Oleh Satriwan SalimSebagai seorang guru, saya menginsyafi bahwa pemakaian 4 kata asing (dari 7 kata) dalam kalimat judul tulisan di atas, sangat menyalahi kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Gamang memakai bahasa Indonesia yang benar. Malah terasa seperti orang Malaysia atau Sigapura yang memang mencampurkan bahasa asing dengan Melayunya, dan itulah bahasa nasional mereka.
Tapi apa mau dikata, istilah “
kids zaman
now” sudah menasional bahkan mendunia. Bahkan sayup-sayup terdengar dari kelas sebelah, guru Bahasa Indonesia pun memakai istilah tersebut ketika mengajar di depan siswanya.
 |
| Teacher Zaman Old, Mendidik Kids Zaman Now (Sumber Gambar : Nu Online) |
Teacher Zaman Old, Mendidik Kids Zaman Now
Sebagai masyarakat perkotaan kita selalu memandang masyarakat Indonesia dengan perspektif modern yang bias Jakarta. Bahwa modernisasi, industrialisasi, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi merupakan keniscayaan sosial, yang saat ini sedang mengalami puncaknya, tidak hanya di kota tetapi sampai ke pelosok-pelosok desa. Fenomena ini pasti akan memengaruhi pola pikir (mindset) anak-anak kita, yang notabene adalah para pelajar.
“
Kids zaman
now” adalah mereka yang disebut Generasi Z, lahir rentang tahun 1995-2010. Lebih lanjut uraian tentang sosiologi generasi ini, bisa membaca pemikiran Karl Mannheim (1893-1947) yaitu dalam esainya berjudul “The Problem of Generations” (1923). Dia mengatakan bahwa sebuah generasi merupakan suatu kelompok yang terdiri dari individu, yang memiliki kesamaan dalam rentang usia, kemudian berpengalaman mengikuti peristiwa sejarah penting dalam suatu kurun waktu yang sama pula.
RMI NU Tegal
Berbeda hal kemudian yang dikenal dengan istilah Generasi Y atau lazim dikenal dengan Generasi Milenial. Generasi ini lahir sekitar 1981-1994. Istilah Generasi Milenial ini mulai berkembang di Amerika Serikat setelah terbitnya buku “Millennials Rising: The Next Great Generation” (2000), ditulis Neil Howe dan Bill Strauss. Masyarakat banyak keliru dengan mengatakan Generasi Z dengan Generasi Milenial itu sama. Padahal jelas perbedaannya.
Jika dihitung kemudian, anak-anak Generasi Z (oleh Bill Gates disebut i-Generation) saat ini memiliki rentang usia antara 7-22 tahun. Secara demografis, merekalah yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah mulai dari SD, SMP, SMA sampai pada perguruan tinggi.
Data demografis menunjukkan pada tahun 2010, sekitar 19 persen penduduk Indonesia adalah anak yang umurnya di bawah sepuluh tahun, sekitar 37 persen di bawah dua puluh tahun dan sekitar setengah populasi Indonesia berusia di bawah tiga puluh tahun (www.indonesia-investments.com). Jika total penduduk Indonesia adalah 258 juta orang (proyeksi BPS dalam www.databoks.katadata.co.id, 2016), maka jumlah penduduk kategori Generasi Z adalah sekitar 90-100 juta orang. Ini adalah angka yang sangat besar. Ditambah lagi secara demografis, usia Generasi Z ini adalah usia produktif.
RMI NU Tegal
Secara statistik demografis, keberadaan “
kids zaman
now” sangat potensial dalam pengembangan pertumbuhan perekonomian nasional. Jika dipilah lagi usia penduduk Indonesia yang kategorinya pelajar berjumlah sekitar 58 juta siswa; 8 juta siswa SMA/sederajat, 50 juta siswa SD-SMP/sederajat (www.antaranews.com, 2012). Sungguh angka yang fantastik tentunya. Jumlah ini hampir setara dengan jumlah penduduk negara Inggris.
Pertanyaannya sekarang adalah mau diapakan puluhan juta manusia Indonesia, “
kids zaman
now” itu? Bagaimana cara kita sebagai sebuah negara-bangsa mendidik, menyiapkan dan memberikan peluang-peluang bagi masa depan “
kids zaman
now”, yang pada 2045 nanti merekalah yang akan memimpin negara ini? Merekalah sesungguhnya jawaban atas proyeksi bonus demografi Indonesia. Usia produktif yang jumlahnya mendominasi struktur penduduk Indonesia. Itulah “
kids zaman
now”, masa depan bonus demografi Indonesia.
Sekarang mari kita lihat, bagaimana wajah Generasi Z alias “
kids zaman
now” itu dalam perspektif sosial dan budaya. Karakter sosial mereka yang dibesarkan oleh media internet, aktif berkomunikasi melalui perangkat telepon cerdas (smart phone), ketergantungan sangat tinggi kepada internet, gadget, multitasking, menjunjung tinggi privasi dan suka tantangan. Walaupun kadang disindir dengan sebutan generasi mecin, tapi “
kids zaman
now” punya percaya diri tinggi.
Lebih mencengangkan lagi, mereka para “
kids zaman
now” ini memiliki cita-cita memiliki“profesi” yang anti-mainstream; mulai menjadi youtuber, vloger, bloger, gamer, selebgram, influencer, komikus bahkan menjadi hacker, barista dan penambang bitcoin. Bagi kami para “
teacher zaman
old”, deretan nama dan istilah pekerjaan di atas terdengar asing, bahkan “aneh”. Sudahlah istilahnya terasa “keminggris” alias keinggris-inggrisan, susah pula mengucapkannya.
Aahhh...kacau sudah kemampuan berbahasa kita para “
teacher zaman
old” ini. Berusaha menyesuaikan istilah-istilah zaman now, tapi lidah ini serasa kaku untuk mengucapkannya. Karena masih sering terngiang-ngiang, guru kami zaman
old mengajar di depan kelas dengan ragam pepatah, bahasa kiasan, syair, pantun dan tulisan tegak bersambung.
Mereka para Generasi Z ini sangat cakap menggunakan media berbasis elektronik, seperti laptop, komputer, telepon pintar, iPad, iPhone, bahkan memproduksi dan merekayasa konten beragam jenis varian perangkat media sosial, seperti youtube, facebook, snapchat, instagram, vlog, line, telegramdantwitter. Semua aktivitas pribadi (bahkan sosial) mereka saat ini berbasis elektronik dan jaringan internet (
online).
Alhasil, buku, koran dan televisi adalah barang-barang
old yang hanya dipakai dan dinikmati oleh generasi
old. Buku berganti e-book atau format pdf, koran berganti e-paper dan televisi berganti youtube dan menonton secara streaming. Mereka para Generasi Z ini memiliki ketergantungan akut kepada telepon pintar dan internet.
Sedangkan di sisi lain, para orang tua (
parents) dan guru mereka adalah kelompok masyarakat yang terlahir 2 dan 3 generasi sebelumnya, yakni Generasi Baby Boomers (lahir antara 1946-1960an) dan Generasi X (lahir antara 1960an-1980). Terjadi kemudian gap generasi, yang berdampak terhadap pola asuh dan pendidikan keluarga yang paradigmanya mesti direkonstruksi.
Menjadi “
teacher dan
parent zaman
now” adalah suatu tantangan zaman tersendiri. Perbedaan cara pandang antara orang tua dan guru yang dididik pola asuh lama.Mendidik generasi sekarang yang memiliki cara pandang kekinian sesuai dengan jiwa zamannya (zeitgeist) adalah suatu ikhtiar yang tak mudah.
Dibutuhkan kemudian perspektif baru yang tak resisten terhadap perubahan, tidak alergi dengan bahasa zaman dan zeigeist tadi. Tetapi tidak juga meminggrikan bahkan mencampakkan nilai-nilai tradisi (lama), yang masih memiliki relevansi dan universalitas nilai keadaban di dalamnya. Demikian adagium klasik Arab, yang sering disampaikan oleh kyai-kyai tradisional kita di pesantren, “
al-muhâfadhatu ‘alal qadîmis shâlih wal akhdzu bil jadîdil ashlah.”
Sehingga para guru dan orang tua zaman iGeneration ini tidak merasa teralienasi, terasingkan hidup di tengah-tengah para “
kids zaman
now”, yang sesungguhnya sedang berlari cepat melesat bagaikan anak panah. Seperti dalam salah satu syair seorang sastrawan cum filsuf berdarah Libanon-Amerika, Kahlil Gibran (1883-1931)bertajuk “
Anakmu Bukan Anakmu.”
Seorang perempuan yang di tangannya ada seorang bayi berkata, “Sampaikanlah pada kami mengenai anak.”Dan ia pun berkata:Anakmu bukan anakmuMereka adalah anak dari kehidupan yang ingin menjadi diri mereka sendiriMereka datang melaluimu, tapi bukan darimuDan meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmuBerikanlah cintamu, tapi bukan pemikiranmuKarena mereka memiliki pemikiran mereka sendiriBerikanlah rumah bagi tubuh mereka, tapi bukan jiwa merekaKarena jiwa mereka adalah milik rumah masa depan, yang tak bisa kau kunjungi, tak pula dalam impianmuKau bisa berusaha menjadi seperti mereka, tapi jangan jadikan mereka sepertimuKarena hidup tidak berjalan mundur atau tenggelam di masa laluKau adalah busur yang dibutuhkan anak-anakmu sebagai anak panahuntuk melesat kencang ke depanSang Pemanah memandang jauh tanpa batasDan Ia menarikmu dengan segala kekuatanagar anak panahNya melesat cepat dan jauhMerentanglah dalam tangan Sang Pemanah dengan bahagiaKarena seperti Ia mencintai anak panah yang melesat cepatIa pun mencintai busur yang kokohPenulis adalah guru SMA Labschool Jakarta; Peneliti PUSPOL Indonesia; Pengurus SEGI Jakarta; pernah nyantri di pesantren tradisional Al-Hidayah Pimpinan KHR Syamsudin Hidayat di Cisarua, Bogor.Dari Nu Online:
nu.or.idRMI NU Tegal Quote, Hikmah, Olahraga RMI NU Tegal