Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

Safari Ramadhan, NU Depok Kunjungi Sebelas Kecamatan

Depok, RMI NU Tegal - Memasuki bulan suci Ramadan 1437 H, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Depok akan menggelar kegiatan Ramadhan yang tersebar di sebelas kecamatan di Depok. Keliling ini dilakukan dalam rangka membina warga NU dalam bidang keagamaan.

"Pengurus PCNU akan berkunjung ke kecamatan di mushalla atau masjid. Rangkaiannya dimulai dengan berbuka puasa, shalat tarawih bersama dan dilanjutkan dengan taushiyah dari para kiai NU," kata Rais Syuriyah NU Kota Depok KH Zainudin Maksum Ali.

Safari Ramadhan, NU Depok Kunjungi Sebelas Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Safari Ramadhan, NU Depok Kunjungi Sebelas Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Safari Ramadhan, NU Depok Kunjungi Sebelas Kecamatan

Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kota Depok H Chaerul Anwar mengatakan, pihaknya akan menyelenggarakan kegiatan Safari Ramadhan dimulai sejak Kamis-Selasa (9-28/6) di sebelas kecamatan di Depok.

Menurutnya, langkah tersebut sangat positif mengingat sambutan dari masyarakat cukup antusias. Ia menambahkan, dalam Safari Ramadhan tersebut pihaknya juga sedikit memberikan bantuan kepada masjid dan marbot.

RMI NU Tegal

"Kita turun ke bawah sambil berdakwah di bulan suci Ramadhan. Ini juga bagian dari mencari keberkahan dan meramaikan masjid di bulan puasa," katanya.

RMI NU Tegal

Menurutnya, dalam taushiyah nantinya para penceramah dari para mustasyar dan kiai NU. Mengenai materi, lanjutnya, pastinya juga berisi seputar keutamaan di bulan Ramadhan. Ia menambahkan, upaya ini juga bagian dari langkah konsolidasi organisasi dan pembinaan umat.

"Tentunya, dalam materi nanti juga menyebarkan tentang ajaran dan amalan di bulan Ramadhan sesuai dengan Ahlussunnah wal Jamaah. Masyarakat butuh penyegaran rohani dan ini bagian dari tugas kami dalam memberikan pelayanan pada umat," harapnya. (Aan Humaidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Humor Islam, Lomba RMI NU Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Festival Pramuka

Tegal, RMI NU Tegal. Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon, Hubbul Wathon minal Iman, Wala Takun minal Hirman, Inhadlu Alal Wathon. Demikian penggalan lirik lagu Syubbanul Wathon yang menggema di arena Festival Pramuka 2017 dalam rangka HUT Ke-416 Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (5/5) di Taman Rakyat Slawi (Trasa).

Lagu yang dibawakan grup Hadroh Pramuka Pondok Pesantren MA Mahadut Tholabah Babakan Lebaksiu, Tegal itu mampu memukau para pengunjung yang memadati Taman Rakyat Slawi.

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Festival Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Festival Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Festival Pramuka

Selain, Syubbanul Wathon, beberapa lagu religi juga dibawakan yakni Sholawat Nabi dan Ya Rosululloh. "Mereka sudah terbiasa berlatih, baik di pesantren maupun di Madrasah," ujar Pembina MA Mahadut Tholabah Babakan, Dani Zakaria

Sekretaris Daerah Pemkab Tegal, dokter Widodo Joko Mulyono yang hadir tampak terpukau dengan ? penampilan Hadroh Pramuka.?

RMI NU Tegal

"Saya apresiasi Festival Pramuka ini, ada hadroh Pramuka. Ini menunjukan Pramuka juga bisa, tidak hanya berkemah saja," ungkapnya

Dia yang juga Ketua Kwarcab Pramuka Tegal berharap, Festival Pramuka menjadi tradisi setiap tahun pada setiap HUT Kabupaten Tegal yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan.?

"Gelaran ini juga sebagai alat untuk mencapai tujuan Gerakan Pramuka yaitu membentuk manusia yang berkarakter, berkepribadian, berwatak dan berbudi pekerti luhur sebagai warga negara Republik Indonesia yang berjiwa Pancasila," tutur?

Ketua DKC Tegal, Septi Kusuma Putri selaku koordinator acara menambahkan, selain Hadroh Pramuka, ajang Festival Pramuka juga dimeriahkan serangkaian penampilan yakni Tari Mayong, Kreasi Kolone Tongkat, Deklamasi Puisi dan Senam MOP, Simulasi Bencana oleh Ubaloka Tegal, Tari Papua dan Demo Cuci Tangan. (Hasan/Fathoni)

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Humor Islam, Kiai RMI NU Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Sambut Idul Fitri, Muslimat NU Probolinggo Gelar Pasar Murah

Probolinggo, RMI NU Tegal. Dalam rangka memenuhi kebutuhan di bulan suci Ramadhan sekaligus menyambut Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo bersinergi dengan PT Astra, Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Sosial (Kemensos) RI menggelar Pasar Murah 2017, Kamis (22/6).

Kegiatan yang dipusatkan di halaman Kantor PCNU Kabupaten Probolinggo di Desa Warujinggo Kecamatan Leces ini menyediakan barang-barang ? paket sembako yang merupakan salah satu kebutuhan ibu-ibu di bulan suci Ramadhan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri 1438 H.

Sambut Idul Fitri, Muslimat NU Probolinggo Gelar Pasar Murah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Idul Fitri, Muslimat NU Probolinggo Gelar Pasar Murah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Idul Fitri, Muslimat NU Probolinggo Gelar Pasar Murah

Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Nurhayati menyampaikan bahwa setiap akhir bulan suci Ramadhan dan menyambut Hari Raya Idul Fitri 1438 H, kebutuhan masyarakat meningkat tajam. Hanya saja, pemenuhan kebutuhan tersebut tidak seimbang dengan kondisi keuangan masyarakat. Oleh karena itu perlu terobosan agar masyarakat bisa memperoleh barang yang dibutuhkan dengan harga terjangkau.

“Demi memenuhi kebutuhan masyarakat yang beragam, Muslimat NU Kabupaten Probolinggo bergerak cepat mencari terobosan kerja sama dengan pihak ketiga yang turut serta peduli terhadap kebutuhan masyarakat menjelang lebaran. Akhirnya digagaslah Pasar Murah kerja sama dengan PT Astra, Kemendag dan Kemensos,” katanya.

Menurut Hj. Nurhayati, pasar murah ini bertujuan untuk menyediakan barang-barang kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat dari kalangan menengah ke bawah. Sebab biasanya dengan kebutuhan yang mendesak dan barang yang langka, harganya akan melonjak tinggi dan mahal.

RMI NU Tegal

“Tentunya hal ini menjadi permasalahan yang serius bagi masyarakat yang memang kesulitan keuangan menyambut Lebaran. Dengan harga yang terjangkau dan barang berkualitas, harapan kami bisa membantu masyarakat mendapatkan barang yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

RMI NU Tegal

Dalam Pasar Murah ini, paket sembako disediakan dengan harga Rp 50 ribu. Padahal harga normalnya mencapai Rp 115 ribu. Tak ayal hal ini langsung diserbu oleh masyarakat utusan dari Muslimat NU masing-masing kecamatan.

“Untuk pendistribusian paket sembako dalam pasar murah ini, kami menyebarkan sedikitnya 500 kupon yang nantinya bisa ditukarkan dengan 500 paket bingkisan. Kupon ini bisa dibeli dengan harga Rp 50 ribu yang dapat ditukarkan dengan paket sembako yang biasanya seharga Rp 115 ribu,” tegasnya.

Hj. Nurhayati mengaku sangat bangga karena dengan Pasar Murah ini Muslimat NU Kabupaten Probolinggo bisa berbagi rasa kebahagiaan dan kesetiakawanan sosial tanpa harus membedakan-bedakan.

“Kembali lagi, karena tujuan awal kami adalah untuk berbagai kebahagiaan sekaligus beban mereka dalam memenuhi kebutuhan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1438 H. Semoga kita bisa bertemu kembali di Ramadhan tahun yang akan datang dalam keadaan sehat wal’afiat,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Humor Islam RMI NU Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Gus Rozin: Moralitas Awal Kemajuan Olahraga di Indonesia

Trenggalek, RMI NU Tegal



Direktur Liga Santri Nusantara KH Abdul Ghaffar Rozin menilai, penyelenggaran Liga Santri Nusantara (LSN) tahun ketiga ini berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan semakin profesionalnya panitia nasional dan regional dalam menggawangi pelaksanaan kompetisi melalui berbagai perbaikan peraturan.

Gus Rozin: Moralitas Awal Kemajuan Olahraga di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Rozin: Moralitas Awal Kemajuan Olahraga di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Rozin: Moralitas Awal Kemajuan Olahraga di Indonesia

Ketua PP RMI-NU itu menyatakan bila prinsip profesional dan fair play benar-benar diterapkan, maka bukan tidak mungkin Liga Santri dapat lebih banyak menelurkan bibit-bibit pesepakbola yang handal yang bisa mengharumkan nama indonesia dalam kancah persepakbolaan Nasional dan Internasional.?

"Persepakbolaan nasional benar-benar menunggu hasil dari Liga Santri Nusantara ini," ucap kiai akrab disapa Gus Rozin itu saat memberikan sambutan pada pembukaan LSN Jawa Timur 1 di stadion Menak Sopal, Trenggalek, Ahad sore (17/9).

Gus Rozin mengatakan, kompetisi tahun ini berbeda dengan kompetisi tahun sebelumnya. Liga Santri Nusantara tahun ini diikuti 34 Region se-Indonesia dengan jumlah 1.024 pondok pesantren dari seluruh Nusantara. LSN membatasi usia peserta maksimal 17 tahun.?

"Satu hal yang ingin kami sampaikan adalah Liga Santri tahun 2017 ini para pesertanya harus murni dari santri. Tidak boleh ada pemain bon-bonan. Tidak boleh ada pencurian umur dan tidak boleh ada kecurangan-kecurangan yang menodai ahlakul karimah dan menodai sportivitas yang kita junjung bersama," tegasnya.

RMI NU Tegal

Gus Rozin pun berharap, panitia Liga Santri ? bisa bertindak tegas kepada club-club pesantren yang terindikasi berlaku tidak jujur dengan memasukkan pemain dari luar pesantren.?

RMI NU Tegal

"Karena tujuan Liga Santri ini adalah untuk mencari kader terbaik dari sisi moralitas, dari sisi spiritual. Skille bisa dibangun, tapi moralitas itu harus dimulai sejak dari awal. Moralitas adalah dasar dari kemajuan olahraga di republik ini, termasuk juga sepakbola," tandasnya.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) H Imam Nahrowi membuka Kick Off Liga Santri Nusantara (LSN) region Jawa Timur 1 dan Piala Bupati Trenggalek di Stadion Menak Sopal, Trenggalek, Ahad (17/9) sore.

Didampingi Ketua PP RMI KH Abdul Ghaffar Rozin, Koordinator Nasional Gerakan Ayo Mondok KH Luqman Harits, Ketua PCNU KH Fatchullah, dan Bupati Trenggalek Emil Elistianto Dardak, Menpora melakukan tendangan pertama dari tengah lapangan.

Liga Santri Nusantara region Jawa Timur 1 dilaksanakan di Trenggalek dari tanggal 17-22 September 2017 diikuti 32 klub pesantren dari dua Karesidenan, Kediri dan Madiun. Kompetisi ini menggunakan sistem pertandingan setengah kompetisi. Dimana 32 tim dibagi ke dalam delapan grup. Satu grup berisi empat tim, dan tiap tim akan bertanding tiga kali. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Doa, Pemurnian Aqidah, Humor Islam RMI NU Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Upaya KPK Berantas DI/TII

Sejarah mencatat, ada sejumlah kelompok yang tidak menyetujui berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pasca resmi dideklarasikan pada 17 Agustus 1945. Gerakan subversif mereka lakukan, makar dan kudeta terhadap pemerintahan RI yang didukung mayoritas rakyat Indonesia menjadi tujuan.

Kelompok-kelompok tersebut adalah Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) prakarsa Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Partai Komunis Indonesia (PKI) yang saat itu digerakkan oleh Dipo Nusantara Aidit, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang didirikan oleh Letkol Achmad Husein, Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) yang dimotori oleh Lektol Venjte Sumual, Kolonel D.J. Somba, dan Mayor Eddy Gagola.

Sekilas dilihat, upaya bughot (memberontak) sebagian besar dimotori oleh tentara yang sudah merasa tidak sejalan dengan visi pemerintahan yang ada dengan kecenderungan politik kekuasaaan yang tinggi. Di beberapa literatur sejarah menyebutkan, proklamasi kemerdekaan RI dibarengi gerakan hijrah pasukan, baik dari tentara nasional, Hizbullah dan Sabilillah dari kawasan jajahan Belanda ke kawasan RI.

Upaya KPK Berantas DI/TII (Sumber Gambar : Nu Online)
Upaya KPK Berantas DI/TII (Sumber Gambar : Nu Online)

Upaya KPK Berantas DI/TII

Gerakan pembersihan dalam bentuk hijrah tersebut menyisakan beberapa tentara. Sisa-sisa laskar tentara tersebut selanjutnya diorganisir secara perorangan, misal di Jawa Barat oleh Kartosoewirjo untuk melakukan perlawanan terakhir.

Dijelaskan oleh Abdul Mun’im DZ dalam Runtuhnya Gerakan Subversif di Indonesia (2014), sejumlah tentara yang tertinggal di Jawa Barat tersebut diorganisir kemudian dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII). 

Setelah itu mereka merancang Negara Islam Indonesia (NII) yang kemudian pada 10 Februari 1948 dan pada 25 Agustus 1948 dikeluarkan maklumat Pemerintah Islam Indonesia yang menandai berdirinya Negara Islam menggantikan Republik Indonesia yang dianggap kafir dan komunis. 

RMI NU Tegal

Kondisi keamanan nasional seketika kacau apalagi PKI merespon DI/TII yang menganggap bahwa Indonesia merupakan negara komunis dengan menggelorakan perlawanan dengan mengadakan pemberontakan di Madiun pada 18 September 1948. Jika DI/TII ingin mendirikan Negara Islam, PKI berupaya menegakkan Negara Soviet Indonesia.

RMI NU Tegal

Penghianatan yang dilakukan oleh DI/TII dan PKI ini mendorong NU sebagai satu-satunya organisasi yang loyal terhadap NKRI untuk segera mengangkat Soekarno sebagai waliyyul amri yang sah sehingga diharapkan bisa menyingkirkan semua yang memberontak dan memusuhi negara.

Sikap NU dan pesantren yan tegas terhadap aksi pemberontakan menyebabkan mereka dimusuhi oleh DI/TII. Beberapa perangkat dakwah NU menjadi sasaran teror. Pesantren, masjid, madrasah NU dibakar, bahkan beberapa kiai diculik dan harta benda dirampas dengan tidak berperikemanusiaan. Bahkan salah satu kiai NU, KH Idham Chalid menjadi sasaran pembunuhan.

Pembentukan KPK

Terhadap gerakan-gerakan subversif ini, para kiai tidak tinggal diam begitu saja. Mereka tidak mau bangsa dan negara yang telah dibangun atas dasar konsensus (kesepakatan) kebangsaan menjadi hancur hanya karena kepentingan kelompok tertentu yang a historis. Aksi gerombolan DI/TII bukannya menguntungkan umat Islam tetapi malah menimbulkan malah petaka bagi Muslim itu sendiri. Tidak sedikit umat Islam yang menjadi korban kekejaman DI/TII.

Gerakan DI/TII yang sudah melampui batas kemanusiaan dan konsensus bersama negara berdasarkan Pancasila membutuhkan pemikiran, bantuan, dan partisipasi aktif dari para kiai. Dalam memoarnya (2008), KH Idham Chalid yang saat itu menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri II dan Kepala Badan Keamanan membentuk badan yang diberi nama Kiai-kiai Pembantu Keamanan (KPK).

Kiai di dalam badan disebut KPK ini utamanya untuk merespon anggapan DI/TII yang menganggap bahwa negara ini adalah Republik Indonesia Kafir (RIK). Namun, sejumlah laskar yang memang lahir dari rahim NU seperti Hizbullah dan Sabilillah turut membantu mengantisipasi pemberontakan DI/TII maupun yang dilakukan oleh PKI kala itu.

KPK terdiri dari sejumlah kiai dari beberapa provinsi yang di daerahnya ada gerombolan DI/TII. KH Idham Chalid menunjuk KH Muslich sebagai Ketua KPK. Umumnya, setiap provinsi hanya menunjuk satu orang kiai dalam mengkoordinir gerakan KPK. Kecuali provinsi yang sudah pada kondisi gawat seperti Jawa Barat. Di tanah Priangan ini, diangkat dua orang kiai.

Anggota KPK di Jawa Barat adalah KH Dimyati (Ciparai) dan Moh. Marsid. Untuk Jawa Tengah dipimpin oleh KH Malik, kiai terkemuka asal Demak. Di Jawa Timur ada KH Raden As’ad Syamsul Arifin Situbondo.

Adapun di Kalimantan KPK dimotori oleh KH Ahmad Sanusi, Lampung digerakkan oleh KH Zahri, Sumatera Selatan dipimpin oleh ulama terkemuka di Sumsel dan Rais Syuriyah NU Bengkulu KH Jusuf Umar, Sumatera Tengah KH Kahar Ma’ruf, Sumatera Utara dan Aceh Tengku Mohammad Ali Panglima Pulen (pernah menjadi Ketua PWNU Aceh dan Anggota MPRS, dan di Sulawesi KH Abdullah Joesoef.

Dari badan yang dibentuk oleh KH Idham Chalis tersebut, semua kiai sepakat bahwa DI/TII adalah kelompok pemberontak yang mengganggu keamanan bangsa dan negara secara nasional sehingga perlu dilawan. Apalagi mereka sudah terbukti memakan korban manusia yang tidak sedikit.

Para kiai di dalam KPK menyatakan, penilaian dan anggapan DI/TII yang menyebut Indonesia sebagai Republik Indonesia Kafir (RIK) tidaklah benar. Karena berdasarkan konsensus bersama, seluruh warga negara bebas menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Sebab itu sebagai negara kesatuan, tidak sepatutnya seorang atau kelompok menginginkan bentuk negara lain yang tidak sesuai dengan kemajemukan bangsa Indonesia. (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Quote, Warta, Humor Islam RMI NU Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Alissa Wahid: Tantangan NU Berbeda Tiap Zaman

Jakarta, RMI NU Tegal. Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Qotrunnada mengatakan, Nahdlatul Ulama memiliki tantangan yang tak selalu sama. Arah perjuangan NU berbeda-beda di setiap zaman, sejak era awal kemerdekaan, Orde Baru, hingga pascareformasi.

Alissa Wahid: Tantangan NU Berbeda Tiap Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Alissa Wahid: Tantangan NU Berbeda Tiap Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Alissa Wahid: Tantangan NU Berbeda Tiap Zaman

Pada awal-awal setelah Proklamasi Kemerdekaan, NU melakukan tanggung jawab mengisi kemerdekaan Tanah Air dan mempertahankannya. Sementara pada masa Orde Baru, NU bersama KH Abdurraman Wahid (Gus Dur) berjuang melawan penindasan rezim penguasa.

“Nah, tantangan NU zaman sekarang adalah bagaimana NU bersikap ketika dunia bingung tentang wajah Islam yang sebenarnya,” imbuh putri sulung Gus Dur ini pada peringatan Maulid Nabi dan Haul Ke-6 Gus Dur di gedung PBNU, Jakarta, Rabu (30/12).

RMI NU Tegal

Menurut Alissa Wahid, demikian ia biasa disapa, dunia saat ini membutuhkan NU untuk membuktikan bahwa Islam tak identik dengan kekerasan dan terorisme, melainkan Islam yang mengusung semangat rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam).

RMI NU Tegal

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang turut hadir dalam kesempatan itu mengatakan, NU sejak awal memahami keberagaman Indonesia sebagai kenyataan yang tak bisa dihindari. Melalui spirit? cinta tanah air yang sudah dirintis para pendiri, NU berkomitmen menampilkan wajah Islam yang ramah.

“Islam di Nusantara sangat berbeda dengan Islam di Timur Tengah yang perang terus. Islam Nusantara adalah Islam yang harmonis dengan kebhinnekaan, harmonis dengan kebudayaan,” tuturnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Humor Islam RMI NU Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Istighosah di SMP 23 Penuh Airmata

Malang, RMI NU Tegal. Menjelang Ujian Ahir Nasional siswa-siswi SMP 23 Bluring Malang, gelar Istighosah bersama untuk membersihkan hati dan menjernihkan pikiran, di dalam masjid sekolah, Selasa (05/02).

Suasana haru melingkupi masjid sekolah tersebut kala Ustad Shamsul Hadi Mahfudz memimpin Istighosah yang dilanjutkan dengan wejangan motivasi.

Istighosah di SMP 23 Penuh Airmata (Sumber Gambar : Nu Online)
Istighosah di SMP 23 Penuh Airmata (Sumber Gambar : Nu Online)

Istighosah di SMP 23 Penuh Airmata

Koordinator ahli thariqoh al-Mu’tabaroh an Nahdhiyah itu tak henti-hentinya menyerukan untuk selalu mengedepankan akhlak sebagai kunci kesuksesan generasi bangsa. 

RMI NU Tegal

Menurutnya, akhlak dengan menghormati kepada yang lebih tua terutama ibu dan guru adalah langkah awal untuk memudahkan banyak hal, jika siswa sekarang kebingungan dan dipenuhi rasa takut lantaran ujian sudah dekat, maka minta maaf dan sungkem kepada ibu dan guru akan meringankan semuanya, 

RMI NU Tegal

“Tapi tidak melepas aktivitas belajar” ungkap alumnus pesantren Sidogiri tersebut.

Gus Syamsul mengatakan, sekarang banyak sekali ribuan sarjana yang justru banyak melakukan tindak korupsi, kolusi dan nepotisme, itu semual lantaran tidak di bekali akhlak yang matang serta ilmu-ilmu keagamaan, “Salah satunya dengan istighosah ini, mediasi untuk membersihkan diri dan mendekatkan diri pada Tuhan” ujarnya.

Dengan Istighosah kita mengharap dosa yang menghalang-halangi doa kitasegera diampuni, “Karena Tuhan tidak pernah menolak doa kita” tegasnya.

Setelah Istighosah dan suntikan spiritual, tampak sejumlah siswa-siswai yang di barengi oleh orang tuanya berderai airmata saling meminta maaf terhadap sesama dan guru-guru yang juga ikut serta dalam acara Istighosah yang bertajuk “Ikhtiyar menuju sukses ujian tahun 2013”.

Kontributor: Diana Manzila

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Budaya, Humor Islam, Khutbah RMI NU Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Pelatihan Basis, Kuatkan Ideologi PMII

Jepara, RMI NU Tegal. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Sultan Hadlirin Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara mempunyai cara untuk menguatkan kader-kadernya dengan Pelatihan Basis.

Kegiatan yang diikuti 40 peserta dilaksanakan di Gedung NU lantai 2, Jalan Pemuda 51 Jepara, Jum’at-Ahad (27/2-1/3). Puluhan peserta itu hadir dari Jepara, Pati, Cilacap, Kebumen, Purbalingga, Banyuwangi dan Surabaya.

Pelatihan Basis, Kuatkan Ideologi PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan Basis, Kuatkan Ideologi PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan Basis, Kuatkan Ideologi PMII

Selama pelatihan peserta mendapat materi Analisis Diri, Historis PMII dan Geologi Gerakan, Aswaja, Paradigma Gerakan, Islam Teologi Pembebasan, Feminisme, Studi Dasar Demokrasi, Kapitalisme, Developmentalisme, Teologi Pendidikan Kritis, Teori Dialektika, Pemikiran Madzhab Frankfrut, Teori Hegemoni dan Teori Kritik Sosial.

RMI NU Tegal

Ketua panitia Ardian Saiful Adnan mengatakan kegiatan yang bertajuk “Optimalisasi Gerakan PMII Melalui Basis Wacana” itu bertujuan untuk menguatkan basis ideologi dan wacana kader PMII.

RMI NU Tegal

Ainul Mahfudz, Ketua PMII Cabang Jepara menambahkan dirinya prihatin dengan krisis wacana dan ideologi kader. “Sehingga kegiatan ini sangat penting untuk penguatan ideologi aswaja serta wacana,” terangnya.

Ia berharap dengan kegiatan tersebut bermanfaat untuk organisasi, pribadi masing-masing dan wacana serta ideologi kader semakin berkualitas. (Syaiful Mustaqim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kyai, Humor Islam, Lomba RMI NU Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

LTMNU Kraksaan Beri Penilaian terhadap Masjid NU

Probolinggo, RMI NU Tegal - Dalam rangka menilai keberadaan masjid NU dan takmirnya, Pengurus Cabang Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo menggelar lomba masjid NU, Sabtu (2/4). Penilaian terhadap lomba masjid NU ini digelar di 14 masjid NU di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se-PCNU Kota Kraksaan.

Penilaian lomba masjid NU ini dilaksanakan di Masjid Besar Raudotut Thohirin Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo. Penilaian ini dihadiri oleh Ketua MWCNU Paiton Moh Barzan, Forkopimka Paiton, Kepala KUA Paiton, tokoh agama dan tokoh masyarakat.

LTMNU Kraksaan Beri Penilaian terhadap Masjid NU (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Kraksaan Beri Penilaian terhadap Masjid NU (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Kraksaan Beri Penilaian terhadap Masjid NU

Ketua LTMNU Kota Kraksaan H Didik Abdul Rohim mengatakan, lomba masjid NU ini bertujuan untuk menjaga, mempertahankan, dan menguatkan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Selain itu sebagai motivasi dalam ketakmiran serta meningkatkan keimanan dalam menjadikan masjid penuh dengan keamanan dan kenyamanan. Di samping sebagai tempat ibadah, masjid juga merupakan sarana interaksi sosial masyarakat,” katanya.

RMI NU Tegal

Menurut Didik, lomba masjid NU ini diambil masjid terbaik di masing-masing MWCNU. “Penilaian difokuskan dalam implementasi di bidang idaroh (manajemen), imaroh (kemakmuran) dan ri’ayah (perawatan) oleh beberapa dewan juri,” jelasnya.

RMI NU Tegal

Melalui penilaian ini Didik mengharapkan nanti masjid NU ini bisa menjadi masjid yang berfaham Ahlussunnah wal Jamah (Aswaja) An-nahdliyah tetap lestari di bumi Republik Indonesia.

“Di samping itu meningkatkan kinerja para takmir yang profesional dan? porposional dalam bidang idaroh, imaroh dan ri’ayah, semua masjid bersyi’ar dengan kemakmurannya (aktivis kegiatannya) serta menyempurnakan para jamaah dalam beribadah baik dari segi keamanan maupun kenyamanan,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal AlaSantri, Humor Islam, Kajian RMI NU Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Haul Gus Dur Digelar 30 Desember

Jakarta, RMI NU Tegal. Peringatan setahun hari wafatnya (haul) yang pertama mantan Ketua Umum PBNU dan mantan Presiden Ri ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akan digelar pada Kamis malam, 30 Desember 2010 di kediamannya di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Dalam haul ini kata putri Gus Dur, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny), di Kalibata, Jakarta, Ahad (28/11), selain akan dihadiri oleh Wakil Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj dan para kiai NU yang lain, juga ada tokoh-tokoh nasional yang mendukung perjuangan Gus Dur selama ini.

Haul Gus Dur Digelar 30 Desember (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Gus Dur Digelar 30 Desember (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Gus Dur Digelar 30 Desember

Selain khataman Al-Quran, istighotsah, tahlilan pada haul tersebut juga akan ada sambutan dari kiai-kiai NU dan tokoh nasional yang hadir tersebut. Gus Dur wafat pada hari Rabu (30/12) pukul 18.45 Wib di RSCM Jakarta. Setelah disemayamkan di Ciganjur, deklarator dan pendiri PKB itu dimakamkan secara militer di Pesantren Tebuireng Jombang, Jatim.

RMI NU Tegal

Sementara itu menurut adik kandung Gus Dur, KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah), keluarga Tebuireng akan menggelar haul pada 18 Desember.  Dalam acara tersebut sejumlah tokoh nasional akan hadir. Seperti Ketua MK M. Mahfud MD dll juga akan menggelar Festival Barongsai di pesantren.

RMI NU Tegal

Namun demikian kata Gus Sholah yang juga mantan Ketua PBNU ini, acara haul Gus Dur ini akan digelar secara sederhana. Terlebih, acara itu juga terbuka bagi seluruh masyarakat. "Seluruh rakyat bisa datang dalam haul itu,"tutur Gus Sholah lagi.(amf)Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Humor Islam, Kajian Islam, Pondok Pesantren RMI NU Tegal

Senin, 20 November 2017

Pelajar NU Banda Aceh Perkuat Ke-Aswajaan di Kalangan Pelajar

Banda Aceh, RMI NU Tegal - Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU dan IPPNU) Kota Banda Aceh menggelar Training Spiritual Leadership? dan Latihan Kepemimpinan Muda (Lakmud), Sabtu (31/12). Penguatan ke-Aswajaan NU ini diadakan selama sehari di Aula Museum UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Ketua IPNU Ridwan Idy mengatakan, Training Spiritual Leadership dan Latihan Kader Muda IPNU dan IPPNU Banda Aceh bertujuan untuk menanam aqidah bagi kader muda NU agar sesuai dengan pengamalan ajaran Islam yang sebenarnya, Ahlussunah wal Jamaah.

Pelajar NU Banda Aceh Perkuat Ke-Aswajaan di Kalangan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Banda Aceh Perkuat Ke-Aswajaan di Kalangan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Banda Aceh Perkuat Ke-Aswajaan di Kalangan Pelajar

Sekretaris PWNU Aceh Ustadz Asnawi M Amin pada pertemuan ini mengatakan, "IPNU dan IPPNU di Aceh tidak begitu terkenal. Berbeda dengan IPNU dan IPPNU di Pulau Jawa. Kalau di Pulau Jawa, gerakan pelajar NU lebih aktif sampai ke tingkat sekolah-sekolah," ujarnya.

RMI NU Tegal

Pendidikan ini diisi oleh tiga pemateri yaitu Ustadz Asnawi M Amin, Ustadz Umar Rafsanjani, dan Afdhal Khalilullah Mukhlis. (Ketua KNPI Kota Banda Aceh). (Fauzan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Humor Islam RMI NU Tegal

RMI NU Tegal

Rabu, 15 November 2017

Sejuta Al-Ikhlas untuk Gus Dur

Jakarta, RMI NU Tegal. Ribuan jamaah serempak membaca surat Al-Ikhlas dipimpin KH Tolhah Hasan di kediaman almghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jalan Warungsila, Ciganjur, Jakarta Selatan, pada Sabtu malam (28/12).

Sejuta Al-Ikhlas untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejuta Al-Ikhlas untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejuta Al-Ikhlas untuk Gus Dur

Bacaan yang dipimpin salah seorang Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu merupakan kesejuta surat Al-Ikhlas untuk Ketua Umum PBNU periode 1984-1999. Bacaan kesejuta pun itu dilakukan ribuan jamaah.

“Al-Ikhlas untuk Gus Dur itu sudah dilakukan seminggu sebelumnya di berbagai pesantren di Jawa Timur,” kata Maftuhan, salah seorang santri Pesantren Ciganjur.

RMI NU Tegal

Terus pada pagi, Sabtu, (29/12) mulai pukul 09.00 ratusan jamaah membaca kembali surat Al-Ikhlas di Pondok Pesantren Ciganjur. Bacaan dilakukan berbagai kalangan, dari Pesantren Ciganjur, Padepokan Sunan Kalijaga, Pesantren Sokotunggal, para Gusdurian, mahasiswa dan mahasiswi PTIQ. “Bacaan tersebut dilakukan sampai ashar sebelum doa lintas agama,” tambah Maftuhan.

Menurut Maftuhan, dasar pembacaan Al-Ikhlas itu diriwayatkan dalam kitab Tafsir Showi juz 4, Barangsiapa yang membaca surat Al-Ikhlas seratus ribu kali maka dia terbebas dari hak Allah dan hak adami. “Ini tidak hanya seratus ribu, tapi sejuta,” katanya.

RMI NU Tegal

Sementara itu, menurut salah seorang putri Gus Dur, Yenny Wahid, ikhlas adalah pribadi ayahnya. Saat ini, menurut dia, kita butuh kembali memperkokoh nilai-nilai keikhlasan yang dulu sangat jelas dicontohkan para pendiri bangsa ini.

“Mengangkat tema keikhlasan berharap mendorong gerakan untuk berbuat ikhlas demi perbaikan bangsa ini,” ujarnya. ?

Hadir pada malam puncak Haul Gue Dur sejumlah kiai dan tokoh nasional, di antaranya KH Said Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU), KH Hasyim Muzadi (Rais Syuriyah PBNU), KH Masdar F. Mas’udi (Rais Syuriyah PBNU) KH Malik Madani (Katib Rais Aam PBNU), KH Aziz Masyhuri, KH Said Husein Munawar. Hadir pula pada kesempatan itu para budayawan, tokoh politik, agamawan lintas agama, akademisi, dll. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan, Humor Islam RMI NU Tegal

Sabtu, 28 Oktober 2017

LGBT: Lagi Gak Butuh Tuhan

Purworejo, RMI NU Tegal?

Lagi Gak Butuh Tuhan (LGBT) itulah tema mentereng dan provokatif, yang dijadikan bahan diskusi Wolulasan: Jamaah Maiyah Purworejo, Jumat, 26 Februari 2016 di Sekretariat IPNU Jl Sibak No 18 Purworejo, Jawa Tengah. Setelah Al-Qur’an dibacakan dan puluhan peserta berkumpul, diskusi dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.?

LGBT: Lagi Gak Butuh Tuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
LGBT: Lagi Gak Butuh Tuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

LGBT: Lagi Gak Butuh Tuhan

LGBT kini menjadi sebuah isu yang sedang marak diperbincangkan. Namun tujuan membahasnya bukanlah untuk latah menanggapi keadaan, atau dalam filsafat Jawa yaitu ojo kagetan, ojo gumunan!: jangan mudah kaget dan kagum). Lebih dari itu, Maiyah mencoba mencari ilmu dari gejala dan kejadian. Seperti salah satu prinsip Maiyah itu sendiri: Jangan sampai ada suatu peristiwa pun berlalu tanpa diambil ilmunya, hikmahnya. Tidak mencari siapa yang benar, tapi apa yang benar.

Pembahasan dimulai dengan mencari definisi masing-masing singkatan dari L.G.B.T. Maklum, banyak peserta yang masih asing dengan istilah itu: L adalah Lesbian, yaitu wanita yang memiliki orientasi seksual dengan sesama wanita. G adalah gay, yaitu pria yang memiliki orientasi seksual dengan sesama pria. B adalah biseks, yaitu orang (entah lelaki atau wanita) yang memiliki orientasi seks dengan kedua-duanya (lelaki dan wanita). Adapun transgender adalah ketidaksamaan identitas gender seseorang terhadap jenis kelamin yang ditunjuk kepada dirinya.

Anjar Duta Pamungkas, salah satu penggiat Maiyah Purworejo, mengaku pernah meneliti kasus ini di lapangan beberapa tahun silam. Dan pada faktanya, memang LGBT sebenarnya sudah lama di Indonesia, bahkan banyak variannya.

"Lesbian saja, ada empat varian. Pertama, Butchy: sosok maskulin dengan ciri-ciri berpenampilan layaknya seorang cowok. Di dunia lesbian, butchy alias buci berperan sebagai cowok dalam sebuah hubungan. Kedua, Femme: Sosok feminis dengan ciri-ciri berpenampilan layaknya seorang cewek. Di dunia lesbian, femme berperan sebagai cewek dalam sebuah hubungan. Ketiga, Andro : Sosok yang bisa dua-duanya. Di varian label andro ini masih dibagi menjadi dua kelompok lagi. Ada Andro Butchy (AB) dan Andro Femme (AF). Kalau? andro femme (AF) biasanya berpenampilan tomboy tapi tetap terlihat girly (hatinya masih femme dan berperan sebagai femme). Beda sama andro butchy (AB) AB biasanya berpenampilan seperti butchy tapi masih ada sifat ceweknya dan berperan sebagai butchy (setengah butchy). Keempat, tanpa label: Sosok yang tidak mau diberi label (femme, butchy, andro)," jelas Anjar panjang lebar.

RMI NU Tegal

?

RMI NU Tegal

Ustaz Mufid dan Firdaus menjelaskan hokum LGBT. Keduanya menegaskan ketidakbolehan perilaku LGBT dengan menyuplik kisah Nabi Luth. Imam Nawawi, dalam Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftiyyin juga secara eksplisit menghukuminya.

"Pemasukan vagina ke vagina, termasuk juga di dalamnya homoseksual pria (liwath) adalah bagian dari perbuatan keji dan dosa besar."

Kemudian, terkait beberapa kalangan Islam sendiri yang mendukung LGBT dengan mengatakan bahwa kalau Allah SWT menghukum kaum Nabi Luth karena hubungan sesama-jenisnya, mengapa Allah SWT tidak mendatangkan bencana kepada Belanda, Amerika dan negara-negara yang melegalkan homoseks? Menjawab pertanyaan ini, Firdaus mengatakan, umat Nabi Muhammad SAW beda dengan umat nabi terdahulu.?

"Kalau sebelum Nabi Muhammad SAW, jika ada penyelewengan syariat, Allah SWT langsung mengazabnya. Namun tidak pada umat Nabi Muhammad SAW, Allah begitu merahmatinya. Jika tidak di hari kemudian, kelak di akhirat," ungkapnya.

Ustadz Mufid dalam kesempatan itu menjelaskan, "Salah satu fitrah manusia itu hanya bercumbu dengan istrinya. Jadi, kalau ada orang yang berhubungan seksual dengan yang bukan haknya, itu namanya sudah menyalahi fitrah!" ungkapnya.?

Kemudian, pembahasan menuju label yang dipakai dibalik para aktivis LGBT yaitu Hak Asasi Manusia (HAM). Konsep HAM ? pertama kali diperkenalkan oleh filsuf Inggris pada abad ke-17, John Locke, yang merumuskan adanya hak alamiah (natural rights) yang melekat pada setiap diri manusia, yaitu hak atas hidup, hak kebebasan, dan hak milik. Pada waktu itu, hak masih terbatas pada bidang sipil (pribadi) dan politik.?

"HAM sekarang dipakai orang untuk berbuat sekehedak dirinya sendiri. Padahal, orang lain, juga memiliki hak. Hak seseorang dibatasi oleh orang lain. Soal penindasan dan pendiskriminasian memang dengan alasan apapun tidak dibenarkan. Namun, LGBT yang menurut para ahli psikologi dan fitrah manusia jelas-jelas menyimpang, tidak perlu dilegalkan, justru harus dibina,” sahut salah seorang peserta.?

Meskipun begitu, ia buru-buru menambahkan, adalah suatu kesalahan memusuhi, mendiskriminasi, dan mencemooh pelaku LGBT. “Itu tidak dibenarkan. Mereka tetap sama-sama makhluk Tuhan yang perlu diarahkan jika berbuat kesalahan!!!" katanya dengan berapi-api.?

Salah seorang peserta menambahkan, "Apa saja yang dari Barat, seyogynya perlu difilter, karena tidak semua yang dari sana itu baik. Indonesia bukan Belanda, Inggris, atau Amerika. Kita punya tujuan yang beda, kultur yang berbeda dan jalan yang beda pula." imbuhnya.

Para peserta berkesimpulan, orang-orang yang sudah menghilangkan Tuhan dalam kehidupan ini, seakan-akan: Lagi Gak Butuh Tuhan. "Tuhan sudah mati", kata Nietzsche. Dan penggalan kalimat itu, tidak boleh ditanggapi secara harfiah, seperti dalam "Tuhan kini secara fisik sudah mati". Sebaliknya, itulah cara Nietzsche untuk mengatakan bahwa gagasan tentang Tuhan tidak lagi mampu untuk berperan sebagai sumber dari semua aturan moral atau teologi, atau manusia sudah tidak butuh lagi dengan Tuhan. Uang, kekuasaan dan logika atau rasionalitas menjelma menjadi berhala modern. Mereka berdalih mengabdi kepada kemanusiaan. Aturan agama sudah tidak dianggap relevan. Padahal, sejatinya, tidak ada Hak Asasi Manusia, adanya Hak Asasi Tuhan.?

Namun, pelegalan LGBT adalah suatu hal yang tidak bisa dibenarkan. Seorang dokter yang mengatakan: "Anda itu sakit, dan perlu diobati", bukan berarti menghina. Dengan ini, seperti sikap resmi PBNU, negara perlu menyiapkan rehabilitasi bagi pelaku LGBT dan masyarakat tak perlu mengucilkannya. Selain itu, banyak virus LGBT-LGBT dalam wajah lain yang menjangkiti masyarakat Indonesia, perlu untuk segera introspeksi diri. (Ahmad Naufa/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Humor Islam, Sejarah RMI NU Tegal

Rabu, 25 Oktober 2017

Surat Sakti Gus Dur

Saya pernah enam kali minta tanda tangan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tanda tangan itu menjelma “surat sakti” untuk pengajuan beasiswa “lepas” di berbagai lembaga atau organisasi internasional.

Saya merasakannya ketika mengajukan beasiswa? The Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO) yang bermarkas di Rabat, Maroko, The Muslim World League (MWL) yang bermarkas di Makkah, Saudi Arabia, World Assembly of Muslim Youth (WAMY) yang bermarkas di Riyadh, Saudi Arabia, dan lembaga-lembaga lainnya.

Alhamdulillah, melalui “surat sakti”nya, saya bisa kuliah strata satu di Universitas Al-Qurawiyin Maroko (2003). Sekarang, tahun terakhir penyelesaian program doktor di universitas yang sama.? ?

Surat Sakti Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Surat Sakti Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Surat Sakti Gus Dur

***

RMI NU Tegal

Saya yang anak kampung dengan mudahnya mendapatkan tanda tangan Gus Dur. Padahal dia mantan presiden. Dari mana saya mendapatkan tanda tangan Gus Dur?

RMI NU Tegal

Ayah saya kenal Gus Dur saat belajar ngaji di Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang. Keakraban keduany terus terbina hingga sama-sama dewasa, meskipun ayah saya hanya putra “kiai kampung” , sedangkan Gus Dur putra Menteri agama, cucu pendiri NU. Namun hal itu bagi Gus Dur bukanlah masalah.

Saya berkesimpulan Gus Dur bukanlah orang yang pilah-pilih dalam berteman. Ketika didaulat menjadi Ketua PBNU, sikap Gus Dur tidak berubah cara bersahabatnya dengan ayah saya. Setiap ayah berkunjung ke Jakarta, tidak ada gejala ia dibedakan dengan temannya yang lain.

Begitu juga ketika Gus Dur menjadi presiden. Gus Dur tetaplah Gus Dur. Ia masih sering menelpon ayah, dan bebrapa kali mengundang ayah ke istana presiden. Keduanya hanya sekadar untuk ngobrol ala pesantren. Dan ayah saya pun memenuhi undangannya, cukup mengenakan sarung dan sandal, identiknya orang pesantren.

Dan yang terpenting adalah, bahwa Gus Dur tidak pernah membeda-bedakan siapapun tamu yang datang. Ketika saya bertamu kepadanya dan megajukan beasiswa, Gus Dur tidak pernah bertanya, mau di bawa ke lembaga mana tanda tangan saya? Tetapi beliau hanya bertanya, untuk keperluan apa tanda tangan saya? Ketika dijawab untuk mencari beasiswa, beliau langsung bilang, “Iya”.

Dan saya pun mendadak menulis surat yang dibutuhkan dalam bahasa Arab dengan mengggunakan kop pribadi Gus Dur, (Nama Abdurrahman Wahid tinta kuning dan alamat Kantor PBNU tinta hitam). Maka wajar pula dalam surat yang saya tulis terdapat beberapa kesalahan secara nahwu dan sorof, karena ditulis secara mendadak dan terburu-buru. Apalagi waktu itu ia mau keluar ruangan. Dan saya salutnya, ia ikhlas menunggu surat selesai ditulis dan ditandatanganinya.

Gus Dur, kini, engkau sudah empat tahun pergi menghadap Allah. Insya Allah saya selalu mendoakan kebaikan untukmu, untuk kenikmatanmu di sisi yang Maha kuasa. Meskipun doaku hanyalah “secuil” dari lautan doa bangsa Indonesia, dengan ragam suku-etnis dan agamanya. Bagi saya, belum ada orang mampu menggantikan rendah hatimu dengan semua manusia.

Terima kasih Gus Dur, dengan didukung “surat sakti”, kini saya, anak desa hampir menyelesaikan pendidikan program doktor di universitas tertua di dunia yang berdiri pada tahun 859 M ini, dengan biaya murni beasiswa, dengan tidak merepotkan keluarga di kampung.

Saya yakin, hal ini termasuk amal jariah, yang pahalanya akan terus mengalir sepanjang masa untukmu, apalagi nanti jika ilmu yang saya dapatkan, diajarkan kepada masyarakat luas. (Nasrulloh Afandi)

*Nasrulloh Afandi, Pesantren Asy-Syafi’iyyah, Kedungwungu, Krangkeng Indramayu, Jawa Barat

Kandidat Doktor Maqoshid Syariah, Universitas Al-Qurawiyin, Maroko.

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan, Humor Islam, News RMI NU Tegal

Jumat, 13 Oktober 2017

Kebijakan Ekonomi Pemerintah Belum Berpihak ke Rakyat Kecil

Jakarta, RMI NU Tegal. Sekretaris Jenderal PBNU H Marsudi Syuhud menyampaikan kritik atas kebijakan ekonomi yang dijalankan Pemerintah. Disusun dan dijalankan di era reformasi, dalam praktiknya kebijakan perekonomian masih jauh dari perwujudan cita-citanya, yaitu menyejahterakan masyarakat secara adil dan merata.

Kebijakan Ekonomi Pemerintah Belum Berpihak ke Rakyat Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebijakan Ekonomi Pemerintah Belum Berpihak ke Rakyat Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebijakan Ekonomi Pemerintah Belum Berpihak ke Rakyat Kecil

“Di era reformasi saat ini, supremasi hukum belum tegak, dan korupsi masih belum bisa diberangus secara maksimal. Ini yang mengakibatkan cita-cita mewujudkan masyarakat yang sejahtera dengan adil dan merata belum bisa tercapai,” ungkap Marsudi dalam desertasinya, saat sidang terbuka promosi gelar doktor bidang ekonomi di Universitas Trisakti, Jakarta, Selasa (11/3/2014). Desertasi Marsudi berjudul ‘Kebijakan Ekonomi Indonesia di Era Reformasi dalam Perspektif Islam’.

Marsudi juga mengatakan, umat Islam sebagai penduduk mayoritas di Indonesia telah sepakat dengan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dengan dasar Pancasila dan UUD 1945. NKRI adalah sarana untuk memakmurkan bangsa Indonesia melalui kebijakan pemerintahnya.?

RMI NU Tegal

“Islam mengajarkan, kebijakan pemimpin (Pemerintah) terhadap rakyatnya harus terkait dengan kemaslahatan mereka. Tapi nyatanya kebijakan ekonomi di era reformasi belum mampu mewujudkan cita-cita reformasi itu sendiri. Indonesia memerlukan alternatif model kebijakan ekonomi Indonesia yang lebih berpihak kepada mustad’afiin, sebagaimana dalam ajaran Islam,” lanjutnya.

RMI NU Tegal

Untuk bisa memberikan rekomendasi penyelesaian masalah perekonomian tersebut, Marsudi melakukan riset dengan mengangkat lima pertanyaan simpul menggunakan tiga metode berbeda, yaitu Analisis Kebijakan Willian Dunn (2003), dan metode Tauhidy String Relation (TSR) yang terkonfirmasi (ijma’) dengan metode Thariqah Istidlaliyah Nahdlatul Ulama (TISNU).

Dari riset yang dilakukannya Marsudi menyimpulkan dua hal. Pertama, kebijakan ekonomi Pemerintah yang visi, misi, dan tujuannya terlihat baik di perencanaan, dalam implementasinya masih jauh dari cita-cita yang ditetapkan. Kedua, kebijakan ekonomi Pemerintah mestinya tidak hanya memakai teori ekonomi konvensional yang faktanya sampai saat ini belum bisa menjawab tuntutan reformasi. Teori kebijakan ekonomi Islam dipandang lebih sesuai dengan UUD 1945.

“Pemerintah harus melakukan kebijakan ekonomi yang berkeadilan, pemerataan dan berkemakmuran bersama antara yang kecil dan besar, antara korporat dan UMKM, ? tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi ? tapi juga pemerataan. Sesukses apapun kebijakan ekonomi diterapkan, tidak bisa disebut berhasil jika tidak merata dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia,” tegas Marsudi dalam sarannya.

Dari disertasi yang disampaikannya tersebut, salah seorang penguji menanyakan penyebabnya, dan Marsudi menjawab akibat perundang-undangan yang dilahirkan dalam penerapannya tidak memihak kepada rakyat kecil. Beberapa undang-undang tersebut antaranya lain tentang Mineral dan Pertambangan.

“Adanya sejumlah undang-undang yang tidak berpihak ke rakyat tersebut, kami saat ini sedang akan mengajukan judicial riview,” pungkas Marsudi yang diakhir sidang mendapatkan nilai sangat memuaskan. (Samsul Hadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Hikmah, Humor Islam RMI NU Tegal

Sabtu, 09 September 2017

NU dan Nasionalisme Baru

Oleh Syaiful Arif

Sebagai organisasi yang lekat dengan komitmen kebangsaan, Nahdlatul Ulama (NU) tak lepas membawa spirit ini, salah satunya tersirat pada Muktamar ke-33 di Jombang, Jawa Timur Agustus 2015 lalu. Pertanyaannya, seberapa kontekstual spirit tersebut menghadapi absurditas politik di negeri yang tak juga lepas dari kesemuan demokrasi?

Di manakah spirit kebangsaan pada Muktamar ke-33 NU kemarin? Tentu dalam koherensi logis dari tema muktamar: Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia. Nilai kebangsaan menjadi koherensi dari corak kultural Islam Nusantara. Bagaimana penjelasannya?

Mark Woodward dalam Java, Indonesia and Islam menemukan koherensi ini, dalam keterkaitan antara "Islam kebudayaan" dan "Islam kebangsaan". Koherensi ini ia temukan dalam hubungan antara pribumisasi budaya dan kontekstualisasi politik. Artinya, pribumisasi Islam ke dalam budaya menjadi conditio sine qua non bagi kontekstualisasi Islam ke dalam sistem politik modern (Woodward, 2011:67).

NU dan Nasionalisme Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Nasionalisme Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Nasionalisme Baru

Islam Nusantara, yang merupakan realitas historis-kultural, hasil pribumisasi Islam ke dalam budaya Nusantara, menyediakan kondisi kultural bagi terbentuknya nasionalisme NU. Ini terjadi karena pribumisasi -manifestasi ajaran Islam melalui budaya lokal- telah meleraikan ketegangan agama dan budaya, yang tidak dialami oleh puritanisme Islam. Bagi yang terakhir ini, agama senantiasa dibenturkan dengan budaya, sehingga melahirkan perjuangan simbolis: penegaran simbol Islam atas budaya dan sistem politik liyan.

Bagi NU yang telah meleraikan ketegangan antara agama dan budaya; perjuangan Islam menjadi substantif. Maka syariat Islampun didekati terutama dari tujuan (maqashid al-syariah) dan prinsip dasarnya (mabadi al-syariah). Inti nilainya terdapat pada kemaslahatan serta moderatisme (wasathiyyah) yang memungkinkan NU mewujudkan cita bukan dari idealisme, melainkan realisme. Artinya, dalam mewujudkan tujuan syariah, kaum tradisionalis ini berangkat dari realitas, baik realitas budaya maupun kenegaraan Indonesia. Ini yang membentuk Islam Nusantara yang menjadi basis-struktur bagi supra-struktur Islam Indonesia.

Dengan demikian, wacana Islam Nusantara menandai proses kembali ke akar nasionalisme NU karena corak kebangsaan organisasi ini dibentuk oleh pendekatan dakwahnya yang bersifat sosio-kultural. "Yang kultural" ini berbasis pada corak keislaman Nusantara.

RMI NU Tegal

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan bagus mendefinisikan corak sosio-kultural NU ini. Menurutnya, gerakan NU bersifat sosial karena ia menginginkan perubahan struktur sosial menuju masyarakat berkeadilan. Hanya saja, berbeda dengan gerakan sosio-politik yang memakai strategi politik (pendirian Negara Islam), NU menggunakan strategi kultural melalui dua langkah. Pertama, pemijakan atas nilai-nilai budaya masyarakat. Kedua, menggunakan modal budaya masyarakat terutama komunitas, lembaga dan asiosiasi kulturalnya. Hal ini dilakukan Gus Dur melalui gerakan pengembangan masyarakat berbasis pesantren dekade 1980. Dalam hal ini, pesantren adalah modal budaya masyarakat yang dijadikan basis pengembangan ekonomi berdasar nilai-nilai Islam yang berkembang di pesantren.

Pengembangan masyarakat melalui pesantren ini lebih mempertanyakan struktur politik yang timpang, daripada bentuk negara NKRI. Oleh karenanya, lawan strukturalnya adalah pembangunan developmentalistik Orde Baru, bukannya negara republik yang hendak diganti dengan Negara Islam.

Fase Nasionalisme

Seperti diketahui, nasionalisme NU memang dibentuk di dalam muktamar atau Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama. Pertama, pengakuan wilayah Nusantara sebagai dar al-Islam (wilayah Islam) pada Muktamar ke-11 di Banjarmasin (1936).

RMI NU Tegal

Ini mafhum diketahui, di mana NU menetapkan wilayah Nusantara yang saat itu dikuasai pemerintah kolonial Belanda, sebagai dar al-Islam. Pemaknaan dar al-Islam bukan sebagai negara Islam (daulah Islamiyyah), melainkan wilayah Islam, telah menumbuhkan nasionalisme karena NU mengakui Nusantara sebagai tanah kaum Muslim. Karena status keislaman ini, Hadlratus Syeikh Hasyim Asyari mengeluarkan Resolusi Jihad pada Oktober 1945. Membela tanah air dari penjajahan, fardlu ain hukumnya.

Kedua, afirmasi atas pembentukan negara-bangsa (nation-state) Indonesia, bukan negara Islam. Ini terjadi pada keterlibatan Kiai Wahid Hasyim pada Sidang BPUPKI-PPKI 1945. Ketiga, penahbisan Presiden Republik Indonesia (RI) sebagai pemimpin dalam keadaan darurat yang memiliki otoritas (waly al-amri al-dlaruri bi al-syaukah) melalui Munas Alim Ulama di Cipanas (1954). Disebut darurat, karena presiden RI tidak sepenuhnya sah menurut fikih Sunni, sebab tidak memenuhi syarat sebagai khalifah dunia Islam. Namun secara konstitusional, ia memiliki kekuasaan sehingga sah menerapkan syariah Islam, terutama penunjukan wali hakim dalam pernikahan Muslim. Melalui penahbisan ini, pemerintah RI sah secara syari.

Keempat, pembelaan Demokrasi Pancasila sebagai pilihan otentik dibanding Demokrasì Terpimpin, liberal dan komunis pada Muktamar ke-24 di Bandung (1967). Kelima, penerimaan atas Pancasila pada Munas Alim Ulama di Situbondo (1983). Serta keenam, Maklumat Penyelamatan NKRI dan Pancasila dari fundamentalisme agama dan pasar pada Harlah ke-85 NU (2011).

Sosio-Nasionalisme

Hanya saja segenap fase kebangsaan ini terhenti pada legitimasi Islam atas nasionalisme dalam rangka bentuk negara. Hal ini bisa dipahami sebab NU berkepentingan menjaga NKRI dari delegitimasi radikalisme Islam. Akan tetapi di masa ketika reformasi politik telah berjalan meninggalkan nasionalisme paska-kolonial; nasionalisme NU perlu diperbarui demi demokratisasi yang makin substantif. Untuk hal ini perlu dilakukan beberapa hal.

Pertama, pendalaman nasionalisme menuju apa yang Soekarno sebut sebagai sosio-nasionalisme. Dalam kerangka ini, nasionalisme bukan hanya pembelaan atas bangunan negara-bangsa. Melainkan perwujudan tujuan pendirian negara yang oleh Pancasila diarahkan menuju keadilan sosial.

Kedua, transformasi pemikiran politik Sunni klasik, menuju politik NU yang berpijak pada konsep politik kontemporer. Ini sebenarnya potensial, sebab pendekatan maqashid al-syariah menempatkan politik sebagai res publica (kebaikan publik). Dengan potensi ini, pemikiran politik NU sejajar dengan teori republikanisme, yang membangkitkan kembali ontologi politik di tengah demokrasi prosedural manipulatif.

Pada titik ini, Muktamar ke-33 kemarin sebenarnya menawarkan warna baru dalam tradisi demokrasi melalui pemilihan Rais Aam berdasarkan musyawarah dewan ulama tertinggi (ahlul halli wal aqdi). Ini dilakukan untuk menghindari politisasi yang terjadi dalam pemungutan suara (voting). Dengan demikian, NU telah mengawali transformasi demokrasi dari majoritarianisme kepada syura (musyawarah). Satu hal yang diidealkan oleh prinsip permusyawaratan Pancasila.

Hanya saja warna baru demokrasi di kalangan nahdliyin ini akan terhenti pada pemilihan pemimpin (nashb al-imamah), jika tidak dibarengi dengan pendalaman nasionalisme di atas. Dua agenda mendasar menanti. Pertama, penguatan etos kewarganegaraan, terutama di kalangan umat Islam. Kedua, radikalisasi demokrasi dalam bentuk penguatan demokrasi partisipatoris menuju perwujudan res publica. Jika tidak, nasionalisme NU hanya terhenti di mimbar dakwah, namun abai dengan ketidakadilan struktural yang menjadi nasib keseharian negeri ini.

 

* Penulis adalah Dosen Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta

 

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Khutbah, Tegal, Humor Islam RMI NU Tegal

Kamis, 31 Agustus 2017

Cara Jemaah Haji Peringati HUT RI di Tanah Suci

Jeddah, RMI NU Tegal

Peringatan hari kemerdekaan di negeri orang memang tidak semeriah di negeri sendiri. Ada regulasi Arab Saudi yang harus dipatuhi terutama dalam hal pengibaran bendera negara asing.

Warga Negara Indonesia (WNI) tidak bisa seenaknya melakukan upacara bendera di ruang terbuka atau mengibarkan bendera di ruang publik. Namun begitu berbagai upaya dilakukan untuk turut berbahagia pada hari bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Cara Jemaah Haji Peringati HUT RI di Tanah Suci (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Jemaah Haji Peringati HUT RI di Tanah Suci (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Jemaah Haji Peringati HUT RI di Tanah Suci

Para petugas dan jemaah haji melakukan beberapa kegiatan kecil untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Ke-72 Republik Indonesia. Bahkan beberapa jemaah haji menggelar apel peringatan HUT RI di hotel.

RMI NU Tegal

Seperti yang dilakukan oleh jemaah haji asal Purbalingga embarkasi Solo kloter SOC-2. Situs resmi Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag RI melaporkan, apel kemerdekaan jemaah haji SOC-2 dilaksanakan layaknya upacara bendera di Indonesia mulai pukul 06.30 waktu Arab Saudi, Kamis (17/08/2017), di halaman Hotel Husaifan.

RMI NU Tegal

Ketua kloter SOC-2 bertindak sebagai Inspektur Upacara. Sedangkan Komandan Upacara dilaksanakan oleh Purn Suko, MC Laely Muthohir, dirigen oleh Ady, dan doa dipimpin oleh Kholidin. Dengan mengenakan seragam batik nasional, para jemaah dengan khidmat mengikuti upacara dalam nuansa kesederhanaan.

Subeno mengungkapkan alasannya dan para jemaah haji melaksanakan apel peringatan HUT RI ke-72 ini. “Ini merupakan kebanggaan yang luar biasa karena bisa melaksanakan peringatan ulang tahun kemerdekaan di Tanah Suci. Kami turut mendoakan kemajuan bagi bangsa dan negara Indonesia,” ucapnya.

Selain melaksanakan apel peringatan kemerdekaan, SOC-2 juga melakukan pengibaran bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di sekitar Jabal Rahmah.

Jemaah asal Purbalingga yang tergabung dalam SOC-43 juga melakukan hal sejenis di Madinah. Mereka membentangkan spanduk ucapan Dirgahayu Republik Indonesia Ke-72 di halaman Masjid Nabawi. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Amalan, AlaSantri, Humor Islam RMI NU Tegal

Jumat, 25 Agustus 2017

Target Dirikan RS, NU Kendal Luncurkan Klinik Pratama

Kendal, RMI NU Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Kamis (29/5) meluncurkan klinik pratama di Pegandon Kendal. Klinik pratama merupakan tindak lanjut dari Rumah Bersalin (RB) dan Balai Pengobatan (BP) NU Pegandon Kendal

Menurut H. Ibnu Darmawan, ketua pengurus Klinik Pratama Pegandon, Klinik? akan dikelola dengan manajemen baru dan lebih professional. Perubahan nama menjadi Klinik Pratama Pegandon memang untuk menyesuaikan? dengan peraturan Menteri Kesehatan. Momen ini sekaligus untuk melakukan penyegaran manajamen. Pihaknya juga berharap klinik tersebut kelak akan berkembang menjadi rumah sakit NU.

Target Dirikan RS, NU Kendal Luncurkan Klinik Pratama (Sumber Gambar : Nu Online)
Target Dirikan RS, NU Kendal Luncurkan Klinik Pratama (Sumber Gambar : Nu Online)

Target Dirikan RS, NU Kendal Luncurkan Klinik Pratama

Senada, Ketua PCNU Kendal KH Muhammad Danial Royan menjelaskan bahwa peluncuran klinik pratama baru? langkah awal karena targetnya adalah rumah sakit tipe C. Namun demikian, sesuai dengan peraturan pihaknya harus melalui proses berjenjang, mulai dari klinik pratama kemudian meningkat menjadi klinik utama, rumah sakit tipe D, dan selanjutnya naik kelas menjadi rumah sakit tipe C. Untuk meraih target itu Danial mengaku telah melakukan kerja sama dengan rumah sakit Islam Sultan Agung Semarang dan PBNU.

RMI NU Tegal

Lebih lanjut penulis buku Sejarah Tahlil itu menjelaskan bahwa berdasarkan amanat Konfercab NU Kendal pada 2012 di Pesantren Apik Kaliwungu, PCNU Kendal mempunyai kewajiban menghidupkan dua Rumah Rumah Bersalin (RB) dan Balai Pengobatan (BP) NU di Pegandon dan di Rowosari.

RMI NU Tegal

“Tugas saya disini adalah meyakinkan kepada warga NU bahwa klinik ini akan benar-benar dikelola secara professional. Insya Allah jika yang berobat dan yang mengobati sama-sama senang tahlil penyakitnya akan lekas sembuh,” katanya berseloroh diikuti tepuk tangan yang hadir.

Di hadapan yang hadir, pada kesempatan itu juga dikenalkan tenaga pengelola Klinik Pratama Pegandon. Posisi direktur Klinik di percayakan kepada? dr. Saichu? yang saat ini juga menjabat sebagai wakil direktur RSUD Suwondo Kendal. Tenaga dokter yang lain? adalah dr. H., Bambang Listanto dan satu dokter perempuan yang tidak sempat hadir karena berada di luar kota.

Ketiga dokter tersebut akan dibantu tenaga medis, yakni Saikul Huda, Muhlasin, Vivi wulandari dan Siti Ambarwati. Dua bidan yakni Sri Hartini dan Dina Nur Afia Ulfa juga sudah siap untuk membantu ibu-ibu yang akan melahirkan. (Fahroji/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Halaqoh, Humor Islam, Fragmen RMI NU Tegal

Minggu, 13 Agustus 2017

SMK Cordova Panggungkan Produk Santri di Haul Mbah Mutamakkin

Jakarta, RMI NU Tegal. SMK Cordova Pati menggelar "Cordova Expo 2015" selama tiga hari di kompleks SMK Cordova Kajen Pati, Senin-Rabu (19-21/10). Pelbagai kegiatan digelar di sini untuk memeriahkan Tahun Baru Hijriyah 1437 H, Haul Syekh Ahmad Mutamakkin Kajen, serta penetapan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober.

Kegiatan ini meliputi pengobatan gratis, pasar murah, expo produk SMK Pesantren, perlombaan untuk anak-anak, workshop penulisan buku, workshop desain grafis, dan festival film pendek dan kontes modifikasi sepeda motor.

SMK Cordova Panggungkan Produk Santri di Haul Mbah Mutamakkin (Sumber Gambar : Nu Online)
SMK Cordova Panggungkan Produk Santri di Haul Mbah Mutamakkin (Sumber Gambar : Nu Online)

SMK Cordova Panggungkan Produk Santri di Haul Mbah Mutamakkin

Ketua Dewan Pembina Yayasan Az-Zahra Hajain KH Ahmad Zaki Fuad Abdullah membuka festival ini. Sementara Kepala Dinas Pendidikan Pati Sarpan meresmikan kegiatan akbar sekolah ini. Sedangkan istighosah bersama dipimpin oleh Habib Farid Assegaf dari Jepara.

RMI NU Tegal

Haul Syekh Ahmad Mutamakkin jatuh pada setiap 10 Muharram. Haul Mbah Mad merupakan even keagamaan dan budaya tahunan yang digelar di desa Kajen, Pati. Perhelatan Syuronan berpuncak pada prosesi penggantian kelambu makam Mbah Ahmad Mutamakkin. Perjuangan dakwahnya kini diteruskan oleh keturunannya seperti KH Abdullah Salam, KH MA Sahal Mahfud, Kajen, dan juga KH Zaki Fuad Abdullah yang merupakan keturunan kedelapan dari Mbah Ahmad Mutamakkin.

Kepsek M Niam Sutaman mengatakan, “Berkaitan dengan kegiatan meramaikan Hari Santri, SMK Cordova Pati sebagai sekolah kejuruan yang berbasis pesantren, ikut bergembira dan memberikan apresiasi atas pengesahan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri oleh Presiden RI.”

RMI NU Tegal

Menurut Niam, puncak kegiatan Cordova Expo yang rencananya jatuh pada malam 22 Oktober 2015 akan diisi dengan tahlil bersama dan dilanjutkan dengan pentas musik Balasyiq. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal RMI NU, Tegal, Humor Islam RMI NU Tegal

Sabtu, 05 Agustus 2017

Dilantik, GP Ansor Pakong Siap Perkuat Aswaja Pemuda

Pamekasan, RMI NU Tegal. Sebanyak 16 pengurus Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Pakong Pamekasan resmi dilantik di Yayasan At-Taqwa Pakong, Sabtu (17/12). Mereka siap untuk memperkuat paham Ahlus Sunnah wal-Jamaah, khususnya di kalangan pemuda dan remaja di Kecamatan Pakong.

Ketua GP Ansor Pakong Mohammad Badri menegaskan, komitmen tersebut sekaligus menjadi visi dalam kepemimpinannya dua tahun ke depan. Segala yang berhubungan dengan Tuhan maupun sosial kemasyarakatan akan dijalankan dengan sebaik mungkin.

Dilantik, GP Ansor Pakong Siap Perkuat Aswaja Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, GP Ansor Pakong Siap Perkuat Aswaja Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, GP Ansor Pakong Siap Perkuat Aswaja Pemuda

"Para pemuda rentan terjerat paham di luar Aswaja. Khususnya paham yang bisa menjerumuskan mereka pada sikap maupun ujaran yang mengandung kekerasan," papar sarjana pendidikan Islam tersebut.

Untuk mewujudkan visi tersebut, pihaknya akan memaksimalkan amaliyah dan berkiprh di msyarakat dengan berpijak pada pilar tawassut, taadul, tawazun, tasamuh, dan menjaga NKRI beserta kedamaian lingkungan dan bangsa.

"Kami optimistis visi dan misi tersebut bisa terwujud. Selain kekompakan pengurus, pembinaan dari sesepu NU dan senior GP Ansor tentu kami harapkan," tukasnya.

RMI NU Tegal

Acara pelantikan juga dikemas dengan peringatan maulid nabi. Hadir Ketua MWCNU Pakong K Zainol Waqud, Pengasuh Pesantren Salafiyah Sumber Duko KH Mudattsir, Rois Syuriyah PCNU KH Muzammil Ghazali, Muslimat NU, IPNU-IPPNU Pakong, dan tokoh masyarakat.

RMI NU Tegal

Selain itu, juga hadir Kepala Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) Ra Hasan Almandury, Ketua GP Ansor Kadur, dan Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Pamekasan Fathorrahman yang melantik. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Berita, Humor Islam, Ahlussunnah RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock