Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Februari 2018

Amankan Natal, Banser Contohkan Umat Saling Hormat

Bantul, RMI NU Tegal. Sebanyak 250 personil Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan diturunkan untuk membantu pengamanan perayaan Natal.

Amankan Natal, Banser Contohkan Umat Saling Hormat (Sumber Gambar : Nu Online)
Amankan Natal, Banser Contohkan Umat Saling Hormat (Sumber Gambar : Nu Online)

Amankan Natal, Banser Contohkan Umat Saling Hormat

"Ratusan personel tersebut akan disiagakan di sejumlah gereja besar di Bantul, ada yang 50 personel, ada juga yang 15 personel di masing-masing gereja," kata Komandan Banser Bantul Muhammad Khozin, kepada RMI NU Tegal, Senin (23/12).

Menurutnya, keikutsertaan Banser ini sebagai wujud toleransi antarumat beragama. “Semata-mata sebagai bentuk solidaritas antarumat beragama dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.

RMI NU Tegal

Khozin mengatakan, organisasi pemuda NU melakukan hal itu ingin mencontohkan bahwa perbedaan keyakinan justru harus mendorong umat untuk saling menghormati.

RMI NU Tegal

Lebih jauh ia menjelaskan, di Bantul memang terdapat sejumlah kelompok gerakan radikalisme agama, sehingga perlu diantisipasi gerakan yang dikuawatirkan mengganggu kelancaran umat beribadah. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Quote, Habib, Warta RMI NU Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Kiai Adib: Santri Tak Hanya Cakap Agama

Cirebon, RMI NU Tegal 

Pesantren tidak hanya mencetak lulusan yang cakap dalam bidang agama, tetapi juga harus mampu menciptakan lulusan yang menguasai bidang keilmuan lainnya.

Hal tersebut disampaikan KH Adib Rofiuddin Izza, saat memberikan sambutan  atas nama ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren dalam malam puncak peringatan haul almarhumin sesepuh dan warga pondok Buntet Pesantren, Cirebon, Sabtu (6/4) kemarin.

Kiai Adib:  Santri  Tak Hanya Cakap Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Adib: Santri Tak Hanya Cakap Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Adib: Santri Tak Hanya Cakap Agama

“Lulusan pesantren harus dapat menjadi sosok yang bermanfaat dan orang besar bagi negara, serta sebagai orang yang berpengaruh di Indonesia dalam bidang keilmuan apapun,” papar kiai yang juga Rais Syuriyah PBNU ini.

RMI NU Tegal

Kiai Adib menambahkan, pesan ini merupakan tanggapan dan respon positif atas lulusan pesantren yang mampu berkiprah dan bermanfaat bagi masyarakat melalui bidang-bidang yang lebih umum. Pesantren menyambut baik dan mendukung para lulusan yang telah menempati profesi strategis di luar bidang keagamaan, karena sosok profesional yang berbasis pesantren akan memiliki ciri khas berupa kejujuran, berakhlak, dan penuh keikhlasan.

RMI NU Tegal

“Seperti apa yang telah diwasiatkan oleh sesepuh Buntet Pesantren, bahwa penting bagi pesantren untuk tetap mengutamakan pendidikan akhlak, karena dengan akhlak para lulusan akan karimah (mulia, red), hingga kemudian mampu bermanfaat bagi bangsa dan masyarakat sekitarnya,” tambahnya.

Di sela-sela para pengunjung yang memadati komplek pesantren dalam malam puncak peringatan haul tersebut, hadir pula beberapa lulusan pondok Buntet Pesantren seperti Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) RI Helmy Faisal Zaini dan direktur Kantor Berita ANTARA Saeful Hadi Idham Cholid. Selain itu juga berkesempatan hadir KH Ali Musthofa Ya’qub, Rais Syuriah PBNU serta Al-Habib Muthohar dari Semarang untuk menyampaikan taushiyah.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Warta, Hadits, Kiai RMI NU Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Lahirnya Kelompok Intelegensia Islam Tradisional

Oleh W Eka Wahyudi

Tahun 1950-an merupakan era pembentukan kelompok ? intelegensia di kalangan Islam tradisionalis. Fenomena ini merupakan imbas dari kelompok reformis-modernis yang telah menjadi bagian dari elite-politik penguasa pada saat itu. Salah satu indikasinya adalah dilegitimasinya PII dan HMI sebagai organisasi satu-satunya bagi pelajar dan mahasiswa Muslim pasca keputusan Kongres al-Islam pada tahun 1949 (Yudi Latif, 2013: 391 ), yang pada gilirannya menggeser peranan kalangan tradisionalis dari dinamikan organisasi nasional.

Lahirnya Kelompok Intelegensia Islam Tradisional (Sumber Gambar : Nu Online)
Lahirnya Kelompok Intelegensia Islam Tradisional (Sumber Gambar : Nu Online)

Lahirnya Kelompok Intelegensia Islam Tradisional

Realitas ini kemudian menimbulkan gejolak bagi para mahasiswa yang mempunyai kultur Islam tradisionalis pondok pesantren. Karena, para pemuda dari kalangan pesantren sulit mendapatkan tempat dan cenderung tidak diakomodasi aspirasi-aspirasinya di dalam organisasi. Disinyalir, hal ini juga merupakan dampak dari mencuatnya friksi yang terjadi antara NU dan Masyumi pada tahun 1950-1960 an. “perseteruan” ini belakangan mengkooptasi kalangan pelajar dan mahasiswanya.

Sehingga, para mahasiswa yang berlatar belakang dari kalangan Islam tradisional sering mengkonsolidir potensi-potensinya di kos-kosan daerah Bumijo, Yogjakarta (kawasan sebelah barat perempatan Tugu) guna merumuskan dengan matang gerakan kaum muda NU pada selanjutnya. Desakan akan kebutuhan terhadap wadah pembinaan pelajar NU inipun, disambut dengan momentum diselenggarakannnya Konferensi LP. Ma’arif di Semarang pada bulan Februari 1954. Sehingga, gagasan progresif kaum muda NU tersebut dijadikan sebagai salah satu agenda pembahasan dalam pelaksanaan Konferensi. ? Secara ringkas, akhirnya dalam Konferensi LP Ma’arif kala itu, berhasil mengesahkan berdirinya organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) yang saat itu bertepatan pada tanggal 24 Februari 1954/ 20 Jumadil Akhir 1373 H. walhasil, tanggal inilah yang dinobatkan sebagai hari lahirnya organisasi pelajar NU.

Pada tanggal itulah merupakan periode kelahiran kelompok intelegensia kalangan Islam tradisionalis yang pada masa depan mampu memberikan khazanah pada dinamika keorganisasian di Indonesia. Gebrakan lahirnya para cendikia di kalangan NU ini menyusul semakin pesatnya para mahasiswa yang mempunyai latar belakang Islam tradisional masuk ke universitas-universitas pada tahun 1950-an. Diantaranya: Tolchah Mansoer (UGM), Ismail Makky dan Munsif Nachrowi (IAIN Yogjakarta), Mahbub Djunaidi (UI) dan beberapa kelompok kaum muda terdidik lainnya seperti Mustahal Ahmad, Sofyan Kholil dan Abdul Ghani Farida.

Peningkatan jumlah mahasiswa tradisionalis ini, terutama juga disebabkan pasca pendirian perguruan-perguruan tinggi agama islam. Misalnya, di luar IAIN pada saat itu, berhasil didirikan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Solo pada tahun 1958, walaupun hanya satu fakultas, yakni syariah.?

RMI NU Tegal

Selanjutnya, pasca deklarasi pendirian IPNU melalui muktamar LP Ma’arif, tepatnya dua bulan kemudian pada tanggal 30 April s/d 1 Mei 1954, ? IPNU menyelenggaran Konferensi “Segi Lima”. Kenapa Konferensi ini disebut segi lima? karena pada saat itu dihadiri oleh kalangan assabiqunal awwalun IPNU yang terdiri dari lima daerah yakni; Jombang, Yogjakarta, Solo, Semarang dan Kediri.?

Konferensi ini kemudian menghasilkan kesepakan yang menandai kerja kelompok intelegensia Islam tradisionalis, yang antara lain;1) menjadikan Ahlusunnah wal jamaah sebagai asas organisasi, 2) tujuan organisasi yakni turut andil dalam mengemban risalah islamiyah, 3) mendorong kualitas pendidikan agar lebih baik dan merata, serta 4) mengkonsolidir kalangan pelajar. ?

RMI NU Tegal

Munculnya, kelompok cendikia “jenis baru” ini pada gilirannya menandakan perkembangan perspektif oleh kaum muda tradisionalis terhadap isu-isu rasionalisme, teknologi, pendidikan modern dan kondisi sosial . Sehingga pada kurun waktu tersebut NU telah memiliki lapisan intelegensianya tersendiri.?

Namun, corak intelegensia yang dimiliki oleh kaum muda ini berbeda dengan Muhammdiyah. Jika kalangan muhamaddiyah cenderung terilhami oleh gerakan pembaharu Muhammd Abduh yang modernis, namun kalangan muda NU tetap mempertahankan sikap konservatifnya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan tradisi. Sehingga, jenis tipologi intelegensia kaum muda NU yang dalam hal ini direpresentasikan oleh IPNU lebih cocok jika dikategorikan sebagai “konservatif-modernis”. Yaitu tipe pemikiran yang sudah terbuka dengan pandangan-pandangan modern, namun tetap memelihara sekaligus menjaga kearifan dan keluhuran tradisi. Sebuah karakter pemikiran yang relevan diterapkan di Indonesia.

Selamat Harlah IPNU ke 63, Salam Belajar, Berjuang dan Bertaqwa.

Penulis adalah Direktur Lembaga Komunikasi Perguruan Tinggi Pimpinan Pusat IPNU

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax, Pendidikan, Warta RMI NU Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Upaya KPK Berantas DI/TII

Sejarah mencatat, ada sejumlah kelompok yang tidak menyetujui berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pasca resmi dideklarasikan pada 17 Agustus 1945. Gerakan subversif mereka lakukan, makar dan kudeta terhadap pemerintahan RI yang didukung mayoritas rakyat Indonesia menjadi tujuan.

Kelompok-kelompok tersebut adalah Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) prakarsa Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Partai Komunis Indonesia (PKI) yang saat itu digerakkan oleh Dipo Nusantara Aidit, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang didirikan oleh Letkol Achmad Husein, Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) yang dimotori oleh Lektol Venjte Sumual, Kolonel D.J. Somba, dan Mayor Eddy Gagola.

Sekilas dilihat, upaya bughot (memberontak) sebagian besar dimotori oleh tentara yang sudah merasa tidak sejalan dengan visi pemerintahan yang ada dengan kecenderungan politik kekuasaaan yang tinggi. Di beberapa literatur sejarah menyebutkan, proklamasi kemerdekaan RI dibarengi gerakan hijrah pasukan, baik dari tentara nasional, Hizbullah dan Sabilillah dari kawasan jajahan Belanda ke kawasan RI.

Upaya KPK Berantas DI/TII (Sumber Gambar : Nu Online)
Upaya KPK Berantas DI/TII (Sumber Gambar : Nu Online)

Upaya KPK Berantas DI/TII

Gerakan pembersihan dalam bentuk hijrah tersebut menyisakan beberapa tentara. Sisa-sisa laskar tentara tersebut selanjutnya diorganisir secara perorangan, misal di Jawa Barat oleh Kartosoewirjo untuk melakukan perlawanan terakhir.

Dijelaskan oleh Abdul Mun’im DZ dalam Runtuhnya Gerakan Subversif di Indonesia (2014), sejumlah tentara yang tertinggal di Jawa Barat tersebut diorganisir kemudian dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII). 

Setelah itu mereka merancang Negara Islam Indonesia (NII) yang kemudian pada 10 Februari 1948 dan pada 25 Agustus 1948 dikeluarkan maklumat Pemerintah Islam Indonesia yang menandai berdirinya Negara Islam menggantikan Republik Indonesia yang dianggap kafir dan komunis. 

RMI NU Tegal

Kondisi keamanan nasional seketika kacau apalagi PKI merespon DI/TII yang menganggap bahwa Indonesia merupakan negara komunis dengan menggelorakan perlawanan dengan mengadakan pemberontakan di Madiun pada 18 September 1948. Jika DI/TII ingin mendirikan Negara Islam, PKI berupaya menegakkan Negara Soviet Indonesia.

RMI NU Tegal

Penghianatan yang dilakukan oleh DI/TII dan PKI ini mendorong NU sebagai satu-satunya organisasi yang loyal terhadap NKRI untuk segera mengangkat Soekarno sebagai waliyyul amri yang sah sehingga diharapkan bisa menyingkirkan semua yang memberontak dan memusuhi negara.

Sikap NU dan pesantren yan tegas terhadap aksi pemberontakan menyebabkan mereka dimusuhi oleh DI/TII. Beberapa perangkat dakwah NU menjadi sasaran teror. Pesantren, masjid, madrasah NU dibakar, bahkan beberapa kiai diculik dan harta benda dirampas dengan tidak berperikemanusiaan. Bahkan salah satu kiai NU, KH Idham Chalid menjadi sasaran pembunuhan.

Pembentukan KPK

Terhadap gerakan-gerakan subversif ini, para kiai tidak tinggal diam begitu saja. Mereka tidak mau bangsa dan negara yang telah dibangun atas dasar konsensus (kesepakatan) kebangsaan menjadi hancur hanya karena kepentingan kelompok tertentu yang a historis. Aksi gerombolan DI/TII bukannya menguntungkan umat Islam tetapi malah menimbulkan malah petaka bagi Muslim itu sendiri. Tidak sedikit umat Islam yang menjadi korban kekejaman DI/TII.

Gerakan DI/TII yang sudah melampui batas kemanusiaan dan konsensus bersama negara berdasarkan Pancasila membutuhkan pemikiran, bantuan, dan partisipasi aktif dari para kiai. Dalam memoarnya (2008), KH Idham Chalid yang saat itu menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri II dan Kepala Badan Keamanan membentuk badan yang diberi nama Kiai-kiai Pembantu Keamanan (KPK).

Kiai di dalam badan disebut KPK ini utamanya untuk merespon anggapan DI/TII yang menganggap bahwa negara ini adalah Republik Indonesia Kafir (RIK). Namun, sejumlah laskar yang memang lahir dari rahim NU seperti Hizbullah dan Sabilillah turut membantu mengantisipasi pemberontakan DI/TII maupun yang dilakukan oleh PKI kala itu.

KPK terdiri dari sejumlah kiai dari beberapa provinsi yang di daerahnya ada gerombolan DI/TII. KH Idham Chalid menunjuk KH Muslich sebagai Ketua KPK. Umumnya, setiap provinsi hanya menunjuk satu orang kiai dalam mengkoordinir gerakan KPK. Kecuali provinsi yang sudah pada kondisi gawat seperti Jawa Barat. Di tanah Priangan ini, diangkat dua orang kiai.

Anggota KPK di Jawa Barat adalah KH Dimyati (Ciparai) dan Moh. Marsid. Untuk Jawa Tengah dipimpin oleh KH Malik, kiai terkemuka asal Demak. Di Jawa Timur ada KH Raden As’ad Syamsul Arifin Situbondo.

Adapun di Kalimantan KPK dimotori oleh KH Ahmad Sanusi, Lampung digerakkan oleh KH Zahri, Sumatera Selatan dipimpin oleh ulama terkemuka di Sumsel dan Rais Syuriyah NU Bengkulu KH Jusuf Umar, Sumatera Tengah KH Kahar Ma’ruf, Sumatera Utara dan Aceh Tengku Mohammad Ali Panglima Pulen (pernah menjadi Ketua PWNU Aceh dan Anggota MPRS, dan di Sulawesi KH Abdullah Joesoef.

Dari badan yang dibentuk oleh KH Idham Chalis tersebut, semua kiai sepakat bahwa DI/TII adalah kelompok pemberontak yang mengganggu keamanan bangsa dan negara secara nasional sehingga perlu dilawan. Apalagi mereka sudah terbukti memakan korban manusia yang tidak sedikit.

Para kiai di dalam KPK menyatakan, penilaian dan anggapan DI/TII yang menyebut Indonesia sebagai Republik Indonesia Kafir (RIK) tidaklah benar. Karena berdasarkan konsensus bersama, seluruh warga negara bebas menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Sebab itu sebagai negara kesatuan, tidak sepatutnya seorang atau kelompok menginginkan bentuk negara lain yang tidak sesuai dengan kemajemukan bangsa Indonesia. (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Quote, Warta, Humor Islam RMI NU Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

PP IPPNU Rintis Sekolah Perdamaian di Empat Daerah

Jakarta, RMI NU Tegal. Pimpinan Pusat IPPNU merintis program ‘Sekolah Perdamaian Untuk Pelajar’ di empat daerah rawan kekerasan. PP IPPNU dalam masa kepengurusan 2012-2015 menunjuk kota Poso, Makassar, Bima, dan Solo.

Demikian dikatakan oleh Ketua Bidang Keorganisasian PP IPPNU Dewi Chandra kepada RMI NU Tegal di ruang sekretariat PP IPPNU, Kantor PBNU lantai enam, Jakarta Pusat, Senin (18/2) malam.

PP IPPNU Rintis Sekolah Perdamaian di Empat Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
PP IPPNU Rintis Sekolah Perdamaian di Empat Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

PP IPPNU Rintis Sekolah Perdamaian di Empat Daerah

“Empat daerah itu dinilai sebagai titik rawan kekerasan yang berlandaskan ideologi keagamaan. Ukurannya diambil dari tingginya kasus kekerasan agama di empat daerah itu,” tegas Dewi Chandra.

Menurut Dewi, program sekolah perdamaian mengambil bentuk penyuluhan dan kegiatan deradikalisasi pelajar. Program ini juga menyediakan buku berisi antikekerasan dengan format yang menarik bagi kalangan pelajar.

RMI NU Tegal

Dalam menjalankan program ini, PP IPPNU bermitra dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme BNPT. Ketua Umum PP IPPNU bersama sejumlah jajaran pimpinan pusat lainnya diterima oleh Direktur Deradikalisasi BNPT Irfan Idris di kantor BNPT, jalan Imam Bonjol nomor 53 Menteng, Jakarta Pusat, Senin (18/2) siang. 

Target program ini tambah Dewi, memberikan visi dan pemikiran antikekerasan di kalangan pelajar. Program ini ke depan membidik pelajar sekolah menengah pertama, menengah atas hingga perguruan tinggi semester-semester awal. Bahkan, IPPNU akan memasuki pesantren yang mengajarkan pemikiran ramah terhadap kekerasan seperti pesantren Abu Bakar Ba‘asyir di Solo.

Program bertajuk sekolah perdamaian ini akan bergerak selambatnya bulan Juni 2013 mendatang, tandas Dewi Chandra ditemani beberapa rekanita PP IPPNU yang tengah mempersiapkan pelantikan PP IPPNU awal Maret 2013.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan, Warta, Kyai RMI NU Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Gunungan Wayang 11 Meter Hiasi Pameran Wayang di Kaliopak

Bantul, RMI NU Tegal. Gunungan wayang setinggi 11 meter direncanakan akan turut meramaikan pameran wayang yang dilaksanakan Pesantren Kaliopak, 27-30 November 2014.

“Bahannya dari lilitan pelepah pisang dan anyaman bambu. Pembuatannya memakan waktu dua minggu lebih,” kata M Imam, ketua pelaksana kegiatan, Selasa (25/11) malam, di Pesantren Kaliopak, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.

Gunungan Wayang 11 Meter Hiasi Pameran Wayang di Kaliopak (Sumber Gambar : Nu Online)
Gunungan Wayang 11 Meter Hiasi Pameran Wayang di Kaliopak (Sumber Gambar : Nu Online)

Gunungan Wayang 11 Meter Hiasi Pameran Wayang di Kaliopak

Sebelum berdiri di lokasi pameran, gunungan wayang ini diarak atau biasa disebut kiraban. Gunungan dikirab dari Mancasan ke Dusun Klenggotan, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.

RMI NU Tegal

Pendirian gunungan yang merupakan rangkaian kegiatan “Pekan Peringatan 11 Tahun Pengukuhan Wayang Pusaka Kemanusia Dunia” ini bermaksud menandakan simbol gunungan secara filosofis. Pameran yang dilaksanakan berkat kerja sama Pesantren Kaliopak, Lesbumi, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini mengusung tema “Ngaji Wayang”.

“Ngaji wayang maksudnya untuk memahami wayang lebih dalam, bukan sekadar melihat dari luar. Bahkan, wayang bisa untuk menginternalisasi diri kita sendiri,” papar M Jadul Maula, pendiri Pesantren Kaliopak.

RMI NU Tegal

Pameran ini menghadirkan karya dari 17 seniman. Di antaranya Agus Nuryanto, Ardian Kresna, Indiria Maharsi, Ki Suharno Cermo Sugondho, Nasirun, dan Yoyo. Karya lukis yang dihadirkan mencapai 24 karya. (Red: Mahbib)

?

Foto: Kitab gunungan wayang 11 meter

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan, Warta RMI NU Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Demo di Kantor Bulog, PMII Bandung Serukan Kedaulatan Pangan

Bandung, RMI NU Tegal. Ratusan anggota Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indoensia (PMII) Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (11/3), menggelar aksi damai untuk mendesak pemerintah menegakkan kedaulatan pangan di Indonesia dan segera mengatasi melambungnya harga sembako.

Sejak pagi, massa aksi penyampaian aspirasinya dari berkeliling di area kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung sekaligus menggalang massa dari mahasiswa lain di kampus setempat untuk bergabung bersama PMII.

Demo di Kantor Bulog, PMII Bandung Serukan Kedaulatan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Demo di Kantor Bulog, PMII Bandung Serukan Kedaulatan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Demo di Kantor Bulog, PMII Bandung Serukan Kedaulatan Pangan

Lalu menjelang siang, dengan menaiki 2 truk massa aksi bergerak menuju gudang Bulog Regional Kota Bandung di Jalan Gedebage. Di sana sekitar 1 jam mereka menyuarakan tuntutannya, kemudian mereka menggeliat menuju kantor di depan Perum Bulog Divisi Regional Jawa Barat, di Jalan Soekarno-Hatta No. 711A kota Bandung.

RMI NU Tegal

Aksi damai yang dilakukan PMII ini membuat perwakilan dari mereka diperkenankan melakukan audiensi tertutup bersama petinggi Bulog Regional Jawa Barat. Sementara ratusan massa lainnya tetap berada di luar gedung Perum Bulog tersebut. Aksi di seberang pinggir jalan ini banyak mendapatkan perhatian dari pengguna jalan.

Ahmad Riyadi, ketua PC PMII kota Bandung mengatakan bahwa aksi tersebut yang digelar sebagai bentuk respon PMII atas persoalan kebutuhan pokok masyarakat khususnya dalam masalah pangan, khususnya kebutuhan yang kini langka dan harganya melambung tinggi.

RMI NU Tegal

“Sebetulnya yang jadi persoalan adalah kebutuhan beras. Pemerintah seharusnya mendukung petani lokal (tradisional) untuk mengembangkan potensi lahan pertanian yang dimiliki. Hal tersebut sebagai upaya dalam mengatasi kebijakan impor beras yangi dilakukan oleh pemerintah," kata Riyadi yang juga sebagai penanggung jawab aksi tersebut.

Dia menjelaskan proses tersebut harus berbanding lurus dengan usaha Pemerintah melalui sosialisasi atau penyuluhan yang baik kepada para petani, misalnya penyuluhan terkait sumber pupuk atau penggunaan pestisida yang efektif.

"Artinya bahwa ini merupakan konsekuensi dari Pemerintah untuk berbicara soal pengelolaan dan kesejahteraan pertanian. Kalau semua ini bisa dilakukan oleh Pemerintah, saya rasa kita tidak butuh lho yang namanya beras impor, karena Indonesia mempunyai potensi pertanian yang sangat bagus,” ujar Riyadi menjelaskan? salah satu tuntutan dari aksi PMII kota Bandung itu.

Lebih lanjut, Riyadi atas nama rakyat mendesak kepada Pemerintah harus bisa mengintervensi stabilitas harga pasar, lebih-lebih bisa menentukan harga pasar. Pemerintah juga jangan sampai terjebak model kapitalisme yang akhirnya mengeksploitasi hak-hak rakyat.

“Lalu bagaimana cara Pemerintah mampu memberikan arahan kepada masyarakat (petani) untuk memberikan pupuk-pupuk yang baik. Begitu juga jangan sampai harga pupuk melambung tinggi, yang pada akhirnya harga beras ditentukan oleh harga pupuk,” tegas mahasiswa pascasarjana Universitas Langlangbuana itu.

Dia menambahkan, Pemerintah juga harus memperhatikan pendidikan dan kelayakan hidup di kalangan para petani. “Bagaimana pun Pemerintah harus mempertimbangkan hal itu, karena merekalah yang setiap hari di sawah untuk melakukan penanaman hingga pemanenan,” singgungnya.

“Harapannya, masyarakat harus mampu memanfaatkan lahan dimiliki, lalu pengelolaan tanaman yang baik, mulai dari pemilihan benih sampai proses pemanenan, serta mampu memasarkan dengan baik,” pungkas Riyadi. (Muhammad Zidni Nafi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Cerita, Warta, IMNU RMI NU Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Doa saat Kondisi Darurat

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa saat Kondisi Darurat (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa saat Kondisi Darurat (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa saat Kondisi Darurat

Bismillâhirrahmânirrahîm walâ haula walâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil ‘adhîm

Artinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tidak ada kekuatan dan daya upaya kecuali dengan (pertolongan) Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal

Doa ini diajarkan Rasulullah kepada Sayyidina Ali apabila dilanda kesulitan yang mengancam jiwa. Barangsiapa membaca doa tersebut, Allah akan melenyapkan berbagai malapetaka menurut kehendak Allah subhânahu wata‘âlâ. (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

(Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Warta RMI NU Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Kiai Afifuddin Muhajir Jelaskan Cara Efektif Hentikan Ujaran Kebencian

Jakarta, RMI NU Tegal - Wakil Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo KH Afifudin Muhajir menjelaskan tentang cara menghentikan ujaran kebencian, termasuk yang marak terjadi di media sosial.

Menurut Kiai Afif, cara yang harus dilakukan terhadap hal-hal yang hanya dianggap maksiat, normatif yang hanya diancam dengan hukuman akhirat, yakni dengan menaikkan statusnya menjadi jarimah atau tindak kejahatan.

Kiai Afifuddin Muhajir Jelaskan Cara Efektif Hentikan Ujaran Kebencian (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Afifuddin Muhajir Jelaskan Cara Efektif Hentikan Ujaran Kebencian (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Afifuddin Muhajir Jelaskan Cara Efektif Hentikan Ujaran Kebencian

“Bisa dianggap kejahatan yang bisa diancam mana kala ditingkatkan. Tiap-tiap jarimah itu pasti maksiat, maksiat belum tentu jarimah,” kata Kiai Afif seperti dilansir Wahid Foundation, Selasa (2/18).

RMI NU Tegal

Ia mengatakan, sesuatu yang dilarang oleh Islam akan meningkat kedudukannya menjadi kejahatan manakala diancam oleh sebuah hukuman positif.

RMI NU Tegal

“Secara sederhana ujaran kebencian seolah-olah hanya bisa dilakukan melalui lisan, akan tetapi akhir-akhir ini bukan hanya lisan, tapi tangan melalui media-media sosial. Itu termasuk di dalamnya,” jelasnya.

Untuk itu, menurut kiai yang menulis kitab fikih berjudul Fathul Mujibil Qarib, syarah terhadap kitab At-Taqrib, negara berhak membuat peraturan yang mengancam para pelakunya.

“Undang-undang melarang sekaligus mengancam dengan sebuah hukuman karena larangan tanpa ada hukuman tidak efektif juga kan?” pungkasnya. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Warta RMI NU Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Kader Muda NU Pati Borong Empat Penghargaan di Malaysia

Yogyakarta, RMI NU Tegal

Abdul Afif Almuflih, manajer Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) Mata Air, berhasil memborong empat penghargaan sekaligus dalam ajang Malaysia Technology Expo 2016 yang diselenggarakan pada tanggal 18 sampai 20 Februari 2016 di Putra World Trade Center.

Mengusung penelitian tentang Jecogasoline, pria kelahiran 03 Agustus 1992 asal Desa Tlutup, Kecamatan Trangkil, Pati ini bersama timnya meraih Bronze Medal dan Special Award dari INNOPA Indonesia, WIIPA Vietnam dan TISIAS Kanada.

Kader Muda NU Pati Borong Empat Penghargaan di Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Muda NU Pati Borong Empat Penghargaan di Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Muda NU Pati Borong Empat Penghargaan di Malaysia

"Ide memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakar bensin ini dilatarbelakangi oleh keinginan kami untuk memanfaatkan limbah minyak jelantah. Minyak jelantah berasal dari minyak goreng yang dipakai berulang kali. Jika dipakai terus menerus akan berdampak buruk terhadap kesehatan manusia" cerita mahasiswa semester akhir jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada yang juga sebagai, Rabu (2/3) saat ditemui di kampusnya.

RMI NU Tegal

Afif memanfaatkan limbah minyak jelantah sebagai produk bahan bakar bensin yang ramah lingkungan. Menurutnya, prospek pembuatan bensin ramah lingkungan ini sangat cerah sebab Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia sehingga dengan begitu produksi Jecogasoline dapat lebih banyak.

RMI NU Tegal

"Limbahnya (minyak jelantah) saja bisa dipakai untuk membuat bensin, apalagi jika produksi langsung dari minyak sawitnya," lanjutnya.

Selama mengikuti ajang tersebut, berbagai pengalaman telah diraih oleh pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Alumni Sanlat (MAS) BPUN Pati ini. Sebagai peserta inventor dan innovator, Afif dan timnya harus bersaing dengan berbagai negara yang juga mengikuti ajang penghargaan ini.

Sebagian besar para peserta merupakan mahasiswa pascasarjana yang berasal dari Asia dan Eropa. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Afif dan timnya sebab mereka merupakan satu dari tiga perwakilan Indonesia yang mengikuti ajang MTE 2016 ini.

Ia berharap, Jecogasoline dapat dikembangkan dan diproduksi sebagai produk ramah lingkungan di bidang energi alternatif. Demikian tuturnya di sela-sela kesibukan menjabat sebagai Manajer Kota BPUN Pati 2016. (Vonny L Shita/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kajian, Warta RMI NU Tegal

NU Tak Kenal Mengafirkan dan Memunafikkan Kelompok Lain

Malang, RMI NU Tegal - Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang berhaluan moderat memiliki karakter moderat dalam hidup bermasyarakat. Karakter moderat (tawassuth), toleran (tasamuh), dan harmoni (tawazun) ini menjadi pedoman dalam berpikir dan bertindak warga NU di berbagai tingkatan.

Salah satu karakter yang menunjukkan sikap moderat warga NU ini ditunjukkan dengan sikap menghindari sikap fanatisme dan ekstrem baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.

NU Tak Kenal Mengafirkan dan Memunafikkan Kelompok Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tak Kenal Mengafirkan dan Memunafikkan Kelompok Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tak Kenal Mengafirkan dan Memunafikkan Kelompok Lain

Hal ini disampaikan Ustadz Khoirul Hafidz Fanani dalam halaqah Aswaja yang diselenggarakan di Kantor MWCNU Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang, Senin (24/4).

RMI NU Tegal

“NU tak menerima fanatisme, tak ada konsepnya dalam NU,” kata Ustadz Hafidz di hadapan sekitar lebih dari 100 hadirin.

Lebih jauh lagi Ustadz Hafidz menjelaskan, karena NU tak menerima konsep fanatisme, maka NU tidak pernah mengafir-kafirkan dan memunafik-munafikkan orang lain.

“Kita bilang bahwa kita yang benar dan masuk surga, tapi tidak mencap mereka sebagai penghuni neraka,” tambahnya disambut tepuk tangan para hadirin.

RMI NU Tegal

Acara yang diselenggarakan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Malang ini mengangkat tema Indahnya Beraswaja. Kegiatan ini dihadiri oleh para pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatu Ulama (MWCNU) Kecamatan Poncokusumo, Pakis, Tumpang, dan Kecamatan Wajak.

Hadir pula dalam halaqah ini para kiai setempat, Ketua PCNU Kabupaten Malang Umar Usman dan beberapa pengurus LDNU Kabupaten Malang. (Ahmad Nur Kholis/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Warta RMI NU Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Prancis Desak Penghentian Mutlak Pemukiman Israel

Ramallah, RMI NU Tegal. Presiden Prancis Francois Hollande pada Senin menyerukan penghentian sepenuhnya pemukiman Israel di tanah Palestina.

Prancis Desak Penghentian Mutlak Pemukiman Israel (Sumber Gambar : Nu Online)
Prancis Desak Penghentian Mutlak Pemukiman Israel (Sumber Gambar : Nu Online)

Prancis Desak Penghentian Mutlak Pemukiman Israel

"Prancis menuntut penghentian penuh dan lengkap pemukiman itu," katanya pada jumpa pers bersama di Ramallah dengan timpalannya, Presiden Palestina Mahmud Abbas, lapor AFP.

Saat berbicara pada kunjungan resmi pertamanya ke wilayah Palestina itu, pemimpin Prancis tersebut memperingatkan bahwa pembangunan permukiman bermasalah bagi perundingan perdamaian, yang tersendat lebih dari tiga bulan dengan sedikit tanda kemajuan.

RMI NU Tegal

"Kegiatan pemukiman mempersulit perundingan itu dan menyulitkan pencapaian penyelesaian dua-negara," kata Hollande.

Sejak perunding Israel dan Palestina kembali ke meja pada akhir Juli, Israel mengumumkan ribuan rumah baru pemukim langkah yang membuat marah Ramallah.

RMI NU Tegal

Tapi, Abbas pada Ahad kepada AFP menyatakan pembicaraan perdamaian dengan Israel akan berlanjut sembilan bulan penuh, yang disetujui dengan Washington "terlepas dari yang terjadi di lapangan".

Dalam pembicaraan dengan pemimpin Israel pada Ahad, Hollande menyatakan Prancis mengharapkan pemerintah itu "bersikap" sehubungan dengan pembangunan permukiman tersebut, meskipun ia tidak menunjukkan yang mungkin dilakukan.

"Jika ingin perdamaian, Anda harus melakukan gerakan menuju perdamaian," katanya.

Israel ingin melanjutkan pembangunan taman nasional baru di gunung Scopus Slopes di Yerusalem, dalam upaya menghalangi pembangunan Palestina di daerah tersebut, kata harian "Haaretz" pada pekan lalu.

Pemerintah Israel memerintahkan Panitia Kabupaten Yerusalem mempercepat persetujuannya. Dalam pertemuan dengan Dinas Pertamanan dan Suaka Alam Israel, pemerintah memerintahkan panitia itu menyelenggarakan "pembahasan maraton" guna secepatnya menuntaskan izin, yang diperlukan bagi pemulaian pembangunan di daerah tersebut.

Tindakan itu dipandang sebagai upaya "memberi ganti rugi" kepada unsur kanan-jauh pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bagi pembebasan tahanan Palestina pada pekan lalu.

Taman nasional gunung Scopus Slopes akan menciptakan jembatan darat Yerusalem dengan daerah sangat bermasalah E1, yang menghubungkan Yerusalem dengan Tepi Barat sungai Yordan, kata Xinhua.

Menurut Ir-Amin, badan hak asasi manusia berpusat di Yersalem, tindakan itu melanggar penyelesaian dua-negara masa depan dengan mengembangkan blok E1 dan mengganggu hubungan lahan Yerusalem Timur dengan Tepi Barat. (antara/mukafi niam)

Foto:  Nasser Nasser, AP

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Warta RMI NU Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Kemnaker Selidiki Dugaan Pelanggaran K3 Ledakan Pabrik Kembang Api Kosambi

Jakarta, RMI NU Tegal. Kementerian Ketenagakerjaan RI (Kemnaker) terus mendalami kemungkinan adanya pelanggaran aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada kasus Kebakaran Pabrik Kembang Api, PT Panca Buana Cahaya Sukses di Kosambi, Tangerang. Kemnaker telah menerjunkan tim pengawas ketenagakerjaan  ke lokasi kejadian dan berkoordinasi dengan aparat terkait untuk mendalami kasus tersebut.

Kemnaker Selidiki Dugaan Pelanggaran K3 Ledakan Pabrik Kembang Api Kosambi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemnaker Selidiki Dugaan Pelanggaran K3 Ledakan Pabrik Kembang Api Kosambi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemnaker Selidiki Dugaan Pelanggaran K3 Ledakan Pabrik Kembang Api Kosambi

Menaker Usut Kecelakaan Kerja di Gudang Kembang Ap

Dalam pelaksanaannya, tim fokus mendalami kemungkinan pelanggaran pada aspek ketenagakerjaan. Diantaranya kepatuhan perusahaan dalam menerapkan Sistem Manajemen K3 (SMK3). 

“Apakah perusahaan tersebut sudah menerapkan norma keselamatan kerja dengan baik dan benar. Norma keselamatan kerja tersebut adalah meliputi aspek-aspek ketenagakerjaam terutama ya, keselamatan bagi para pekerja,” kata Dirjen Pembinaan  Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PPK dan K3) Kemnaker  Sugeng Priyanto di Kantor Kemnaker, Jakarta, Jumat (27/10).

RMI NU Tegal

 

RMI NU Tegal

Sugemg menjelaskan, aspek K3 yang diselidiki berkaitan dengan sarana dan prasarana K3  di lingkungan kerja. Seperti penyediaan alat pelindung pekerja, pintu evakuasi, dan sebagainya.

“Ini yang merupakan kewajiban kerja perusahaan, untuk menyiapkan sarana dan prasarana kerja yang aman, yang terkait dengan keselamatan pekerja,” jelasnya.

Selain itu, tim Kemnaker tersebut juga akan mendalami hal-hal yang berkaitan dengan pemenuhan hak-hak pekerja, seperti jaminan sosial dan upah.

“Kami akan melihat satu persatu tenaga kerja yang bekerja di perusahaan tersebut. Terutama yang menjadi korban untuk memperoleh hak-haknya,” Sugeng menguraikan.

Sugeng juga mengucapkan bela sungkawa yang mendalam bagi korban dan keluarganya. Hal ini menurutnya harus dijadikan pelajaran bagi semua pihak, baik pemerintah, perusahaan, pekerja, dan masyarakat umum. Hal itu untuk meningkatkan awareness terhadap pentingnya K3.

“Kami, sekali lagi ingin menyampaikan ungkapan bela sungkwa dan duka cita yang sedalam-dalamnya atas terjadinya kecelakaan kerja ini yang menimbulkan korban baik luka-luka maupun meninggal dunia,” ujarnya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Olahraga, Warta RMI NU Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Hadiri Harlah Ke-51, Wagub Sulsel Resmikan Gedung baru UIM

Makassar, RMI NU Tegal. Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Numang menghadiri peringatan hari lahir (Harlah) ke-51 Universitas Islam Makassar (UIM). Rangkain Harlah yang digelar di Auditorium KH Muhyiddin Zain, Selasa (6/5/2017) juga diadakan dialog dan silaturahim, dan dialog yang bertema ? "Harmonisasi Islam dan NKRI menuju Indonesia Damai" serta buka puasa bersama.

Dalam pengitan Milad itu juga diadakan penandatanganan kerjasama atau, MoU antara UIM dan LAZIS PLN Sulselbar. ? Dari kerja sama itu, sekaligus penyerahan bantuan beasiswa dari LAZIS PLN ke UIM untuk mahasiswa calon hafidz pada program studi S1 Ilmu Al-Quran dan Tafsir sebesar Rp 425.000.000,-.

Hadiri Harlah Ke-51, Wagub Sulsel Resmikan Gedung baru UIM (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadiri Harlah Ke-51, Wagub Sulsel Resmikan Gedung baru UIM (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadiri Harlah Ke-51, Wagub Sulsel Resmikan Gedung baru UIM

Agus Arifin Numang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kemajuan pembangunan UIM. “Ini semua tentunya tak terlepas dari peran masing-masing stakeholder civitas akademik UIM,”ujarnya.

Wagub yang juga mantan ketua DPRD Sulsel ini, tak lupa menyampaikan apresiasinya mewakili Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan atas peringatan Harlah ke-51 dan seluruh capaian yang telah diraih UIM selama ini.

RMI NU Tegal

”Kita berharap diusia yang ke-51, ? UIM bisa makin berkibar, semoga ridho Allah SWT bersama kita semua. Selain itu UIM ke depan harus menyiapkan lulusannya bersaing didunia kerja, perbaikan-perbaikan secara menyeluruh harus selalu diupayakan,” pungkasnya. (Andy M Idris / Muslim A)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Kajian, Warta RMI NU Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Cetak Generasi Qur’ani, Pemkab Brebes Adakan MTQ Tingkat Pelajar

Brebes, RMI NU Tegal. Generasi muda diharapkan bisa mengimplementasikan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Sebab Al-Qur’an bisa menjadi jalan penerang dalam mengarungi hidup dan kehidupan di dunia dan akhirat sehingga tercetak Generasi Qur’ani yang berpegang teguh pada tuntunan Qur’an.

Cetak Generasi Qur’ani, Pemkab Brebes Adakan MTQ Tingkat Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Cetak Generasi Qur’ani, Pemkab Brebes Adakan MTQ Tingkat Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Cetak Generasi Qur’ani, Pemkab Brebes Adakan MTQ Tingkat Pelajar

“Di tengah maraknya pengaruh negatif yang mengancam moralitas generasi muda, Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) dinilai sangat ampuh untuk mencetak Generasi Qurani,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes Tahroni saat membuka MTQ Pelajar tingkat Kabupaten Brebes, di SMP N 2 Songgom, Selasa (6/9).

Menurut Tahroni, MTQ juga bisa dijadikan ajang untuk mengasah dan meningkatkan ketrampilan baca tulis Al Quran secara baik, benar dan indah.

Ketua Panitia MTQ Pelajar Hendra Pradistyo Bmenjelaskan, MTQ diikuti 170 peserta. Mereka terdiri dari peserta SD/MI sebanyak 68 peserta dan SMP/MTs 102 peserta. Juga ikut mensukseskan kegiatan tersebut 15 Dewan Hakim, 10 Panitera dan 8 Pengawas kegiatan.

RMI NU Tegal

Adapun cabang yang dilombakan meliputi cabang Tartil Quran SD/MI, SMP/MTs, Cabang Tilawatil Quran SD/MI, SMP/MTs dan Cabang Tahfidz Quran 1 Juz SMP/MTs putra dan putri.?

“Tiap cabang terbagi untuk tingkat SD, SMP untuk golongan putra dan putri,” papar Hendra.

Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Brebes H Imam Hidayat mengambil sumpah para dewan hakim yang akan melakukan penjurian.?

Peserta terbaik pertama dari berbagai cabang, akan menjadi duta kafilah Brebes pada MTQ Pelajar Tingkat Jawa Tengah di Kabupaten Magelang pada 10-13 Oktober 2016 mendatang.

Hadir dalam pembukaan Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan kabupaten Brebes Dedy Priyono, Kepala UPTD Pendidikan se Kabupaten Brebes, Kepala Sekolah SD dan SMP, dewan hakim, official dan seluruh peserta. (Wasdiun/Fathoni)

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Warta, AlaNu RMI NU Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Delapan Peserta BPUN Cirebon Melenggang ke Perguruan Tinggi Negeri

Cirebon, RMI NU Tegal. Sebanyak 6 dari 45 peserta bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) 2015 kabupaten Cirebon melenggang ke perguruan tinggi negeri melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Sementara 2 peserta lainnya masuk melalui Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN).

Bimbingan BPUN 2015 Cirebon diselenggarakan selama sebulan di Ma’had As-Shighor Gedongan dengan 45 orang siswa dari berbagai sekolah tingkat atas dan sederajat di Cirebon.

Delapan Peserta BPUN Cirebon Melenggang ke Perguruan Tinggi Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Delapan Peserta BPUN Cirebon Melenggang ke Perguruan Tinggi Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Delapan Peserta BPUN Cirebon Melenggang ke Perguruan Tinggi Negeri

“Enam orang lulus lewat SBMPTN ialah Afrilia Tristara di UI, Mohamad Fatich Arif di UNJ, Anton Suseno di Unnes, Robiatul Adawiyah dan Nurlinasanti di UPI, dan Ruli Budi Apriyanto di UPN Veteran Yogya. Sedangkan 2 orang lulus lewat SPAN-PTKIN ialah Siti Maemunah dan Robiatul Hadawiyah di IAIN Cirebon,” jelas Manajer Kota BPUN Wahyono, Kamis (9/7) malam.

RMI NU Tegal

Wahyono mengajak rekan-rekan alumni BPUN Cirebon bersyukur karena lulus ke PTN baik melalui jalur SBMPTN maupun SPAN-PTKIN. “Teman-teman alumni BPUN lainnya yang tidak lulus, kita akan terus memotivasi dan membimbing untuk mengikuti seleksi lewat Ujian Mandiri,” katanya.

Bagian Akademik BPUN Cirebon Murjiah berharap alumni BPUN lainnya tidak patah arang. “Masih banyak jalur masuk ke PTN, salah satunya Ujian Mandiri. Tetap semangat dan sukses,” ia berharap.

RMI NU Tegal

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Cirebon H Asdullah Anwar menyatakan kebanggaannya atas lulusnya peserta BPUN.

“Selamat dan sukses untuk peserta BPUN yang lulus SBMPTN. Yang belum lulus tetap semangat masih banyak jalan menuju sukses. Masih ada kesempatan lewat Ujian Mandiri,” ungkap Asdullah. (Ayub Al-Ansori/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Hadits, Warta, Sholawat RMI NU Tegal

Selasa, 07 November 2017

Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan

Klaten,RMI NU Tegal. Ribuan jamaah menghadiri peringatan haul ke-60 KH Muhammad Manshur di kompleks Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari, Klaten, Jawa Tengah.

Salah satu panitia acara, Darmadji, Senin (22/12), menjelaskan haul diadakan bersamaan dengan putaran pertama kegiatan bersholawat 12 malam Jamaah Muji Rosul (Jamuro) Surakarta.

Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan

Acara diawali dengan pembacaan khatmil Qur’an dan tahlil yang dipimpin Mbah Kiai Djablawi dan KH Nasrun. Kemudian dilanjutkan pembacaan maulid kitab al-Barzanji, karya Sayyid Ja’far Al-Barzanji. Sebagai penutup, mauidlah hasanah oleh Habib Umar Muthahar dari Semarang.

RMI NU Tegal

Dalam ceramahnya, Habib Umar menerangkan tentang generasi salafi yang sebenarnya. “Salafi itu generasi yang hidup setelah tabi’it tabi’in seperti Imam Syafi’i dan lainnya,” katanya.

Menurut dia, mereka itu juga melakukan maulidan, tahlilan. “Lha, zaman sekarang ada orang yang mengaku sebagai kaum salafi, tapi tidak mau mengikuti amalan ulama salaf. Lalu, mereka itu salaf ikut siapa?” tanya Habib Umar.

RMI NU Tegal

Habib Umar juga mengajak kepada para jemaah untuk bersama ikut mencintai Nabi Muhammad SAW.

Turut hadir dalam acara tersebut KH A Djablawi, KH Nasrun Minallah dan sejumlah pengurus NU Klaten. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Ribuan Jemaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Warta, Khutbah RMI NU Tegal

Senin, 06 November 2017

Dakwah yang Partisipatif

Oleh KH MA Sahal Mahfudh. Manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah di atas makhluk yang lain, dititahkan sebagai khalifah Allah dalah kehidupan di muka bumi ini. Pengertian khalifah atau pengganti, berfungsi penugasan dan pembebanan (taklif) kepada manusia untuk melaksanakan tugas-tugas kehidupan di dunia ini. Dalam hal ini manusia dibekali potensi dan kekuatan fisik dan kekuatan berpikir. Manusia diberi kemampuan menggunakan akal dan pikiran secara penuh. Ini tidak berarti bahwa akal manusia adalah satu-satunya potensi absolut yang mampu memecahkan segala persoalan hidupnya, karena manusia juga diberi rasa dan nafsu yang saling mempengaruhi dalam setiap proses pengambilan keputusan atau penegasan sikap. Bahkan kecenderungan nafsu ke arah negatif pada umumnya lebih kuat, terutama bila pikir dan rasa manusia tidak mampu mengendalikan.

Dakwah yang Partisipatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah yang Partisipatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Dakwah yang Partisipatif

Manusia -oleh karenanya-dalam kehidupan sosial dituntut dan bertanggung jawab untuk mengajak mengerjakan maruf sekaligus meninggalkan kemungkaran. Ini berarti manusia tidak bisa terlepas dari fungsi dakwah. Bahwa dakwah mempunyai relevansi sepanjang masa, karena manusia hidup tidak bisa lepas dari nafsu dan berbagai kecenderungan negatifnya.

Manusia dengan hidup dan kehidupannya sesuai dengan fitrahnya selalu mengalami perubahan-perubahan, baik perubahan yang alami maupun yang dirancang oleh manusia sendiri. Perubahan itu tidak selamanya menjadi lebih baik, bahkan sering terjadi sebaliknya, manusia akan mengalami krisis identitas dirinya sebagai makhluk yang mulia di sisi Allah mau pun bagi sesamanya. Di sinilah dakwah akan berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan dan bahkan mengembangkan kemuliaan manusia. Karena tu dakwah juga mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan transformasi sosial yang berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

RMI NU Tegal

***

Ada indikasi mencolok yang menunjukkan bahwa, Islam di Indonesia semakin mendapatkan tempat yang luas di kalangan masyarakat, dari kelompok remaja mau pun kelompok tua. Mushala dan masjid dibangun di mana-mana dan selalu dipadati oleh kaum muslimin. Kelompok pengajian, majelis talim dan kajian Islam muncul bagaikan cendawan di musim penghujan. Namun semua itu tidak berarti adanya perkembangan dan pengembangan agama Islam. Karena berkembangnya jumlah pemeluk agama Islam yang menunjukkan adanya kepedulian masyarakat terhadap agama tidak atau belum berarti bahwa ajaran agama Islam secara substansial juga berkembang.

RMI NU Tegal

Dari sisi lain, kualitas keberagamaan masyarakat Indonesia cenderung melemah, akibat perubahan nilai yang berkembang. Nilai-nilai spiritual Islami tidak lagi manjadi rujukan baku bagi kehidupan. Solidaritas Islam sebagai nilai Islami dalam masyarakat dan berbangsa mulai berhadapan dengan kecenderungan sikap individualistik yang mulai menggejala akibat kemajuan dunia usaha yang memacu pada watak kompetitif. Nilai ekonomis makin dominan, berpengaruh besar bagi makin berkembangnya etos ikhtiar yang pada gilirannya akan menghilangkan sikap tawakal, dan lebih dari itu akan mengganggu keimanan.

Pemahaman tentang konsep ibadah pada umumnya masih terpaku pada bentuk-bentuk ritual formal, terikat oleh syarat, rukun, waktu dan ketentuan-ketentuan tertentu. Misalnya shalat, itu saja pelaksanannya masih belum pas. Sedangkan persepsi tentang ibadah sosial (tidak individual) masih jauh dari harapan. Pada hal yang terakhir ini justru lebih bermakna daripada ibadah individual formal.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi srta dampak hasil pembangunan dewasa ini, memberikan pengaruh kuat atas munculnya dua fenomena yang saling berlawanan. Di satu sisi orang semakin bersikap sekuler, sementara di sisi lain justru lebih bersifat agamis, bahkan senderung sufistik atau fundamentalistik. Ini terlihat dari radikalisme berlebihan, yang sering disebut gerakan sempalan dan sikap ekstrim sebagian masyarakat. Timbul juga kelompok yang sering disebut para-normal yang menjadi tempat pelarian bagi orang-orang yangmengalami keputusasaan.

Semua ini terjadi akibat lemahnya kualitas keberagamaan mereka. Pemahaman mereka terhadap agama Islam tidak utuh dan tuntas, karena hanya menggunakan salah satu dari paradigma rasional dan mistikal, atau hanya secara eksklusif terpaku pada norma statis saja atau pada yang kontekstual dinamis saja. Padahal Islam merupakan kesatuan utuh dan bulat dari beberapa komponen, yang astu dengan lainnya saling mempengaruhi, misalnya aqidah, syariah, akhlak, muasyarah, dan lain sebagainya.

Faktor lain yang juga mempengaruhi rendahnya kualitas keberagamaan Islam di Indonesia adalah adanya sifat ambivalen dalam proses kulturisasi nilai-nilai Pancasila di satu pihak dan penghayatan serta pengamalan norma agama Islam di lain pihak. Hal ini senderung membuat rancu orientasi nilai dalam kehidupan. Disintegrasi dari dua sumber nilai ini tentu saja sangat tidak menguntungkan dalam kehidupan, sementara itu upaya pengembangan pemahaman integratif yang memperjelas hubungan simbiosis dari keduanya sering mengundang kesalahpahaman.

***

Dakwah berasal dari bahasa Arab yang berarti mengundang, mengajak dan mendorong. Konotasi dakwah yang lazim adalah mengajak dan mendorong sasaran untuk melakukan kebaikan dan menjauhi kejelekan, atau memerintah melakukan pekerjaan maruf dan melarang bertindak munkar. Dapat juga dakwah diartikan mengajak sasaran ke jalan Allah, yakni agama Islam. Pengertian tersebut dapat dipahami dari ayat Al-Quran 104 surat Ali Imran dan ayat 125 surat al-Nahl. Dari sini dapat dibedakan antara dakwah dan diayah (propgaganda) serta indoktrinasi. Dalam diayah, yang dipropagandakan belum tentu sesuatu yang baik. Sedangkan dalam indoktrinasi terdapat unsur paksaan. Berbeda dengan dakwah, di mana sesuatu yang didakwahkan tentu baik dan tidak mengandung unsur paksaan, tetapi justru menumbuhkan kesadaran.

Kegiatan dakwa Islamiyah tidak bisa lepas dari lima unsur yang harus berjalan serasi dan seimbang. Karena kegiatan dakwah itu sendiri, merupakan proses interaksi antara pelaku dakwah (dai) dan sasaran dakwah (masyarakat) dengan strata sosialnya yang berkembang. Antara sasaran dakwah dan pelaku dakwah saling mempengaruhi, bahkan saling menentukan keberhasilan dakwah, di mana keduanya sama-sama menuntut porsi materi,metode dan media tertentu.

Strategi dakwah akan berhasil apabila ke lima unsur di atas berjalan seimbang. Ini berarti, kegiatan dakwah bukan sekadar memberikan "pengajian" di atas mimbar dengan berbagai bumbu penyedapnya di hadapan massa luas dan heterogen yang menyambutnya dengan tepukantangan menggema di tengah-tengah lapangan. Namun lebih dari itu, ia menuntut tumbuhnya kesadaran bagi audiens, agar pada gilirannya melakukan perubahan positif dari sisi pengamalan dan wawasan agamanya.

Adalah sangat naif, mengukur keberhasilan dakwah hana dari banyaknya jumlah pengunjung yang melimpah ruah pada forum pengajian dan hebatnya mubaligh yang lucu, kocak, dan lincah. Sementara itu biaya yang keluar relatif banyak, tidak pernah diimbangi dengan evaluasi massa pengunjungnya. Apakah mereka makin meningkatkan kesadaran dan wawasan keberagamaannya? Ataukah biasa-biasa saja, mereka pulang hanya membawa kesan kagum dan puas terhadap pembawaan mubaligh?

Pengembangan dakwah Islamiyah merupakan proses interaksi dari serangkaian kegiatan terencana yang mengarah pada peningkatan kualitas keberagamaan Islam. Kualitas itu meliputi pemahaman ajaran Islam secara utuh dan tuntas, wawasan keberagamaan, penghayatan dan pengalamannya. Sebagai proses, maka tuntutan dasarnya adalah peubahan sikap da perilaku yang akan diorientasikan pada sumber nilai yang Islami. Dari dimensi lain pengembangan itu merupakan alat untuk mencapai tujuan dakwah Islamiyah. Di sini kebutuhan dasarnya adalah proyeksi dan kontekstualisasi ajaran Islam dalam proses transformasi sosial. Ini memerlukan kejelian dan kepekaan sosial bagi setiap dai/mubaligh, agar mampu melakukan pendekatan kebutuhan, yang dipandu oleh sumber nilai Islami.

Efektifitas dakwah mempunyai dua strategi yang saling mempengaruhi keberhasilannya. Pertama, peningkatan kualitas keberagamaan dengan berbagai cakupannya seperti di atas, dan kedua, sekaligus mampu mendorong perubahan sosial. Ini berarti memerlukan pendekatan partisipatif di samping pendekatan kebutuhan. Dakwah bukan lagi menggunakan pendekatan yang hanya direncanakan sepihak oleh pelaku dakwah dan bukan pula hanya pendekatan tradisional, mengutamakan besarnya massa.

Pendekatan partisipatif menghendaki sasaran dakwah dilibatkan dalam perencanaan dakwah, bahkan dalam penggalian permasalahan dan kebutuhan. Di sinilah akan tumbuh dinamisasi ide dan gagasan baru, di mana para dai berperan sebagai pemandu dalam dialog-dialog keberagamaan yang muncul dalam mencari alternatif pemecahan masalah.

Dakwah Islamiyah dituntut kemampuannya untuk meletakkan Islam pada posisi pendamai dan pemberi makna terhadap kotradiksi dan konflik dalam kehidupan manusia akibat globalisasi di segala bidang. Di samping itu, manusia dalam kehidupannya selalu menjumpai berbagai macam kontradiksi dan dikotomi yang inhern dalam eksistensinya, seperti mati-hidup, sementara-permanen, kebebasan-keterbatasan dan lain-lain. Secara historis, manusia juga menghadapi kontradiksi, seperti kaya-miskin, bodoh-pandai dan sebagainya. Di sini dakwah secara konseptual harus merumuskan keseimbangan-keseimbangan yang secara implementatif mapu menumbuhkan sistem manajemen konflik. Dengan demikian ajaran Islam menjadi alternatif terhadap upaya mencari solusi pengembangan sumber daya manusia seutuhnya.

Memang hal ini tidak mudah, memerlukan dai-dai berkualitas, sebagai personifikasi sikap dan erilaku dalam kehidupan Islami, yang mampu mengaktualisasikan dirinya di tengah-tengah pluralitas masyarakat. Dalam hal ini Allah telah mengisyaratkan dalam surat Ali Imran ayat 110. Bahwa para dai harus menjadi khaira ummah yang punya kemampuan menampilkan dirinya di tengah dan untuk masyarakat (ukhrijat li al-naas). Ini berarti pelaku dakwah (dai) harus memiliki kemampuan menjawab sekaligus menerapkan jawaban atas pertanyaan apa, siapa di mana dan kapan ia berada. Kemampuan ini bisa menumbuhkan kesadaran akan potensi dirinya, posisinya, situasi dan kondisi yang sedang dan akan dihadapinya. Barulah ia mampu menggunakan pilihan-pilihan penerapan metode hikmah, maudhah hasanah, mujadalah bi ihsan dan lain sebagainya yang tepat dan mendukung strategi dakwah.

***

Pandangan orang tentang hidup selalu berbeda. Pertanyaan, untuk apa hidup bagi manusia, selalu berbeda jawabannya. Bagi umat Islam, hidup bukan sekadar untuk hidup. Hidup bukanlah tujuan. Hidup dan kehidupan manusia merupakan proses yang akan berakhir di dunia dengan datangnya kematian. Sebagai proses, hidup tentu memerlukan berbagai sarana. Sarana yang paling mendasar secara fisik adalah aspek kesehatan dan aspek ekonomi. Perbedaannya dengan hidup yang dialami makhluk lain, hanyalah terletak pada nilai dan makna. Sedangkan nilai dan makna hidup manusia ditentukan oleh aspek spiritual.

Model pembanguna yang difokuskan pada pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, cenderung memisahkan atau mengasingkan aspek spiritual. Alienasi antara keduanya tercermin pada gerakan dan pelembagaan agama yang tidak menyatu dengan aktifitas pelembagaan ekonomi. Keadaan seperti itu akan mengacu pada pembentukan nilai dan norma ekonomis. Ini berarti bahwa ekonomi merupakan sistem nilai tersendiri. Akibatnya, gerakan ekonomi berhadapan secara diametral dengan sistem nilai spiritual. Pada gilirannya gerakan ekonomi berjalan bebas tanppa spiritualitas dan meluncurkan sikap kompetitif yang bila tidak dikontrol oleh aspek spiritual, akan cenderung ke arah individualisme, materialisme dan konsumerisme yang justru bertentangan degan etika berekonomi dalam Islam.

Pada umumnya di dalam masyarakat ekonomis aspek spiritual yang bertolak dari hakikat martabat manusia yang mulia, tidak bertahan lama. Sumber daya manusia, alam, ilmu pengetahuan dan teknologi -sebagai asset ekonomi yang sangat penting- di negara-negara ekonomi maju, banyak mengakibatkan berbagai krisis spiritualitas. Kemiskinan nilai spiritual mendorong masyarakat ekonomi maju berpandangan, bahwa alam bukanlah sahabat yang setia, tetapi sebagai kawulo yang harus ditaklukkan dan diperlakukan sewenang-wenang.

***

Idealnya pengembangan dakwah yang efektif harus mengacu pada masyarakat untuk meningkatkan kualitas keislamannya, sekaligus juga kualitas hidupnya. Dakwah tidak saja memasyarakatkan hal-hal yang religius Islami, namun juga menumbuhkan etos kerja. Inilah yang sebenarnya diharapkan oleh dakwah bil hal yang sering disebutkan oleh para mubaligh. Dakwah bil hal tidak berarti tanpa maqol (ucapan lisan dan tulisan), akan tetapi lebih ditekankan pada sikap, perilaku dan kegiatan-kegiatan nyata yang secara interaktif mendekatkan masyarakat pada kebutuhannya, yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi peningkatan keberagamaan.

Rekayasa pola pengembangan dakwah seperti ini, merupakan unsur alih teknologi sosial yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia sebagai imbangan alih teknologi material yang tidak akan berhenti dengan segala dampaknya. Keseimbangan antara dua teknologi itu setidaknya akan menjanjikan ketenteraman hati serta mengurangi gejolak sosial yang dan stres di kalangan masyarakat awam. Keseimbangan dimaksud akan mengacu ke arah tercapainya kebahagiaan di dunia dan akhirat (saadatud darain).

Prospek sosial ekonomi memang dapat diproyeksikan, tetapi dalam setiap kehidupan umat, interaksi antara semua aspek kehidupan sangat besar pengaruhnya dalam proses menuju prospek yang dicita-citakan. Masing-masing aspek tentu harus pasti, sehingga proses tersebut mengarah kepada adanya kepastian. Bila yang terjadi sekarang adalah, aspek-aspek positif dalam kehidupan mengalami ketidakpastian, maka pada masa depan yang pasti adalah ketidakpuasan.

Ini berarti, bahwa aspek ekonomi tidak dapat ditarik ke depan tanpa aspek-aspek positif kehidupan lainnya secara simultan dalam suatu sistem yang seimbang. Pengembangan aspek ekonomi itu sendiri merupakan proses interaksi dari serangkaian upaya peningkatan sarana yang menunjang. Penumbuhan etos kerja yang diarahkan pada kualitas sumber daya alam mau pun lapangan kerja yang tersedia atau yang mungkin diciptakan, merupakan kegiatan yang paling menentukan bagi tercapainya keadaan ekonomi yang stabil. Ini perlu dilakukan oleh gerakan Islam yang bergerak di bidang tersebut, tentu saja harus diimbangi dengan pemantapan mental yang diorientasikan pada aspek spiritual.

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS). Tulisan ini pernah disampaikan pada Lokakarya LKK-NU Pusat, 9 Januari 1992 di Jakarta. Sebelumnya pernah disampaikan pada seminar sehari tanggal 7 Oktober 1990 di Semarang, dengan judul asli Dakwah Islam dan Pembangunan.

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sejarah, Warta RMI NU Tegal

Sabtu, 21 Oktober 2017

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA

Bandung, RMI NU Tegal 



Saat memasuki waktu Shalat Maghrib hari ini, Ahad (29/10), di stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, akan lain dari biasanya. Di stadion, azan akan berkumandang, kemudian para penonton, pemain sepak bola Liga Santri Nusantara akan shalat berjamaah.  

Menurut Ketua RMINU KH Abdul Ghofarrozin, shalat berjamaah itu memang direncanakan sejak jauh-jauh hari pada partai puncak atau grand final Liga Santri Nusantara. Hal ini untuk menunjukkan bahwa pesepak-pesepak bola asal pesantren tidak meninggalkan kewajiban pokok ketika berkecimpung di dunia olahraga.  

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA

“Kita akan shalat berjamaah terlebih dahulu sebelum bermain sepak bola dan menontonnya,” katanya di Media Center Liga Santri Nusantara, Bandung.  

Sekretaris RMINU Habib Soleh, diperkirakan warga yang akan mengikuti shalat berjamaah itu sekitar 20-25 ribu orang. Bagi penonton yang belum memiliki wudlu, panitia LSN bekerja sama dengan PDAM menyediakannya di luar lapangan. 

Partai final Liga Santri Nusantara mempertemukan kesebelasan Darul Huda Ponorogo (Jawa Timur) dan Darul Hikmah Cirebon, Jawa Barat. Mereka akan bertanding pada pukul 19.00. (Abdullah Alawi)

RMI NU Tegal

 

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Berita, Fragmen, Warta RMI NU Tegal

Rabu, 18 Oktober 2017

GP Ansor Ajak Komponen Bangsa Perkokoh Spirit Nasionalisme

Purbalingga, RMI NU Tegal. Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor mengajak segenap komponen bangsa selalu memperkokoh spirit nasionalisme, menjaga pluralisme, dan bersama meningkatkan solidaritas kebangsaan untuk menghadapi tantangan nasional yang berat di masa mendatang ini.

"Solidaritas kebangsaan atau gotong royong adalah jiwa kita berbangsa yang harus kita jaga bersama, dan berbudi luhur adalah martabat kita," tegas Komandan Nasional Banser, Alfa Isnaeni dalam apel siaga Banser di alun-alun Purbalingga, Ahad (31/5) kemarin.

GP Ansor Ajak Komponen Bangsa Perkokoh Spirit Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Ajak Komponen Bangsa Perkokoh Spirit Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Ajak Komponen Bangsa Perkokoh Spirit Nasionalisme

Dengan gotong-royong dan budi luhur ini, lanjutnya, kita telah teruji mampu menghadapi berbagai badai yang menerpa bangsa selama ini. Dan Hari Pancasila kali ini, ujar Alfa, hendaknya menjadi momentum menghentakkan kesadaran kita pentingnya selalu menjaga kedaulatan NKRI, dan memberantas korupsi, sebagai musuh bangsa kita saat ini.

RMI NU Tegal

Hal ini, menurutnya, sesuai dengan rekomendasi Munas dan Konbes NU di Cirebon, yang menyatakan tuntutan dan dukungannya kepada penegak hukum agar terus memberantas korupsi secara adil dan tanpa pandang bulu.

"Bahkan seandainya ada warga NU sendiri yang terkena kasus hukum di KPK, silahkan proses secara jujur dan adil, dan tak perlu ragu. Ansor mendukung penuh agenda pemberantasan korupsi, secara jujur dan adil, tanpa pandang bulu," tegasnya.

RMI NU Tegal

Untuk itulah, tambahnya, Banser mendukung dan mengingatkan kepada KPK dan institusi hukum lainnya, agar sungguh-sungguh berdiri terdepan sebagai alat penegakan keadilan hukum. "Jangan sampai justru sebagai alat politik atau kepentingan lainnya, sehingga yang benar mau disalahkan, sementara yang nyata jahat dan koruptif, menumpuk kekayaan untuk diiri sendiri, malah dilindungi," tandasnya di depan ribuan Banser.

Bila ada pihak-pihak yang mengganggu upaya pemberantasan korupsi ini, Banser akan berdiri terdepan untuk membelanya, "Karena koruptor adalah pengkhianat bangsa," tegas Alfa pun meneriakkan yel-yel, yang disambut gemuruh, "Tangkap koruptor!" (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Warta RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock