Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah

Jakarta, RMI NU Tegal. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar Wisuda IV (Ke-4), Selasa (29/9) di Gedung Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta Timur. Dengan jumlah total lulusan yang sudah mencapai 1033 orang, Perguruan Tinggi yang berada di bawah naungan PBNU ini akan terus berkomitmen menjaga tanggung jawab Nahdliyah.

Demikian disampaikan oleh Kepala Badan Pelaksana dan Penyelenggara Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (BP3TNU), Drs KH Mujib Qulyubi, MH saat menyampaikan sambutan di depan 386 wisudawan dan wisudawati, serta para tamu undangan yang memadati Gedung Sasono Langen Budoyo.

Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah

“Tanggung jawab Nahdliyah ini akan terus melekat kepada para lulusan STAINU Jakarta dengan selalu memegang teguh dan mengamalkan ajaran-ajaran Aswaja ala NU,” terang pria yang juga menjabat Katib Syuriyah PBNU itu sesaat setelah Ketua STAINU Jakarta, dr H Syahrizal Syarif, MPH, PhD menyampaikan sambutan.

RMI NU Tegal

Kiai Mujib juga menegaskan, lulusan STAINU Jakarta jelas statusnya dan jelas sanad kelimuannya. Hal ini ditegaskan dengan hadirnya beberapa pejabat tinggi di lingkungan Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI serta Ketua Umum PBNU beserta jajaran ketua lainnya.

“Hal ini saya sampaikan terkait informasi wisuda ilegal sebuah perguruan tinggi yang tersebar di media beberapa waktu lalu,” jelas mantan Ketua STAINU Jakarta ini.

RMI NU Tegal

Dia melanjutkan, sanad kelimuan yang terbangun secara akademik di STAINU Jakarta juga sangat jelas. Karena kelimuan yang berasal dari Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU, tegas Kiai Mujib, dijamin menyambung hingga kepada Nabi Muhammad saw.

Dalam kegiatan wisuda ini, hadir Ketua Umum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU, KH Abdul Manan Ghani dan Dr H Marsudi Syuhud, serta Wakil Ketua Kopertais I DKI Jakarta, Dr Abdul Wahid Hasyim. Hadir juga menyampaikan orasi ilmiah, Dirjen Pendidikan Islam, Kemenag RI, Prof Dr Kamaruddin Amin, beserta jajaran pejabat Kemenag lainnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan RMI NU Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Aksi Teroris Perancis Munculkan Islamophobia

Depok, RMI NU Tegal. Deputi Direktur International Conference of Islamic Scholars (ICIS) Arif Zamhari menyesakan aksi teroris di Perancis telah memunculkan kembali sikap islamphobia, ketakutan sebagian warga dunia terhadap Islam, meski perburuan terhadap pelaku teror di kantor majalah mingguan satir terkenal"Charlie Hebdo" yang menewaskan 12 orang itu telah berakhir.

Aksi Teroris Perancis Munculkan Islamophobia (Sumber Gambar : Nu Online)
Aksi Teroris Perancis Munculkan Islamophobia (Sumber Gambar : Nu Online)

Aksi Teroris Perancis Munculkan Islamophobia

Arif menegaskan, aksi tindakan tersebut bukan dari Islam dan ICIS  secara tegas mengecam aksi teroris itu. Namun, lanjutnya, masyarakat setempat mengira para pelaku adalah bagian dari perilaku umat  Islam. 

“Terbukti dengan serangan granat oleh kelompok setempat di sebuah masjid di Kota Le Mans, Perancis sehari setelah insiden penembakan Charlie Hebdo," terang menantu KH. Hasyim Muzadi ini, Ahad, (11/1).

RMI NU Tegal

Menurut Arif, proses kebijakan pemerintah Perancis terhadap umat Islam di negara tersebut masih menyisakan masalah. Untuk itu, tambahnya, perlu ada perbaikan dari pemerintah Perancis sendiri dalam memperlakukan umat Islam sehingga diskriminasi tidak terjadi. 

RMI NU Tegal

“Proses integrasi  umat Islam ke dalam sebuah kebijakan negara harus menjadi perhatian pemerintah Perancis,” tutur Doktor lulusan Australian National University (ANU) ini. (Aan Humaidi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan, Ahlussunnah, Kajian Islam RMI NU Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

Gus Edi Wafat, Pesantren Tambakberas dan NU Jombang Berduka

Jombang, RMI NU Tegal. Kabar duka tersiar dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas dan PCNU Jombang Jawa Timur. Salah seorang pimpinan di pesantren setempat yang juga salah seorang Ketua PCNU Jombang, Ir. H. Edi Labib Patriadin wafat, Ahad (11/10) siang.

Gus Edi Wafat, Pesantren Tambakberas dan NU Jombang Berduka (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Edi Wafat, Pesantren Tambakberas dan NU Jombang Berduka (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Edi Wafat, Pesantren Tambakberas dan NU Jombang Berduka

Kabar yang diterima, Gus Edi, sapaan akrabnya, mengembuskan nafas terakhir sekitar pukul 12.30 Wib di Rumah Sakit Airlangga Jombang setelah beberapa hari sebelumnya menjalani perawatan.

"Meskipun meninggal siang hari, tapi prosesi shalat jenazah dan penguburan Gus Edi dilakukan bakda shalat Isya," kata Ema Umiyyatul Chusnah, Ketua PC Fatayat NU Jombang yang juga bendahara di PPBU. Hal tersebut dilakukan karena masih menunggu keluarga dari sejumlah kota.

RMI NU Tegal

Pantauan media ini, sekitar pukul 19.00 WIB kegiatan shalat jenazah dilangsungkan di Masjid Jami pesantren setempat. KH Djamaluddin Ahmad didapuk sebagai imam dan memipin tahlil sekaligus doa untuk jenazah.

RMI NU Tegal

Ribuan santri, ustadz, gus dan kiai dari sekitar Jombang, serta berbagai kota terlihat memenuhi masjid legendaris pesantren tersebut. Bahkan saat membacakan doa tahlil, KH Djamaluddin Ahmad sempat terisak yang diikuti amin para jamaah.

KH Hasib Wahab sesaat sebelum jenazah diberangkatkan ke pemakaman keluarga, mengungkapkan bahwa Gus Edi adalah pegiat sejati. "Sejak awal, ia mendermabhaktikan waktu dan tenaga serta semua yang dimiliki untuk pesantren dan NU," terangnya. Bahkan saat Muktamar ke-33 NU yang antara lain dilangsungkan di pesantren ini, kiprah Gus Edi sangatlah vital. Di kepanitiaan, nama Gus Edi bahkan dipercaya sebagai kiai penghubung tingkat pesantren, lanjutnya.

Gus Edi dimakamkan di pesarean keluarga pesantren,  yakni satu kompleks dengan almarhum KH Abdul Wahab Chasbullah. Tampak mengiringi ke pemakaman yakni Nyai Hj Mundjidah Wahab selaku salah seorang pengasuh pesantren serta Wakil Bupati Jombang.

Sebelum menjabat sekretaris umum pesantren, Gus Edi pernah menjabat sebagai Dewan Pengawas PPBU tahun 2006 – 2009. Gus Edi merupakan putra KH. Najib Wahab yakni putra ketiga pendiri dan penggerak NU KH. Abdul Wahab Chasbullah. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan, Ulama RMI NU Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Masih Terbuka Upaya Diplomasi

London, RMI NU Tegal. Menteri Muda Luar Negeri AS, Nicholas Burns, Selasa (27/3), mengungkapkan bahwa masih terbuka kemungkinan upaya diplomasi untuk mengatasi ketegangan antara Iran dan komunitas internasional kaitannya dengan program pengayaan uraniumnya.

Kepada harian Financial Times, Burns mengatakan bahwa AS “telah dengan sabar membantu menciptakan koalisi internasional yang besar ini,” mengacu pada keputusan Dewan Keamanan PBB pada Sabtu lalu untuk menjatuhkan sanksi kepada Iran atas ambisi nuklirnya.

Masih Terbuka Upaya Diplomasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Masih Terbuka Upaya Diplomasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Masih Terbuka Upaya Diplomasi

“Saya kira, kita masih punya waktu untuk bekerja,” ungkap Burns kepada harian bisnis tersebut.

RMI NU Tegal

Menurutnya, diplomasi akan berhasil jika diimbangi dengan kesabaran dan ketekunan. Karena itu, tambahnya lagi, upaya diplomasi ini masih mungkin untuk dimainkan.

Burns juga mengatakan bahwa saat ini ”Iran secara internasional berada dalam posisi yang tidak menguntungkan,” mengingat lima anggota tetap DK (AS, Inggris, China, Rusia, Perancis) plus Jerman mendesak Iran untuk menghentikan aktivitas uraniumnya yang disinyalir sebagai langkah untuk pembuatan senjata nuklir.

RMI NU Tegal

Pihaknya mengatakan bahwa kepemimpinan Iran bukanlah “sebuah rezim yang monolitik,” namun suatu pemerintahan yang didalamnya banyak pihak menginginkan perundingan guna mencari solusi terbaik krisis nuklir Iran. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan RMI NU Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Tiga Macam Puasa Muharram

Puasa muharram adalah puasa yang sangat dianjurkan setelah puasa di bulan Ramadhan. Hal ini merujuk kepada hadis riwayat Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah.

? ? ? ? ? ? ?: «? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?»

Tiga Macam Puasa Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Macam Puasa Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Macam Puasa Muharram

Rasulullah SAW berkata, ‘Puasa paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yakni Muharram. Sementara sholat paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam.”

RMI NU Tegal

Hadis ini menjelaskan bahwa puasa Muharram adalah puasa yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. Karenanya, disunahkan melakukannya bagi yang mampu. Hadis di atas tidak secara spesifik kapan waktu puasa yang dianjurkan, apakah setiap hari atau pada hari tertentu saja di bulan Muharram.

Terkait hal ini, Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (syarah sunan Tirmidzi) menyebutkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

RMI NU Tegal

Puasa Muharram ada tiga bentuk. Pertama, yang paling utama ialah puasa di hari kesepuluh beserta satu hari sebelum dan sesudahnya. Kedua, puasa di hari kesembilan dan kesepuluh. Ketiga, puasa di hari kesepuluh saja.

Tiga tawaran ini setidaknya menjadi opsi yang baik dalam mengamalkan puasa sunah di bulan Muharram. Kalaupun tidak begitu, bisa saja puasa Senin-Kamis atau puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 (ayyamul bidh) di bulan Muharram bagi mereka yang terbiasa mengamalkannya di bulan lain. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Berita, Pendidikan RMI NU Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Pesan Ketua PWNU di Kopdar Netizen NU Jawa Barat

Bandung, RMI NU Tegal. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, KH Hasan Nuri Hidayatullah mengatakan jika keberadaan media sosial hendaknya dijadikan sebagai wasilah atau perantara untuk mencerdaskan masyarakat, terutama masyarakat dunia maya (Netizen).

Pesan Ketua PWNU di Kopdar Netizen NU Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Ketua PWNU di Kopdar Netizen NU Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Ketua PWNU di Kopdar Netizen NU Jawa Barat

"Diakui atau tidak hari ini sudah mulai banyak sekali perkembangan media sosial yang justru menimbulkan keresahan. Untuk itu kita harus bisa menggunakan media sosial tersebut menjadi manfaat untuk masyarakat," ujar Kiai Hasan dalam kegiatan Kopi Darat (Kopdar) Netizen NU Jawa Barat di Aula Dakwah PWNU, Jalan Terusan Galunggung, Kota Bandung, Kamis (19/1).

Dengan perkembangan media sosial tersebut, dirinya berharap kepada warga NU khususnya di Jawa Barat agar bisa melek dan tidak ketinggalan terhadap perkembangan modernisasi tersebut.

"Karena pada prinsipnya, perkembangan modernisasi dengan memanfaatkan media sosial tersebut bisa dijadikan sebagai wahana edukasi dan transformasi ilmu pengetahuan," ujar Pengasuh Pondok Pesantren As-Shidqiyah 3 Cilamaya, Karawang tersebut.

RMI NU Tegal

Dirinya juga mengimbau kepada seluruh elemen NU agar tidak mudah terprovokasi dengan perkembangan medsos yang meresahkan dan maraknya pemberitaan hoax.

"Maraknya pemberitaan hoax, fitnah, caci maki dan ujaran kebencian janganlah kita membalasnya dengan melakukan hal yang sama. Kita harusnya bisa mencerminkan sebagai kaum terdidik sehingga ketika medsos ada ditangan kita, maka akan menjadi baik," tandasnya.

Untuk mencapai penguasaan media informasi tersebut, saat ini pihaknya telah memiliki website resmi PWNU Jawa Barat sebagai wahana transformasi dan edukasi serta ajang shilaturahmi seluruh warga NU di laman www.nujabar.or.id.

RMI NU Tegal

"Ini terbuka untuk seluruh warga NU. Silakan kirim tulisan dan informasi yang bermanfaat untuk dibaca. Adanya website tersebut untuk menambah wawasan dan khazanah keilmuan," pungkasnya.?

Hadir dalam kesempatan tersebut Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, salah satu Ketua PBNU Robikin Emhas, Ketua LD PBNU KH Maman Imanulhaq, dan sejumlah kader NU di Jawa Barat. (Ade Mahmudin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan, Kajian Islam RMI NU Tegal

Lahirnya Kelompok Intelegensia Islam Tradisional

Oleh W Eka Wahyudi

Tahun 1950-an merupakan era pembentukan kelompok ? intelegensia di kalangan Islam tradisionalis. Fenomena ini merupakan imbas dari kelompok reformis-modernis yang telah menjadi bagian dari elite-politik penguasa pada saat itu. Salah satu indikasinya adalah dilegitimasinya PII dan HMI sebagai organisasi satu-satunya bagi pelajar dan mahasiswa Muslim pasca keputusan Kongres al-Islam pada tahun 1949 (Yudi Latif, 2013: 391 ), yang pada gilirannya menggeser peranan kalangan tradisionalis dari dinamikan organisasi nasional.

Lahirnya Kelompok Intelegensia Islam Tradisional (Sumber Gambar : Nu Online)
Lahirnya Kelompok Intelegensia Islam Tradisional (Sumber Gambar : Nu Online)

Lahirnya Kelompok Intelegensia Islam Tradisional

Realitas ini kemudian menimbulkan gejolak bagi para mahasiswa yang mempunyai kultur Islam tradisionalis pondok pesantren. Karena, para pemuda dari kalangan pesantren sulit mendapatkan tempat dan cenderung tidak diakomodasi aspirasi-aspirasinya di dalam organisasi. Disinyalir, hal ini juga merupakan dampak dari mencuatnya friksi yang terjadi antara NU dan Masyumi pada tahun 1950-1960 an. “perseteruan” ini belakangan mengkooptasi kalangan pelajar dan mahasiswanya.

Sehingga, para mahasiswa yang berlatar belakang dari kalangan Islam tradisional sering mengkonsolidir potensi-potensinya di kos-kosan daerah Bumijo, Yogjakarta (kawasan sebelah barat perempatan Tugu) guna merumuskan dengan matang gerakan kaum muda NU pada selanjutnya. Desakan akan kebutuhan terhadap wadah pembinaan pelajar NU inipun, disambut dengan momentum diselenggarakannnya Konferensi LP. Ma’arif di Semarang pada bulan Februari 1954. Sehingga, gagasan progresif kaum muda NU tersebut dijadikan sebagai salah satu agenda pembahasan dalam pelaksanaan Konferensi. ? Secara ringkas, akhirnya dalam Konferensi LP Ma’arif kala itu, berhasil mengesahkan berdirinya organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) yang saat itu bertepatan pada tanggal 24 Februari 1954/ 20 Jumadil Akhir 1373 H. walhasil, tanggal inilah yang dinobatkan sebagai hari lahirnya organisasi pelajar NU.

Pada tanggal itulah merupakan periode kelahiran kelompok intelegensia kalangan Islam tradisionalis yang pada masa depan mampu memberikan khazanah pada dinamika keorganisasian di Indonesia. Gebrakan lahirnya para cendikia di kalangan NU ini menyusul semakin pesatnya para mahasiswa yang mempunyai latar belakang Islam tradisional masuk ke universitas-universitas pada tahun 1950-an. Diantaranya: Tolchah Mansoer (UGM), Ismail Makky dan Munsif Nachrowi (IAIN Yogjakarta), Mahbub Djunaidi (UI) dan beberapa kelompok kaum muda terdidik lainnya seperti Mustahal Ahmad, Sofyan Kholil dan Abdul Ghani Farida.

Peningkatan jumlah mahasiswa tradisionalis ini, terutama juga disebabkan pasca pendirian perguruan-perguruan tinggi agama islam. Misalnya, di luar IAIN pada saat itu, berhasil didirikan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Solo pada tahun 1958, walaupun hanya satu fakultas, yakni syariah.?

RMI NU Tegal

Selanjutnya, pasca deklarasi pendirian IPNU melalui muktamar LP Ma’arif, tepatnya dua bulan kemudian pada tanggal 30 April s/d 1 Mei 1954, ? IPNU menyelenggaran Konferensi “Segi Lima”. Kenapa Konferensi ini disebut segi lima? karena pada saat itu dihadiri oleh kalangan assabiqunal awwalun IPNU yang terdiri dari lima daerah yakni; Jombang, Yogjakarta, Solo, Semarang dan Kediri.?

Konferensi ini kemudian menghasilkan kesepakan yang menandai kerja kelompok intelegensia Islam tradisionalis, yang antara lain;1) menjadikan Ahlusunnah wal jamaah sebagai asas organisasi, 2) tujuan organisasi yakni turut andil dalam mengemban risalah islamiyah, 3) mendorong kualitas pendidikan agar lebih baik dan merata, serta 4) mengkonsolidir kalangan pelajar. ?

RMI NU Tegal

Munculnya, kelompok cendikia “jenis baru” ini pada gilirannya menandakan perkembangan perspektif oleh kaum muda tradisionalis terhadap isu-isu rasionalisme, teknologi, pendidikan modern dan kondisi sosial . Sehingga pada kurun waktu tersebut NU telah memiliki lapisan intelegensianya tersendiri.?

Namun, corak intelegensia yang dimiliki oleh kaum muda ini berbeda dengan Muhammdiyah. Jika kalangan muhamaddiyah cenderung terilhami oleh gerakan pembaharu Muhammd Abduh yang modernis, namun kalangan muda NU tetap mempertahankan sikap konservatifnya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan tradisi. Sehingga, jenis tipologi intelegensia kaum muda NU yang dalam hal ini direpresentasikan oleh IPNU lebih cocok jika dikategorikan sebagai “konservatif-modernis”. Yaitu tipe pemikiran yang sudah terbuka dengan pandangan-pandangan modern, namun tetap memelihara sekaligus menjaga kearifan dan keluhuran tradisi. Sebuah karakter pemikiran yang relevan diterapkan di Indonesia.

Selamat Harlah IPNU ke 63, Salam Belajar, Berjuang dan Bertaqwa.

Penulis adalah Direktur Lembaga Komunikasi Perguruan Tinggi Pimpinan Pusat IPNU

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax, Pendidikan, Warta RMI NU Tegal

Senin, 29 Januari 2018

149 Calhaj Probolinggo Tuntaskan Pembuatan Paspor

Probolinggo, RMI NU Tegal. Sebanyak 149 calon haji (calhaj) asal Probolinggo menyelesaikan pemotretan paspor di Kantor Imigrasi Cabang Malang. Kini kewajiban mereka beralih pada pelunasan biaya yang telah ditetapkan pemerintah.

149 Calhaj Probolinggo Tuntaskan Pembuatan Paspor (Sumber Gambar : Nu Online)
149 Calhaj Probolinggo Tuntaskan Pembuatan Paspor (Sumber Gambar : Nu Online)

149 Calhaj Probolinggo Tuntaskan Pembuatan Paspor

Terkait paspor, ketentuannya tertera pada Peraturan Pemerintah Nomor 31/2013 tentang Pembuatan Paspor. Dalam Pasal 49 disebutkan persyaratan yang diperlukan adalah KTP yang masih berlaku, KK (Kartu Keluarga) dan akte kelahiran.

“Itu tata cara yang sudah ditetapkan kantor imigrasi,” ujar Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kantor Kemenag Kota Probolinggo Samsuri, Rabu (6/5).

RMI NU Tegal

Berbeda dengan pembuatan paspor pada umumnya, calhaj tidak langsung menerima paspor. Paspor haji akan diterima saat pemberangkatan. Terkait dengan jadwal, Samsuri mengaku masih belum mengetahui. Biasanya jadwal baru diputuskan setelah pembuatan paspor secara nasional tuntas.

RMI NU Tegal

“Sekarang masih pembuatan paspor secara nasional,” jelasnya.

Samsuri mengatakan, jika dibandingkan dengan tahun lalu, kuota Kota Probolinggo tahun ini lebih sedikit. Tahun lalu jumlahnya mencapai 150 orang. Namun yang gagal berangkat sejumlah 17 orang karena tidak melunasi Biaya Pemberangkatan Ibadah Haji (BPIH).

Sampai saat ini batas waktu pelunasan BPIH belum ditetapkan pemerintah. “Yang baru ditentukan adalah biayanya sebesar USD 2.717 atau setara dengan Rp. 33.962.500. Kalau jadwalnya masih belum ada,” terangnya.

Sebanyak 17 calhaj yang gagal berangkat pada tahun lalu otomatis masuk dalam daftar tunggu tahun ini. Selain itu mereka masuk pada kelompok prioritas dan berada di urutan teratas daftar calhaj tahun ini.

Menurut Samsuri, pengurangan kuota calhaj itu merupakan kewenangan pemerintah pusat. Ia mengaku tidak tahu indikator penentuan kuota tersebut. “Semua berdasarkan sistem yang dibuat pusat. Kami hanya menerima data pada calhaj yang dinyatakan berangkat tahun ini,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan, Habib RMI NU Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

PP IPPNU Rintis Sekolah Perdamaian di Empat Daerah

Jakarta, RMI NU Tegal. Pimpinan Pusat IPPNU merintis program ‘Sekolah Perdamaian Untuk Pelajar’ di empat daerah rawan kekerasan. PP IPPNU dalam masa kepengurusan 2012-2015 menunjuk kota Poso, Makassar, Bima, dan Solo.

Demikian dikatakan oleh Ketua Bidang Keorganisasian PP IPPNU Dewi Chandra kepada RMI NU Tegal di ruang sekretariat PP IPPNU, Kantor PBNU lantai enam, Jakarta Pusat, Senin (18/2) malam.

PP IPPNU Rintis Sekolah Perdamaian di Empat Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
PP IPPNU Rintis Sekolah Perdamaian di Empat Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

PP IPPNU Rintis Sekolah Perdamaian di Empat Daerah

“Empat daerah itu dinilai sebagai titik rawan kekerasan yang berlandaskan ideologi keagamaan. Ukurannya diambil dari tingginya kasus kekerasan agama di empat daerah itu,” tegas Dewi Chandra.

Menurut Dewi, program sekolah perdamaian mengambil bentuk penyuluhan dan kegiatan deradikalisasi pelajar. Program ini juga menyediakan buku berisi antikekerasan dengan format yang menarik bagi kalangan pelajar.

RMI NU Tegal

Dalam menjalankan program ini, PP IPPNU bermitra dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme BNPT. Ketua Umum PP IPPNU bersama sejumlah jajaran pimpinan pusat lainnya diterima oleh Direktur Deradikalisasi BNPT Irfan Idris di kantor BNPT, jalan Imam Bonjol nomor 53 Menteng, Jakarta Pusat, Senin (18/2) siang. 

Target program ini tambah Dewi, memberikan visi dan pemikiran antikekerasan di kalangan pelajar. Program ini ke depan membidik pelajar sekolah menengah pertama, menengah atas hingga perguruan tinggi semester-semester awal. Bahkan, IPPNU akan memasuki pesantren yang mengajarkan pemikiran ramah terhadap kekerasan seperti pesantren Abu Bakar Ba‘asyir di Solo.

Program bertajuk sekolah perdamaian ini akan bergerak selambatnya bulan Juni 2013 mendatang, tandas Dewi Chandra ditemani beberapa rekanita PP IPPNU yang tengah mempersiapkan pelantikan PP IPPNU awal Maret 2013.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan, Warta, Kyai RMI NU Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Mahasiswa STAINU Selesaikan Program Kelas Internasional

Kenitra, RMI NU Tegal. Program Kelas Internasional kerjasama Kemenag RI Direktorat PD. Pontren, STAINU Jakarta dan Universitas Ibnu Thufail yang diikuti 21 mahasiswa STAINU Jakarta telah selesai dilaksanakan, Rabu (2/01/13).

Demikian dikatakan oleh Dr Narullah Jasam yang telah tiba di Maroko pada tanggal 1 Januari 2013.? Program tersebut berlangsung selama kurang lebih 1 tahun, dihitung sejak kedatangan mereka pada bulan Januari tahun 2012 sampai tanggal 2 Januari 2013.

Mahasiswa STAINU Selesaikan Program Kelas Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa STAINU Selesaikan Program Kelas Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa STAINU Selesaikan Program Kelas Internasional

Di dalam kelas reguler para peserta menimba ilmu bahasa Arab serta ilmu-ilmu keislaman lainnya, setiap hari mereka berbaur dengan mahasiswa Maroko dan juga mahasiwa asing lainnya.

Pada hari itu juga, bertempat di Fakultas Adab Universitas Ibnu Thufail menggelar perpisahan dan pemberian sertifikat. Turut hadir dalam acara tersebut dari pihak Universitas ? Ibnu Thufail, Dr Abdul Hanin Bel Haj Dekan Fakultas Adab, Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Kerjasama Dr Jamal al Karkuri, sekretarus Dekan Hamid Bense, dan dari Jurusan Islamic Studis Dr al Bukiri Ahmad, dari pihak STAINU Jakarta, Pembantu Ketua II Dr Nasrullah Jasam, dari KBRI Rabat, Suparman Hsibuan dan Dedi Rinaldi.

RMI NU Tegal

Dalam acara tersebut juga diserahkan sertifikat hasil studi mahasiswa STAINU Jakarta, Nuris Zein dan Irfan Prasetyo meraih nilai tertinggi masing-masing dalam bidang Study Islam dan Bahasa Arab. Dalam kesempatan itu, Dekan Fakultas Adab dan jajarannya memberikan apresiasi luar biasa kepada mahasiswa STAINU Jakarta yang telah mengikuti program tersebut dengan baik.?

Sementara Dr Nasrullah Jasam yang mewakili STAINU Jakarta mengucapkan ribuan terimakasih kepada Dekan fakultas Adab yang telah memberikan kesempatan kepada Mahasiswa STAINU Jakarta menimba ilmu di Fakultas Adab Universitas Ibnu Thufail, hal senada juga disampaikan oleh Suparman Hasibuan (Pensosbud KBRI Rabat) dan Dedi Rinaldi (Staff Pensosbud KBRI Rabat).

RMI NU Tegal

Pada kesempatan tersebut juga dibicarakan mengenai keberangkatan angkatan ke II Program Kelas Internasional yang berjumlah 15 orang kerjasama Kementrian Agama RI Direktorat PD. Pontren, STAINU Jakarta dan Universitas Ibnu Thufail yang akan di berangkatkan akhir Januari 2013.?

Menanggapi hal itu, Dekan Fakultas Adab sangat antusias dan senang dengan keberlanjutan Program ini, beliau mengatakan bahwa fakultas Adab siap menyambut dengan baik dan memberikan kesempatan untuk angkatan ke II belajar seperti halnya angkatan ke I, beliau juga memberikan beberapa masukan terkait dengan Program ini agar bisa berjalan lebih maksimal.

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Kusnadi El-Ghezwa

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Olahraga, Pendidikan RMI NU Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Kisah Nyata Ulama Dikubur dan Hidup Kembali

Suatu saat, Abdullah bin Umar Al Baidlawi sudah dianggap meninggal oleh orang-orang di sekitarnya. Usai dirawat sebagaimana jenazah pada lazimnya, ia dikebumikan dan diratakan tanah di atas pusaranya. Namun, setelah dikubur, Abdullah ternyata belum mati. Hanya jantung dan napasnya yang berhenti sementara.

Demikian dikatakan Habib Abdullah bin Abdurrahman Al-Muhdlar dari Hadramaut, Yaman saat menjawab pertanyaan salah satu pengunjung tentang mati suri dalam acara Haflah Akhir Sanah Pesantren Darut Tauhid Al Huda, Jatilawang, Wanayasa, Banjarnegara, Rabu (25/5).

Kisah Nyata Ulama Dikubur dan Hidup Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Nyata Ulama Dikubur dan Hidup Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Nyata Ulama Dikubur dan Hidup Kembali

Ia melanjutkan, karena orang tersebut hidup namun tidak bisa keluar dari dalam kuburan, Abdullah bin Umar kemudian bernadzar. Jika saya bisa hidup kembali ke dunia sebagaimana semula, aku bernadzar akan menafsiri Al-Qur’an.

RMI NU Tegal

Ternyata, tidak sampai selang waktu lama, ada seorang yang berprofesi sebagai pencuri kain kafan datang menggali kuburan di mana Abdullah dikebumikan. Ia kaget bukan kepalang. Jenazah yang ia gali dapat bergerak sendiri. Ia pun lari tunggang-langgang.

RMI NU Tegal

Habib muda ini melanjutkan, jenazah yang hidup lagi ini lalu menyeru kepada pencuri, “Hai, jangan lari, kemari! Begini, kamu ini ingin mencuri kain kafanku bukan?”

“Iya,” jawab pencuri.

“Sekarang, bawalah kain kafanku ini dan katakan kepada orang kampung suruh mereka mengirimkanku pakaian kemari,” pesan Abdullah. Dan benar, setelah kembali, Abdullah bin Umar ini menyusun tafsir Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil yang terkenal dengan Tafsir Al-Baidlawi.

Habib Muhdlar menyimpulkan dengan adanya kisah tersebut, bahwa siapa pun dalam memutuskan perkara harus ada kalimat wallahu a’lam. Manusia hanya memutuskan yang tampak lahir saja. Sedangkan hakikatnya hanya Allah yang maha tahu.

“Seperti dokter di akhir zaman ini yang langsung memvonis mati salah satu pasien, misalnya. Mereka tanpa mengatakan allahu a‘lam. Padahal ini hanya pengetahuan saja. Bukan hakikat sebagaimana yang terjadi dalam cerita di atas,” tandasnya.

Maka tak jarang, lanjutnya, banyak orang mati yang hakikatnya belum mati namun ia mati justru baru saat ia dikubur, karena ia tak bisa bernapas atau yang lainnya sedangkan dokter memang sudah memberikan vonis mati. Di sinilah pentingnya kalimat allahu a’lam.

Terakhir, dai dari Yaman ini berpesan supaya tidak terlalu terburu-buru dalam mengurus jenazah. Cepat itu perlu, tapi jangan terlalu. Ciri-ciri orang mati setidaknya ada tiga hal, di antaranya hidung yang sudah melenceng, seperti meleleh ke samping, telapak kaki yang sudah tidak tegak ke atas, dan mulut yang berbau busuk. (Mundzir/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pertandingan, Pendidikan, Kajian Sunnah RMI NU Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Helmy Faishal Sebut Tiga Poin Penting untuk IPPNU

Jakarta, RMI NU Tegal - Seketaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini menyampaikan tiga hal penting bagi IPPNU dalam sambutannya pada puncak Harlah Ke-62 tahun Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Gedung PBNU Lantai 8, Sabtu, (11/3/17).

Ia berpesan agar IPPNU untuk terus setia mengawal Pancasila dan NKRI serta melakukan upaya-upaya pendekatan kualitas berkeluarga pada pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.

Helmy Faishal Sebut Tiga Poin Penting untuk IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Helmy Faishal Sebut Tiga Poin Penting untuk IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Helmy Faishal Sebut Tiga Poin Penting untuk IPPNU

Menurutnya, hal pertama yang harus dilakukan IPPNU adalah dengan melakukan konsolidasi organisasi.

RMI NU Tegal

“Begitu banyak sekolah-sekolah yang belum berlabel IPPNU, sementara pengaruh radikalisme, narkoba, kekerasan dan juga deras informasi yang luar biasa bebasnya, tidak dilengkapi dengan literasi yang memadai, maka dalam konteks membangun konsolidasi organisasi ini diperlukan terobosan-terobosan, agar IPPNU ini jumlahnya terus bertambah.”

Terkait kaderisasi dan program, ia meminta IPPNU hendaknya segera melakukan langkah-langkah apa yang disebut dengan kehadiran di tengah-tengah masyarakat.

RMI NU Tegal

“Tentu yang kita harapkan adalah kerja nyata dalam konteks membangun solidaritas sosial kemanusiaan yang sekarang ini tentu membutuhkan uluran tangan dari kita semua,” jelasnya.

Pesan kedua yang ia sampaikan terkait identitas yang melekat pada IPPNU adalah pelajar. Ia menyampaikan tentang pendidikan.

“Catatan paling penting dari lembaga PISA (Programme for International Student Assessment) yang sudah melakukan riset di 72 Negara, dan hasilnya adalah pada tahun 2012, Indonesia menduduki posisi 71, tahun 2015 Indonesia sudah meningkat menempati di posisi 64, dan di tahun 2013 mungkin sudah bergeser pada peringkat 61/62, dan survei ini diukur dengan tiga pendekatan yaitu matematika, sains, dan minat baca, dari seribu pelajar yang disurvei hanya ditemukan satu orang saja yang menduduki minat baca.”

Menurutnya, indeks membaca pelajar Indonesia masih pada posisi 0,001 dengan demikian indikator pendidikan di Indonesia masih ketinggalan, karena di negara-negara maju indeks membacanya itu minimal sudah 0,046, sekitar 460 orang yang benar-benar minat baca.

Yang terakhir ia menyampaikan bahwa saat ini Indonesia menghadapi situasi yang sangat pelik, dengan masuknya paham-paham transnasional, dan dunia sosmed yang sangat mainstream.

Menurutnya, IPPNU harus mengambil peran untuk pemberdayaan ekonomi di era sosmed yang sudah menjadi trend bisnis.

“Sesuai hasil Muktamar Ke-33 NU di Jombang, yang pertama mengokohkan, meneguhkan, melaksanakan Islam Ahlussunah wal Jama’ah, ini juga harus menjadi spirit IPPNU,” imbuhnya. (Anty Husnawati/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan RMI NU Tegal

Gunungan Wayang 11 Meter Hiasi Pameran Wayang di Kaliopak

Bantul, RMI NU Tegal. Gunungan wayang setinggi 11 meter direncanakan akan turut meramaikan pameran wayang yang dilaksanakan Pesantren Kaliopak, 27-30 November 2014.

“Bahannya dari lilitan pelepah pisang dan anyaman bambu. Pembuatannya memakan waktu dua minggu lebih,” kata M Imam, ketua pelaksana kegiatan, Selasa (25/11) malam, di Pesantren Kaliopak, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.

Gunungan Wayang 11 Meter Hiasi Pameran Wayang di Kaliopak (Sumber Gambar : Nu Online)
Gunungan Wayang 11 Meter Hiasi Pameran Wayang di Kaliopak (Sumber Gambar : Nu Online)

Gunungan Wayang 11 Meter Hiasi Pameran Wayang di Kaliopak

Sebelum berdiri di lokasi pameran, gunungan wayang ini diarak atau biasa disebut kiraban. Gunungan dikirab dari Mancasan ke Dusun Klenggotan, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.

RMI NU Tegal

Pendirian gunungan yang merupakan rangkaian kegiatan “Pekan Peringatan 11 Tahun Pengukuhan Wayang Pusaka Kemanusia Dunia” ini bermaksud menandakan simbol gunungan secara filosofis. Pameran yang dilaksanakan berkat kerja sama Pesantren Kaliopak, Lesbumi, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini mengusung tema “Ngaji Wayang”.

“Ngaji wayang maksudnya untuk memahami wayang lebih dalam, bukan sekadar melihat dari luar. Bahkan, wayang bisa untuk menginternalisasi diri kita sendiri,” papar M Jadul Maula, pendiri Pesantren Kaliopak.

RMI NU Tegal

Pameran ini menghadirkan karya dari 17 seniman. Di antaranya Agus Nuryanto, Ardian Kresna, Indiria Maharsi, Ki Suharno Cermo Sugondho, Nasirun, dan Yoyo. Karya lukis yang dihadirkan mencapai 24 karya. (Red: Mahbib)

?

Foto: Kitab gunungan wayang 11 meter

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan, Warta RMI NU Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Sambut Ramadhan, Remaja Masjid Darul Muwahhidin Gelar Sulukan

Bondowoso, RMI NU Tegal - Remaja putra dan putri Masjid Darul Muwahhidin menggelar pengajian umum di halaman masjid setempat Desa Gambangan Kecamatan Maesan Kabupaten Bondowoso, Ahad (29/5) malam. Mereka melantunkan shalawat yang dikemas dengan metode sulukan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.

Pengasuh Pesantren Raudlatul Ulum KH Soleh Ahmad Sukowono Jember saat diwawancarai RMI NU Tegal menjelaskan, "Pengajian ini dikemas dengan metode sulukan, semacam diskusi santai. Diskusi santai saja yang dikemas dengan sharing, Tanya-jawab."

Sambut Ramadhan, Remaja Masjid Darul Muwahhidin Gelar Sulukan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Ramadhan, Remaja Masjid Darul Muwahhidin Gelar Sulukan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Ramadhan, Remaja Masjid Darul Muwahhidin Gelar Sulukan

Ketua IPNU Periode 1999-2001 Joni Fatahillah saat membuka acara ini mengajak peserta sulukan untuk menghidupkan forum."Mari bapak-bapak dan ibu-ibu yang mau bertanya dipersilakan bertanya," kata dia.

RMI NU Tegal

Terlihat dari pantauan RMI NU Tegal, kegiatan pengajian yang dikemas dengan sulukan tampak sangat menarik. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari jamaah muslimat dan muslimin yang dijawab oleh Kiai Soleh.

Kegiatan pengajian ini diikuti seluruh warga Gambangan dan warga dari lain desa. Pengajian umum ini diiringi? jamiyah hadrah R-Show Jember. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Pendidikan, Syariah RMI NU Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Kang Said: ISIS Lebih Kejam Dibanding Teroris

Surabaya, RMI NU Tegal. Ketua Umum PBNU mendorong aparat keamanan mewaspadai para pengikut gerakan radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang pulang ke Indonesia karena bisa menimbulkan persoalan keamanan di tanah air.

Penegasan akan bahaya ISIS disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Kapolda, Pangdam, sejumlah bupati dan wakil bupati, serta pengurus PWNU dan PCNU se Jawa Timur, Sabtu (14/3) malam.

Kang Said: ISIS Lebih Kejam Dibanding Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: ISIS Lebih Kejam Dibanding Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: ISIS Lebih Kejam Dibanding Teroris

Kang Said, panggilan akrabnya mengatakan, ISIS melalui berbagai media menunjukkan kepada dunia bahwa mereka sangat kejam. "Mereka lebih kejam bila dibandingkan dengan para teroris," ungkapnya.

RMI NU Tegal

Para teroris seperti Amrozi, Ali Ghufron, Ali Imron, dan sejenisnya masih memiliki hati nurani dengan memilah dan memilih mana kawasan yang akan dibom atau diledakkan. "Tapi kalau ISIS, mereka bisa membunuh kawan sendiri dengan sadis," katanya.

Karena itu bagi aparat keamanan khususnya polisi dan tentara, adanya kabar bahwa sejumlah warga negara telah terindikasi gerakan yang sangat mereasahkan hendaknya disikapi dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan.

RMI NU Tegal

"Tapi bapak gubernur, kapolda dan pangdan serta bupati se Jawa Timur jangan khawatir," kata Kang Said. Selama masih ada NU, maka potensi kriminalitas serta gerakan separatisme yang mengkhawatirkan NKRI tentu akan dilawan, lanjutnya.

Selain berbicara masalah ISIS, guru besar IAIN Sunan Ampel Surabaya itu juga bercerita kiprah para ulama terdahulu yang juga menjadi solusi bagi ukhuwah atau persaudaraan umat.

"Untuk di Indonesia, KH Hasyim Asyari telah berhasil memberikan konsep yang sangat jitu untuk kebersamaan dan kebhinekaan lewat konsep 3 ukhuwahnya," ungjkapnya. Karena dengan ukhuwah wathaniyah, islamiyah dan bashariyah atau insaniyah, maka perbedaan di Indonesia tidak menjadi konflik.

Justru para kiai NU yang secara kualitas tidak memiliki kemampuan ilmu dan pemahaman keagamaan yang memadai justru mampu meredam gejolak di masyarakat. "Bandingkan dengan sejumlah ulama besar di luar negeri yang memiliki karya atau kitab yang membanggakan," tandas Kiai Said.

Ulama Timur Tengah hanya memiliki karya besar, namun tidak berhasil memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga di sekitarnya, lanjutnya.

Kehadiran Kang Said ke Surabaya adalah dalam rangka Launching Sukses Muktamar ke-33 NU. Kegiatan yang dilaksanakan di area parkir utara gedung PWNU Jatim ini dimeriahkan dengan pementasan pagelaran wayang kulit oleh dalang kondang Ki Enthus Susmono dari Tegal Jawa Tengah. (Syaifullah/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan RMI NU Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Dua Macam Ibadah: Ta’abbudi dan Ta’aqquli

Ibadah dilihat dari segi jenisnya terbagi menjadi dua, pertama adalah Ta’abbudi; yaitu ibadah yang tidak ada alasannya kenapa dilakukan, seperti shalat mahgrib dikerjakan dengan tiga rakaat, karena hal itu sudah ketetapan dari Allah bahwa shalat maghrib dilaksanakan tiga rakaat.

Kedua adalah Ta’aqquli; yaitu ibadah yang ada sebab dan alasannya, seperti membersihkan anggota badan dari najis, karena jika terdapat najis pada anggota badan seseorang maka ia harus membersihkannya terlebih dahulu jika hendak menjalankan shalat.

Sebagaimana terdapat dalam Kitab Taisir Ilmi Ushulil Fiqh karya Imam Al-Anazi,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dua Macam Ibadah: Ta’abbudi dan Ta’aqquli (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Macam Ibadah: Ta’abbudi dan Ta’aqquli (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Macam Ibadah: Ta’abbudi dan Ta’aqquli

Ta’abbud adalah jenis ibadah yang tidak sebab dan alasannya, sedangkan Ta’aqquli adalah ibadah yang ada sebab dan alasannya.

Kedua jenis ibadah ini senantiasa harus dikerjakan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh syara’, semisal menjalankan shalat subuh dua rakaat, maka seseorang tidak boleh menjalankannya menjadi tiga rakaat atau lebih karena ketentuan dua rakaat adalah ketetapan dari Allah dan tidak perlu ada pertanyaan kenapa harus dikerjakan dua rakaat.

Terkadang kita dapati seseorang mencari sebab dan alasan kenapa ibadah ini dikerjakan demikian, lalu ia berdalih selama tidak menemukan sebab dan alasan ia tidak mengerjakan ibadah tersebut, maka hal ini tidak diperbolehkan. Karena jenis ibadah yang Ta’abbudi memang tidak memberi ruang gerak pada akal untuk mencari-cari kenapa dan mengapa, tetapi kerjakan saja sebagaimana ia diperintahkan.

RMI NU Tegal

Demikianlah ketentuan dua jenis ibadah yang mempunyai dua pengertian berbeda namun harus dikerjakan semuanya, jika seseorang tidak mengetahui kenapa shalat isya’ dikerjakan empat rakaat, kenapa shalat maghrib hanya tiga rakaat, kenapa shalat subuh hanya dua rakaat, maka kita kembalikan pada asalnya bahwa shalat isya’, maghrib dan subuh adalah wajib hukumnya, dan tidak ada dalih untuk tidak mengerjakan hanya karena tidak mengetahui alasannya. (Pen. Fuad H/ Red. Ulil H)?

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal News, Pendidikan RMI NU Tegal

RMI NU Tegal

Rabu, 29 November 2017

Santri Siaga Bencana Peduli Banjir Jakarta

Jakarta, RMI NU Tegal. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU telah melaksanakan Tanggap Darurat di 8 RT Kedoya Utara. Tim SSB NU (Santri Siaga Bencana) Jakarta Barat disupport oleh LPBI NU membuka dapur umum selama 4 hari, mulai selasa 15-18 Januari 2013.

Setiap hari mereka memberi makan selama dua kali untuk 1100 jiwa warga terdampak yang berada di 8 RT, yaitu RT 2, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Kedoya Utara Jakarta Barat. 

Santri Siaga Bencana Peduli Banjir Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Siaga Bencana Peduli Banjir Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Siaga Bencana Peduli Banjir Jakarta

Koordinator Posko LPBI NU Peduli Kedoya Lukman menyatakan bahwa sebuah kewajiban bagi warga NU untuk membantu masyarakat yang terkena bencana.

RMI NU Tegal

Selain membuka dapur umum di Kedoya tim LPBI NU melalui SSB NU juga membuka posko di Grogol Petamburan, Cengkareng dan daerah terdampak yang lain di Jakarta. 

RMI NU Tegal

Syamsul Bahri warga RT 8 menyambut baik inisiatif LPBI NU dengan membuka dapur umum dan menyalurkannya kepada warga di 8 RT. Karena belum ada yang memberikan bantua logistik dan makanan ke warga. Sampai saat ini sebagian warga masih mengungsi di masjid sementara warga yang tidak mengungsi, tapi tinggal di lantai 2 rumahnya membutuhkan bantuan sembako. Hal ini dikarenakan akses jalan yang masih terndam air dan kurang berjalannya roda ekonomi.

Hal ini diamini oleh Wahib dari PP LPBI NU yang akan memberikan bantuan paket sembako kepada 1100 jiwa di 8 RT Kedoya Utara dan tempat lain. 

“Semoga ini dapat membantu meringankan beban masyarakat di wilayah Jakarta Barat,” katanya. 

Di Grogol Petamburan, LPBI NU membuka posko di Masjid  Jami’ Al Ikhlas, samping banjir kanal barat, di daerah ini 12 RT terdampak banjir luapan dari banjir dari tanggul di Roxy, SSB NU telah membantu evakuasi dan membantu pemenuhan kebutuhan dasar 

Ketua PP LPBI NU, Avianto Muhtadi menjelaskan sebelum memberikan bantuan kemanusiaan, Tim Santri Siaga Bencana yang sudah terlatih dalam manajemen penanggulangan bencana melakukan assessment di area terdampak untuk mengetahui kondisi lapangan, jumlah warga yang membutuhkan bantuan dan jenis bantuan yang paling dibutuhkan. 

Hal ini dimaksudkan agar bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran dan efektif. Avianto berharap bantuan yang sudah dan sedang diberikan dapat meringankan beban masyarakat yang sedang tertimpa musibah. 

Selain itu, menurut Avianto, para relawan LPBI NU sejak awal didorong untuk membuka Posko Kemanusiaan di Masjid agar fungsi sosial Masjid dapat semakin dirasakan oleh masyarakat selain juga karena secara fisik, masjid memiliki struktur bangunan yang lebih kokoh dan lebih tinggi sehingga relatif aman dari banjir.

 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan, Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama RMI NU Tegal

Minggu, 26 November 2017

Pesantren Bisa Jadi Pusat Informasi

Surabaya, RMI NU Tegal. Penyediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil dan infrastruktur yang lengkap akan mendorong pesantren untuk semakin produktif menghasilkan ulama-ulama handal dalam memperbaiki akhlak dan moral bangsa. Di bidang ekonomi dan iptek, ke depan, diharapkan pula pesantren menjadi sentra informasi yang bermanfaat untuk masyarakat sekitarnya.

”Sebenarnya, tidak ada halangan berarti bagi pesantren untuk saling berbagi informasi dalam bidang agama, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain kepada masyarakat umum,” kata Agus Zainal Arifin, Dosen Fakultas Teknologi Informasi ITS Surabaya yang juga mantan Rais Syuriah NU Japan, usai menyelenggarakn pelatihan pembuatan dan pengelolaan website untuk pondok pesantren se-Sidoarjo di kampus ITS, Rabu (30/5) kemarin.

Pelatihan pembuatan dan pengelolaan website itu diikuti oleh 37 pesantren di Sidoarjo yang dikordinir oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Sidoarjo meliputi wilayah kecamatan Taman, Porong, Tanggulangin, Krembung, Sidoarjo, dan Krian.

Pesantren Bisa Jadi Pusat Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Bisa Jadi Pusat Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Bisa Jadi Pusat Informasi

”Target pendeknya kita nanti mengelola website RMI Sidoarjo yang meliputi 4 bidang pengembangan informasi yakni pendidikan, Iptek, agama dan kajian turats, Ekonomi. Target panjangnya diharapkan masing-masing pesantren yang mengikuti pelatihan akan mampu membangun website sendiri sekaligus mensuplainya dengan informasi-informasi yang bermanfaat,” kata Agus yang juga lulusan Program Doktor bidang Information Engineering di Hiroshima University.

Hilangkan Kesan Sulit

Ditambahkan Agus Zainal Arifin, pembuatan dan pengelolaan website di pesantren selama ini mungkin terkesan sulit, membutuhkan dana besar, dan menyita waktu yang tidak sedikit. Apalagi di dalam setiap home page pasti dijumpai berbagai code atau program yang sdh pasti hanya akan dipahami oleh mereka yang berpengalaman.

RMI NU Tegal

Selama ini, penambahan informasi sangat tergantung oleh tingkat keaktifan para webmasternya. Demikian pula prosedur untuk mencapai tahap publikasi di web cukup panjang pula. Pihak humas pesantren tentu harus menghubungi webmasternya lebih dahulu untuk mengupload sebuah infromasi baru. Selanjutnya webmasterlah yang akan mengkonversikannya ke format html atau format lain yang sesuai.

”Prosedur panjang ini sebenarnya dapat dipersingkat dan dipermudah, bila kita mencoba untuk menggunakan CMS (content management system). CMS memberikan kemudahan kepada pengelola dan usernya, sebab cms berorientasi kepada konten,” kata peraih Dapat penghargaan Excellence Student 2006 di Hiroshima University itu.

Tak kalah pentingnya, CMS free banyak sekali tersedia dan siap di-install. Karena itulah, website pesantren, sekolah, perusahaan, organisasi, dan lain-lain mulai beralih menggunakan CMS yang dewasa ini makin dilengkapi fitur-fiturnya.

”Kita memang perlu menciptakan image bahwa membuat dan mengelola website itu mudah dan murah,” pungkasnya.(nam)

RMI NU Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan RMI NU Tegal

Jumat, 24 November 2017

Tegaknya Pancasila Tanggung Jawab Seluruh Anak Negeri

Kendal, RMI NU Tegal. Pengajar PPTQ Al Istiqomah Weleri-Kendal Shuniyya Ruhama menyatakan, Pancasila bagi warga Nahdlatul Ulama (NU) sudah jelas namun demikian merupakan tanggung jawab seluruh anak negeri.

"Tanggal 1 Oktober biasa diperingati sebagai hari Kesaktian Pancasila. Asal mula peringatan hari tersebut adalah ketika Pancasila berhasil diselamatkan dari kelompok dan golongan yang hendak mengganti Pancasila dengan ideologi lain. Dalam hal ini, waktu itu adalah komunis," ujar Shuniyya,  di Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (3/10).

Tegaknya Pancasila Tanggung Jawab Seluruh Anak Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Tegaknya Pancasila Tanggung Jawab Seluruh Anak Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Tegaknya Pancasila Tanggung Jawab Seluruh Anak Negeri

Ia melanjutkan, keabsahan Pancasila sebagai sebuah dasar negara merupakan harga mati. Sudah terbukti dengan pernyataan langsung dari para tokoh NU yang sudah tidak diragukan lagi kredibilitas keilmuan dan ketinggian khidmahnya untuk bangsa Indonesia.

RMI NU Tegal

Yang Mulia Simbah Kiai Haji Bisri Syansuri, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif Jombang, pendiri NU, sekaligus Rais Aam PBNU masa khidmah 1971-1980, memberikan pernyataan: "Sekarang saya sudah mengerti apa itu Pancasila. Sekarang bila ada orang Indonesia, orang Islam, orang NU, yang anti Pancasila berarti ia anti padaku."

RMI NU Tegal

"Tak kalah berkharismanya, Yang Mulia Simbah Wali Kiai Haji Raden Asad Syamsul Arifin Situbondo terang-terangan dhawuh (bertitah): " Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Indonesia, harus ditaati, harus diamalkan, harus tetap dipertahankan dan dijaga kelestariannya."

Dan tak ketinggalan Yang Mulia Simbah Kiai Haji Ahmad Shiddiq, sesepuh Majlis Dzikrul Ghofilin sekaligus Rais Aam PBNU masa khidmat 1984-1991 dengan lemah lembutnya bertitah: " Ibarat makanan, Pancasila yang sudah kita kunyah selama 36 tahun kok sekarang dipersoalkan halal haramnya."

Karena itu, demikian Shuniyya melanjutkan, dari sini jelaslah, bahwa Pancasila merupakan harga mati yang wajib dipertahankan oleh seluruh anak negeri.

"Sebagai generasi penerus bangsa Indonesia, kita wajib waspada dengan ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan dari segala penjuru. Baik bahaya laten maupun manifestasinya. Baik dari arus kanan maupun arus kiri, baik dari barat maupun timur. Entah itu komunis, kapitalis, liberal, takfiri wahabiserta ideologi apapun yang hendak meruntuhkan kejayaan negeri ini. Pancasila Sakti, NKRI Harga Mati," ujar dia lagi. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Lomba, Pendidikan RMI NU Tegal

Rabu, 15 November 2017

Sejuta Al-Ikhlas untuk Gus Dur

Jakarta, RMI NU Tegal. Ribuan jamaah serempak membaca surat Al-Ikhlas dipimpin KH Tolhah Hasan di kediaman almghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jalan Warungsila, Ciganjur, Jakarta Selatan, pada Sabtu malam (28/12).

Sejuta Al-Ikhlas untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejuta Al-Ikhlas untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejuta Al-Ikhlas untuk Gus Dur

Bacaan yang dipimpin salah seorang Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu merupakan kesejuta surat Al-Ikhlas untuk Ketua Umum PBNU periode 1984-1999. Bacaan kesejuta pun itu dilakukan ribuan jamaah.

“Al-Ikhlas untuk Gus Dur itu sudah dilakukan seminggu sebelumnya di berbagai pesantren di Jawa Timur,” kata Maftuhan, salah seorang santri Pesantren Ciganjur.

RMI NU Tegal

Terus pada pagi, Sabtu, (29/12) mulai pukul 09.00 ratusan jamaah membaca kembali surat Al-Ikhlas di Pondok Pesantren Ciganjur. Bacaan dilakukan berbagai kalangan, dari Pesantren Ciganjur, Padepokan Sunan Kalijaga, Pesantren Sokotunggal, para Gusdurian, mahasiswa dan mahasiswi PTIQ. “Bacaan tersebut dilakukan sampai ashar sebelum doa lintas agama,” tambah Maftuhan.

Menurut Maftuhan, dasar pembacaan Al-Ikhlas itu diriwayatkan dalam kitab Tafsir Showi juz 4, Barangsiapa yang membaca surat Al-Ikhlas seratus ribu kali maka dia terbebas dari hak Allah dan hak adami. “Ini tidak hanya seratus ribu, tapi sejuta,” katanya.

RMI NU Tegal

Sementara itu, menurut salah seorang putri Gus Dur, Yenny Wahid, ikhlas adalah pribadi ayahnya. Saat ini, menurut dia, kita butuh kembali memperkokoh nilai-nilai keikhlasan yang dulu sangat jelas dicontohkan para pendiri bangsa ini.

“Mengangkat tema keikhlasan berharap mendorong gerakan untuk berbuat ikhlas demi perbaikan bangsa ini,” ujarnya. ?

Hadir pada malam puncak Haul Gue Dur sejumlah kiai dan tokoh nasional, di antaranya KH Said Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU), KH Hasyim Muzadi (Rais Syuriyah PBNU), KH Masdar F. Mas’udi (Rais Syuriyah PBNU) KH Malik Madani (Katib Rais Aam PBNU), KH Aziz Masyhuri, KH Said Husein Munawar. Hadir pula pada kesempatan itu para budayawan, tokoh politik, agamawan lintas agama, akademisi, dll. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan, Humor Islam RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock