawa Tengah)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Halaqoh, Ubudiyah, Aswaja RMI NU Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Trenggalek Tuan Rumah Liga Santri Nusantara Jawa Timur 1

Jakarta, RMI NU Tegal. Kabupaten Trenggalek Jawa Timur ditunjuk sebagai tuan rumah gelaran Liga Santri Nusantara (LSN) Region Jawa Timur 1, yang meliputi karesidenan Kediri dan Madiun. Keputusan ini dihasilkan dalam bimbingan teknis (bimtek) kesiapan penyelenggaraan LSN yang diadakan oleh oleh Kemenpora bersama Pimpinan Pusat Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU, ? pada tanggal, 14-16 Juni 2017 di Jakarta.

"Perhelatan LSN kali ini akan digelar di Trenggalek dengan melibatkan pesantren-pesantren yang ada. Liga santri digelar sebagai wahana untuk menyalurkan minat bakat santri di bidang sepakbola. Tentunya gelaran kali ini akan dipersiapkan sedemikian rupa agar LSN di Jatim 1 ini berjalan dengan lebih profesional lagi," kata Koordinator Region Jatim 1, Gus Toev, kepada RMI NU Tegal.

Trenggalek Tuan Rumah Liga Santri Nusantara Jawa Timur 1 (Sumber Gambar : Nu Online)
Trenggalek Tuan Rumah Liga Santri Nusantara Jawa Timur 1 (Sumber Gambar : Nu Online)

Trenggalek Tuan Rumah Liga Santri Nusantara Jawa Timur 1

Gus Toev menjelaskan, LSN Region Jatim 1, ? akan diikuti sebanyak 32 peserta. Kick off akan dilaksanakan sekitar bulan Agustus-September.?

"Gelaran ini ? untuk mencari pemenang dari 32 pesantren yang dilibatkan dan nantinya akan dikirimkan pada gelaran nasional pada bulan Oktober di Bandung," sambungnya.

Dihubungi terpisah, Ketua PCNU Trenggalek KH Fathullah menyambut gembira atas ditunjuknya Kabupaten Trenggalek sebagai tuan rumah gelaran LSN Region Jatim 1 yang dioperatori PP RMI NU ? (Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama) itu.

RMI NU Tegal

"Alhamdulillah Trenggalek mendapatkan kepercayaan sebagai tuan rumah. Tentunya kami akan mendukung dengan segala kemampuan yang ada sekaligus akan menggandeng semua pihak, baik pemerintah daerah, DPRD, TNI, Polri dan juga seluruh lembaga dan Banom NU akan dilibatkan guna mensukseskan gelaran Akbar ini. Karena ini wujud persembahan santri untuk negeri," tuturnya.

Seperti diketahui, Kemenpora bersama PP RMI NU bakal menggelar kembali Liga Santri Nusantara (LSN) mulai Agustus hingga Oktober. LSN 2017 ini akan diikuti setidaknya 1.000 pesantren seluruh Indonesia yang terbagi kedalam 32 Region. (Zaenal Faizin / Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Aswaja, Pahlawan, RMI NU RMI NU Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Rekor, IPNU Jatim Cetak Instruktur 3 Zona dalam 6 Bulan

Surabaya, RMI NU Tegal. Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (PW IPNU) Jawa Timur berhasil mencetak rekor di bidang kaderisasi. Hal ini terbukti dengan diselenggarakannya program kerja Latihan Instruktur (LATIN) di tiga zona seluruh Jawa Timur yang dituntaskan selama enam bulan. Program ini merupakan amanat Rapat Kerja Wilayah IPNU Jatim yang diplenokan di awal kepengurusan.

WAKIL Ketua IPNU Jatim, Winarto Eka Wahyudi, menyebutkan program pelatihan instruktur diselenggarakan guna menyiapkan Sumber Daya Instruktur di daerah-daerah. 

Rekor, IPNU Jatim Cetak Instruktur 3 Zona dalam 6 Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekor, IPNU Jatim Cetak Instruktur 3 Zona dalam 6 Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekor, IPNU Jatim Cetak Instruktur 3 Zona dalam 6 Bulan

“IPNU tidak kekurangan SDM pelatih dalam beberapa tahun ke depan,” katanya optimis.

Eka, sapaan akrabnya, mengapresiasi tim kaderisasi yang solid. Tim kaderisasi sudah mencapai tidak hanya satu pemikiran, tapi juga telah menyatu dalam satu darah pengabdian. 

RMI NU Tegal

Untuk diketahui, zona pertama LATIN, diikuti oleh Korda Tapalkuda dan Mapasraya. Adapun Tapalkuda terdiri dari Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, Kraksaan, Lumajang, Kencong, Bondowoso, Situbondo, Jember dan Banyuwangi.

Sedangkan Korda Mapasraya meliputi Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Bangil, Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang. LATIN pada zona ini berhasil dilaksanakan pada 21-24 April 2017 di PP Darul Arifin, Jember.

Adapun pada LATIN zona 2, dilaksanakan 11-14 Juli di SMK Wahid Hasyim, Babat, diikuti Korda Metropolis (Surabaya, Jombang, Sidoarjo, Kota Mojokerto dan Kabupaten Mojokerto); Korda Madura (Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan); tak ketinggalan Korda Pantura sendiri yang menjadi tuan rumah, yakni Gresik, Tuban, Lamongan, Babat dan Bojonegoro.

Sementara di Zona 3, yang merupakan zona terakhir berhasil diselenggarakan di Pondok Pesantren Moyoketen Tulungagung, 21-24 September. 

RMI NU Tegal

“Untuk zona pungkasan ini diikuti dua korda, yakni Korda Madiun yaitu Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Magetan, Kota Madiun dan Kabupaten Madiun; serta Korda Kediri yang meliputi Trenggalek, Tulungagung, Kabbupaten Blitar, Kota Blitar, Kota Kediri, Nganjuk dan Kabupaten Kediri,” tambah Eka. (Red. Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Aswaja, News RMI NU Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Istighotsah Akhir Bulan Ini, Ribuan Nahdlyin Purwakarta Siap Penuhi Alun-alun

Purwakarta,RMI NU Tegal. Ribuan Nahdliyin dari berbagai daerah di Kabupaten Purkawarta, Jawa Barat akan memenuhi Alun-alun Purwakarta pada Sabtu (29/4) mendatang. Mereka bukan untuk menggelar unjuk rasa, melainkan melakukan istighotsah memperingati Harlah ke-94 NU.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purwakarta saat ini sedang menyiapkan ribuan massa tersebut. Panitia Harlah, Ramlan Maulana mengatakan, alun-alun Purwakarta dipilih karena bisa menampung ribuan massa.

Istighotsah Akhir Bulan Ini, Ribuan Nahdlyin Purwakarta Siap Penuhi Alun-alun (Sumber Gambar : Nu Online)
Istighotsah Akhir Bulan Ini, Ribuan Nahdlyin Purwakarta Siap Penuhi Alun-alun (Sumber Gambar : Nu Online)

Istighotsah Akhir Bulan Ini, Ribuan Nahdlyin Purwakarta Siap Penuhi Alun-alun

"Dan selain istighotsah sekaligus akan ada pelantikan MWCNU se-Kabupaten Purwakarta," ujarnya.

RMI NU Tegal

Istighotsah, kata Ramlan, untuk meminta yang terbaik kepada Allah SWT sebagai refleksi harakah NU di Purwakarta. Serta meminta pertolongan agar tahun politik di Purwakarta karena 2018 Pilkada yang bersamaan dengan Pilgub Jabar tak seperti di DKI Jakarta.

"Kami warga NU ingin Purwakarta tentram dan damai. Jawa Barat juga. Jangan sampai karena urusan politik, umat dipecah belah dengan isu-isu SARA," ucapnya.

RMI NU Tegal

Untuk itu, istighostah nanti intinya meminta yang terbaik bagi perjalanan Purkawarta, Jawa Barat dan Indonesia agar tidak bercerai-berai.

Selain diikuti Nahdlyin, kegiatan itu akan diikuti para birokrat, politisi dan elemen masyarakat di Purwakarta. (Nurjani/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sholawat, Aswaja, Nasional RMI NU Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Rutin, Santuni Yatim Piatu Tiap 10 Muharram

Kendal, RMI NU Tegal. Ratusan masyarakat menghadiri acara Santunan Anak Yatim yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) bekerja sama dengan Pemuda Karang Taruna "Tanu Jaya" dan  Pemerintahan Desa Juwiring, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal, Senin (3/11), di Masjid as-Suada, salah satu masjid di desa setempat.

Acara yang dikemas sederhana ini dimulai dengan pembacaan ayat suci al-Quran, hingga puncak acara yaitu santunan dan diakhiri doa. Menurut Ketua Panitia Penyelenggara, Muallifin, acara ini memang dilaksanakan setiap tahun tepatnya tanggal 10 bulan Muharram.

Rutin, Santuni Yatim Piatu Tiap 10 Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)
Rutin, Santuni Yatim Piatu Tiap 10 Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)

Rutin, Santuni Yatim Piatu Tiap 10 Muharram

"Acara santunan ini bertujuan dalam rangka aksi sosial guna meringankan beban hidup dari anak yatim," ujarnya.

RMI NU Tegal

Dijelaskan, terdapat sekitar 19 anak penerima santunan yang terdiri dari 17 anak yatim dan 2 orang berstatus yatim piatu dalam kegiatan rutin ini. Santunan diserahkan langsung oleh tokoh masyarakat setempat.

RMI NU Tegal

Salah satu penerima santunan, Intan mengaku terharu dengan bantuan yang diberikan. Dia pun merasa senang karena masih banyak pihak yang peduli dengan keterbatasannya selama ini. "Semoga acara santunan seperti ini bisa terus dilaksanakan," katanya lugu.

Dalam acara ini, panitia memberikan bingkisan dan uang santunan sebesar Rp800.000 kepada setiap penerima santunan. Kegiatan juga dimeriahkan dengan pertunjukkan rebana untuk menyemarakkan acara. (M. Zulfa/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Makam, Aswaja RMI NU Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Mufarrihul Hazin, Kader IPNU yang Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun

Surabaya, RMI NU Tegal. Cita-cita dan harapan yang kuat dan diiringi dengan tindakan dan usaha nyata adalah kunci kesuksesan. Hal inilah yang tergambar dari sosok Mufarrihul Hazin yang akrab dipanggil Farih. Terlahir dari keluarga yang kurang secara ekonomi, tak lantas membuatnya surut dalam meraih pendidikan. Pria yang lahir di Palembang ini telah menyelesaikan studi doktonya pada usia 26 tahun. 

Mufarrihul Hazin, Kader IPNU yang Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Mufarrihul Hazin, Kader IPNU yang Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Mufarrihul Hazin, Kader IPNU yang Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun

Perjalanan panjang dan berliku telah dilewati putra kedua pasangan Muslihuddin dan Munazah ini, mulai jualan koran, jaga toko sampai menjadi trainer pendidikan. Semuanya berbuah manis. 

“Bagi saya ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang, selama kita punya cita-cita dan harapan yang besar, maka Allah yang akan menunjukan jalan. Percayalah itu,” ujar santri KH Hasyim Muzadi .

Pagi itu Kamis (14/12) terlihat berseri-seri wajah Farih. Dengan gaya khasnya yakni memakai kopiah ala NU, ia melangkah menuju mimbar untuk prosesi ujian terbuka promosi doktor bidang Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya. Dia membuka  dan melakukan presentasi dengan sangat baik, bahkan mampu menjawab pertanyaan dari penguji dengan sempurna.

RMI NU Tegal

Dalam disertasinya, Farih menjelaskan pentingnya pendidikan karakter pada perguruan tinggi. Selama ini pendidikan karakter hanya terfokus di pendidikan dasar dan menengah, sedangkan di kampus terlupakan. 

“Mahasiswa itu bukan hanya sekedar agen intektual, namun juga agen perubahan sosial. Mereka setelah lulus akan memulai dunia baru dengan pekerjaanya dan kembali ke masyarakat. Maka mereka harus dibekali dengan karakter yang kuat,” ungkap pemuda yang juga kader IPNU ini.

RMI NU Tegal

Perguruan tinggi harus mampu memformulasikan sebuah kebijakan pengembangan pendidikan karakter dan bagaimana implementasinya yang dijadikan naskah akademik di perguruan tinggi. 

Selain itu harus ada satu lembaga/unit di perguruan tinggi yang bertanggungjawab dan mengembangkan karakter mahasiswa. 

“Ini adalah hal yang penting membuat naskah akdemik pengembangan pendidikan karakter dan unit/ pusat yang bertanggungjawab di dalamnya,” kata pemuda yang dosen STAIN Kediri ini.

Dengan diraihnya gelar doktor dengan masa studi hanya 2 tahun, Farih berharap generasi bangsa agar membangun mimpi mereka. Jangan alasan ekonomi atau latar belakang keluarga yang kemudian membuat patah semangat dan hilang cita-cita. 

“Karena dengan kekuatan semangat yang membara akan mampu menyingkirkan segala sesuatu yang merintangi, sehingga mampu bermanfaat di masa depan,” tandasnya. (Choirudin Abdillah/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kajian Islam, Sholawat, Aswaja RMI NU Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Harlah Ke-81, GP Ansor Resmikan Masjid KH Abdurrahman Wahid

Jakarta, RMI NU Tegal. Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor meresmikan masjid baru memasuki hari lahir (Harlah) ke-81 yang jatuh tepat pada Jumat (24/4). Masjid dua lantai yang diberi nama "KH Abdurrahman Wahid" ini terletak di Jalan Kramat Raya 65A, Jakarta.

Prosesi peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti masjid oleh mantan ibu negara Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid dan disaksikan ratusan kader GP Ansor yang datang dari Jabodetabek.

Harlah Ke-81, GP Ansor Resmikan Masjid KH Abdurrahman Wahid (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-81, GP Ansor Resmikan Masjid KH Abdurrahman Wahid (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Ke-81, GP Ansor Resmikan Masjid KH Abdurrahman Wahid

Nusron menjelaskan, bagian bawah bangunan masjid yang berada di depan kantor PP GP Ansor ini berfungsi sebagai tempat media center dan aktivitas ekonomi, seperti toko buku dan pernak-pernik NU, juga koperasi simpan-pinjam.

RMI NU Tegal

“Ini tak hanya sebuah penghargaan tapi juga kebanggaan bagi kami sekeluarga. Ini bukti bahwa jejak perjuangan Gus Dur terus membekas pada generasi muda NU,” ujar Hj Sinta Nuriyah, Jumat malam, yang didampingi putrinya, Yannuba Arifah Chafsah atau Yenny Wahid.

RMI NU Tegal

Istri mendiang Gus Dur ini mengingatan, kini banyak nama tokoh yang disematkan pada tempat-tempat dengan maksud mengenang. Namun sayangnya tempat-tempat tersebut ternyata banyak yang tak mencerminkan karater dan kepribadian sang tokoh yang menjadi label itu.

“Tapi saya yakin dan percaya bahwa tempat ini tidak akan menjadi tempat seperti itu karena Ansor adalah urat nadi dari bangsa Indonesia,” tuturnya sembari menyebut bahwa jauh sebelum perayaan harlah GP Ansor malam ini, nama suaminya telah menjadi pula nama sebuah perpustakaan di New York Amerika Serikat.

Graha Ansor empat lantai yang menjadi kantor GP Ansor juga rampung diperbaiki bersamaan dengan selesainnya pembangunan masjid. Rencananya, kata Nusron, lantai 4 gedung ini menjadi perpustakaan yang juga bernama KH Abdurrahman Wahid, lantai 3 sebagai lokasi perkuliahan perbankan syariah STAINU Jakarta, lantai dua menjadi kantor, lalu lantai satu adalah aula yang bisa disewa secara umum.

Hadir pula dalam acara yang diselenggarakan di halaman Graha Ansor ini Rais Syuriah PBNU KH Saifuddin Amsir dan KH Masdar Farid Mas’udi, Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud, Ketua Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) KH Abdul Manan A Ghani, dan sejumlah pejabat pemerintah.

Peringatan Harlah ke-81 GP Ansor diawali dengan acara manaqiban, khatmul quran, dan pembacaan shalawat dengan mengusung tema “Transformasi Jamaah Menuju Jami’iyah Nahdliyah”. Melalui tema ini, Nusron mengatakan pihaknya hendak menegaskan bahwa pemuda NU yang sangat besar lebih solid dalam gerakan teroganisasi secara modern tanpa kehilangan jati diri tradisinya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Aswaja, Hadits RMI NU Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Pembaharuan Pesantren

Penulis      : Dr. Abd Ala

Penerbit    : Pustaka Pesantren Yogyakarta

Cetakan    : Pertama, 2006

Pembaharuan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembaharuan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembaharuan Pesantren

Tebal        : xvi + 214 halaman

Perensensi    : Ach Syaiful Ala*

RMI NU Tegal

Istilah yang sering diperbincangkan sejak beberapa tahun terakhir ini, sebenarnya selalu identik dengan memperjuangkan kebenaran, keadilan, egalitarianisme,  dan demokrasi. Artinya, perjuangan yang semacam ini secara faktual mengandung nilai-nilai universal – terlepas dari motivasi dan aktor-aktor – memang diproyeksikan untuk memberdayakan masyarakat, terutama yang hidup di strata terbawah yang sering menjadi "korban" dalam proses pembangunan bangsa.

Dari perspektif diatas, jelas bahwa setiap aktivitas (perjuangan) yang berorentasi pada peningkatan kualitas kehidupan orang lain (banyak orang), dapat dikategorikan sebagai "pemberdayaan masyarakat". hanya saja, yang kemungkinan besar berbeda adalah cara dan pendekatannya, sesuai dengan background kehidupan aktornya (pelakunya). Tetapi, perbedaan yang seperti ini tidak menjadi masalah, yang terpenting aktivitas yang dilakukan benar-benar diupayakan untuk mengangkat nasib masyarakat (kaum tertindas).

RMI NU Tegal

Dalam konteks itulah, lalu bagaimana kepedulian pesantren sekarang ini dalam memberdayakan masyarakat, sebagai "institusi" keagamaan yang tumbuh sejak beberapa tahun yang silam? Apakah pesantren telah menunjukkan intensitasnya dalam persoalan ini, yang sesungguhnya dapat dijadikan medium untuk semakin memantapkan ketaqwaan kepada Allah SWT? Jika memang demikian, apakah bukti-bukti kongkritnya yang dapat meyakinkan kita tentang adanya pemberdayaan masyarakat di kalangan pesantren?

Secara jujur harus diakui, bahwa pesantren selama ini masih tetap eksis di tengah-tengah masyarakat. Dari abad keabad, pesantren masih memperlihatkan kemampuannya untuk membendung gempuran modernisasi yang telah terbukti menjungkirbalikkan spiritualitas manusia, baik secara individual maupun komunal. Kenyataan ini, tentu saja tidak dilepaskan dari sportifitas (kesalehan) dan karisma kiai sebagai top leader pesantren, serta sekaligus juga perjuangan yang mengendalikan teologi dan moral. Sehingga, pesantren sangat mudah untuk berintegrasi dengan masyarakat, yang dari dimensi sosio-ekonimi-politik telah mengalami kekalahan dan ketertindasan.

Karena itu, sangat beralasan jika kahadiran pesantren dimanapun saja berada, benar-benar mendapat respons yang positif dari masyarakat. Respon ini dapat dijadikan suatu indikasi, bahwa pesantren – sejak awal berdirinya – sebenarnya telah banyak terlibat secara aktif konstruktif dalam proses pemberdayaan masyarakat, sesuai dengan kemampuan dan versi pesantren itu sendiri.

Buku yang ditulis oleh pembantu Direktur I Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya ini, banyak mengulas peran pesantren misalnya dibidang spiritual, sampai sekarang ternyata masih belum bisa digantikan oleh lembaga-lembaga pendidikan lain. Dengan bermodal keikhlasan dan keteladanan, kiai (pesantren) telah menunjukkan keberhasilannya dalam mentransfer nilai-nilai relegius kepada santrinya, dan juga bahkan kepada masyarakat.

Melalui cara ini kemudian lahirlah santri yang bermoral, tegar dan mampu menghindarkan diri dari "cengkraman" status formal – semisal pegawai negeri, legeslatif dan eksekutif – yang telah menjadi impian mayoritas kaum terpelajar di bumi pertiwi ini.

Dengan kata lain, pengembangan spiritual versi persantren, telah menghasilkan alumni-alumi yang berakhlak mulia, tingkat bertahan hidup yang teruji dan lainnya. Dari fakta ini saja, kita udah mendapatkan gambaran yang jelas tentang keterlibatan pesantren dalam proses pemberdayaan masyarakat, yang disadari atau tidak, telah membaca dampak yang positif bagi pembangunan nasional.

Contoh lain yang perlu dikemukakan disini, adalah kepedualian pesantren terhadap masalah pendidikan degan mengembangkan sistem pendidikan (berbasis) kerakyatan, pesantren ternyata mampu menampung kaum muda yang secara kuantitatif patut dibanggakan. Sebab, melalui sistem pendidikan kerakyatan ini siapapun dapat memasuki pendidikan di pesantren tanpa ada pembatasan atau kualifikasi tertentu. Semua calon santri, terlepas dari asal-usul kehidupan, keluarga dan ekonominya, diperlakukan sama sebagai manusia di hadapan Allah yang harus dihormati.

Sistem pendidikan kerakyatan tersebut, diakui atau tidak, dapat menumbuhkan solidaritas, kolektivisme dan egalitarianisme, sebagai bagian dari yang integral dari ajaran-ajaran agama yang memang harus diaktualisasikan dalam kehidupan kongkrit sehari-hari, sehingga, sistem pendidikan  yang semacam itu – meminjam istilah Gus Dur – merupakan potensi demokratis pesantren, yang pengembangannya perlu ditangani secara intensif.

Dari itu terlihat dengan jelas tentang kepedulian pesantren dalam pemberdayaan masyarakat. Hal ini sekaligus membuktikan, bahwa pesantren mempunyai kontribusi yang besar dalam proses pembangunan agama, nusa dan bangsa.

Terlepas dari semua itu, pesantren tetap dituntut untuk berjuangan lebih serius lagi, agar peran strategisnya sebagai "pembela" masyarakat bawah (kaum tertindas) dapat dipicu secara maksimal. Apalagi dalam kenyataan, pesantren masih terkesan lamban dalam mengantisipasi arus perubahan sosial, yang membawa pergeseran nilai-nilai kehidupan. Karena itu, pesantren perlu membudayakan gerakan intelektual yang represenatif, tradisi kepenulisan dan kerja-kerja yang profesional.

Sayang buku ini hanya sebuah kumpulan tulisan Dr Abd Ala yang sudah pernah disajikan pada berbagai forum kegiatan diskusi, halaqah, seminar, diklat kepesantrenan. bagi saya, Hal ini merupakan penyebab utama dari pemaparan sebuah buku bisa dikatan kurang sistematis.

* Penulis, Ketua Ikatan Alumni Santri Timur Daya PP Nasyatul Mutaallimin Sumenep (IKNAS), Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Aswaja, Pemurnian Aqidah, IMNU RMI NU Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Ketum PBNU Resmikan IAI dan UNU Sunan Giri Bojonegoro

Bojonegoro, RMI NU Tegal. Ketua Umum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Siroj secara langsung meresmikan Institut Agama Islam (IAI) Sunan Giri dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sunan Giri yang terletak di Kabupaten Bojonegoro, Ahad (26/7/2015).

Ketum PBNU Resmikan IAI dan UNU Sunan Giri Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU Resmikan IAI dan UNU Sunan Giri Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU Resmikan IAI dan UNU Sunan Giri Bojonegoro

Kampus tersebut dulunya bernama Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sunan Giri. Sebelum diresmikan, kedua Rektor diambil sumpah oleh Kang Said agar menjalankan amanat tugas dan tanggung jawabnya dengan amanah. Serta ditandai dengan pemukulan bedug dan penandatanganan prasasti.

Said Aqil menungkapkan, secara nasional ada 24 perguruan tinggi milik NU, padahal rencananya hanya 10 lembaga saja. Selain itu setidaknya ada sekitar 90 SMK NU yang sudah didirikan. "Harapannya UNU menjadi benteng bagi NU," jelas kiai asal Cirebon itu.

RMI NU Tegal

Selain itu pula, lanjutnya, UNU harus menjadi fundamen atau pondasi, bagi generasi NU yang akan datang. Sehingga tidak akan terlindas modernisasi dan globalisasi, serta berharapkan mewarnai di nasional maupun internasional.

Acara yang juga dirangkai halal bihalal itu dihadiri oleh pengurus PCNU, MWCNU, Lembaga dan juga Badan Otonom (Banom) NU. Dalam kesempatan tersebut, Said Aqil juga menyampaikan tema besar Muktamar NU, yakni Islam Nusantara.

RMI NU Tegal

Tipologi ciri khas Islam Nusantara berbeda dengan Islam ditimur tengah dan asia. Islam Nusantara ciri khasnya bisa berdampingan dengan tradisi dan budaya, tidak menghapus dan memberangus peninggalan leluhur. "Islamnya kuat, budayanya lestari, kecuali budaya yang memang menyimpang dari ajaran Islam," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua PCNU Bojonegoro, Dr H Cholid Ubed mengatakan, NU Bojonegoro mendukung sepenuhnya pendirian IAI dan UNU Sunan Giri. "Pendidikan di Bojonegoro masih relatif rendah, meskipun SDA melimpah. Kampus ini menjadi langkah maju NU di bidang pendidikan," pungkasnya. (M Yazid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Aswaja, Sejarah RMI NU Tegal

Agus Sunyoto: Nama Indonesia Awalnya Hanya Asumsi

Jakarta, RMI NU Tegal. Ketika Bung Karno pada tahun 1945 meneken naskah proklamasi bersama Bung Hatta, mereka mengatasnamakan bangsa "Indonesia". Saat itu, tidak banyak yang mengerti apa atau siapa itu bangsa Indonesia. Mereka hanya tahu bahwa dengan adanya proklamasi tersebut berarti bangsa ini telah merdeka dari penjajahan.

Agus Sunyoto: Nama Indonesia Awalnya Hanya Asumsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Agus Sunyoto: Nama Indonesia Awalnya Hanya Asumsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Agus Sunyoto: Nama Indonesia Awalnya Hanya Asumsi

Demikian dijelaskan sejarawan NU Agus Sunyoto ketika mengampu Mata Kuliah Arkeologi Islam Indonesia di Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta, Sabtu (27/9) di Jakarta.

“Jadi nama Indonesia awalnya hanyalah asumsi Bung Karno yang kemudian disepakati oleh seluruh orang Nusantara saat itu,” terang Penulis Buku Atlas Wali Songo ini.

RMI NU Tegal

Apa artinya semua ini, lanjut Agus, pengetahuan dibangun berdasarkan asumsi yang disepakati. Kita lihat daerah Jakarta, lanjutnya, kita hanya akan menemukan gedung-gedung bertingkat, jalan-jalan besar, kemacetan, dan lain sebagainya, jika orang-orang ditanya mana Jakarta. Kita hanya akan menemukan semua hal tersebut.

RMI NU Tegal

“Artinya, pengetahuan tempat mengenai Jakarta hanyalah asumsi yang disepakati, Jakarta sendiri, tidak ada,” tegas Wakil Ketua Pengurus Pusat Lesbumi NU ini.

Lanjut Agus Sunyoto yang juga Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang ini, asumsi yang dibangun manusia, membentuk struktur ideologis maupun sosial-material dalam kehidupan manusia selanjutnya.

“Oleh sebab itu, Nabi Muhammad sendiri bersabda bahwa agama Islam akan terbagi menjadi 73 golongan, karena pikiran-pikiran manusia itu penuh dengan asumsi,” paparnya. (Fathoni/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal AlaSantri, Aswaja, Kiai RMI NU Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Mentan Ajak Pemuda Bekerja Keras, Jangan Andalkan Proposal

Makassar, RMI NU Tegal

Menteri Pertanian Republik Indonesia Andi Amran Sulaiman menyampaikan kuliah umum di hadapan 2000 mahasiswa dan mahasiswi baru Universitas Islam Makassar Sabtu (15/10) di Auditorium KH Muhyiddin Zain UIM Jalan Perintis Kemerdekaan Km. 9.

Dalam kuliah umumnya, ia memotivasi kepada mahasiswa baru, jangan dibiasakan “menenteng” proposal untuk memenuhi kegiatan semisal organisasi karena sesungguhnya Islam mengajarkan tangan di atas lebih mulia dari pada tangan di bawah. Menurut dia, anak muda harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhannya.

Mentan Ajak Pemuda Bekerja Keras, Jangan Andalkan Proposal (Sumber Gambar : Nu Online)
Mentan Ajak Pemuda Bekerja Keras, Jangan Andalkan Proposal (Sumber Gambar : Nu Online)

Mentan Ajak Pemuda Bekerja Keras, Jangan Andalkan Proposal

Soal kerja keras, ia bercerita sewaktu dilantik banyak yang meragukan kinerja Kementerian Petanian. Selama 6 bulan pihaknya tidak melakukan sosialisasi apa pun kepada media massa. Kementan berkeliling kurang lebih ke 300 kabupaten di Indonesia untuk mencari persoalan yang menghambat kemajuan pertanian dan ditentukan solusinya.

RMI NU Tegal

“Akhirnya kami mengeluarkan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, Alhamdulillah hasil pertanian kita meningkat tajam,” ungkapnya pada kegiatan bertema "Peran Perguruan Tinggi dalam Mewujudkan Kedaulatan Pangan.”

Kementan, sambungnya, juga punya komitmen memberantas korupsi. Kementan bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi, kejaksaan dan kepolisian mendampingi kerja-kerja Kementan.

RMI NU Tegal

“Saat ini KPK memiliki ruang kerja di Kementerian Pertanian untuk mengawasi seluruh kinerja kami. Selain itu biaya perjalanan kita kurangi dan mengalihkan untuk membeli traktor yang diperuntukkan petani,” terangnya seraya menyebutkan, saat ini Kementerian Pertanian mengeluarkan kebijakan dalam mengurangi impor.

Kepada seluruh mahasiswa dan mahasiswi UIM, ia berharap untuk meningkatkan tugasnya yaitu studi sesuai jurusan masing-masing.

“Belajar, belajar, dan belajar. Kami berharap kepada seluruh stakeholder UIM berkontribusi memajukan pertanian,” pintanya.

Sebelumnya, Rektor UIM Majdah Agus Arifin Numang berkisah, pada tahun 1980-an ada anekdot di tengah masyarakat dalam bentuk pertanyaan, apa bahasa Arab universitas di tengah sawah?

Jawabannya, kata Ketua Muslimat NU Sulawesi Selatan ini, adalah Al-Gazali sebab pada waktu, UIM masih bernama STAI Al-Gazali dan STIP Al-Gazali yang berada di pesawahan.

“Alhamdulillah saat ini UIM terus berbenah, bersama-sama Pengurus Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan serta Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali tak henti-hentinya membangun sarana dan prasarana kampus yang kita cintai,” jelasnya yang disusul dengan melaporkan saat ini UIM memiliki program desa sejahtera, mandiri dan berkarakter yang dikerjasamakan dengan Kementerian Sosial RI.

Hadir pada kesempatan tersebut, Sekretaris Yayasan KH Abd Kadir Saile, Wakil Rektor I Prof Arfin Hamid, Wakil Rektor II Saripuddin Muddin, Wakil Rektor III Abd Rahim Mas P Sanjata, Wakil Rektor IV Muammar Bakry, Direktur PPS Nurul Fuadi, Dekan FKIP Arfah Shiddiq, Dekan Fak. Ilkes Rivai Pakki, Dekan Fak. Pertanian La Sumange, Dekan Sastra Prof Abd Jalil, Dekan Fak. Teknik Suradi. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kyai, Aswaja, Budaya RMI NU Tegal

PBNU Tak Sepakat Warga Indonesia Pergi Jihad ke Palestina

Jakarta, RMI NU Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengutuk keras aksi brutal militer Israel baru-baru ini terhadap rakyat Palestina yang mengakibatkan puluhan korban jiwa dari kalangan penduduk sipil, termasuk ibu-ibu dan anak-anak.

PBNU Tak Sepakat Warga Indonesia Pergi Jihad ke Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Tak Sepakat Warga Indonesia Pergi Jihad ke Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Tak Sepakat Warga Indonesia Pergi Jihad ke Palestina

“Dari dulu Israel selalu seperti itu, tidak pernah mengindahkan kecaman dunia internasional, termasuk Dewan Keamanan PBB,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Kamis (10/7).

Meski demikian, kiai yang akrab disapa Kang Said ini menyerukan kepada warga Indonesia untuk tetap cerdas dalam menyikapi situasi tersebut. Ia mengatakan tak sepakat apabila ada warga Indonesia hendak pergi jihad ke Palestina.

RMI NU Tegal

Menurutnya, pergi jihad ke sana justru akan menambah runyam persoalan. Kontribusi warga Indonesia terhadap Palestina, katanya, bisa diwujudkan dengan berdoa atau penggalangan bantuan kemanusiaan.

“Kita minta pemerintah Indonesia mengeluarkan sikap tegas terhadap tragedi di Palestina,” ujarnya.

RMI NU Tegal

PBNU juga mengaku prihatin terhadap kemelut yang terjadi di Iraq belakangan ini. Namun demikian, Kang Said menegaskan, baik konflik yang menimpa Palestina, Iraq, Suriah, Afganistan, dan Somalia, semuanya berlatar belakang politik, bukan agama.

“Konflik sudah membawa agama, padahal konflik tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan substansi ajaran agama,” ujarnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Santri, Aswaja, Tokoh RMI NU Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

LAZISNU Kudus Salurkan Dana Santunan ke Yatim dan Duafa

Kudus, RMI NU Tegal. Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kembali menyalurkan dana santunan  kepada 62 anak yatim dan 20 duafa, Ahad (31/8). Pemberian santunan dilaksanakan bersamaan pada acara pengajian rutin Ahad pahing dan halal bihalal Majlis Wakil Cabang NU (MWCNU) Kecamatan Kota di Kantor NU Jl Pramuka No 20 Kudus.

LAZISNU Kudus Salurkan Dana Santunan ke Yatim dan Duafa (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Kudus Salurkan Dana Santunan ke Yatim dan Duafa (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Kudus Salurkan Dana Santunan ke Yatim dan Duafa

Ketua  LAZISNU Kudus Syaroni Suyanto mengatakan, penyaluran dana santunan ini merupakan bentuk program kerja lanjutan yang telah dilaksanakan sebelumnya pada bulan Ramadhan lalu. Pada kesempatan ini, para penerima santunan adalah yatama dan duafa dari desa di wilayah kecamatan Kota Kudus.

"Santunan di MWC NU Kota ini, kita salurkan dana Rp 5.100.000 dengan rincian Rp 3.100.000 untuk 62 yang masing-masing menerima Rp 50.000/anak dan Rp 2.000.000 untuk duafa diberikan kepada 20 duafa per orang menerima Rp 100.000," terang Syaroni.

RMI NU Tegal

 Ia menambahkan LAZISNU akan terus berupaya mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, infaq dan shadaqah secara benar dari para orang kaya, dermawan, muzakki, maupun CSR dari perusahaan. Hingga kini, pihaknya terus menyosialisasikan keberadaan LAZISNU Kudus yang memang baru terbentuk beberapa bulan lalu tepatnya bulan Maret 2014.

 

"Karenanya kami mengajak semua pihak membangun kemitraan strategis dengan menyalurkan dana ZIS melalui LAZISNU Kudus dengan no rekening Mandiri Syariah 7064846013 atau langsung ke kantor NU," imbuhnya.

RMI NU Tegal

 

Direktur eksekutif LAZISNU Kudus Edi Wicaksana menambahkan Lazisnu  masih terus melakukan penataan kelembagaan sehingga mampu melaksanakan program untuk mengatasi permasalahan ummat.

 

"Termasuk juga, untuk tranparansi pemasukan dan penyaluran dana LAZISNU kami juga akan melaporkan secara terbuka sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik," jelas Edi. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Aswaja, AlaNu RMI NU Tegal

Selasa, 28 November 2017

Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu

Cirebon,RMI NU Tegal. Sebagian pesantren di Indonesia telah dilengkapi dengan teknologi komunikasi perangkat siar radio. Fungsinya adalah agar gerakan dakwah yang dilakukan mampu mencapai titik terluar? pesantren dan masyarakat di sekitarnya.

Ketua Radio Komunitas (Rakom) Buntet Pesantren (Best FM) Ahmad Rovahan menilai? radio pesantren merupakan media yang cukup strategis. Ia berpendapat, meski dari pesantren, siaran radio tidak mesti harus memutar pengajian dan ceramah keagamaan.

Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu (Sumber Gambar : Nu Online)

Radio Pesantren Tak Mesti Siarkan Pengajian Melulu

“Pemutaran pengajian berupa ceramah dan pembacaan Al-Quran tentu baik, tapi hal ini jangan sampai dianggap sebagai cara tunggal untuk menyiarkan prinsip kepesantrenan secara lebih mengena kepada masyarakat luar,” katanya saat dihubungi RMI NU Tegal melalui telepon.

RMI NU Tegal

Menurut Rovahan, banyak cara dilakukan untuk mengenalkan pesantren tidak dengan cara yang monoton. Di antaranya adalah membongkar kesan ketertutupan pesantren melalui pembacaan selera pendengar.

“Kita tidak perlu antipati dengan karya seni yang lebih umum. Contoh pemutaran musik yang sedang marak di tengah masyarakat. Yang terpenting adalah sebisa mungkin para penggiat radio di dalamnya mampu mengemasnya seusai dengan prinsip-prinsip kepesantrenan,” katanya.

RMI NU Tegal

Selain membuka diri dengan kegemaran masyarakat dengan tujuan membentengi mereka dengan prinsip-prinsip kepesantrenan, lanjut Rovahan, radio pesantren juga sebenarnya memiliki peluang untuk menggawangi pesan-pesan yang dibutuhkan bagi masyarakat. Misalnya, pembuatan Iklan Layanan Masyarakat (ILM) bertema kebhinekaan, anti korupsi, kenakalan remaja dan lain-lain.

“Syaratnya hanya satu, prinsip kepesantrenan dan syiar Islam tersebut tidak dikemas dengan cara yang kaku. Bahkan, boleh juga diimbuhi nuansa guyon sesuai dengan adat pesantren dan masyarakat nahdliyin,” pungkasnya.

Best FM meraih penghargaan membanggakan dengan mengalahkan ratusan radio lainnya. Radio tersebut juara 1 lomba pembuatan feature audio bertema “Anti Korupsi” yang diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK RI) bekerja sama dengan Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI). Hadiah dianugerahkan di Museum Fatahilla, Kota Tua, Jakarta, Ahad (17/8).

Sebagai juara 2 diraih Taraktak FM Sumatera Barat, Wijaya FM Yogyakarta dan K-FM Magelang. Pemenang lomba mendapatkan hadiah berupa peralatan siar radio yang diserahkan langsung oleh para Pimpinan KPK diantaranya Ketua KPK Abraham Samad, Bambang Widjayanto, Adnan Pandu Praja, dan Juru Bicara KPK Johan Budi. (Sobih Adnan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Aswaja, Nahdlatul Ulama RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock