Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

IPNU-IPPNU Sidoarjo Gelar Pondok Aswaja VII

Sidoarjo, RMI NU Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sidoarjo pada Ramadhan ini mengadakan acara Pondok Aswaja VII dengan mengangkat tema "Pengamalan Aswaja An-Nahdliyah untuk mewujudkan kesejahteraan di masyarakat".

Acara yang digelar di Pondok Pesantren Chusnaini Desa Klopo Sepoloh, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo itu diadakan selama dua hari, Sabtu hingga Ahad, (4-5/7) dengan diikuti sekitar 60 anggota delegasi dari Pimpinan Anak cabang IPNU-IPPNU hingga perguruan tinggi yang ada di Kabupaten Sidoarjo.

IPNU-IPPNU Sidoarjo Gelar Pondok Aswaja VII (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Sidoarjo Gelar Pondok Aswaja VII (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Sidoarjo Gelar Pondok Aswaja VII

"Melalui acara ini kami harapkan para kader IPNU-IPPNU Sidoarjo bisa membentengi dirinya sendiri, keluarganya dan lingkungan sekitarnya dari paham-paham yang tidak sesuai dengan ajaran ulama NU terdahulu," tegas Ketua PC IPNU Sidoarjo M Syaikhul Maarif.

RMI NU Tegal

Diceritakan Maarif, awal mula berdirinya IPNU-IPPNU itu dari pondok pesantren. Ini merupakan proses silaturahim para kader IPNU-IPPNU dengan pondok pesantren yang ada di wilayah Sidoarjo. Sehingga mereka terus memberikan sumbangsih kepada pondok pesantren.

RMI NU Tegal

"Banyak pembelajaran yang tidak pernah kita temukan seperti yang ada di pondok pesantren. Di pesantren, kita akan memberikan edukasi kepada para kader muda NU agar mereka mengerti bagaimana kondisi di pesantren itu. Karena banyak tokoh besar NU dan cendekiawan yang lahir dari pondok pesantren," kata Syaikhul Maarif.

Acara Pondok Aswaja tersebut sekaligus merealisasikan program PBNU "Ayo Mondok". Melalui bulan Ramadhan, pihaknya berupaya memberikan kajian keilmuan yang belum pernah kader IPNU-IPPNU dapatkan selama berada di bangku sekolah formal.

Sementara itu Kresna Aji Prayoga (12), delegasi dari Pimpinan Aanak Cabang IPNU Taman Sidoarjo, mengaku ingin mencari ilmu di pesantren supaya bisa termotivasi seperti para ulama besar NU.

"Saya ikut acara ini karena ingin mencari ilmu. Agar ke depannya bisa membentengi diri sendiri dan menjadi remaja yang baik. Selain itu supaya iman saya kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh remaja-remaja yang suka berbuat hal-hal kurang baik," ungkap Aji. (Moh Kholidun/Mahbib)

 

Foto: Ketua PC IPNU Sidoarjo M Syaikhul Maarif

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Halaqoh, Pondok Pesantren, Hadits RMI NU Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Istri Dianggap ‘Nusyuz’ bila Melakukan Hal Ini

Dalam bahtera pernikahan, persoalan pasti akan selalu ada. Perselisihan pendapat dalam sebuah masalah hampir dipastikan terjadi antara suami dan istri. Tidak jarang, muara dari perselisihan tersebut adalah sikap nusyuz yang ditampakkan oleh sang istri. Dalam pemaparan kali ini, akan dibahas apa sebenarnya arti dari nusyuz, apa saja yang bisa menyebabkan seorang perempuan dianggap nusyuz, apa yang harus dilakukan oleh suami, dan bagaimana konsekuensi hukumnya menurut syariat.

(Baca: Masak dan Mencuci Bukan Kewajiban Istri)Mustafa al-Khin dan Musthafa al-Bugha dalam al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam al-Syâfi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), juz IV, halaman 106, mendefinisikan nusyuz dengan redaksi berikut:

Istri Dianggap ‘Nusyuz’ bila Melakukan Hal Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Istri Dianggap ‘Nusyuz’ bila Melakukan Hal Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Istri Dianggap ‘Nusyuz’ bila Melakukan Hal Ini

RMI NU Tegal

? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?…? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Nusyuz-nya seorang perempuan ialah sikap durhaka yang ditampakkannya di hadapan suami dengan jalan tidak melaksanakan apa yang Allah wajibkan padanya, yakni taat terhadap suami… nusyuz-nya perempuan ini hukumnya haram, dan merupakan satu dari beberapa dosa besar.”

Selain haram, nusyuz juga mengakibatkan konsekuensi hukum berupa terputusnya nafkah, sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Muhammad bin Qasim dalam Fathul Qarib (Surabaya: Kharisma, 2000), halaman 239: 

RMI NU Tegal

? ? ? ?

Artinya: “Ada dua hal yang bisa gugur akibat nusyuz, yakni hak gilir dan hak mendapatkan nafkah”. 

Lebih lanjut, dalam lanjutan teks di kitab al-Fiqh al-Manhaji dijelaskan bahwa seorang perempuan akan dianggap nusyuz apabila ia keluar rumah dan bepergian tanpa seizin suami, tidak membukakan pintu bagi suami yang hendak masuk, dan menolak ajakan suami untuk berhubungan suami-istri padahal ia tidak sedang uzur seperti sakit atau lainnya, atau saat suami menginginkannya namun ia sibuk dengan hajatnya sendiri, dan lainnya.

Lantas apakah berarti setiap akan keluar atau bepergian, seorang istri harus meminta izin lagi dan lagi kepada suaminya? Tidak juga. Izin dari suami ini bisa diberikan secara umum, artinya jika diyakini bahwa suami pasti rela, maka itu bisa dianggap sebagai izin.

(Baca: Hukum Istri Ambil Uang Suami Tanpa Izin

(Baca: Suami Larang Isteri Kunjungi Orang Tuanya)Tidak semua tindakan kasar yang dilakukan oleh istri dianggap sebagai nusyuz. Sebagaimana dijelaskan dalam lanjutan teks kitab Fathul Qarib:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Menurut pendapat yang lebih sahih, berkata kasar kepada suami bukan termasuk nusyuz, tetapi dia berhak (harus) diajari oleh suami jika melakukan hal tersebut. Jika hal ini terjadi, suami tidak perlu melapor pada qadli (hakim).”

Jika sudah terbukti bahwa istri melakukan nusyuz dengan cara keluar rumah atau bepergian semaunya tanpa seizin suami atau menolak ajakan suami untuk berhubungan, maka tindakan yang perlu dilakukan oleh suami, sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an, yakni:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS an-Nisa: 34)

(Baca: Inilah Hukum Suami yang Lakukan KDRT kepada Istrinya)Cara pertama ialah suami menasihati istrinya bahwa apa yang dilakukan tersebut adalah haram dan bisa mengakibatkan terhentinya pemberian nafkah lahir. Jika masih nusyuz, maka langkah kedua ialah tidak memberikan nafkah batin kepadanya. Langkah terakhir jika masih tetap nusyuz ialah dengan memukulnya, namun memukul di sini tidak boleh sembarangan, pukulan yang dilakukan hanyalah pukulan yang sifatnya ancaman belaka, dan tidak boleh melukai.

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Muhammad Ibnu Sahroji)



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pondok Pesantren, Kajian Sunnah, Sejarah RMI NU Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Majalah Santri Adakan Pelatihan Jurnalistik

Semarang, RMI NU Tegal. Redaksi Majalah Santri dari 12 perguruan tinggi yang tergabung dalam Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSS MoRA) menggelar pelatihan jurnlaistik di kampus IAIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah, Jumat (15/2).

Majalah Santri Adakan Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Santri Adakan Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Santri Adakan Pelatihan Jurnalistik

Kegiatan bertema ”Menegaskan Kembali Akar Jurnalistik Pesantren” ini resmi dibuka Sekretaris Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Tengah KH Arja Imroni yang juga Ketua Prodi Ilmu Falak IAIN Walisongo. Hadir pula mengisi materi, Direktur Moderate Muslim Society (MMS) Zuhairi Misrawi.

Pelatihan jurnalistik tersebut merupakan rangkaian dari acara pelantikan dan rapat kerja redaktur Majalah Santri periode 2013-2015. Pimpinan Umum Majalah SANTRI Surotul Ilmiyah mengatakan, kegiatan ini menjadi usaha serius dalam melestarikan budaya jurnalistik yang sudah mengakar lama pesantren.

RMI NU Tegal

“Pelatihan jurnalistik ini akan menjadi bekal kepengurusan Redaktur Majalah Santri yang baru di lantik agar tetap semangat megawal tradisi junalistik pesantren,” ujarnya.

Ketua CSS MoRA Nasional Imam Sahal Ramadhan berharap, Majalah Santri yang masih terdistribusi hanya pada sejumlah instansi Kementerian Agama RI dan pesantren tahun inidapat meningkatkan persebarannya ke kalangan yang lebih luas.

RMI NU Tegal

Peserta pelatihan seharian penuh aktif mengikuti materi jurnalistik. Sementara rapat kerja akan diselenggarakan dua hari mendatang, 16-17 Februari 2013. CSS MoRA merupakan sebuah organisasi yang menaungi mahasiswa program beasiswa santri berprestasi (PBSB) Kementerian Agama Republik Indonesia.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Makam, Pondok Pesantren, Anti Hoax RMI NU Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah

Oleh Munawir Aziz*

Selama ini, dakwah yang digunakan untuk mengampanyekan nilai-nilai Islam sangat terkait dengan media. Penyampaian pesan-pesan keagamaan melalui media konvesional terbukti efektif sebagai agenda dakwah. Model-model dakwah dalam forum kajian, majelis taklim maupun acara-cara seminar mampu mempengaruhi perspektif kaum muslim agar memahami nilai-nilai agama secara lebih utuh.

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah

Akan tetapi, saat ini media mengalami revolusi dalam spektrum baru berupa media digital. Bagaimana merespon revolusi media dalam kerangka strategi dakwah? Bagaimana menampilkan model dakwah yang baru di tengah percepatan teknologi? Tentu saja, dakwah di era digital perlu menggunakan strategi-strategi baru untuk merespon ekosistem media digital yang berbeda dengan media konvensional.

Pertumbuhan media digital menemukan momentumnya dengan pertumbuhan kelas menengah muslim. Jika geliat kelas menengah dimulai dari tahun 1980an, yang kemudian menemukan akses luas pasca reformasi, tentu hal ini tidak bisa dilepaskan dari iklim politik dan kebebasan di ruang publik untuk mengekspresikan identitas. Kelas menengah muslim dianggap sebagai ceruk penting yang memiliki potensi luar biasa, dari akses ekonomi, gaya hidup, pengetahuan hingga keberpihakan politik. ?

RMI NU Tegal

Dalam hal ini, kelas menengah muslim adalah ceruk komunitas yang terus membesar, seiring pertumbuhan ekonomi dan akses pendidikan. Robisan mencatat, bahwa “dalam kelas menengah, terdapat sejumlah akademisi, kaum cendekiawan, reformis, intelektual, pengusaha muda, pengacara, tokoh politik, aktifis kebudayaan, kaum teknokrat, aktifis LSM, juru dakwah, publik figur, presenter, pengamat ekonomi dan sejenisnya” (Robison 1993: 30)

Untuk itu, Vatikiotis mengungkapkan bahwa kelas menengah muslim lebih banyak berada di perkotaan, karena mudahnya akses media dan jaringan pengetahuan. “Di Indonesia, kebangkitan kembali kepada semangat keagamaan tahun 1980an dan 1990an adalah fenomena khas kelas menengah di wilayah-wilayah perkotaan – segmen masyarakat yang paling banyak tersentuh oleh pembangunan ekonomi dan perubahan sosial. Fenomena ini berpengaruh luas pada meningkatnya ketaatan beragama padaorang-orang Islam yang sedang menikmati kemakmuran sebagai kelasmenengah” (Vatikiotis, 1996: 152 – 53). Akan tetapi, pandangan Vatikiotis ini perlu direvisi karena pertumbuhan media digital.

RMI NU Tegal

Seiring meningkatnya akses informasi melalui media digital, tentu pembagian demografi dalam pandangan Vatikiotis akan sedikit mengalami revisi. Ruang fisik semakin meluas tidak hanya di kota-kota besar semata, karena hal ini akan ditembus oleh akses ekonomi, media informasi dan perkembangan teknologi. Sekarang ini, sangat mungkin menemukan pengusaha muslim yang memiliki produk hijab skala menengah yang bermukim di pelosok Banyuwangi, namun memiliki kantor cabang di Jakarta dan Surabaya. Perkembangan teknologi, media sosial dan kemudahan akses infrastruktur memungkinkan fenomena ini terjadi.

Sirkulasi Ekonomi

Tumbuhnya kelas menengah muslim, juga ditunjang oleh tren positif pasar ekonomi syariah. Meningkatnya sirkulasi ekonomi dengan dalam pasar berlabel syariah, dapat dilacak pada perkembangan pesat bank syariah di Indonesia. Rintisan perbankan syariah yang dimulai pada 1991 oleh Bank Muamalat, tumbuh mencapai 40 % tiap tahunnya. Penetrasi ini melebihi bank konvensional yang tidak sampai kisaran 20%. Meski belum mencapai 5% dari total aset perbankan, akan tetapi geliat pasar ekonomi syariah sangat menjanjikan. Setidaknya, dari data awal 2014, sudah ada sekitar 11 Bank Umum Syariah (BUS), 23 Bank syariah dalam bentuk Unit Usaha Syariah (UUS), dan 160 Bank perkreditan rakyat syariah (BPRS). Dari jumlah ini, bank-bank syariah memiliki 2.925 kantor cabang dan memiliki lebih dari 12 juta akun nasabah dengan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai lebih dari 175 triliun rupiah (Yuswohadi, 2015).

Saat ini, tren ekonomi syariah berdampak pada bisnis kreatif dengan pasar kelas menengah muslim, dari fashion, kuliner, hingga wisata. Di beberapa daerah, wisata berbasis syariah sudah mulai menggeliat dengan memunculkan paket-paket jelajah daerah dengan panduan khusus untuk melayani pasar kelas menengah muslim. Dari sisi bisnis, tumbuhnya kelas menengah muslim menjadi tren penting pada zaman sekarang. Dampaknya, sangat terasa pada volunterism, fundrising dan agenda-agenda dakwah beserta amal yang mengakses kelas menengah muslim.

Revolusi Media

Tumbuhnya kelas menengah muslim perlu diimbangi dengan strategi dakwah yang tepat dan efektif. Revolusi media dengan tampilnya media sosial menjadi bagian penting untuk menerapkan dakwah di era digital. Di Indonesia, pengguna internet semakin meningkat, dengan akses media sosial yang terintegrasi. Para pengguna media sosial, cenderung menyampaikan pesan, pikiran dan mengakses informasi dari media-media baru sebagai platform visioner.

Data yang dirilis WeAreSocial (2015), pengguna internet di negeri ini pada kisaran 72,7 juta. Dari data ini, sekitar 72 juta merupakan pengguna aktif media sosial, yang diakses dari 60 juta akun media dari mobile. Ini artinya, media sosial sangat efektif dalam penyampaian pesan, perspektif dan informasi terbaru. Di sisi lain, media digital sebagai medan dakwah di era sekarang sangat signifikan untuk mencapai target kelas menengah muslim. Dakwah untuk kelas menengah muslim, dipengaruhi oleh bagaimana strategi menggunakan media digital untuk menyampaikan informasi serta mengkampanyekan pesan-pesan tertentu.

Tentu saja, hal ini menjadi tantangan menarik bagi ormas-ormas muslim untuk merespon tumbuhnya kelas menengah dan revolusi media digital. Kelas menengah muslim yang terkoneksi dengan akses media digital membutuhkan sentuhan dakwah yang lebih interaktif, efektif dan mudah diakses. Sentuhan teknologi dan grafis sangat diperlukan untuk memperkuat content-content dakwah. Berbagai platform media sosial dapat menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan karakter khas Indonesia. Dakwah yang ramah di era digital menjadi tantangan strategis bagi pelbagai ormas Islam di negeri ini.

* Peneliti media, Pengurus? Lembaga Ta’lif wan-Nasyr (LTN) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU),Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pondok Pesantren, Makam RMI NU Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Kilas NU dan Politik

Nahdlatul Ulama (NU), adalah organisasi sosial keagamaan (jam’iyah) terbesar di Indonesia. Awal kelahiran NU sendiri tidak dapat dilepaskan dari kehadiran dua faktor utama, yakni realitas ke-Islaman dan realitas ke-Indonesia-an. pada realitas ke-Islaman NU lahir sebagai suatu wadah bergabungnya para ulama dalam memperjuangkan “tradisi pemahaman dan pengalaman ajaran Islam yang sesuai dengan kultur Indonesia”.

NU dilahirkan oleh ulama pesantren sebagai wadah persatuan bagi para ulama serta para pengikutnya, guna mempertahankan paham Ahlussunnah wal Jama’ah yang berarti pengikut Nabi Muhammad SAW. Sedangkan, dalam realitas ke-Indonesiaan, kelahiran NU merupakan bagian dari pengaruh politik etis yang diterapkan Belanda dalam konteks perjuangan mewujudkan kemerdekaan.

Dalam perjalanannya, sedikit demi sedikit NU memulai langkahnya berkiprah dalam dunia politik. Berawal dari MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), NU akhirnya terlibat dalam masalah-masalah politik. Namun, eksistensi MIAI tidak berlangsung lama, pada Oktober 1943, MIAI akhirnya membubarkan diri dan digantikan oleh Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Pada awalnya, Masyumi merupakan sebuah organisasi non politik, tetapi, setelah Indonesia merdeka, Masyumi akhirnya ditahbiskan menjadi partai politik, dan memutuskan NU sebagai tulang punggung Masyumi.

Kilas NU dan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kilas NU dan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kilas NU dan Politik

Pada tahun 1940-1950, Masyumi akhirnya menjadi partai politik terbesar di Indonesia. Masyumi merupakan partai yang heterogen anggotanya, sehingga perbedaan kepentingan politik banyak terjadi didalamnya. Dan hal tersebutlah yang telah menyebabkan NU keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik yang bernama sama, yaitu NU. Setelah menjadi partai politik, NU mengukir sejarah yang monumental, NU berhasil mendapatkan suara yang cukup besar dan berhasil memperoleh 45 kursi di parlemen pada pemilu 1955. Perolehan suara NU tidak hanya terjadi pada pemilu 1955, pada pemilu selanjutnya, yaitu pemilu 1971 NU juga berhasil memperoleh suara yang cukup besar. Keberhasilan NU ini dinilai karena kemampuan NU menggalang solidaritas dilingkungan kaum santri, serta adanya dukungan penuh dari basis tradisionalnya.

Melihat sejarah diatas, dapat dikatakan bahwa NU memiliki pengalaman dan basis politik yang kuat. Namun, pada tahun 1983, atas hasil Munas ke-86, telah diputuskan bahwa NU sudah tidak lagi berkecimpung didalam politik dan menjadi organisasi keagamaan yang murni. Tetapi perlu diketahui bahwa hal tersebut tidak menghilangkan status NU sebagai organisasi massa yang besar dan solidaritas massa yang kuat. Hal tersebut terbukti pada pemilu pasca orde baru tahun 1998, dimana pada pemilu 1998, PKB yang merupakan partai baru dan partai yang menjadi wadah berpolitik warga NU, memperoleh suara yang cukup besar.

Kesatuan suara warga NU untuk memilih PKB sebagai wadah berpolitiknya tidak berlangsung lama, karena pada pemilu 2009, PKB mengalami penurunan suara yang cukup signifikan. Hal tersebut dikarenakan adanya konflik internal antar para elite yang ada didalam tubuh PKB, dan kemudian berakibat pada perpecahan di basis masa PKB khususnya warga NU. Seperti yang telah diketahui bahwa ada tiga pilar utama yang menjadi penyangga kekuatan NU, yaitu Kiai, Pesantren, dan aktor politiknya.

Konflik kepentingan sebenarnya tidak hanya terjadi di masa PKB. Pada saat NU masih berkecimpung dalam dunia politik konflik kepentingan juga sering terjadi, seperti pada saat NU masih bergabung dengan Masyumi dan PPP. Dan sebenarnya, ? karena hal-hal tersebutlah NU memutuskan untuk kembali ke Khittah 1926. NU merasa bahwa dengan terlalu asyik dalam politik, NU telah melalaikan tugas-tugas sosial keagamaan dan pendidikan. Orientasi praktis yang serba politis itu mengakibatkan NU terjerumus kedalam pola yang serba taktis politis untuk memperebutkan keuntungan politik yang sifatnya hanya sementara. Sikap dan tindakan NU selalu dikaitkan dengan orientasi untung rugi dari segi kepentingan politik semata. Selain itu, dengan terjun ke dalam politik, NU takut akan kehilangan tujuan utamanya, yaitu mempersatukan umat Islam ke dalam suatu wadah yang bernama NU, yang disebabkan oleh perbedaan kepentingan dalam politik.

RMI NU Tegal

Oleh karena itu, pada pemilu 2014 NU tidak lagi menjadi alat pencapai kepentingan para elite-elite politik, yang hanya memanfaatkan kekuatan solidaritas massa NU. Dan menjadikan warga NU yang berada dibawah tercerai berai karena kepentingan para aktor politiknya.

RMI NU Tegal

Izzato Millati, pengajar di Pondok Pesantren Putri Alkenaniyah, Pulomas, Jakarta Timur. Alumni hubungan internasional UMY dan Pascasarjana Fisip UI.?

?

Gambar: Partai politik peserta pemilu 1971, NU nomer 3.

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Fragmen, Pondok Pesantren RMI NU Tegal

Senin, 01 Januari 2018

IPPNU Didorong Kuasai Ilmu Dakwah

Sidoarjo, RMI NU Tegal. Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) menyelenggarakan Latihan Pelatih Nasional (Latpelnas) 2017 Zona Jawa di Sidoarjo, Jumat-Ahad (8-10 Desember 2017.

Latpelnas IPPNU dibuka oleh Deputi Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Asrorun Niam Sholeh, Jumat (8/12) siang.

IPPNU Didorong Kuasai Ilmu Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Didorong Kuasai Ilmu Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Didorong Kuasai Ilmu Dakwah

Ketum PP IPPNU Puti Hasni mengatakan Latpelnas IPPNU 2017 diselenggarakan di empat zona.

"Yakni Zona Jawa, Zona Sumatera, Zona Kalimantan, dan Zona Indonesia Timur," ujarnya. 

Menurut perempuan kelahiran Jakarta ini, Latpelnas IPPNU bagian dari kaderisasi internal.

"Kami melatih dan mencetak kader andalan yang mampu berkomunikasi dan memberikan pelatihan kaderisasi. Latpelnas ini untuk mengasah metode dalam mengajak pelajar putri bergabung di barisan NU," ujar Puti. 

RMI NU Tegal

Sementara itu, Asrorun Niam menekankan agar IPPNU mengoptimalkan media sosial sebagai wahana dakwah pelajar.

"IPPNU harus aktif dan menguasai ilmu berdakwah," kata Niam. 

RMI NU Tegal

Terkait ramainya isu pengakuan sepihak Presiden Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibukota Israel, Niam mendukung penuh pelajar NU yang bersatu menggalang aksi penolakan.

"Kami mendukung langkah IPPNU dan organisasi kepemudaan lain yang melakukan aksi solidaritas Palestina dan mengutuk tindakan AS yang memberi legitimasi atas aneksasi Israel terhadap Palestina. Langkah AS itu sebagai ancaman terhadap perdamaian dunia," ujar Niam. 

Alinea keempat pembukaan UUD 1945, kata Niam, mengamanatkan bangsa Indonesia berupaya menciptakan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Hal ini selaras pula dengan spirit perdamaian yang tertera dalam Sumpah Pemuda tahun 1928.

Semangat dalam Sumpah Pemuda tersebut menjadikan ciri bahwa pemuda Indonesia merupakan salah satu ujung tombak pembangunan dan pembawa perdamaian dunia tanpa penjajahan.  

"Sebagai wujud komitmen anti penjajahan, Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora RI mengapresiasi langkah IPPNU yang mengutuk keras pengakuan Amerika Serikat atas Jerusalem, Palestina sebagai Ibu Kota Israel, menggantikan Tel Aviv. Seluruh pemuda Indonesia pasti mengutuk tindakan tersebut," tegas Niam dalam sambutan di hadapan para pemuda kader-kader pelajar NU tersebut. (Anty Husnawati/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pondok Pesantren RMI NU Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Pesan Hadratussyaikh di Rapat Umum Muslimat NU 1939

Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU) menggelar Kongres ke-XVII di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa-Sabtu (23-27/11). Bila merunut ke belakang, kongres perdana organisasi kaum perempuan NU ini, baru dihitung mulai tahun 1946.

Namun, sebetulnya organisasi ini sudah bergeliat jauh sebelumnya, bahkan sejak Kongres (Muktamar) NU ke- XIII di Menes, Banten, 1938 dan berlanjut setahun berikutnya, di Kongres NU ke-XIV, tepatnya 5 Juli 1939 yang diadakan di Magelang.

Pesan Hadratussyaikh di Rapat Umum Muslimat NU 1939 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Hadratussyaikh di Rapat Umum Muslimat NU 1939 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Hadratussyaikh di Rapat Umum Muslimat NU 1939

Aboebakar Atjeh dalam buku Sejarah Hidup K.H.A Wahid Hasjim dan Karangan Tersiar (1957) menuliskan suasana Rapat Umum organisasi yang dulu masih bernama Nahdlatoel Oelama’ bagian Moeslimat (NOM), yang dilangsungkan pada Rabu, 5 Juli 1939 M / 17 Jumadil Ula 1358 H di Gedung Kongres NU ke-XIV di Magelang, sebagai berikut:

RMI NU Tegal

Pada jam 2 siang, gedung kongres dan halamannya penuh hadirin. Sesudah berkumpul… kemudian Rais Akbar HB NU bagian Syuriyah (KH Hasyim Asy’ari) memberikan nasihatnya tentang taat ibu terhadap bapak dan perlindungan kaum bapak kepada ibu. Kemudian diterangkannya kewajiban memberi pendidikan yang baik bagi anak-anak dengan sempurna. Lalu disambung nasihat dari KH Asnawi Kudus.

RMI NU Tegal

Satu jam setelah pidato para kiai tersebut, dimulailah rapat yang dipimpin Nyonya (Ny) Siti Djuasih Bandung. Rapat dihadiri beberapa perwakilan dari daerah, yang mayoritas berasal dari Jawa Tengah bagian Selatan (hal ini mengingat pelaksanaan Kongres di Magelang), antara lain :

1. NU Muslimat Muntilan, 2. NU Muslimat Sokaraja (bukan Sukoharjo,-red) Banyumas, 3. NU Muslimat Kroya, 4. NU Muslimat Wonosobo, 5. NU Muslimat Surakarta (Solo), 6. NU Muslimat Magelang, 7. Banatul Arabiah Magelang, 8. Zahratul Iman Magelang, 9. Islamiah Purworejo, 10. Aisiyah Purworejo, dan beberapa perwakilan pengurus Muslimat NU Bandung.

Lalu, dimulailah jalannya sidang. Ny Saudah dan Ny Gan Atang dari Bandung menerangkan kepentingan kaum ibu memasuki pergerakan NUM, serta buah nyata yang didapat dari organisasi tersebut.

Kemudian disusul pemaparan pandangan Ny Badriah (Wonosobo), Ny Sulimah (NUM Banyumas), Ny Istiqomah (Parakan), Ny Aiflah (Kroya). Hampir semua yang berbicara menekankan peran penting ibu dan NUM.

Hal ini juga termaktub dalam buku Verslag Kongres NU XIV hal 5-6 sbagai berikut : “Cita-cita hendak menjadikan kaum ibu kita menjadi ibu umat Islam di kemudian hari, tidak hanya menjadi cita-cita saja, sejak satu tahun yang lalu ini, di masing-masing cabang NU Bagian Muslimat, pokok yang dituju ialah menggalang kaum ibu kita menjadi ibu yang cakap mendidik dan mengasuh putra-putrinya supaya kelak menjadi putra da putrid Islam yang sejati, cakap, dan pandai srta brguna pula bagi umat dan masyarakat Islam.”

Pada akhirnya dari sekian pandangan yang disampaikan, muncullah sebuah usul : Supaya Muslimat di dalam NU dijadikan satu bagian yang dapat mengatur diri sendiri, artinya mempunyai pengurus, ketua, dan lainnya agar kaum ibu turut pula mengatur an mengorganisasi bagiannya, dan sungguh banyak soal perempuan yang tak dapat diselang oleh kaum laki-laki.

Sayangnya, suara terbanyak masih banyak yang menentang usul ini, dan kemudian diserahkan keputusan ini pada HB Bagian Syuriyah. Hal ini semakin diperberat dengan konstelasi social-politik yang berubah, ketika Jepang menjajah bangsa Indonesia. Cita-cita mulia kaum wanita NU ini mesti tertunda! ? (Ajie Najmuddin dikutip dari? Aboebakar Atjeh. 1957. Sejarah Hidup K.H.A Wahid Hasjim dan Karangan Tersiar)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pondok Pesantren RMI NU Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Haul Gus Dur Digelar 30 Desember

Jakarta, RMI NU Tegal. Peringatan setahun hari wafatnya (haul) yang pertama mantan Ketua Umum PBNU dan mantan Presiden Ri ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akan digelar pada Kamis malam, 30 Desember 2010 di kediamannya di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Dalam haul ini kata putri Gus Dur, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny), di Kalibata, Jakarta, Ahad (28/11), selain akan dihadiri oleh Wakil Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj dan para kiai NU yang lain, juga ada tokoh-tokoh nasional yang mendukung perjuangan Gus Dur selama ini.

Haul Gus Dur Digelar 30 Desember (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Gus Dur Digelar 30 Desember (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Gus Dur Digelar 30 Desember

Selain khataman Al-Quran, istighotsah, tahlilan pada haul tersebut juga akan ada sambutan dari kiai-kiai NU dan tokoh nasional yang hadir tersebut. Gus Dur wafat pada hari Rabu (30/12) pukul 18.45 Wib di RSCM Jakarta. Setelah disemayamkan di Ciganjur, deklarator dan pendiri PKB itu dimakamkan secara militer di Pesantren Tebuireng Jombang, Jatim.

RMI NU Tegal

Sementara itu menurut adik kandung Gus Dur, KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah), keluarga Tebuireng akan menggelar haul pada 18 Desember.  Dalam acara tersebut sejumlah tokoh nasional akan hadir. Seperti Ketua MK M. Mahfud MD dll juga akan menggelar Festival Barongsai di pesantren.

RMI NU Tegal

Namun demikian kata Gus Sholah yang juga mantan Ketua PBNU ini, acara haul Gus Dur ini akan digelar secara sederhana. Terlebih, acara itu juga terbuka bagi seluruh masyarakat. "Seluruh rakyat bisa datang dalam haul itu,"tutur Gus Sholah lagi.(amf)Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Humor Islam, Kajian Islam, Pondok Pesantren RMI NU Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

22 Ribu Santri Ikuti Liga Santri Nusantara 2017

Bandung, RMI NU Tegal

Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 yang mulai bergulir sejak akhir Agustus lalu diikuti sekitar 22 ribu santri dari 1048 pondok pesantren seluruh Indonesia. Mereka berkompetisi di dalam 32 region untuk mendapatkan tiket ke Seri Nasional.  

Manajer Kompetisi M. Kusnaeni mengatakan, partisipasi pesantren mengikuti Liga Santri Nusantara lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, antusiasme peserta sangat luas biasa.  

22 Ribu Santri Ikuti Liga Santri Nusantara 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
22 Ribu Santri Ikuti Liga Santri Nusantara 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

22 Ribu Santri Ikuti Liga Santri Nusantara 2017

Pada LSN tahun pertama, 2015, kompetisi diikuti 400 pondok pesantren. Tahun kedua meningkat dua kali lipat, yaitu 826 pondok pesantren, begitu juga di tahun ketiga.   

RMI NU Tegal

“Kita sampai menolak-nolak peserta,” kata Sekretaris RMINU Habib Soleh.

RMI NU Tegal

Di Jawa Timur, kata Wakil LSN tersebut,terdiri dari empat region. Sementara jumlah pesantrennya yang ingin mengikuti LSN sangat banyak. Untuk mensiasatinya, Panitia Regional membentuk Sub Region.

“Akhirnya di Jawa Timur sampai beberapa kabupaten membuat liga penyisihan untuk masuk ke Region, misalnya terjadi di Blitar, Tulungagung, Madiun, Magetan, Pacitan, Kediri, Trengalek. Begitu juga terjadi di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Riau.

Kini, LSN masuk ke Seri Nasional yang digelar di Kota Bandung, Jawa Barat. Hanya 32 tim yang lolos mewakili 32 region masing-masing. Mereka bertanding tiap hari sekali untuk lolos ke babak selanjutnya. Kemudian memperebutkan juara pertama LSN tahun ini pada grand final yang akan beralangsung di stadion Bandung Lautan Api (BLA). (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pertandingan, Pondok Pesantren, Ubudiyah RMI NU Tegal

Sabtu, 28 Oktober 2017

Kader Muda NU Solo Siap Deklarasikan Masyarakat Antihoax

Solo,? RMI NU Tegal

Semakin maraknya kabar bohong dan informasi yang tidak sesuai dengan fakta, atau yang lebih populer dengan istilah hoax, membuat sebagian kader muda NU di Solo, merasa perlu untuk membuat gerakan melawan hoax.



Kader Muda NU Solo Siap Deklarasikan Masyarakat Antihoax (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Muda NU Solo Siap Deklarasikan Masyarakat Antihoax (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Muda NU Solo Siap Deklarasikan Masyarakat Antihoax



“Rencananya tanggal 8 Januari, bersama pegiat antihoax Solo, kita akan ikut mendeklarasikan masyarakat antihoax,” terang salah satu panitia acara Irfan Nuruddin, kepada RMI NU Tegal, Senin (2/1).

?

RMI NU Tegal

Acara tersebut, akan menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Irfan Sutikno (praktisi branding), Solahudin Aly (Koordinator Tim Ansor Cyber Media Regional Jawa Tengah) dan Anas Syahirul Alim (Ketua PWI Surakarta).

?

Sementara itu, saat dihubungi RMI NU Tegal, Koordinator Tim Ansor Cyber Media Regional Jawa Tengah Solahudin Aly, jejaring antihoax ini perlu dibentuk untuk membendung peredaran kabar bohong, terutama yang mengandung konten radikalisme.?

RMI NU Tegal

“Basis pemikiran berinternet sehat dan menyadarkan digital literasi juga menjadi modal dalam mengurangi berita bohong atau? hoax? yang cepat tersebar,” terang Sholahudin.

Menurut Sekjen PW GP Ansor Jateng itu, tahun 2017 menjadi awal yang baik dalam menata konsolidasi melawan radikalisme yang sudah masuk ke dunia maya.

?

“Tantangan ke depan seperti apa? Kita sekarang hidup di dunia globalisasi, era masyarakat tanpa batas, tak bersekat,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Khutbah, Pondok Pesantren RMI NU Tegal

Minggu, 15 Oktober 2017

Penyatuan Shalat Tarawih Bukti Adanya Toleransi

Solo, RMI NU Tegal. Pelaksanaan tarawih perdana di Masjid Agung Solo, Selasa (9/7) malam kemarin, mengakhiri dualisme seperti yang terjadi pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Dulu, shalat tarawih dilaksanakan terpisah dua kelompok dalam waktu yang bersamaan. Namun pada shalat tarawih semalam, terlihat semua jamaah berkumpul menjadi satu di ruang utama.

“Kalau tahun-tahun sebelum memang ada dua salat tarawih di bagian utama masjid dan di serambi. Tapi untuk kali hanya akan ada satu salat tarawih saja, yaitu di ruang utama masjid,” terang Ketua Takmir Masjid Agung Surakarta, Slamet Abi.

Penyatuan Shalat Tarawih Bukti Adanya Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyatuan Shalat Tarawih Bukti Adanya Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Penyatuan Shalat Tarawih Bukti Adanya Toleransi

Ratusan jamaah yang mengikuti sholat dengan antusias mengikuti jumlah rakaat yang sudah ditetapkan, yakni 20 rakaat. Sang imam membaca al-Quran dari juz 1. “Ramadan tahun ini kami targetkan dalam shalat tarawih bisa mengkhatamkan Al Qur’an,” ungkap dia.

RMI NU Tegal

Tatkala sudah mencapai delapan rakaat, kemudian jamaah yang ingin 20 rakaat berhenti salat, sampai menunggu salat witir selesai dengan imam berbeda. Baru setelah itu dilanjutkan salat tarawih yang 20 rakaat dengan imam yang pertama.

“Memang agak bingung, tapi sebetulnya ini sudah pernah dilakukan tahun-tahun sebelumnya, jadi ini hanya mengembalikan dari awal,” imbuh Slamet.

RMI NU Tegal

Menyinggung penyatuan sholat tersebut, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta, Zaenal Arifin Adnan, menyebut bahwa perubahan itu merupakan sikap toleran terhadap perbedaan pendapat. "Meskipun, cara yang lama sebenarnya juga menunjukkan hal yang sama," terangnya.

Menurutnya, masjid sebesar Masjid Agung memang harus bisa mengakomodir semua kalangan yang memiliki perbedaan pendapat. "Masing-masing memiliki dasar dan dalil yang diyakini," kata Zaenal.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pondok Pesantren, News, Hikmah RMI NU Tegal

Jumat, 13 Oktober 2017

Shalat Tanpa Wudhu

Sudah seharusnya bahwa shalat selalui di dahului dengan wudhu. Karena wudhu merupakan salah satu cara bersuci dari hadats kecil. Dan kesucian adalah bagain dari syarat syah shalat yang harus dipenuhi bagi siapapun yang akan mendirikan shalat.

Hal ini berbeda dalam kasus shalat janazah (shalat yang diperuntukkan kepada mayyit sebelum dikubur), menurut pendapat para faqih minoritas seperti As-Syu’bi dan kelompoknya, boleh saja melaksanakan shalat jenazah tanpa berwudhu lebih dahulu. Karena bagi mereka shalat jenazah tidak dianggap sebagai shalat, tetapi hanya sebagai do’a (sebagaimana makna shalat itu sendiri). Dan juga tata cara pelaksaan shalat janazah yang dilakukan tanpa ruku’ dan sujud.

Demikian yang tersebut dalam Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd.

وشذ قوم فقالوا Ù? جوز Ø£Ù? Ù? صلى على الجÙ? ازة بغÙ? ر طهارة, وهو قول الشعبÙ? وهؤلاء ظÙ? وا Ø£Ù? اسم الصلاة لاÙ? تÙ? اول صلاة الجÙ? ازة, وإÙ? ما Ù? تÙ? اولها اسم الدعاء إذ كاÙ? Ù„Ù? س فÙ? ها ركوع ولاسجود

Shalat Tanpa Wudhu (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat Tanpa Wudhu (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat Tanpa Wudhu

?

Redaktur: Ulil Hadrawy.

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pondok Pesantren, Nusantara RMI NU Tegal

RMI NU Tegal

Rabu, 30 Agustus 2017

Selamat Datang Bulan Syaban 1437 H!

Jakarta, RMI NU Tegal

Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengeluarkan ikhbar bahwa 1 Syaban 1437 H jatuh pada 8 Mei 2016. Ketetapan ini berdasarkan hasil observasi tim rukyat Lembaga Falakiyah NU yang berhasil melihat hilal dari sejumlah daerah, Sabtu (7/5) petang.

Selamat Datang Bulan Syaban 1437 H! (Sumber Gambar : Nu Online)
Selamat Datang Bulan Syaban 1437 H! (Sumber Gambar : Nu Online)

Selamat Datang Bulan Syaban 1437 H!

Bulan sabit tanda awal bulan di antaranya berhasil dilihat di Bukit Condrodipo, Gresik, Jawa Timur oleh Ustadz Muchyiddin Hasan (36) dan Sholahuddin (48) dari LFNU Kabupaten Gresik pada pukul 17:39 WIB dengan ketinggian 4 derajat 02 16"; Syamsul Maarif (34) dari LFNU Kabupaten Mojokerto pada pukul 17:45 WIB dengan irtifa 2 derajat 42 18"; dan Syamsul Fuad (47) pada pkul 17:46 WIB. Hilal juga terlihat di Pelabuhan Ratu Sukabumi, Jawa Barat. Saksinya adalah KH M Yahya dari Sukabumi pada pukul 17:48 WIB di ketinggian 748.

Ketua Lembaga Falakiyah PBNU KH A Ghazalie Masroeri mengucapkan terima kasih kepada Nahdliyin dari berbagai daerah dalam pelaksanaan rukyat kali ini. Atas hasil pantauan hilal tersebut, Ahad ini, atau persisnya sejak malam Ahad, Syaban sudah mulai menapaki hari pertama.

RMI NU Tegal

Syaban merupakan bulan kedelapan dalam kalender hijriah. Sya’ban berasal dari kata syiab yang artinya jalan di atas gunung. Bulan ini menjadi jalan umat Islam untuk kian mempersiapkan diri menghadapi bulan paling istimewa sesudahnya, yakni Ramadlan. Marhaban ya syahra Syabana. Selamat datang, wahai bulan Syaban! (Mahbib)

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pondok Pesantren, Nusantara, Kajian Sunnah RMI NU Tegal

Minggu, 27 Agustus 2017

Peringati Hari Santri, UNIRA Malang Hadirkan Dubes Ceko

Malang, RMI NU Tegal



Santri-santri di perguruan tinggi harus inovatif dalam ide-ide dan karya. Santri-santri milenial di pelbagai kampus haruslah siap menyerap pengetahuan dari pelbagai negara. Sebagai dosen, peneliti maupun mahasiswa, santri-santri zaman sekarang harus energik dan aktif mengimprovisasi pengetahuan.

Semangat dan inovasi bagi Santri Milenial inilah yang menjadi pesan Rektor UNIRA Malang, Hasan Abadi dalam "Peringatan Hari Santri, Kuliah Umum dan Leader Talks" di Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang, Jawa Timur, Selasa (10/10). UNIRA Malang merupakan kampus yang tergabung dalam kampus-kampus Nahdlatul Ulama, yang dikoordinasi Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU). 

Peringati Hari Santri, UNIRA Malang Hadirkan Dubes Ceko (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Santri, UNIRA Malang Hadirkan Dubes Ceko (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Santri, UNIRA Malang Hadirkan Dubes Ceko

Hadir dalam agenda ini, Dubes Ceko Ivan Hotek, Wakil Bupati Malang, H. Sanusi, Rektor UNIRA Malang, Hasan Abadi, jajaran SKPD Malang Raya, dosen-dosen dari beberapa universitas dan aktivis-aktivis NGO.

Dubes Ceko Ivan Hotek mengungkapkan pentingnya inovasi riset dan kerja sama dari pelbagai institusi. "Negara kami sedang gencar meningkatkan kerja sama dengan pelbagai negara, institusi dan lembaga akademik. Potensi-potensi dari negara kami dapat menjadi pelajaran berharga, begitu juga potensi dari Indonesia," ungkap Hotek. 

RMI NU Tegal

Melalui ceramahnya, Ivan Hotek menegaskan ketertarikannya pada bidang pariwisata, terutama Halal Tourism dan juga sektor energi terbarukan. "Dalam waktu dekat, kami bersama negara-negara di kawasan Eropa Tengah, akan menyelenggarakan Expo Tourism di Jakarta. Kami berharap tidak hanya terselenggara di Jakarta, tapi juga menjangkau kawasan-kawasan lain," terangnya. 

Dubes Ceko juga siap membuka pintu kerja sama di bidang riset dan pendidikan untuk perguruan tinggi di Indonesia. "Kami siap membuka dan menjadi perantara untuk kampus-kampus di Indonesia. UNIRA Malang atau kampus lain, silakan bekerja sama untuk pengembangan riset," jelas Hotek. 

Dalam penjelasannya, Hotek juga telah menjalin kerja sama dengan pemerintah Kota Batu dan Kabupaten Malang. Kerja sama Government to Government (G2G) ini dalam bidang wisata, agribisnis dan sektor pengembangan ekonomi.

RMI NU Tegal

Rektor UNIRA Malang, Hasan Abadi mengungkapkan pentingnya inovasi dalam bidang riset dan kerjasama kelembagaan. "Kami sangat serius menyiapkan sumber daya dan menjalin kerja sama untuk inovasi pendidikan. Dalam waktu dekat, kami merancang program untuk riset dan vising lecturer di Ceko, dan begitu juga sebaliknya dengan perguruan tinggi dari sana," ungkap Hasan. 

"Saya ingin agar santri-santri yang kuliah di UNIRA Malang maupun perguruan tinggi di bawah naungan NU maupun pesantren dapat terus meningkatkan level pengetahuan, dengan riset-riset kreatif dan inovasi di bidang teknologi. Inilah semangat sekaligus tantangan bagi santri milenial," jelas Hasan. 

UNIRA Malang selama ini konsisten dalam pengembangan akademik kampus, juga dalam isu perdamaian. Untuk mendorong mahasiswa sebagai aktifis perdamaian dan diplomasi kemanusiaan, UNIRA membuka kelas Peace Education untuk Kuliah Pascasarjana. 

Saat ini, UNIRA Malang juga mengembangkan kampus II di Palaan, Kabupaten Malang. Diharapkan, kampus ini menjadi Laboratorium Peace Education untuk para aktifis dan akademisi mendalami kajian-kajian perdamaian serta merancang inisiasi moderatisme melalui perdamaian di berbagai kawasan. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pondok Pesantren, Budaya RMI NU Tegal

Rabu, 23 Agustus 2017

Menristek Dikti: Partisipasi Perempuan Masih Rendah

Surabaya, RMI NU Tegal. Sejumlah Menteri Kabinet Kerja Republik Indonesia menghadiri Kongres Fatayat NU ke-15 di Asrama Haji Sukolilo. Salah satunya adalah Menteri Ristek dan Dikti, Muhammad Nasir. Ia yang tampil bersama Menteri Pemuda dan Olah Raga, Imam Nahrawi, memaparkan rendahnya partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Di hadapan peserta kongres, mantan ? Rektor Universitas Diponegoro Semarang ini memaparkan masih rendahnya pemberdayaan perempuan dan partisipasinya dalam kehidupan masyarakat. Saat ini, katanya, jumlah penduduk perempuan Indonesia sekitar 127 juta.?

Menristek Dikti: Partisipasi Perempuan Masih Rendah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menristek Dikti: Partisipasi Perempuan Masih Rendah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menristek Dikti: Partisipasi Perempuan Masih Rendah

"Tapi kalau dilihat dari sisi kesempatan pemberdayaannya masih rendah," ucapnya, Sabtu (19/9) malam.

RMI NU Tegal

Sebagai indikator, Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) ini menjelaskan masih banyaknya jumlah wanita buta huruf, melebihi penduduk pria. Jumlah wanita buta huruf terbanyak pertama ada di Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah terbanyak kedua, dan Jawa Timur menempati urutan keempat.?

"Yang juga masih rendah tingkat partisipasi wanita di parlemen hanya 18 persen," tambahnya.

RMI NU Tegal

Pada kesempatan tersebut M Nasir juga menyampaikan kepada para Fatayat NU agar bisa memanfaatkan program pemerintah dengan sebaik-baiknya.

"Di kementerian kami, ada banyak program beasiswa yang bisa dimanfaatkan bagi ibu-ibu atau para pemudi Fatayat NU," tandasnya. Saya akan dukung Fatayat NU untuk terus mengembangkan dunia pendidikan, lanjutnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Umum PP Fatayat NU demisioner Ida Fauziyah mengakui indeks partisipasi wanita Indonesia masih rendah. Di parlemen, misalnya, hanya 18 persen saja dari 30 persen yang diharapkan. Menurutnya, problem utama adalah masih rendahnya pendidikan kaum hawa yang berpengaruh pada pembentukan mental perempuan agar berada di posisi sama dengan laki-laki.?

"Karena itu pemberdayaan pendidikan jadi prioritas Fatayat NU," ucapnya. (Ibnu Nawawi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sejarah, Pondok Pesantren RMI NU Tegal

Kamis, 17 Agustus 2017

Kader Muslimat NU Pimpin GOW Brebes

Brebes, RMI NU Tegal. Wakil Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Brebes, Jawa Tengah Hj Aqilatul Munawaroh memimpin Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Brebes periode 2016-2018. Bersama pengurus lainnya, dia dilantik Bupati Brebes Hj Idza Priyanti bertepatan dengan Hari Kartini 21 April lalu di Pendopo Bupati Brebes.

Dalam programnya, ia bertekad akan membawa perempuan Brebes semakin beradab dan berkualitas dan tidak gampang menyerah dalam menghadapi tantangan jaman. “Perempuan itu, memiliki kekuatan yang luar biasa. Hanya saja penampilannya halus dan lembut sehingga tidak kentara,” kata mantan anggota DPRD Jawa Tengah 1992-1999 saat ditemui di Kantor GOW Jalan Ahmad Yani Brebes, Jumat (29/4).

Kader Muslimat NU Pimpin GOW Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Muslimat NU Pimpin GOW Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Muslimat NU Pimpin GOW Brebes

Dan wanita akan menjadi lebih kuat, kata alumni Magister Pendidikan UNNES Semarang ini, setelah organisasi-organisasi wanita ini terhimpun dalam GOW. Dan kekuatan tersebut akan disinergikan dengan Pemerintah Kabupaten Brebes dalam melaksanakan program-programnya. Sehingga akan menjadi kekuatan pembangunan yang luar biasa.

RMI NU Tegal

Sebagaimana kodratnya, kalau wanita itu pada dasarnya adalah tiang negara. Kalau wanitanya kuat maka Negara akan kuat, begitu pula sebaliknya. “Ormas wanita yang tergabung dalam GOW Kabupaten Brebes harus menjadi pilar penyangga pembangunan Brebes,” kata wanita kelahiran Brebes 03 September 1965 ini.

Peraih penghargaan Women International Award 1999 Kharisma Indonesia ini juga akan menguatkan kelembagaan dan melengkapi berbagai sarana dan prasarana gedung GOW agar lebih representatif.

RMI NU Tegal

Memimpin sebuah organisasi, bukan barang baru bagi Aqilah. Ia  pernah menjabat Ketua IPPNU Purwokerto (1984-1987), Ketua PMII Purwokerto (1984-1989), Ketua Fatayat NU Purwokerto (1987-1990), Ketua PC Muslimat NU Brebes.

Aqilah dibantu sekretaris GOW yang diemban Hj Muticho dan Bendahara dipercayakan kepada Hj Kristianti, serta dilengkapi dengan seksi Organisasi, Pendidikan dan Kebudayaan, Kesejahteraan Sosial, Humas, Usaha dan Ekonomi.

Pengurus dilantik Bupati Brebes dengan mengucapkan ikrar pengurus. Dalam sambutannya Hj Idza Priyanti mengajak kepada seluruh pengurus GOW untuk bersama-sama membangun Brebes. Karena pembangunan tidak hanya fisik tetapi juga nonfisik.

Seperti pembangunan sumber daya wanita juga menjadi perhatian penuh dari Pemkab Brebes. Tiada lain untuk meningkatkan derajat kaum hawa, termasuk peningkatan ilmu pengetahuan, ekonomi keluarga, dan juga keharmonisan keluarga. Pendidikan prakeluarga, keluarga, pendidikan anak-anak sebagai tunas bangsa, juga mendapatkan perhatian. Sehingga perempuan memiliki daya saing yang tangguh dalam menghadapi tantangan masa depan.

“Saat ini kita telah dihadapkan pada MEA, yang tentunya perlu daya saing yang tinggi dari kaum Ibu, sebagai penjaga kualitas keluarga,” tandas Idza. (wasdiun/abdullah alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pondok Pesantren, PonPes RMI NU Tegal

Minggu, 13 Agustus 2017

PBNU Apresiasi Pembentukan Panel Penutupan Situs Radikal

Jakarta, RMI NU Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengapresiasi langkah pemerintah yang membentuk Panel Terorisme, SARA dan Kebencian yang nantinya akan memberi rekomendasi situs apa saja yang layak ditutup. ? Jika kelompok agama dilibatkan dalam panel ini, maka akan mengurangi potensi kontroversi situs yang akan ditutup.

PBNU Apresiasi Pembentukan Panel Penutupan Situs Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Apresiasi Pembentukan Panel Penutupan Situs Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Apresiasi Pembentukan Panel Penutupan Situs Radikal

“Bagus itu, dan saya kira mereka yang ada dalam panel tersebut sudah memiiki pandangan yang sama baik dalam hal agama maupun paham kebangsaan,” jelasanya di gedung PBNU, Rabu.?

Ia meminta situs-situs Islam tidak hanya berbicara dakwah tentang Islam, tetapi juga pentingnya penguatan NKRI. “Kalau mengkapanyekan ISIS, negara Islam, khilafah, itu sudah keluar dari komitmen kebangsaan kita. Ini sudah radikal,” jelasnya.?

RMI NU Tegal

Ia tidak mempermasalahkan adanya perdebatan masalah khilafiyah di internet seperti masalah doa qunut, hisab, rukyat dan lainnya asal dilakukan dengan menjaga etika. ? “Debat harus dilakukan dengan ilmiah, tapi jangan caci maki. Kalau ada dasar ilmiahnya saja monggo,” tegasnya.

RMI NU Tegal

Kiai Said yang juga ketua Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) menjelaskan, diantara anggota LPOI sendiri memiliki berbagai pandangan, tetapi hal tersebut tidak pernah dibicarakan dalam rapat. Pertemuan selalu membahas masalah prinsip seperti keadaan umat Islam internasional, narkoba, korupsi, dan lainnya.?

Berikut anggota panel ? Terorisme, SARA dan Kebencian

1. Ketua Dewan Pers

2. Din Syamsuddin (Muhammadiyah)

3. Marsudi Syuhud (PBNU)

4. Ignatius Suharyo (Uskup Agung)

5. Henriette Lebang (PGI)

6. Alim Sudio (Walubi)

7. Arsana (Parisadha Hindu Dharma Indonesia)

8. Tjipta Lesmana (Akademisi)

9. Uung Cendana (Matakin)

10. Thamrin Amal Tamagola (Sosiolog)

11. Arief Muliawan (Kejaksaan)

12. Asdep Koordinasi Telekomunikasi dan Informatika Kemenkopolhukam

12. Direktur Keamanan Informasi Ditjen Aptika

14. Shita Laksmi

15. Irwin Day (Nawala)

16. Asep Saefullah (AJI)

17. Sonny Hendra (Ditjen Aptika)

(mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pondok Pesantren, Meme Islam, Kyai RMI NU Tegal

Sabtu, 22 Juli 2017

Kiai Masdar: Khotbah Jum‘at Jangan Lama

Jakarta, RMI NU Tegal. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas‘udi mengingatkan para khotib untuk memerhatikan rambu-rambu khotbah. Kiai Masdar menyayangkan para khotib di sejumlah masjid yang terlalu lama menyampaikan materi taushiyah di atas mimbar.

“Padahal adab Rasulullah SAW dan salafus saleh selalu mempersingkat khotbah dan memanjangkan sembahyang,” kata Kiai Masdar kepada RMI NU Tegal di ruang Syuriyah PBNU, Jakarta, Rabu (21/1) sore.

Kiai Masdar: Khotbah Jum‘at Jangan Lama (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Masdar: Khotbah Jum‘at Jangan Lama (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Masdar: Khotbah Jum‘at Jangan Lama

Pengurus masjid dalam hal ini memiliki peran penting mengatur durasi khotbah. Mereka berhak mengingatkan khotib untuk membatasi durasi khotbah.

RMI NU Tegal

“Pesan ini harus diulang-ulang pengurus masjid kepada para khotib. Pasalnya, khotbah kelamaan ini menjadi bagian dari ukuran adab khotib.”

RMI NU Tegal

Mereka juga berhak meminta khotib untuk menyampaikan materi tertentu sesuai kebutuhan umat. Terutama sekali, para khotib tidak boleh menyampaikan isu-isu yang menyinggung atau menyindir pihak manapun, pungkas Kiai Masdar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pondok Pesantren, Kajian Islam RMI NU Tegal

Senin, 19 Juni 2017

Pesantren Perlu Masukkan Kurikulum “Tijariah”

Sukabumi, RMI NU Tegal . Sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam tradisional, pesantren terkait erat dengan berdirinya Nahdaltul Ulama (NU) sebagai sebuah organisasi sosial keagamaan di Indonesia. Salah satu unsur terbentuknya NU adalah karena perhatian para ulama tempo dulu terhadap kondisi perekonomian umat. Dalam sejarahnya sebelum NU terbentuk, lebih dulu diawali dengan munculnya gerakan Nahdhat al-Tujjar (kebangkitan pedagang). Untuk mengantisipasi perkembangan zaman dan tantangan globalisasi, kini, pesantren perlu memasukkan dan mengembangkan kurikulum ”tijariah” .



Pesantren Perlu Masukkan Kurikulum “Tijariah” (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Perlu Masukkan Kurikulum “Tijariah” (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Perlu Masukkan Kurikulum “Tijariah”

Pernyataan tersebut diungkapkann Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sukabumi, KH. Abdul Basyid saat membuka sebuah seminar tentang manajemen pendidikan pondok pesantren di Pondok Pesantren Al-Amin, Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (25/08).

Lebih lanjut, KH. Abdul Basyid yang juga Pengasuh Pesantren Al-Amin ini mengungkapkan bahwa lulusan pesantren sangat beragam.

RMI NU Tegal

” Tidak semua lulusan pesantren nantinya menjadi kiai dan ustadz. Jika orangtuanya tidak memiliki pesantren atau majelis taklim maka santri tadi ’lari’ ke bidang perdagangan yang kompetisinya sangat ketat di masyarakat. Maka perlu kiranya pesantren mempersiapkan santrinya mempunyai skill yang matang dalam bidang ekonomi,” terangnya di hadapan 60 peserta yang berasal dari pesantren-pesantren se-kebupaten Sukabumi.

Panitia pelaksana seminar, H Wildan Fadila, menjelaskan bahwa seminar ini merupakan kelanjutan program pengiriman kepala/wakil kepala sekolah NU di Universitas Leeds, Inggris. Seminar ini terlaksana berkat kerjasama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan British Embassy Jakarta.

RMI NU Tegal

Seminar ini juga menghadirkan pembicara dari Kepala Bidang Pekapontren Kanwil Depag Provinsi Jawa Barat, Drs H Sukanda Hidayat MM, Alumnus Program Pelatihan Singkat Manajemen Pendidikan, Universitas Leeds, Mulya Rahayu, LC, Dosen Pasca Sarjana Institut Manajemen Jakarta, Ir. Deni Kahyantini Dewi MM. Seminar juga dihadiri alumnus Universitas Leeds, Abdul Qadir Jailany, yang juga praktisi pendidikan di kota Jambi.

Sukandar memaparkan, Depag berusaha meningkatkan pesantren agar lebih maju dengan membuka kesempatan santri untuk memasuki universitas terkemuka di Indonesia seperti UI, UGM, ITS dan ITB. ” Setelah dua tahun program ini berjalan, ternyata lulusan pesantren mampu bersaing dengan lulusan di luar pesantren. Artinya persantren mempunyai kekuatan dan potensi,” ujar Sukandar. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pondok Pesantren, Nahdlatul RMI NU Tegal

Senin, 05 Juni 2017

Keutamaan Memperbanyak Tahlil di Bulan Dzulhijjah

Dikisahkan dalam sebuah hadits riwayat Imam ath-Thabrani bahwa suatu ketika Nabiyullah Musa alaihis salam sempat mengadu kepada Allah:

"Wahai Tuhanku, aku telah berdoa. Namun mengapa engkau enggan mengabulkannya? Maka kiranya Engkau sudi mengajariku, yang dengannya aku dapat berdoa memohon kepada-Mu ya Allah," rintih Nabi Musa.

Keutamaan Memperbanyak Tahlil di Bulan Dzulhijjah (Sumber Gambar : Nu Online)
Keutamaan Memperbanyak Tahlil di Bulan Dzulhijjah (Sumber Gambar : Nu Online)

Keutamaan Memperbanyak Tahlil di Bulan Dzulhijjah

Allah kemudian mewahyukan kepada Nabi Musa tentang sebuah kabar yang berkata:

RMI NU Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?

RMI NU Tegal

”Wahai Musa jika telah masuk sepuluh hari Bulan Dzulhijjah. katakanlah lâ ilâha illallâh, Maka akan Aku kabulkan keinginanmu."

Lalu sang nabi berkata kepada Allah:

"Wahai Allah, seluruh hambamu akan melafalkannya."

Lalu Allah memberikan kabar gembira kembali lewat lanjutan wahyu-Nya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?

"Wahai Musa barangsiapa yang berkata lâ ilâha illallâh dalam hari-hari ini (sepuluh hari bulan Dzulhijjah) sekali saja. Andai saja ketujuh langit dan ketujuh bumi diletakkan di atas satu telapak timbangan amal, sedangkan kalimat tahlil tersebut diletakkan di atas telapak timbangan yang lain, sungguh, (kalimat tahlil) itu lebih berat dan lebih uggul dibanding ketujuh langit dan bumi seisinya."

Subhanallah! Betapa besar keutamaan membaca tahlil dalam sepuluh hari bulan Dzulhijjah berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani ini. Hingga membaca tahlil meskipun hanya sekali saja, lebih berharga di mata Allah dibanding ketujuh langit dan bumi beserta isinya.  (Ulin Nuha Karim)

Disarikan dari kitab "Risalah Dhiyaul Budur fi Fadhaili Syuhur" karya ulama Nusantara, Syaikh Muhammad Yasin dari Kauman Solo Jawa Tengah.



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pondok Pesantren RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock