Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Sikap Keluarga Gus Dur Terkait Kontroversi Pernyataan Prabowo

Jakarta, RMI NU Tegal. Keluarga KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akhirnya mengeluarkan pernyataan sikap terkait kontroversi pernyataan Prabowo Subianto yang dinilai merendahkan Gus Dur dalam satu wawancara dengan wartawan asing Allan Nairn pada 2001 silam dan telah beredar luas. Berikut pernyataan sikap yang disampaikan oleh istri Gus Dur Hj. Sinta Nuriyah A. Wahid, beserta keempat puterinya. (Red:Anam)

?

Sikap Keluarga Gus Dur Terkait Kontroversi Pernyataan Prabowo (Sumber Gambar : Nu Online)
Sikap Keluarga Gus Dur Terkait Kontroversi Pernyataan Prabowo (Sumber Gambar : Nu Online)

Sikap Keluarga Gus Dur Terkait Kontroversi Pernyataan Prabowo

SIKAP KELUARGA KH ABDURRAHMAN WAHID

MENGENAI KONTROVERSI WAWANCARA BP. PRABOWO SUBIANTO

YANG DIANGGAP HINA GUS DUR

RMI NU Tegal

?

PERNYATAAN PERS

?

RMI NU Tegal

Beberapa waktu terakhir ini, media massa ramai memberitakan komentar mengenai KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang disebut-sebut telah dilontarkan oleh Bapak Prabowo Subianto dalam wawancara oleh Sdr. Allan Nairn pada tahun 2001.

Pernyataan ini menjadi sebuah kontroversi publik, utamanya karena muncul di dalam suasana bangsa Indonesia yang sangat dinamis pada proses puncak perhelatan demokrasi di Indonesia, yaitu Pemilihan Presiden 2014.

Sehubungan dengan situasi tersebut:

Keluarga Gus Dur telah berjumpa dan berdiskusi dengan Sdr. Allan Nairn selaku pewawancara dan penulis artikel, untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap mengenai konteks komentar mengenai Gus Dur dalam wawancara tersebut. Dari pertemuan ini kami menyimpulkan bahwa komentar tersebut diutarakan dalam pembahasan mengenai tidak siapnya bangsa Indonesia terhadap demokrasi di negara ini. Berlandaskan prinsip keadilan, dan demi menjaga agar situasi ini tidak berkembang menjadi fitnah publik berkepanjangan, kami membuka komunikasi dan mengharapkan klarifikasi dari Bapak Prabowo Subianto mengenai pernyataan yang sudah menjadi polemik publik ini. Apabila pernyataan Bapak Prabowo Subianto dalam wawancara tersebut benar adanya, walaupun dilontarkan dalam konteks pembahasan mengenai demokrasi di Indonesia, maka kami sangat menyesalkan pernyataan tersebut. Sebagai tokoh nasional, kami berharap Bapak Prabowo mampu meneladankan sikap non-diskriminatif kepada siapapun warga bangsa tanpa menilik perbedaan fisik. Begitu pun sikap menghormati pemimpin bangsa yang terpilih oleh rakyat melalui mekanisme demokratis, siapapun ia.? Pernyataan bernada merendahkan terhadap Gus Dur tersebut menjadi kontras dengan masifnya penggunaan figur Gus Dur dalam kampanye yang dilakukan oleh pendukung Bapak Prabowo Subianto selama ini di seluruh penjuru Indonesia. Para pecinta Gus Dur dan sebagian besar masyarakat Indonesia lainnya telah mendesak kami untuk mencapai sikap dan penyelesaian akhir dalam merespons persoalan ini. Kami meminta masyarakat untuk menahan diri dari sikap emosional dan reaktif terhadap persoalan ini, mengingat persoalan sensitif ini muncul dalam suasana puncak kampanye Pemilihan Presiden 2014. Kita seyogyanya mengedepankan prinsip dialog untuk menggali kebenaran, sebagaimana selalu diteladankan oleh guru kita Al-Maghfurlah Gus Dur. Demikian pernyataan keluarga KH Abdurrahman Wahid dalam mensikapi kontroversi yang berkembang terkait pernyataan dari Bapak Prabowo Subianto pada tahun 2001 mengenai ayahanda kami Gus Dur.

Semoga peristiwa ini menjadi bahan pelajaran bagi kita semua untuk selalu menjaga sikap ksatrya dan menghargai perbedaan pandangan tanpa bersikap merendahkan orang lain.

?

Jakarta, 5 Juli 2014

Atas nama keluarga KH Abdurrahman Wahid

?

Hj. Sinta Nuriyah A. Wahid

Alissa Qotrunnada Munawaroh (Alissa Wahid)

Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid)

Anita Hayatunnufus (Anita Wahid)

Inayah Wulandari (Inayah Wahid)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax, Internasional RMI NU Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

Penjaga Cahaya Religiusitas di Ibukota Jakarta

Jakarta sebagai ibukota Indonesia identik dengan kehidupan metropolitan yang gemerlap dan hedonis. Tetapi cahaya pendidikan keagamaan masih bersinar di beberapa tempat, salah satunya di Pesantren Assidiqiyah Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Pesantren ini juga masih mempertahankan beberapa tradisi pengajian salaf, disamping pengajaran dari kurikulum resmi pemerintah. 

Pada awalnya, Kiai Nur Iskandar sendiri agak ragu ketika pertama kali ingin mendirikan pesantren di lokasi tersebut. Awalnya, sebagai santri Pesantren Lirboyo, ia diminta oleh KH Mahrus Ali, pengasuh Lirboyo untuk mendirikan pesantren di Jakarta, tetapi ia belum berani memutuskan. Bahkan ketika ada seseorang yang berniat memberi tanah wakaf, ia pun masih ragu. Isyarat datang ketika berangkat haji ke Makkah, ia diminta oleh seorang asing untuk mengaji. Awalnya Kiai Nur menolak karena merasa masih muda padahal disitu ada beberapa kiai senior seperti KH As’ad Syamsul Arifin, KH Subakir, dan Kiai Muhtar Syafaat. Oleh beberapa kiai tersebut, permintaan orang asing tersebut dimaknai sebagai perintah untuk mendirikan pesantren. 

Penjaga Cahaya Religiusitas di Ibukota Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Penjaga Cahaya Religiusitas di Ibukota Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Penjaga Cahaya Religiusitas di Ibukota Jakarta

Setibanyak di Jakarta, langsung saja, tanah wakaf tersebut di terima dan dibangun masjid. Tahun 1985 resmi dibuka pesantren. Dari satu-dua santri, akhirnya pesantrennya terus berkembang sehingga tanah di sekitar masjid tersebut dibeli untuk perluasan pesantren. Bukan hanya di Kebun Jeruk saja, bahkan kini Assidiqiyah sudah memiliki cabang di delapan lokasi di seluruh Indonesia seperti di Batu Ceper, Puncak Cianjur, Palembang, Lampung, dan lainnya.

RMI NU Tegal

Muhammad Riza Azizi, pengasuh pesantren Assidiqiyah di kawasan Puncak Cianjur yang ditemui di Assidiqiyah Kebun Jeruk menjelaskan, beberapa tradisi pesantren salaf masih dipertahankan seperti ngaji sorogan. Beberapa kitab kuning juga masih diajarkan seperti Jurumiyah, Imriti, Tafsir Jalalain, Taklimul Mutaallin, dan beberapa lainnya.   

Para santri memiliki jadual yang sangat padat. Dari papan pengumuman yang dipasang di salah satu area pesantren, pada jam 03.30 santri sudah harus bangun untuk shalat tahajjud dan istighotsah. Setelah shalat Subuh, jadual pelajaran bahasa Arab atau Inggris sudah menunggu dalam bentuk small group atau pelajaran di kelas. Sekolah formal berlangsung sampai 12.30 dan pada pukul 16.00-17.30 santri harus mengikuti Madrasah Diniyah. Malam hari, mereka masih harus belajar Al-Qur’an, Tafsir Jalalain, dan belajar mandiri. Baru pukul 22.00 mereka bisa istirahat.

Di Assidiqiyah Kebon Jeruk, jumlah santri sekitar 800 yang belajar di tingkat SMP, Aliyah dan Ma’had Ali. Selain adanya kajian agama yang lengkap, menurut Riza Azizi, biaya yang murah juga menjadi faktor wali santri mengirimkan anaknya ke pesantren ini. Dalam satu bulan, orang tua hanya perlu membayar 900 ribu yang sudah meliputi biaya makan tiga kali, sekolah dan fasilitas asrama dengan ranjang tidur. Untuk ukuran Jakarta, biaya tersebut cukup murah, apalagi jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah swasta yang bayarannya saja bisa diatas satu juta. 

RMI NU Tegal

Jika digabungkan dengan cabang-cabangnya, jumlah total santri lebih dari 3.000. Kebijakan kurikulum masing-masing pesantren ada yang terstandarisasi dari pusat seperti pembelajaran Qur’an dengan metode Yambu’a sedangkan hal lainnya, masing-masing cabang diizinkan melakukan inovasi karena masing-masing kondisinya berbeda, baik kemampuan masyarakat maupun tenaga pengajarnya. 

Sementara itu, para santri berasal dari jaringan alumni dan ketokohan pengaruh pesantren, khususnya Kiai Nur Iskandar yang sudah berkiprah di dunia dakwah lebih dari 30 tahun. Beberapa alumni juga menjadi dai populer seperti Ustadz Solmet, Ustadz Fikri Haikal, Ustadz Anwar Pandeglang dan lainnya. Mereka turut mempromosikan pesantren Assidiqiyah ke masyarakat. Keberadaan para alumni yang menjadi dai tersebut menunjukkan apa yang diajarkan di pesantren ini bisa diteruskan ke masyarakat melalui para alumni. Juga mengharumkan nama pesantren atas keberhasilannya dalam mendidik mereka. 

Mengingat biaya operasional yang mahal, pesantren memiliki sejumlah unit usaha seperti SQ Mart dengan motto “Dari santri, oleh santri, untuk santri.” Keuntungan dari unit usaha ini kembali ke kas pesantren untuk kebutuhan sehari-hari. 

Program Ma’had Ali merupakan program tiga tahun yang setara dengan D3. Pesantren mendorong mereka untuk melanjutkan ke S1 karena juga sudah ada STAI di Karawang. Para mahasantri bisa mengkonversi kuliahnya dan tinggal menambah satu tahun untuk menambah kekurangan mata kuliah dan menulis skripsi.

Untuk pelajar SMP-Aliyah, mereka juga memiliki beberapa kegiatan seperti drumband, tata bonga, hadrah dan marawis. 

Ditengah persaingan ketat berbagai lembaga pendidikan, pesantren Assidiqiyah terus mampu menjaga eksistensinya, menjaga cahaya religiusitas di ibukota Jakarta. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax RMI NU Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Ribuan Warga Jatim Ikuti Napak Tilas KH Nawawi, Pejuang Kemerdekaan

Sidoarjo, RMI NU Tegal. Ribuan warga Sidoarjo dan Mojokerto, mengikuti napak tilas memperingati gugurnya pejuang syuhada kemerdekaan KH Nawawi, Sabtu (7/11) malam. Start napak tilas dimulai dari dusun Sumantoro desa Plumbungan Sukodono Sidoarjo menuju pesantren An-Nawawi di Kota Mojokerto.

Ribuan Warga Jatim Ikuti Napak Tilas KH Nawawi, Pejuang Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Jatim Ikuti Napak Tilas KH Nawawi, Pejuang Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Jatim Ikuti Napak Tilas KH Nawawi, Pejuang Kemerdekaan

Sebelum peserta napak tilas diberangkatkan, salah satu anggota Banser Sooko Mojokerto melakukan aksi teaterikal yang mengkisahkan gugurnya perjuangan KH Nawawi. Dalam teaterikal digambarkan bahwa KH Nawawi yang kebal dengan peluru tembak itu akhirnya gugur dengan empat luka tusukan pisau bayonet tentara Belanda tepat di lehernya.

Kemudian, di Dusun Sumantoro Desa Plumbungan tempat gugurnya itu akhirnya dibangunlah monumen KH Nawawi pada tanggal 22 Agustus 1946.

RMI NU Tegal

Pelaksana Jabatan (PJ) Bupati Sidoarjo Jonathan Judyanto menuturkan, kegiatan napak tilas merupakan bentuk atau bukti bahwa generasi penerus bangsa dalam menghargai jasa para pahlawannya. Dirinya berharap agar tradisi seperti ini terus dikembangkan dan dilestarikan.

RMI NU Tegal

"Sebagai generasi penerus bangsa harus melaksanakan dan terus mendharmabaktikan hidup sebagaimana yang telah dibuktikan oleh leluhur kita dalam membangun bangsa Indonesia," tuturnya.

Ketua DPRD Sidoarjo H Sulamul Hadi Nurmawan menyatakan, napak tilas bukan sekadar dimaknai dengan berjalan kaki menuju tempat dimakankannya KH Nawawi di Mojokerto. Tetapi untuk mengenang dan merasakan perjuangan KH Nawawi dalam mengusir penjajah.

"Semoga kita bisa meniru dan merasakan perjuangan beliau dalam melawan penjajah," ucap Gus Wawan yang juga pernah menjadi Ketua IPNU Jawa Timur ini.

Dalam acara tersebut, nampak hadir PJ Bupati Sidoarjo Jonathan Judyanto, Ketua DPRD Sidoarjo H Sulamul Hadi Nurmawan, Cicit KH Nawawi yang juga sebagai anggota DPRD Sidoarjo H Khulaim Junaedi, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimka), ribuan warga Sidoarjo dan Mojokerto. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax, Habib RMI NU Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Lahirnya Kelompok Intelegensia Islam Tradisional

Oleh W Eka Wahyudi

Tahun 1950-an merupakan era pembentukan kelompok ? intelegensia di kalangan Islam tradisionalis. Fenomena ini merupakan imbas dari kelompok reformis-modernis yang telah menjadi bagian dari elite-politik penguasa pada saat itu. Salah satu indikasinya adalah dilegitimasinya PII dan HMI sebagai organisasi satu-satunya bagi pelajar dan mahasiswa Muslim pasca keputusan Kongres al-Islam pada tahun 1949 (Yudi Latif, 2013: 391 ), yang pada gilirannya menggeser peranan kalangan tradisionalis dari dinamikan organisasi nasional.

Lahirnya Kelompok Intelegensia Islam Tradisional (Sumber Gambar : Nu Online)
Lahirnya Kelompok Intelegensia Islam Tradisional (Sumber Gambar : Nu Online)

Lahirnya Kelompok Intelegensia Islam Tradisional

Realitas ini kemudian menimbulkan gejolak bagi para mahasiswa yang mempunyai kultur Islam tradisionalis pondok pesantren. Karena, para pemuda dari kalangan pesantren sulit mendapatkan tempat dan cenderung tidak diakomodasi aspirasi-aspirasinya di dalam organisasi. Disinyalir, hal ini juga merupakan dampak dari mencuatnya friksi yang terjadi antara NU dan Masyumi pada tahun 1950-1960 an. “perseteruan” ini belakangan mengkooptasi kalangan pelajar dan mahasiswanya.

Sehingga, para mahasiswa yang berlatar belakang dari kalangan Islam tradisional sering mengkonsolidir potensi-potensinya di kos-kosan daerah Bumijo, Yogjakarta (kawasan sebelah barat perempatan Tugu) guna merumuskan dengan matang gerakan kaum muda NU pada selanjutnya. Desakan akan kebutuhan terhadap wadah pembinaan pelajar NU inipun, disambut dengan momentum diselenggarakannnya Konferensi LP. Ma’arif di Semarang pada bulan Februari 1954. Sehingga, gagasan progresif kaum muda NU tersebut dijadikan sebagai salah satu agenda pembahasan dalam pelaksanaan Konferensi. ? Secara ringkas, akhirnya dalam Konferensi LP Ma’arif kala itu, berhasil mengesahkan berdirinya organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) yang saat itu bertepatan pada tanggal 24 Februari 1954/ 20 Jumadil Akhir 1373 H. walhasil, tanggal inilah yang dinobatkan sebagai hari lahirnya organisasi pelajar NU.

Pada tanggal itulah merupakan periode kelahiran kelompok intelegensia kalangan Islam tradisionalis yang pada masa depan mampu memberikan khazanah pada dinamika keorganisasian di Indonesia. Gebrakan lahirnya para cendikia di kalangan NU ini menyusul semakin pesatnya para mahasiswa yang mempunyai latar belakang Islam tradisional masuk ke universitas-universitas pada tahun 1950-an. Diantaranya: Tolchah Mansoer (UGM), Ismail Makky dan Munsif Nachrowi (IAIN Yogjakarta), Mahbub Djunaidi (UI) dan beberapa kelompok kaum muda terdidik lainnya seperti Mustahal Ahmad, Sofyan Kholil dan Abdul Ghani Farida.

Peningkatan jumlah mahasiswa tradisionalis ini, terutama juga disebabkan pasca pendirian perguruan-perguruan tinggi agama islam. Misalnya, di luar IAIN pada saat itu, berhasil didirikan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Solo pada tahun 1958, walaupun hanya satu fakultas, yakni syariah.?

RMI NU Tegal

Selanjutnya, pasca deklarasi pendirian IPNU melalui muktamar LP Ma’arif, tepatnya dua bulan kemudian pada tanggal 30 April s/d 1 Mei 1954, ? IPNU menyelenggaran Konferensi “Segi Lima”. Kenapa Konferensi ini disebut segi lima? karena pada saat itu dihadiri oleh kalangan assabiqunal awwalun IPNU yang terdiri dari lima daerah yakni; Jombang, Yogjakarta, Solo, Semarang dan Kediri.?

Konferensi ini kemudian menghasilkan kesepakan yang menandai kerja kelompok intelegensia Islam tradisionalis, yang antara lain;1) menjadikan Ahlusunnah wal jamaah sebagai asas organisasi, 2) tujuan organisasi yakni turut andil dalam mengemban risalah islamiyah, 3) mendorong kualitas pendidikan agar lebih baik dan merata, serta 4) mengkonsolidir kalangan pelajar. ?

RMI NU Tegal

Munculnya, kelompok cendikia “jenis baru” ini pada gilirannya menandakan perkembangan perspektif oleh kaum muda tradisionalis terhadap isu-isu rasionalisme, teknologi, pendidikan modern dan kondisi sosial . Sehingga pada kurun waktu tersebut NU telah memiliki lapisan intelegensianya tersendiri.?

Namun, corak intelegensia yang dimiliki oleh kaum muda ini berbeda dengan Muhammdiyah. Jika kalangan muhamaddiyah cenderung terilhami oleh gerakan pembaharu Muhammd Abduh yang modernis, namun kalangan muda NU tetap mempertahankan sikap konservatifnya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan tradisi. Sehingga, jenis tipologi intelegensia kaum muda NU yang dalam hal ini direpresentasikan oleh IPNU lebih cocok jika dikategorikan sebagai “konservatif-modernis”. Yaitu tipe pemikiran yang sudah terbuka dengan pandangan-pandangan modern, namun tetap memelihara sekaligus menjaga kearifan dan keluhuran tradisi. Sebuah karakter pemikiran yang relevan diterapkan di Indonesia.

Selamat Harlah IPNU ke 63, Salam Belajar, Berjuang dan Bertaqwa.

Penulis adalah Direktur Lembaga Komunikasi Perguruan Tinggi Pimpinan Pusat IPNU

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax, Pendidikan, Warta RMI NU Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Rais Aam: NU Mengayomi Semua Umat

Garut, RMI NU Tegal. Pejabat Rais Aam PBNU KH A. Mustofa Bisri menegaskan NU adalah pemimpin umat, bukan pemimpin sebagian umat saja. Pemimpin yang hanya mengayomi sebagian golongan saja tidak layak disebut sebagai pemimpin. NU didirikan untuk mengayomi semua umat.

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini kemudian merujuk pada masa pra-lahirnya jam’iyyah? Nahdlatul Ulama. Saat itu para santri muda yang kemudian menjadi pendiri NU menjalin komunikasi dan memikirkan strategi perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia di tengah-tengah masa studi mereka di Arab Saudi.

Rais Aam: NU Mengayomi Semua Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam: NU Mengayomi Semua Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam: NU Mengayomi Semua Umat

"Para santri muda tersebut diantaranya adalah KH Hasyim Asy’ari (Jombang), KH Bisri Sansuri (Denanyar), KH Wahab Hasbullah (Tambakberas), dan KH Anwar Musyaddad (Garut)," katanya pada pidato majma buhuts an-nahdliyah di pesantren Al-Musaddadiyah, Garut, Jawa Barat, Sabtu (31/5).

RMI NU Tegal

Dalam kapasitasnya sebagai santri, mereka tidak saja mendoakan komunitas pesantren di tanah air, melainkan juga mendoakan seluruh rakyat Nusantarayang sedang dijajah. Bahkan, kemudian kecintaan para santri muda di tanah Arab itu terejawantahkan ketika mereka mulai mendiskusikan perlunya organisasi yang akan mewadahi kaum santri dan pesantren untuk merebut kedaulatan Nusantara dari tangan penjajah.

RMI NU Tegal

Dimensi jam’iyyah dan sekaligus jama’ah

Masih menurut KH A. Mustofa Bisri, para pendiri NU sadar betul dawuh Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah bahwa kebathilan yang terorganisir saja akan mengalahkan kebaikan, apalagi bila kebaikan diorganisir maka niscaya problematika umat dan bangsa akan dengan mudah diselesaikan.

Namun sayangnya, kritik Gus Mus, NU hingga kini belum juga bertransformasi menjadi jam’iyyah atau organisasi yang sesungguhnya. NU hanya kuat pada tingkat jama’ah saja. Padahal yang menjadi garis pembeda antara NU dengan organisasi-organisasi lainnya adalah NU memiliki dimensi jam’iyyah dan sekaligus jama’ah.

“Ini yang otentik dari NU dan tidak ada di organisasi lainnya. Kalau pun ada itu hanya meniru-niru NU,” tegas Kiai yang produktif menulis karya sastra ini.“Bila banyak pengamat NU seperti Mitsuo Nakamura, Andree Feillard, atau Martin van Bruinessen heran kenapa organisasi seperti NU ini tidak mati-mati, justru saya heran kenapa organisasi sebesar ini tidak hidup-hidup juga,” kritik Gus Mus yang disahut dengan tepukan riuh peserta yang hadir.

Pejabat Rais Aam yang menggantikan tongkat kepemimpinan KH Sahal Mahfudh ini menyebutkan,? yang membedakan antara NU dengan organisasi lainnya adalah karena NU bermula dari adanya komunitas-komunitas di berbagai penjuru Nusantara. Komunitas-komunitas tersebut memiliki karakteristik yang sama, yakni ada kiai, santri dan masyarakat pesantren. Dengan kata lain, NU sudah terlebih dahulu lahir sebagai jama’ah yang kemudian melatar-belakangi kelahirannya sebagai jam’iyyah (organsiasi).

Hal lain yang membuat NU otentik dibandingkan dengan organisasi lainnya adalah keberadaan orang-orang yang seolah-oleh mewakafkan dirinya untuk masyarakat. Mereka adalah para kiai yang jadi sumber rujukan masyarakat.

Gus Mus memberikan contoh, misalnya orang sakit datang ke kiai untuk diberi minum air yang sudah didoakan, orang tua menitipkan anaknya di pesantren untuk diberi pengetahuan, ingin berdagang minta didoakan agar dagangannya laris, akan bercocok tanam sowan ke kiai untuk didoakan agar tidak diserang hama, dan seterusnya. Semuanya dipenuhi para kiai tanpa dibayar. Para kiai tersebut hanya ingin meniru Nabi Muhammad SAW yang memperkenalkan konsep pemimpin sebagai khadimul ummah, bukan pemimpin yang justru merepotkan umatnya.

‘Alaikum bil NU’

Namun sayangnya, kiai yang penyair tersebut mengajukan kritik, sebagai organisasi besar NU seringkali diperalat oleh orang-orang luar. Padahal Gus Mus berkeyakinan bahwa apa yang disebut ‘alaikum bis sawadil a’dhom adalah sama dengan ‘alaikum bil NU’.

Anggota NU saat ini lebih dari 70 juta pengikut. Pengikut NU saja sudah tiga kali lipat lebih dibandingkan dengan jumlah total penduduk Arab Saudi. “Namun sebagai organisasi, NU hingga kini belum sepenuhnya organisatoris, kata Gus Mus.”

Bila NU bisa lebih terstruktur, niscaya akan menjadi kekuatan yang dahsyat bagi perubahan di negeri ini. Hal ini bisa terjadi bila, salah satunya, NU menjalankan tertib organisasi secara benar seperti semua elemen di tubuh NU berada satu garis komando dari Rais Aam. (Saifuddin Ihsan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax, Internasional, Cerita RMI NU Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Pernyataan Jaringan Gusdurian terhadap Pelarangan Diskusi, Buku, dan Pemutaran Film

Jakarta, RMI NU Tegal. Semenjak pemerintahan Orde Baru tumbang, ? kita sudah bekerja keras membangun demokrasi dan pemerintahan sipil demi menjamin hak-hak dasar warga negara, yaitu kemerdekaan berpikir, berserikat, berkumpul, dan mengemukakan pendapat. ?

Gus Dur adalah salah satu penggerak masyarakat yang memperjuangkan supremasi sipil, karena Gus Dur meyakini pembebasan dari segala jenis penindasan adalah prasyarat untuk menjamin kemanusiaan.?

Pernyataan Jaringan Gusdurian terhadap Pelarangan Diskusi, Buku, dan Pemutaran Film (Sumber Gambar : Nu Online)
Pernyataan Jaringan Gusdurian terhadap Pelarangan Diskusi, Buku, dan Pemutaran Film (Sumber Gambar : Nu Online)

Pernyataan Jaringan Gusdurian terhadap Pelarangan Diskusi, Buku, dan Pemutaran Film

Dewasa ini di berbagai daerah marak terjadi kasus pembubaran diskusi, razia buku, serta penolakan pemutaran film. Umumnya pelarangan-pelarangan tersebut dilakukan dengan tuduhan dan ancaman. Muaranya adalah membuat warga ketakutan terhadap ide dan gagasan tertentu. Ketakutan yang berlebihan itu akan berujung pada penindasan.

Hal ini sangat bertentangan dengan konstitusi yang menjamin kebebasan berkumpul dan ? mengemukakan pendapat sehingga pelarangan buku/film dan diskusi tersebut ? adalah suatu pelanggaran hak konstitusional.

RMI NU Tegal

Jaringan GUSDURian sangat menentang sejumlah kejadian yang dapat memasung kebebasan berpendapat dan berserikat tersebut. Atas maraknya sejumlah aksi penindasan hak warga tersebut, Jaringan Gusdurian Indonesia menyatakan:

1. Menolak segala bentuk pelarangan diskusi, ? pemutaran film, dan razia buku. Karena hal itu bertentangan dengan undang-undang dan konstitusi.

2. Menuntut kepada segenap aparat penegak hukum untuk aktif melindungi hak kebebasan berpendapat dan berserikat yang dilindungi oleh konstitusi.

RMI NU Tegal

3. Mendukung kemerdekaan berserikat dan kebebasan menyatakan pendapat. Karena kemerdekaan adalah syarat mutlak pembebasan dari setiap bentuk penindasan.

4. Menyerukan kepada gusdurian dan masyarakat sipil untuk memperjuangkan haknya sebagai warga negara Indonesia, yaitu kebebasan berpendapat dan berserikat, termasuk diantaranya diskusi buku dan melakukan pemutaran film.

5. Mengajak kepada masyarakat untuk mengedepankan dialog, ? kerukunan, dan mempererat tali persaudaraan di tengah berbagai isu yang dapat memecah belah bangsa.

Koordinator Jaringan Gusdurian Indonesia,

Alissa Wahid

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sejarah, Nahdlatul Ulama, Anti Hoax RMI NU Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Polwan Cantik dengan Berjilbab

Dengan mempelajari asbab nuzul ayat-ayat tentang perintah jilbab dapat disimpulkan bahwa jilbab lebih bernuansa ketentuan budaya ketimbang ajaran agama.

Sebab, jika jilbab memang ditetapkan untuk perlindungan, atau lebih jauh lagi, untuk meningkatkan prestise kaum perempuan beriman, maka dengan demikian dapatlah dianggap bahwa jilbab merupakan sesuatu yang lebih bernuansa budaya daripada bersifat religi.

Apapun pilihan perempuan, harus dihargai dan dihormati sehingga terbangun kedamaian di masyarakat. Dalam realitas sosiologis di masyarakat jilbab tidak menyimbolkan apa-apa; dianggap menjadi lambang kesalehan dan ketakwaan. Tidak ada jaminan bahwa pemakai jilbab adalah perempuan salehah, sebaliknya perempuan yang tidak memakai jilbab bukan perempuan shalehah. Jilbab tidak identik dengan kesalehan dan ketakwaan seseorang. Sesungguhnya perbedaan para pakar hukum dalam memahami hukum jilbab adalah sangat manusiawi.

Polwan Cantik dengan Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)
Polwan Cantik dengan Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)

Polwan Cantik dengan Berjilbab

Perbedaan pendapat muncul karena perbedaan dalam memahami makna ayat dan pertimbangan-pertimbangan nalar mereka. Dari sini, tidaklah keliru jika dikatakan bahwa masalah jilbab dan batas aurat perempuan merupakan masalah khilafiyah yang tidak harus menimbulkan tuduh menuduh apalagi kafir mengkafirkan.

Seiring dengan itu apakah Polri bakal menghormati kebebasan beragama dengan mengizinkan polwan memakai jilbab. Alhamdulillah sikap Kapolri Jenderal (Pol) Sutarman membolehkan polwan boleh berjilbab karena itu adalah hak asasi manusia. Menurut ketentuan sebelumnya, anggota polwan dilarang menggunakan pakaian yang tidak sesuai dengan ketentuan tata busana seragam polwan; mereka yang ngotot menggunakan jilbab sebagai akibatnya bisa diberhentikan atau mengundurkan diri atau minta "pensiun" dini.

Ketentuan lama itu jelas bertentangan dengan UUD 1945 yang menjamin kebebasan setiap warga negara Indonesia beragama dan berkeyakinan. Negara juga menjamin kebebasan setiap warga negara beribadah sesuai dengan keyakinan keagamaannya. Dan, salah satu bentuk ibadah itu adalah pemakaian jilbab atau hijab bagi Muslimah.

Pelarangan pemakaian jilbab bagi anggota polwan yang ingin memakai jilbab jelas pula bertentangan dengan Pancasila, baik sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Adalah wajar jika ada kalangan polwan yang berpendapat pemakaian jilbab selaras belaka dengan kedua sila tersebut. Sebaliknya, pelarangan tersebut bisa mengakibatkan dampak negatif pada sila ketiga, Persatuan Indonesia.

RMI NU Tegal

Tak kurang pentingnya, pelarangan jilbab itu juga bertentangan dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Prinsip ini dalam wacana kontemporer sering disebut sebagai multikulturalisme, yang sederhananya adalah politics of recognition, politik pengakuan terhadap keragaman, termasuk dalam hal agama.

Karena itu, jika Kapolri menghormati HAM Universal tentang freedom of conscience, kebebasan beragama, dan UUD 1945 serta Bhinneka Tunggal Ika, pelarangan pemakaian jilbab itu harus segera dicabut. Tidak sepatutnya Polri yang seharusnya menghormati dan menegakkan semua ketentuan dan prinsip tersebut justru memiliki ketentuan bertentangan.

Jika Kapolri mau becermin dari realitas, banyak negara yang menganut sekularisme, semacam Amerika Serikat, juga mengizinkan pemakaian jilbab bagi Muslimah. Begitu pula negara seperti Inggris, yang dengan prinsip multikulturalisme mengizinkan Muslimah yang bekerja sebagai polisi atau aparat pemerintah lainnya untuk memakai jilbab.

Kapolri juga tidak perlu jauh-jauh melihat kebijakan pemerintah negara-negara semacam ini. Orang dengan mudah bisa menemukan Muslimah berjilbab di Kedutaan Besar AS, Inggris, Jepang, dan banyak lagi. Saya pernah dikonsultasi seorang duta besar negara sahabat beberapa tahun lalu, yang kaget dan nervous ketika satu pagi menemukan sekretaris pribadinya memakai jilbab. Saya menenangkan sang dubes agar tidak usah nervous karena jilbab tidak ada hubungannya dengan radikalisme, fundamentalisme, atau domestifikasi terhadap kaum perempuan Muslimah. Jadi, biarkan saja yang bersangkutan memakainya.

RMI NU Tegal

Memang ada juga negara yang menganut religiously unfriendly secularism, sekularisme tidak bersahabat pada agama, semacam Prancis atau Turki yang melarang PNS perempuan memakai simbol-simbol agama, termasuk jilbab. Tetapi, pelarangan ini terus mendapat perlawanan, bukan hanya dari kaum Muslimin-Muslimat, tetapi juga dari pemikir, aktivis, dan LSM advokasi HAM dan kebebasan beragama.

Indonesia jelas tidak menganut sekularisme, meski juga tidak berdasar agama tertentu, khususnya Islam yang merupakan agama yang dipeluk mayoritas absolut penduduknya. Meski, di kalangan jumhur ulama--ulama arus utama--masih terdapat khilafiyah, perbedaan pendapat tentang apakah rambut perempuan itu aurat. Banyak ulama memandang rambut sebagai aurat sehingga perlu ditutup, tapi banyak pula yang berpendapat rambut bukan aurat sehingga tak perlu ditutupi. Sebab itu, menjadi pilihan pribadi masing-masing Muslimah mengikuti salah satu pendapat jumhur ulama--memakai atau tidak memakai jilbab.

Bagaimanapun, pemakaian jilbab oleh Muslimah yang mengikuti pendapat pertama mestilah diapresiasi dan dihargai. Apalagi, jilbab yang mereka pakai adalah jilbab yang modest, sederhana, dan tidak berlebihan, yang mencerminkan sikap washatiyah seperti umumnya Muslimah dan Muslimin Indonesia.

Atas dasar sikap washatiyah itu pula, pemakaian burqa dan niqab, cadar penuh (full-veiled) di Indonesia tidaklah tepat. Lagi pula, cadar mengandung masalah "sekuriti" dan lebih merupakan budaya masyarakat Arab dibandingkan Indonesia. Sebab itu, perlu penyadaran bagi para segelintir pemakai burqa dan niqab di Indonesia tentang masalah-masalah pokok yang terkandung dalam penutup rambut dan muka seperti itu.

Namun, sekali lagi, jilbab atau hijab jelas tidak sama dengan burqa dan niqab. Karena itu, biarlah Muslimah yang ingin tampil dengan jilbab atau hijab sederhana dan bahkan fashionable untuk mengenakannya polwan akan lebih cantik dan anggun ketika berjilbab. Tidak perlu ada ketentuan pelarangan, seperti juga tidak perlu adanya ketentuan yang mewajibkan pemakaiannya. Biarlah masing-masing Muslimah mengikuti salah satu dari ijtihad ulama arus utama tadi dan juga kata hatinya.

?

* Ketua Lembaga Rijalul Ansor Sultra, pengasuh acara Sinar RRI Kendari

?

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax RMI NU Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Majalah Santri Adakan Pelatihan Jurnalistik

Semarang, RMI NU Tegal. Redaksi Majalah Santri dari 12 perguruan tinggi yang tergabung dalam Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSS MoRA) menggelar pelatihan jurnlaistik di kampus IAIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah, Jumat (15/2).

Majalah Santri Adakan Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Santri Adakan Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Santri Adakan Pelatihan Jurnalistik

Kegiatan bertema ”Menegaskan Kembali Akar Jurnalistik Pesantren” ini resmi dibuka Sekretaris Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Tengah KH Arja Imroni yang juga Ketua Prodi Ilmu Falak IAIN Walisongo. Hadir pula mengisi materi, Direktur Moderate Muslim Society (MMS) Zuhairi Misrawi.

Pelatihan jurnalistik tersebut merupakan rangkaian dari acara pelantikan dan rapat kerja redaktur Majalah Santri periode 2013-2015. Pimpinan Umum Majalah SANTRI Surotul Ilmiyah mengatakan, kegiatan ini menjadi usaha serius dalam melestarikan budaya jurnalistik yang sudah mengakar lama pesantren.

RMI NU Tegal

“Pelatihan jurnalistik ini akan menjadi bekal kepengurusan Redaktur Majalah Santri yang baru di lantik agar tetap semangat megawal tradisi junalistik pesantren,” ujarnya.

Ketua CSS MoRA Nasional Imam Sahal Ramadhan berharap, Majalah Santri yang masih terdistribusi hanya pada sejumlah instansi Kementerian Agama RI dan pesantren tahun inidapat meningkatkan persebarannya ke kalangan yang lebih luas.

RMI NU Tegal

Peserta pelatihan seharian penuh aktif mengikuti materi jurnalistik. Sementara rapat kerja akan diselenggarakan dua hari mendatang, 16-17 Februari 2013. CSS MoRA merupakan sebuah organisasi yang menaungi mahasiswa program beasiswa santri berprestasi (PBSB) Kementerian Agama Republik Indonesia.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Makam, Pondok Pesantren, Anti Hoax RMI NU Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Modal Santri untuk Ekonomi Mandiri

Oleh Muhammad Farid

Paradigma santri yang sejak dahulu hanya dikenal sebagai pelaku ibadah, pribadi yang sederhana dan pejuang agama semata, kini harus diubah. Orientasi santri perlu ditekankan untuk (juga) berkontribusi dalam bidang teknologi, informasi dan ekonomi. Bagaimana santri mewujudkan itu semua?

Modal Santri untuk Ekonomi Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Modal Santri untuk Ekonomi Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Modal Santri untuk Ekonomi Mandiri

Perjalanan kaum santri dalam ranah pendidikan sudah tidak bisa diragukan lagi. Dibuktikan dengan adanya kader-kader dari pondok pesantren yang -mayoritas- cakap dalam memegang amanah di manapun ia berada. Tak heran jika pondok pesantren dahulu merupakan lembaga pengajaran yang digadang menjadi kekuatan perjuangan arus bawah.

Di Kudus, Kisah KHR Asnawi yang rela berjalan kaki dari pusat kota hingga puncak gunung Muria, tepatnya di masjid makam Sunan Muria untuk mengajar ngaji merupakan cermin indah. KHR Asnawi terkenal dengan nilai semangat belajar dan mengajarnya yang tinggi. Untuk membangun keilmuan di Indonesia, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama itu bahkan rela mengembara ke Arab Saudi dalam waktu yang lama.

RMI NU Tegal

Tidak hanya dalam bidang pendidikan dan agama saja, bidang ekonomi juga menjadi perhatian serius di kalangan santri. Tidak dibenarkan bahwa kaum santri hanyalah memikirkan kepentingan akhirat saja. Kesadaran bahwa dunia adalah jembatan menuju akhirat harus mendorong kemapanan sebagai bekal ibadahnya.

RMI NU Tegal

Melalui nilai filosofis “Gusjigang” Sunan Kudus meneguhkan spirit berimbang antara kehidupan dunia dan akhirat. Gusjigang merupakan pemaknaan, harapan sekaligus pencapaian. Bahwa seorang santri idealnya memiliki sifat yang bagus/baik didorong dengan ketekunan dalam menuntut ilmu (spiritual) agama (ngaji) serta cakap dalam bidang ekonomi (dagang). Inilah garis besar sekaligus tantangan para santri untuk mewujudkan kemandirian bangsa.

Modal Santri


Jaringan dinamis antarpesantren yang terkoneksi dengan baik bisa saja menjadi modal. Pun dengan tarekat dan spiritual yang kuat dan mantap disertai dengan hubungan intensif guru-murid yang tiada dibedakan.

Bermodalkan jaringan antaralumni, sanad keilmuan, dan ukhuwah santri, seharusnya santri bisa membangun ekonomi mandiri. Terbukti bahwa santri mampu melakukan gebrakan (sekali lagi) demi kepentingan kemandirian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika dahulu kaum santri turut serta berjuang melawan kolonialisme, kini kaum santri harus melihat lebih cerdas tentang potensi yang dimiliki.

Sejak sebelum kemerdekaan, Indonesia yang kental dengan nasionalisme dan patriotisme membangun ekonominya sendiri tanpa berharap modal asing. Para organisasi massa, termasuk santri, tumbuh dan bersaing dalam satu visi; membangun Indonesia berdikari. Semangat kekeluargaan menjadi kekuatan utama dalam mengatasi persoalan ekonomi saat itu.

HOS Tjokroaminoto berani mempertaruhkan martabatnya sebagai pejabat Hindia Belanda demi membela rakyat pribumi. Terbentuknya Sarekat Islam (SI) pada 1913, yang dipelopori HOS Tjokroaminoto merupakan salah satu bukti kekuatan kaum sarungan dalam berperan mewujudkan kesejahteraan mandiri rakyat. Pola penyelenggaraannya bertonggak pada prinsip kerakyatan dan penguatan warga sipil. Kebijakan demi kebijakan muncul dengan semangat persaudaraan senasib seperjuangan.

Koperasi menjadi salah satu cara Tjokroaminoto dalam membebaskan ekonomi rakyat dari genggaman Hindia Belanda saat itu. Tiada mengenal untung-rugi. Melainkan tercapainya kemakmuran bersama, kemandirian bersama, kejayaan abadi yang kelak bisa dinikmati oleh para generasinya.

Di situlah peran santri bisa dimaksimalkan. Para kiai menebarkan petuah dan kebijakan yang turut menentramkan hati pengikutnya. Semangatnya dalam membina umat (ruh ad-da’wah) menuju Ridla Ilahi, mewujudkan bangsa dan negara yang bijak dan mendapat ampunan-Nya (baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur).

HOS Tjokroaminoto, KHR Asnawi, KH Hasyim Asy’ari, KH Kholil, dan lainnya merupakan teladan. Pondok pesantren yang mereka dirikan tidak hanya menjadi wadah bagi santri menuntut ilmu, tetapi juga memberi manfaat bagi sekitarnya. Termasuk poros ekonomi yang timbul karenanya.

Itulah bukti bahwa pondok pesantren tidak sekadar organisasi yang diisi kiai dan santri. Namun juga gerakan (movement) yang siap peduli sesama, mengemban amanah sebagai manusia sesungguhnya (baca: khalifah).

Selanjutnya, minat pasar yang sedang gandrung dengan konsep ekonomi syariah baru-baru ini merupakan peluang besar bagi para santri. Bekal ilmu dan hukum Islam yang dalam para santri bisa mengembangkan ekonomi syariah sebagai tonggaknya. Sudah saatnya, paradigma santri tidak hanya memikirkan khilafiyah dalam hal hukum syar’i saja.

Persoalan santri tidak sebatas memecahkan masalah (batsul masa’il) dalam koridor ibadah mahdlah saja. Seperti yang dilakukan para pendahulunya, santri harus berkembang menjadi penggerak dan pelopor kemakmuran bangsa. Di Indonesia, tersebar ribuan pondok pesantren dengan jutaan santri tersebar seisi Nusantara.

Hukum ekonomi ala santri harus digulirkan secepatnya. Yaitu dengan membangun kaum santri yang cakap dalam melihat pasar, menciptakan inovasi ekonomi yang menggabungkan konsep islam dengan potensi lokal kita sendiri. Begitulah bangsa kita bisa mandiri, bersama santri membangun ekonomi (syariah) yang digdaya.

Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Miftahul Falah; bergiat di Paradigma Institute Kudus



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ubudiyah, Anti Hoax RMI NU Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

NU Pacitan Doa Bersama untuk Korban Banjir dan Longsor

Pacitan, RMI NU Tegal



Musibah banjir dan tanah longsor yang terjadi di Pacitan, menyisakan duka mendalam bagi para warga. Musibah ini disebut menjadi yang terbesar dalam kurun waktu lima puluh tahun terakhir. Akibatnya, sebanyak 25 korban meninggal dunia, yang terdiri dari enam korban banjir dan 19 korban.

NU Pacitan Doa Bersama untuk Korban Banjir dan Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pacitan Doa Bersama untuk Korban Banjir dan Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pacitan Doa Bersama untuk Korban Banjir dan Longsor

Sejumlah kader NU Pacitan melakukan doa bersama untuk para korban banjir dan tanah longsor, Kamis malam (7/11). Doa bersama ini dilakukan di makam sesepuh NU Pacitan almagfurlah KH Umar Tumbu di kompleks Pesantren Nur Rohman, Njajar, Donorojo, Pacitan.

Di atas pusara makam kiai yang wafat pada Rabu 4 Januari 2017 lalu, para kader NU yang berasal dari lintas organisasi seperti GP Ansor, PMII, IPNU, dan IPPNU ini dengan Khusyuk memanjatkan doa yang didahului dengan pembacaan surat Yasin dan tahlil. Doa bersama ini dikhususkan untuk para korban meninggal dunia.

"Kami turut berbela sungkawa atas musibah banjir dan tanah longsor ini. Semoga para korban yang meninggal dunia ini diberikan husnul khatimah dan mendapatkan ampunan dari Allah SWT," kata Fajar Rohmat, salah satu kader PMII.

Duka mendalam dirasakan pula oleh keluarga besar Pelajar NU Pacitan. Dimana salah satu dari korban musibah tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Kebonagung, Pacitan, salah satunya adalah Khairur Rozak. Semasa hidupnya, Rozak adalah Ketua Pengurus Komisariat IPNU SMK Nuruddolam Kebonagung.

RMI NU Tegal

"Kami PC IPNU-IPPNU Pacitan sangat berduka cita atas meninggalnya rekan Rozak. Kami semua sangat berduka atas kepergian Almarhum Rozak. Semoga keluarganya yang ditinggalkan diberi ketabahan," ungkap Ketua IPNU Pacitan Mawan Hardianto.

RMI NU Tegal

Sementara itu, berbagai bentuk bantuan untuk korban banjir dan tanah longsor masih terus mengalir ke posko bencana PCNU Pacitan. Sebagian besar bantuan ini berasal dari warga NU dan masyarakat dari berbagai daerah yang dihimpun oleh pengurus PCNU dan Banomnya. 

Bantuan yang diterima PCNU Pacitan berupa logistik makanan dan pakaian layak pakai. Bantuan ini akan terus didistribusikan untuk para korban banjir dan tanah longsor di Pacitan. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax, IMNU RMI NU Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Setelah 20 Tahun Tak Terurus, Indonesia-Suriah Tanam Kembali Hutan Persahabatan

Damaskus, RMI NU Tegal. Dalam rangka peringatan hubungan diplomatik Indonesia-Suriah ke-69 dan peringatan Kemerdekaan RI ke-71, KBRI Damaskus pada hari Minggu, (14/8) menyelenggarakan penanaman kembali Hutan Persahabatan Indonesia-Suriah di Kota Dimas, Provinsi Damascus Countryside (DCS), Suriah. Acara dihadiri Duta Besar RI Suriah Djoko Harjanto, Gubernur Damascus Countryside (DCS) Ala Ibrahim, Wakil Gubernur DSC Ratib Adas, Walikota Dimas, dan diikuti sekitar 150 pemuda Indonesia dan Suriah.?

Dubes Djoko menegaskan hutan persahabatan ini pertama kali diresmikan tahun 1988 dan KBRI Damaskus terakhir kali menanam hutan persahabatan tahun 1996. Selama 20 tahun terbengkalai, hutan ini menjadi tidak terawat dan banyak pohonnya yang hilang atau mati.?

Setelah 20 Tahun Tak Terurus, Indonesia-Suriah Tanam Kembali Hutan Persahabatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Setelah 20 Tahun Tak Terurus, Indonesia-Suriah Tanam Kembali Hutan Persahabatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Setelah 20 Tahun Tak Terurus, Indonesia-Suriah Tanam Kembali Hutan Persahabatan

Dubes Djoko mengutip hadits Nabi bahwa “tidaklah seorang muslim menanam tanaman, kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, ataupun hewan, maka dengan tanaman itu ia telah bersedekah.” Dubes Djoko juga menekankan dengan semangat meneguhkan kembali persahabatan di tengah krisis berkepanjangan, KBRI Damaskus mengabadikan simbol persahabatan Indonesia-Suriah dalam bentuk Prasasti Hutan Persahabatan Indonesia-Suriah.

Sementara itu, Gubernur Damascus Countryside menyambut baik acara penanaman kembali Hutan Persahabatan yang menjadi simbol persahabatan abadi kedua negara dan terus berkembang di masa mendatang.

Pada acara bersejarah itu, Dubes RI bersama Gubernur DCS menandatangani prasasi Hutan Persahabatan dan menanam pohon beringin dari Indonesia. Pohon beringin didatangkan khusus dari Indonesia sebagai simbol persatuan dalam Pancasila. Selanjutnya, sekitar 150 pemuda dari Indonesia dan Suriah menanam sebanyak 100 bibit pohon pinus di lahan Hutan Persahabatan Indonesia-Suriah.?

Salah satu peserta asal Suriah, Nagham Meqari, mengutarakan antusiasmenya mengikuti penanaman hutan persahabatan ini. “Saya mewakili teman-teman salut dengan kegigihan KBRI Damaskus untuk terus menyambungkan persahabatan antara pemuda Suriah dengan Indonesia. Saya senang bisa bertemu dengan teman-teman baru Indonesia pada acara penanaman hutan ini,” ujarnya.

RMI NU Tegal

“Penanaman hutan ini betul-betul menjadi simbol persahabatan kedua negara,” ujar Wasim Ahmad, peserta asal Suriah. “Dengan kehadiran para pemuda Indonesia dan kita menanam pohon bersama, kami orang Suriah merasa tidak ditinggalkan di tengah konflik ini. Indonesia adalah sahabat sejati Suriah.”?

RMI NU Tegal

Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang masih tetap membuka misi diplomatiknya di tengah gejolak konflik Suriah dengan kepala perwakilan seorang duta besar. Dengan penanaman kembali hutan persahabatan ini semakin meneguhkan hubungan persahabatan kedua negara, mengingat Indonesia adalah satu-satunya negara yang memiliki hutan persahabatan yang aktif dengan Suriah hingga saat ini.?

Pada acara ramah tamah, Dubes RI Djoko Harjanto menerima Gubernur DCS Ala Ibrahim dan Wakil Gubernur DSC Ratib Adas di Wisma Duta Yafour. Dalam pertemuan tersebut Gubernur DCS menyampaikan apresiasi terhadap sikap Indonesia yang konsisten mendukung rakyat dan pemerintah Suriah dalam perang melawan terorisme.

“Dubes Djoko Harjanto adalah salah seorang Dubes yang paling aktif dalam meningkatkan hubungan kedua negara walaupun dalam situasi krisis dan ia paham betul akan situasi yang diderita oleh rakyat Suriah,” ungkap Ala Ibrahim.

Gubernur Ala Ibrahim juga menyampaikan terima kasih atas upaya Dubes Djoko dalam menjembatani informasi yang sebenarnya terjadi di Suriah, melalui saling kunjung ulama Suriah ke Indonesia yang rutin baru-baru ini, seperti Syeikh Taufik Ramadhan al-Bouti (Ketua Persatuan Ulama Syam) dan Syeikh Adnan Afiyuni (Mufti Damaskus).

Menanggapi hal tersebut, Dubes Djoko menegaskan sikap politik Indonesia untuk senantiasa mendorong solusi politik dan demokrasi di Suriah. “Tidak ada konflik atau peperangan yang selesai tanpa perundingan,” ujar Dubes Djoko menekankan konflik di Suriah harus diselesaikan melalui jalur politik.

Dubes Djoko juga menyampaikan bahwa KBRI Damaskus telah dan terus memfasilitasi kunjungan ulama, jurnalis, akademisi, dan tokoh masyarakat Suriah untuk berkunjung ke Indonesia guna meningkatkan hubungan kedua negara terutama di bidang keagamaan, budaya, pendidikan, jurnalis, dan bantuan kemanusiaan serta kerjasama menjaga lingkungan hidup dengan program penghijauan. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax RMI NU Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Ulama Syatariyah Sumbar: Sabtu Melihat Bulan 1 Ramadhan 1438

Padangpariaman, RMI NU Tegal. Ulama Syatariyah Padang Pariaman yang difasilitasi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Padang Pariaman memutuskan maniliak (melihat) 1 Ramadhan 1348 H pada Sabtu (27/5/2017) mendatang. Bila bulan sudah terlihat sebelumnya, Jumat (26/5), secara mutawatir dapat diterima. Kemudian bulan yang ? dilihat dimusyawarah pada kadhi di masing-masing daerah dimana domilisi dengan yang melihat bulan tersebut.

Ulama Syatariyah Sumbar: Sabtu Melihat Bulan 1 Ramadhan 1438 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Syatariyah Sumbar: Sabtu Melihat Bulan 1 Ramadhan 1438 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Syatariyah Sumbar: Sabtu Melihat Bulan 1 Ramadhan 1438

Demikian antara lain keputusan muzakarah ulama Syatariyah Padang Pariaman tentang ru’yatul hilal penentuan awal Ramadhan 1438 H, Sabtu (20/5) di Pondok Pesantren Darul Ikhlas Pakandangan. ?

Muzakarah ulama Syatariyah Padang Pariaman yang diadakan PC Nahdlatul Ulama Padangpariaman, dihadiri lebih dari 60 ulama Syatariah Padangpariaman, Ketua Syatariyah Sumbar, Riau dan Jambi Ismet Ismail Tuanku Mudo, Ketua MUI Padangpariaman Syofyan Tuanku Bandaro, pimpinan pondok pesantren di Kabupaten Padangpariaman dan ulama Syatariyah lainnya.

Muzakarah yang dimoderatori Ali Munar Tuanku Mulie dari pesantren Luhur Ampalu Tinggi, menyebutkan, hasil musyawarah kadhi tersebut disampaikan kepada jamaah agar besoknya berpuasa. Selain itu, hasil musyawarah ? tersebut juga boleh disampaikan melalui hape. “Kalau bulan masih tidak kelihatan pada petang Sabtu tersebut, maka 1 Ramadhan sebagai awal puasa langsung dilaksanakan saja pada Senin-nya),” kata Ali Munar membacakan keputusan muzakarah.

RMI NU Tegal

Sebelum diputuskan, peserta muzakarah melontarkan tiga hari yang berbeda waktu melihat bulan. Masing-masing pada Kamis, Jumat dan Sabtu. Masing-masing pengusul memberikan argumentasi kapan melihat bulan dilaksanakan. “Setelah mendengarkan berbagai pendapat, komentar dan pandangan dari peserta, ulama-ulama senior, pimpinan pesantren, akhirnya kita sepakat melihat bulan pada Sabtu tersebut,” kata Ali Munar.

Ketua PCNU Padangpariaman Masrican Tuanku M Basa dalam sambutan pembukaannya menyebutkan, belajar pada peristiwa memulai 1 Ramadhan tahun lalu, melihat bulan dilaksanakan pada Selasa, sedangkan Senin petang bulan sudah terlihat. Dari saran dan masukan sejumlah ulama kepada kami, agar peristiwa tersebut tidak terulang lagi. Maka menjelang pelaksanaan melihat bulan 1 Ramadhan tahun ini, PCNU menyelenggarakan muzakarah ini.?

“Melalui muzakarah ini, dapat disepakati kapan pelaksanaan melihat bulan. Alhamdulillah, keputusan muzakarah sudah disepakati,” kata Masrican di akhir muzakarah.

Menurut Masrican, muzakarah ini juga mempererat silaturrahmi diantara ulama Syatariyah di Padang Pariaman. Mudah-mudahan kegiatan ini dapat dilanjutkan pada masa mendatang. (Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi)

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal AlaNu, Anti Hoax, RMI NU RMI NU Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Kapal Terbalik, 12 Muslim Rohingya Meninggal, Puluhan Hilang

Cox’s Bazar, RMI NU Tegal. Sedikitnya 12 orang Rohingya meningal dunia dan puluhan lainnya hilang setelah sebuah kapal yang mengangkut mereka terbalik dalam perjalanan melarikan diri dari negara bagian Rakhine, Myanmar, Senin (9/10). Selain orang dewasa, kapal tersebut juga banyak ditumpangi anak-anak.

Kapal Terbalik, 12 Muslim Rohingya Meninggal, Puluhan Hilang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapal Terbalik, 12 Muslim Rohingya Meninggal, Puluhan Hilang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapal Terbalik, 12 Muslim Rohingya Meninggal, Puluhan Hilang

Pejabat penjaga pantai dan penjaga perbatasan Bangladesh mengatakan, terjungkalnya kapal itu disebabkan oleh muatan yang berlebih. Para penumpang pun tumpah pada Ahad malam di mulut sungai Naf yang memisahkan Myanmar dari Bangladesh.

Penjaga Perbatasan Bangladesh (BGB) Abdul Jalil melaporkan, mayat-mayat telah ditemukan setelah berlangsungnya operasi penyelamatan sepanjang malam. "Mereka termasuk 10 anak, seorang wanita tua dan seorang pria," ujarnya sebagaimana dilansir AFP.

Komandan penjaga pantai daerah, Alauddin Nayan mengatakan, kapal tersebut terbalik di dekat desa pesisir Galachar dengan hampir 100 orang di dalamnya. Menurutnya, sekitar 40 orang di kapal tersebut adalah orang dewasa Rohingya yang melarikan diri dari desa mereka di Rakhine.

"Sisanya adalah anak-anak," katanya.

RMI NU Tegal

Kapal penjaga perbatasan telah menyelamatkan 13 orang Rohingya termasuk tiga wanita dan dua anak setelah menjelajahi muara sungai Naf, kata Jalil.

Karena kapal tersebut terbalik di dekat perbatasan Myanmar, Jalil mengatakan banyak orang mungkin telah berenang ke pantai Rakhine.

Penjaga pantai mengatakan bahwa kapal tersebut tenggelam sekitar pukul 10 malam waktu setempat. 

RMI NU Tegal

Media lokal mengutip seorang yang selamat mengatakan bahwa kapal tersebut tenggelam karena gelombang tinggi dan cuaca buruk.

Hampir 520.000 Muslim Rohingya telah meninggalkan negara bagian Rakhine menuju Bangladesh sejak akhir Agustus. Mereka berjalan kaki berhari-hari melewati hutan lebat sebelum akhirnya melakukan perjalanan berbahaya dengan perahu melintasi sungai Naf. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax RMI NU Tegal

Langgar Sumpah karena Beli Hape Buatan Cina

Assalamu ‘alaikum wr. wb

Redaksi Bahtsul Masail RMI NU Tegal yang dirahmati Allah. Saya bersumpah dengan nama Allah SWT, “Bila membeli telepon genggam made in Cina, saya akan tertimpa musibah atau penyakit yang berbahaya dan mematikan.” Pertanyaannya, apakah boleh saya melanggarnya? Bila melanggar, apakah saya akan tertimpa musibah? Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb (Hamba Allah).

Langgar Sumpah karena Beli Hape Buatan Cina (Sumber Gambar : Nu Online)
Langgar Sumpah karena Beli Hape Buatan Cina (Sumber Gambar : Nu Online)

Langgar Sumpah karena Beli Hape Buatan Cina

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Sumpah dalam bahasa agama disebut “yamin”. Ulama mendefinikan sumpah sebagai pernyataan tekad untuk mewujudkan sesuatu yang mungkin bisa dilanggar.

RMI NU Tegal

Sumpah biasanya ini diperlukan pada saat-saat tertentu demi sebuah kepentingan. Sumpah dianggap mengikat kalau menyebut nama Allah atau sifat-sifat-Nya dan harus dilakukan dengan niat untuk sumpah, bukan maksud main-main.

Dalam keadaan terikat ini, pelanggaran sumpah memiliki konsekuensi. Pelanggar sumpah akan dikenakan kafarah, tebusan atas pelanggaran sumpahnya sendiri.

RMI NU Tegal

Secara konkret, Ibnu Rusydi dalam Bidayatul Mujtahid menyebutkan bagaimana sebuah sumpah itu dilanggar.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Para ulama sepakat bahwa penyebab pelanggaran sumpah adalah menyalahi ikatan sumpah. Praktiknya bisa jadi seseorang melakukan tindakan yang harus dihindari dalam sumpahnya. Atau sebaliknya, ia tidak melakukan tindakan yang justru dituntut dalam sumpahnya sendiri.” (Lihat Ibnu Rusydi dalam Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Juz 2, Halaman 378, Darul Kutub al-Ilmiyah, Beirut).

Sementara menurut Madzhab Syafi’i, tebusan untuk pelanggaran sumpah meliputi tiga hal. Mereka yang telah melanggar sumpahnya harus menebusnya dengan tiga pilihan ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Kafarah sumpah bisa dipilih antara tiga hal. Pertama, memerdekakan seorang budak perempuan yang beriman. Kedua, memberikan makanan untuk sepuluh orang miskin. Setiap orang satu mud (1 mud setara ± 6 ons makanan pokok). Ketiga, memberikan pakaian kepada mereka setiap orang satu. Mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk semua itu, boleh berpuasa selama 3 hari (tidak mesti berurutan).” (Lihat Abu Bakar Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, Juz 2, Halaman 204, Darul Fikr, Beirut).

Lalu bagaimana dengan pertanyaan di atas? Keterangan Al-Khathib As-Syarbini ini setidaknya dapat membantu kita memperjelas masalah.

(?) ? (? ?) ? (? ?) ? ? ? ? ? ? (?) ? (? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (?) ? ? (?) ? ? ?

“Atau meninggalkan mubah tertentu, atau melakukan mubah seperti memasuki rumah, menyantap makanan, mengenakan pakaian. Afdhalnya orang yang bersumpah itu tidak melanggar sumpahnya. Ia bahkan disunahkan untuk tetap memegang sumpahnya demi mengagungkan Allah SWT. Allah berfirman, ‘Jangan lah kamu batalkan sumpahmu setelah menguatkannya’. Tetapi ada juga ulama yang mengatakan, untuk yang mubah seseorang disunahkan untuk melanggar sumpahnya agar orang-orang faqir dapat mengambil manfaat dari kafarah sumpahnya.” (Lihat Al-Khathib As-Syarbini, Mughnil Muhtaj, Juz 4, Halaman 439, Darul Marifah, Beirut).

Berpijak pada keterangan di atas, kita bisa mengatakan bahwa sumpah atas nama Allah SWT adalah sesuatu komitmen yang harus dihormati. Artinya kita harus tetap memegang teguh sumpah kita. Tetapi kalau tidak mampu untuk menjalankan komitmen itu, kita bisa membatalkannya dengan konsekuensi kafarah sebagaimana dijelaskan di atas. Dengan kata lain, kita boleh melanggar sumpah itu dengan membeli hape buatan Cina.

Adapun perihal musibah dan penyakit mematikan yang diucapkan dalam sumpah, kita meminta ampun kepada Allah atas pelanggaran sumpah. Kita juga memohon kepada-Nya agar dijauhkan dari penyakit dan musibah tersebut. Lafal istighfar di bawah ini bisa menjadi alternatif.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Istighfar paling sempurna dalam hal ini adalah, ‘Astaghfirullâhal azhîm alladzî lâ ilâha illâ huwal hayyul qayyûm wa atûbu ilaih.’” (Lihat As-Syarqawi, Hasyiyatus Syarqawi, Juz 2, Halaman 462, Darul Fikr, Beirut).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Sudah selayaknya kita mempertimbangkan sesuatu sebelum melakukan sumpah dengan nama Allah SWT.? Dan kita berharap semoga Allah SWT melindungi kita dari musibah dan penyakit-penyakit berat. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb

(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax, Habib RMI NU Tegal

Jumat, 24 November 2017

Musim Hujan dan Percikan Najis

Seiring dengan datangnya musim hujan, banyak ruas jalan yang tergenangi air hujan maupun lumpur, sehingga disaat sedang mengendarai sepeda motor atau ketika sedang berjalan kaki  percikan air maupun lumpur tersebut mengenai pakaian yang kita kenakan. Bagaimanakah hukum pakaian tersebut?

Islam adalah agama pembawa rahmat bagi seluruh umat manusia, terkhusus bagi umat muslim. Kaitanya dengan masalah pakaian, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berhati-hati dalam menjaga kesucian pakaian dari najis, karena hal ini berpengaruh terhadap sah dan tidaknya shalat, baik yang menempel pada pakaian, badan maupun tempat shalat.

Namun demikian Islam juga memperhatikan kemudahan, agar tidak terjadi kesulitan. Oleh karena itu, ada beberapa najis yang dimaafkan, karena sulit dihilangkan ataupun dihindari.  Sebagaimana yang disebutkan dalam Kitab Al-Wajiz (Syarhul Kabir) karya Imam Al-Ghazali.

Musim Hujan dan Percikan Najis (Sumber Gambar : Nu Online)
Musim Hujan dan Percikan Najis (Sumber Gambar : Nu Online)

Musim Hujan dan Percikan Najis

قال الغزالي : يُعْذَرُ مِنْ طِيْنِ الشَّوَارِعِ فِيْمَا يَتَعَذَّرُ الإِحْتِرَازُ عَنْهُ غَالِبًا

Imam Al-Ghazali berkata: Pakaian yang terkena percikan lumpur maupun air dijalan karena sulitnya menghindarkan diri darinya, maka hal ini dimaafkan.

Kemudian jika percikan air maupun lumpur tersebut diyakini mengandung najis, misalnya genangan air tersebut adalah luapan dari got ataupun comberan yang najis. Maka hal ini juga dimaafkan jika memang percikan tersebut sedikit. Seperti pendapat Imam Ar-Rafi’I dalam kitabnya Al-Aziz Syarhul Wajiz.

وَأَمَّا مَا تَسْتَيْقِنُ نَجَاسَتَهُ فَيُعْفَى عَنِ القَلِيلِ مِنْهُ. وأمَّا الكَثِيْرُ فَلاَ يُعْفَى عنهُ كَسَائِرِ النَّجَاسَاتِ.

RMI NU Tegal

Jika diyakini jalan tersebut ada najisnya, maka hukumnya dimaafkan jika percikan tersebut hanya sedikit, namun jika percikan tersebut banyak maka tidak dimaafkan, sebagaimana hukumnya najis-najis yang lain.

Alasan kenapa najis yang sedikit diatas dimaafkan, karena akan memberatkan jika harus diperintahkan untuk segera mencuci pakaian yang terkena percikan tersebut. Padahal ia hanya membawa satu pakaian dan juga ia harus memenuhi kebutuhan hidupnya.  

RMI NU Tegal

 

Penulis: Ahmad Fuad Basha

Redaktur: Ulil Hadrawy

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Bahtsul Masail, Anti Hoax, Syariah RMI NU Tegal

Senin, 20 November 2017

PCNU Wonosobo Sosialisasikan Hasil-Hasil Muktamar Ke-33 NU

Jakarta, RMI NU Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Wonosobo mengadakan pertemuan perdana dengan pengurus MWCNU Wadaslintang berikut ranting-ranting NU di SMA Ma’arif NU Wadaslintang pada Ahad (27/9). Mereka membahas hasil-hasil putusan Muktamar Ke-33 NU awal Agustus lalu.

Rais Syuriyah PCNU Wonosobo KH Abdul Khalim Alhafidz menyatakan bahwa NU di Wonosobo tetap rukun dan solid. “Implementasi Islam Nusantara di Wonosobo sangat tepat untuk menyikapi paham-paham radikal yang mengancam keutuhan NKRI.”

PCNU Wonosobo Sosialisasikan Hasil-Hasil Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Wonosobo Sosialisasikan Hasil-Hasil Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Wonosobo Sosialisasikan Hasil-Hasil Muktamar Ke-33 NU

Rencananya sosialisasi hasil-hasil muktamar ke-33 NU akan dilaksanakan secara berurutan dengan mendatangi setiap MWCNU dan mengundang ranting-ranting di lingkungan MWC setempat.

RMI NU Tegal

PCNU Wonosobo, Sekretaris PCNU Wonosobo Nurcholis menambahkan, menyambut baik penerapan sistem Ahlul Halli Wal Aqdi. Dengan sistem ini, NU menjunjung tinggi maru’ah ulama.

RMI NU Tegal

“Secara personal merasa sangat bangga karena embrio Ahlul Halli dicetuskan dalam Rapat Pleno PBNU tahun 2013 yang diselenggarakan di Wonosobo. Dengan demikian warga NU Wonoosbo selayaknya merasakan kebanggaan sebagai bagian dari sejarah besar NU,” kata Sekretaris PCNU Wonosobo. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax, Sholawat, Doa RMI NU Tegal

Selasa, 14 November 2017

Ramadhan, Mari Kian Bersahabat dengan Alam!

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ?:? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ramadhan, Mari Kian Bersahabat dengan Alam! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, Mari Kian Bersahabat dengan Alam! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, Mari Kian Bersahabat dengan Alam!

RMI NU Tegal

Tahun 2015 lalu Indonesia diresahkan dengan bencana kabut asap yang luar biasa akibat kebakaran hutan. Kabakaran yang terjadi di 12 provinsi itu mengkibatkan kerugian yang sangat besar, tak hanya dari segi materi tapi juga kerusakan lingkungan dan menurunnya mutu kesehatan masyarakat bahkan hingga memakan korban jiwa.

RMI NU Tegal

Kebakaran hutan sepanjang Juni-Oktober 2015 memicu perlambatan ekonomi daerah terdampak, menghanguskan sedikitnya 2,6 juta hektare lahan atau setara 4,5 kali Pulau Bali, serta menimbulkan kerugian hingga Rp 221 triliun. Belum lagi puluhan ribu orang di kawasan terparah seperti Pulau Sumatera dan Kalimantan yang menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) karena terpapar asap.

Bencana kekeringan juga tak kalah menyedihkan. Akibat fenomena alam el-nino, pertengahan tahun lalu, hujan tak kunjung turun ke bumi Indonesia. Kekeringan menambah penderitaan para petani, dan kekurangan air bersih melanda di mana-mana. Kondisi kian parah ketika kawasan hijau yang diandalkan ternyata sudah gundul dan kehilangan fungsinya. Saat musim hujan tiba, tragedi pun berganti dengan bencana banjir. Berita tentang rumah rusak, korban luka-luka hingga meninggal dunia, akibat banjir bandang dan longsor ramai di media massa. Seolah alam sedang menunjukkan kemarahannya kepada manusia.

Hadirin jamaah Shalat Jum’at hadâkumullâh,

Tentu ini bukan salah alam. Karena alam bergerak atas dasar sunnatullah (hukumnya) sendiri. Allah dalam Al-Qur’an Surat ar-Rum ayat 41 mengingatkan,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Ayat ini dengan terang mengungkapkan bahwa di balik kerusakan yang di bumi maupun di laut ada ulah manusia sebagai penyebabnya. Bencana alam tidak datang tiba-tiba, melainkan melalui faktor, yakni sifat dan perilaku manusia.

Mengapa bencana asap luar biasa terjadi? Kebakaran terjadi karena masifnya alih fungsi di lahan yang sangat mudah terbakar. Pemicu kebakaran tersebut adalah karena keringnya lahan gambut setelah alih fungsi lahan. Dalam proses alih fungsi, lahan gambut itu selalu disertai pengeringan lewat pembuatan kanal-kanal. Dan itu ulah manusia.

Mengapa bencana kekeringan dan banjir selalu terjadi? Karena sumber daya alam yang mencegah itu semua telah dirusak. Praktik penebangan pohon yang membabi buta, pembuangan sampah yang sembarangan, dan abai terhadap pentingnya aksi penghijauan, adalah di antara sumber masalah yang patut diperhatikan. Dan pelakunya pun tak lain adalah manusia.

Hadirin jamaah Shalat Jum’at as‘adakumullah,

Ramadhan sebagai bulan untuk kian mendekatkan diri kepada Allah adalah momentum tepat untuk merenungi dua ajaran dasar dalam Islam. Pertama, Allah adalah rabbul ‘âlamîn atau Allah adalah tuhan seluruh alam. Artinya, hamba Allah bukan hanya manusia, melainkan seluruh makhluk lain: binatang, tumbuhan, gunung, tanah, udara, laut, dan lain sebagainya. Dalam konteks hubungan antara khaliq dan makhluq, manusia sama dengan ciptaan-ciptaan lain.

Ajaran yang kedua adalah rahmatan lil ‘alamin atau menebar kasih sayang kepada seluruh alam, sebagai misi utama ajaran Islam. Manusia tak hanya dituntut berbuat baik dengan manusia lainnya tapi juga makhluk lainnya. Itulah mengapa saat perang Badar yang peristiwanya tepat pada bulan Ramadhan, Rasulullah melarang pasukan Muslim merusak pohon dan membunuh binatang sembarangan. Hal ini menjadi bukti bahwa Islam sangat menyayangi alam.

Dengan menyadari dua ajaran dasar tersebut (Allah rabbul ‘âlamîn dan misi Islam rahmatan lil ‘âlamîn), dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia dan alam memiliki hubungan integral dan timbal balik. Manusia memang diberi kelebihan untuk bisa memanfaatkan alam tapi ia sekaligus berkewajiban pula melestarikan dan melindunginya. Saat alam hanya diposisikan sebagai objek yang dimanfaatkan, maka eksploitasilah yang akan muncul. Eksploitasi yang timbul dari sifat serakah akan berdampak pada kerusakan dan ujungnya adalah bencana alam. Sebaliknya, bila manusia bersahabat dan berbuat baik terhadap alam, maka alam pun mendatangkan maslahat bagi dirinya.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Wahai para penyayang yang semoga Sang Maha Penyayang menyayangi kalian, sayangilah semua yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangimu.

Demikian, semoga di bulan Ramadhan ini kita sanggup meningkatkan kualitas diri kita untuk menjadi manusia yang akram (lebih bertakwa kepada Allah SWT) dan shâlih, yakni yang mampu mewarisi bumi ini dalam arti luas, mengelola, memanfaatkan, menyeimbangkan dan melestarikan dengan tujuan akhirnya mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat (sa’adatud darain).

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Alif Budi Luhur)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax, Bahtsul Masail RMI NU Tegal

Senin, 06 November 2017

Sekolah Berbasis Pesantren Sulit Terapkan Full Day School

Jombang, RMI NU Tegal



Sekolah berbasis pesantren di Jombang Jawa Timur kesulitan menerapkan program Full Day School dengan lima hari sekolah. Pasalnya, model pendidikan lembaga pesantren memiliki durasi pertemuan lebih padat daripada sekolah umum lainnya. Sehingga akan kedodoran jika akan diringkas dalam lima hari pertemuan saja.

Sekolah Berbasis Pesantren Sulit Terapkan Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekolah Berbasis Pesantren Sulit Terapkan Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekolah Berbasis Pesantren Sulit Terapkan Full Day School

"Tentu banyak yang harus dipertimbangkan. Di sekolah kami, baik jam pelajaran maupun jumlah mata pelajaran sangat jauh berbeda dengan sekolah umum lain. Kalau dipaksakan sistem lima hari sekolah, bisa-bisa anak-anak Maghrib baru bisa pulang," ungkap Sutrisno, Kepala Sekolah MAN Tambakberas, Jombang,?

Di sekolah yang emmiliki ribuan siswa putra dan putrid ini, dikatakannya ada 24 mata pelajaran dengan durasi pertemuan hingga 52 jam dalam seminggu. Hal ini berbeda dengan sekolah lainnya yang umumnya memiliki rata - rata 18 mata pelajaran dengan durasi pertemuan 48 jam.

"Sebab di sekolah berbasis pesantren, semua Mapel sekolah umum ada dan ditambah pelajaran keagamaan. Tentu siswa akan sangat kelelahan jika diringkas menjadi lima hari masuk sekolah," beber Sutrisno.

Masih menurut Kasek Sutrikno, kondisi anak didiknya juga berbeda-beda. Di antaranya ada yang setelah pulang sekolah, mereka harus membantu orang tuanya beraktifitas. Demikian juga dari sisi pengawasan anak, jika benar-benar di berlakukan, dua hari masa libur yakni, ? Sabtu dan Ahad menjadi masalah tersendiri bagi orang tua, utamanya bagi orang tua yang bekerja hingga akhir pekan.

RMI NU Tegal

"Banyak juga wali murid yang bekerja. Tentu akan menjadi masalah pada sisi pengawasan anak jika libur. Dari sisi guru pun begitu, semakin panjang durasi mengajar, juga akan menimbulkan masalah, karena sebagian guru juga mempunyai anak kecil," tandasnya.

Sutrisno berharap ada semacam tinjauan kembali terhadap program Full Day School dan berkeinginan agar program ini tidak dipaksakan, namun lebih baik jika bersifat opsional.

RMI NU Tegal

Senada dengan Sutrisno, Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jombang, Ahmad Faqih menilai program Full Day School ini juga akan sulit dilakukan bagi daerah - daerah yang kurang sarana dan prasarana serta yang memiliki geografis sulit.

"Bagi daerah yang secara geografis sulit dan infrastruktur seperti jalan dan penerangan minim akan menjadi masalah tersendiri bagi wali murid jika sekolah diberlakukan hingga malam," papar Ahmad Faqih.

Selain itu menurut Faqih, penerapan lima hari masuk sekolah juga terlebih dahulu perlu difikirkan pengalokasian anggaran bantuan operasional dalam jumlah yang memadai bagi lembaga pendidikan agama seperti Madrasah Diniyah atau Taman Pendidikan Al Qur an dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

"Hal ini sebagai wujud nyata dukungan terbentuknya kolaborasi dan kerjasama dalam perbaikan penguatan kualitas karakter peserta didik," pungkasnya.(Muslim Abdurahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax RMI NU Tegal

Minggu, 05 November 2017

IPNU-IPPNU Sayung Kembangkan Komisariat di Sekolah-sekolah

Demak, RMI NU Tegal. Sebanyak 50 pelajar di lingkungan Madrasah Aliyah (MA) Nurul Qur’an Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, serta beberapa perwakilan MA mengikuti jenjang kaderisasi awal Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU), Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), Sabtu (21/2), di madrasah setempat.

IPNU-IPPNU Sayung Kembangkan Komisariat di Sekolah-sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Sayung Kembangkan Komisariat di Sekolah-sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Sayung Kembangkan Komisariat di Sekolah-sekolah

Ketua Pimpinan Anak Cabang IPNU Kecamatan Sayung Faidhul Qobir menyatakan, kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memaksimalkan pelajar di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU agar mulai berkiprah di IPNU-IPPNU.

Sebagaimana disampaikan Abdul Halim Ketua PC IPNU Demak, bahwa pihaknya telah mendapat izin dari PC LP Maarif NU Demak untuk mulai memasuki sekolah atau madrasah di bawah naungan LP Maarif NU. Langkah ini, menurut Faidhul, harus ditindaklanjuti oleh semua level kepengurusan IPNU-IPPNU baik cabang maupun anak cabang.

RMI NU Tegal

Senada dengan PAC IPNU Sayung, Nurul Indana selaku Ketua PAC IPPNU Kecamatan Sayung menegaskan, timnya mulai intensif menjalin komunikasi dengan kepala sekolah atau kepala madrasah di Kecamatan Sayung agar jajarannya diperkenankan mendirikan Komisariat IPNU-IPPNU.

RMI NU Tegal

“Selain di MA Nurul Qur’an, jika pihaknya juga telah mengadakan Makesta di Nahdlatus Syubban Purwosari, Al-Fatah Tambakroto, An-Nidham Kalisari,” Imbuh dara berkacamata ini .

Dalam agenda tersebut turut dihadiri dataran PC IPPNU Demak, yang diwakili Kholifah selaku bendahara, dan Wakil Ketua LBMNU Jawa Tengah KH Hudallah Ridwan. (Rohman Asy-Syauqi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax, Pendidikan RMI NU Tegal

Kamis, 26 Oktober 2017

Ulama, Kiai, dan Umara Bersatu, Negara Sejahtera

Demak, RMI NU Tegal



Untuk menciptakan kondisi suatu negara atau daerah yang adil, makmur, dan sejahtera perlu adanya keselarasan pandangan, sumbangsih pemikiran maupun tenaga dari beberapa elemen masyarakat, termasuk keterlibatan para tokoh masyarakat tak terkecuali peran ulama dan peran kiai NU

Ulama, Kiai, dan Umara Bersatu, Negara Sejahtera (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama, Kiai, dan Umara Bersatu, Negara Sejahtera (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama, Kiai, dan Umara Bersatu, Negara Sejahtera

“Kami minta Bapak Bupati dan Pak Wakil untuk tidak mengesampingkan peran para ulama dan kiai dalam membangun Demak.” Demikian disampaikan Ketua PCNU Demak KH Musadad Syarif kepada Bupati Demak H Moh Natsir dan wakilnya Joko Sutanto di hadapan jamaah lailatul ijtima’ dan peringatan harlah ke-93 NU tahun di gedung PCNU Demak Jl Sultan Fattah No 611 Bintoro Demak Ahad malam (8/5).

Dalam memberikan masukan pada pemangku Demak, PCNU Demak telah meminta masukan dari para Pengurus Cabang, MWC serta ranting se-Kabupaten Demak dalam dua kategori yakni segi agama dan umum, namun Musadad minta kejelasan pada bupati dan wakilnya dalam hal teknis penyampaiannya.

“Pak Bupati, selama ini dari beberapa bupati yang lalu kami dalam menyampaikan masukan ada beberapa macam, ada yang formal berbentuk tulisan ada pula lewat lisan sambil nyantai dan ngopi bareng,” tegas Musadad.

RMI NU Tegal

Sementara itu Bupati Demak H Moh Natsir yang baru saja dilantik oleh Gubernur Jateng 4 Mei lalu merasa berterima kasih kepada NU dikarenakan mau memberikan masukan kepada pemerintah untuk kepentingan pembangunan dan kemajuan kabupaten Demak di masa mendatang

“Kami mohon do’a restu agar kami bisa menjalankan amanah ini dengan baik, makanya kami juga minta poro kiai untuk saling mengisi, mengingatkan dan masukannya untuk Demak,” pintanya di hadapan jamaah. (A Shiddiq Sugiarto/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Halaqoh, Anti Hoax RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock