Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Ponpes Al Jauhar Pegang Peran Penting Gerakan Mahasiswa di Jember

Jember, RMI NU Tegal. Pondok Pesantren tak hanya jadi pusat pendidikan keagamaan, tapi juga memegang peran penting dalam gerakan perubahan sosial. Di Jember, Jawa Timur, terdapat Pondok Pesantren Al Jauhar yang berperan strategis dalam gerakan mahasiswa di Kota 1001 Gumuk itu.

Ponpes Al Jauhar Pegang Peran Penting Gerakan Mahasiswa di Jember (Sumber Gambar : Nu Online)
Ponpes Al Jauhar Pegang Peran Penting Gerakan Mahasiswa di Jember (Sumber Gambar : Nu Online)

Ponpes Al Jauhar Pegang Peran Penting Gerakan Mahasiswa di Jember

Al Jauhar dirintis sejak tahun 1989 oleh ulama sekaligus akademisi Fakultas Hukum Universitas Jember (Unej) KH Shodiq Mahmud. "Abah Shodiq mendirikan pesantren Al Jauhar khusus bagi mahasiswa yang kuliah di Jember agar mahasiswa memiliki pendididikan agama dan berakhlakul karimah atau memiliki moral yang baik," kata pengasuh Al Jauhar saat ini yang juga anak sulung KH Shodiq, Hj. Liliek Istiqomah, Rabu, 3 Mei 2017.

KH Shodiq yang bergelar profesor dan doktor bidang hukum merupakan pendiri dan pengasuh pertama pondok pesantren Al Jauhar yang berada di Jalan Nias III Nomor 5 Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, Jember. KH Shodiq wafat pada 4 April 1998 dan kursi pengasuh beralih ke menantunya, KH Sahilun A. Nasir, hingga KH Sahilun wafat pada 19 Januari 2011.

KH Sahilun lama mengabdi di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember hingga bergelar profesor dan doktor dan sempat menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jember. Kini, tampuk pengasuh dipegang isteri KH Sahilun yang juga anak sulung KH Shodiq, Hj. Liliek Istiqomah. Sama dengan ayahnya, Hj. Liliek juga lama mengabdi sebagai dosen di Fakultas Hukum Universitas Jember.

Pada 30 April 2017 lalu, pondok pesantren Al Jauhar menggelar peringatan hari lahir (harlah) ke-26 dan temu alumni. Dalam kegiatan tersebut dibentuk forum alumni Pondok Pesantren Al Jauhar, Jember. Forum ini sepakat membentuk pengurus pusat forum alumni dengan ketua H Abdul Khalik Marzuki dan wakil ketua H Nurul Ghufron yang juga Dekan Fakultas Hukum Universitas Jember serta Sekretaris Abdul Bari dan Bendahara H. Hendro. "Forum alumni ini tidak hanya sebagai wadah komunikasi antar alumni tapi juga memiliki program kerja yang bisa membantu peningkatan kualitas maupun pengembangan Al Jauhar," kata Khalik.

RMI NU Tegal

Beberapa program kerja telah direncanakan diantaranya pendataan alumni, silaturahim antaralumni, pembuatan buku sejarah Al Jauhar dan biografi pengasuh, serta pembuatan rekening untuk membantu pengembangan pondok.

Khalik termasuk salah satu dari ? lima santri pertama Shodiq yang mondok pada akhir tahun 1989. "Dulu hanya ada lima santri dan di sini masih sangat sepi, banyak sawahnya," katanya mengenang masa lalunya di Al Jauhar.

RMI NU Tegal

Khalik mengingatkan beberapa pesan dari pendiri dan pengasuh pertama Al Jauhar. "Abah Shodiq selalu berpesan bahwa siapa saja yang ada di lingkungan pondok Al Jauhar ini harus ngaji (belajar ilmu agama Islam) atau ngajar ngaji (mengajarkan ilmu agama Islam)," kata alumnus mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Jember tahun 1989 ini.

Menurut Khalik, Abah Shodiq juga berpesan agar santri berusaha dalam keadaan suci dengan cara membasuh anggota tubuh sesuai tata cara berwudlu. "Beliau juga berpesan usahakan dalam sehari kita membaca Al-Quran walaupun satu lembar," kata pria yang kini sukses menjadi pengusaha toko bangunan dan penyedia jasa travel umroh dan haji ini.

Ia juga mengenang amalan-amalan baik selama di pondok Al Jauhar. "Setiap ada santri yang akan ujian skripsi atau punya masalah apa saja, kita bersama-sama membaca surat Yasin dan insyaallah hajat kita terkabul dan setiap masalah akan mendapat solusi," katanya.

?

Alumnus Al Jauhar yang lain, Ismail, mengatakan sebagai satu-satunya pesantren khusus mahasiswa di Jember, Al Jauhar punya peran strategis dalam gerakan mahasiswa di Jember. "Banyak santri Al Jauhar yang jadi aktivis gerakan mahasiswa di Jember, semua bermula dari Al Jauhar," kata alumnus Sastra Inggris Universitas Jember angkatan tahun 1991 ini.

Menurutnya, cikal bakal pembentukan beberapa organisasi gerakan mahasiswa di Jember baik ekstra maupun intra kampus tak bisa dilepaskan dari peran santri Al Jauhar. "Dari Al Jauhar lah beberapa organisasi mahasiswa lahir dan berkembang terutama di era tahun 1990-an," katanya. Organisasi mahasiswa ekstra kampus yang digeluti santri Al Jauhar beragam mulai dari yang agamis hingga nasionalis atau percampuran keduanya seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), dan lain-lain. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ubudiyah, Pesantren RMI NU Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Begini Halal bi Halal dan Open House NU di Pakistan

Islamabad,RMI NU Tegal. Dalam rangka mempererat hubungan silaturahim antarpelajar dan mahasiswa Indonesia di Pakistan, pada hari ke-4 Idul Fitri 1437 H, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Pakistan menggelar Halal bi Halal dan Open House.

Begini Halal bi Halal dan Open House NU di Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Halal bi Halal dan Open House NU di Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Halal bi Halal dan Open House NU di Pakistan

Acara yang diadakan pada Sabtu, (9/7) pukul 17.00 tersebut dihadiri oleh perwakilan organisasi masyarakat seperti PPMI, IKPM, LTQ Ibnu Abbas, IKAAI, PIPKS, PCI Muhammadiyah, UPZ Baznas? dan santri Jamaah Tabligh.? ?

Halal bi Halal dan Open House pada tahun sebelumnya dilangsungkan di rumah Mustasyar PCINU, tapi kali ini diadakan di taman terbuka “Fatimah Jinnah Park” - Islamabad sehingga suasana lebih guyub dengan diiringi semilir angin sore di musim panas yang mencapai 40 c.

RMI NU Tegal

Guna menambah kesemarakan acara, pengurus PCINU mengisinya dengan beberapa acara yang dimulai dengan sambutan, lalu permainan (game) sebagai berikut: memasukkan gelang ke pasak kayu, makan biscuit tanpa dipegang tangan yang diletakkan di kening, melempar genteng ke garis, kemudian ramah tamah dan ditutup dengan doa. Menu ramah tamah yang disediakan juga makanan khas Indonesia semakin menambah nuansa lebaran seperti di tanah air.

RMI NU Tegal

Dalam sambutannya, Rais Syuriah PCINU Pakistan Hendro Risbiyantoro menyampaikan tentang pentingnya penyelenggaraan acara Halal bi Halal, selain untuk menambah ikatan kekeluargaan antarmahasiswa, juga penting untuk meningkatkan citra Indonesia di Pakistan.

Selanjutnya, sambutan disampaikan Mustasyar PCINU dan tuan rumah Open House H. Muladi Mughni. Dalam sambutan singkatnya disampaikan bahwa acara yang dilaksanakan di tempat terbuka semata-mata untuk mencari suasana yang berbeda.

“Warga nahdhiyyin dan mahasiswa di Pakistan sudah banyak yang berkeluarga dan punya anak kecil. Jadi kalau di taman mereka bisa lebih leluasa dan santai bermain,” tutur Muladi. Selain itu suasana akrab dan guyub juga semakin terasa karena hadirin dapat saling mengobrol santai dan melakukan permainan yang disiapkan oleh pengurus PCINU.

“Tidak usah berlama-lama, agar suasana lebih meriah langsung saja kita mulai permainan kita pada sore hari ini, tutupnya, yang disambut tepuk tangan oleh para hadirin.

Permainan pun dimulai dengan game melempar gelang ke pasak kayu. Seluruh hadirin antusias mengikutinya dan mencoba memasukkan gelang besi dengan semangat. Selanjutnya game memakan biscuit tanpa dipegang tangan yang diletakkan di kening yang membuat suasana pecah oleh tawa hadirin melihat pola tingkah dan gerak tubuh peserta lomba. Permainan ditutup dengan game melempar genteng ke garis yang mengingatkan para hadirin akan masa kecil. Acara ditutup dengan doa dilanjutkan dengan fhoto bersama dan ramah tamah.

Ditemui setelah acara, Ketua Tanfidziyah PCINU, Zulfikri Hasibuan mengatakan bahwa persiapan acara ini hanya dalam waktu satu hari, namun demikian secara keseluruhan dapat berjalan cukup baik dan sesuai dengan rencana.

“Semoga dengan diadakannya acara ini kita dapat menjalin hubungan baik dengan sesama, agar hubungan kita sempurna, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia, tidak ada yang tersisa di hati kita dari kebencian, amarah, dan dendam, yang ada hanya cinta dan saling memaafkan,” harapnya. (Hedro/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ubudiyah, Pesantren RMI NU Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

Kirab Resolusi Jihad NU Masuki Jawa Tengah

Sragen, RMI NU Tegal. Tim Kirab Resolusi Jihad NU memasuki Jawa Tengah, Senin (17/10) melalui Kabupaten Sragen. Sejumlah persiapan dilakukan oleh Panitia Daerah.

Kirab Resolusi Jihad NU Masuki Jawa Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kirab Resolusi Jihad NU Masuki Jawa Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kirab Resolusi Jihad NU Masuki Jawa Tengah

Puji Wibowo, Ketua Panitia Daerah Jawa Tengah, saat dihubungi RMI NU Tegal menjelaskan, PWNU Jawa Tengah melakukan penyambutan di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, tepatnya di Sragen.

Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abu Hapsin Umar, turut serta dalam penyambutan ini. Selain itu Tim Kesehatan dan Satkorwil Banser juga akan mengawal selama Tim berada di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga pelepasan di perbatasan Jawa Barat tanggal 19 Oktober mendatang.

Pantauan RMI NU Tegal, di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah Senin sore, terlihat antusiasme masyarakat menyambut kedatangan Tim. Ratusan perwakilan lembaga dan banom PWNU Jateng tampak mengenakan seragam mereka berbaris rapi. Kelompok marching band dan kelompok shalawat, masing-masing menampilkan kemahiran mereka, menambah semarak suasana.

RMI NU Tegal

Pada hari pertama kedatangan di Jawa Tengah, Tim bersilaturahim di Pendopo Kabupaten Sragen, Pondok Pesantren Al-Muayyad Solo, Pondok Pesantren Pancasila Sakti Klaten. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pertandingan, Ubudiyah RMI NU Tegal

RMI NU Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Bagaimana Mbah Umar Mengislamkan Pak Mughizi?

Salah satu yang menonjol dari Mbah Umar adalah senang menghormati tamu. Jika ada tamu yang datang, siapa pun orangnya, pasti akan merasakan cara Mbah Umar dalam ikromudl dluyuf memuliakan tamu.

Seandainya beliau ditanya tentang hobi, bukan tidak mungkin beliau menjawab begini,”Hobi saya terima tamu.”

Bagaimana Mbah Umar Mengislamkan Pak Mughizi? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Mbah Umar Mengislamkan Pak Mughizi? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Mbah Umar Mengislamkan Pak Mughizi?

Santri-santri Al-Muayyad zaman Mbah Umar, kemungkinan besar mengenal Pak Mughizi, seorang petugas listrik di wilayah Laweyan dan sekitarnya. Pak Mughizi ini sering datang ke pesantren untuk mencatatan meteran listrik, juga menagih bayaran listrik. Selain dikenal sebagai petugas listrik, para santri juga mengenal Pak Mughizi dengan identitas seperti ini: nonmuslim, China, celana pendek dan tidak bisa berbahasa Jawa Kromo atau halus.

Tahun-tahun itu, di masyarakat yang tradisinya homogen, monokultur, sering memunculkan prasangka. Tapi ini tidak berlaku pada Mbah Umar. Mbah Umar kerap mengajak Pak Mughizi berbincang di rumahnya atau di serambi pesantren. Santri-santri yang melihatnya tak jarang yang risi melihat Pak Mughizi ngobrol akrab dengan kiainya, seperti tanpa batas. Harap maklum, identitas Pak Mushizi tidak ada di dalam pesantren.

RMI NU Tegal

Obrolan Mbah Umar dengan Pak Mughizi ringan-ringan saja, tak jauh dari tema keluarga, aktivitas sehari-hari. Tak pernah Mbah Umar tanya agama, berdialog tentang keyakinan seperti intelektual-intelektual di kota-kota itu. Tapi tak disangka banyak orang, Pak Mughizi masuk Islam. Ya namanya hidayah, datangnya tidak bisa diotak-atik, termasuk logika yang paling canggih sekalipun. Teori kausalitas, sebab musabab, pun tidak mutlak dalam urusan hidayah.

RMI NU Tegal

Jika ada hanya mengira-ngira, menduga-duga. Seperti tafsiran orang, juga saya, Pak Mughizi masuk Islam karena kepincut akhlak mulia Mbah Umar, hanyalah dugaan, memperkiraakan semata. Apakah akhlak mulia Mbah Umar adalah kesengajaan berdakwah agar Pak Mughiz masuk Islam? Tidak ada yang tahu.

Ternyata tidak masuk Islam kan? Walhasil, tidak terlalu tepat jika ada pertanyaan, “Bagaimana Mbah Umar mengislamkan Pak Mughizi?” Setelah Masuk Islam Keluarga besar Pesantren Al-Muayyad menyambut dengan suka cita si mata sipit yang suka bercelana pendek dan bicaranya ngoko. Keseriusan Pak Mughiz masuk Islam, di antaranya ditandai dengan sunatan.

Pasca sunatan, Pak Mughizi tinggal di pesantren, agar keluarganya tidak direpotkan memelihara “burung” Pak Mughizi yang sedang terluka (zaman itu belum ada sunat pakai laser yang langsung sembuh). Selama proses perawatan burung, Pak Mughizi empat hari di Al-Muayyad, persisnya di kamar 4 pondok lama.

Setelah Mbah Umar wafat di tahun 1980, Pak Mughizi bertemua Mbah Umar dalam mimpi. Di dalam mimpi Mbah Umar meminta agar dirinya berangkat haji. Tidak mikir panjang-panjang, Pak Mughizi bergegas daftar haji. Mimpi tersebut diceritakan pada Hj. Shofiyah, istri Mbah Umar.

"Aku hendak berangkat haji, Bu Nyai. Kiai Umar yang minta. Saya minta doanya.” "Alhamdulillah. Jika tahun ini berarti bareng sama anakku." (Muhammad Shofy Al Mubarok, Khodam di pesatren Brabo, Grobogan, Jawa Tengah)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Halaqoh, Ubudiyah, Aswaja RMI NU Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

PWNU Aceh Silaturrahmi Dengan Gubernur Serambi Mekah

Banda Aceh, RMI NU Tegal. Rombongan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Aceh yang terdiri dari beberapa pengurus dan panitia Konferwil XIII NU Aceh, Jumat (10/4), mengadakan kunjungan silaturahmi dengan Gubernur Aceh H ? Zaini Abdullah. Pada kesempatan ini, pengurus NU mengundang gubernur untuk berkenan hadir memberikan sambutan pembukaan konferwil NU Aceh.

“Kami meminta Gubernur Aceh untuk bersedia membuka dan memberi arahan pada pembukaan Konferwil XIII NU Aceh pada 17 April 2015 di Asrama Haji Banda Aceh,” kata Ketua PWNU Aceh Tgk H Faisal Ali.

PWNU Aceh Silaturrahmi Dengan Gubernur Serambi Mekah (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Aceh Silaturrahmi Dengan Gubernur Serambi Mekah (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Aceh Silaturrahmi Dengan Gubernur Serambi Mekah

Menurut Tgk H Faisal Ali, Konferwil ? ini rencananya akan dihadiri Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi H Marwan Jafar, dan ditutup oleh Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri pada 19 April 2015 di tempat yang sama.

RMI NU Tegal

Rombongan ini memuat antara lain Kepala BPK Perwakilan Aceh Maman Abdurrachman, Tgk H Abdullah Basyah, Katib Syuriyah PWNU Tgk Asnawi M Amin, Sekretaris PWNU Aceh Tgk T Adli Almaddany, Wakil Rais Syuriyah PWNU Aceh Tgk Akmal ? Abzal. (Indra/Alhafiz k)

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ubudiyah, Meme Islam, Nahdlatul RMI NU Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Bantuan Darah Berkurang, RSNU Jombang Adakan Donor Darah Rutin

Jombang, RMI NU Tegal. Menjelang Bulan Ramadhan dan Hari Raya, bantuan darah yang disalurkan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jombangn seringkali mengalami penurunan setiap tahunnya. Mengantisipasi agar hal ini tidak terulang, Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) setempat bekerjasama dengan PMI dalam memberikan bantuan darah secara rutin.

Bantuan Darah Berkurang, RSNU Jombang Adakan Donor Darah Rutin (Sumber Gambar : Nu Online)
Bantuan Darah Berkurang, RSNU Jombang Adakan Donor Darah Rutin (Sumber Gambar : Nu Online)

Bantuan Darah Berkurang, RSNU Jombang Adakan Donor Darah Rutin

Denok Eko Yulistiawati Manajer Keperawatan RSNU mengungkapkan, beberapa tahun sebelumnya RSNU memang sudah rutin mengagendakan kegiatan bakti sosial seperti halnya donor darah. Namun kali ini dirinya akan lebih menggalakkan kegiatan donor tersebut dengan rentan waktu tiga bulan sekali.

"Ini (kegiatan donor darah, red) kita memang rencanakan setiap tahun, namun kami harapkan kegiatan ini tidak hanya satu tahun sekali tetapi rutin setiap tiga bulan sekali," katanya kepada RMI NU Tegal, Rabu (17/5) di lokasi donor darah.

Donor darah yang dilakukan rutin setiap tiga bulan sekali, menurutnya sangat membantu terhadap kesehatan seseorang. "Dalam pengambilan darah ini juga berguna, karena kalau seseorang sudah pernah donor, kemudian rutin tiga bulan sekali semakin baik," sambung Ibu Denok sapaan akrabnya.

RMI NU Tegal

Sementara untuk prioritas pendonor, Ibu Denok menjelaskan akan dimulai dari masing-masing karyawan RSNU sendiri. Mereka akan didorong utnuk mendonorkan darahnya secara rutin tiga bulan sekali. Selanjutnya, para santri juga masyarakat di Kota Santri ini tak luput dari objek kegiatan bakti sosial ini.

"Objeknya saat ini masih memprioritaskan karyawan-karyawati RSNU ditambah dengan santri-santri pondok pesantren Jombang, kemarin yang kita kasih undangan sekitar 6 pondok pesantren," ujar dia.

Seperti halnya kemarin, Rabu (17/5), di runag Gus Dur lantai II RSNU, tampak sejumlah karyawan RSNU juga puluhan santri dari beberpa pondok pesantren di Jombang ikut berpartisipasi dalam kegiatan donor darah ini. Dari jumlah pendonor yang diterima paniti kurang lebih dari 80 pendonor. Jumlah ini bisa saja bertambah sebab sebagian karyawan terus berdatangan ke lokasi donor dengan menyesuaikan jam kerjanya.

Dikatakan Ibu Denok, untuk menambah angka pendonor pada putaran selanjutnya, pihaknya akan meningkatkan pola komunikasi dan sosialisasi terhadap para karyawan RSNU, santri juga masyarakat di Jombang. "Ke depan, upaya yang akan kiita lakukan adalah kita akan sosialisasikan kepada karyawan supaya rutin melakukan pembersihan darahnya," pugkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Ubudiyah, Sholawat, Kajian RMI NU Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Kader IPNU Ini Berdakwah Melalui Permainan Sulap

Kudus,RMI NU Tegal. Biasanya, sulap hanyalah permainan yang sekadar menjadi hiburan semata. Namun, sebetulnya sulap bisa sebagai media dakwah. Pandangan demikian disampaikan seorang kader Corp Brigade Pembangunan (CBP) IPNU Kudus Ahmad Minan yang mahir bermain sulap.

Kader IPNU Ini Berdakwah Melalui Permainan Sulap (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader IPNU Ini Berdakwah Melalui Permainan Sulap (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader IPNU Ini Berdakwah Melalui Permainan Sulap

Menurut Minan, beberapa jenis sulap banyak terdapat nilai-nilai filosofis ajaran agama. ? Ia mencontohkan permainan teh botol berubah menjadi air putih memiliki makna mensucikan hati seseorang dengan ke-tawadlu-an.

"Artinya, setiap hati seseorang orang tentu ada dosa yang diwarnai pikiran kotor sehingga dengan keyakinan dan ketawadlu-an yang sungguh-sungguh bisa berubah suci dan bersih kembali," ujarnya kepada RMI NU Tegal di Kantor IPNU Kudus, Sabtu (14/3).

RMI NU Tegal

Ditanya awal mula tertarik dunia sulap, pria asal Desa Hadipolo, Jekulo, Kudus ini mengaku mendapat inspirasi dari seorang teman sekolah dari Jepara yang ingin belajar permainan ini. Usai tamat sekolah di Madrasah Aliyah, Minan belajar bersama tetangganya Mbah Mahmud yang kebetulan pintar ilmu sulap.

"Kemudian saya kembangkan sendiri dengan berlatih otodidak selama tiga tahun. Alhamdulillah, sekarang ini sudah mengusai tidak kurang dari puluhan jenis permainan mulai sulap classic, mentalis, tradisional, dan fakir (seperti Limbat)," tuturnya.

RMI NU Tegal

Selama ini, Minan yang juga santri Pondok Pesantren al-Hanafiyah Jekulo ini sering mendapat undangan manggung untuk mengisi kegiatan sekolah, organisasi ataupun even di Kota Kudus dan luar kota seperti Jepara.?

Untuk menguji kemahirannya, ia juga pernah mencari keberuntungan mendaftar dalam acara The Master di sebuah stasiun televisi swasta.

"Meskipun gagal seleksi di program The Master, saya tetap semangat mengembangkan ketrampilan sulap. Karena keterampilan ini juga bisa untuk kepentingan dakwah," tandasnya. (Qomarul Adib/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Bahtsul Masail, Budaya, Ubudiyah RMI NU Tegal

Modal Santri untuk Ekonomi Mandiri

Oleh Muhammad Farid

Paradigma santri yang sejak dahulu hanya dikenal sebagai pelaku ibadah, pribadi yang sederhana dan pejuang agama semata, kini harus diubah. Orientasi santri perlu ditekankan untuk (juga) berkontribusi dalam bidang teknologi, informasi dan ekonomi. Bagaimana santri mewujudkan itu semua?

Modal Santri untuk Ekonomi Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Modal Santri untuk Ekonomi Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Modal Santri untuk Ekonomi Mandiri

Perjalanan kaum santri dalam ranah pendidikan sudah tidak bisa diragukan lagi. Dibuktikan dengan adanya kader-kader dari pondok pesantren yang -mayoritas- cakap dalam memegang amanah di manapun ia berada. Tak heran jika pondok pesantren dahulu merupakan lembaga pengajaran yang digadang menjadi kekuatan perjuangan arus bawah.

Di Kudus, Kisah KHR Asnawi yang rela berjalan kaki dari pusat kota hingga puncak gunung Muria, tepatnya di masjid makam Sunan Muria untuk mengajar ngaji merupakan cermin indah. KHR Asnawi terkenal dengan nilai semangat belajar dan mengajarnya yang tinggi. Untuk membangun keilmuan di Indonesia, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama itu bahkan rela mengembara ke Arab Saudi dalam waktu yang lama.

RMI NU Tegal

Tidak hanya dalam bidang pendidikan dan agama saja, bidang ekonomi juga menjadi perhatian serius di kalangan santri. Tidak dibenarkan bahwa kaum santri hanyalah memikirkan kepentingan akhirat saja. Kesadaran bahwa dunia adalah jembatan menuju akhirat harus mendorong kemapanan sebagai bekal ibadahnya.

RMI NU Tegal

Melalui nilai filosofis “Gusjigang” Sunan Kudus meneguhkan spirit berimbang antara kehidupan dunia dan akhirat. Gusjigang merupakan pemaknaan, harapan sekaligus pencapaian. Bahwa seorang santri idealnya memiliki sifat yang bagus/baik didorong dengan ketekunan dalam menuntut ilmu (spiritual) agama (ngaji) serta cakap dalam bidang ekonomi (dagang). Inilah garis besar sekaligus tantangan para santri untuk mewujudkan kemandirian bangsa.

Modal Santri


Jaringan dinamis antarpesantren yang terkoneksi dengan baik bisa saja menjadi modal. Pun dengan tarekat dan spiritual yang kuat dan mantap disertai dengan hubungan intensif guru-murid yang tiada dibedakan.

Bermodalkan jaringan antaralumni, sanad keilmuan, dan ukhuwah santri, seharusnya santri bisa membangun ekonomi mandiri. Terbukti bahwa santri mampu melakukan gebrakan (sekali lagi) demi kepentingan kemandirian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika dahulu kaum santri turut serta berjuang melawan kolonialisme, kini kaum santri harus melihat lebih cerdas tentang potensi yang dimiliki.

Sejak sebelum kemerdekaan, Indonesia yang kental dengan nasionalisme dan patriotisme membangun ekonominya sendiri tanpa berharap modal asing. Para organisasi massa, termasuk santri, tumbuh dan bersaing dalam satu visi; membangun Indonesia berdikari. Semangat kekeluargaan menjadi kekuatan utama dalam mengatasi persoalan ekonomi saat itu.

HOS Tjokroaminoto berani mempertaruhkan martabatnya sebagai pejabat Hindia Belanda demi membela rakyat pribumi. Terbentuknya Sarekat Islam (SI) pada 1913, yang dipelopori HOS Tjokroaminoto merupakan salah satu bukti kekuatan kaum sarungan dalam berperan mewujudkan kesejahteraan mandiri rakyat. Pola penyelenggaraannya bertonggak pada prinsip kerakyatan dan penguatan warga sipil. Kebijakan demi kebijakan muncul dengan semangat persaudaraan senasib seperjuangan.

Koperasi menjadi salah satu cara Tjokroaminoto dalam membebaskan ekonomi rakyat dari genggaman Hindia Belanda saat itu. Tiada mengenal untung-rugi. Melainkan tercapainya kemakmuran bersama, kemandirian bersama, kejayaan abadi yang kelak bisa dinikmati oleh para generasinya.

Di situlah peran santri bisa dimaksimalkan. Para kiai menebarkan petuah dan kebijakan yang turut menentramkan hati pengikutnya. Semangatnya dalam membina umat (ruh ad-da’wah) menuju Ridla Ilahi, mewujudkan bangsa dan negara yang bijak dan mendapat ampunan-Nya (baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur).

HOS Tjokroaminoto, KHR Asnawi, KH Hasyim Asy’ari, KH Kholil, dan lainnya merupakan teladan. Pondok pesantren yang mereka dirikan tidak hanya menjadi wadah bagi santri menuntut ilmu, tetapi juga memberi manfaat bagi sekitarnya. Termasuk poros ekonomi yang timbul karenanya.

Itulah bukti bahwa pondok pesantren tidak sekadar organisasi yang diisi kiai dan santri. Namun juga gerakan (movement) yang siap peduli sesama, mengemban amanah sebagai manusia sesungguhnya (baca: khalifah).

Selanjutnya, minat pasar yang sedang gandrung dengan konsep ekonomi syariah baru-baru ini merupakan peluang besar bagi para santri. Bekal ilmu dan hukum Islam yang dalam para santri bisa mengembangkan ekonomi syariah sebagai tonggaknya. Sudah saatnya, paradigma santri tidak hanya memikirkan khilafiyah dalam hal hukum syar’i saja.

Persoalan santri tidak sebatas memecahkan masalah (batsul masa’il) dalam koridor ibadah mahdlah saja. Seperti yang dilakukan para pendahulunya, santri harus berkembang menjadi penggerak dan pelopor kemakmuran bangsa. Di Indonesia, tersebar ribuan pondok pesantren dengan jutaan santri tersebar seisi Nusantara.

Hukum ekonomi ala santri harus digulirkan secepatnya. Yaitu dengan membangun kaum santri yang cakap dalam melihat pasar, menciptakan inovasi ekonomi yang menggabungkan konsep islam dengan potensi lokal kita sendiri. Begitulah bangsa kita bisa mandiri, bersama santri membangun ekonomi (syariah) yang digdaya.

Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Miftahul Falah; bergiat di Paradigma Institute Kudus



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ubudiyah, Anti Hoax RMI NU Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Ini Sejarah! Azan Berkumandang di GLBA

Bandung, RMI NU Tegal 

Gelaran Final Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 diwarnai aksi ratusan Banser mengamankan berbagai penjuru stadion. Laga Final digelar Gelora Bandung Lautan Api (GLBA), Bandung, Ahad malam (29/10).

Di wilayah VIP yang meliputi ruang ganti pemain dan pusat media, personel Banser ditugaskan secara bergantian di pintu masuk. Penjagaan tanpa kompromi diberlakukan, mencegah pihak-pihak tak berkepentingan ikut masuk. 

Ini Sejarah! Azan Berkumandang di GLBA (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Sejarah! Azan Berkumandang di GLBA (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Sejarah! Azan Berkumandang di GLBA

Sempat terjadi sekelompok kecil orang  memohon masuk untuk memberikan air suwuk (doa, mantra) kepada pemain. Hasilnya nihil. Kelompok kecil lainnya di waktu berbeda  juga ingin masuk dalam ruang VIP. Alasannya ingin mendoakan para pemain. Sudah barang tentu mereka pun gagal menembus. 

Di area lapangan pertandingan, sejak siang hari, pasukan Banser menyiapkan berbagai keperluan laga dan acara. Mulai dari karpet untuk sembahyang berjamaah, sampai mengangkat bangku cadangan ke pinggir lapangan. 

Kejadian unik sempat terjadi ketika dari dalam Stadion GLBA dikumandangkan azan maghrib. Di lorong menuju toilet saya sempat berpapasan dengan seorang personel Banser yang terus memandang ke atas dengan wajah bahagia. Begitu jarak kami dekat, dia melihat saya sambil berkata, 

RMI NU Tegal

"ini sejarah! Azan berkumandang di GLBA," katanya. (Ahmad Makki/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Ubudiyah RMI NU Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Kobarkan Semangat Juang, GP Ansor Genuk Gelar Donoh Darah

Semarang, RMI NU Tegal. Di tengah konferensi ke-10 yang bertema “Bangkitkan Semangat Juang Pemuda Untuk Keutuhan NKRI” di kampus MI Miftahush Shibyan Genuksari, GP Ansor Genuk Semarang menyelenggarakan kegiatan donor darah. Melibatkan kader IPNU-IPPNU, aksi donor ini menyedok banyak partisipasi masyarakat, Ahad (8/6).

Kobarkan Semangat Juang, GP Ansor Genuk  Gelar Donoh Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kobarkan Semangat Juang, GP Ansor Genuk Gelar Donoh Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kobarkan Semangat Juang, GP Ansor Genuk Gelar Donoh Darah

Ketua panita koferensi anak cabang GP Ansor Genuk Muslimin mengatakan, tema itu sengaja diangkat. Sebab, saat ini kita membutuhkan semangat kepemudaan mengingat pemuda penerus bangsa ini.

Senada dengan Muslimin, Ketua GP Ansor Semarang Saichu Amrin menambahkan, “Kita tidak mengkontrak negara ini. Kita adalah investor bagi bangsa ini. Maka dari itu, dengan semangat kepemudaan, kita harus memiliki kompetensi untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik.”

RMI NU Tegal

Amrin mengingatkan kader Ansor Genuk akan pilpres dalam waktu dekat. Para pemuda, menurutnya, dituntut untuk berperan dalam menyukseskan pilpres.

RMI NU Tegal

“Sebagai Gerakan Pemuda, kita selayaknya memilih dari golongan pemuda dan tentu pemimpin itu harus memiliki darah Nahdliyin,” tutur Ketua GP Ansor Genuk Muhammad Sodri.

Pada pemilu legislatif kemarin, Sodri terpilih menjadi anggota dewan Kota Semarang.

“Dengan semangat kepemudaan, saatnya kita bangkit menuju bangsa yang lebih bermartabat dan berdikari. Kita harus mewarnai bangsa ini sebagai bangsa yang hebat. Dari Ansor untuk Indonesia,” lanjutnya. (Lukni Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Halaqoh, Ubudiyah, Kajian RMI NU Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Baronx, Komunitas Preman Gemar Mengaji

Temanggung, RMI NU Tegal. Preman selalu diidentikkan dengan orang-orang nakal yang suka mengganggu ketertiban umum dan bertindak semaunya sendiri. Tetapi preman di Temanggung ternyata juga memiliki hobi mengaji meskipun usia mereka sudah terbilang tua.

?

Belasan pemuda tampak terburu-buru memasuki sebuah rumah di lingkungan Kayogan, Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Temanggung. Dari perawakan mereka, cukup menakutkan sekilas dipandang. Diantara mereka ada yang tinggi besar dengan rambut yang gondrong terurai bebas, sebagian lainnya lengannya dipenuhi tatto. Ada juga pemuda yang di bagian daun telinganya terpasang anting besar.

Baronx, Komunitas Preman Gemar Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Baronx, Komunitas Preman Gemar Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Baronx, Komunitas Preman Gemar Mengaji

Rupanya para pemuda tersebut tengah terburu-buru untuk berkumpul dengan geng mereka, geng Baronx. Geng Baronx ini berisikan para pemuda dengan tampilan yang sangar, namun berhati lembut. Tindakan terburu-buru mereka dipicu karena ustadz yang akan mengajar mereka membaca Al Quran sudah datang dan bersiap mengajar. "Mau ngaji dulu," kata Dwi Aryadi, 30, salah seorang diantara mereka.

RMI NU Tegal

Di ruang studio musik yang cukup luas, mereka berjajar melingkar, sebagian lain duduk di tepian dengan sandaran tembok sembari menunggu giliran mereka mengaji satu per satu. Ya, mereka adalah geng berisi para pemuda-pemuda yang sempat mencicipi dunia jalanan namun kembali pada reiligiusitas mereka. "Saya menyesal tidak bisa baca Quran. Bagi saya ini belum terlambat, makannya saya mengaji sekarang," lanjut pria yang kerap disapa Adi Spikey ini.

Pada dasarnya, mereka bukanlah preman seperti yang digambarkan orang pada umumnya, orang yang menjadi sampah masyarakat dengan tindakan-tindakan yang merugikan orang lain.

RMI NU Tegal

Mereka hanya pemuda-pemuda yang gemar mengikuti tren, nongkrong dan aktivitas lainnya yang tidak pernah bersinggungan dengan kejahatan sosial. "Dulu saya sering mabuk-mabukan, tapi sekarang sudah tidak lagi setelah mengaji," aku pria berambut gaya musisi punk ini.

Senada dengan Adi, Nugroho Amiel juga demikian, jejaka yang belum memiliki pekerjaan tetap ini awalnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk sekedar berhura-hura dan mencari kesenangan sendiri. Kehidupannya tertaa setelah mendapatkan pencerahan melalui pengajian yang diikuti. "Awalnya sih cuma ikut-ikutan saja, saya anggap sepele saja. Pertimbangannya cuma karena nggak enak sama temen-temen, lama-lama saya ketagihan dan saya hampir tidak pernah bolos," katanya.

Kendati sebagian besar dari mereka telah berkepala tiga, namun, mereka masih mengeja satu persatu huruf saat belajar membaca. Tidak malu-malu mereka mengakui kekuarangan dalam hal agama. Bagi mereka, semangat untuk bisa membaca Al Quran lebih utama ketimbang mengedepankan rasa malu. "Buat apa malu, saya malah bangga belajar ngaji di usia yang sudah segini," terangnya.

Diantara barisan itu, Eed Baronx juga menjadi salah satu peserta pengajian. Nama Eed Baronx sejak tahun 1990an diidentikan di Kabupaten Temanggung sebagai salah satu musisi beraliran rock. Tercatat, pria gempal dengan rambut panjang ini menjadi vokalis Java Rock yang melantunkan lagu dalam Bahasa Jawa, namun beraliran rock. "Meskipun terlambat mengaji, tetapi saya tidak masalah. Beruntung Tuhan masih mengingatkan saya sekarang, banyak teman-teman yang tidak diingatkan untuk bertaubat," paparnya.

Untuk mengaji itu, mereka mendatangkan ustadz yang memiliki cara mengaji khusus yang dapat diikuti dengan mudah oleh orang dewasa. Sang ustadz dengan sabar dan telaten juga meladeni para pemuda ini meskipun sering banyak huruf-huruf arab yang terlupakan. "Maklum saja, kan sudah tua jadi banyak yang sekarang ingat, besok lupa, tetapi tidak masalah yang penting saya mau berusaha," papar pria 45 tahun ini.

Untuk memberikan insentif pada ustadz yang mengajar, mereka iuran setiap pertemuan dengan jumlah yang tidak ditentukan. Uang hasil iuran tersebut seluruhnya digunakan untuk mengganti tenaga mengajar ustadz yang didatangkan dari kecamatan lain. "Sekarang, kita juga giliran membawa makanan untuk buka puasa, jadi seperti pengajian bapak-bapak itu," lanjutnya.

Kedepan, mereka sangat berharap mampu membaca Al Quran dengan fasih. Mereka berharap, dalam mendidik anak nantinya dilakukan sendiri sehingga lebih bisa memahami. "Pinginnya nanti anak-anak saya, saya yang ngajari ngaji," tandasnya. (Abaz Zahrotien/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal AlaNu, Nahdlatul, Ubudiyah RMI NU Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Kader PMII Didorong Kuasai Karya-karya Ulama Aswaja

Jombang, RMI NU Tegal. Sejumlah mahasiswa di Jombang yang tergabung dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) melakukan follow-up materi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang sebulan lalu sudah diajarkan dalam penyelenggaraan Sekolah Aswaja.

Kader PMII Didorong Kuasai Karya-karya Ulama Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Didorong Kuasai Karya-karya Ulama Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Didorong Kuasai Karya-karya Ulama Aswaja

Mereka duduk bersila membentuk lingkaran bundar di area Taman Keplak Sari Kebon Ratu sembari berdiskusi serta mereview sejumlah pemahaman yang telah diserap sebelumnya, Ahad (16/10) siang.?

Agus Riyanto, Ketua III Bidang Keagamaan Pengurus Cabang (PC) PMII Jombang mengimbau agar pemahaman kader PMII tentang Aswaja hendaknya terus ditingkatkan. Setidaknya mereka sudah mulai menguasai terhadap setiap karya yang dibuat oleh para ulama Aswaja. ?

"Menarik sekali jika kader-kader Aswaja ini dalam bidang fiqih, tasawuf/teologi, aqidah, muamalah ada yang menguasainya masing-masing," kata Agus di hadapan mereka.?

RMI NU Tegal

Saat ini, kata Agus, terdapat berbagai kelompok atau organisasi Islam yang juga mengatasnamakan dirinya beraswaja. Namun Aswaja yang dianut mereka tak sesuai dengan pemahaman Aswaja yang diajarkan PMII pada umumnya.?

Karenanya, penguasaan kader PMII terhadap setiap produk ulama Aswaja sangat penting untuk menjaga kemurnian pemahaman merekn. "Seperti ketika browsing di internet tentang Aswaja, berapa persen Aswaja NU yang muncul, dan berapa banyak Aswaja dari yang lainnya, seperti Aswaja HTI," jelasnya.?

RMI NU Tegal

Mengingat belakangan ini terdapat banyak isu yang berkembang, baik dari sisi sosial, budaya dan agama, ke depan, mereka juga komit membahas tentang isu-isu tersebut dalam perspektif Aswaja serta metodologinya.?

"Oleh karenanya pendalaman teori dan pembahasan atas isu-isu lokal akan kita kaji dalam pertemuan selanjutnya, dan silakan sahabat-sahabat tuangkan dalam bentuk tulisan ilmiah nantinya," ujar Agus yang juga mantan Ketua Komisariat Wahab Hasbullah tersebut. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kiai, Ubudiyah, Pertandingan RMI NU Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Geliat Kehidupan Muslim di Chiang Mai Thailand

Chiang Mai,? RMI NU Tegal. Suasana masjid Hidayatul Islam di Chiang Mai, Thailand terlihat lengang baik saat pagi, siang maupun sore hari. Seolah tidak ada kegiatan yang berarti, meski sekarang adalah bulan Ramadlan. Hal tersebut tentu sangat berbeda dengan suasana masjid yang begitu ramai dan gegap gempita penuh dengan kajian Islam saat bulan Ramadlan.

Geliat Kehidupan Muslim di Chiang Mai Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)
Geliat Kehidupan Muslim di Chiang Mai Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)

Geliat Kehidupan Muslim di Chiang Mai Thailand

Di sudut masjid, terlihat orang-orang melakukan beberapa aktivitas. Ada yang menata-nata meja dan kursi, ada yang memotong-motong daging, ada yang menumbuk bumbu-bumbu, dan ada yang menanak nasi. Semuanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Mereka ini lah pengurus masjid yang bertugas untuk menyiapkan hidangan untuk buka puasa di masjid Hidayatul Islam atau biasa dipanggil dengan masjid Banhaw.

RMI NU Tegal

“Saat Ramadlan, kita menyediakan makanan saat dinner time (buka puasa),” kata salah satu pengurus masjid Banhaw, Pantewee Mapai Roje, kepada? RMI NU Tegal? di Chiang Mai, Thailand, Sabtu (18/6).

RMI NU Tegal

Selain itu, terdengar juga suara-suara lirih anak kecil yang mengeja beberapa ayat Al Quran dari lantai tiga gedung masjid Banhaw.

“Kita juga ada Islamic school,” tegas Pantewee.

Menurut dia, sekolah Islam yang ada di masjid Banhaw tersebut memiliki lima tingkatan dan itu setara dengan sekolah dasar. Ada tiga puluh anak yang belajar dan tinggal di sekolah Islam tersebut. Semuanya laki-laki.

Di depan masjid terdapat gedung yang menjulang tinggi. Gedung tersebut memiliki lima lantai. Lantai pertama dibuat untuk ruang serba guna, termasuk tempat buka puasa bersama. Lantai kedua dipakai untuk ruang pertemuan dan ruang kelas. Lantai ketiga untuk perpustakaan, ruang kelas, dan ruang ustadz. Lantai ke empat adalah untuk ruang pertemuan dan ruang kelas. Sedangkan lantai lima difungsikan sebagai tempat tinggal santri dan lapangan olah raga.

Sekolah Islam tersebut dimulai sejak pukul Sembilan pagi dan selesai pada pukul satu siang. Mereka belajar nahwu, shorof, sirah nabawiyah, dan keilmuan Islam lainnya.?

Meski demikian, Pantewee menyebutkan bahwa perkembangan Islam di Chiang Mai berjalan begitu lamban. Baginya, ada dua hal yang menghambat dan menjadi persoalan bagi perkembangan Islam di Chiang Mai.?

Pertama, metode pengajaran. Laki-laki berambut perak tersebut menyanyangkan beberapa ustadz yang mengajarkan Islam dengan metode yang biasa-biasa saja. Sehingga hal tersebut kurang menarik perhatian anak-anak muda.?

Kedua, ajaran untuk menjadi orang yang egois. Pantewee juga menyanyangkan bahwa ada banyak ustadz yang melarang umat Islam untuk mengikuti dan berpartisipasi dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh komunitas non-muslim.?

“Mereka mengajarkan kita untuk menjadi orang yang egois,” pungkasnya.?

Ada tiga masjid di Chiang Mai, yaitu masjid Hidayatul Islam atau Banhaw, masjid Attaqwa, dan masjid Chang Khlan.? (Muchlishon Rochmat/Fathoni)?





Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Cerita, Ubudiyah, Doa RMI NU Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

22 Ribu Santri Ikuti Liga Santri Nusantara 2017

Bandung, RMI NU Tegal

Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 yang mulai bergulir sejak akhir Agustus lalu diikuti sekitar 22 ribu santri dari 1048 pondok pesantren seluruh Indonesia. Mereka berkompetisi di dalam 32 region untuk mendapatkan tiket ke Seri Nasional.  

Manajer Kompetisi M. Kusnaeni mengatakan, partisipasi pesantren mengikuti Liga Santri Nusantara lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, antusiasme peserta sangat luas biasa.  

22 Ribu Santri Ikuti Liga Santri Nusantara 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
22 Ribu Santri Ikuti Liga Santri Nusantara 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

22 Ribu Santri Ikuti Liga Santri Nusantara 2017

Pada LSN tahun pertama, 2015, kompetisi diikuti 400 pondok pesantren. Tahun kedua meningkat dua kali lipat, yaitu 826 pondok pesantren, begitu juga di tahun ketiga.   

RMI NU Tegal

“Kita sampai menolak-nolak peserta,” kata Sekretaris RMINU Habib Soleh.

RMI NU Tegal

Di Jawa Timur, kata Wakil LSN tersebut,terdiri dari empat region. Sementara jumlah pesantrennya yang ingin mengikuti LSN sangat banyak. Untuk mensiasatinya, Panitia Regional membentuk Sub Region.

“Akhirnya di Jawa Timur sampai beberapa kabupaten membuat liga penyisihan untuk masuk ke Region, misalnya terjadi di Blitar, Tulungagung, Madiun, Magetan, Pacitan, Kediri, Trengalek. Begitu juga terjadi di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Riau.

Kini, LSN masuk ke Seri Nasional yang digelar di Kota Bandung, Jawa Barat. Hanya 32 tim yang lolos mewakili 32 region masing-masing. Mereka bertanding tiap hari sekali untuk lolos ke babak selanjutnya. Kemudian memperebutkan juara pertama LSN tahun ini pada grand final yang akan beralangsung di stadion Bandung Lautan Api (BLA). (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pertandingan, Pondok Pesantren, Ubudiyah RMI NU Tegal

Selasa, 21 November 2017

30 Calon Jamaah Haji Ditangkap di Filipina

Nunukan, RMI NU Tegal

Sebanyak 30 warga Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang adalah calon haji dan berangkat ke Tanah Suci Makkah, Arab Saudi, ditahan petugas negara Filipina karena dianggap memalsukan dokumen.

30 Calon Jamaah Haji Ditangkap di Filipina (Sumber Gambar : Nu Online)
30 Calon Jamaah Haji Ditangkap di Filipina (Sumber Gambar : Nu Online)

30 Calon Jamaah Haji Ditangkap di Filipina

Humas Kementerian Agama Kabupaten Nunukan, Sayid Abdullah, di Nunukan, Senin, mengiyakan hal itu, bahwa mereka ditahan petugas imigrasi Filipina, di Bandar Udara Internasional Ninoy Aquino, Manila, ketika hendak berangkat ke Tanah Suci Makkah, sekitar pukul 04.00 setempat, Jumat (19/8).

"Saya sudah mencari beberapa informasi terkait calon haji yang ingin berangkat ke Tanah Suci Mekkah lewat Filipina dan 30 orang itu memang warga (Pulau) Sebatik," kata Abdullah.

Namun dia menyatakan, belum dapat memberikan keterangan resmi terkait penahanan ke-30 warga Sebatik itu karena terus mengumpulkan informasi terutama dari Kedutaan Besar Indonesia di Manila.

RMI NU Tegal

Infrormasi yang diperoleh, jumlah WNI yang akan berangkat ibadah haji pada 2016 menggunakan paspor Filipina sebanyak 177 orang dimana 30 orang di antaranya warga Pulau Sebatik.?

Menurut keterangan Kepala Imigrasi Nunukan, I Nyoman Suryamataram, penggunaan paspor Filipina oleh WNI dengan tujuan melaksanakan ibadah haji merupakan pelanggaran hukum kewarganegaraan. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ubudiyah, Sejarah, Kajian RMI NU Tegal

RMI NU Tegal

Gus Dur dan Kepiawaian Menulisnya

Beberapa lama setelah berada di kampung halamannya, Tebuireng, Jombang di tahun-tahun 1972-1974, selain mengajar di Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asyari, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mulai menekuni kembali bakat menulisnya dan menjadi kolomnis di berbagi media massa nasional. Pada kurun ini tulisannya kerap bermunculan di berbagai media massa mulai dari majalah nasional umum seperti Tempo hingga majalah islami seperti Panji Masyarakat yang didirikan oleh Buya Hamka.

Selain memiliki kelebihan-kelebihan lainnya yang sudah jamak diketahui publik,? salah satu dari kemampuan lainnya Gus Dur yang menonjol bahkan sedari kanak-kanak adalah menulis. Di majalah Tempo sejak tahun 1970-an sampai 1980-an, ia kerap datang sendiri untuk menulis kolomnya. Begitu produktifnya hingga tulisan yang satu belum dimuat, sudah ada lagi tulisan yang lain. Produktivitas Gus Dur membuat Goenawan Muhammad, pemimpin redaksi Tempo waktu itu mengambil inisiatif untuk menyediakan satu meja khusus plus mesin ketik untuknya. Hampir tiap minggu Gus Dur menulis. Menurut pengakuannya dalam suatu wawancara di televisi, itu dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sekeluarga.

Gus Dur dan Kepiawaian Menulisnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Kepiawaian Menulisnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Kepiawaian Menulisnya

Dalam menulis Gus Dur mempunyai banyak ide. Hal-hal yang bagi orang lain dipandang sepele dan remeh temeh, dibuatnya menjadi penting.? Keluasan wilayah pemikirannya mengagumkan banyak orang dan sulit untuk diimbangi. Dibanding dengan cendekiawan atau penulis lain, spektrum? perhatian Gus Dur masih jauh lebih luas. Tulisannya tidak hanya masalah-masalah agama dan sosial politik, melainkan juga budaya, sejarah, pertanian, musik, sampai sepakbola nasional dan internasional.

RMI NU Tegal

Ketika menulis, Gus Dur kerap berangkat dari asumsi dan akumulasi pengetahuan yang dimilikinya. Karena Gus Dur secara umum dikenal mempunyai analisa yang banyak tepatnya, maka tak heran ia pernah diminta oleh harian terkemuka di ibu kota untuk menganalisis pertandingan-pertandingan sepakbola dalam suatu ajang piala dunia.

Menurut kesaksian salah satu saudara kandungnya, Salahuddin Wahid, Gus Dur memang mempunyai kemampuan menulis yang dimiliki sejak kecil. Kemampuan menulis Gus Dur tergolong luar biasa. Sewaktu SD, dia telah memenangkan lomba menulis se-Jakarta.? Bahkan ketika tidak dapat menulis sendiri, Gus Dur mendiktekan apa yang ingin ditulisnya. Meskipun hanya didektekan, tetapi hasilnya tetap merupakan sebuah tulisan yang bermutu dengan tata bahasa dan sistematika yang bagus. Di tangan Gus Dur, segala sesuatu dapat dijadikan sebagai obyek tulisannya.

RMI NU Tegal

Pada saat Gus Dur dioperasi sekitar tahun 1993, ia diminta untuk membuat kata pengantar sebuah buku berbahasa Inggris. Buku itu dibacakan oleh salah seorang putrinya. Ternyata dengan mudah saja Gus Dur dapat membuat kata pengantar dengan mendiktekannya. Hal itu lantaran Gus Dur pandai menarik benang merah atau hal-hal pokok dari sebuah buku meski cuma dibacakan oleh orang lain.

Kemahiran menulis yang dimiliki Gus Dur sebagaimana di atas tentu saja banyak faktor pendukungnya. Di samping peran luasnya pergaulan, banyaknya pengalaman dan aspek bakat, yang tidak kalah pentingnya lagi adalah karena faktor budaya bacanya yang tinggi yang telah tertanam sejak dari kecil.

Sejak kecil saat masih tinggal di rumahnya di Matraman, oleh ayahnya memang Gus Dur dan saudara-saudaranya telah dididik dan diarahkan agar mereka gemar membaca buku. Untuk putra-putrinya, KH Wahid Hasyim menyediakan buku-buku di rumah tersebut dengan sangat beragam topik dan temanya, tidak hanya tentang keislaman. Selain buku, disediakan pula olehnya di samping media-media Islam, juga terdapat media massa Katolik dan terbitan non-Muslim lainnya. Gus Dur dan adik-adiknya melalui bejibun bahan bacaan tersebut dirangsang untuk membaca apa saja yang mereka sukai.

M. Haromain, Warga NU bergiat di Forum Santri Temanggung

Disarikan dari:

Ali Yahya, Sama Tapi Berbeda: Potret Keluarga Besar KH. A. Wahid Hasyim, Penerbit: Yayasan KH. A. Wahid Hasyim, Jakarta, 2007.? ?

Majalah Tebuireng, edisi 09, Januari-Maret, 2010? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ubudiyah, Tegal RMI NU Tegal

Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU

Malang, RMI NU Tegal

Saat perhelatan Harlah ke-70 Muslimat Nahdlatul Ulama di Gedung Olah Raga (GOR) Gajayana Malang Jawa Timur, Sabtu? pekan lalu? (26/3), ada dua rekor yang ditorehkan. Pertama adalah pergantian hijab dari berwarna hijau menjadi putih oleh 50 ribu lebih peserta. Kedua, pemukulan rebana oleh seluruh peserta dan diikuti Presiden RI.



Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU



Ribuan massa Muslimat NU dari seluruh Indonesia yang mencapai hampir 70 ribu jamaah sungguh membuat bangga siapa saja yang hadir di GOR Gajayana Kota Malang. Mereka adalah utusan Muslimat NU dari seluruh kawasan di Tanah Air, yang tentu saja didominasi dari Jawa Timur.



RMI NU Tegal



RMI NU Tegal

Gubernur Jatim Pimpin Rapat

Sejak pagi, para rombongan telah memadati kawasan kota dingin ini. Ratusan bus dan mini bus merangsek memadati kota dari berbagai penjuru. "Untungnya koordinasi dan komunikasi lintas sektoral tersebut berjalan baik yang dilakuan panitia antara Pemerintah Kota Malang dan Jawa Timur," kata Helmi M Noor, Kamis (31/3) malam.





Pemilik Cita Entertainment dan menjadi pengatur jalannya prosesi Harlah ini mengemukakan bahwa, angka 70 ribu jamaah terlampaui berdasarkan laporan dari koordinator setiap kabupaten. Tidak tertampungnya jamaah di dalam hingga meluber di sekitar GOR adalah bukti bahwa kehadiran mereka sebagai kebanggaan.





Ditemui di kantornya, kawasan Pagesangan Surabaya, Helmi menjelaskan sejumlah tahapan yang dilakukan sehingga kegiatan berjalan sesuai harapan. "Peringatan Harlah Muslimat NU benar-benar melalui koordinasi yang sangat rapi dan terperinci," kata dia.





Seluruh kekuatan seakan dikerahkan untuk menyukseskan perhelatan akbar tersebut. "Bahkan Gubernur Jawa Timur H Soekarwo juga berkenan memimpin rapat secara langsung agar acara berjalan sesuai harapan," katanya. Karena itu, seluruh kepala dinas bahu membahu turut memberikan yang terbaik demi nama baik Jawa Timur.





Hal tersebut sangat terasa ketika pelaksanaan harlah. Dinas Perhubungan memberikan panduan di sejumlah titik strategis sebagai panduan agar rombongan dari berbagai kota tidak sampai tersesat. "Sejumlah petunjuk arah tersedia di banyak sudut kota saat akan memasuki Kota Malang," kata alumnus Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini.





Demikian pula pihak kepolisian turun dengan kekuatan penuh, mengurai jalan sehingga tidak terjadi penumpukan. "Tidak sedikit kendaraan peserta yang dikawal menuju lokasi acara sehingga tidak menimbulkan jalan menjadi macet," katanya.





Fasilitas pendukung juga demikian membantu. "Dinas pertamanan menyediakan 100 kran di setiap sudut sehingga peserta bisa melaksanakan Shalat Dhuhur berjamaah di dalam GOR," ungkapnya. Air yang tersedia juga termasuk istimewa karena didatangkan langsung oleh kepala dinas setempat. Demikian pula soal kebersihan, kepala dinas setempat turun langsung memimpin pasukan, lanjutnya.





Sejumlah billboard di jalur utama setiap kabupaten dan kota juga semakin memeriahkan gaung harlah. "Dan semuanya dipersembahkan untuk Muslimat NU, tanpa diminta," ungkapnya. Apa yang didermakan para pegiat dan pemilik usaha periklanan out door tersebut sebagai panggilan demi suksesnya acara. "Inilah kehebatan Muslimat NU," terang Helmi.





Tutorial Peserta

Bisa dibayangkan bagaimana ribet dan sulitnya mengatur puluhan ribu ibu-ibu muslimat yang notabene usianya juga lanjut untuk bisa satu komando. Apalagi mereka datang dari seluruh pelosok Indonesia yang tidak mungkin dikumpulkan untuk dikondisikan dan megetahui teknis acara. "Ini pekerjaan yang sangat menantang," sergah bapak 3 anak ini.





Meski demikian sejumlah upaya tetap dilakukan agar jangan sampai berkumpulnya ribuan jamaah perempuan NU tersebut justru menjadi masalah. "Kalau mereka satu komando dan rapi, pasti akan terlihat istimewa," kenangnya.





Akhirnya ditemukanlah sejumlah cara di antaranya mengirimkan tutorial dalam bentuk video kepada koordinator peserta di seluruh Indonesia. "Rekaman itu sekaligus panduan bahwa pada kegiatan harlah nanti para peserta harus mengikuti langkah dan gerakan yang ada," kata alumnus Universitas Darul Ulum Jombang ini.





Saat para peserta sudah memadati GOR, dilakukan gladi resik untuk memantapkan panduan yang telah ada. "Dan untuk menyeragamkan bacaan shalawat dan ketukan pada 50 ribu rebana, kami menyediakan leader atau pemandu," ungkap dia.





Dengan demikian, puluhan ribu peserta hanya mengikuti saja bacaan dan ketukan rebana sehingga tercipta keserasian nada. Jumlah pemimpin shalawat tersebut adalah 200 orang dari unsur paduan suara Muslimat NU Jombang, 200 santri dari Pesantren Bahrul Maghfirah Malang, serta 50 personel grup shalawat dari el-Kiswah Surabaya.





Dan kalau menyaksikan tampilan rekaman yang sudah diunggah di youtube, maka akan terlihat bahwa 50 ribu peserta Harlah Muslimat NU demikian terpandu dan melantunkan shalawat serta menabuh rebana yang telah dibawa dengan tertib. "Suasananya benar-benar syahdu. GOR yang demikian luas berselimutkan shalawat," bangga Helmi.





Mendadak Presiden Hadir

Hal yang juga tidak diduga panitia termasuk Ketua Umum PP Muslimat NU sendiri, Hj Khofifah Indar Parawansa adalah kedatangan Presiden RI. "Sebenarnya 15 hari sebelum kegiatan Harlah sudah ada kepastian bahwa Presiden RI akan hadir," katanya. Karena itu sejumlah acara telah disiapkan dengan mempertimbangkan kedatangan presiden.





Namun 3 hari jelang pelaksanaan Harlah, ada kabar bahwa presiden berhalangan hadir. "Oleh karena itu, semua persiapan acara yang melibatkan sebelum, saat dan usai presiden hadir akhirnya dipangkas dari agenda," kenang Helmi. Perubahan jadwal tersebut juga membawa berkah karena "kerumitan" akan terurai.





Oleh karena itu, seluruh persiapan dan rangkaian acara akhirnya dipastikan tanpa kehadiran orang nomor satu di negeri ini. "Bagi panitia, hal tersebut sebagai sesuatu yang melegakan lantaran tidak terlalu ribet dengan aturan yang mengikat," kata mantan wartawan Majalah AULA PWNU Jatim tersebut.





Namun dengan tanpa disangka sekitar jam 4 sore di hari Jumat (25/3) ada telepon dari protokoler Pemerintah Provinsi Jatim bahwa Presiden RI akan datang pada puncak Harlah Muslimat NU tersebut. "Sebentar lagi pihak protokoler Istana akan menghubungi untuk membicarakan kehadiran presiden," katanya menirukan telpon dari Pemprov Jatim.





Padahal sore itu sedang dilakukan gladi resik panitia dan petugas inti untuk kelancaran acara besok siang. Kepastian akan hadirnya Presiden RI membuat Ibu Khofifah dan panitia serta petugas menitiskan air mata. "Subhanallah, ini kejadian luar biasa dan tidak diduga," kata Helmi menirukan ungkapan Khofifah. Kala itu Helmi melihat hampir seluruh panitia dari unsur Muslimat NU dan diikuti petugas lain menangis. Air mata tumpah lantaran haru atas kejadian serba mendadak tersebut.





Benar juga, pihak protokoler istana akhirnya meminta jadwal acara secara rinci kepada panitia. Usai diemail, ada sedikit revisi yang diberikan istana terkait mata rangkai acara yang harus dilaksanakan besok siang karena melibatkan presiden. "Sekitar jam 10 malam, rangkaian acara disepakati," tegas Helmi.





Dan malam itu juga, pasukan khusus dari Jakarta terbang ke Malang dengan pesawat Hercules untuk koordinasi. "Kalau mengandalkan pesawat keesokan harinya pasti tidak akan nutut," katanya.





Dengan tindakan tegas dan langkah taktis tersebut, pihak istana bisa melakukan penyisiran lokasi dari jam 6 pagi. "Seluruh kawasan dilakukan sterilisasi untuk memastikan keamanan bagi presiden dan rombongan," katanya. Saat itu juga akhirnya dilakukan pembagian tugas. Helmi dan "pasukan" fokus ke acara, sedangkan hal yang menyangkut keamanan GOR dan sekitarnya menjadi tanggung jawab pasukan keamanan.





GOR Layaknya Padang Arofah

Dengan lancarnya arus kendaraan menuju GOR karena dibantu pihak kepolisian dan dinas perhubungan, sejak pagi satu demi satu jamaah Muslimat NU memasuki lokasi. Standar Operasional Prosedur (SOP) ala Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres) pun diberlakukan. "Warga Muslimat yang akan masuk GOR harus melewati pintu deteksi yang membuat sedikit krodit," kata dia.





Maklum, jauh-jauh sebelum acara telah disampaikan bahwa selama di dalam GOR, peserta tidak bisa keluar lagi hingga usai acara. Keperluan shalat, bekal makanan dan sejenisnya harus telah lengkap. "Kami mengingatkan kepada peserta bahwa jadikan GOR Gajayana layaknya Padang Arofah," kata Helmi.





Nah, yang jadi "masalah" adalah ketika mereka melewati pintu deteksi sebagai SOP Paspampres. "Beberapa kali alarm bahaya berbunyi lantaran peserta membawa sejumlah peralatan layaknya bepergian jauh," seloroh Helmi. Makanan dan minuman di dalam rantang, sendok, bahkan tidak sedikit yang membawa pisau atau silet menjadi pengiring suasana sehingga terjadi antrean panjang di pintu masuk. Apalagi kala itu hanya tersedia dua pintu utama yang dibuka. "Kalau di media muncul liputan bahwa peserta berdesakan, ada benarnya meskipun tidak semuanya tepat," bela dia. Karena itu adalah konsekuensi bagi kehadiran presiden.





Namun pada prinsipnya, acara berjalan sesuai harapan. Tidak ada rombongan yang mengeluh lantaran jauh sebelum acara telah dilakukan sosialisasi terkait persiapan tersebut. Apalagi para perempuan NU yang terhimpun dalam Muslimat kerap melaksanakan ziarah wali yang mengharuskan menyiapkan keperluan pribadi dan ibadah secara mandiri. "Kemah sejenak di GOR Gajayana bagi ibu Muslimat NU sudah terbiasa," tegas Helmi.





Pecahnya rekor Museum Rekor Indonesia atau MURI menjadi puncak kesuksesan acara tersebut. Ada 50 ribu lebih jamaah yang telah menyiapkan kerudung putih untuk digantikan dari awalnya hijau. "Dalam hitungan 1 hingga 9, GOR Gajayana yang awalnya bernuansa hijau, akhirnya berubah menjadi putih," katanya.





Demikian pula, rekor selanjutnya adalah pelantunan shalawat dengan menggunakan rebana, pecah hari itu. Di tribun utama ada Presiden RI, Ketua Umum MUI yang juga Rais Aam PBNU, Ketua MPR, Menteri Agama RI, Gubernur Jawa Timur dan Ketua Umum PP Muslimat yang juga Menteri Sosial secara bersama menabuh rebana mengiringi jamaah yang berjumlah 50 ribu lebih. "Sungguh, suasana saat itu sangat khidmat dan tidak sedikit peserta yang menangis sembari menengadah sembari melantunkan shalawat," jelas Helmi.





Ribuan jamaah berbaju hijau dengan kerudung putih dengan bacaan Shalawat Badar yang dilantunkan menjadi selimut bagi stadion yang biasanya digunakan acara konser musik dan pertandingan bola. "Peristiwa ini membawa pesan bahwa dengan hijab, Indonesia akan menjadi kiblat mode dunia di masa mendatang," ungkapnya. Bahwa kegiatan dengan mengundang jamaah berjumlah ribuan tidak identik dengan acara hura-hura, tapi sarat makna.





Demikian pula pelantunan shalawat yang diiringi alat musik tradisional khas Indonesia membawa filosofi bahwa Islam dan tradisi adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. "Inilah Islam Indonesia, inilah Islam Nusantara, dan inilah Islam rahmatan lilalamin," kata dia.





Seluruh rangkaian acara yang dihadiri Presiden RI tersebut berlangsung sekitar 85 menit. "Lebih cepat dari yang disepakati protokol istana yakni 90 menit," terang Helmi. Sehingga seluruh rangkaian acara diteliti dengan cermat. "Jalannya acara setiap detik dan menitnya kita hitung dengan cermat agar jangan sampai mengganggu jadwal presiden," katanya.





Bagi masyarakat yang tidak berkesempatan mengikuti acara di GOR Gajayana, Helmi telah menyediakan rangkumannya dalam 9 serial yang dipubilikasikan lewat youtube. "Ada tayangan singkat prosesi hijab terbanyak dan menabuh rebana bersama Presiden Jokowi yang sudah tayang," terangnya. Kemudian akan menyusul tayangan laskar antinarkoba, pidato Presiden Jokowi, pidato Khofifah, Jokowi menyapa jamaah di GOR, taushiyah KH Hasyim Muzadi, juga Khofifah saat menyanyi. Selamat. (Ibnu Nawawi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ubudiyah, Budaya, Makam RMI NU Tegal

Minggu, 19 November 2017

Menpora dan Ketum PBNU Bakal Buka Munas Ke-2 KMNU

Bandung, RMI NU Tegal. Musyawarah Nasional (Munas) Ke-2 Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) akan diselenggarakan di Kota Bandung pada 22 hingga 24 Januari 2016 mendatang. Munas KMNU pada tahun ini mengusung tema “Bersama KMNU Membangun Indonesia”.

Menteri Pemuda dan Olahraga RI Imam Nahrawi dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dijadwalkan akan menghadiri dan membuka Munas KMNU di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kota bandung pada Jum’at, 22 Januari 2016. Keduanya juga bakal menjadi pembicara dalam seminar nasional bertajuk “Optimalisasi Peran Mahasiswa Santri untuk Akselerasi Pembangunan Bangsa” yang menjadi bagian dari rangkaian Pembukaan Munas Ke-2 KMNU.

Menpora dan Ketum PBNU Bakal Buka Munas Ke-2 KMNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora dan Ketum PBNU Bakal Buka Munas Ke-2 KMNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora dan Ketum PBNU Bakal Buka Munas Ke-2 KMNU

Pembukaan Munas KMNU ini juga akan dihadiri dari jajaran Pemprov Jawa Barat dan Pemkot Bandung, di samping para simpatisan KMNU dari berbagai kampus dan masyarakat secara umum.

RMI NU Tegal

Usai pembukaan di kampus UPI, Munas KMNU akan dilaksanakan di Gedung PWNU Jawa Barat dan Pondok Pesantren Nurul Huda Ciembeluit. Hadir sebagai peserta Munas KMNU adalah semua pengurus nasional KMNU dan perwakilan dari dua belas (12) KMNU Perguruan Tinggi se-Indonesia dan Malaysia, serta empat 4 perguruan tinggi yang akan mendirikan KMNU di kampusnya.

Ketua Panitia Munas KMNU Fendi Imam Fatoni mengatakan, agenda Munas di antaranya untuk melengkapi perangkat organisasi KMNU dan program kerja KMNU pada periode selanjutnya.

RMI NU Tegal

“Termasuk nanti juga dibahas laporan pertanggungjawaban Presnas KMNU selama setahun terakhir dan membahas metode kaderisasi untuk mahasiswa Nahdlatul Ulama di tingkat perguruan tinggi serta agenda pemilihan dan penetapan Presidium Nasional KMNU periode mendatang,” kata Imam Fatoni. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ubudiyah, Berita RMI NU Tegal

Kamis, 09 November 2017

Inilah Kesaksian Dokter Menjelang Wafatnya Kiai Sahal

Pati, RMI NU Tegal. Ada kejadian menyentuh hati kala Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh menghadapi sakaratul maut pada Kamis (23/1) hingga ajal menjemput pada Jumat dini hari. Dalam keadaan mata terpejam, Mbah Sahal tiada henti melafalkan aneka macam doa, tahlil, hingga surat-surat pendek. Meski terdengar berat, bacaan ulama kharismatik ini terdengar jelas dan terang.

Kesaksian ini diceritakan dokter H Imron Rosyidi kepada RMI NU Tegal usai tahlil malam kedua yang digelar di kediaman Rais Aam, Sabtu (25/1) malam. Dokter pribadi keluarga Mbah Sahal ini mengaku merinding mendengar lantunan hadlarah (bacaan sebelum tahlil) dari bibir Mbah Sahal yang terbaring lemah.

“Baru kali ini saya takut ketika menunggui orang yang mau meninggal. Bukan apa-apa, bacaan beliau yang jelas itulah yang membuat bulu kuduk saya berdiri. Terus terang, kalau ingat pengalaman tadi malam masih suka merinding,” ujar Imron berkaca-kaca.

Inilah Kesaksian Dokter Menjelang Wafatnya Kiai Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Kesaksian Dokter Menjelang Wafatnya Kiai Sahal (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Kesaksian Dokter Menjelang Wafatnya Kiai Sahal

Dokter muda yang juga direktur Rumah Sakit Islam (RSI) Pati ini menambahkan, saat membaca tahlil Mbah Sahal mengirim fatihah kepada para wali, kepada Mbah Mutamakkin, kepada PBNU, dan para ulama se-dunia. Setelah itu, Rais Aam tiga periode ini (1999-2004, 2004-2009, 2010-2014) berulang kali membaca aneka surah Al-Quran yang dihafal.

Dalam pantauan RMI NU Tegal, tahlil malam kedua di kediaman Mbah Sahal komplek Pesantren Maslakul Huda diikuti oleh lebih dari 2000 orang. Tahlil yang dipimpin KH Asmu’i ini juga dihadiri para kiai dari segenap pesantren di Desa Kajen. Pengasuh Pesantren Putri Roudloh At-Thahiriyyah KH Muadz Thohir dan Pengasuh Pesantren Maslakul Huda (PMH) Putri KH A Nafi’ Abdillah nampak sibuk mempersilakan tamu.

RMI NU Tegal

Menurut KH Umar Faruq al-hafidz, tahlil malam pertama juga dipenuhi para jamaah hingga meluber hingga jalan. Sementara kendaraan para pelayat sebagian besar diparkir di halaman RSI Pati, 100 meter arah barat dari pesantren Mbah Sahal. “2000 kursi yang disediakan panitia tidak cukup. Sebagian jamaah mengikuti tahlil dari musholla di mana Mbah Sahal kemarin disholati,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kyai, Ubudiyah RMI NU Tegal

RMI NU Tegal

Rabu, 08 November 2017

Pengurus Baru Lakpesdam NU Sulsel Dilantik

Makassar, RMI NU Tegal. Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan Anre Gurutta Muh Sanusi Baco melantik kepengurusan baru Lakpesdam NU Sulsel di aula Universitas Islam Makassar, Rabu (27/4). Acara ini sekaligus membuka jalan bagi program-program pemberdayaan yang akan digerakkan Lakpesdam NU Sulsel.

Pengurus Baru Lakpesdam NU Sulsel Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus Baru Lakpesdam NU Sulsel Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus Baru Lakpesdam NU Sulsel Dilantik

PWNU Sulsel menetapkan pengurus baru lembaga kajian yang kini dipimpin salah seorang guru besar Ekonomi Universitas Muslim Indonesia, Muhammad Natsir Hamzah.

Pelantikan ini berbarengan dengan Rapat Pleno Pemaparan Hasil Muskerwil PWNU Sulsel. Acara ini dihadiri pengurus lengkap syuriyah, tanfidziyah, dan pengurus lembaga, lajnah serta badan otonom NU Sulsel.

RMI NU Tegal

Didampingi Ketua PWNU Sulsel Iskandar Idy, Anre Gurutta Sanusi Baco langsung melantik jajaran PW Lakpesdam NU.

Kiai Sanusi Baco mengharapkan, “Pengurus yang baru dilantik sedianya melaksanakan tugas secara amanah dan penuh rasa memiliki.” (Andy M Idris/ Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Pahlawan, Ubudiyah RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock