Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

Ken Zuraida: Jika Ruang Lebar, Santri Bakalan Luar Biasa

Sembilan pesantren dari Babakan Ciwaringin, Cirebon, berhasil mementaskan Permata Kalung Barzanji di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Jumat (7/2) dan Sabtu (8/2). Pementasan naskah terjemahan Syu’bah Asa dan dipentaskan pertama kali oleh WS Rendra itu melibatkan sekitar 50 santri putra dan putri.

Berkecimpung di dunia pementasan sudah banyak dilakukan para santri, tapi pentas santri yang masih aktif dengan dukungan penuh atas nama pesantren, terbilang langka. Apalagi ini melibatkan 9 pesantren.

Ken Zuraida: Jika Ruang Lebar, Santri Bakalan Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ken Zuraida: Jika Ruang Lebar, Santri Bakalan Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ken Zuraida: Jika Ruang Lebar, Santri Bakalan Luar Biasa

Nah, bagaimana latar belakang, proses latihan dan capaian para santri Cirebon dalam pementasan tersebut, Abdullah Alawi dari RMI NU Tegal berhasil mewawancarainya sang sutradara, Ken Zuraida, di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat malam (7/2). Berikut petikannya:

Bisa cerita asal-usul pementasan dengan para santri Babakan Ciwaringin, Cirebon ini?

RMI NU Tegal

Ada seorang “pendosa”, namanya Ahmad Subanudin Alwy. Suatu saat, berpuluh tahun yang lalulah, Rendra itu bilang, kita ke Solo yuk. Ayo. Naik mobil, ayo ke Bandung dulu. Kita lewat utara, jangan lewat selatan.  Ketika di Cirebon, ditanya rumah Alwi. Kita tanya tanya, tahulah kompleknya. Tapi tak ada yang tahu dimana rumahnya. Jadi ketika masuk komplek Rendra teriak-teriak, “Alwi..., Ahmad Subanuddin Alwi, keluar! Maju sekian meter, dia teriak lagi. Malam, bukan siang, setengah delapan. Gelap. Kemudian ada orang tergopoh-gopoh, “Ada apa? Ada apa? Eh, mas Willi (WS Rendra)”. “Ayo naik, kita berangkat ke Solo”. Itu sekitar 97, 98, antara itulah, lupa.     

RMI NU Tegal

Terus kami ke Solo, baca puisi kecil-kecilan, Rendra main-main, memperkenalkan, ini Alwi. Setelah itu saya harus selalu ngikutin karya-karya penyair yang dipilih oleh Rendra, terutama Alwi. Seringlah kontak-kontakan.

Suatu hari Alwi memperkenalkan kami kepada seorang perempuan penulis, kami tidak tahu. Kami dibawa ke rumah, diperkenalkan; bukunya hebat-hebat. Namanya Nyai Hajah Masriyah Amva. Kenal, kenal, kenal, saya belajar banyak kepada dia. Tiap tiga bulan sekali ketemu. Kemudian ketemu KSS (Komunitas Seniman Santri). Bikin pentas Barzanji, di sini. Mati saya. Sekali ditanya, saya belum jawab. Begitu tiga kali, wah, ini saya harus laksanakan. Kalau orang meminta sampai lebih dari dua nggak dijawab, kurasa, nggak betullah. Ok, sambil jalan saja. Pemainnya siapa, di mana pentasnya? Bagaimana duduk perkaranya? Cirebon bukan rumah saya.

Pendeknya, akhirnya merekrut pemain, dari kampung pesantren itu, dari 42 pondok itu, terpilihlah orang-orang ini. Datang pergi, datang pergi. Gonta-ganti, gonta-ganti selama tiga bulan. Pusing! Mulai punya konsep, mulai mengerti juga Cirebon itu begini, mulai mengerti itu. Nongkrong di mesjid, di kota, balik lagi ke situ. Mulai ngamatin orang membatik dan lain sebagainya. Pendeknya, jadilah seperti sekarang. Begitu.

Proses gonta-ganti sampai mentas itu tiga bulan?

Nggak, saya mulainya dari Agustus (2013). Rekrutmennya tiga bulan. Kemudian latihan intensnya 6 minggu. Per minggu hanya 10 setengah jam satu minggu. Sangat tidak mungkin membikin teater latihan dengan jam seperti itu satu minggu. Tidak mungkin. Tapi itu jadwal yang paling kompromis, menyatukan 9 pondok itu. Anak sudah pulang semua, madrasahnya nggak bolos, ngaji di pondoknya nggak bolos, barulah bisa latihan. Setengah mati. Bikin jadwal setengah mati. Kesulitannya soal mengatur, mencocokkan jadwal para santri.

Yang dahsyat banget menurut saya, mereka para remaja muda yang tidak mengerti teater, dari tidak mengerti. Banyaknya ngaji aja dan sekolah.

Tapi setelah dikasih terori-teori teater, bagaimana perkembangan mereka?

Saya tidak pernah mengasih teori teater ke mereka. Saya ngobrol aja, workshop bareng, seada-adanya, sebisa-bisanya. Mereka anak muda, remaja yang kreatif, cerdas, cepat, berani, banyak juga yang tak terduga, sangat mengajutkam surprise, tak terduga. Dari tidak tahu.

Kan kalau Barzanji di podok kan hanya dilantunkan pada malam Jumatan, marhabanan. Belum juga santri memahami maknanya, isinya, uswahnya, nggak ngertilah. Dan mereka melakukannya semacam upacara ya, keharusan, keharusan.

Dari latihan dari awal semacam itu, bagaimana capaian atau Anda menilai pentas mereka?

Jika saja ada ruang lebih lebar, dan memang diizinkan Allah, bakalan luar biasa. Ya sepuluh setengah jam dalam satu minggu dan kami latihan 6 minggu yang intens, bisa seperti ini. Buat saya, tak ada selain rasa syukur yang bisa saya ucapkan, sepuluh setengah jam dalam seminggu. Biasanya saya latih untuk pementasan teater, 6 jam sehari.

Apa kuncinya mereka bisa seperti itu?

Belajar ikhlas kali ya. Anak-anak yang murni. Mungkin motivasi tadinya beda-beda, ada yang pengen bolos pesantren, ada. Ada yang pengen bolos ngaji, ada. Ada yang pengen kenal orang lain. Ada yang pengen main, ada. Ada yang pengen tahu teater, ada. Banyak motivasi. Dan lucu-lucu. Lucu. Namanya juga anak-anak kan. Keren aja. Inspiratif lah. Jadi membaca banyak kemungkinan baru. Dan punya harapan baru melihat mereka, dan sebagainya.

Saya kira yang mengejutkan bagi saya, di Babakan seluruh pesantrennya salaf. Kalau pesantren modern kan biasanya memang punya grup teater. Itu saja. Hah, Sampeyan yang salaf bisa terima ini. Penontonnya membludak. Di Cirebon itu saya kira ditonton sekitar dua ribuan orang. Ini luar biasa. Seru banget. Padahal becek, hujan. Nggak ada yang pergi. Seru banget. Di Tegal juga bagus, penotonnya banyak. Di sini (Pementasan di TM) memang kami tidak menggarap publikasi. Jadi saya tidak bikin publikasi. Luput saja. Saya kan di Cirebon terus, kan.

Harapannya, banyak yang bisa digarap. Dan teater sebagai salah satu alat dakwah, saya kira insya Allah bisa digunakan.

Menurut Anda kenapa kalangan pesantren sepertinya belum menyadari teater sebagai alat dakwah?

Saya nggak tahu. Mereka yang bisa jawab. Nggak berani menebak, nggak berani  menyimpulkan juga. Saya tidak pernah bertanya di wilayah itu. Merasa nggak patut saja.

Mungkin nggak bakat ini ada di pesantren lain?

Insya Allah. Bagi saya, setidaknya ada pengalaman teman-teman santri ini lebih mengenal diri sendiri lewat teater itu. Lebih menyadari bahwa ngaji itu penting. Sekolah itu penting. Hormat kepada orang tua itu penting. Ingat rumah itu penting. Yang tadinya mungkin sudah rutinitas sajalah.

Apa hubungannya itu dengan teater?

Kan untuk anak yang bekerja di teater atau yang belajar di teater kan ada disiplin tertentu dan itu mau nggak mau. Sama dengan pembentukan kepribadian, membantu itulah. Harus ditanya sama anak-anak Bengkel. Ini metodenya Rendra. Bukan metode saya.

Mungkin ada saran untuk pesantren-pesantren lain dari hasil capaian dan pengalaman ini?

Nggak berani aku. Saya tahu pesantren lain aja nggak. Saya cuma tahu yang di Babakan ada 42 dan masing-masing istimewa. Ada satu pondok yang ngaji kitab. Ada satu pondok yang ngaji Qur’an. Ada satu pondok yang ngaji fiqih, yang gitu gitu. Kan beda. Seru, seru banget.

Pementasan ini punya nasibnya sendiri. Kalau memang ini manfaat kita semua, buat kehidupan, pasti bernasib baik. Dan saya membuktikannya. Berarti harus dikabarkan ya, uswah dalam naskah ini. Begitu kira-kira.

Secara umum, kenal pesantren sejak kapan?

Lamalah, dari lahir kali. Kan baca koran. Ada teman, kok gitu ya, oh dari pesantren. Otomatis jadi tahu. Karena pesantren memang ada kan di Indonesia. Dan metoda pendidikan pesantren kan salah satunya diadopsi oleh Bengkel-nya Rendra.

Apa itu?

Padepokan. Cara belajar yang seperti itu. Bukan isiannya. Bukan materi kajiannya, tapi metodanya.

Kalau dari segi naskah, apa ada improvisasi dari naskah sebelumnya?

Rendra iya, tidak pada saya. Saya hanya mengedit bagian tertentu saja, saya copot karena tidak terlalu relevan teks itu untuk dimainkan remaja, begitu.

Berikut selintas profil Ken Zuraida

Ken Zuraida lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 15 Mei 1954. Pernah kuliah di Unpad, Bandung (1973) dan Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta (1974. Istri dramawan legendaris Indonesia, W.S. Rendra ini terlibat di Bengkel Teater Rendra sejak 1974 hingga sekarang.

Berikut pengalaman pentas Ken Zuraida menurut Wikipedia.

Tahun 1960-an teater kanak-kanak di lingkungan terbatas

Sejak 1975 berpentas sebagai Setyawati dalam Kisah Perjuangan Suku Naga produksi Bengkel Teater di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Selanjutnya dalam drama “Egmont” di Teater Terbuka, Taman Ismail Marzuki pada tahun yang sama.

Tahun 1985 menangani artistik panggung di pentas baca sajak Rendra di gedung besar beberapa kota.

Tahun 1986 artistik direktor pentas Panembahan Reso.

Costume dan Set Designers Rendras adaptasi Hamlet 1990, TIM Jakarta

Tahun 1987 mengubah suasana gereja St. Ann di New York untuk pentas “Selamatan Anak Cucu Sulaeman”, lalu di Tokyo, Hiroshima, pentas berikutnya di kota besar di Indonesia dan th 1998 di Kwachon, Korea Selatan.

Koreografer dan penari "Nocturno", di Malang dan Bandung 1994

Produser bersama Rendra, dan Agus.S.Sarjono, Internasional Puisi Indonesia tur ke Belanda, Jerman, Austria, Palestina, Maroko, Malaysia, Makasar, Bandung dan Solo, 2002

Menulis Wayang Plastik Drama Akarawa, penampilan di sekolah umum di Sumatera dan Jawa

Membaca puisi Brigitte Oleschinski TIM Jakarta, 2003

Sejak itu menangani pentas “Oidipus Sang Raja” serta pentas-pentas di luar negeri hingga “Sobrat”, 2005, di Graha Bhakti Budaya, Jakarta.

Tenaga ahli artistik di beberapa pentas di Eropa, juga Asia.

Sebagai pemain Nenek berusia 678 tahun dalam pentas berdua dengan Rendra “Kereta Kencana” memperoleh pujian di kota-kota besar Indonesia hingga Kuala Lumpur Malaysia.

Menerjemahkan drama dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia untuk beberapa pentas grup drama di Indonesia.

Menulis Monolog dan memainkannya sendiri pada festival Monolong di Taman Ismail Marzuki, 2005.

Beberapa bulan menyutradarai Pementasan Teater Nyai Ontosoroh pada tahun 2006, tapi tidak jadi tayang karena penyutradaraan kemudian digantikan oleh Wawan Sofwan pada tahun 2007.

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nahdlatul Ulama RMI NU Tegal

Jumat, 23 Februari 2018

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film

Bondowoso, RMI NU Tegal - Jaringan Gusdurian Kabupaten Bondowoso dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional mengadakan acara Nonton Bareng Film “Cahaya dari Timur” bersama pemuda lintas agama yang ada di Bondowoso, Jawa Timur.

Kegiatan yang dikemas dengan sederhana ini dilaksanakan di halaman Kampus Akedemi Komunitas Negeri Bondowoso (Akom) Kabupaten Bondowoso, Rabu (16/11) malam.

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film (Sumber Gambar : Nu Online)
Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film (Sumber Gambar : Nu Online)

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film

Koordinator Jaringan Gusdurian Bondowoso Daris Wibisono Setiawan mengatakan hari toleransi mulai diperingati oleh dunia pada tahun 1995. Menurutnya, malam itu adalah momentum untuk merajut kerukunan di tengah perbedaan.

RMI NU Tegal

“Gus Dur pernah bilang Keberagaman adalah bahasa keindahan Tuhan. Menolak keberagaman, memaksakan segala perbedaan, berarti tidak pernah mengakui eksistensi Tuhan,” tuturnya.

Kepala sekolah SMK NU Tenggarang ini berpendapat bahwa agama adalah wilayah pribadinya dengan Tuhan. Sementara hubungan sosial adalah hal lain. “Ketika saya keluar dari tempat ibadah, berarti kita duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, itulah ke indahan keberagaman," ucapnya di hadapan peserta yang sekaligus mewakili pihak Islam dalam pertemuan itu.

Sementara perwakilan Buddha, Hermawan, mengaku bersyukur Gusdurian mengajaknya berkumpul bersama komunitas lintas agama. Ini merupakan pertemuan pertama yang ia ikuti bersama Gusdurian.

RMI NU Tegal

"Saya harap kegiatan ini bisa di laksanakan setiap tahun mungkin kita bisa lebih kompak, lebih maju mudah-mudahan Gusdurian lebih jaya, lebih kompak , banyak teman-temannya untuk kepadulian," harapnya.

Sambutan juga datang dari agama lain secara bergiliran. Acara tersebut dihadiri para pemuda lintas komunitas dan agama, antara lain Kristen, Buddha, Mahasiswa Akademi Komunitas Negeri Bondowoso, OSIS SMA NU Bondowoso, serta organisasi kepemudaan lainnya. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama, Fragmen RMI NU Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

Imam Mudzakir, Awan PBNU Tutup Usia

Jakarta, RMI NU Tegal. Kabar duka kembali menyelimuti Nahdliyin. Salah seorang A’wan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Imam Mudzakir wafat, Selasa (16/5), pukul 09.15 WIB, di Ruah Sakit MMC Kuningan, Jakarta.

Berita tersebut segera menyebar di grup-grup Whatsapp dan mengundang ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan. Sebelumnya, almarhum menjalani perawatan di rumah sakit beberapa hari lantaran sakit paru.

Imam Mudzakir, Awan PBNU Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
Imam Mudzakir, Awan PBNU Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)

Imam Mudzakir, Awan PBNU Tutup Usia

Terakhir almarhum mengemban amanah sebagai ketua panitia pembangunan kampus Universitas Nadhaltul Ulama (UNU) Indonesia setelah sebelumnya sukses memimpin proyek pembangunan Masjid an-Nahdlah yang terletak di Lantai 1 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta.

Wasekjen PBNU H Ulil Abshar Hadrawi mengenang Imam Mudzakir sebagai sosok pejuang NU yang gigih dan tanpa pamrih. “Beliau sangat ramah dan dermawan. Kita kehilangan salah satu figur yang bisa diteladani,” katanya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Ulama, Olahraga, Nahdlatul Ulama RMI NU Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Pelukis: Terus Terang, NU Selaras dengan Indonesia

Yogyakarta,RMI NU Tegal. Pelukis Abas Alibasyah menyatakan bahwa keberadaan NU sangat penting untuk Indonesia, terutama dalam bidang kebudayaan. NU yang seperti itu tidak heran karena watak dasarnya melanjutkan konsep dan apa yang dilakukan Wali Songo. Itu takdir tuhan.

Pelukis: Terus Terang, NU Selaras dengan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelukis: Terus Terang, NU Selaras dengan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelukis: Terus Terang, NU Selaras dengan Indonesia

“NU terus terang, selaras dengan indonesia karena menghargai tradisi,” katanya kepada RMI NU Tegal ketika disambangi ke rumahnya di bilangan Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Pria kelahiran Purwakarta, Jawa Barat, ini mengkritik seni rupa yang dianggap Islami hari ini yang seolah-olah hanya kaligrafi. Menurut dia, seni Islam Indonesia berbeda dengan Arab.

RMI NU Tegal

Penyandang gelar Empu Ageng Seni dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini menambahkan, biarkan Islam Indonesia yang dianugerahi rahmatan lil alamin berbeda karena sekarang memang waktunya berbeda.

RMI NU Tegal

“Seni rupa itu pada dasarnya mencerminkan kekuasaan tuhan. Siapa yang menandingi atau melebihi ciptaan tuhan? Kita meniru dan memperkenalkan ciptaan tuhan,” kata pria yang mengaku masih kerabat istri Mama Ajengan KH Tubagus Bakri Sempur menjelaskan.

Lebih lanjut, kata dia, dengan NU membuat pameran Matja”; Membaca Seni Wali-wali Nusantara yang berlangsung 27-30 Juli Jogjakarta Nasional Museum (JNM) seperti ini, berarti NU membuktikan perhatian pada seni.

Ia berharap kepada pemuda dan pemudia NU supaya aktif dalam seni rupa karena itu anugerah dan bisa menjadi alat dakwah. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal RMI NU, Nahdlatul Ulama RMI NU Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

IPNU DKI Jakarta Siapkan Konferwil

Jakarta, RMI NU Tegal. Suksesi kepemimpinan baru di tubuh pelajar Nahdlatul Ulama yang dikemas dalam bentuk Konferensi Wilayah (Konferwil) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)  Provinsi DKI Jakarta tinggal menghitung hari.

IPNU DKI Jakarta Siapkan Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU DKI Jakarta Siapkan Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU DKI Jakarta Siapkan Konferwil

Beberapa kandidat pun mulai antusiasi, para kandidat berasal dari masing-masing perwakilan cabang yang ada di wilayah Ibu Kota Jakarta antara lain dari Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu. Ada juga yang calon dari kepengurusan sebelumnya di IPNU DKI Jakarta.

Menurut Ketua Panitia Arief Faturrahman, Konferwil yang bakal digelar  pada Sabtu-Ahad, 13-14 April 2013 mendatang tempat di Gedung PWNU DKI Jakarta ini bakal diikuti 350 peserta utusan dari 6 Pimpinan Cabang se-DKI Jakarta. Namun dimungkinkan akan dihadiri lebih dari 500 peserta. 

RMI NU Tegal

“Biasa, dalam tradisi konferensi tidak menutup kemungkinan hadirnya utusan tak resmi yang kita kenal akan kita tampung. Alhamdulillah persiapan sudah 70% ,” kata Fatur.

RMI NU Tegal

Acara tersebut akan dihadiri oleh Menteri Perumahan Rakyat, KNPI DKI Jakarta, Kemenag DKI Jakarta,  Ka. Dinas pendidikan DKI Jakarta, Dewan Pendidikan DKI Jakarta, dan  sambutan oleh Wakil DPRD DKI Jakarta serta jajaran pejabat di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Hery Susanto Ketua IPNU DKI menjelaskan, selain acara inti berupa laporan pertanggungjawaban pengurus, penyusunan program kerja dan pemilihan pengurus baru juga diagendakan. 

Hajatan IPNU DKI ini terus kita tingkatkan dari tahun ke tahun untuk memacu semangat para kader IPNU khususnya di wilayah DKI Jakarta semoga Konferwil ini berjalan dengan lancar, terangnya 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Yudhi Permana

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nahdlatul Ulama, Aswaja RMI NU Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Mahasiswa NU Deklarasikan KMNU UII

Yogyakarta, RMI NU Tegal. Mahasiswa berlatar belakang NU mendeklarasikan hadirnya Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Islam Indonesia (KMNU UII), Sabtu (8/11). Mereka berinisiatif membentuk KMNU UII untuk mengorganisir mahasiswa NU di kampus UII.

"Sebelum ini, kami belum terorganisir sehingga mahasiswa NU di sini terkesan tidak ada," kata mahasiswa FH UII Mazdan Maftukha yang terpilih sebagai Ketua KMNU UII.

Mahasiswa NU Deklarasikan KMNU UII (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa NU Deklarasikan KMNU UII (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa NU Deklarasikan KMNU UII

Pendirian KMNU UII ini berawal dari keinginan agar mahasiswa NU memiliki wadah yang terorganisir. Dengan wadah itu, mereka yang tersebar di sejumlah fakultas di UII dapat terlibat dalam gerakan dan kegiatan-kegiatan ke-NUan di UII.

RMI NU Tegal

Deklarasi berlangsung setelah ziarah ke makam Syekh Jumadil Kubro di Turgo dan KH Mufid Masud di Pandanaran. Dengan deklarasi tersebut, KMNU UII diharapkan ke depan menjadi wadah bagi para mahasiswa NU mengenalkan Islam yang ramah dan konsisten memperjuangkan nilai dan ajaran yang diwariskan kiai-kiai NU.

"Dengan penuh harapan, doa, motivasi juga semangat juang tinggi secara resmi dideklarasikannya KMNU UII. Semoga ini menjadi awal perjuangan yang baik di kampus para pejuang," ujar Mazdan.

RMI NU Tegal

Secara historis UII tidak dapat dipisahkan dengan NU. KH Wahid Hasyim sebagai salah satu bagian panitia Sembilan, merupakan salah satu pendiri Universitas Islam Indonesia. (Ahmad Faiz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nahdlatul Ulama, Nahdlatul, Kiai RMI NU Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Ansor-Banser Cilongok Kawal Kaderisasi Pelajar NU

Banyumas,RMI NU Tegal. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas bersama Satkoryon Banser mengawal sepenuhnya program Diklatama I DKAC CBP KPP PAC IPNU IPPNU Cilongok yang dilaksanakan di Desa Karang Tengah Sabtu sampai Senin, (15-17/10).

Ketua PAC GP Ansor Cilongok Mustangin Diklatama CBP KPP ini sangat positif untuk kaderisasi IPNU IPPNU dan Ansor ke depan. GP Ansor dan Banser punya kepentingan dengan kaderisasi ini sebab IPNU IPPNU merupakan gerbang awal menuju GP Ansor dan Banser.

Ansor-Banser Cilongok Kawal Kaderisasi Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor-Banser Cilongok Kawal Kaderisasi Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor-Banser Cilongok Kawal Kaderisasi Pelajar NU

“Kalau kaderisasi sudah dilakukan sejak dini maka itu menjadi modal besar untuk kami di kepengurusan,” katanya melalui siaran pers Selasa (18/10).

RMI NU Tegal

Pengawalan GP Ansor, tak sebatas pada pengamanan, tapi juga pada pemberian berbagai materi. “Keterlibatan kami juga sebagai bentuk sinergi antarbadan otonom NU karena secara historis, bisa diibaratkan IPNU-IPPNU adalah adik-adik kami dan kelak merekalah yang akan meneruskan perjuangan kami di Ansor-Banser. Jadi sudah sepantasnya kami ikut mensukseskan kegiatan ini,” ujar Mustangin.

Komandan Rayon Banser Cilongok Ischakul Chasan mengatakan, Banser terlibat dari awal pembukaan sampai penutupan Diklatama tersebut.

RMI NU Tegal

Menurut dia, Banser perlu mengawal kegiatan tersebut terutama pada sesi di lapangan yaitu menyusuri hutan perbukitan Curug Cipendok. “Setidaknya dengan keahlian anggota kami bisa mengantisipsi dan beraksi cepat atas hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Ia berharap keikutsertaan Banser pada kegiatan ini bisa menjadi daya tarik peserta agar kelak dewasa bisa melanjutkan jenjang pengkaderannya di GP Ansor dan Banser.

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nahdlatul Ulama RMI NU Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Kader PMII Jaktim Tangkal Radikalisme

Jakarta, RMI NU Tegal. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jakarta Timur menggelar diskusi publik dan pelantikan periode 2017-2018 dengan tema Peran pemuda dan mahasiswa dalam menangkal radikalisme, (01/04) di Aula Kampus STAI Al-Aqidah Jalan Kayu Manis No. III Utan Kayu Jakarta Timur.

Kegiatan yang diawali dengan diskusi publik ini dihadiri oleh tiga narasumber, yaitu perwakilan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Syuaib Thahir, Sekretaris Majelis Bimbingan Cabang (MABINCAB) PMII Jakarta Timur Syamsuddin Alqamary, PKC PMII DKI Jakarta 2014-2016 Mulyadin Permana, serta Ketua Cabang PMII Jakarta Timur 2014-2015 Zaky Mahendra Zulkarnaen yang memandu jalannya diskusi.

Kader PMII Jaktim Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Jaktim Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Jaktim Tangkal Radikalisme

Diskusi mengenai radikalisme yang saat ini menjadi polemik dan dianggap krusial karena menjadi ancaman yang nyata bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Meskipun BNPT saat ini masih berumur muda sejak tahun 2010, namun radikalisme adalah polemik yang dapat menjadi ancaman nyata," papar Syuaib Thahir yang mewakili BNPT.

Dalam upaya pencegahan dan menangkal radikalisme, peran mahasiswa dinilai sangat penting. Selain itu, mahasiswa juga merupakan agen perubahan sekaligus generasi penerus bangsa. Mahasiswa perlu disusupi wawasan yang luas serta kekayaan ilmu agama.

RMI NU Tegal

"Sebagai warga pergerakan yang melekat dengan ke NU-annya mengenai aqidah, keyakinan, nilai-nilai Ahlusunnah wal Jamaah adalah suatu pemahaman dasar yang dapat membantu dalam pencegahan radikalisme," ujar Syuaib Thahir diakhir diskusi publik.

Masih di dalam forum yang sama, Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Aminuddin Maruf mengungkapkan dalam sambutannya, bahwa ia tidak pernah melarang untuk kader-kader PMII melakukan aksi.

RMI NU Tegal

"Tolong dicari file rekaman video dan dokumen apapun yang menyatakan bahwa saya melarang kader-kader PMII untuk melakukan aksi," tegas Ketua Umum PB PMII.

"Demonstrasi adalah bagian dari cara. Bila demo yang dilakukan atas dasar pesanan, jelas saya melarang. Ada peristiwa di Kendeng Jawa Tengah, PB PMII malah mewajibkan," lanjut Aminuddin Maruf.

Kegiatan ini dihadiri oleh para kader PMII se-DKI Jakarta baik alumni, Pengurus Cabang se-DKI Jakarta, Komisariat se-Jakarta Timur dan Rayon di Jakarta Timur, serta ikut hadir Pengurus Gerakan Pemuda Islam Indonesia. (Robiatul Adawiyah/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nahdlatul Ulama RMI NU Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Bukan Veto, Pengambilan Keputusan PBB Seharusnya dengan Suara Terbanyak

Jakarta, RMI NU Tegal. Ada 128 negara yang menentang keputusan sepihak Amerika Serikat yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Hanya sembilan yang mendukung Amerika Serikat, sebanyak 35 negara lainnya abstain, dan 21 negara sisanya abstain dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SMU PBB) yang digelar di New York, Kamis (21/12).

Menanggapi hal itu, Pakar Timur Tengah Universitas Indonesia (UI) Abdul Muta’ali menyebutkan, hasil tersebut menunjukkan bahwa mayoritas negara di dunia ini bersama Palestina dan menolak klaim sepihak Amerika Serikat.

Bukan Veto, Pengambilan Keputusan PBB Seharusnya dengan Suara Terbanyak (Sumber Gambar : Nu Online)
Bukan Veto, Pengambilan Keputusan PBB Seharusnya dengan Suara Terbanyak (Sumber Gambar : Nu Online)

Bukan Veto, Pengambilan Keputusan PBB Seharusnya dengan Suara Terbanyak

“Artinya,  mayoritas negara-negara di dunia melalui forum Sidang Majelis Umum PBB bersama Palestina,” kata Muta’ali kepada RMI NU Tegal melalui pesan tulis, Jumat (22/21).

Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI ini menyayangkan, hasil pemungutan suara tersebut hanya bersifat rekomendasi. Ia berharap, ke depan PBB harus mengubah pola pengambilan resolusi keputusan, yaitu berdasarkan dengan suara terbanyak.

“Bukan melalui veto,  melainkan suara terbanyak,” katanya.

Menurut dia, hasil pemungutan suara (voting) ini bisa dijadikan sebagai ajang untuk mengucilkan Amerika Serikat. Negara-negara yang menentang tersebut bisa membangun klausul baru untuk menentang klaim sepihak Donald Trump.

RMI NU Tegal

Selain itu, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) bisa membawa keputusan Trump tersebut ke Mahkamah Internasional di Den Haag Belanda. Ini bisa menjagal keputusan sepihak Trump tersebut.    

“Hal ini dilakukan untuk mencegah Intifada ketiga, agar tak banyak lagi korban yang berjatuhan,” terangnya.

Pada 1967, Israel menduduki wilayah Palestina, termasuk Yerusalem. Tetapi, PBB menerbitkan Resolusi yang menyatakan bahwa Yerusalem di bawah otoritas internasional. Pada 1980, Israel membuat Undang-Undang yang menyatakan Yerusalem adalah ibu kotanya. Tahun 1995, Amerika Serikat menguatkan UU tersebut. Hingga kemudian yang terbaru adalah keputusan sepihak Trump yang menyebutkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Rabu, 6 Desember 2017 lalu.

RMI NU Tegal

“Segala upaya untuk mengubah status quo Yerussalem merupakan tindakan ilegal,” tegas Doktor lulusan Universitas The Holy Quran and Islamic Sciences Sudan ini. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Makam, Nahdlatul Ulama, Cerita RMI NU Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Soal 5 Hari Sekolah, LP Ma’arif Jember Siap Laksanakan Instruksi PBNU

Jember, RMI NU Tegal

Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Jember H. Hobri Ali Wafa menyatakan mendukung dan siap melaksanakan instruksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Lembaga Pendidikan Ma’arif Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur bahwa hari masuk sekolah tetap enam hari, mulai Senin hingga Sabtu.

Soal 5 Hari Sekolah, LP Ma’arif Jember Siap Laksanakan Instruksi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal 5 Hari Sekolah, LP Ma’arif Jember Siap Laksanakan Instruksi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal 5 Hari Sekolah, LP Ma’arif Jember Siap Laksanakan Instruksi PBNU

“Kami siap mengikuti apa pun perintah PBNU. Kalau memang diinstruksikan tetap 6 hari sekolah, maka sekolah-sekolah di bawah LP Maarif di Jember, ya tetap 6 hari, dan mungkin juga Maarif di seluruh Indonesia sama,” jelasnya.

Kamis (15/6), PBNU secara eksplisit menolak kebijakan baru Kemendikbud tentang pemangkasan hari sekolah yang berakibat penambahan durasi belajar pelajar menjadi delapan jam sehari.

RMI NU Tegal

Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj berpandangan, daripada membuat kebijakan baru yang merugikan, Kemendikbud sebaiknya fokus pada peningkatan kualitas sistem pendidikan yang sudah ada. PBNU bahkan mengancam melakukan boikot bila kebijakan baru tersebut dipaksakan berlaku secara nasional.

RMI NU Tegal

(Baca: Pernyataan Resmi PBNU Menolak Kebijakan Sekolah 5 Hari)



Kebijakan Mendikbud Muhadjir Effendy untuk memberlakukan 8 jam pelajaran perhari atau 40 jam dalam seminggu juga mendapat reaksi keras dari Ketua Ikatan Keluarga Alumni PMII Jember, Akhmad Taufiq. Ahad (11/6), Dosen Universitas Jember itu mengeluarkan rilis menyikapi keputusan sang menteri yang? kontroversial tersebut.

Menurutunya, kebijakan tersebut terlalu dini untuk diterapkan di Indonesia, dan cenderung dipaksakan, karena belum mempertimbangkan secara seksama karakter? dan cakupan wilayah Indonesia yang sangat luas dan beragam. “Mestinya, aspek nasionalitas keindonesiaan menjadi pertimbangan utama dalam segala bentuk kebijakan pendidikan yang dilakukan (Muhadjir Effendy),” tuturnya.

Ia menambahkan, kalau penerapan 5 hari sekolah itu dilandaskan pada alasan untuk memenuhi minimal 40 jam pelajaran dalam seminggu, sungguh merupakan alasan yang tidak mendasar. Alasan tersebut baru pada tataran normatif dan prosedural semata. Sedangkan pada? tataran substantif tidak memenuhi derajat orientasi visional pendidikan nasional. “Karena itu kami menyerukan? agar keputusan 5 hari sekolah itu dibatalkan demi stabilitas dan kondusivitas pendidikan nasional yang sedang berjalan,” lanjutnya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nahdlatul Ulama, Aswaja, Fragmen RMI NU Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Pernyataan Jaringan Gusdurian terhadap Pelarangan Diskusi, Buku, dan Pemutaran Film

Jakarta, RMI NU Tegal. Semenjak pemerintahan Orde Baru tumbang, ? kita sudah bekerja keras membangun demokrasi dan pemerintahan sipil demi menjamin hak-hak dasar warga negara, yaitu kemerdekaan berpikir, berserikat, berkumpul, dan mengemukakan pendapat. ?

Gus Dur adalah salah satu penggerak masyarakat yang memperjuangkan supremasi sipil, karena Gus Dur meyakini pembebasan dari segala jenis penindasan adalah prasyarat untuk menjamin kemanusiaan.?

Pernyataan Jaringan Gusdurian terhadap Pelarangan Diskusi, Buku, dan Pemutaran Film (Sumber Gambar : Nu Online)
Pernyataan Jaringan Gusdurian terhadap Pelarangan Diskusi, Buku, dan Pemutaran Film (Sumber Gambar : Nu Online)

Pernyataan Jaringan Gusdurian terhadap Pelarangan Diskusi, Buku, dan Pemutaran Film

Dewasa ini di berbagai daerah marak terjadi kasus pembubaran diskusi, razia buku, serta penolakan pemutaran film. Umumnya pelarangan-pelarangan tersebut dilakukan dengan tuduhan dan ancaman. Muaranya adalah membuat warga ketakutan terhadap ide dan gagasan tertentu. Ketakutan yang berlebihan itu akan berujung pada penindasan.

Hal ini sangat bertentangan dengan konstitusi yang menjamin kebebasan berkumpul dan ? mengemukakan pendapat sehingga pelarangan buku/film dan diskusi tersebut ? adalah suatu pelanggaran hak konstitusional.

RMI NU Tegal

Jaringan GUSDURian sangat menentang sejumlah kejadian yang dapat memasung kebebasan berpendapat dan berserikat tersebut. Atas maraknya sejumlah aksi penindasan hak warga tersebut, Jaringan Gusdurian Indonesia menyatakan:

1. Menolak segala bentuk pelarangan diskusi, ? pemutaran film, dan razia buku. Karena hal itu bertentangan dengan undang-undang dan konstitusi.

2. Menuntut kepada segenap aparat penegak hukum untuk aktif melindungi hak kebebasan berpendapat dan berserikat yang dilindungi oleh konstitusi.

RMI NU Tegal

3. Mendukung kemerdekaan berserikat dan kebebasan menyatakan pendapat. Karena kemerdekaan adalah syarat mutlak pembebasan dari setiap bentuk penindasan.

4. Menyerukan kepada gusdurian dan masyarakat sipil untuk memperjuangkan haknya sebagai warga negara Indonesia, yaitu kebebasan berpendapat dan berserikat, termasuk diantaranya diskusi buku dan melakukan pemutaran film.

5. Mengajak kepada masyarakat untuk mengedepankan dialog, ? kerukunan, dan mempererat tali persaudaraan di tengah berbagai isu yang dapat memecah belah bangsa.

Koordinator Jaringan Gusdurian Indonesia,

Alissa Wahid

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sejarah, Nahdlatul Ulama, Anti Hoax RMI NU Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Ayat Al-Quran Ini Abadikan Tawassul Yahudi dengan Nabi Muhammad SAW

Tawassul merupakan salah satu bentuk doa untuk hajat tertentu. Karena salah satu bentuk doa, ia dapat dimaqbul dan ditolak. Dengan tawassul, seseorang tidak mengganti siapa yang dimohon (Allah). Yang dituju dalam beroda tetap Allah dalam tawassul. Hanya saja ketika berdoa, seseorang menyertakan orang-orang mulia di sisi Allah dengan maksud memudahkan penerimaan Allah SWT.

Tawassul seperti ini juga dilakukan masyarakat Yahudi Khaibar dalam menghadapi musuh-musuhnya sebelum Rasulullah SAW lahir. Dengan mengambil Nabi Muhammad SAW sebagai wasilah, Yahudi Khaibar dapat memukul mundur suku-suku yang menjadi lawannya. Sebagaimana diketahui, Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang tidak asing bagi masyarakat Yahudi. Pasalnya gambaran dan ciri-ciri Rasulullah SAW tampak jelas dalam kitab-kitab suci mereka.

Ayat Al-Quran Ini Abadikan Tawassul Yahudi dengan Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Ayat Al-Quran Ini Abadikan Tawassul Yahudi dengan Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Ayat Al-Quran Ini Abadikan Tawassul Yahudi dengan Nabi Muhammad SAW

Tawassul ini digunakan Yahudi Khaibar sebagai keterangan Sahabat Ibnu Abbas RA berikut ini:

RMI NU Tegal

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ?: ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: "? ? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

RMI NU Tegal

Artinya, “Ibnu Abbas bercerita bahwa dahulu Yahudi Bani Khaibar kerap bentrok fisik dengan Bani Ghathfan. Kalau perang berkecamuk, satuan pasukan Yahudi Khaibar itu mesti cerai-berai. Yahudi Khaibar lalu berdoa seperti ini, ‘Innâ nas’aluka bi haqqin nabiyyil ummiyyil ladzî wa ‘adjanâ an tukhrijahû lanâ fî âkhiriz zamân illâ an tanshuranâ’ (Ya Allah, kami memohon kepada-Mu melalui kebenaran nabi ummi yang Kaujanjikan kepada kami diutus di akhir zaman, kecuali Kaubantu kami mengalahkan mereka). Setiap kali berperang, Yahudi Khaibar selalu berdoa seperti ini dan mereka berhasil memorakporandakan satuan pasukan Ghathfan. Lalu Allah menurunkan ayat, ‘Mereka itu sebelumnya memohon kemenangan atas orang-orang kafir,’ maksudnya ‘lewat tawassul denganmu hai Muhammad,’ hingga akhir ayat, ‘maka laknatullah jatuh mengenai orang-orang kafir,’” (Lihat Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani, Mafahim Yajibu an Tushahhah, Surabaya, Haiatus Shafwah Al-Malikiyyah, tanpa catatan tahun, halaman 137).

Riwayat ini merupakan sababun nuzul atas Surat Al-Baqarah ayat 89. Untuk lebih jelas, ada baiknya dikutip secara utuh Surat Al-Baqarah ayat 89 berikut ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Ketika sebuah kitab dari sisi Allah membenarkan apa yang ada di tangan mereka itu datang kepada mereka–padahal mereka itu sebelumnya memohon kemenangan atas orang-orang kafir–, tetapi ketika sesuatu yang sudah mereka kenal dengan baik itu datang ke tengah mereka, mereka mengingkarinya, maka laknatullah jatuh mengenai orang-orang kafir,” (Surat Al-Baqarah ayat 89).

Bagaimana dengan validitas riwayat Sahabat Ibnu Abbas ini? Dalam catatan kaki, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani, menyebutkan bahwa riwayat ini dapat ditemukan pada Tafsir Al-Qurhubi, Al-Jami‘ li Ahkamil Quran, juz II, halaman 26-27. Keterangan Ibnu Abbas RA sangat masyhur di kitab-kitab tafsir yang muktamad.

Pandangan Ibnu Abbas RA ini selanjutnya dikutip ulama tafsir dari kalangan ahli hadits yang otoritatif, yaitu Ibnu Abi Hatim, At-Thabari, Al-Baghawi, Al-Alusi, As-Syaukani. Pandangan ini juga dikutip oleh Ibnu Katsir dalam Kitab Al-Bidayah. Riwayat ini diterima di bab tafsir dan asababun nuzul khususnya. Riwayat ini juga dimasukkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam Kitab Dalail, di mana ia tidak meriwayatkan hadits palsu di dalamnya seperti diutarakan di pendahuluan.

Hanya saja setelah Rasulullah SAW diutus dan hadir di tengah mereka, mereka mengingkarinya sehingga mereka juga terbilang kufur sebagaimana Bani Ghathfan masa itu. Sekarang ini praktik tawassul melalui Nabi Muhammad SAW masih diamalkan oleh sebagian besar umat Islam. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nahdlatul Ulama, Santri RMI NU Tegal

Perguruan Tinggi Riset Berbasis Pesantren

Di kota Pati tepatnya di desa Purworejo berdirilah Sekolah Tinggi Agama Islam Mathaliul Falah (STAIMAFA). Lembaga tersebut diresmikan tahun 2008 di bawah kepemimpinan ketua H Abdul Ghaffar Rozien, M. Ed. Nama Mathaliul Falah tak lepas dari madrasah atau Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM).

STAIMAFA merupakan Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta yang dibangun di atas landasan tradisi dan diselenggarakan secara integral dengan pesantren. Pendirian STAIMAFA merupakan masa kemajuan bagi PIM. Hal ini tak lepas dari Yayasan Nurussalam Kajen sebagai kelanjutan dari unit pendidikan dasar dan menengah yang hampir satu abad dikelola oleh PIM. Dalam kurun hampir dua dasawarsa STAIMAFA melewati proses panjang dan pergulatan pemikiran sebelum resmi didirikan.

Perguruan Tinggi Riset Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Perguruan Tinggi Riset Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Perguruan Tinggi Riset Berbasis Pesantren

Hal ini dilatarbelakangi dari gagasan program "takhassus" pasca Aliyah sebagaimana diungkapkan KH Asnawi Rohmat salah seorang asatidz PIM. Gagasan ini semakin menguat setelah studi banding guru-guru Mathaliul Falah di Darun Najah Jakarta, Darur Rahmah Jakarta, dan Dar el-Qalam Tangerang. Atas masukan dan desakan dari alumni PIM, maka dibentuklah tim yang menggodok pendirian Sekolah Tinggi. Maka, rapat-rapat intensif di Jakarta, Yogyakarta, dan Kajen terus berlangsung. (Mempersiapkan Insan Sholih Akrom Potret Sejarah dan Biografi Pendiri PIM Kajen Margoyoso Pati 1912-2012 (1 Abad): 2012)

RMI NU Tegal

Berawal dari "kegelisahan" para pendiri PIM yang merasa bahwa untuk melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kedalaman keilmuan agama dan moral sekaligus kompetitif dalam menjawab perkembangan zaman, tidak cukup hanya dengan memberikan keilmuan bekal kepada peserta didik sampai pada tingkat aliyah (SMA). Oleh karena itu, para pendiri berinisiatif menggagas sistem pendidikan lanjutan bagi para lulusan PIM dengan membuka program pasca aliyah. Akan tetapi, program tersebut ternyata dirasakan masih belum memberikan jawaban atas kegelisahan tersebut. ?

Berdasarkan kajian yang mendalam dan masukan dari berbagai pihak, akhirnya disepakati pilihan bulat untuk mendirikan STAIMAFA yang diawali dengan menyelenggarakan pendidikan pada tiga jurusan dengan tiga program studi, yaitu Tarbiyah/Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Syariah/Perbankan Syariah (PS) dan Dakwah/Pengembangan Masyarakat Islam (PMI). Ketiga jurusan dan program studi tersebut merupakan pendidikan jenjang strata satu (S1) program reguler.

RMI NU Tegal

Sejak berdirinya STAIMAFA mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, khususnya para alumni dan siswa-siswi PIM. Dalam waktu yang singkat, STAIMAFA mengalami perkembangan dengan jumlah mahasiswa kurang lebih 600 sampai tahun 2012.

Dan alhamdulillah, bekat rahmat dan pertolongan Allah pada tahun ajaran 2012-2013 ini, STAIMAFA membuka lagi program studi baru yang cukup familier, yaitu Pendidikan Guru Raudlatul Athfal (PGRA) yang dirasakan urgensinya di era sekarang, mengingat Jawa Tengah menempati provinsi tertinggi dalam tingkat partisipasi anak-anak playgrup di seluruh Indonesia. Antusiasme para guru dan para pelajar yang belajar di program studi PGRA ini sangat besar. Hingga pembukaan pendaftaran mahasiswa baru tahun ajaran 2015-2016 STAIMAFA membuka jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Komunikasi & Penyiaran Islam dan Zakat & Wakaf. Harapannya dimasa yang akan datang STAIMAFA mampu menjadi Institut dari informasi yang dihimpun RMI NU Tegal sekarang sedang proses mengajukan pemberkasan syarat menuju institut.

Secara akademik setelah menjadi alumni dan melihat alumni dari perguruan tinggi lain dengan program studi yang sama secara materi tidak terlalu tertinggal jauh. Hal ini dungkapkan Nur Khoiriyah (24) sebagai alumni angkatan kedua. "Melihat perkembangan lembaga, saya bangga melihat progres yang sedang ada, Insya Allah dalam proses menuju institut, ini menunjukkan bahwa kampus ini digarap dengan sungguh", ungkap Nur yang sekarang melanjutkan studi pascasarjana di Universitas Gajah Mada.

Sebagai alumni prodi PMI Nur Khoiriyah menyatakan secara pribadi lebih enak dalam memahami kontekstualisasi ajaran Islam, mengontekstualisasikan ilmu-ilmu untuk memahami teks, seperti Tafsir, Hadis dan Fikih. Hal ini baru dirasakan betul ketika menempuh studi lanjut di Jogjakarta. Nur menjelaskan pentingnya pemahaman Islam yang lebih "luwes" untuk bisa berteman lintas organisasi masyarakat bahkan lintas agama, bukan dalam rangka mencampuradukkan tetapi memahami perbedaan.

Irza Syaddad (25) menceritakan ketika masih menjadi mahasiswa bahwa dulu pihak kampus sering kali mengadakan hibah penelitian kepada civitas akademi. Selain itu, nilai-nilai pesantren di lingkungan kampus masih terjaga dengan baik. Irza yang sekarang menempuh studi lanjut di Universitas Al-Imam Muhammad bin Saud, Arab Saudi mencontohkan menghormati guru (baca: dosen) masih berlaku dengan melanggengkan budaya cium tangan.

Hal ini tak lepas dari visi STAIMAFA "Menjadi Perguruan Tinggi Riset Berbasis Nilai-Nilai Pesantren". STAIMAFA ingin menjadi perguruan tinggi yang menggabungkan kemampuan metodologi ilmu modern yang berbasis penelitian dengan kekayaan khazanah klasik yang ada di pesantren sesuai dengan kaidah "Almuhafadzatu ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah", konsistensi menjaga tradisi yang relevan dan aktif mengadopsi khazanah baru yang lebih progresif.

Ditambah visi STAIMAFA ini untuk meneruskan spirit "Tafaqquh Fiddin" dan "Sholih-Akrom" yang menjadi tujuan berdirinya PIM. Tafaqquh Fiddin ada dalam pelestarian nilai-nilai pesantren yang mengedepankan ketakwaan, ketuhanan, ketawadhuan, dan konsisten memegang khazanah Islam klasik yang biasa dipelajari di pesantren dan Sholih-Akrom ada dalam kemampuan risetnya, dan orientasi ketuhannya yang mengedepankan nilai-nilai kebenaran, keikhlashan dan kepedulian sosial. (M. Zulfa)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nahdlatul Ulama, Amalan RMI NU Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Siswa Madrasah Wakili Indonesia di Olimpiade Internasional

Jakarta, RMI NU Tegal. Madrasah kembali membawa nama harum Indonesia di kancah Internasional. Setelah berhasil meraih prestasi pada olimpiade sains nasional yang berlangsung di Yogyakarta beberapa hari lalu, salah satu ? siswa madrasah didaulat menjadi duta Indonesia di kancah olimpiade sains tingkat dunia.?

Siswa Madrasah Wakili Indonesia di Olimpiade Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa Madrasah Wakili Indonesia di Olimpiade Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa Madrasah Wakili Indonesia di Olimpiade Internasional

Adalah Muhammad Ahdillah Fadlila Dayajati, siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia (IC) Gorontalo terpilih menjadi salah satu duta Indonesia dalam International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) tahun 2015. Ajang bergengsi tingkat dunia ini akan berlangsung di Magelang pada tanggal 26 juli – 4 Agustus 2015, seperti dikutip dari situs kemenag.go.id.

Perjuangan Fadhil, begitu biasanya ia disapa, tidaklah mudah. Dia memulai prestasi olimpiade sejak masih duduk di kelas X dan XI di MAN Insan Cendekia Gorontalo. Saat itu, Fadhil berhasil mendapatkan medali perunggu dalam ajang OSN tahun 2013 di Bandung. Tidak ? menyerah sampai disitu, Fadhil terus belajar dengan giat, dan akhirnya berhasil mendapatkan medali emas setahun kemudian, tepatnya dalam ajang OSN 2104 yang berlangsung di Mataram NTB.?

RMI NU Tegal

Mendapat medali emas OSN 2014 bukanlah akhir dari perjuangan Fadhil. Setidaknya ada tiga tahapan seleksi menuju IOAA yang harus dilaluinya, yaitu: pelatnas tahap 1 atau 30 besar yang diadakan di Bandung pada Oktober – November 2014, pelatnas tahap 2 atau 22 besar pada Maret 2015, dan pelatnas tahap 3 atau 16 besar pada April – Mei 2015.?

RMI NU Tegal

Setelah mengikuti pelatnas ketiga yang merupakan penentu ke tahap internasional, akhirnya Muhammad Ahdillah Fadlilla DJ berhasil menjadi yang terbaik dan masuk sebagai MAIN TEAM (TIM UTAMA) yang akan berlaga di ajang IOAA tahun 2015 bersama beberapa siswa lainnya. Tim Nasional Indonesia untuk mengikuti IOAA 2015 di Magelang tanggal 26 Juli – 4 Agustus 2015 terdiri dari ? 10 siswa ? yang terbagi ? dalam 2 ? Tim (Main Team dan Guest Team) dan ? masing-masing terdiri dari 5 (lima) siswa. ?

Prestasi Muh. Ahdillah Fadlilla DJ tak luput dari perhatian Direktur Pendidikan Madrasah kemenag RI. ?

“Kami sangat mengapresiasi prestasi ananda Muh. Fadlilla yang mampu bersaing dan menjadi duta Indonesia dalam ajang IOAA tahun ini. Kami senantiasa mendorong madrasah untuk terus berprestasi dan menjadi kiblat pendidikan di Tanah Air,” papar M. Nur Kholis, Jakarta, Senin (06/01). Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini berpesan agar prestasi yang ditorehkan siswa MAN Insan Cendekia Gorontalo ini dapat memacu semangat madrasah lain agar terus berprestasi.?

Sementara itu, Kepala MAN IC Gorontalo Moh. Naim mengatakan bahwa prestasi tersebut merupakan buah dari kerja keras semua pihak, khususnya tim olimpiade dan guru pembina olimpiade dalam menggembleng peserta didik sejak kelas X. Ini juga buah perhatian dari Kanwil Kementerian Agama Provinsi Gorontalo, Dinas Dikpora Provinsi Gorontalo serta Direktorat Pendidikan Madrasah Kementerian Agama RI.?

“Terima kasih kepada semua pihak dan mohon doanya agar ananda Fadlilla bisa sukses memperoleh medali di ajang IOAA 2015 ini,” harapnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal PonPes, Nahdlatul Ulama, Kajian Sunnah RMI NU Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

NU Care-LAZISNU Ajak Yatim Tonton Naura & Genk Juara

Jakarta, RMI NU Tegal. NU Care-LAZISNU menggelar Nonton Bareng Film Naura & Genk Juara bersama Anak Yatim, Sabtu (25/11) di Bioskop XXI Pondok Indah Mall 1 Jakarta Selatan. 

Kegiatan yang bekerjasama dengan Kitacomm, sebuah perusahaan publik relation, melibatkan sedikitnya 135 anak yatim.

NU Care-LAZISNU Ajak Yatim Tonton Naura & Genk Juara (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care-LAZISNU Ajak Yatim Tonton Naura & Genk Juara (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care-LAZISNU Ajak Yatim Tonton Naura & Genk Juara

 

Henna Lestari, penyelenggara kegiatan mengungkapkan melalui kegiatan ini pihaknya ingin membuat anak-anak yatim melalui film yang disaksikan mereka. 

Dihubungi terpisah, Direktur NU Care-LAZISNU Syamsul Huda mengatakan, menonton Film Naura & Genk Juara, pihaknya tidak sekadar ingin memberi hiburan, namun juga edukasi.

“Soal cinta kepada sesama manusia, alam semesta dan kejujuran,” katanya.

RMI NU Tegal

Naura & Genk Juara menceritakan hubungan pertemanan antara Naura, Okky, dan Bimo. Mereka mewakili sekolah dalam mengikuti kompetisi sains yang berlokasi di Situ Gunung. 

Di sana, ketiganya bertemu dengan Kipli, seorang ranger cilik yang memiliki misi menggagalkan Trio Licik, sindikat perdagangan hewan liar. 

Film ini disutradarai Eugene Panji yang acap memproduksi film pendek dan karyanya pernah menyabetpiala citra untuk kategori film pendek.

RMI NU Tegal





Film Naura & Genk Juara tayang di bioskop sejak 16 November 2017. Film sempat menuai kontroversi dan dituduh melecehkan agama Islam karena terdapat adegan para penjahat mengucapkan istighfar dan doa-doa yang biasa diucapkan umat Islam. Selain itu juga terdapat karakter penjahat dengan penampilan berjenggot.

Terkait hal itu, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Masduki Baidlowi meminta masyarakat menjaga ketenangan dan tidak terprovokasi terkait isu film. Dia meminta masyarakat tak terprovokasi melakukan tindakan negatif.

Wakil Sekjretaris Jendral PBNU itu mengungkapkan, sebelum meloloskan film drama musikal anak tersebut Lembaga Sensor Film sudah mengundang para ahli dan akademisi untuk ikut menyaksikan dan menilai film tersebut. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sunnah, Nahdlatul Ulama RMI NU Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Inilah 32 Tim yang Berlaga di Seri Nasional LSN 2017

Solo, RMI NU Tegal - Kompetisi Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 kini telah memasuki babak Seri Nasional. Sebanyak 32 tim, siap bertanding untuk memperebutkan juara sepakbola antar-pesantren se-Indonesia ini. 32 tim tersebut terbagi ke dalam 8 grup.

Seperti yang telah dirilis panitia LSN 2017, juara bertahan Nurul Iman Bantul menempati grup C bersama Al-Ikhlas Muna, Al-Khairat Bintauna, dan As-Salam Bangkalan. Sedangkan juara kedua musim lalu, Walisongo Sragen berada di grup A bersama Hamzan Wadi, Nurul Fauzi Tasikmalaya dan Darul Huda Ponorogo.

Inilah 32 Tim yang Berlaga di Seri Nasional LSN 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah 32 Tim yang Berlaga di Seri Nasional LSN 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah 32 Tim yang Berlaga di Seri Nasional LSN 2017

Manajer Tim Walisongo Sragen Mustawa mengatakan untuk pertandingan perdana, timnya akan bertanding melawan Darul Huda asal Ponorogo, Senin (23/10) mendatang.

RMI NU Tegal

“Untuk persiapan menghadapi pertandingan perdana, seperti biasa kami hanya melakukan pertandingan persahabatan dan latihan rutin. Selebihnya doa,” papar Mustawa saat dihubungi RMI NU Tegal, Sabtu (21/10).

Berikut hasil lengkap pembagian 8 grup (32 Besar) Seri Nasional LSN 2017 :

RMI NU Tegal

Grup A

Hamzan Wadi (Nusa Tenggara 3), Nurul Fauzi Tasikmalaya, Walisongo Sragen, Darul Huda Ponorogo

Grup B

Al-Huda Cianjur, Nurul Ilmai Sijunjung, Darul Arafah Deli Serdang, Al-Husaeni Kab. Bandung

Grup C

Al-Ikhlas Kab. Muna, Al-Khairat Bintauna, Nurul Iman Bantul, As-Salam Bangkalan

Grup D

Al-Mahdaniyah Tabalog, DDI Kaballangan, Ruhul Islam Anak Bangsa, Babussalam FC Rohul

Grup E

Al-Ijtihad Danger, Asshiddiqiyah DKI Jakarta, Al-Mujtahid Pontianak, Denanyar Jombang

Grup F

Ar-Raisiyah Tangsel, Birul Walidanin, Al-Huda Lampung Selatan, Nurul Iman Muaro Jambi

Grup G

Al-Anshor Maluku Tengah, AIAI Babel, Manbaul Hikmah United, Nurul Jadid Paiton

Grup H

Darul Hikmah Cirebon, Al-Kahfi Kebumen, Nurul Khaerat Lil Muhibbin, Minhajussalam Subulussalam. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Santri, Nahdlatul Ulama RMI NU Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Bumiputeraisme: Urgensi Penguatan Ekonomi Pribumi

Oleh M. Kholid Syeirazi

Ada suatu masa, di sebuah negara-bangsa yang masih muda, persamaan hak dan kewajiban di muka hukum diuji oleh ketimpangan ekonomi di antara warganya. Demokrasi politik dan hukum yang disuarakan kaum borjuis di Eropa sedari awal tidak menyertakan demokrasi ekonomi sebagai isu.?

Yang mereka tuntut sebagai pemilik uang dan pembayar pajak adalah hak politik dan hukum agar tidak dikepret secara sewenang-wenang oleh penguasa. Demokrasi lahir dari tradisi borjuis yang kekuatan uangnya mampu menekan penguasa untuk mendengar suara mereka. Barrington Moore bilang: No Bourgeoisie No Democracy!

Bumiputeraisme: Urgensi Penguatan Ekonomi Pribumi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bumiputeraisme: Urgensi Penguatan Ekonomi Pribumi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bumiputeraisme: Urgensi Penguatan Ekonomi Pribumi

Ketika diekspor ke seluruh dunia, demokrasi membawa cacat bawaan yang sama. Demokrasi dipikirkan sebagai prinsip equality before the law dan hak politik tanpa pandang bulu. Bagaimana dengan hak ekonomi? Itu urusan pasar. Pasar dengan tangan gaibnya akan membagi-bagi kesejahteraan tanpa perlu intervensi negara. Para pendiri Republik sadar perlunya campur tangan negara.?

Urusan perut rakyat terlalu penting untuk diserahkan sepenuhnya ke pasar yang rawan menjadi ring tinju bagi yang kuat melibas yang lemah. Karena itu, dipasanglah Pasal 33 yang ayat 1-nya menomorsatukan ko-operasi bukan kompetisi (Perekonomian disusun sebagai usaha bersama....). Belakangan, pada amandemen tahun 2001, ditambahkan ayat kompetisi melalui melalui frase efisiensi di ayat (4).

RMI NU Tegal

Nyatanya kesamaan akses tidak pernah terjadi bidang ekonomi. Konstitusi meruntuhkan kasta-kasta sosial dan politik, tetapi dalam ekonomi kasta-kasta itu terpelihara dalam tiga tingkat: Londo, Aseng, dan pribumi. Londo menguasai sektor industri besar. Aseng dan keturunan Arab menguasai retail dan eceran. Pribumi kelas jongos atau terpinggir sebagai petani miskin.

Upaya mengangkat harkat pribumi dalam perekonomian dilakukan dengan program ekonomi Benteng dan Bumiputeraisme yang berlangsung pada dekade 50-an. Program ini gagal karena yang terjadi adalah fronting atau istilahnya Ali - Baba: yang di depan Ali (pribumi) tetapi operator sebenarnya adalah Baba (aseng).

Kendatipun resmi dihentikan tahun 1957, kebijakan memproteksi pribumi yang berada di kasta terendah dalam perekonomian masih terus coba dilakukan, antara lain dengan menerbitkan PP No. 10 Tahun 1959 yang melarang asing dan aseng bergerak di perdagangan retail di tingkat kabupaten ke bawah. Padaa saat PP ini diterbitkan, dari 86.690 izin retail yang terdaftar, 90 persennya dikuasai warga keturunan Tionghoa. PP ini menimbulkan gejolak. Di sejumlah tempat di Jawa Barat, pedagang Cina diusir dan makan korban jiwa di Curut, Cibadak, dan Cimahi.?

Pemerintah Peking gusar, mengutuk pemerintah Indonesia dan mengajak warga keturunan Tionghoa balik ke "kehangatan Ibu Pertiwi." Dikabarkan dari 199 ribu yang mendaftar, 102 ribu orang diangkut ke Cina. Ketegangan mengendur setelah PM RRT, Zhou Enali, menemui Soekarno dan menormalisasi hubungan.

Apa sikap NU terkait gerakan Bumiputeraisme ini? Dalam Muktamar ke-25 di Surabaya Tahun 1971, NU mendukung penerapan PP No. 10/1959 sebagai ikhtiar melindungi perekonomian kecil yang menjadi basis Nahdlyin. Sebagaimana terlihat dalam dua kutipan Keputusan Muktamar di bawah ini, NU secara tegas mendukung upaya Pemerintah mengangkat dan melindungi perekonomian rakyat yang telah berabad-abad di bawah tindasan asing dan aseng.

RMI NU Tegal

Karena itu, jika PWNU Jawa Tengah dalam rapat di Magelang 5/12/2016 memutuskan haramnya pemberian lisensi kepada retail modern yang merugikan perekonomian rakyat kecil, keputusan itu punya benang merah dengan Keputusan Muktamar NU ke-25 tahun 1971.

Pasar bebas telah menembus ke jantung ekonomi akar rumput. Kapitalisme telah mengedarkan produk-produk MNC memenuhi hajat hidup rakyat kecil dari sejak membuka mata sampai beranjak ke tempat tidur. Gerai-gerai waralaba menghajar kampung-kampung, menggusur para pedagang kecil, mematikan warung-warung. Gempuran kapitalisme ini tidak kalah berbahayanya dengan gempuran radikalisme agama yang menjerat banyak anak muda di kota-kota.

Jihad muslim moderat bukan hanya melawan fundamentalisme agama, tetapi juga fundamentalisme pasar. Kata Richard Falk, fundamentalisme agama adalah anak kandung fundamentalisme pasar yang menjelma dalam globalisasi yang menimbulkan frustrasi bagi banyak orang miskin. Menyuarakan isu toleransi agama tanpa menyoal isu ketimpangan sama dengan memboyong demokrasi tanpa koreksi terhadap anasir borjuis yang melekat dalam sejarah kelahirannya.

Karena itu, perlu disampaikan esensi pengusungan Islam Nusantara: musuh kita bukan hanya fundamentalisme agama, tetapi juga fundamentalisme pasar yang menggusur ruang ekonomi rakyat kecil. Mengagungkan ide persamaan tanpa menyoal isu ketimpangan seumpama wudhu tanpa mengganti pakaian. Wudhunya sah, tetapi salatnya batal karena pakaiannya najis!

Penulis adalah Sekjen Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU).

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Halaqoh, Nahdlatul Ulama RMI NU Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Pengalaman PWNU Jatim “Memecat” Ketua Tanfidziyah

Surabaya, RMI NU Tegal. Tidak terasa, perjalanan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur akan segera berakhir. Akhir Mei nanti, perhelatan Konferensi Wilayah NU Jatim akan digelar di Pondok Pesantren Bhumi Sholawat Tulangan Sidoarjo.

Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KH Miftachul Akhyar sangat menyadari bahwa kewibawaan NU sangat bergantung kepada sosok kiai atau ulama. Karena itu, yang memegang amanah di syuriyah hendaknya diisi oleh kiai yang memiliki wawasan dan pandangan yang jauh ke depan. ?

Pengalaman PWNU Jatim “Memecat” Ketua Tanfidziyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengalaman PWNU Jatim “Memecat” Ketua Tanfidziyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengalaman PWNU Jatim “Memecat” Ketua Tanfidziyah

Bagi Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya ini, khusus untuk PWNU Jatim ternyata kolektifitas antar ulama itu dapat terjalin dengan baik. “Banyak lahir keputusan yang justru dihasilkan dari permusyawarahan antar ulama tersebut,” katanya, di Surabya, Selasa (23/4).

RMI NU Tegal

Kiai Miftah, sapaan akrabnya masih mengingat peristiwa tahun 2008 ketika dirinya mendapat amanat sebagai rais syuriyah dan bersanding dengan H DR Ali Maschan Moesa sebagai ketua tanfidziyah. Dalam perjalanannya, Ali Maschan akhirnya maju sebagai calon wakil gubernur Jatim. “Saat itu wibawa ulama sangat ditunggu, apakah memiliki ketegasan atau malah larut dengan kehendak ketua,” kenangnya.

RMI NU Tegal

Dan lewat pertimbangan sejumlah ulama yang terhimpun dalam kepengurusan syuriyah, akhirnya keputusan diambil yakni menganggap ketua tanfidziyah “berhalangan tetap” sehingga harus diganti. Dan tidak berlangsung lama, akhirnya dilakukan Konferwil dan tetap mendaulat Kiai Miftah sebagai rais dan KH M Hasan Mutawakkil Alallah sebagai ketua.

Bagi Kiai Miftah, pengalaman ini menjadi pelajaran sangat berharga agar dalam perjalanannya. NU harus tetap menjadikan ulama sebagai penentu keputusan bagi jalannya organisasi. “Karena itu, dibutuhkan kolektifitas kepemimpinan sehingga keputusannya tidak merugikan bagi jam’iyah,” tandasnya.

Intensitas komunikasi menjadi harga mati agar sejumlah permasalahan organisasi atau umat dapat dicarikan solusi yang tepat. “Karena itu saya sangat dibantu sejumlah ulama dan kawan aktifis organisasi yang mendukung kolektifitas tersebut,” tandasnya.?

Kiai Miftah berharap kolektifitas dan kewibawaan ulama yang selama ini menjadi ciri khas di PWNU Jatim dapat dipertahankan. “Bila memungkinkan dapat dinaikkan kualitas dan intensitasnya,” harapnya.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nahdlatul Ulama, Kiai, Doa RMI NU Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Ketua Baru IPNU Ponorogo Janji Tambah Anak Cabang dan Komisariat

Ponorogo, RMI NU Tegal

Ketua baru Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Roni Yudianto mengatakan, pihaknya akan segera bekerja dengan merumuskan? konsep pengembangan IPNU Ponorogo ke depan.? Rumusan tersebut akan ditindaklanjuti dengan langkah nyata, di antaranya pendirian PAC baru di beberapa kecamatan yang belum terbentuk.

Ketua Baru IPNU Ponorogo Janji Tambah Anak Cabang dan Komisariat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Baru IPNU Ponorogo Janji Tambah Anak Cabang dan Komisariat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Baru IPNU Ponorogo Janji Tambah Anak Cabang dan Komisariat

“IPNU Ponorogo akan segera melakukan silaturahmi dan menjalin kerja sama dengan LP Ma’arif NU Ponorogo dalam usaha mendirikan komisariat di sekolah-sekolah yang berbasis NU,” katanya.

Selain itu, hal krusial yang mendapat perhatian serius dari pengurus IPNU Ponorogo baru adalah terkait peningkatan sumber daya manusia pengurus dan anggota IPNU. Penataan kembali pola kaderisasi dalam tubuh IPNU juga dianggap perlu.

RMI NU Tegal

Roni terpilih sebagai ketua IPNU Ponorogo masa khidmah 2016-2018, menggantikan ketua IPNU Ponorogo domisioner, Muhammad Dardiri, dalam Konferensi Cabang (Konfercab) XXVI IPNU yang dirangkai dengan peringatan hari lahir (Harah) IPNU ke-62 di MTs MA Ma’arif Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo.

Dalam forum musyawarah tertinggi pelajar NU Kota Reog yang berangsung 26-28 Februari 2016 tersebut Roni memperoleh suara terbanyak, yakni 22 suara. Ia mengungguli rekanya Eko Triono yang memperoleh 11 suara. Sedangkan 1 suara tidak sah. Peserta Konfercab yang memberikan suara terdiri dari Pengurus Anak Cabang (PAC), Pengurus Komisariat, dan Pengurus Ranting IPNU se-Kabupaten Ponorogo.

RMI NU Tegal

Konfercab bertema “Loyalitas dan Integritas Pelajar Islam untuk Ulama dan Bangsa” ini juga diisi dengan kegiatan seminar Extreme Motivation menyongsong generasi emas dengan pemateri Mufarrihul Hazin.

Selain dihadiri oleh puluhan kader, Konfercab juga dihadiri oleh Muspika Kecamatan Balong, Majelis Wakil Cabang (MWC) NU, Perwakilan Badan Otonom serta pengurus cabang IPNU Ponorogo. (Zaenal Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nahdlatul Ulama RMI NU Tegal

Banser Turut Jaga Keamanan Nyepi di Bali

Buleleng, RMI NU Tegal 

Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng Bali, menerjunkan sedikitnya 150 anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dalam rangka perayaan serangkain Hari Raya Nyepi. Kegiatan partisipatif ini tersebar hampir di seluruh Desa di Kecamatan Gerokgak. Keikutsertaan Banser dalam pengamanan ini, sesuai dengan kesepakatan pada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kecamatan Gerokgak.

Dalam penugasannya, Banser bersama sama dengan Pecalang ikut pengamanan, baik saat pawai ogoh ogoh, maupun saat hari puncak nyepi.

Banser Turut Jaga Keamanan Nyepi di Bali (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Turut Jaga Keamanan Nyepi di Bali (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Turut Jaga Keamanan Nyepi di Bali

Sekretaris PAC GP Ansor Gerokgak Ahmad Syarifuddin Baharsyah mengatakan penugasan anggota Banser ini semata sata untuk menjaga keharmonisan antarumat beragama.

"Para leluhur kita sudah mewarisi suasana kebersamaan yang begitu nyaman, tidak pernah ada gejolak, sehingga wajib kita mempertahankannya," ujarnya

Pengaman bersama antara Pecalang dan Banser dimulai dari kemarin, Senin (27/8), sehari sebelum Hari Raya Nyepi Selasa (28/3). Sejak kemarin umat Hindu seluruh Bali mengadakan upacara pengrupukan yang ditandai dengan pawai Ogoh-ogoh di masing masing desa.

RMI NU Tegal

Ogoh ogoh sendiri merupakan mainfestasi dari energi negatif yang kemudian nantinya harus dimusnahkan sebelum masuk pada Catur Bratha Penyepian.

Mulai hari ini tanggal 28 pukul 06.00 Wita segala aktivitas di Pulau Bali akan berhenti, dan akan berakhir pada Pukul 06.00 Wita 29 Maret 2017. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Ulama, Nahdlatul Ulama RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock