Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2018

Inilah Harapan PCNU pada Bupati Pringsewu Mendatang

Pringsewu, RMI NU Tegal

Pringsewu akan memilih bupati dan wakil bupati pada Februari 2017 untuk mengemban amanat memimpin dan membangun Pringsewu 5 tahun ke depan. Warga di Kabupaten Jejama Secancanan Bersenyum Manis ini berharap besar bupati terpilih nanti dapat melanjutkan kebijakan yang telah ditetapkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Panjang (RPJMP).

Inilah Harapan PCNU pada Bupati Pringsewu Mendatang (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Harapan PCNU pada Bupati Pringsewu Mendatang (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Harapan PCNU pada Bupati Pringsewu Mendatang

"Harapan terhadap bupati terpilih nantinya agar dapat meneruskan dan melanjutkan program jangka panjang yang sudah direncanakan pada periode sebelumnya. Hal ini juga dimaksudkan agar anggaran yang sudah dikeluarkan untuk menata Pringsewu dari awal tidak sia sia," kata Wakil Ketua Tanfidziyyah PCNU Pringsewu H Hambali saat ditanya harapannya kepada bupati periode 2017-2022 mendatang, Sabtu (30/4).

H Hambali yang juga ketua Mejelis Ulama Indnesia (MUI) Kabupaten Pringsewu ini menambahkan bahwa Kebijakan baru yang diambil haruslah berpatokan pada blueprint pembangunan Pringsewu yang sudah disepakati antara legislatif dan eksekutif.

RMI NU Tegal

Selain itu, dalam memimpin Kabupaten Pringsewu 5 tahun mendatang, ia berharap bupati dan wakil bupati terpilih dapat membangun Pringsewu di segala bidang sesuai dengan potensi sumber daya yang ada. "Pembangunan di bidang SDM dan moral warga serta aparat pemerintahan juga lebih diutamakan. Jika sumber daya manusia yang ada baik, maka pembangunan yang dilaksanakan pun akan baik dan berkualitas," tegasnya.

Selain SDM, lanjutnya, pembangunan ekonomi, pendidikan dan fisik juga harus ditingkatkan khususnya pembangunan sarana transportasi berupa jalan. "Koordinasi dari segala pihak yang terkait dalam pembangunan jalan harus dibangun dengan baik sehingga jalan yang berkaulitas akan dapat direalisasikan," himbaunya.

RMI NU Tegal

Ditanya mengenai model pembangunan yang cocok untuk dikembangkan di Pringsewu, Ia menjawab bahwa model pembangunan yang berkelanjutan dan terpadu sangat cocok digunakan di Pringsewu. "Sebagai Kabupaten yang sangat potensial di berbagai bidang, pembangunan di Pringsewu sebaiknya juga menggunakan model terpadu. Artinya segala potensi dapat diolah sedemikian rupa untuk kesejahteraan warga masyarakat," jelasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nasional, Sholawat, Sejarah RMI NU Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Peluncuran Buku “Gus Dur di Mata Perempuan”

Yogyakarta, RMI NU Tegal. Pimpinan Pusat Fatayat NU membedah buku ‘Gus Dur di Mata Perempuan’ terbitan Gading, Yogyakarta. Mereka bersama para aktivis di Yogyakarta, mencoba mengkaji buku yang akan dipasarkan pada 2015 mendatang di Pendopo Hijau Yayasan LkiS, Yogyakarta, Sabtu (6/12).

Peluncuran Buku “Gus Dur di Mata Perempuan” (Sumber Gambar : Nu Online)
Peluncuran Buku “Gus Dur di Mata Perempuan” (Sumber Gambar : Nu Online)

Peluncuran Buku “Gus Dur di Mata Perempuan”

Buku setebal 294 halaman itu berisi pengalaman persinggungan para penulis dengan KH Abdurrahman Wahid. Mereka berasal dari pelbagai latar belakang. Para penulis kebanyakan memiliki pengalaman-pengalaman personal dengan kiai nyentrik itu.

Hadir sebagai pembicara pada peluncura buku ini salah seorang kontributor Ciciek Farha dan pengurus Fatayat NU Yogyakarta Maghfiroh Rahayu.

RMI NU Tegal

Menurut Rahayu, buku ini memberikan perspektif baru dalam memandang sosok Gus Dur. Sebab buku-buku yang membahas tentang sosok Gus Dur kebanyakan ditulis oleh kalangan lelaki. Padahal semasa hidupnya Gus Dur lantang berjuang untuk membela kaum yang diperlakukan tidak adil, termasuk perempuan.

RMI NU Tegal

Secara garis besar, kata Rahayu, buku ini menjelaskan dua hal mengenai keterkaitan Gus Dur dengan isu-isu perempuan di level kebijakan dan praktek.

“Pada Munas NU 1997 di Lombok, Gus Dur mengeluarkan keputusan mengenai bolehnya perempuan menjadi pimpinan,” ujar Rahayu mencontohkan kebijakan Gus Dur. Keputusan ini sangat penting bagi kalanga perempuan.

Sementara Ciciek lebih mengenalkan sosok Gus Dur kepada anak-anak di kampung halamannya. Menurutnya, mengenalkan Gus Dur bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan permainan engrang dan musik.

“Selama ini engrang sering diasumsikan sebagai permainan anak laki-laki. Tapi di kampung halamannya, permainan ini dilakukan oleh semua anak-anak tanpa memandang jenis kelamin,” kata Ciciek. (Sarjoko Subejo/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Aswaja, Sholawat RMI NU Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Lagi, Masjid Gus Dur Tuntun Syahadat Seorang Muallaf

Jakarta, RMI NU Tegal. Masjid Jami’ al-Munawwarah yang terletak di kompleks kediaman KH Abdurrahamn Wahid (Gus Dur) Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, kembali menjadi tempat pengucapan dua kalimat syahadat seorang muallaf, Sabtu (19/1) siang.

Lagi, Masjid Gus Dur Tuntun Syahadat Seorang Muallaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, Masjid Gus Dur Tuntun Syahadat Seorang Muallaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, Masjid Gus Dur Tuntun Syahadat Seorang Muallaf

Seorang perempuan bernama Stephanie Ade Irawan hari ini berketetapan hati masuk Islam. Turut hadir menjadi saksi istri mendiang Gus Dur Ny H Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Wasekjen PP LDNU H Syaifullah Amin, Habib Hasan Dalil Alaydrus, dan sejumlah jajaran pengurus Yayasan KH Abdul Wahid Hasyim.

”Apakah ada yang memaksa?” tanya Habib Hasan sebelum membimbing syahadat. ”Tidak,” jawab Stephanie.

RMI NU Tegal

”Berarti dari hati?” sambung Habib Hasan.”Ya, dari hati,” Stephanie menganggukkan kepala.

RMI NU Tegal

Sebelum menuntun syahadat, Habib Hasan menjelaskan bahwa Islam bersifat rasional dan menentang unsur pemaksaan dalam beragama. Selain menyinggung kearifan dakwah Rasulullah, ia juga menjabarkan secara singkat lima rukun Islam yang meliputi syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji.

Stephanie yang cukup lancar melafalkan dua kalimat syahadat dan terjemahannya itu disambut haru oleh kerabat dan tamu yang hadir. Karena bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi, prosesi masuk Islam ditutup dengan doa dan shalawat.

Menurut Ketua Harian Dewan Kemakmuran Masjid Syaifullah, ini merupakan kali keempat Masjid al-Munawwarah menyelenggarakan kegiatan serupa. Bahkan, katanya, sudah tiga kali pelafalan dua kalimat syahadat dituntun langsung oleh Gus Dur.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis    : Mahbib Khoiron:

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sholawat RMI NU Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Bantuan Darah Berkurang, RSNU Jombang Adakan Donor Darah Rutin

Jombang, RMI NU Tegal. Menjelang Bulan Ramadhan dan Hari Raya, bantuan darah yang disalurkan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jombangn seringkali mengalami penurunan setiap tahunnya. Mengantisipasi agar hal ini tidak terulang, Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) setempat bekerjasama dengan PMI dalam memberikan bantuan darah secara rutin.

Bantuan Darah Berkurang, RSNU Jombang Adakan Donor Darah Rutin (Sumber Gambar : Nu Online)
Bantuan Darah Berkurang, RSNU Jombang Adakan Donor Darah Rutin (Sumber Gambar : Nu Online)

Bantuan Darah Berkurang, RSNU Jombang Adakan Donor Darah Rutin

Denok Eko Yulistiawati Manajer Keperawatan RSNU mengungkapkan, beberapa tahun sebelumnya RSNU memang sudah rutin mengagendakan kegiatan bakti sosial seperti halnya donor darah. Namun kali ini dirinya akan lebih menggalakkan kegiatan donor tersebut dengan rentan waktu tiga bulan sekali.

"Ini (kegiatan donor darah, red) kita memang rencanakan setiap tahun, namun kami harapkan kegiatan ini tidak hanya satu tahun sekali tetapi rutin setiap tiga bulan sekali," katanya kepada RMI NU Tegal, Rabu (17/5) di lokasi donor darah.

Donor darah yang dilakukan rutin setiap tiga bulan sekali, menurutnya sangat membantu terhadap kesehatan seseorang. "Dalam pengambilan darah ini juga berguna, karena kalau seseorang sudah pernah donor, kemudian rutin tiga bulan sekali semakin baik," sambung Ibu Denok sapaan akrabnya.

RMI NU Tegal

Sementara untuk prioritas pendonor, Ibu Denok menjelaskan akan dimulai dari masing-masing karyawan RSNU sendiri. Mereka akan didorong utnuk mendonorkan darahnya secara rutin tiga bulan sekali. Selanjutnya, para santri juga masyarakat di Kota Santri ini tak luput dari objek kegiatan bakti sosial ini.

"Objeknya saat ini masih memprioritaskan karyawan-karyawati RSNU ditambah dengan santri-santri pondok pesantren Jombang, kemarin yang kita kasih undangan sekitar 6 pondok pesantren," ujar dia.

Seperti halnya kemarin, Rabu (17/5), di runag Gus Dur lantai II RSNU, tampak sejumlah karyawan RSNU juga puluhan santri dari beberpa pondok pesantren di Jombang ikut berpartisipasi dalam kegiatan donor darah ini. Dari jumlah pendonor yang diterima paniti kurang lebih dari 80 pendonor. Jumlah ini bisa saja bertambah sebab sebagian karyawan terus berdatangan ke lokasi donor dengan menyesuaikan jam kerjanya.

Dikatakan Ibu Denok, untuk menambah angka pendonor pada putaran selanjutnya, pihaknya akan meningkatkan pola komunikasi dan sosialisasi terhadap para karyawan RSNU, santri juga masyarakat di Jombang. "Ke depan, upaya yang akan kiita lakukan adalah kita akan sosialisasikan kepada karyawan supaya rutin melakukan pembersihan darahnya," pugkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Ubudiyah, Sholawat, Kajian RMI NU Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Siswa SMP Ma’arif 1 Pamekasan Santuni Fakir Miskin

Pamekasan, RMI NU Tegal. Ratusan bendera Nahdlatul Ulama (NU) masuk ke pelosok-pelosok desa. Rumah-rumah penduduk yang tergolong fakir miskin menatap bendera tersebut dengan wajah berbinar.

Siswa SMP Ma’arif 1 Pamekasan Santuni Fakir Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa SMP Ma’arif 1 Pamekasan Santuni Fakir Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa SMP Ma’arif 1 Pamekasan Santuni Fakir Miskin

Mereka mendapatkan santunan dari ratusan siswa-siswi SMP Ma’arif 1 Pamekasan yang menyalurkan zakatnya didampingi dewan guru, Senin (19/6). Sedikitnya terdapat 150 zakat fitrah diberikan kepada kaum fakir miskin di dua desa, yaitu Terrak dan Mangar, Tlanakan.

"Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian dan kepekaan sosial para siswa terhadap fakir miskin," ungkap Moh. Fadoli selaku Pembina OSIS SMP Maarif 1 Pamekasan.

Melalui kegiatan blusukan membagikan zakat fitrahnya, pihak sekolah mendambakan siswa-siswinya menjadi pribadi yang dermawan. Sebab, Nabi Muhammad SAW mengajarkan tangan di atas lebih utama daripada tangan di bawah.

RMI NU Tegal

Moh. Rosi, ketua OSIS SMP Maarif 1 Pamekasan menegaskan, ratusan zakat tersebut tidak serta merta langsung disalurkan. Melainkan, para siswa-siswi SMP Maarif 1 Pamekasan terlebih dahulu menjalani ritual keagamaan yang bernafaskan sunnah Nabi Muhammad SAW.?

"Kami mengawalinya dengan shalat dhuha dan tadarus Al-Quran. Semoga kita mendapatkan ridla Allah melalui berkah Ramadan dan pembersihan harta lewat zakat fitrah," ujar Rosi.

RMI NU Tegal

Usai shalat Dluha dan tadarus, siswa-siswi dibagi 8 kelompok. Selanjutnya, mereka menyebar sesuai lokasi sasaran pendistribusian. Dewan guru tampak berbinar mendampingi mereka. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Hikmah, Sholawat RMI NU Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Istighotsah Akhir Bulan Ini, Ribuan Nahdlyin Purwakarta Siap Penuhi Alun-alun

Purwakarta,RMI NU Tegal. Ribuan Nahdliyin dari berbagai daerah di Kabupaten Purkawarta, Jawa Barat akan memenuhi Alun-alun Purwakarta pada Sabtu (29/4) mendatang. Mereka bukan untuk menggelar unjuk rasa, melainkan melakukan istighotsah memperingati Harlah ke-94 NU.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purwakarta saat ini sedang menyiapkan ribuan massa tersebut. Panitia Harlah, Ramlan Maulana mengatakan, alun-alun Purwakarta dipilih karena bisa menampung ribuan massa.

Istighotsah Akhir Bulan Ini, Ribuan Nahdlyin Purwakarta Siap Penuhi Alun-alun (Sumber Gambar : Nu Online)
Istighotsah Akhir Bulan Ini, Ribuan Nahdlyin Purwakarta Siap Penuhi Alun-alun (Sumber Gambar : Nu Online)

Istighotsah Akhir Bulan Ini, Ribuan Nahdlyin Purwakarta Siap Penuhi Alun-alun

"Dan selain istighotsah sekaligus akan ada pelantikan MWCNU se-Kabupaten Purwakarta," ujarnya.

RMI NU Tegal

Istighotsah, kata Ramlan, untuk meminta yang terbaik kepada Allah SWT sebagai refleksi harakah NU di Purwakarta. Serta meminta pertolongan agar tahun politik di Purwakarta karena 2018 Pilkada yang bersamaan dengan Pilgub Jabar tak seperti di DKI Jakarta.

"Kami warga NU ingin Purwakarta tentram dan damai. Jawa Barat juga. Jangan sampai karena urusan politik, umat dipecah belah dengan isu-isu SARA," ucapnya.

RMI NU Tegal

Untuk itu, istighostah nanti intinya meminta yang terbaik bagi perjalanan Purkawarta, Jawa Barat dan Indonesia agar tidak bercerai-berai.

Selain diikuti Nahdlyin, kegiatan itu akan diikuti para birokrat, politisi dan elemen masyarakat di Purwakarta. (Nurjani/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sholawat, Aswaja, Nasional RMI NU Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Hukum Memakai Batu Akik

Assalamu’alaikum wr. wb. Akhir-akhir ini di kota-kota besar batu akik semakin banyak diminati. Demam batu akik melanda sampai ke kantor-kantor pemerintah maupun swasta. Saat ini juga bermunculan tempat-tempat baru yang menjual akik. Yang ingin kami tanyakan, apakah Rasulullah saw memakai cincin yang ada batu akik, dan apa jenisnya? bagaimana hukumnya? Atas penjelasan Pak Ustad kami sampaikan banyak terimakasih. Wassalamu’alaikum wr. wb (Ahmad/Semarang)

Jawaban

Hukum Memakai Batu Akik (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Memakai Batu Akik (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Memakai Batu Akik

Waalaikum salam wr. wb. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Memang sepanjang pengamatan kami, akhir-akhir ini demam cincin berbatu akik atau batu mulia lainnya meningkat dengan tajam. Buktinya adalah menjamurnya para padagang batu akik di mana-mana. Mulai harga yang puluhan ribu sampai jutaan. Bahkan kadang harganya lebih tinggi dari emas.

Untuk menanggapi pertanyaan pertama, kami akan mengemukakan sebuah riwayat Imam Muslim yang menjelaskan bahwa cincin Rasulullah saw itu terbuat dari perak dan batu mata cincinya berasal dari negeri Habasyi.

RMI NU Tegal

?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? -? ?

“Dari Anas bin Malik ra ia berkata, bahwa cincin Rasulullah saw itu terbaut dari perak dan mata cincinya itu mata cincin Habasyi”. (H.R. Muslim)

RMI NU Tegal

Menurut Imam Nawawi para ulama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan, “mata cincinya itu mata cincin Habasyi” adalah batu yang berasal dari Habasyi. Artinya batu mata cincinya itu dari jenis batu merjan atau akik karena dihasilkan dari pertambangan batu di Habsyi dan Yaman. Pendapat lain mengatakan bahwa batu mata cincinya berwarna seperti warna kulit orang Habasyi, yaitu hitam.

Sedangkan dalam Shahih al-Bukhari terdapat riwayat dari Hamin dari Anas bin Malik yang menyatakan mata cincinya itu terbuat dari perak. Dalam pandangan Ibnu ‘Abd al-Barr ini adalah yang paling sahih.

Dari sinilah kemudian lahir pendapat lain yang mencoba untuk mempertemukan riwayat Imam Muslim dan Imam Bukhari. Menurut pendapat ini, baik riwayat yang terdapat dalam Shahih Muslim maupun Shahih al-Bukhari adalah sama-sama sahihnya. Maka menurut pendapat ini Rasulullah saw pada suatu waktu memakai cincin yang matanya terbuat dari perak, dan pada waktu lain memakai cincin yang matanya dari batu yang berasal dari Habsyi. Bahkan dalam riwayat lain menyatakan bahwa batu mata cincin beliau itu dari batu akik.

? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“(Dan mata cincinnya itu mata cincin Habasyi). Para ulama berkata maksudnya adalah batu Habasyi yaitu batu mata cincin dari jenis batu merjan atau akik. Karena keduanya dihasilkan dari penambangan batu yang ada Habsyi dan Yaman. Dan dikatakan (dalam pendapat lain) warnanya itu seperti kulit orang Habasyi yaitu hitam. Begitu juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari riwayat dari Hamid dan Anas bin Malik yang menyatakan bahwa mata cincinya itu dari perak. Menurut Ibnu Abd al-Barr ini adalah yang paling sahih. Sedangkan ulama lainnya mengatakan bahwa keduanya adalah sahih, dan Rasulullah saw pada suatu kesempatan memakai cincin yang matanya dari perak dan pada waktu lain memakain cincin yang matanya dari batu Habasyi. Sedang dalam riwayat lain dari akik.” (Muhyiddin Syarf an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, Bairut-Dar Ihya` at-Turats al-‘Arabi, cet ke-2, 1392 H, juz, 14, h. 71)

Namun terdapat keterangan lain yang menyatakan bahwa apa yang dimaksudkan, “mata cincinya itu mata cincin Habasyi” adalah salah satu jenis batu zamrud yang terdapat di Habasyi yang berwarna hijau, dan berkhasiat menjernihakan mata dan menjelaskan pandangan”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan di dalam kitab al-Mufradat, (batu cincin yang berasal dari Habasyi) adalah salah satu jenis zamrud yang terdapat di Habasyi, warnanya hijau, bisa menjernihkan mata dan menerangkan pandangan” (Lihat Abdurrauf al-Munawi, Faidlul-Qadir, Bairut-Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet ke-1, 1451 H/1994 M, juz, 5, h. 216)

Lantas bagaimana hukum memakainya? Menurut Imam Syafi’i hukum memakai batu mulia atau batu akik seperti batu yaqut, zamrud dan lainnya adalah mubah sepanjang tidak untuk berlebih-lebihan dan menyombongkan diri.

? ?- ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Imam Syafii berkata dalam kitab al-Umm, saya tidak memakruhan laki-laki memakai mutiara kecuali karena terkait dengan etika dan mutiara itu termasuk dari aksesoris perempuan, bukan karena haram. Dan saya tidak memakrukan (laki-laki, pent) memakai yaqut atau zamrud kecuali jika berlebihan dan untuk menyombongkan (diri)”. (Muhammad Idris asy-Syafi’i, al-Umm, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1393 H, juz, 1, h. 221)

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat. Dan saran kami jangan pernah memakai batu cincin karena berniat menyombongkan diri dan takabbur. Bahkan bukan hanya batu cincin, tetapi semua yang kita kenakan juga. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sholawat RMI NU Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Mufarrihul Hazin, Kader IPNU yang Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun

Surabaya, RMI NU Tegal. Cita-cita dan harapan yang kuat dan diiringi dengan tindakan dan usaha nyata adalah kunci kesuksesan. Hal inilah yang tergambar dari sosok Mufarrihul Hazin yang akrab dipanggil Farih. Terlahir dari keluarga yang kurang secara ekonomi, tak lantas membuatnya surut dalam meraih pendidikan. Pria yang lahir di Palembang ini telah menyelesaikan studi doktonya pada usia 26 tahun. 

Mufarrihul Hazin, Kader IPNU yang Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Mufarrihul Hazin, Kader IPNU yang Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Mufarrihul Hazin, Kader IPNU yang Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun

Perjalanan panjang dan berliku telah dilewati putra kedua pasangan Muslihuddin dan Munazah ini, mulai jualan koran, jaga toko sampai menjadi trainer pendidikan. Semuanya berbuah manis. 

“Bagi saya ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang, selama kita punya cita-cita dan harapan yang besar, maka Allah yang akan menunjukan jalan. Percayalah itu,” ujar santri KH Hasyim Muzadi .

Pagi itu Kamis (14/12) terlihat berseri-seri wajah Farih. Dengan gaya khasnya yakni memakai kopiah ala NU, ia melangkah menuju mimbar untuk prosesi ujian terbuka promosi doktor bidang Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya. Dia membuka  dan melakukan presentasi dengan sangat baik, bahkan mampu menjawab pertanyaan dari penguji dengan sempurna.

RMI NU Tegal

Dalam disertasinya, Farih menjelaskan pentingnya pendidikan karakter pada perguruan tinggi. Selama ini pendidikan karakter hanya terfokus di pendidikan dasar dan menengah, sedangkan di kampus terlupakan. 

“Mahasiswa itu bukan hanya sekedar agen intektual, namun juga agen perubahan sosial. Mereka setelah lulus akan memulai dunia baru dengan pekerjaanya dan kembali ke masyarakat. Maka mereka harus dibekali dengan karakter yang kuat,” ungkap pemuda yang juga kader IPNU ini.

RMI NU Tegal

Perguruan tinggi harus mampu memformulasikan sebuah kebijakan pengembangan pendidikan karakter dan bagaimana implementasinya yang dijadikan naskah akademik di perguruan tinggi. 

Selain itu harus ada satu lembaga/unit di perguruan tinggi yang bertanggungjawab dan mengembangkan karakter mahasiswa. 

“Ini adalah hal yang penting membuat naskah akdemik pengembangan pendidikan karakter dan unit/ pusat yang bertanggungjawab di dalamnya,” kata pemuda yang dosen STAIN Kediri ini.

Dengan diraihnya gelar doktor dengan masa studi hanya 2 tahun, Farih berharap generasi bangsa agar membangun mimpi mereka. Jangan alasan ekonomi atau latar belakang keluarga yang kemudian membuat patah semangat dan hilang cita-cita. 

“Karena dengan kekuatan semangat yang membara akan mampu menyingkirkan segala sesuatu yang merintangi, sehingga mampu bermanfaat di masa depan,” tandasnya. (Choirudin Abdillah/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kajian Islam, Sholawat, Aswaja RMI NU Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Shalawat Wasiat KH Umar Abdul Mannan

Solo, RMI NU Tegal. Hiruk pikuk panitia, untuk mempersiapkan kegiatan khataman dan haul di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta, pekan lalu (31/1), masih terlihat. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 23.30 WIB.

Shalawat Wasiat KH Umar Abdul Mannan (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat Wasiat KH Umar Abdul Mannan (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalawat Wasiat KH Umar Abdul Mannan

Sebagian dari para santri yang berada di depan halaman masjid, masih sibuk dengan aktivitas mengangkat kursi, mengecek lampu dan sebagainya. Secara kebetulan, saya dan seorang kawan dari RMI NU Tegal, yang hendak pergi berziarah ke makam tokoh kharismatik di Solo, KH Umar Abdul Mannan, menemukan semacam prasasti yang terletak persis di depan masjid.

Pada prasasti tersebut, tertulis judul dengan huruf kapital: SHOLAWAT – WASIAT K.H. AHMAD UMAR ABDUL MANNAN. Tulisan yang berwarna kuning keemasan tersebut, terlihat menyala di atas prasasti yang berwarna hitam. Di bawah judul, tertulis syair shalawat yang dibuat oleh Kiai Umar.

RMI NU Tegal

Menurut Pengasuh Pesantren Al-Muayyad Windan, KH M Dian Nafi’, syair tersebut diciptakan semasa Kiai Umar masih hidup. “Kemudian dititipkan ke Nyai Siti Fathonah Rofingi. Pesan Mbah Umar, setelah wafat agar diserahkan ke pengganti beliau, KH Rofingi Al-Hafidh,” ujar Kiai Dian, Rabu (4/2).

RMI NU Tegal

Adapun isi shalawatnya sebagai berikut:

Allahumma sholli wa salim ‘alaa # Sayyidina wa maulanaa muhammadin

‘adada maa fi ‘ilmillahi sholatan # Da’imatan bida wa min mulkillahi

Wasiate Kyai Umar maring kita.

Mumpung sela ana dunya dha mempenga.

Mempeng ngaji ilmu nafi’ sangu mati.

Aja isin aja rikuh kudu ngaji

(wasiat Kiai Umar kepada kita

mumpuung hidup di dunia, bersungguh-sungguhlah

sungguh-sungguh cari ilmu bermanfaat sebagai bekal mati

jangan pernah malu, wajib mengaji!)

Dha ngajiha marang sedulur kang ngerti

Aja isin najan gurune mung bayi

Yen wus hasil entuk ilmu lakonono

Najan sithik nggonmu amal dilanggengno

(mengajilah kepada yang alim

jangan malu, meski gurumu masih sangat muda

bila sudah belajar, amalkanlah

walau sedikit, tapi konsisten)

Aja ngasi gegojegan dedolanan

Rina wengi kabeh iku manut syetan

Ora kena kanda kasep sebab tuwa

Selagine durung pecat sangka nyawa

(jangan banyak bergurau dan bermain

siang malam, semua itu mengikuti syetan

jangan pernah berkata terlambat belajar karena tua

selagi nyawa masih di kandung badan)

Ayo konco padha guyub lan rukunan

Aja ngasi pisah congkrah lan neng-nengan

Guyub rukun iku marakake ruso

Pisah congkrah lan neng-nengan iku dosa

(ayo saling guyub dan rukun

jangan saling berseteru

guyub rukun itu menjadikan kuat

berseteru itu dosa)

Ing sahrene dawuh rukun iku nyata

Ayo enggal dha nglakoni aja gela

Aja rikuh aja isin aja wedi

Kudu enggal dilakoni selak mati

(pesan untuk rukun itu nyata

ayo segera dilakukan, agar tidak kecewa

jangan malu, jagan takut

harus segera dilaksanakan, sebelum mati)

Mula ayo bebarengan sekolaho

Mesti pinter dadi bocah kang utama

Budhi pekertine becik sarta tata

Woh-wohane bakal bekti marang wong tuwa

(ayo bersekolah

jadilah anak yang pintar

berbudi pekerti baik dan tata krama

akhirnya berbakti kepada orang tua)

Ing sahrene dawuh rukun iku cetha

Ayo enggal dha nglakoni aja gela

Ayo sekolah nyang madrasah Al-Qur’an

Padha ngaji Qur’an ana Mangkuyudan

(pesan untuk rukun itu nyata

ayo segera dilakukan, agar tidak kecewa

ayo sekolah ke madrasah Al-Quran

mengaji Al-Quran di Pesantren Mangkuyudan

(Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Olahraga, Sholawat RMI NU Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Delapan Peserta BPUN Cirebon Melenggang ke Perguruan Tinggi Negeri

Cirebon, RMI NU Tegal. Sebanyak 6 dari 45 peserta bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) 2015 kabupaten Cirebon melenggang ke perguruan tinggi negeri melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Sementara 2 peserta lainnya masuk melalui Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN).

Bimbingan BPUN 2015 Cirebon diselenggarakan selama sebulan di Ma’had As-Shighor Gedongan dengan 45 orang siswa dari berbagai sekolah tingkat atas dan sederajat di Cirebon.

Delapan Peserta BPUN Cirebon Melenggang ke Perguruan Tinggi Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Delapan Peserta BPUN Cirebon Melenggang ke Perguruan Tinggi Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Delapan Peserta BPUN Cirebon Melenggang ke Perguruan Tinggi Negeri

“Enam orang lulus lewat SBMPTN ialah Afrilia Tristara di UI, Mohamad Fatich Arif di UNJ, Anton Suseno di Unnes, Robiatul Adawiyah dan Nurlinasanti di UPI, dan Ruli Budi Apriyanto di UPN Veteran Yogya. Sedangkan 2 orang lulus lewat SPAN-PTKIN ialah Siti Maemunah dan Robiatul Hadawiyah di IAIN Cirebon,” jelas Manajer Kota BPUN Wahyono, Kamis (9/7) malam.

RMI NU Tegal

Wahyono mengajak rekan-rekan alumni BPUN Cirebon bersyukur karena lulus ke PTN baik melalui jalur SBMPTN maupun SPAN-PTKIN. “Teman-teman alumni BPUN lainnya yang tidak lulus, kita akan terus memotivasi dan membimbing untuk mengikuti seleksi lewat Ujian Mandiri,” katanya.

Bagian Akademik BPUN Cirebon Murjiah berharap alumni BPUN lainnya tidak patah arang. “Masih banyak jalur masuk ke PTN, salah satunya Ujian Mandiri. Tetap semangat dan sukses,” ia berharap.

RMI NU Tegal

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Cirebon H Asdullah Anwar menyatakan kebanggaannya atas lulusnya peserta BPUN.

“Selamat dan sukses untuk peserta BPUN yang lulus SBMPTN. Yang belum lulus tetap semangat masih banyak jalan menuju sukses. Masih ada kesempatan lewat Ujian Mandiri,” ungkap Asdullah. (Ayub Al-Ansori/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Hadits, Warta, Sholawat RMI NU Tegal

Senin, 20 November 2017

PCNU Wonosobo Sosialisasikan Hasil-Hasil Muktamar Ke-33 NU

Jakarta, RMI NU Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Wonosobo mengadakan pertemuan perdana dengan pengurus MWCNU Wadaslintang berikut ranting-ranting NU di SMA Ma’arif NU Wadaslintang pada Ahad (27/9). Mereka membahas hasil-hasil putusan Muktamar Ke-33 NU awal Agustus lalu.

Rais Syuriyah PCNU Wonosobo KH Abdul Khalim Alhafidz menyatakan bahwa NU di Wonosobo tetap rukun dan solid. “Implementasi Islam Nusantara di Wonosobo sangat tepat untuk menyikapi paham-paham radikal yang mengancam keutuhan NKRI.”

PCNU Wonosobo Sosialisasikan Hasil-Hasil Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Wonosobo Sosialisasikan Hasil-Hasil Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Wonosobo Sosialisasikan Hasil-Hasil Muktamar Ke-33 NU

Rencananya sosialisasi hasil-hasil muktamar ke-33 NU akan dilaksanakan secara berurutan dengan mendatangi setiap MWCNU dan mengundang ranting-ranting di lingkungan MWC setempat.

RMI NU Tegal

PCNU Wonosobo, Sekretaris PCNU Wonosobo Nurcholis menambahkan, menyambut baik penerapan sistem Ahlul Halli Wal Aqdi. Dengan sistem ini, NU menjunjung tinggi maru’ah ulama.

RMI NU Tegal

“Secara personal merasa sangat bangga karena embrio Ahlul Halli dicetuskan dalam Rapat Pleno PBNU tahun 2013 yang diselenggarakan di Wonosobo. Dengan demikian warga NU Wonoosbo selayaknya merasakan kebanggaan sebagai bagian dari sejarah besar NU,” kata Sekretaris PCNU Wonosobo. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax, Sholawat, Doa RMI NU Tegal

Selasa, 14 November 2017

19 Grup Ramaikan Festival Hadrah Tingkat Provinsi DIY

Yogyakarta, RMI NU Tegal. Dalam rangka memperingati hari ulang tahun yang ke-17, Pondok Pesantren Luqmaniyah Yogyakarta menggelar acara Festival Hadrah Tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di halaman pesantren, Jumat (10/2).?

19 Grup Ramaikan Festival Hadrah Tingkat Provinsi DIY (Sumber Gambar : Nu Online)
19 Grup Ramaikan Festival Hadrah Tingkat Provinsi DIY (Sumber Gambar : Nu Online)

19 Grup Ramaikan Festival Hadrah Tingkat Provinsi DIY

Festival hadrah se-DIY yang dimulai sejak pukul 14.00 WIB tersebut menghadirkan tiga dewan juri, yakni Ustadz Ahmad Roni juri vokal, Ustadz Anas Fahrudin juri adab, dan Ustadz Yazid Bustomi juri pakaian.?

Pengasuh Pondok Pesantren Luqmaniyah Yogyakarta, KH Naimul Wain dalam sambutannya mengatakan bahwa festival tersebut diadakan untuk menjalin ukhuwah antar-pesantren.?

“Syukur-syukur, bukan hanya ukhuwah pesantren, bukan hanya saling kenal tapi juga bisa ada tindak lanjutnya. Awalnya kenal, tapi akhirnya ada tindak lanjutnya,” ujar Kiai Naim yang disambut sorak-sorai para santri putra dan putri.?

Selain itu, lanjut Kiai Naim, acara ini merupakan upaya kita untuk membangun muhibbin, cinta kepada Rasulullah SAW.

RMI NU Tegal

“Semakin aktif kita menyelenggarakan acara seperti ini, akan bermunculan para pecinta-pecinta yang mengagungkan cinta kepada Allah SWT, dan Rasulullah SAW,” tegas Kiai Naim yang merupakan suami dari Nyai Hj Siti Chamnah.?

RMI NU Tegal

Acara festival hadroh tersebut diramaikan oleh 19 grup hadroh dari berbagai pesantren, kampus, sekolah dan majelis taklim yang ada di DIY.?

19 grup hadroh yang ikut di antaranya adalah Ihwanul Qolbi, Azkiyya (Pesantren Nurul Ummah), Fi Hubbil Jalil (Majelis Ta’lim Al-Hidayah, Prambanan), Kasyiful Quroob (MAN 1 Yogyakarta), Al-Jauhar (Pesantren Al-Jauhar Gunung Kidul), Sunan Pandanaran Pi & Sunan Pandanaran Pa (MTs Sunan Pandanaran), al-Mahalli Junior & al-Mahalli Senior (Pesantren al-Mahalli, Bantul).

Taufiqurrahman, As-Sa’adah (Jamaah Masjid Anas bin Malik Sleman), Darul Muslihin (Pesantren Darul Muslihin, Bantul), El-Tsuroyya (Pesantren Muntasyirul Ulum), Darul Adzkiyya’ (MTsN 1 Yogyakarta), Nurani Insani (Pesantren Nurani Insani, Gamping), Tsamrotul Muna (Pesantren al-Munawwir Komplek Q), Syauqol Mujtaba (Pesantren an-Nur Ngrukem), Alba Nada (Pesantren al-Barakah), Al-Layyinah (UIN Sunan Kalijaga). (Nur Rokhim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal IMNU, Sholawat RMI NU Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Ketika Kiai Baedlowie Ditanya soal Beragam Aliran

Fenomena berkembangbiaknya berbagai macam aliran (firqah) di Indonesia memang tidak mendadak muncul di akhir dasa warsa ini. Justru pada awal abad 19, di antara sebab NU lahir adalah karena ada paham lain yang mulai berkembang di Arab Saudi saat itu.?

Namun, semakin hari pergolakan dan perkembangan aneka macam paham semakin nampak lebar dan nyata di tengah masyarakat di Indonesia. Namun, anehnya kenapa kiai-kiai yang alim allamah di Indonesia tidak ada yang mengikuti paham tersebut.?

Sebagai contoh, KH M. Hasyim Asyari, KH Kholil Bangkalan, KH Mahfudz Tremas, KH Khotib Sambas dan kiai-kiai lain yang justru mereka adalah lulusan dari Arab Saudi. Mereka masih berpegang teguh kepada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah.?

Ketika Kiai Baedlowie Ditanya soal Beragam Aliran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Kiai Baedlowie Ditanya soal Beragam Aliran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Kiai Baedlowie Ditanya soal Beragam Aliran

Terkait hal itu, pernah suatu ketika KH Muhammad Shofi Al-Mubarok bertanya kepada ayahnya KH Ahmad Baedlowie Syamsuri yang juga salah seorang murid Syekh Muhammad Yasin bin Isa Al-Fadani.?

"Pak, kelihatannya, aliran yang itu kan bagus toh, Pak? Kalau dilihat, mereka begitu menghidupkan sunnah?" tanya Gus Shofi?

Kiai Baedlowie menjawab, "Bapak lebih memilih jalur-jalur yang sudah ditempuh para guru-guru Bapak, Simbah Kiai Muslih (Mranggen), Simbah Kiai Umar (Mangkuyudan), Mbah Arwani (Kudus). Bapak kok yakin kalau beliau-beliau itu ahli sorga semua".?

Lebih lanjut, Kiai Baedlowie menegaskan "Andai saja Mbah Muslih, Mbah Umar, Mbah Arwani itu kok tidak ahli sorga, saya ingin melihat, siapa lagi orang yang ahli sorga (di dunia ini)?"

RMI NU Tegal

Artinya, marilah kita mantapkan hati kita untuk selalu menapaki jalan yang sudah ditempuh oleh pendahulu kita. ? Kita tidak perlu mengikuti ajaran-ajaran baru yang belum bisa dipertanggungjawabkan silsilah sanad dan sambungnya sampai Baginda Nabi Muhammad SAW.?

RMI NU Tegal

(Ahmad Mundzir)?

*Cerita ini dikutip dari mauidzah Gus Shofi dalam acara pertemuan rutin alumni Pesantren Sirojuth Tholibini, Brabo di Karangsono, Mranggen, Demak, Jumat (10/2/17).?

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Santri, Sholawat, Kajian RMI NU Tegal

Sabtu, 04 November 2017

Kisah Tebuireng, dari Mbah Hasyim hingga Gus Dur

PESANTREN TEBUIRENG, bukan pesantren tertua. Tapi pesantren yang berada di Jombang ini sangat dikenal karena menjadi pusat perjuagan sejak pertengahan abad ke-19.

Tebuireng sendiri lahir sebagai respon terhadap tumbuhnya kapitalisme liberal yang tubuh bersamaan tumbuhnya industri gula di kawasan itu. Pabrik gula itu membawa ekses ketidakadilan sosial, pemiskinan, dan berbagai macam kriminalitas yang sengaja dilestarikan oleh penjajah guna melemahkan mental masyarakat jajahan.

Sebagai seorang aktivis muda, Hasyim asy’ari yang telah mendapatkan pendidikan paripurna dari seluruh peantren terkemuka di Jawa yang kemudian berpuncak mendapatkan pendidikan agama di Tanah Suci. Ia tergerak untuk mengatasi tantangan struktural itu, maka pada tahun Rabiul Awal 1317/1899 M didirikanlah sebuah pesantren di Tebuireng? di Cukir. Berhadapan persis dengan pabrik Gula Cukir.

Kisah Tebuireng, dari Mbah Hasyim hingga Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Tebuireng, dari Mbah Hasyim hingga Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Tebuireng, dari Mbah Hasyim hingga Gus Dur

Sejak awal berdirinya, pesantren tersebut tidak mengenakkan kalangan kolonial yang bercokol di situ, maka gangguan demi gangguan dilakukan oleh sekelompok preman dan jagoan yang dipelihara oleh? Belanda.

Ketika posisi Kiai dan segenap santri yang jumlanya hanya beberapa orang itu sangat terancam, maka Mbah Hasyim Asy’ari meminta bantan pada kiai-kiai dari Cirebon yang dikenal memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Kiai Abbas beserta beberapa kiai yang lain dari Buntet Cirebon datang memberikam bantuan. Semua jagoan yang ada di situ bisa dikalahkan sehingga mereka tidak berani lagi menggangu pesantren. Tetapi tidak dengan sendirinya pengawasan Belanda berhenti, sebaliknya terus diintensifkan.

Dengan berkurangnya gangguan itu, jumlah santri yang datang semakin bertambah. Ada sekitar 28 orang yang berasal dari berbagai tempat di Jawa Timur. Sebagai pesantren Salafiyah, ? Tebuireng mengajarkan berbagai kitab penting baik dalam fiqih, tauhid dan akhlaq.

Keahlian Mbah Hasyim Asy’ari dalam bidang hadits dan tafsir, menjadi daya tarik utama pesantren yang dirintisnya itu. Semua kitab diajarkan sesuai dengan tradisi pesantren Salaf, yaitu dengan metode bandongan, dan sorogan, bahkan saat itu metode halaqah juga sudah diterapkan, sehingga kehidupan akademis para santri menjadi dinamis dalam mengasah diri. Banyak santri senior dari pesantren juga dating, nyantri di Tebuireng baik sekadar mencari barokah maupun sengaja melibatkan diri dalam perjuangan politik yang gerakan dari pesantren itu.

RMI NU Tegal

Saat itu santri sudah datang dari Jawa tengan dan Jawa Barat sehingga jumlahnya kemudian meningkat hingga 200 orang. Apalagi sikap kiai yang sangat tegas pendiriannya dalam menghadapi berbagai persoalan kolonial, menjadi daya tarik tersendiri bagi para santri untuk berguru kepadanya. Melihat perkembangan pesantren Tebuireng yang semakin tidak terbendung itu, pemerintah Kolonial Belanda akhirnya terpaksa mengakui pesantren ini tahun 1906. Namun, Mbah Hasyim ini tetap waspada. Sebab, dia tahu bahwa pengakuan ini tidak lebih merupakan bagian dari Politiek Etis, sebuah tipu muslihat Belanda untuk membelandakan bangsa Indonesia dan umat Islam melalui pendidikan.

Ternyata, Tebuireng tetap pada pendiriannya, tidak mau tunduk pada Belanda dan tidak mau menerima bantuannya, bahkan semakin intensif menyardarkan bangsanya. Pesantren itu dituduh sebagai sarang ekstrimis Islam, karena itu pada tahun 1913 pesantren Tebuireng dihancurkan dan berbagai kitab penting dibakar oleh Belanda.

Menghadapi tantangan yang semakin berat itu tiada lain bagi peasantren ini untuk menyiapkan pejuang yang selain mendalam ilmu agamanya tetapi juga memiliki bekal ilmu pengetahuan umum yang memadai sebagai modal perjuangan nasional.

Walaupun Mbah Hasyim murni berpendidikan Salaf, tetapi sangat menghargai kemajuan yang terjadi di lingkungannya. Sebab itu, tahun 1919? telah diselenggarakan pendidikan formal yang bersifat klasikal yang dinamakan Madrasah Salafiyah Syafiiyah. Pelopor pembaruan di tebuireng ini adalah seorang Kiai Muda Muhamamad Ilayas yang sangat dipercaya oleh K Hasyim Asy’ari, sehingga berani memulai mengajarkan mata pelajaran umum yang selama ini belum dikenal di pesantren salafiyah.

RMI NU Tegal

Kalau semua kitab agama dipelajari dengan menggunakan bahsa Arab, tetapi saat itu, mulai diperkenalkan huruf latin, bersamaan dengan diterapkannya mata pelajaran bahasa Melayu, berhitung, sejarah, ilmu bumi dan sebagainya.

Tawaran baru ini sangat menarik kalangan santri yang sedang bangkit dan bergejolak saat itu. Sehingga Tebuireng menjadi pesantren idaman di kalangan pemuda tidak hanya dari Jawa, tetapi dikenal di seluruh Nusantara.

Para santri dari Tebuireng ini kemudian menjadi ulama besar yang memimin berbagai pesantren penting di Nusantara, antara lain KH Wahab hasbullah memimpin Pesantren ambakberas, KH Abdul Karim pendiri peantren Lirboyo dan sebagainya, termasuk ? K Ahmad Shiddiq adalah murid K Hasyim yang disegani.

Kiai Hasyim dikenal sebagai tokoh yang sangat giat bekerja mencari harta dan selalau menganjurkan orang untuk bercocok tanam yang dianggapnya sebagai pekerjaan sangat mulia. Demikian pula untuk mengembangkan pendidikan. Kedua dirasa sangat perlu untuk memperkuat basis perekonomian dan basis moral. Karena itu pada tahu 1919 itu juga didirikanlah Nahdlatut Tujjar yang dipimpin sendiri kemudian bendaharanya adalah Kiai Wahab Chasbullah.? Sejak saat itu Tebuireng menjadi simpul utama dari pergerakan nasional.

DI TENGAH gigihnya perlawan tehadap Belanda itu, kelompok Wahabi menguasai Masjidil Haram yang hendak menerapkan satu madzhab, yaitu Wahabi. Tingkah kelompok ini macam-macam, di antaranta mereka hendak membongkar makam Nabi Muhammad.

Para ulama pesantren tidak setuju dengan tingkah pola dan pemirikan agama kaum Wahabi. ? Lantas, Kiai Wahab usul kepada Mbah Hasyim agar dibentuk kepanitiaan untuk memprotes tindakan raja Ibnu Saud. Terbentuklah panitia bernama Komite Hejaz.

Dikirimlah delegasi Komite Hejaz itu. Setelah mendapat persetujuan dari pemimpin pesantren Terbuireng itu maka pada 31 Januari 1926 NU didirikan dan K Hasyim sendiri sebagai Rais Akbar.

Dengan menggunakan jaringann ulama yang dimiliki kiai, maka dengan cepat NU menyebar menjadi organisiasi besar. Dengan sendirinya Tebuireng menjadi sentral perjuangan kaum santri Nusantara saat itu. Ataa restu Mbah Hasyim, kiai Wahab dan kiai muda lain semakin leluasa dan giat bergerak membangkitkan umat.

Dengan lahirnya NU, daya tarik Pesantren Tebuireng semakin memuncak. Seiring dengan naiknya pamor pesantren itu, maka santri berdatangan dari seluruh Nusantara. Demikian juga para pemimpin pergerakan Nasional berdaatangan ke Pesantren itu sekedar untuk meminta restu dan memberikan dukungan moril atas kiprahnya.

Mereka itulah yang kemudian menjadi perintis NU di daerah masing-masing. Perlawanan terhadap penjajah juga semakin meluas di kalangan kiai dan santri pesantren setelah mendapat spirit baru perjuangan. Melihat gelagat semacam itu maka? pesantren ini selalu mendapatkan perhatian bahkan kunjunga dari berbagai pejabat Belanda terutama menteri urusan pribumi.

Untuk mempercepat perkembangan pesantren dalam penyadaran masyarakat, maka pada tahun 1934, ? putra Mbah Hasyim, Kiai Wahid Hasyim, merintis pendidikan khusus yang diberi nama Madrasah Nidzomiyah, sebuah langkah spektakular, sebabab pendidikan yang hanya bisa diikuti santri senior dan pilihan ini mengajarkan 70 persen mata pelajaran umum.

Di situ juga disediakan perpustakaan yang berisi sekitar 1000 judul buku, serta tidak ketinggalan disediakan berbagai majalah dan surat kabar, sehingga peroduk dari perguruan ini menjadi organisator yang tertib dan piawi serta pejuang yang militant.

Hingga tahun 1940-an, jumlah kiai yang dilahirkan dari Pesantren Tebuireng terdata sebanyak 25.000 orang tersebar di seluruh Nusantara. Dalam penyelidikan Jepang semua kiai yang militant tersebut ditengarai sebagai fabrikaat Tebuireng (gemblengan Tebuireng).

Karena itu ketika melihat Mbah Hasyim tetap membangkang tidak mau melakukan Saikere (penghormatan) pada bendera dan kaisar jepang, maka pada april 1942 kiai ini ditangkap dan dipenjarakan oleh Jepang.

Setelah dipenjara sekitar setahun beliau dibebaskan tanpa syarat, bahkan kemdian diberi jabatan Tinggi sebagai ketua Jawa Hokakai, menjadi Ketua MIAI dan ketua Masyumi.

Melihat posisi strategis dan keamana di pesantren ini maka ketika laranagn terhadap pegibaran bendera merah putih serta melagkan Indonesia raya diberlakukan keduanya masih bisa berkibar dan dinyanyikan di Pesantren Tebuireng.

Pada masa menjelang kemerdekaan dan masa awal kemerdekaan dalam mempertahankan kemerdekaan, posisi Pesantren Tebuireng sangat sentral. Bersamaan dikeluarkannya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, para pimpinan Nasional baik Bung Karno, Tan malaka dan Bung Tomo selalu berkordinasi ke Tebuireng untuk menghadapi sekutu.

Para sntri ulama dan keluarga Pesantren Tebuireng semuanya turun ke medan laga menjadi tentara seperti KH Wahid Hasyim, KH Chaliq, KH Hasyim, KH Yusuf Hasyim dan sebagainya. Seusai kemerdekaan banyak di antara mereka yang kembali mengajar di pesantren dan yang meneruskan perjuangan di parlemen dan di berbagai lembaga eksekutif.

Dengan peran politiknya yang besar, melahirkan tokoh-tokoh besar, Tebuireng menjadi semakin dikenal, apalagi pendirinya yakni KH Hasyim Asy’ari dan kemudian puteranya KH Wachid Hasyim mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional sehingga namanya menghiasi sejarah perjuangan nasional.

Pamor ini dengan sendirinya menyedot minat masyarakat belajar ke pesantren besar ini, karena itu pendidikan semakin dikembangkan baik secara materi dan fisik bangunannya.

Sejak tahun 1965 pesantren ini dipimpin oleh KH Yusuf Hasyim, yang kemudian pada tahun 1969 merintis pendirian pendidikan tinggi dengan membangun Universitas Hasyim Asy’ari.

Sepeninggal KH Yusuf Hasyim epemimpinan Pesantren Tebuireng dilanjutkan oleh KH Salahuddin Wahid. Saat ini pesantren Tebuireng semakin ramai dikunjungi orang dari berbagai kalangan semenjak KH Abdurrahman Wahid putera dari KH Wahid Hasyim dimakamkan bersama dengan kakeknya KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim.

Setiap hari ribuan penziarah dari kalangan muslim maupun non Muslim menziarahi makam KH Abdurrahman Wahid, sebagai tokoh pemersatu bangsa yang sangat dihormati oleh semua kalangan, sehingga pesantren Tebuireng yang semula surut saat ini kembali dikenal dan menjadi pusat perhatian. (Abdul Mun’im DZ.)

?

Sumber:

H . Aboebajar Aceh, Sejarah Hidup KH Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar, Diterbitkan Panitia Peringatan KH Wahid Hasyim, Jakarta 1957.,

Choirul Anam Pertumbuhan dan Perkembangan NU, Penerbit Bisma Satu, Surabaya, 1999.

Departemen Agama RI, Enskilopedi Islam, Penerbit Depag RI, Jakarta, 1987.

?

?

?

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sholawat, Fragmen RMI NU Tegal

Rabu, 01 November 2017

Gubernur Jatim Ajak Masyarakat Jadi Tuan Rumah yang Ramah

Jombang, RMI NU Tegal. Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengajak masyarakat untuk bersiap menyukseskan kegiatan Muktamar ke-33 NU di Jombang dan? menjadi menjadi tuan rumah yang ramah. Pasalnya, peserta dan tamu Muktamar NU yang akan hadir datang dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan mancanegara.

Ajakan ini disampaikan Gubernur Soekarwo saat meninjau langsung empat pesantren di Jombang yang bakal menjadi lokasi perhelatan akbar tersebut. Bersama Kapolda Jatim Irjen Pol Anas Yusuf dan Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI Eko Wiratmoko serta Ketua PWNU Jatim KH Mutawakkil Alallah Soekarwo memastikan kesiapan Pesantren Darul Ulum Rejoso, Pesantren Tebuireng, Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, dan Pesantren Mambaul Maarif Denanyar.

Gubernur Jatim Ajak Masyarakat Jadi Tuan Rumah yang Ramah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Jatim Ajak Masyarakat Jadi Tuan Rumah yang Ramah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Jatim Ajak Masyarakat Jadi Tuan Rumah yang Ramah

"Kita minta masyarakat Jombang khususnya dan Jawa Timur bisa menunjukkan bahwa Jombang adalah kota kelahiran tokoh-tokoh NU, tokoh-tokoh nasional. Karenanya kita minta masyarakat Jombang bisa menjadi tuan rumah yang ramah," ujarnya saat ramah tamah di Pesantren Denanyar, Senin (22/6).

RMI NU Tegal

Gubernur yang biasa dipanggil Pak Dhe Karwo ini juga meminta Bupati Jombang dan seluruh jajarannya untuk berbenah dalam menyambut Muktamar. Karena menurutnya Jombang belum total untuk mempersiapkan menyambut tamu yang bakal hadir. "Ini kelihatannya Jombang belum total untuk mempersiapkan menyapa tamu," imbuhnya.

RMI NU Tegal

Ia juga meminta pemerintah daerah bisa memanfaatkan kegiatan Mukmatar ke-33 NU untuk menyejahterakan masyarakatnya, misalnya terkait buah tangan yang bakal menjadi oleh-oleh peserta atau yang lain. "Sebenarnya dalam momen Muktamar NU yang bisa diambil manfaat dan menjadi ukuran itu adalah bagaimana gawe nasional ini? bisa meningkatkan ekonomi warga Jombang. Dan ini tugas Bupati dan Wagub untuk mengkreasikan soal ini," ujarnya.

Sementara itu, saat pengecekan lokasi, Gubernur Soekarwo berserta rombongan mengawali dari Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Rejoso, Kecamatan Peterongan. Selanjutnya, mereka dipandu oleh KH Hamid Bisri atau Gus Mamik, salah satu pengasuh PPDU. Gus Mamik menjelaskan secara panjang lebar tentang kesiapan PPDU. "Kita sudah siap sebagai tuan rumah. Di PPDU ini siap menampung 850 muktamirin," katanya.

Gus Mamik lantas mendampingi gubernur beserta rombongan melihat ruangan yang digunakan untuk tidur muktamirin. Dalam satu ruangan tersebut terdapat 8 lembar kasur lantai yang ditata sedemikian rupa. Selain itu juga terdapat bantal. Pada masing-masing perangkat tidur itu terdapat tulisan Muktamar ke-33 NU Jombang.

"Nanti bantalnya bisa dibawa pulang oleh peserta. Kita juga sediakan kasur lantai untuk istirahat peserta," kata Ketua Panda (panitia daerah) Muktamar ke-33 NU yang juga ikut mendampingi rombongan.

Usai dari Rejoso, Rombongan melanjutkan ke Pesantren Tebuireng pimpinan KH Sholahudin Wahid. Rombongan juga sempat melakukan ziarah ke makam pendiri NU KH Hasyim Asyari dan makam Gus Dur. Rombongan kemudian melanjutkan ke Pesantren Tambakberas. Gubernur juga sempat menjajal bantal dan kasur yang disediakan panitia untuk peserta dan tamu Muktamar NU yang bakal menginap selama 5 hari.

Foto: Gubernur Jatim Soekarwo (kiri), Ketua PWNU Jatim KH Mutawakil Alallah, Wagub Jatim Saifullah Yusuf, saat mencoba alas tidur untuk muktamirin

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sholawat, Ulama RMI NU Tegal

Selasa, 31 Oktober 2017

Muslimat Luncurkan Buku 70 Tahun Kiprah dan Karya Perempuan NU

Jakarta, RMI NU Tegal. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (PP Muslimat NU) Hj Khofifah Indar Parawansa meluncurkan buku “70 Tahun Muslimat NU: Kiprah dan Karya Perempuan NU” menjelang penutupan Kongres Muslimat, Sabtu (26/11) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.

Buku yang ditulis oleh Dr Hj Sri Mulyati ini berisi perjalanan organisasi permpuan terbesar di Indonesia ini dari masa ke masa beserta kiprah dan karya-karyanya.

Muslimat Luncurkan Buku 70 Tahun Kiprah dan Karya Perempuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat Luncurkan Buku 70 Tahun Kiprah dan Karya Perempuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat Luncurkan Buku 70 Tahun Kiprah dan Karya Perempuan NU

“Semoga buku ini menjadi referensi untuk siapa saja yang ingin memahami Muslimat NU,” ujar Khofifah dalam sambutannya.

Perempuan yang juga Menteri Sosial ini menerangkan, buku ini adalah gagasan Ketua Umum PP Mulsimat NU 1995-2000 Hj Aisyah Hamid Baidlowi. Dia juga ingin menegaskan bahwa tradisi sejarah kita bukan hanya tradisi lisan, tetapi juga tulisan.

Penulis buku Hj Sri Mulyati menyatakan, buku karya Muslimat NU bukan hanya buku tersebut, tetapi banyak karya lain. Di bidang pendidikan, akunya, Muslimat NU melalui Yayasan Pendidikan Muslimat NU (YPM NU) banyak menelorkan buku-buku praktis pendidikan.

RMI NU Tegal

Buku ini juga tidak akan selesai tanpa dukungan dari seluruh pengurus Muslimat NU. “Sebab itu, bagi saya buku ini adalah karya ibu-ibu Muslimat yang luar biasa,” ujar Ketua YPM NU ini.





RMI NU Tegal

Dalam Kongres Ke-17 Muslimat NU ini, Khofifah dipilih secara aklamasi oleh 34 pengurus wilayah, 525 pengurus cabang, dan 4 pengurus cabang istimewa (Hongkong, Arab Saudi, Malaysia, dan Sudan) yang memiliki hak suara dalam kongres. Dengan demikian, perempuan kelahiran Surabaya 51 tahun lalu ini memegang pucuk pimpinan Muslimat NU selama 4 periode (2000-2021).? (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sholawat, Amalan RMI NU Tegal

Jumat, 27 Oktober 2017

Kelompok Pengusung Khilafah Bukan Wacana Lagi, Tapi Gerakan

Jakarta, RMI NU Tegal

Belakangan, Banser di lapangan kerap meminta menghentikan kegiatan yang dilakukan kelompok yang ingin mengganti dasar negara Indonesia dari Pancasila menjadi khilafah. Gara-gara hal itu, kemudian Banser dicitrakan miring di media tertentu. Padahal itu upaya Banser menjaga dan mencintai negerinya sendiri.

Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor H. Yaqut Cholil Qoumas,? kelompok yang secara tersurat tujuannya jelas mendirikan khilafah islamiyah artinya mereka ingin membubarkan NKRI.

Kelompok Pengusung Khilafah Bukan Wacana Lagi, Tapi Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kelompok Pengusung Khilafah Bukan Wacana Lagi, Tapi Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kelompok Pengusung Khilafah Bukan Wacana Lagi, Tapi Gerakan

“Ini yang kami lawan. NKRI ini sudah melalui proses panjang oleh para pendiri yang di dalamnya ada para pendiri jam’iyah NU. Bagi kami, menjaga NKRI itu menjaga warisan para kiai,” ungkapnya di Jakarta, Jumat malam (14/4).

RMI NU Tegal

Ia menambahkan, ancaman terhadap negara itu bukan hanya fisik, tetapi juga gagasan, ujaran, wacana dan lain sebagainya.

RMI NU Tegal

Nah, kelompok pengusung khilafah itu, lanjutnya, bukan gagasan lagi, tapi gerakan. Padahal mereka melakukannya di negara yang sudah menyatakan dasar negaranya final.

“Artinya, tidak usah nenunggu orang angkat senjata, baru dianggap sebagai ancaman. Penyebaran ide alternatif bentuk negara, seharusnya sudah bisa dikenakan pasal ancaman terhadap negara.” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal IMNU, Halaqoh, Sholawat RMI NU Tegal

Rabu, 25 Oktober 2017

Pidato Rais Aam Gunakan Fasilitas Teleconference

Jakarta, RMI NU Tegal

Pidato Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sahal Mahfudz pada puncak peringatan Hari Lahir ke-82 NU akan menggunakan fasilitas teleconference (pembicaraan jarak jauh).

Menurut rencana, ada enam pengurus wilayah NU yang dapat mengikuti secara langsung acara yang digelar di Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 3 Februari mendatang itu. Keempat PWNU itu, antara lain, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat.

Pidato Rais Aam Gunakan Fasilitas Teleconference (Sumber Gambar : Nu Online)
Pidato Rais Aam Gunakan Fasilitas Teleconference (Sumber Gambar : Nu Online)

Pidato Rais Aam Gunakan Fasilitas Teleconference

“Masing-masing PWNU akan membuat acara yang menghadirkan massa NU di stadion provinsi masing-masing. Dengan teleconference ini, warga NU di sejumlah ibu kota provinsi lain bisa mengikuti dan mendengarkan pidato dari Rais Aam,” ujar Sekretaris Panitia Pelaksana Harlah ke-82 NU, Anas Taher, beberapa waktu lalu.

RMI NU Tegal

Melalui fasilitas teleceonference itu pula akan digelar dialog interaktif antara Presiden dengan warga Nahdliyin (sebutan untuk warga NU) di masing-masing provinsi. “Misalnya, PWNU Jatim bisa menceritakan tentang kondisi warga NU kepada Presiden,” kata Anas.

Selain itu, pihak panitia juga sedang mengusahakan adanya siaran langsung puncak peringatan harlah tersebut sehingga bisa disaksikan warga Nahdliyin di seluruh Indonesia.

RMI NU Tegal

Diikuti Ratusan Ribu Massa

Tak tanggung-tanggung. Diperkirakan, sebanyak 300 ribu warga Nahdliyin akan memenuhi stadion kebanggaan bangsa Indonesia itu. Mereka datang dari wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Selain itu, pada hajatan akbar yang bakal dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu, akan ditampilkan pula beragam acara lain, seperti, atraksi spektakuler para pendekar Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa, parade marching band dari Tarakanita dan Pondok Pesantren Darunnajah. Pun, manuver terjung payung hingga konser dangdut Soneta Group pimpinan Raja Dangdut Rhoma Irama. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Berita, Sholawat, Lomba RMI NU Tegal

Kamis, 19 Oktober 2017

Pengorbanan Mbah Ma’shum Lasem saat Pemberontakan PKI

Berbicara mengenai sifat-sifat dermawan dan sosial, sifat-sifat terbuka dan berterus terang, sifat-sifat satu kata dengan perbuatan, sifat-sifat kemauan keras dan berani tetapi cukup supel dan penuh toleransi yang terdapat dalam diri pribadi almarhum Mbah Ma’shum, belum sempurna dan tidaklah adil bilamana tidak ditonjolkan pula dua peristiwa besar yang hendak diutarakanberikut ini.

Peristiwa pertama adalah peristiwa pemberontakan PKI yang dikenal kemudian dengan nama G 30 S/PKI* pada tahun 1965. Sebab, peristiwa-peristiwa besar itu sangat berkesan di hati masyarakat. Suatu kesan yang benar-benar terpatri dalam benak kita bersama, khususnya di hati umat Islam dari aliran dan golongan apa dan mana pun.

Pengorbanan Mbah Ma’shum Lasem saat Pemberontakan  PKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengorbanan Mbah Ma’shum Lasem saat Pemberontakan PKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengorbanan Mbah Ma’shum Lasem saat Pemberontakan PKI

Pada waktu itu sejarah telah mencatat, kompleks Pondok Pesantren Al Hidayat maupun mushala dan kediaman Mbah Ma’shum telah berubah seluruhnya menjadi markas besar pertahanan bagi pengikut-pengikut paham Pancasila. Mereka adalah pegawai dan pejabat pemerintah, maupun pimpinan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan partai-partai lain, terutama umat Islam, khususnya orang-orang NU dengan Ansor dan Bansernya.

Masih segar untuk dikenang bahwa pada waktu itu semua kamar-kamar santri di bagian atas terkunci pintu-pintunya, tetapi terbuka jendela-jendelanya. Sebab, dalam kamar-kamar di bagian atas seluruh kompleks pondok pesantren itu terisi penuh dengan senjata mesin yang mulutnya sudah dihadapkan ke timur dan ke barat, menantikan datangnya serangan-serangan G 30 S/ PKI yang dipimpin dan dikoordinasi seluruh kekuatannya oleh Moh Asik, oknum Komandan Koramil di Lasem pada waktu itu.

RMI NU Tegal

Dikarenakan berubahnya Pondok Pesantren Al Hidayat menjadi markas besar pertahanan pembela-pembela paham pancasila, itulah maka menjadi praktis dan otomatis, bahwa Fatayat dan Muslimat memegang peranan penting dalam dapur umum di rumah kediaman Mbah Ma’shum, yang selama 24 jam terus-menerus bekerja keras menyuplai konsumsi yang diperlukan oleh pahlawan-pahlawan pembela paham Pancasila, di kala itu.

Tidak dimengerti oleh penulis, dari mana didapat bahan-bahan pokok keperluan dapur umum yang kemudian diolah oleh tangan-tangan halus Fatayat dan Muslimat yang siang malam secara nonstop memberikan suplai konsumsi kepada ratusan orang. Tetapi yang jelas bahwa Mbah Ma’shum berkenan banyak mengobral harta bendanya untuk konsumsi ini habis-habisan.

RMI NU Tegal

Dalam mengenang kembali kesibukan-kesibukan di dapur umum ini tak boleh dilupakan jasa-jasa Fatayat dan Muslimat di bawah pimpinan putri Mbah Ma’shum, Nyai Azizah, seorang Ibu Muslimat yang pada setiap saat perjuangan memerlukan, pasti tampil ke depan tidak mengenal lelah.

Tidak sepatutnya diungkapkan di sini bahwa di kala itu banyak para pejabat-pejabat yang setiap malam datang bermalam dan tidur dengan aman di ruang atas pondok pesantren, terutama Dandis Kepolisian Negara di Lasem di saat itu, Saudara S. Daryo. Bahwa mulut usil berani menyatakan bahwa jalannya pemerintahan di Lasem pada waktu itu, praktis berkedudukan di Kompleks Pondok Pesantren Al Hidayat, di bawah perlindungan doa Mbah Ma’shum sebagai ulama besar dan tertua yang disegani dan ditaati. Di sana mereka mengolah roda pemerintahan. Dari sana mereka meronco dan mengeluarkan instruksi dan pengumuman-pengumuman. Dan dari sana pula mereka mengkoordinasi seluruh potensi untuk mengganyang G 30 S/PKI.

Tidak juga perlu dibuka rahasia almarhum Mbah Ma’shum yang untuk sementara waktu harus dan terpaksa berpisah dari keluarganya, karena dibawa lari oleh beberapa? anak didiknya di pagi-pagi buta ke suatu tempat yang aman. Walaupun pada mulanya Mbah Ma’shum ingin tetap bertahan di rumah dan ingin bersama-sama anak buahnya mempertahankan Kota Lasem, namun hasil musyawarah dengan stafnya menentukan: mempersilahkan beliau untuk sementara waktu dihijrahkan. Sebab strategi dan taktik perjuangan di kala itu menghendaki demikian. Menghendaki Mbah Ma’shum melakukan perjalanan penuh rahasia ke seluruh pelosok desa dan kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur, guna memberikan spirit keberanian dan ketahanan daya juang kepada umat Islam, untuk melakukan jihad penumpasan sehabis-habisnya sampai seakar-akarnya kepada pemberontak-pemberontak G 30 S/PKI.

Dan kepergian Mbah Ma’shum melakukan perjalanan sejauh itu adalah dengan pertimbangan-pertimbangan, agar beliau dengan lebih leluasa bergerak memberikan indoktrinasi kepada umat. Lebih banyak diambil manfaatnya oleh umat. Dan tidak menghabiskan waktu, pikiran, dan fatwanya hanya untuk masyarakat di Lasem. Sebab, almarhum Mbah Ma’shum bukan milik umat Islam di Lasem saja, bukan milik umat di seluruh Kabupaten Rembang saja, tetapi milik umat di seluruh kepulauan ini, di mana murid-muridnya yang sudah menjadi ulama dan pemimpin-peminpin tingkat nasional banyak tersebar luas di seluruh penjuru tanah air, yang mereka ini pun dalam situasi gawat. Yang demikian itu tentu membutuhkan bimbingan tangan kuat dari gurunya.

Mendengar keputusan musyawarah beserta penjelasan-penjelasan dari stafnya itu, Mbah Ma’shum dapat melerai kekerasan hati untuk tetap bertahan di Lasem. Dan untuk kesekian kalinya terpampang kelapangan dada dan toleransinya. Dengan suatu upacara pelepasan yang mengharukan, dipercayakanlah pertahanan Kota Lasem ini kepada tokoh-tokoh Islam, pejabat-pejabat pemerintah sipil, dan Kepolisian Negara (S. Daryo Cs) beserta seluruh santri-santri yang ditinggalkan, di bawah pimpinan putra menantu Kiai Ali Nu’man.

Musyawarah memutuskan lebih lanjut bahwa santri-santri yang membawa dan bertanggung jawab penuh atas keamanan perjalanan Mbah Ma’shum adalah pemuda-pemuda Abdul Chamid bin Suratman (asal Jepara) dan Machfudz (asal Tulungagung). Pemuda pemberani yang dengan semangat menyala-nyala bertekad bulat menerima segala resiko penyerahan Mbah Ma’shum untuk dibawa ke tempat yang lebih aman.

Syahdan, pada suatu malam menjelang Shubuh, pemuda-pemuda Abdul Chamid dan Machfudz ini, sekira jam 02.00 (pagi-pagi buta), dengan kesigapan dan keberanian luar biasa, dengan tekad yang bulat dan semangat menyala-nyala, berkah doa restu dari seluruh yang ditinggalkan, pemuda-pemuda itu berhasil membawa lari Mbah Ma’shum keluar Kota Lasem, dengan berkendaraan becak yang sudah disiapkan lebih dulu dengan pengendara santri-santri pilihan. Setelah tiba di luar Kota Lasem dan melihat situasi aman terjamin, barulah rombongan Mbah Ma’shum dipindahkan ke lain kendaraan oleh pemuda-pemuda gagah berani di bawah pimpinan Abdul Chamid. Dengan demikian, maka keluarnya Mbah Ma’shum dari Kota Lasem tidak didengar dan tidak pula diketahuin oleh pihak lawan. Sampai di sini para pembaca tentu terkenang pada peristiwa yang terjadi dan pernah dialami oleh Rasulullah SAW di kala yang mulia itu terpaksa harus meninggalkan Kota Mekkah, di malam hari dengan pengawalan sahabat karib? Sayid Abu Bakar? Assiddiq RA menuju Goa Hira’, jauh di luar kota di malam buta. Di samping itu tentu kita teringat pula nasib putra menantu beliau Sayyidina Ali kw yang terpaksa ditinggalkan menggantikan tempat yang biasa digunakan oleh Rasulullah SAW dalam beristirahat.

Dari kisah perjuangan almarhum Mbah Ma’shum selama dua bulan selama perlawatan nonstop itu, terlalu panjang untuk diuraikan dalam manaqib singkat ini. Mungkin memerlukan 100 halaman tersendiri. Hanya saja yang perlu dicatat di sini adalah, bahwa selama dalam perantauan yang penuh suka dan duka itu selalu terdapat kontak dengan Markas Besarnya di Lasem. Dan bahwa sewaktu dua bulan kemudian Mbah Ma’shum tiba kembali di Lasem, baru diketahui korban-korban yang jatuh akibat peristiwa pengganyangan terhadap G 30 S/ PKI di Lasem. Dan baru dimengerti, bahwa oknum Koramil Moh Asik yang semula ingin memberondongkan senapan-senapan mesinnya kepada para santri-santri itu, sudah dapat diringkus, ditangkap, kemudian ditahan dalam penjara di Ambarawa. Sampai dimana kemudian vonis yang sudah dijatuhkan oleh Pengadilan Militer setempat terhadap tokoh berat militer? dari G 30 S/PKI itu, sampai kini orang belum mendengarnya. Bahkan jalannya sidang? Pengadilan Militer setempat yang tentunya berhak penuh mengadili perkara pemberontakan tersebut, pun belum pernah diberitakan orang.

Almarhum Mbah Ma’shum menerima berita laporan itu dengan tidak sungguh-sungguh. Sebab, diadili atau tidak diadili, sudah divonis atau belum divonis, itu adalah tanggung jawab pemerintah. Namun demikian, Mbah Ma’shum menerima semua laporan itu dengan perasaan lega, bahwa kemenangan terakhir berada di tangan pihaknya. Di tangan umat Islam. Di tangan pembela-pembela paham Pancasila. Di tangan santri-santrinya. Di tangan pemuda-pemuda Ansor dan Bansernya. Alhamdulillah.

Abdullah Hamid, Pesantren Budaya Asmaulhusna (SAMBUA)



*Penyebutan peristiwa pemberontakan PKI yang dikenal kemudian dengan nama G 30 S/PKI pada tahun 1965 dikutip dari Buku Manaqib Mbah Ma’shum sesuai aslinya karya Sayyid Chaidar yang diterbitkan? tahun 1973 oleh penulis, Abdullah Hamid, atas nasihat KH M Zaim Ahmad dan KH Syihabuddin Ahmad Ma’shoem. Pencetakan ulang oleh pihak lain tanpa menyebut PKI adalah pemalsuan sejarah.



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sholawat RMI NU Tegal

Jumat, 06 Oktober 2017

Gus Sholah: Sebaiknya Tidak Ada Partai Baru

Jakarta, RMI NU Tegal. Mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Salahuddin Wahid, yang akrab dipanggil Gus Solah, berharap konflik di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tidak melahirkan partai baru.

"Menurut saya, sebaiknya tidak usah bikin partai baru. Kyai yang kemarin dulu ikut konflik ini agar kembali, sehingga lebih konsentrasi pada pendidikan," kata Gus Solah saat ditemui di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jalan Veteran, Jakarta, Senin (28/8).

Menurut dia, konflik PKB sudah selesai dengan adanya keputusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak permohonan kasasi Ketua Umum PKB versi muktamar Surabaya, Choirul Anam dan menyatakan muktamar Semarang sah. "Itu sudah selesai kalau menurut saya, karena kalau mau mengajukan PK (peninjauan kembali-red), kan harus ada bukti baru," ujarnya.

Gus Sholah: Sebaiknya Tidak Ada Partai Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Sebaiknya Tidak Ada Partai Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: Sebaiknya Tidak Ada Partai Baru

Adik kandung mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menambahkan, sebaiknya pihak yang menang dapat merangkul pihak yang kalah untuk membangun kembali PKB.

Gus solah menjelaskan perpecahan di tingkat bawah memang terjadi, terutama di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, terdapat kepengurusan ganda di beberapa kota dan provinsi.

"Ada kepengurusan yang tidak berakar, tapi ada juga yang berakar. Nah, yang punya akar ini yang perlu didamaikan," ujarnya.

RMI NU Tegal

Gus Solah datang ke KPK untuk bertemu dengan Wakil Ketua KPK Bidang Pencegahan, Erry Ryana Hardjapamekas, guna membicarakan kemungkinan kerjasama pendidikan antikorupsi antara KPK dan pondok pesantren Tebu Ireng di Jawa Timur yang dipimpinnya.

RMI NU Tegal

Pada 24 Agustus 2006, majelis hakim agung menolak permohonan kasasi Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) versi muktamar Surabaya, Choirul Anam.

Putusan tersebut dijatuhkan oleh majelis hakim agung yang diketuai oleh Achmad Sukardja dan beranggotakan Harifin A Tumpa serta Abdurrahman. Dalam pertimbangannya, majelis hakim menilai muktamar Semarang sudah sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PKB.

Penyelenggaraan suatu muktamar, menurut majelis, bukan "an sich" untuk umum tapi untuk Dewan Pengurus Partai (DPP), sehingga sah atau tidaknya suatu muktamar bukan tergantung pada siapa penyelenggaranya tetapi pada siapa yang mengikuti muktamar tersebut.

Muktamar Semarang dinilai sah karena diikuti oleh pengurus cabang dan pengurus wilayah, sehingga sudah sesuai dengan AD/ART.

Gugatan soal keabsahan muktamar PKB di Surabaya diajukan oleh pengurus PKB versi muktamar Semarang, Muhaimin Iskandar, pada 3 Oktober 2005, satu hari setelah berakhirnya muktamar PKB di Surabaya yang memilih Choirul Anam sebagai ketua umum dan Idham Cholid sebagai sekretaris.

Gugatan Muhaimin tersebut dikabulkan oleh Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Atas putusan PN Jakarta Selatan itu, Choirul kemudian mengajukan kasasi ke MA. (ant/nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sholawat, Kyai RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock