Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2018

Aswaja, Islam yang Biasa-Biasa Saja

Depok, RMI NU Tegal. Seperti apakah Islam ahlusunnah wal jamaah (aswaja) itu? Demikian pertanyaan yang disampaikan oleh Katib Aam PBNU KH Malik Madany kepada para hadirin dalam forum pra munas dan konbes NU di Pesantren Al Hikam Depok, Sabtu (30/8).

Aswaja, Islam yang Biasa-Biasa Saja (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja, Islam yang Biasa-Biasa Saja (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja, Islam yang Biasa-Biasa Saja

Ia lalu menjelaskan bahwa aswaja adalah berislam yang wajar-wajar saja seperti yang dilakukan oleh Rasulullah. Dalam sebuah hadist dikisahkan para sahabat yang berdebat orang Islam yang paling baik seperti apa. Ada yang berpendapat, yang paling banyak puasanya, yang lainnya, yang shalat terus dan ada yang tidak mau menikah. Lalu ketika Rasulullah mendengar perkataan para sahabat tersebut, ia berkata “Demi Allah, aku orang yang paling takut pada Allah, aku puasa tetapi juga berbuka, aku shalat dan juga tidur dan aku juga kawin.”

Dalam sebuah hadist lain, Rasulullah juga menyampaikan pesan. “Barangsiapa tidak senang dengan sunnahku, maka bukan termasuk golonganku.”

RMI NU Tegal

“Karena itu, Islam yang benar adalah Islam yang menyeimbangkan kepentingan duniawi dan ukhrawi,” kata Malik Madany, yang juga pengajar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

RMI NU Tegal

Ia merasa prihatin dengan maraknya kelompok Islam ekstrim yang gampang sekali mengkafir-kafirkan golongan lain yang tidak masuk kelompoknya.

“Mereka seolah-olah seperti kepala dinas pengkaplingan surga yang sudah mendapatkan SK dari Allah yang beranggapan, siapa yang berhak masuk surga, hanya saya dan teman-teman.” ?

Karena itu, dalam munas dan konbes yang akan digelar pada 1 November mendatang, salah satu materinya adalah khilafah Islamiyah perspektif NU. (mukafi niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kajian, Berita RMI NU Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Kader IPNU Rembang, Sabet Dua Piala Duta Wisata Jateng 2016

Rembang, RMI NU Tegal - David Anggi Laksono, kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dari Kabupaten Rembang, berhasil meraih dua piala sekaligus dalam ajang pemilihan Duta Wisata Jawa Tengah tahun 2016 yang dilaksanakan di Surakarta belum lama ini. David perwakilan dari Rembang bersama Regyta Saskia Putranti dari Kabupaten Demak mendapatkan juara dalam kategori kepribadian dan penampilan terbaik.

David sapaan akrabnya saat dihubungi via handpone (HP) mengaku sangat senang dan bangga bisa memperoleh juara pada kategori tersebut. Sebelumnya, pihaknya tidak pernah menargetkan untuk mendapatkan juara maupun kontestan terbaik.

Kader IPNU Rembang, Sabet Dua Piala Duta Wisata Jateng 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader IPNU Rembang, Sabet Dua Piala Duta Wisata Jateng 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader IPNU Rembang, Sabet Dua Piala Duta Wisata Jateng 2016

"Sebenarnya saya tidak berambisi untuk menjuarai dari tingkat kabupaten dan juga di Surakarta. Apalagi perwakilan dari rembang dari tingkat SMA Sederajat. Yang lainya dari mahasiswa. Ini merupakan kebanggan tersendiri bagi saya", katanya.

RMI NU Tegal

Sementara itu, penorehan yang dicapai oleh kader IPNU dari Rembang mendapatkan apresiasi dari Ketua IPNU Rembang Ahmad Humam. Berdasarkan data di IPNU Cabang, David tercatat sebagai Ketua IPNU Ranting Seren Kecamatan Sulang. Keberhasilan David diharapkan mampu memberikan pengaruh terhadap kader IPNU maupun IPPNU untuk mengukir prestasi.

"Kami ucapkan selamat kepada rekan David yang telah mewakili Kabupaten Rembang pada ajang Duta Wisata Jawa Tengah dan berhasil membawa 2 trofi kategori penampilan dan kepribadian terbaik," katanya.

Humam mengatakan, prestasi ini akan memberikan pandangan kepada masyarakat bahwa IPNU dan IPPNU tidak hanya konsen terhadap ilmu agama, namun juga pengetahuan umum lainnya sesuai dengan tuntutan zaman.

RMI NU Tegal

Untuk diketahui, Pemilihan Duta Wisata atau pemilihan Mas-Mbak Jawa Tengah adalah sebuah kegiatan di bagian kepariwisataan dan kepemudaan yang mengemban misi dalam usaha promosi segala aspek kepemerintahan, tidak terkecuali dalam bidang pariwisata dan kebudayaan di Jawa Tengah yang menjadi segmen utama dalam pergerakan langkahnya. (Kurni Wawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Berita RMI NU Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Membaca Semangat Akulturasi Islam di Tegalsari Ponorogo

Ponorogo, RMI NU Tegal. Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, memiliki sejarah besar di masa lalu yang salah satu tandanya bisa dilihat dari masjid dan bekas Pondok Pesantren Tegalsari di Kecamatan Jetis.

Membaca Semangat Akulturasi Islam di Tegalsari Ponorogo (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Semangat Akulturasi Islam di Tegalsari Ponorogo (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Semangat Akulturasi Islam di Tegalsari Ponorogo

Di kompleks yang kini banyak diziarahi umat Islam itu masih berdiri bangunan asli saat Pesantren Tegalsari dipimpin oleh Kiai Mohammad Besari dan penerus atau cucunya Kiai Kasan Besari.

Kiai Kasan Besari memiliki murid yang dikenal sebagai pujangga terkemuka di Kasunanan Surakarta, yakni Raden Ngabehi Ronggowarsito.

RMI NU Tegal

Ronggowarsito melahirkan karya berjudul Serat Kalatida yang isinya masih sangat relevan untuk diambil pelajarannya dalam situasi saat ini. Terjemahan bebas karyanya sebagai berikut:

RMI NU Tegal

Menyaksikan zaman gila

Serba susah dalam bertindak

Ikut gila tidak akan tahan

Tapi kalau tidak mengikuti (gila)

Tidak akan mendapat bagian

Kelaparan pada akhirnya

Namun telah menjadi kehendak Allah

Seberuntung-beruntungnya orang yang lalai

Akan lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada.

Untuk mengenang nama besarnya, salah satu sekolah formal di bawah yayasan di kompleks Tegalsari diberi nama pujangga bernama asli Raden Bagus Burhan itu, yakni Madrasah Aliyah Ronggowarsito.

Camat Jetis Fadhlal Kirom yang menemani Antara ke kompleks itu mengemukakan bahwa pada hari tertentu peziarah bisa berjumlah ribuan. 

Bahkan, ada pondok pesantren yang rutin setiap malam Jumat kliwon datang untuk berdoa bersama di makam tokoh-tokoh Islam masa lalu itu.

"Kalau malam Jumat kliwon bisa mencapai 3.500 hingga 4.000 lebih santri yang datang dan malam Jumat lainnya sekitar 1.000 orang," katanya.

Banyaknya pengunjung ke kompleks itu membawa berkah tersendiri bagi penduduk sekitar, misalnya dari tarif parkir atau orang yang berjualan untuk memenuhi keperluan para peziarah ke lokasi yang berjarak sekitar 8 kilometer dari Kota Ponorogo ini.

Tidak hanya peziarah lokal dan dari berbagai daerah di Indonesia. Ada peziarah khusus yang dari kerajaan di Selangor, Malaysia. 

Menurut Budi Utomo, juru kunci makam Kiai Ageng Mohammad Besari, raja di Selangor masih keturunan tokoh Islam tersebut.

Budi menyebut Kiai Zainal Abidin (anak dari Kiai Mohammad Besari) menjadi raja di Selangor. Karena itu anak turunnya di Malaysia masih sering berziarah ke lokasi itu. Makam yang terletak di sebelah barat masjid terdiri atas Kiai Mohammad Besari dan keluarga, Kiai Mohammad Ilyas (putera Kiai Mohammad Besari) dan keluarga serta Kiai Kasan Besari (putra Kiai Mohammad Ilyas) dan keluarga. Selain itu juga terdapat makam anak cucu lainnya dari Kiai Mohammad Besari.

Selain makam, di sebelah timur masjid terdapat rumah Kiai Kasan Besari yang bangunannya masih terpelihara bagus. Rumah itu dipelihara dan ditempati oleh Setyo Wacono bersama istri. 

Sony, panggilan akrab Setyo yang juga turunan ketujuh Kiai Kasan Besari, menempati salah satu kamar dari rumah besar itu. 

Di bagian tengah terdapat ranjang kayu peninggalan Kiai Kasan Besari yang tidak ditempati, namun tetap terpelihara. 

Di bagian lain terdapat meja berukuran pendek ditutupi kain hijau kuning, selaras dengan sprei di ranjang itu.

Sebelum memasuki rumah itu terdapat pondok dari kayu dengan menggunakan kaki yang diduga sebagai langgar tempat santri tinggal. Ada yang menyebut bangunan kayu itu sebagai mushalla di zaman dulu.

Di bagian utara masjid adalah kompleks pondok pesantren yang kini sudah dipugar menjadi bangunan bertembok. Hanya rumah dan bangunan kayu yang tetap dibiarkan sebagaimana aslinya.

Selain pemugaran beberapa bangunan, warisan berharga yang tidak ditemui di kompleks itu adalah buku atau kitab-kitab kuno peninggalan Kiai Mohammad Besari maupun Kiai Kasan Besari. Menurut Sony, kitab-kitab itu justru ada di Belanda. 

Sementara Camat Jetis Fadhlal mengemukakan ada sejumlah masyarakat di Jetis yang memiliki kitab kuno itu.

Budayawan asal Ponorogo Dr Sutejo, MHum mengemukakan hakikat ziarah ke makam itu adalah dalam konteks berdzikir juga, yakni semakin menguatkan ingatan tentang kematian. Maka yang dibaca oleh para peziarah adalah doa-doa untuk para leluhur dan para tokoh besar itu.

Makam para tokoh menjadi tempat ziarah karena semasa hidupnya banyak memberikan kemanfaatan besar bagi orang banyak dan ketika jasadnya sudah di alam kubur juga masih terus dikenang dan terus menebarkan manfaat dalam bentuk lain.

"Dengan banyaknya peziarah yang datang juga memberikan dampak kepada masyarakat sekitar. Yang terlihat adalah pengelolaan parkir kendaraan, penjual makanan dan kegiatan sosial," kata Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasr Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Ponorogo ini.

Sementara tokoh muda Ponorogo Fathur Rochman Effendie yang juga pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikmah Kauman, Kota Lama, Ponorogo, mengemukakan bahwa ziarah kubur tidak hanya sarat spiritual tapi juga sebagai bentuk memelihara budaya dan ajaran-ajaran leluhur.

Ziarah, kata lelaki yang akrab disapa Gus Fathur ini, adalah sarana ampuh untuk mengingat mati karena sebesar apapun cita-cita, pangkat dan derajatnya, manusia harus terus menerus diingatkan tentang keniscayaan, yakni mati.

"Karena yang diziarahi adalah para wali dan para guru (masyayeh) maka ziarah juga bermakna ngalap berkah lewat para guru itu. Prosesnya bisa dimaknai permohonan kepada Allah SWT dengan berwasilah di makam para guru dan para wali. Jadi hal ini bukanlah praktik syirik, tapi tawassul sebagai upaya menyambung rasa dan asal usul ilmu dengan guru yang diziarahi," katanya.

Selain itu, kata dosen manajemen di Institut Sunan Giri (Insuri) Ponorogo ini, kalau beriziarah ke Tegalsari kita dapat membaca tentang semangat Islam akulturasi yang saat ini dikenal sebagai Islam Nusantara.

"Pondok Pesantren Tegalsari yang hidup dalam kurun Kerajaan Mataram mempunyai keunikan kurikulum yang membaurkan atau akulturasi Islam dan budaya Jawa sebagai upaya meredam persitegangan antara Islam dan kejawen warisan konflik Raden Bathoro Katong dan Ki Ageng Kutu," katanya.

Pondok Pesantren Tegalsari, kata dia, melahirkan kiai-kiai besar se-Jawa yang kini tersebar di Ponpes Gontor, Tebuireng, Lirboyo, Ploso, Bendo, Jampes dan lainnya yang merupakan anak turun dari sesepuh Tegalsari. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal AlaNu, Doa, Berita RMI NU Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Bangga Menjadi NU secara Substantif

Majalah Risalah Nahdlatul Ulama (NU) terbaru Edisi 63/Tahun X/1437 H/Agustus 2016 telah terbit. Salah satu media cetak NU yang digawangi oleh Faishal Helmy ini mengangkat topik utama Ayo Bangga Menjadi NU. Dengan latar sampul berwarna hitam dan logo NU yang terpampang gagah di dada seseorang, Majalah Risalah mengulik liputan utama tentang peluncuran Kartanu sebagai wujud bangga ber-NU.

Bangga memiliki sekaligus menjadi NU ini bukan tanpa alasan, karena NU selama ini mampu mewujudkan kehidupan harmonis di tengah keberagaman Indonesia. NU juga memiliki komitmen terhadap keutuhan bangsa dan negara sehingga jika ada orang maupun kelompok yang bertujuan memecah belah bangsa, NU bersama warga dan seluruh perangkat organisasinya selalu setia di garda terdepan membela NKRI.

Bangga menjadi NU secara substantif tersebut diamini oleh Pemimpin Redaksi Majalah Risalah Faishal Helmy dalam pengantar redaksinya. Menurutnya, keberkahan menjadi warga NU bukan hanya ketika seseorang hidup, tetapi juga setelah meninggal dunia. Sebab doa, tahlil, yasin, dan kiriman Al-Fatihah terus mengalir mengiringi kepergian seseorang ke alam baqa.

Bangga Menjadi NU secara Substantif (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangga Menjadi NU secara Substantif (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangga Menjadi NU secara Substantif

“Ketika hidup, warga NU akan mendapatkan pergaulan yang dirahmati. Sedangkan ketika wafat ia akan mendapat perhatian doa yang selalu dipanjatkan oleh warga NU. Bahkan ketika melewati kuburnya, warga NU akan menyampaikan salam dan mengrim Fatihah,” urai Helmy.

Terkait dengan kepemilikan Kartu Anggota NU (Kartanu) oleh warga NU, itu hanya salah satu langkah praktis bagi Jam’iyah agar data atau jumlah warga NU secara kuantitatif yang konon mencapai 91 juta jiwa lebih terdokumentasi dengan baik. Sehingga ketika ada yang bertanya tengang jumlah warga NU, para pengurus dapat menunjukkan data riil-nya.

PBNU telah meluncurkan Kartanu ini pada 27 Juni 2016 lalu di halaman Gedung PBNU Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat. Secara teknis, PBNU menggandeng Bank Mandiri untuk pengadaan sehingga kartu ini bukan hanya kartu statis, tetapi dinamis karena memiliki beragam manfaat yang dapat diperoleh warga NU.

RMI NU Tegal

Namun demikian, Kartanu hanya instrumen untuk merealisasikan jumlah warga NU. Tetapi melalui Kartanu ini, warga NU pada intinya diajak agar selalu berbangga menjadi NU seutuhnya. Bangga ini bisa diwujudkan melalui berbagai cara, kiprah, maupun prestasi dengan tetap berpegang teguh pada tali Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah seperti yang digariskan oleh para pendiri NU.

Seperti pada terbitan sebelumnya, Majalah Risalah masih konsisten dengan rubrik-rubrik ke-NU-an yang disajikan dengan segar agar masyarakat mendapatkan ilmu, wacana, dan informasi yang holistik. Pada terbitan baru ini, Risalah juga mengulas tentang perhelatan Rapat Pleno PBNU yang digelar di Pesantren Kempek Cirebon, Jawa Barat pada 23-25 Juli 2016 lalu. Agar pembaca dapat mengakses informasi Pleno dengan lengkap, Risalah secara khusus menyajikan hasil-hasil Rapat Pleno PBNU yang dihasilkan oleh Komisi Organisasi, Program, dan Rekomendasi Bahtsul Masail.

RMI NU Tegal

Selengkapnya, pembaca dapat mengakses seluruh informasi Majalah setebal 66 halaman ini dengan memilikinya. Ada banyak tulisan bergizi yang dapat dilahap antara lain: jihad NU melawan korupsi, kisah Mbah Hasyim Asy’ari yang tersaji di rubrik Nusiana, profil Ketua LTN PBNU Juri Ardiantoro yang kini terpilih menjadi Ketua KPU RI, tentang dinamika Kudeta di Turki, sajian tentang makam-makam keramat dan bersejarah yang ada di DKI Jakarta, serta tulisan-tulisan menarik lain. Selamat membaca! (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nahdlatul, AlaSantri, Berita RMI NU Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Tiga Macam Puasa Muharram

Puasa muharram adalah puasa yang sangat dianjurkan setelah puasa di bulan Ramadhan. Hal ini merujuk kepada hadis riwayat Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah.

? ? ? ? ? ? ?: «? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?»

Tiga Macam Puasa Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Macam Puasa Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Macam Puasa Muharram

Rasulullah SAW berkata, ‘Puasa paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yakni Muharram. Sementara sholat paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam.”

RMI NU Tegal

Hadis ini menjelaskan bahwa puasa Muharram adalah puasa yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. Karenanya, disunahkan melakukannya bagi yang mampu. Hadis di atas tidak secara spesifik kapan waktu puasa yang dianjurkan, apakah setiap hari atau pada hari tertentu saja di bulan Muharram.

Terkait hal ini, Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (syarah sunan Tirmidzi) menyebutkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

RMI NU Tegal

Puasa Muharram ada tiga bentuk. Pertama, yang paling utama ialah puasa di hari kesepuluh beserta satu hari sebelum dan sesudahnya. Kedua, puasa di hari kesembilan dan kesepuluh. Ketiga, puasa di hari kesepuluh saja.

Tiga tawaran ini setidaknya menjadi opsi yang baik dalam mengamalkan puasa sunah di bulan Muharram. Kalaupun tidak begitu, bisa saja puasa Senin-Kamis atau puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 (ayyamul bidh) di bulan Muharram bagi mereka yang terbiasa mengamalkannya di bulan lain. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Berita, Pendidikan RMI NU Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Kader PMII Didorong Kuasai Karya-karya Ulama Aswaja

Jombang, RMI NU Tegal. Sejumlah mahasiswa di Jombang yang tergabung dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) melakukan follow-up materi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang sebulan lalu sudah diajarkan dalam penyelenggaraan Sekolah Aswaja.

Kader PMII Didorong Kuasai Karya-karya Ulama Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Didorong Kuasai Karya-karya Ulama Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Didorong Kuasai Karya-karya Ulama Aswaja

Mereka duduk bersila membentuk lingkaran bundar di area Taman Keplak Sari Kebon Ratu sembari berdiskusi serta mereview sejumlah pemahaman yang telah diserap sebelumnya, Ahad (16/10) siang.?

Agus Riyanto, Ketua III Bidang Keagamaan Pengurus Cabang (PC) PMII Jombang mengimbau agar pemahaman kader PMII tentang Aswaja hendaknya terus ditingkatkan. Setidaknya mereka sudah mulai menguasai terhadap setiap karya yang dibuat oleh para ulama Aswaja. ?

"Menarik sekali jika kader-kader Aswaja ini dalam bidang fiqih, tasawuf/teologi, aqidah, muamalah ada yang menguasainya masing-masing," kata Agus di hadapan mereka.?

Saat ini, kata Agus, terdapat berbagai kelompok atau organisasi Islam yang juga mengatasnamakan dirinya beraswaja. Namun Aswaja yang dianut mereka tak sesuai dengan pemahaman Aswaja yang diajarkan PMII pada umumnya.?

RMI NU Tegal

Karenanya, penguasaan kader PMII terhadap setiap produk ulama Aswaja sangat penting untuk menjaga kemurnian pemahaman merekn. "Seperti ketika browsing di internet tentang Aswaja, berapa persen Aswaja NU yang muncul, dan berapa banyak Aswaja dari yang lainnya, seperti Aswaja HTI," jelasnya.?

Mengingat belakangan ini terdapat banyak isu yang berkembang, baik dari sisi sosial, budaya dan agama, ke depan, mereka juga komit membahas tentang isu-isu tersebut dalam perspektif Aswaja serta metodologinya.?

"Oleh karenanya pendalaman teori dan pembahasan atas isu-isu lokal akan kita kaji dalam pertemuan selanjutnya, dan silakan sahabat-sahabat tuangkan dalam bentuk tulisan ilmiah nantinya," ujar Agus yang juga mantan Ketua Komisariat Wahab Hasbullah tersebut. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Budaya, Berita RMI NU Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Dubes Inggris: NU dan Indonesia Miliki Peran Penting Wujudkan Perdamaian Dunia

Jakarta, RMI NU Tegal

Setelah melakukan penekenan nota kesepahaman dengan PBNU di sektor-sektor strategis, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik melaksanakan shalat Jumat di Masjid An-Nahdlah PBNU lantai dasar, Jumat (8/4). Usai sholat Jumat, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj yang menjadi khotib dan imam memperkenalkan Moazzam kepada para jamaah Jumat.

Setelah diperkenalkan oleh Kiai Said, Moazzam memberikan pernyataannya kepada jamaah. Dia mengatakan, NU dan negara Indonesia mempunyai peran startegis untuk mewujudkan perdamaian dunia di tengah serangan radikalisme dan terorisme.

Dubes Inggris: NU dan Indonesia Miliki Peran Penting Wujudkan Perdamaian Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Inggris: NU dan Indonesia Miliki Peran Penting Wujudkan Perdamaian Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Inggris: NU dan Indonesia Miliki Peran Penting Wujudkan Perdamaian Dunia

Dubes muslim pertama Inggris ini juga menjelaskan, kemitraan strategis dengan Nahdlatul Ulama ini diharapkan dapat mewujudkan perdamaian di antara banyak etnis di Inggris. NU bisa memberikan pemahaman-pemahaman Islam yang ramah dan toleran kepada seluruh warga Inggris, bahkan untuk perdamian dunia secara luas.

“Kita tunjukkan bahwa Islam adalah agama damai,” ujar Moazzam yang sudah bertugas selama 18 bulan sebagai Dubes Inggris untuk Indonesia.

Bidang strategis yang menjadi poin kerja sama di antaranya persoalan terorisme dan radikalisme, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.?

RMI NU Tegal

Dalam kesempatan shalat Jumat di Masjid An-Nahdlah PBNU tersebut, Moazzam didampingi oleh Ketua Umum dan Sekjen PBNU, Ketua PBNU Marsudi Syuhud, dan pengurus PBNU yang lainnya. Moazzam juga menerima kartu anggota NU, E-Kartanu dari PBNU sebagai warga istimewa Nahdlatul Ulama. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Halaqoh, Berita RMI NU Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Rebana, Jalan Pemusik Menuju Tuhan

Solo, RMI NU Tegal. IAIN Surakarta pada Kamis (20/12) malam, sedikit berbeda. Betapa tidak, kampus yang biasanya sudah sepi di sore hari, karena kelarnya proses perkuliahan, malam itu dibanjiri setidaknya dua ribu jamaah.

Rebana, Jalan Pemusik Menuju Tuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Rebana, Jalan Pemusik Menuju Tuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Rebana, Jalan Pemusik Menuju Tuhan

Bakda sembayang Isya, kira-kira pukul delapan, jamaah dari wilayah Surakarta dan sekitarnya mulai memenuhi aula besar IAIN Surakarta. Mereka datang dengan mengenakan busana beragam untuk menghadiri dzikir dan Shalawat sekaligus peluncuran Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) JQH Al-Wustho IAIN Surakarta. 

Acara dimulai dengan pembacaan syair-syair yang ada dalam kitab al-Barjanzi, diiringi rebana, alat musik pukul, yang salah satu jenisnya dikenal dengan sebutan hadroh. Dipimpin grup Hadroh JQH Al-Wustho, para jama’ah khusuk mengumandangkan syair-syair pujian untuk Nabi Muhammad SAW

RMI NU Tegal

Dilanjutkan dengan peresmian Unit Kegiatan Mahasiswa Jamiatul Qurra wal Huffadz (UKM JQH) Al-Wustho IAIN Surakarta. UKM tersebut didirikan untuk menjadi ruang kreasi mahasiswa dalam bidang seni, khususnya shalawat, tilawatil Qur’an, dan kaligrafi.

Ketika sesi ceramah tiba, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus mengawali tausiah dengan meminta grup hadrah yang ada dihadapannya membawakan lagu Aa Gym yang pernah populer beberapa tahun lalu, Jagalah Hati. Noval minta lagu tersebut diiringi dengan rebana, namun para pemusik grup hadroh JQH Al-Wustho canggung, belum pernah mengiringi lagu tersebut dengan rebana.

RMI NU Tegal

Saat itulah, Noval mengatakan bahwa musik, khususnya rebana, merupakan bagian yang sangat penting dari kebudayaan umat Islam.

"Musik khususnya rebana merupakan thariqah, salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulullah Muhammad SAW. Bahkan, Nabi Muhammad SAW selalu membawa anjasah atau munsyid ke manapun beliau pergi. Rasulullah juga menampakkan kegembiraannya ketika seorang wanita menunaikan nadzarnya dengan menabuh rebana di hadapan beliau," begitu pimpinan Majlis Dzikir dan Ilmu Ar-Raudhoh, Solo, memaparkan tentang rebana. 

Dia mengingatkan, karena rebana dan shalawat itu penting, para penabuh rebana dan vokalis shalawat seharusnya tidak bersenda gurau atau bercakap-cakap ketika bershalawat. "penabuh rebana dan vokalis jangan bercanda saat membawakan shalawat," ujarnya.

Pemusik, kata Noval, harus menghadirkan rasa dan hati, membayangkan seolah sosok Rasulullah Muhammad SAW hadir di hadapannya. 

"Bayangkan kegembiraan masyarakat Madinah al-Munawarah saat menyambut hijrah Rosululloh. Dengan begitu, hadirin juga akan terbawa ke dimensi yang berbeda. Perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata. Kedekatan dengan Sang Khalik dan kekasih-Nya yang menyebabkan air mata tidak terbendung, mulut ingin berteriak lantang memuji kebesaran Rasulullah Muhammad. Jika sudah seperti itu, maka nur Illahiah akan lebih mudah masuk di dalam hati," lanjutnya.

Selain berbicara musik, malam itu Noval mengupas tentang pentingnya cinta dalam kehidupan. 

Redaktur      : Hamzah Sahal

Kontributor  : Pekik Nursasongko

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Meme Islam, Berita RMI NU Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Persiapkan Muktamar Jatman XII, Panitia Lakukan Koordinasi dengan Instansi di 3 Wilayah

Pekalongan, RMI NU Tegal

Rombongan audiensi panitia Muktamar Jatman XII yang dipimpin Wakil Mudir Aam Jatman Abdul Hadi memohon dukungan sepenuhnya agar kegiatan Muktamar yang ketiga kalinya dilangsungkan di Pekalongan berjalan sukses.

Bahkan untuk suksesnya perhelatan ini, pihak panitia juga melakukan koordinasi dengan instansi di tiga wilayah, yakni Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan dan Batang utamanya kepada Bupati, Walikota, Kapolres, Kodim dan Kemenag.

Persiapkan Muktamar Jatman XII, Panitia Lakukan Koordinasi dengan Instansi di 3 Wilayah (Sumber Gambar : Nu Online)
Persiapkan Muktamar Jatman XII, Panitia Lakukan Koordinasi dengan Instansi di 3 Wilayah (Sumber Gambar : Nu Online)

Persiapkan Muktamar Jatman XII, Panitia Lakukan Koordinasi dengan Instansi di 3 Wilayah

Hal ini dimaksudkan agar acara yang dihadiri tamu tamu utusan dari berbagai daerah, para mursyid tarekat serta delegasi ulama dari luar negeri bisa berlangsung aman dan sukses.

"Muktamar ke-12 telah dipersiapkan dan direncanakan secara matang, bahkan delegasi muktamar diperluas hingga ke mancanegara," ujar Guru Besar UIN Semarang, di Kantor Bupati Pekalongan di Kajen, Senin (04/12).

RMI NU Tegal





Dikatakan, bebebapa isu penting seperti masalah kenegaraan dan kebangsaan telah menjadi agenda pembahasan komisi rekomendasi yang hasilnya disampaikan kepada pemerintah terkait serta delegasi mancanegara.

RMI NU Tegal

Dari data panitia, setiap daerah baik wilayah atau cabang dibatasi pengiriman peserta maksimal 20 peserta yang terdiri dari peserta Jatman, Muslimat Thoriqiyah dan Mahasiswa Ahlith Thariqah An Nahdliyyah (MATAN). 

Meski demikian, tidak menutup kemungkinan peserta akan datang lebih banyak dari kuota yang telah diberikan panitia, sehingga pihak panitia telah mengantisipasi dengan memperbanyak pemondokan peserta yang ditempatkan di rumah rumah penduduk yang tersebar di 8 kecamatan.

(Baca: Bupati Pekalongan Siap Fsilitasi Muktamar XII Jatman)

Pada kesempatan tersebut Bupati Pekalongan H. Asif Kholbihi menyatakan siap memfasilitasi kegiatan akbar Muktamar XII Jamiyyah Ahlih Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (Jatman) yang akan berlangsung di Pekalongan. (Abdul Muiz/Kendi Setiawan).



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ulama, Berita RMI NU Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Cara MI Ma’arif Kenalkan NU pada Anak

Karanganyar, RMI NU Tegal. Dalam rangka mengenalkan tokoh pendiri Nahdlatul Ulama kepada siswa, guru Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif NU Nurul Hikmah Desa Pojok Kecamatan Mojogedang Kab. Karanganyar mengajak siswanya untuk mewarnai foto logo NU dan gambar Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari.

“Dengan mewarnai, kami ingin para siswa MI Ma’arif ini mengetahui pendiri NU, kemudian mengenalnya dan bisa meneladani sikap dan juga sifat tokoh pergerakan islam tersebut secara baik dan benar,” ujar Ririn salah satu guru MI Ma’arif, Sabtu (4/1).

Cara MI Ma’arif Kenalkan NU pada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara MI Ma’arif Kenalkan NU pada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara MI Ma’arif Kenalkan NU pada Anak

Lebih lanjut Ia menuturkan bahwa salah satu mata pelajaran favorit siswa MI adalah kesenian, namun sangat disayangkan jika tiap pertemuan siswa selalu menggambar atau mewarnai pemandangan tanpa memasukkan unsur pengetahuan lain di mata pelajaran favorit mereka itu.

RMI NU Tegal

Sehingga mewarnai merupakan langkah awal, sedangkan langkah selanjutnya yaitu dengan membaca riwayat Kiai Hasyim, dan membuat puisi.” Setelah mewarnai, kami hubungkan dengan materi Bahasa Indonesia yaitu membaca serta menceritakan kembali, baru setelah itu lanjut ke materi membuat puisi berdasarkan gambar,” imbuhnya.

RMI NU Tegal

Mengenai boleh tidaknya mewarnai foto pendiri NU ini, Ririn berpegang dari perkataan Mbah Kiai Muchith Muzadi yang didengar langsung oleh suaminya saat menjadi panitia PKPNU Malang Raya, dimana Mbah Muchith membolehkan bahkan menganjurkan agar siswa dikenalkan tokoh NU salah satunya dengan mewarnai.

Ia berharap dengan pembelajaran ini, tumbuh dalam diri siswa akan sosok figur yang bisa dijadikan teladan. (Ahmad Rosyidi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ahlussunnah, Hikmah, Berita RMI NU Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Membangun Optimisme Indonesia

Oleh Aswab Mahasin

Menurut data, indeks kesejahteraan di Indonesia terlihat berkembang pesat ketika masyarakat Indonesia sedang “bermimpi/berkhayal”. Namun, ini hanya data ala Cak Lontong. Yang hanya bisa dipertanggung jawabkan pada “Republik Dagelan”. Karena itu, mari kita bangun, bangunkan jiwamu, bangunkan badanmu, dan gelorakan semangatmu untuk Indonesia Raya.

Membangun Optimisme Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Membangun Optimisme Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Membangun Optimisme Indonesia

Dalam hal ini, kita tidak akan berbincang mengenai data ekonomi, data kesejahteraan, data apa pun yang menyangkut hal tersebut. Melainkan, sebuah refleksi ringan untuk membangkitkan gairah kita dalam menyongsong masyarakat yang lebih ceria. 

Setiap hari, di berbagai media elektronik ataupun cetak, online maupun offline—kritik tajam terhadap pemerintah selalu ada, tidak satu atau dua. Susah dihindari, hal tersebut pasti ada pada sebuah negara, walaupun sistem kerajaan. Apalagi Indonesia dengan alam demokrasi terbuka, ada dua kubu, koaliasi dan oposisi.

Hal wajar sebenarnya, seperti kecintaan seseorang terhadap pahlawan dan para tokoh Indonesia, tidak sedikit mereka cinta Soekarno, dan tidak sedikit juga dari mereka mengktitik Soekarno, begitupun dengan Hatta, Tjokroaminoto, Soeharto, dan seluruh Mantan Presiden Indonesia. Namun, tidak bisa dipungkiri—yang dicinta dan dibenci adalah sekelompok tokoh yang telah menyumbangkan banyak jasa untuk Indonesia. 

Inilah lucunya Indonesia, selalu bahagia dan terhibur ketika melihat orang saling menjatuhkan, saling menghardik, dan saling ribut. Lantas apa sebenarnya peran positif kita untuk Indonesia? Renungkan saat ini juga.

RMI NU Tegal

Seperti sekarang, ramai-ramai setiap tahun tepatnya disetiap bulan September, Indonesia rutin dihebohkan oleh serangkaian berita mengenai pertentangan sejarah G30S/PKI. Di tahun ini, belum genap September habis, berita mengenai G30S/PKI sudah mewabah di setiap media, apalagi didukung dengan kejadian dramatis di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Saya berbicara ini hanya seklumit saja, sebagai pengantar—bukan kapasitas saya untuk bicara berlebih.

Anehnya, dari setiap golongan, memegang teguh sejarah yang dipahaminya, saya baca diberbagai media, salah satunya media online, ada 6 tafsiran mengenai G30S/PKI, Anda bisa cari sendiri informasinya,saya tidak mau terjebak panjang lebar.

Dalam tulisan ini yang ingin dibangun adalah, Indonesia sudah terlalu lelah dengan intrik-intrik yang tidak mencerahkan. Pekerjaan rumah Indonesia masih seabrek, dari mulai korupsi, kesejahteraan belum merata, keadilan tumpang tindih, toleransi belum berimbang, dan sebagainya. Masalah-masalah tersebut seharusnya yang menjadi concern bangsa ini untuk menatap jauh kedepan.

Sejarah memang penting, namun lebih penting membuat sejarah (berkualitas). Sekarang momen yang tepat menggelorakan api optimisme Indonesia,bertepatan dengan “Tahun Baru 1 Muharram 1439 H” bisa dijadikan sebagai proses perjalanan ke dalam diri bangsa kita, apa yang salah dari bangsa ini? 

RMI NU Tegal

Bagi pemahaman saya, akar masalah dari bangsa kita adalah tipisnya pemahaman kita tentang “nilai”. Nilai sendiri menurut Louis O. Kattsoff ada dua, (1) Nilai Intrinsik, yakni nilai dari sesuatu yang sejak semula sudah bernilai, dan (2) Nilai Instrumental, ialah nilai dari sesuatu karena dapat dipakai sebagai sarana untuk mencapai tujuan sesuatu. 

Indonesia mempunyai sebuah nilai yang asal mula kelahirannya sudah bernilai, seperti Pancasila, Undang-undang Dasar 45, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI. Ke-4 prinsip nilai tersebut dijadikan oleh bangsa kita sebagai pedoman laku kita dalam merajut kualitas bangsa. 

Sudah kita ketahui bersama, Pancasila adalah realisasi dari ide-ide kemanusiaan kita sebagai makhluk spiritual, makhluk sosial, makhluk ekonomi, makhluk politik, dan sejenisnya. Di mana dalam butir-butirnya mengusung Ketuhanan, Kemanusiaan, persatuan, kebijaksanaan, dan keadilan.

Sama sekali tidak ada yang bertentangan, tinggal bagaimana kita menerjemahkan nilai-nilai tersebut dalam tindakan kita. Sayangnya, dari kita semua sering lupa (termasuk saya), kemanusiaan dan kesatuan lebih utama dari apapun, di sinilah manusia akhirnya membelot dari kepatuhannya terhadap hukum yang berlaku. Terlahirlah kebiasaan korupsi, melanggar hak, dan melanggar aturan. 

Kita semua pasti tidak berharap, kalau Indonesia yang kita cintai ini menjadi sebuah negara-bangsa yang remeh-temeh, tidak. Apalagi sampai masuk pada kubangan disintegrasi. Karena itu, optimisme harus kita tularkan, optimisme harus kita bangun, dan optimisme harus kita wariskan kepada anak-cucu kita kelak (pemegang estafet generasi selanjutnya)

Amerika memang super power, apakah warga Amerika lebih bahagia dari warga Indonesia, belum tentu juga. Bill Gates memang kaya, orang terkaya di dunia, dengan kekayaan mungkin 1.000 triliuan kali lipat dari warga kita, namun apakah Bill Gates lebih bahagia 1.000 triliuan kali lipat dari kita, tidak!Tidak selalu itu masalahnya, bukan masalah negara kita yang masih dalam taraf berkembang, atau dengan rakyat yang masih belum maju diberbagai hal. Utamanya adalah optimisme. Kreatifitas akan terlahir dari sikap yang optimis. 

Anda tahu? Janji Allah SWT dalam surat al-Insyirah, pada ayat 5-6, Allah SWT menyatakan dengan tegas, “Makasesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan adakemudahan.” Di sinilah Allah menyuruh setiap manusia berlaku optimis. Karena Allah memberikan pesan kepada manusia, “Janganlah berputus asa dari Rahmat Allah.”

Ini yang harus kita jemput dan harus kita rubah. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Rubahnya Indonesia, tidak hanya ditangan pemerintah, melainkan seluruh elemen masyarakat pun bertanggung jawab atas perubahan Indonesia—kearah lebih baik. 

Membangun optimisme fungsional, salah satu syaratnya adalah menarik semua kepentingan pribadi kita, egoisme kita, dan kerakusan kita. Allah SWT dan Rasul-Nya selalu mengingatkan kita semua, kendalikan hawa nafsu, tarik hawa nafsu, dan jangan mengedepankan hawa nafsu. Nah, hawa nafsu ini harus kita alihkan kepada kemanfaatan yang nyata dan bermakna. 

Pengorbanan kita terhadap diri kita sendiri baru akan bermakna jika kemudian berefek dan berimplikasi pada kepentingan sosial. Melawan dan mengendalikan hawa nafsu dari berbuat jahat/korupsi, baru akan berarti ketika dalam praksisnya tidak berbuat jahat/korupsi. Yang diperlukan sekarang, bagaimana berbagai aksi pengendalian diri kita dimuarakan kepada kemaslahatan bersama, kepentingan bangsa dan masyarakat luas, sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. 

Sebagai contoh, para guru ngaji terus konsisten membimbing anak didiknya untuk berbuat baik, dengan berpegang pada akhlak yang mulia; para kiai merawat dan selalu mengingatkan serta mengontrol santri/jamaahnya untuk terus menebarkan kedamaian; majelis taklim, LSM, lembaga pendidikan, lembaga kemanusiaan terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat dengan memberi penyuluhan, pemberdayaan, pengembangan mental-spiritual, dan sebagainya; lalu pemerintah terus mengupayakan kebijakan-kebijakan yang pro-rakyat dan terus memikirkan dibarengi dengan aksi nyata menanggulangi keresahan-keresahan yang terjadi di masyarakat.  Inilah seklumit contoh untuk menebarkan optimisme kepada Indonesia. 

Kita tidak bisa berpangku tangan hanya diam saja, apalagi dengan berbagai perdebatan-perdebatan yang sejatinya tidak mencirikan kemajuan bangsa. Perspektif kita sekarang harus didudukan pada pemahaman “disini, kini, dan nanti”.

Saya akan menutup tulisan ini dengan kata-kata sejarawan sekaligus pengamat politik Indonesia, yaitu Prof. Salim Said, ada kata-kata menarik dan menggairahkan dalam salah satu acara di stasiun televisi, beliau mengatakan, “Kenapa Indonesia masih jalan ditempat, sedangkan Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Israel maju dan berkembang. Kata beliau, karena ada yang mereka takuti, Taiwan takut sama Cina Daratan, Korea Selatan takut sama Korea Utara, Singapura karena dia mayoritas Tionghoa di tengah lautan melayu, Israel takut karena ditengah lautan Arab, kalau mereka tidak hebat, pasti “dikremus”, sedangkan“Indonesia?” Tuhan pun tidak ditakuti (banyak yang melanggar sumpah jabatan), satu bangsa tidak ada yang ditakuti, susah untuk berkembang. Mari kita renungkan bersama, banyak makna di dalamnya.

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Berita RMI NU Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Sempat Vakum, IPPNU Sukabumi Dibentuk Kembali

Sukabumi, RMI NU Tegal. Setelah beberapa tahun terakhir vakum, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Sukabumi dan Kota Sukabumi akhirnya dibentuk kembali.

Menurut Ketua Pimpinan Wilayah IPPNU Jawa Barat Nunung Nurjanah, kepengurusan PC IPPNU Sukabumi sebenarnya sudah terbentuk sejak lama, hanya saja beberapa tahun belakangan nyaris tak ada aktivitas. “Lalu kepengurusan sebelumnya tidak tersisa satupun, sehingga kepengurusan kembali dibentuk,” ungkap Nunung kepada RMI NU Tegal, Ahad (12/10).

Sempat Vakum, IPPNU Sukabumi Dibentuk Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)
Sempat Vakum, IPPNU Sukabumi Dibentuk Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)

Sempat Vakum, IPPNU Sukabumi Dibentuk Kembali

Nunung mengakui, vakumnya kepengurusan sebelumnya disebabkan kurangnya pembinaan secara intensif oleh Pimpinan Wilayah. Selain itu, PCNU Sukabumi pada saat itu belum berjalan dengan baik dalam membina Badan Otonom (Banom) yang berada di bawahnya.

RMI NU Tegal

Dua kepengurusan cabang IPPNU tersebut terbentuk, Kamis (9/10), di Pondok Pesantren Sunanul Huda, Kabupaten Sukabumi. PW IPPNU Jawa Barat segera menyiapkan surat keputusan (SK) lantas mengadakan pelantikan.

RMI NU Tegal

“Sebetulnya yang terpenting bukanlah pelantikan, tetapi setalah itu yang terpenting adalah gerakannya,” tegasnya di hadapan puluhan perwakilan dari sekolah dan pondok pesantren.

Ia berharap, kepengurusan yang sudah terbentuk bisa berjalan normal seperti cabang-cabang lainnya, serta kuantitas dan kualitas kader juga semakin baik. “Mudah-mudah setelah ini mereka berani untuk mengajak teman-teman lainnya yang ada di sekolah-sekolah dan pesantren-pesantren,” harapnya.

Dari data yang dihimpun oleh RMI NU Tegal, sampai saat ini di bawah PW IPPNU Jawa Barat, tinggal tiga cabang yang belum terbentuk, yakni Kota Depok, Kota Cirebon, dan Kabupaten Pangandaran. (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ahlussunnah, Bahtsul Masail, Berita RMI NU Tegal

Kamis, 23 November 2017

Ini Saran Delegasi Isomil dari Rusia untuk NU dan Indonesia

Jakarta, RMI NU Tegal

Peserta International Summit of the Moderate Islamic Leaders (Isomil) dari delegasi Rusia Rinat Bultacheef mengaku belum sepenuhnya mengetahui Indonesia sampai ia mendapatkan undangan untuk menghadiri pertemuan pemimpin moderat dunia tersebut.

Ini Saran Delegasi Isomil dari Rusia untuk NU dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Saran Delegasi Isomil dari Rusia untuk NU dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Saran Delegasi Isomil dari Rusia untuk NU dan Indonesia

“Begitu dapat undangan Isomil, saya langsung mencari tahu Indonesia itu seperti apa. Dan saya baru tahu kalau Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia,” kata Rinat kepada RMI NU Tegal di JCC Senayan Jakarta, Selasa, (10/5).

Namun demikian, ia mengaku senang karena sudah diundang untuk mengahdiri acara internasional ini. “Isomil perlu menjadi contoh bagi negara-negara muslim lainnya karena di situ dibahas permasalahan-permasalahan dunia Islam dan solusinya,” ungkap laki-laki lulusan Al-Azhar Kairo jurusan Hubungan Internasional tersebut.

Rinat berharap bahwa salah satu hal yang harus diperhatikan oleh Indonesia dan Nahdlatul Ulama yang merupakan bangsa dan organisasi Islam terbesar di dunia dan negara dengan penduduk muslim terbesar adalah persoalan ekonomi.

“Harapannya, karena ini umat Islam terbesar di dunia, masalah ekonomi juga perlu diperhatikan,” tegasnya. 

RMI NU Tegal

Ia mencontohkan bahwa sebagaimana Rusia yang tidak mengimpor barang-barang dari Eropa dan Amerika karena memiliki produk-produknya sendiri, ia berharap Indonesia juga akan bisa melakukan hal yang sama. 

Lebih lanjut, ia menceritakan bahwa Islam berkembang dengan baik di negara tempat kelahiran Stalin tersebut. “Tempat-tempat ibadah yang dulu diambil oleh negara dan kemudian dijadikan tempat wisata atau museum, sekarang (tempat-tempat ibadah tersebut) sudah dikembalikan fungsinya sebagai tempat ibadah,” cerita Rinat.

“Karena bangunan kan itu didirikan untuk ibadah, bukan untuk wisata,” lanjutnya.

RMI NU Tegal

Rinat mengatakan bahwa salah satu perkembangan Islam di Rusia yang menggembirakan adalah masalah haji, ada sekitar dua puluh enam ribu umat Islam setiap tahunnya dari seluruh Rusia yang menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

“Sebelumnya dikasih pembekalan-pembekalan sebelum keberangkatan ke Mekkah. Dan sekarang haji sudah diatur oleh negara masuk di bawah kementerian pertanahan,” tandasnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pesantren, Berita RMI NU Tegal

Senin, 20 November 2017

Tanda-tanda Pembukaan Jelang Persalinan

Sidoarjo, RMI NU Tegal

Menjelang persalinan merupakan detik-detik yang menegangkan bagi ibu hamil. Proses persalinan tersebut memang kerap membuat cemas, terutama bila sudah memasuki pembukaan jalan lahir. Pembukaan saat persalinan menjadi patokan kapan sang bayi akan lahir. Tentu hal itu yang akan dijadikan acuan kapan kelahiran akan terjadi.?

Tanda-tanda Pembukaan Jelang Persalinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanda-tanda Pembukaan Jelang Persalinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanda-tanda Pembukaan Jelang Persalinan

Dokter spesialis kandungan RSI Siti Hajar Sidoarjo, dr Raz Fides Umi menerangkan, tanda-tanda pembukaan jelang persalinan yaitu sering terjadi kontraksi. Kontraksi-kontraksi yang makin lama makin kuat.

"Jika bidan atau dokter memeriksa cervix (leher rahim) ibu yang akan melahirkan, maka akan diketahui perubahan pada servik. Pembukaan dan pengelupasan yang lambat mungkin terjadi selama fase ini, namun itu masih normal. Fase pembukaan itu sendiri adalah fase dimulainya proses persalinan yang biasanya ditandai dengan kontraksi rahim yang sudah intermitten (berselang) dan continue, pengeluaran lendir darah dan adanya pembukaan dari mulut rahim," terang Umi, Senin (29/2).

Ada dua fase yang akan terjadi pada tahap bukaan yang akan dilalui oleh ibu. Fase pertama yaitu, fase laten yang akan berlangsung selama 8 jam. Pada fase laten, pembukaan terjadi sangat lambat sampai mencapai ukuran diameter 0 hingga 3 cm, dan his/mengejan masih lemah dan jarang. Biasanya akan merasakan kontraksi lemah yang berlangsung selaama 30 detik sampai 2 menit. Tapi sakitnya akan menghilang setelah itu. Jarak antara kontraksi bisa antara 10-30 menit, kontraksi akan semakin kuat dengan berjalannya waktu.

Fase kedua yaitu fase aktif. Fase ini terjadi pembukaan 4 cm sampai pembukaan 10 cm. Jika kontraksi dirasa semakin kuat dan teratur, durasi kontraksi juga semakin meningkat.

RMI NU Tegal

"Untuk wanita yang baru merasakan kehamilan pertama kali, hal itu akan terjadi selama kurang lebih 12 hingga 14 jam. Dengan pembukaan sekitar 1,2 cm per jamnya. Berbeda dengan kehamilan berikutnya, pada masa pembukaan ini akan terjadi 1,5 cm dan berlangsung kurang lebih 6 hingga 10 jam lamanya," paparnya.

Umi menambahkan, perbedaan yang paling bermakna, ketika pembukaan 1 dengan yang lain adalah semakin kontraksi itu sering durasinya semakin lama. Biasanya, pembukaan sudah semakin lebar. Dan seorang ibu akan merasakan kram di perut yang mirip dengan kram saat awal menstruasi. Nyeri bagian pinggang belakang, bisa juga kembung, mual, pusing dan keluar lender darah.

"Hal yang harus dipersiapkan saat kondisi ibu hamil yakni keluarga harus siaga. Sebaiknya seorang ibu harus tinggal di rumah untuk menghitung waktu kontraksi hingga kontraksi 5 menit sekali, kecuali air ketuban sudah pecah, maka ibu harus segera dibawa ke rumah sakit," pungkasnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Hadits, Santri, Berita RMI NU Tegal

Minggu, 19 November 2017

Menpora dan Ketum PBNU Bakal Buka Munas Ke-2 KMNU

Bandung, RMI NU Tegal. Musyawarah Nasional (Munas) Ke-2 Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) akan diselenggarakan di Kota Bandung pada 22 hingga 24 Januari 2016 mendatang. Munas KMNU pada tahun ini mengusung tema “Bersama KMNU Membangun Indonesia”.

Menteri Pemuda dan Olahraga RI Imam Nahrawi dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dijadwalkan akan menghadiri dan membuka Munas KMNU di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kota bandung pada Jum’at, 22 Januari 2016. Keduanya juga bakal menjadi pembicara dalam seminar nasional bertajuk “Optimalisasi Peran Mahasiswa Santri untuk Akselerasi Pembangunan Bangsa” yang menjadi bagian dari rangkaian Pembukaan Munas Ke-2 KMNU.

Menpora dan Ketum PBNU Bakal Buka Munas Ke-2 KMNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora dan Ketum PBNU Bakal Buka Munas Ke-2 KMNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora dan Ketum PBNU Bakal Buka Munas Ke-2 KMNU

Pembukaan Munas KMNU ini juga akan dihadiri dari jajaran Pemprov Jawa Barat dan Pemkot Bandung, di samping para simpatisan KMNU dari berbagai kampus dan masyarakat secara umum.

RMI NU Tegal

Usai pembukaan di kampus UPI, Munas KMNU akan dilaksanakan di Gedung PWNU Jawa Barat dan Pondok Pesantren Nurul Huda Ciembeluit. Hadir sebagai peserta Munas KMNU adalah semua pengurus nasional KMNU dan perwakilan dari dua belas (12) KMNU Perguruan Tinggi se-Indonesia dan Malaysia, serta empat 4 perguruan tinggi yang akan mendirikan KMNU di kampusnya.

Ketua Panitia Munas KMNU Fendi Imam Fatoni mengatakan, agenda Munas di antaranya untuk melengkapi perangkat organisasi KMNU dan program kerja KMNU pada periode selanjutnya.

RMI NU Tegal

“Termasuk nanti juga dibahas laporan pertanggungjawaban Presnas KMNU selama setahun terakhir dan membahas metode kaderisasi untuk mahasiswa Nahdlatul Ulama di tingkat perguruan tinggi serta agenda pemilihan dan penetapan Presidium Nasional KMNU periode mendatang,” kata Imam Fatoni. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ubudiyah, Berita RMI NU Tegal

Minggu, 05 November 2017

Jelaskan Makna Tanggal Kemerdekaan, Mbah Moen: Indonesia Bangsa Terpilih

Rembang, RMI NU Tegal. Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair dalam sebuah acara pengajian, Kamis (14/4) malam di Desa Gandrirojo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah mengungkapkan, bangsa Indonesia adalah benar-benar bangsa yang terpilih. Tidak ada dipermukaan bumi orang Islam terbanyak seperti Indonesia. Sampai Allah memperingatkan kemerdekaan Indonesia dengan angka 17, 8, dan 45.

Jelaskan Makna Tanggal Kemerdekaan, Mbah Moen: Indonesia Bangsa Terpilih (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelaskan Makna Tanggal Kemerdekaan, Mbah Moen: Indonesia Bangsa Terpilih (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelaskan Makna Tanggal Kemerdekaan, Mbah Moen: Indonesia Bangsa Terpilih

Dalam kesempatan tersebut Mbah Moen sapaan akrabnya menjelaskan terkait rangkaian angka 17, 8, dan 45. "Ini angka sembahyang, sembahyang angka yang harus diketahui yaitu tujuh belas, delapan, dan empat lima. Kalau tidak tahu ini tidak sah shalatnya," terangnya.

Ia juga mengatakan, bahwa dalam lambang garuda pancasila terdapat dua sayap dengan jumlah bulu 17 di kanan, dan 17 disebelah kiri. Ia menjelaskan lambang angka 17 ini merupakan jumlah rukunnya shalat. Yakni, niat, takbiratul ihram, berdiri, membaca al-fatihah, rukuk, thumakninah dalam rukuk, iktidal (berdiri bangun dari rukuk), thumakninah dalam iktidal, sujud dua kali, thumakninah dalam sujud, duduk diantara dua sujud, thunakninah dalam duduk diantara dua sujud, membaca tasyahud akhir.

"Kemudian duduk (ketika membaca) tasyahud akhir, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dalam duduk tasyahud akhir, (membaca) salam, tertib (mengerjakan secara berurutan)," tambah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Kabupaten Rembang tersebut.

Tujuh belas yang kedua, lanjut Mbah Moen, merupakan jumlah rakaat shalat sehari-semalam. Yakni Mahgrib tiga rakaat, Isya empat rakaat, Subuh dua rakaat, Dzuhur empat rakaat, dan Ashar empat rakaat.

RMI NU Tegal

Sedangkan angka delapan menjelaskan sebagai tolaknya neraka dan sebabnya masuk surga. Lebih lanjut ia mengatakan tentang tujuh anggota sujud, meliputi, jidat, kedua tangan, kedua lutut, dan kedua kaki. "Tujuh ini sebagai penolak neraka, karena pintu neraka ada tujuh," ujarnya.

"Ditambah satu lagi, jika kita ingin masuk surga harus ingat sama Allah. Jadi jumlahnya genap delapan, karena delapan ini merupakan jumlah pintu surga," terang kiai yang kini berusia 91 tahun tersebut.

Terakhir ia menjelaskan tentang angka empat lima, bahwa setiap orang Islam harus membaca syahadat empat kali, dan lima kali. Malam empat kali, Maghrib dan Isya. Sedangkan siang hari lima kali, Subuh, Dzuhur, dan Ashar. "Jadi ini menunjukkan bahwa negara Islam itu tidak ada, yang ada adalah negara mayoritas Islam, yakni Indonesia," tutupnya. (Aan Ainun Najib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Berita, Nusantara RMI NU Tegal

Selasa, 31 Oktober 2017

Gus Mus: Dakwah itu Mengajak, Bukan Memusuhi

Rembang, RMI NU Tegal. Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Mustofa Bisri atau Gus Mus menyampaikan, maksud dari dakwah adalah mengajak, bukan memarahi apalagi memusuhi.

“Banyak yang tidak tahu dan salah menerapkan ayat Quran dalam berdakwah. Perintah dakwah itu ayatnya Ud’u ila sabili robbika bilhikmati wamauidzotil hasanah (Ajaklah kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan tutur yang baik) bukan menggunakan dalil Amar ma’ruf nahi munkar,” tutur KH Mustofa Bisri (Gus Mus)

Gus Mus: Dakwah itu Mengajak, Bukan Memusuhi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Dakwah itu Mengajak, Bukan Memusuhi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Dakwah itu Mengajak, Bukan Memusuhi

Kepada peserta Silaturahmi Nasional Web Admin & IT Developer Aswaja, Ahad (22/12) kemarin Pondok Pesantren Roudlatut Tholibin Rembang. Akhir-akhir ini, dakwah sering dikacaukan dengan amar maruf nahi munkar.

RMI NU Tegal

Padahal dari segi bahasa saja kedua terma itu sudah berbeda. Dakwah itu mengajak, sementara amar itu perintah nahi itu melarang. Dakwah itu mengajak kepada orang yang untuk berada di jalan Allah.

Hal tersebut disampaikan Gus Mus untuk meluruskan beberapa kesalahpahaman beberapa kalangan Islam. “Banyak orang yang hanya belajar ngaji di Google tapi merasa paling benar sendiri,” lanjut Gus Mus.

RMI NU Tegal

Sementara itu Katib PBNU KH Yahya Cholil Tsaquf dalam pembekalan kepada peserta Silatnas juga berpesan akan perlunya dakwah dengan membangun basis yang kokoh dan berjejaring dalam membangun peradaban baru sebagai strategi pilihannya sebagaimana berjejaringnya kesultanan Islam nusantara pada masa lalu.

Di penghujung acara Hari Usmayadi selaku ketua PPM Aswaja menyampaikan apresiasinya kepada seluruh peserta terutama buat teman peserta dari Balikpapan dan NTB yang menunjukkan semangat kesepahaman dan kesamaan tujuan dalam berdakwah Islam di internet (Mukhlisin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal AlaNu, Nahdlatul, Berita RMI NU Tegal

Rabu, 25 Oktober 2017

Pidato Rais Aam Gunakan Fasilitas Teleconference

Jakarta, RMI NU Tegal

Pidato Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sahal Mahfudz pada puncak peringatan Hari Lahir ke-82 NU akan menggunakan fasilitas teleconference (pembicaraan jarak jauh).

Menurut rencana, ada enam pengurus wilayah NU yang dapat mengikuti secara langsung acara yang digelar di Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 3 Februari mendatang itu. Keempat PWNU itu, antara lain, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat.

Pidato Rais Aam Gunakan Fasilitas Teleconference (Sumber Gambar : Nu Online)
Pidato Rais Aam Gunakan Fasilitas Teleconference (Sumber Gambar : Nu Online)

Pidato Rais Aam Gunakan Fasilitas Teleconference

“Masing-masing PWNU akan membuat acara yang menghadirkan massa NU di stadion provinsi masing-masing. Dengan teleconference ini, warga NU di sejumlah ibu kota provinsi lain bisa mengikuti dan mendengarkan pidato dari Rais Aam,” ujar Sekretaris Panitia Pelaksana Harlah ke-82 NU, Anas Taher, beberapa waktu lalu.

RMI NU Tegal

Melalui fasilitas teleceonference itu pula akan digelar dialog interaktif antara Presiden dengan warga Nahdliyin (sebutan untuk warga NU) di masing-masing provinsi. “Misalnya, PWNU Jatim bisa menceritakan tentang kondisi warga NU kepada Presiden,” kata Anas.

Selain itu, pihak panitia juga sedang mengusahakan adanya siaran langsung puncak peringatan harlah tersebut sehingga bisa disaksikan warga Nahdliyin di seluruh Indonesia.

RMI NU Tegal

Diikuti Ratusan Ribu Massa

Tak tanggung-tanggung. Diperkirakan, sebanyak 300 ribu warga Nahdliyin akan memenuhi stadion kebanggaan bangsa Indonesia itu. Mereka datang dari wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Selain itu, pada hajatan akbar yang bakal dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu, akan ditampilkan pula beragam acara lain, seperti, atraksi spektakuler para pendekar Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa, parade marching band dari Tarakanita dan Pondok Pesantren Darunnajah. Pun, manuver terjung payung hingga konser dangdut Soneta Group pimpinan Raja Dangdut Rhoma Irama. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Berita, Sholawat, Lomba RMI NU Tegal

Sabtu, 21 Oktober 2017

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA

Bandung, RMI NU Tegal 



Saat memasuki waktu Shalat Maghrib hari ini, Ahad (29/10), di stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, akan lain dari biasanya. Di stadion, azan akan berkumandang, kemudian para penonton, pemain sepak bola Liga Santri Nusantara akan shalat berjamaah.  

Menurut Ketua RMINU KH Abdul Ghofarrozin, shalat berjamaah itu memang direncanakan sejak jauh-jauh hari pada partai puncak atau grand final Liga Santri Nusantara. Hal ini untuk menunjukkan bahwa pesepak-pesepak bola asal pesantren tidak meninggalkan kewajiban pokok ketika berkecimpung di dunia olahraga.  

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Grand Final, Penonton dan Pemaian Liga Santri Shalat Berjamaah di GBLA

“Kita akan shalat berjamaah terlebih dahulu sebelum bermain sepak bola dan menontonnya,” katanya di Media Center Liga Santri Nusantara, Bandung.  

Sekretaris RMINU Habib Soleh, diperkirakan warga yang akan mengikuti shalat berjamaah itu sekitar 20-25 ribu orang. Bagi penonton yang belum memiliki wudlu, panitia LSN bekerja sama dengan PDAM menyediakannya di luar lapangan. 

Partai final Liga Santri Nusantara mempertemukan kesebelasan Darul Huda Ponorogo (Jawa Timur) dan Darul Hikmah Cirebon, Jawa Barat. Mereka akan bertanding pada pukul 19.00. (Abdullah Alawi)

RMI NU Tegal

 

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Berita, Fragmen, Warta RMI NU Tegal

Jumat, 13 Oktober 2017

Santri Qothrotul Falah Luncurkan Buku Perdananya

Lebak, RMI NU Tegal. Santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur, Lebak, Banten yang tergabung dalam Halqah Santri Triple Ing Community (Triping.Com) meluncurkan buku perdananya, Selasa (13/5), di Masjid Agung al-A’raf Rangkasbitung, Lebak.

Hadir sebagai peserta, antara lain, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah, KH. Achmad Syatibi Hambali, unsur Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Lebak, unsur kepala SMP/MTs/SMA/MA Kab. Lebak, OKP, perwakilan pesantren, para santri, pelajar dan sebagainya.

Santri Qothrotul Falah Luncurkan Buku Perdananya (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Qothrotul Falah Luncurkan Buku Perdananya (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Qothrotul Falah Luncurkan Buku Perdananya

Buku bunga rampai yang diberi judul Renungan Santri: Esai-esai Seputar Problematika Remaja ini ditulis oleh 14 santri Kelas XI dan XII SMA Qothrotul Falah. Buku yang diterbitkan pada April 2014 ini menjadi produk kedua Pustaka Qi Falah, setelah sebelumnya pada 2013 diterbitkan buku Konsultasi Maya: 40 Tanya Jawab Agama karya Pimpinan Pondok Pesantren Qothrotul Falah.

RMI NU Tegal

Dalam sambutannya, pihak penerbit Pustaka Qi Falah menyatakan, pada masa kini pesantren melebarkan sayap dakwahnya. “Jika selama ini pesantren hanya berdakwah melalui mimbar, kini harus mulai melebarkan sayap dengan berdakwah melalui lembar dan layar. Lembar maksudnya dengan membuat karya buku dan layar melalui film,” jelas Pemimpin Pustaka Qi Falah, Nurul H. Maarif.

RMI NU Tegal

Hal sama disampaikan Pimpinan Pesantren Qothrotul Falah, KH. Achmad Syatibi Hambali. Menurutnya, santri-santri harus memiliki kemampuan yang baik dalam bidang tulis-menulis. “Saya memang nggak bisa menulis. Tapi anak-anak saya, para santri, tentu saja tidak boleh seperti saya. Mereka harus pandai menulis, sehingga ilmunya bisa tersebar lebih luas lagi,” ujarnya.

Di dalam buku ini, para santri belia ini mencoba memotret realitas sosial yang terjadi di kalangan mereka sendiri. “Persoalan utama yang menjadi sorotan adalah perilaku negatif di kalangan remaja,” ujar M. Eman Sulaeman, santri yang menulis artikel Hantu Narkoba.

Misalnya, mereka mencoba menyoroti perilaku berpacaran secara bebas, berbusana yang tidak sesuai kaidah agama, perilaku konsumtif narkoba, penurunan relijiusitas, kekerasan atau tawuran, merokok, dan sebagainya. “Ini fakta yang ada. Insya Allah kami tidak hanya mengritisi persoalan itu, namun mencoba mencari solusinya,” ujar Hayatun Nufus, santri yang menulis artikel Penurunan Relijiusitas Remaja.

Kehadiran buku ini diharapkan akan menjadi pemicu bagi kreatifitas santri khususnya dan remaja umumnya untuk lebih giat lagi dalam belajar dan menulis. Masa remaja adalah masa yang terlalu sayang untuk disia-siakan begitu saja. “Saya rela kesempatan hura-hura di masa muda saya hilang untuk tujuan meraih masa depan yang terbaik,” ujar Cahyati, santri yang menulis artikel Mendekati Ilahi Melalui Seni.

Inilah sedikit sumbangsih aktivis Tripleng Ing Community (Triping.Com) untuk rekan-rekan remajanya. Triple Ing itu sendiri kependekan dari reading, writing dan speaking. “Ini forum kecil yang anggotanya diwajibkan untuk membaca, menulis dan berbicara. Tentu saja dengan keuletan ilmiah dan referensi yang memadai,” jelas Pembina Triple Ing Communitu, Nurul H. Maarif.

“Melalui forum ini, kami ingin membibit santri yang intelek dalam arti sesungguhnya,” sambungnya. (Nurul Huda/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Berita, RMI NU RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock