Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film

Bondowoso, RMI NU Tegal - Jaringan Gusdurian Kabupaten Bondowoso dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional mengadakan acara Nonton Bareng Film “Cahaya dari Timur” bersama pemuda lintas agama yang ada di Bondowoso, Jawa Timur.

Kegiatan yang dikemas dengan sederhana ini dilaksanakan di halaman Kampus Akedemi Komunitas Negeri Bondowoso (Akom) Kabupaten Bondowoso, Rabu (16/11) malam.

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film (Sumber Gambar : Nu Online)
Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film (Sumber Gambar : Nu Online)

Pupuk Kebersamaan Lintas Agama, Gusdurian Bondowoso Putar Film

Koordinator Jaringan Gusdurian Bondowoso Daris Wibisono Setiawan mengatakan hari toleransi mulai diperingati oleh dunia pada tahun 1995. Menurutnya, malam itu adalah momentum untuk merajut kerukunan di tengah perbedaan.

RMI NU Tegal

“Gus Dur pernah bilang Keberagaman adalah bahasa keindahan Tuhan. Menolak keberagaman, memaksakan segala perbedaan, berarti tidak pernah mengakui eksistensi Tuhan,” tuturnya.

Kepala sekolah SMK NU Tenggarang ini berpendapat bahwa agama adalah wilayah pribadinya dengan Tuhan. Sementara hubungan sosial adalah hal lain. “Ketika saya keluar dari tempat ibadah, berarti kita duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, itulah ke indahan keberagaman," ucapnya di hadapan peserta yang sekaligus mewakili pihak Islam dalam pertemuan itu.

Sementara perwakilan Buddha, Hermawan, mengaku bersyukur Gusdurian mengajaknya berkumpul bersama komunitas lintas agama. Ini merupakan pertemuan pertama yang ia ikuti bersama Gusdurian.

RMI NU Tegal

"Saya harap kegiatan ini bisa di laksanakan setiap tahun mungkin kita bisa lebih kompak, lebih maju mudah-mudahan Gusdurian lebih jaya, lebih kompak , banyak teman-temannya untuk kepadulian," harapnya.

Sambutan juga datang dari agama lain secara bergiliran. Acara tersebut dihadiri para pemuda lintas komunitas dan agama, antara lain Kristen, Buddha, Mahasiswa Akademi Komunitas Negeri Bondowoso, OSIS SMA NU Bondowoso, serta organisasi kepemudaan lainnya. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama, Fragmen RMI NU Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Aksi Teroris Perancis Munculkan Islamophobia

Depok, RMI NU Tegal. Deputi Direktur International Conference of Islamic Scholars (ICIS) Arif Zamhari menyesakan aksi teroris di Perancis telah memunculkan kembali sikap islamphobia, ketakutan sebagian warga dunia terhadap Islam, meski perburuan terhadap pelaku teror di kantor majalah mingguan satir terkenal"Charlie Hebdo" yang menewaskan 12 orang itu telah berakhir.

Aksi Teroris Perancis Munculkan Islamophobia (Sumber Gambar : Nu Online)
Aksi Teroris Perancis Munculkan Islamophobia (Sumber Gambar : Nu Online)

Aksi Teroris Perancis Munculkan Islamophobia

Arif menegaskan, aksi tindakan tersebut bukan dari Islam dan ICIS  secara tegas mengecam aksi teroris itu. Namun, lanjutnya, masyarakat setempat mengira para pelaku adalah bagian dari perilaku umat  Islam. 

“Terbukti dengan serangan granat oleh kelompok setempat di sebuah masjid di Kota Le Mans, Perancis sehari setelah insiden penembakan Charlie Hebdo," terang menantu KH. Hasyim Muzadi ini, Ahad, (11/1).

RMI NU Tegal

Menurut Arif, proses kebijakan pemerintah Perancis terhadap umat Islam di negara tersebut masih menyisakan masalah. Untuk itu, tambahnya, perlu ada perbaikan dari pemerintah Perancis sendiri dalam memperlakukan umat Islam sehingga diskriminasi tidak terjadi. 

RMI NU Tegal

“Proses integrasi  umat Islam ke dalam sebuah kebijakan negara harus menjadi perhatian pemerintah Perancis,” tutur Doktor lulusan Australian National University (ANU) ini. (Aan Humaidi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan, Ahlussunnah, Kajian Islam RMI NU Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Unusia Kerjasama Bidang Pengadaan dengan Asosiasi Pengacara Pengadaan Indonesia

Jakarta, RMI NU Tegal. Fakultas Sosial dan Humaniora Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) melakukan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dengan Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Pengacara Pengadaan Indonesia (APPI). Penandatanganan nota kesepahamahan itu dilakukan di Kampus A Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jalan Taman Amir Hamzah 5 Menteng, Jakarta, Rabu (4/10).

Unusia Kerjasama Bidang Pengadaan dengan Asosiasi Pengacara Pengadaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Unusia Kerjasama Bidang Pengadaan dengan Asosiasi Pengacara Pengadaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Unusia Kerjasama Bidang Pengadaan dengan Asosiasi Pengacara Pengadaan Indonesia

Nota kesepahaman tersebut berisi tentang pembinaan terhadap mahasiswa hukum Unusia supaya handal dalam bidang pengadaan. 

“Nantinya, kerjasama ini akan menciptakan para ahli bidang pengadaan,” kata Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora Unusia, Muhammad Afifi.

RMI NU Tegal

Nota kesepahaman tersebut akan dilaksanakan oleh program studi Ilmu Hukum karena adanya kesamaan bidang. 

Ketua Umum APPI, Sabela Gayo mengatakan para bupati/walikota di Indonesia banyak yang takut untuk melakukan pengadaan sehingga dana yang terserap minim, yang berpotensi menyebabkan terbengkalainya pembangunan.

“Hal itu bisa disadari karena minimnya orang-orang yang ahli dalam bidang pengadaan,” ujar Gayo.

RMI NU Tegal

Program Studi Ilmu Hukum berada dalam institusi Fakultas Sosial dan Humaniora. Dengan adanya nota kesepahaman yang ditandatangani ini kedepannya keduanya bisa bersinergi untuk memajukan pendidikan dan pembangunan bangsa. (Red. Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Syariah, Ahlussunnah, Tokoh RMI NU Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Pra-Konfercab, PCINU Yaman Diskusikan Manhaj Dakwah NU

Tarim, RMI NU Tegal

Sebagai dari acara pra-konferensi cabang (konfercab), Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman menggelar diskusi publik tentang metode dakwah NU dan sikap bijak dalam menghadai perbedaan.

Forum yang berlangsung di aula sakan Dakhili, Universitas al-Ahgaff Tarim, Yaman, Senin (16/1), ini menghadirkan dua narasumber, yakni Ustadz Thohirin Shodiq dengan tema ”Manhaj NU dalam Berdakwah” dan Ahmad Dimyathi dengan tema “Bijak Menyikapi Perbedaan.” Acara diikuti pelajar-pelajar Indonesia yang sedang menempuh studi di Yaman.

Pra-Konfercab, PCINU Yaman Diskusikan Manhaj Dakwah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pra-Konfercab, PCINU Yaman Diskusikan Manhaj Dakwah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pra-Konfercab, PCINU Yaman Diskusikan Manhaj Dakwah NU

Thohirin Shodiq memaparkan kontribusi NU dalam berdakwah dari segi manhaj yang ditempuhnya. Menurut mahasiswa asal Cirebon ini, NU sebagai organisasi yang bergerak di bidang sosial keagamaan selalu proakfif dalam berdakwah. Tak hanya di Indonesia, sentuhan dakwah NU juga menyebar ke dunia internasional.

RMI NU Tegal

Ia berpendapat, dalam menjalankan visi-misi dakwah, NU mengedepankan visi integralistik, sebuah konsep pendekatan kepada semua golongan. Untuk mencapai pada tujuan tersebut, NU menerapkan tiga macam pola keterpaduan; ukhuwah islamiyah (persaudaraan antar sesama Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan terkait ikatan kebangsaan & kenegaraan), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan terkait hubungan manusia secara universal). Sedangkan upaya perealisasian ketiga pendekatan tersebut tercermin dari sikapnya yang menjunjung tinggi sikap rahmatan lil ’alamin, tawasuth (moderat), tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), dan amar ma’ruf nahi mungkar.

RMI NU Tegal

”Dengan memegang metode bilmau’idhah walhasanah dan beberapa prinsip yang telah disebutkan, maka dakwah Nahdliyyin dengan mudah diterima dan berkembang di tanah air,” ujarnya.

Sementara Ahmad Dimyathi lebih menekankan adanya sikap yang bijak dalam menyikapi sebuah perbedaan. Lanjutnya, perbedaan merupakan sunnatullah yang tak bisa dilenyapkan dari kehidupan ini. Bahkan sudah ada sejak sebelum manusia ini dicipatakan.

Ia menjelaskan, dalam pengkategoriannya, perbedaan itu terbagi kepada perbedaan terpuji dan tercela. Perbedaan terpuji yang terjadi di tubuh umat Islam khususnya, merupakan salah satu keistimewaan syariat Islam. Karena dengan adanya perbedaan tersebut justru menunjukkan kekayaan khazanah syariat Islam yang fleksibel, lintas zaman dan tempat. ?

Sedangkan perbedaan yang harus diwanti-wanti adalah perbedaan tercela. Menurut mahasiswa semester VII itu, perbedaan tercela secara global terdapat pada; perbedaan dalam ushuluddin, perbedaan yang berdasarkan hawa nafsu dan pembangkangan, dan perbedaan di luar lingkup ijtihad.

Sementara itu, kebijakan yang harus dipegang dalam menanggapi perbedaan tercela itu bisa ditempuh dengan beberapa hal, di antaranya melakukan kroscek dan klarifikasi, menjelaskan titik kelemahan dan kebathilannya, melakukan nahi-munkar dengan mau’idhah hasanah, berdiskusi serta menjauhi kata-kata yang menyerang, dan yang terakhir adalah tidak serampangan menvonis kafir.

“Salah satu kebijakan dalam dalam mengambil sikap yaitu melakukan klarifikasi dan kroscek terlebih dahulu, sehingga dapat meminimalisir terjadinya permusuhan,” ujarnya.

Berlanjut ke sesi pertanyaan, salah satu audiens, M. Burhanuddin menyoal perihal sikap NU yang menurutnya terkesan tidak terlalu membela dalam aksi-aksi bela Al-Qur’an di Indonesia beberapa waktu lalu. Narasumber pertama, Thohirin menjelaskan bahwa ketidakikutsertakan NU dalam aksi tersebut bukan bermakna NU tidak mempunyai ghairah kepada Islam. Namun, sebagaimana diketahui, tidak semua pihak setuju dengan aksi tersebut.

Oleh karena itu, menurutnya, dalam hal ini pihak NU memilih jalan moderat (tawasuth). Selanjutnya PBNU juga tetap tidak tinggal diam. Bahkan ia terus berupaya dan berusaha menjalani pendekatan dengan beberapa pihak, termasuk pihak kepresidenan. Di sisi lain, juga tidak mencela atau mencaci pihak yang ikut aksi. Narasumber kedua, Ahmat Dimyathi, mengungkapkan pandangannya dalam menyikapi perbedaan tersebut harus dengan bijak, yaitu dengan tidak saling mencaci dan menyalahi.

Pertanyaan demi pertanyaan dilemparkan oleh audiens kepada dua narasumber tersebut hingga acara berakhir ketika azan dzuhur berkumandang. (Aidil Ridhwan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ahlussunnah RMI NU Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

BMT NU Cabang Rubaru Dilaunching

Sumenep, RMI NU Tegal 

Baitul Mal wat Tamwil NU Cabang Rubaru resmi dilaunching dan pegawainya resmi dilantik oleh Manager BMT NU Gapura Masyudi di KecamatanRubaru, Selasa (30/5) malam. Ada lima orang yang diangkat sebagai pegawai BMT NU Cabang Rubaru.

Usai pelantikan dilakukan pengguntingan pita sebagai tanda resmi telah dibukanya aktivitas BMT NU Cabang Rubaru. Pengguntingan pita dilakukan secara bersama oleh Ketua PCNU Sumenep H A. Pandji Taufiq, Manager BMT NU Gapura Masyudi dan Rais Syuriyah MWN NU Rubaru KH Madani. 

BMT NU Cabang Rubaru Dilaunching (Sumber Gambar : Nu Online)
BMT NU Cabang Rubaru Dilaunching (Sumber Gambar : Nu Online)

BMT NU Cabang Rubaru Dilaunching

Bantuan untuk siswa

RMI NU Tegal

Pada kesempatan tersebut juga diberikan bantuan kepada 10 siswa berprestasi di Kecamatan Rubaru.Siswa yang mendapatkan bantuan Muhammad Naufal, SaifulBahri, M Sufyan, Fahrul Rozi, Aflahah, Qudsiyah, Muliatul Hasanah, Moh. Abdullah, dan dua siswa lainnya.

RMI NU Tegal

Selain memberikan hadiah kepada siswa berprestasi, BMT NU Gapura juga memberikan rekening tabungan dengan simpanan sebesar 100 ribu rupiah kepada siswa yatim dan miskin.

Usai menerima rekening tabungan, Rifah (11), mengaku sangat bangga dan senang.Ia berjanji akan menyisihkan uang jajan sekolahnya untuk ditabung menambah tabungan yang diberikan BMT NU Gapura.

“Ke sekolah tiap hari 1000 tapi ada sisanya.Ke belakang sisa jajan akan ditabung,”ungkapnya pada RMI NU Tegal, saat ditemui di sela-sela acara.

Masyhudi dalam sambutannya menjelaskan, untuk menabung di BMT minimal 500 rupiah.

Bantuan Sepeda Motor

Bersamaan dengan acara launching tersebut Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumenep Abdul Hamid Ali Munir menyerahkan bantuan sepada motor kepada Majelis Wakil Cabang NU Rubaru.

Pemberikan sepeda motor tersebut diterima langsung Ketua MWC NU Rubaru KH Ali Murtadlo dengan disaksikan puluhan undangan yang menghadiri iacara launching BMT NU Rubaru.

Seusai menerima penyerahan sepeda motor, KH Ali Murtadlo mengaku sangat bangga dan senang dan sekaligus berterima kasih kepada politis idari dapil IV yang meliputi kecamatan rubaru. “Saya malam ini sangat bangga dan bersyukur,” katanya.

Usai penyerahan, Ali Munir mengatakan, hal itu sebagai wujud kebanggaan sebagai warga NU yang telah berhasil menduduki kursi dewan.“Itu terima kasih saya pada MWC NU Rubaru,” ungkapnya.

Selain memberikan bantuan sepeda motor, ia menabung di BMT NU Cabang Rubaru yang baru di launching dengan simpanan lima juta rupiah.

Sepeda motor yang diberikan jenis motor Revo keluaran 2011 dengan warna hitam. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: M Kamil Akhyari

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ahlussunnah, RMI NU RMI NU Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

PCNU Kudus Agendakan Konfercab

Kudus, RMI NU Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kudus mengagedakan konferensi cabang (Konfercab) bulan Desember 2013 mendatang. Keputusan ini diambil dalam rapat koordinasi PCNU sekaligus Halal Bihalal pada acara Lailatul Ijtima di kantor NU Jl Pramuka 20 Kudus, Selasa malam (27/8).

PCNU Kudus Agendakan Konfercab (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kudus Agendakan Konfercab (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kudus Agendakan Konfercab

Ketua PCNU KH Chusnan Ms mengatakan masa periode kepengurusannya akan berakhir pada Oktober 2013 ini sehingga harus merencanakan pelaksanaan konferensi. Tetapi pada bulan itu pihaknya menunaikan ibadah haji, konferensi tidak bisa tepat waktu bulan tersebut melainkan diundur dua bulan tepatnya akhir tahun ini.

“Karena bulan Oktober saya masih di tanah suci, jadi konferensi kita laksanakan bulan Desember supaya persiapannya bisa lebih matang segalanya,” katanya saat memimpin koordinasi pengurus tersebut.

RMI NU Tegal

Ia mengajak semua jajaran kepengurusan NU dan badan otonom di semua tingkatan untuk merampungkan semua program-program yang telah direncanakan. Diantaranya, program pengadaan papan nama NU dan banom segera bisa direalisasikan pada akhir tahun ini.

RMI NU Tegal

“Kami melihat banyak Pengurus Ranting NU dan banomnya belum memiliki papan nama. Oleh karenanya kami mohon akhir tahun ini papan nama sudah terpasang semua,” tandas KH Chusnan.

Di depan pengurus, lajnah, lembaga dan badan otonom serta MWCNU se-Kudus, KH Chusnan mendorong supaya selalu menumbuhkan semangat berjam’iyyah Nahdlatul Ulama.

“Disamping itu, pengurus diharapkan selalu mendukung dan berpartisipasi aktif terhadap program-program yang digalakkan oleh PCNU Kudus,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, ditetapkan juga wakil ketua H Hadziq ZU sebagai pelaksana tugas PCNU Kudus menggantikan KH Chusnan selama menunaikan ibadah haji yang rencananya berangkat 27 September bersama rombongan KBIHNU.

Hadir juga dalam acara Lailatul Ijtima Rais Syuriyah PCNU KH Ulil Albab Arwani yang menyampaikan hikmah Halal Bihalal.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal PonPes, Ahlussunnah RMI NU Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Cara MI Ma’arif Kenalkan NU pada Anak

Karanganyar, RMI NU Tegal. Dalam rangka mengenalkan tokoh pendiri Nahdlatul Ulama kepada siswa, guru Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif NU Nurul Hikmah Desa Pojok Kecamatan Mojogedang Kab. Karanganyar mengajak siswanya untuk mewarnai foto logo NU dan gambar Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari.

“Dengan mewarnai, kami ingin para siswa MI Ma’arif ini mengetahui pendiri NU, kemudian mengenalnya dan bisa meneladani sikap dan juga sifat tokoh pergerakan islam tersebut secara baik dan benar,” ujar Ririn salah satu guru MI Ma’arif, Sabtu (4/1).

Cara MI Ma’arif Kenalkan NU pada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara MI Ma’arif Kenalkan NU pada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara MI Ma’arif Kenalkan NU pada Anak

Lebih lanjut Ia menuturkan bahwa salah satu mata pelajaran favorit siswa MI adalah kesenian, namun sangat disayangkan jika tiap pertemuan siswa selalu menggambar atau mewarnai pemandangan tanpa memasukkan unsur pengetahuan lain di mata pelajaran favorit mereka itu.

RMI NU Tegal

Sehingga mewarnai merupakan langkah awal, sedangkan langkah selanjutnya yaitu dengan membaca riwayat Kiai Hasyim, dan membuat puisi.” Setelah mewarnai, kami hubungkan dengan materi Bahasa Indonesia yaitu membaca serta menceritakan kembali, baru setelah itu lanjut ke materi membuat puisi berdasarkan gambar,” imbuhnya.

RMI NU Tegal

Mengenai boleh tidaknya mewarnai foto pendiri NU ini, Ririn berpegang dari perkataan Mbah Kiai Muchith Muzadi yang didengar langsung oleh suaminya saat menjadi panitia PKPNU Malang Raya, dimana Mbah Muchith membolehkan bahkan menganjurkan agar siswa dikenalkan tokoh NU salah satunya dengan mewarnai.

Ia berharap dengan pembelajaran ini, tumbuh dalam diri siswa akan sosok figur yang bisa dijadikan teladan. (Ahmad Rosyidi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ahlussunnah, Hikmah, Berita RMI NU Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Pengembangan Ahlussunnah wal Jamaah di Lingkungan NU

Oleh KH Abdurrahman Wahid

Beberapa tahun terakhir ini kita saksikan pergulatan yang hebat di kalangan berbagai kelompok Islam di Tanah Air. Banyak muncul berbagai organisasi baru yang mengajukan klaim sebagai perwadahan organisasi kaum ulama Indonesia, baik yang berstatus swasta maupun setengah resmi. Ada yang didirikan khusus untuk menampung aspirasi kelompoknya saja, tetapi ada yang didirikan sebagai wadah dialog (musawarah) para ulama berbagai kelompok.

Di samping bertemunya segala macam ajaran dari berbagai kelompok di lingkungan perguruan-perguruan tinggi agama dan non-agama, organisasi-organisasi keulamaan itu akhirnya membawakan kebutuhan untuk melakukan perumusan kembali pengertian aqidah Ahlussunnah wal Jamaah di lingkungan Nahdlatul Ulama sendiri. Ini tercetus antara lain dalam bentuk membatasi pengertian ke-ahlussunnah-an hanya pada satu ajaran saja. Yaitu ajaran tauhid kedua imam Asy’ari dan Al-Maturidi saja. Asa yang selama ini menjadi dasar keputusan bersama (ijma’ = konsesus) tentang madzhab fiqh dan akhlaq al-tasawwuf diminta agar ditinjau kembali karena ada kemungkinan keduanya tidak termasuk asa ke-ahlussunnah-an.

Pengembangan Ahlussunnah wal Jamaah di Lingkungan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengembangan Ahlussunnah wal Jamaah di Lingkungan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengembangan Ahlussunnah wal Jamaah di Lingkungan NU

Kita dapat menghargai dan mengerti munculnya keinginan seperti itu yang didasarkan kepada niat baik untuk mencari pendekatan sejauh mungkin antara warga Nahdlatul Ulama dan warga organisasi-organisasi lain, sebagai reaksi atas perpecahan hebat yang terjadi dalam batang tubuh umat Islam sendiri selama ini. Kita dapat memahami munculnya gagasan islaf (meniru kaum salaf) hingga kepada masa sebelum perbentukan madzhab fiqh, sebagai ikhtiyar penghayatan kembali masa keemasan Khulafaur Rasyiddin. Kita dapat memahami peningkatan kecenderungan untuk istidlal langsung kepada nushush manqulah yang menjadi sumber utama hukum agama kita, dengan mengurangi pengambilan langsung dari aqwal fi qutubihim al-muqarrarah, demi tercapainya kesatuan dan persyatuan di kalangan umat Islam. Semuanya akan kita korbankan dan kita persembahkan kalau diperlukan untuk memelihara kesatuan dan persatuan itu.

Tetapi kenyataan yang ada tidaklah semudah impian di atas. Andai kita tinggalkan perumusan yang sudah ada tentang al-Usus al-tsalatsah fi I’tiqadi ahlissunnah wal Jamaah (bertauhid mengikuti Imam al-Asy’ari dan al-Maturidi, berfiqh mengikuti salah satu madzhab empat dan berakhlaq sesuai dengan perumusan Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam Abu Hamid al-Ghazali) dan kita ambil patokan paling sederhana seperti yang diusulkan di atas, dapat dipastikan persatuan dan kesatuan umat Islam tetap belum terwujud. Perpecahan hebat di lingkungan umat Islam diakibatkan oleh perbedaan besar dalam soal-soal luar aqidah, maka yang terjadi adalah perbedaan dalam penerapan aqidah itu sendiri dalam masalah-masalah nyata yang timbul dalam kehidupan. Kaum Ahlussunnah wal Jam’ah di lingkungan Nahdlatul Ulama menggunakan segala kelengkapan (alat) dan istimbath al-ahkam, termasuk usulul al-fiqh, qawaid al-fiqh, dan hikmat al-tasry’ dalam merumuskan keputusan hukum agama mereka, sedangkan orang lain hanya menggunakan istinbath dari (pengambilan lnagsung dari dalam naqli tanpa terlalu mementingkan penggunaan alat-alat tersebut di atas dalil naqli itu) dalam mengambil keputusan. Biar bagaimanapun juga, tiak akan ada kesepakatan cara (wasail, metode) di kalangan kaum muslimin, dan tetap akan ada perbedaan pendapat (ikhtilaf al-ara’) di antara mereka sebagai akibat sebagaimana diperkuat oleh kaidah ikhtilaf al-ummah rahmah.

Menciptakan Saling Penghargaan

Pemecahan persoalannya bukanlah dengan cara mempersatukan semua wasail yang berbeda-beda itu, melainkan menciptakan saling penghargaan di antara kelompok yang berlainan pandangan itu. Kesamaan sikap hidup dan pandangan umum tentang kehidupan adalah alat utama untuk menghilangkan perbedaan pendapat, atau setidak-tidaknya usaha menghindarkan perbedaan yang tajam. Sikap hidup dan pandangan umum tentang kehidupan yang bersamaan secara nisbi, dapat dikembangkan melalui penyusunan dasar-dasar umum penerapan aqidah masing-masing guna maslahah bersama. Kalau kita perbincangkan pengembangan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, maka caranya bukanlah dengan mengembangkan (perumusan kembali) aqidah yang sudah muttafaq ‘alaih semenjak berabad-abad, melainkan dengan mengembangkan dasar-dasar umum penerapan aqidah yang sudah diterima secara umum di lingkungan Nahdlatul Ulama itu. Biarkanlah al-usus al-tsalatsah yang sudah menjadi konsesus itu tetap pada keasliannya, sesuai dengan kaidah “al-ashlu baqau ma kana ala makana”. Yang terpenting adalah bagaimana merumuskan dasar-dasar umum penerapan ketiga usus itu dalam kehidupan nyata sekarang.

RMI NU Tegal

Dua Bentuk Kerja Utama

RMI NU Tegal

Pengembangan dasar-dasar umum penerapan aqidah yang sudah ada, tanpa mengubah aqidah itu sendiri, dapatlah dirumuskan sebagai upaya pengembangan ajaran (ta’lim) Ahlussunnah wal Jamaah. Pengembangan ajaran itu mengambil bentuk dua kerja utama berikut.

Pertama, pengenalan pertumbuhan kesejarahan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah yang meliputi pengkajian kembali sejarah pertumbuhan Ahlussunnah wal Jamaah dan dasar-dasar umum penerapannya di brbagai negara dan bangsa, semenjak masa lalu dan sekarang. Ini meliputi pengkajian wilayah (dirasat al-aqalim al-muslimah/area studies of Islamic people), dari Afrika Barat hingga ke Oceania dan Suriname. Kekhususan dasar umum masing-masing wilayah harus dipelajari secara teliti, untuk memungkinkan pengenalan mendalam dan terperinci atas praktik-praktik ke-ahlussunnah-an.

Kedua, perumusan dasar-dasar umum kehidupan bermasyarakat di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, meliputi bidang-bidang berikut;

1.? Pandangan tentang tempat manusia dalam kehidupan alam

2.? Pandangan tentang ilmu, teknologi, dan pengetahuan

3.? Pandangan ekonomis tentang pengaturan kehidupan masyarakat

4.? Pandangan tentang hubungan individu (syakhs) dan masyarakat (mujtama’)

5.? Pandangan tentang tradisi dan penyegarannya melalui kelembagaan hukum, pendidikan, politik dan budaya

6.? Pandangan tentang cara-cara pengembangan masyarakat, dan

7.? Asas-asa penerapan ajaran agama dalam kehidupan.

Secara terpadu, perumusan akan dasar-dasar umum kehidupan bermasyarakat itu akan membentuk perilaku kelompok dan perorangan yang terdiri dari sikap hidup, pandangan hiup, dan sistem nilai (manhaj al-qiyam al-mutsuliyyah) yang secara khusus akan memberikan kebulatan gambaran watak hidup Ahlussunnah wal Jamaah (syakhsyiyatu ma tamassaka bi aqidati Ahlissunnah wal Jamaah).

Kehidupan Masa Kini

Perumusan dasar-dasar umum kehidupan bermasyarakat yang dibagi dalam tujuh bidang di atas, akan dapat dilakukan dalam sebuah dialog terbuka di kalangan warga Nahdlatul Ulama, tidak hanya terbatas di lingkungan tertentu saja. Untuk memungkinkan pembicaraan terbuka yang eifisien, diperlukan sebuah kerangka umum pandangan Nahdlatul Ulama atas masalah-masalah kehidupan masa kini. Kerangka umum itu, menurut hemat penulis, haruslah memasukan unsur-unsur berikut.

Pertama, pandangan bahwa keseluruhan hidup ini adalah peribadatan (al-hayatu ‘ibadatun kulluha). Pandangan ini akan membuat manusia menyadari pentingnya arti kehidupan, kemuliaan kehidupan, karena itu hanya kepadanya lah diserahkan tugas kemakhlukan (al-wadhifat al-khalqiyyat) untuk mengabdi dan beribadat kepada Allah SWT. Demikian berharganya kehidupan, sehingga menjadi tugas umat manusia lah untuk memelihara kehidupan ini dengan sebaik-baiknya, termasuk memelihara kelestarian sumber-sumber alam, memelihara sesama manusia dari pemerasan oleh segolongan kecil yang berkuasa melalui cara-cara bertentangan dengan perikemanusiaan, meningkatkan kecerdasan bangsa guna memanfaatkan kehidupan secara lebih baik, dan seterusnya.

Kedua, kejujuran sikap hidup merupakan sendi kehidupan bermasyarakat sejahtera. Kejujuran sikap ini meliputi kemampuan melakukan pilihan antara berbagai hal yang sulit, guna kebahagiaan hidup masa depan; kemampuan memperlakukan orang lain seperti kita memperlakukan diri sendiri (sehingga tidak terjadi aturan permainan hidup bernegara yang hanya mampu menyalahkan orang lain dan menutup mata terhadap kesalahan sendiri); dan kemampuan mengakui hak mayoritas bangsa dan umat manusia untuk menentukan arah kehidupan bersama. Kejujuran sikap ini akan membuat manusia mampu memahami betapa terbatasnya kemampuan diri sendiri, dan betapa perlunya ia kepada orang lain, bahkan kepada orang yang berbeda pendirian sekalipun. Ini akan membawa kepada keadilan dalam perlakuan di muka hukum, penegakan demokrasi dalam arti yang sebenarnya, dan pemberian kesempatan yang sama untuk mengembangkan pendapat masing-masing dalam kehidupan bernegara.

Ketiga, moralitas (akhlaq) yang utuh dan bulat. Akhlaq yang seperti ini, yang sudah dikembangkan begitu lama oleh para ulama kita, tidak rela kalau kita hanya berbicara tentang pemberantasan korupsi sambil terus-menberus mengerjakannya; tidak dapat menerima ajakan hidup sederhana oleh mereka yang bergelimang dalam kemewahan tidak terbatas yang umumnya diperoleh dari usaha yang tidak halal; dan menolak penguasaan seluruh wilayah kehidupan ekonomi oleh hanya sekelompok kecil orang belaka.

Secara keseluruhan, kerangka umum di atas akan membawa Nahdlatul Ulama kepada penyusunan sebuah strategi perjuangan baru yang akan mampu memberikan jawaban kepada tantangan-tantangan yang dihadapi Nahdlatul Ulama sendiri dewasa ini dan di masa mendatang, strategi perjuangan itu, yang unsur-unsurnya sudah banyak dibicarakan dan dirumuskan dalam berbagai kesempatan oleh banyak kalangan Nahdlatul Ulama sendiri, perlu dirumuskan dan disusun, jika kita ingin melakukan perjuangan yang lebih terarah dengan cara yang lebih tepat.

Dua Sendi

Untuk keperluan penyusunan strategi perjuangan itu, di bawah ini akan dikemukakan kedua sendi yang tidak boleh tidak harus dimiliki.

Pertama, pendekatan yang akan diambil oleh strategi itu sendiri, yang seharusnya ditekankan pada penanganan masalah-masalah kongkret yang dihadapi oleh masyarakat melalui kerja-kerja nyata dalam sebuah proyek rintisan, baik di bidang pertanian, perburuhan, industri kecil, kesehatan masyarakat, pendidikan keterampilan, dan seterusnya.

Kedua, organisasi atau arah yang akan ditempuh oleh strategi itu sendiri, yang seyogianya dipusatkan pada pelayanan kepada kebutuhan pokok mayoritas bangsa, yaitu kaum miskin dan yang berpenghasilan rendah.

?

?

*) Tulisan ini pernah dimuat sebagai kata pengantar dalam buku “Ahlussunnah wal Jamaah: Sebuah Kritik Historis” karya ? KH Said Aqil Siroj (Jakarta: Pustaka Cendikia Muda, 2008).

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ahlussunnah, Kajian Sunnah RMI NU Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah

Jakarta, RMI NU Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mempertanyakan dasar pemberhalaan praktik ziarah kubur di makam para wali. Dengan menyebut makam wali sebagai berhala, Ditjen Pendis Kemenag dalam buku guru SKI Kelas VII MTs Kurikulum 2013 sudah seharusnya mempertanggungjawabkan pijakan argumentasinya.

Rais Syuriyah PBNU KH Saifuddin Amsir meminta Kemenag mengeluarkan klarifikasi dan pernyataan permohonan maaf secara terbuka atas keteledorannya.

PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah

“Di mana letak pemberhalaan ziarah kubur?” Kiai Saifuddin menuntut penjelasan Kemenag, Rabu (17/9) pagi.

RMI NU Tegal

Orang-orang yang berziarah ke makam orang tuanya, para guru dan kiai, orang-orang saleh, para wali hingga makam Rasulullah Saw, hakikatnya mengikuti perintah Rasulullah sendiri. Kiai Saifuddin menyitir hadits Nabi Muhammad Saw, ‘Ala fazuruha. Liannaha tudzakkirukumul mauta’ (Ingat, berziarahlah. Karena, ziarah kubur itu akan mengingatkanmu pada kematian).

“Jadi kalau Nabi yang menyuruh orang ziarah untuk mengingat kematian, kok malah disamakan dengan penyembahan berhala? Musyrik? Apanya yang musyrik? Yang musyrik itu orang yang mempertahankan sesuatu selain Allah,” kata Rais Syuriyah PBNU yang aktif mengajar kitab kuning di puluhan masjid di Jakarta kepada RMI NU Tegal.

RMI NU Tegal

Kiai Saifuddin menantang pihak Kemenag untuk musyawarah perihal argumentasi pernyataan itu. “Saya pengen banget lihat tampang orang Kemenag yang sok-sok begitu, yang ngomongnya ngaco. Kalau mereka bisa meruntuhkan argumentasi kesunahan ziarah kubur, saya akan membayar mereka.” (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ahlussunnah, News, Kajian RMI NU Tegal

Senin, 18 Desember 2017

IPNU-IPPNU Mojoduwur Siapkan Festival Patrol Sekabupaten

Jombang, RMI NU Tegal. Dalam rangka memperingati haul Mbah Thoyib ke-149, Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) dan  Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU) Desa Mojoduwur, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur tengah menyiapkan festival lomba seni patrol se-Kabupten Jombang dan pengajian umum, Sabtu, (7/11) di halaman mushalla Mbah Thoyib.

IPNU-IPPNU Mojoduwur Siapkan Festival Patrol Sekabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Mojoduwur Siapkan Festival Patrol Sekabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Mojoduwur Siapkan Festival Patrol Sekabupaten

M Nashihuddin, Ketua PR IPNU Mojoduwur mengatakan, kegiatan ini digelar sebagai upaya mengenang dan meneladani perjuangan sosok Mbah Thoyib, salah satu tokoh Mojoduwur yang sangat berpengaruh dalam sejarahnya. Mbah Thoyib juga dikenal sebagai pembabat desa setempat.

“Setiap tahunnya masyarakat, aparat desa dan organisasi kepemudaan mengadakan peringatan haul. Nah, untuk haul ke-149 ini, kami akan menggelar agenda festival lomba seni patrol se-Kabupten Jombang salah satunya,” katanya saat dihubungi, Rabu (4/11).

RMI NU Tegal

Sementara itu, panitia penyelenggara, hingga saat ini tengah membahas persiapan untuk festival lomba seni patrol dengan intensif. “Masih terus membahas persiapan festival itu khususnya, karena kita menargetkan peserta festival kurang lebih dari 50 grup seni,” ujarnya.

RMI NU Tegal

Ia menjelaskan, pendaftaran lomba masih dibuka, bisa dilkukan di kantor Pondok Pesantren Baitussalam, Mojoduwur dengan mengisi formolir pendaftaran, atau bisa langsung menghubungi panitia lewat contact person Didin : 08563315703, Fiasal : 085859688289, masing-masing grup dikenakan biaya administrasi sebesar 50.000 rupiah.

Kamis (5/11) ini diselenggarakan pertemuan untuk membahas hal-al teknis terkait festival tersebut di mushalla Mbah Thoyib. Pihak penyelenggara juga menyiapkan beberapa macam hadiah, yaitu juara I mendapatkan tropi, sertifikat dan uang sebesar 2.000.000, juara II (tropi, sertifikat dan uang 1.000.000) dan juara III akan membawa pulang tropi, sertifikat dan uang 750.000. (Syamsul/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Fragmen, Ahlussunnah, Jadwal Kajian RMI NU Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Cegah Terorisme, Pers Didorong Minimalisir Persaingan

Gorontalo, RMI NU Tegal. Anggota Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Willy Pramudya, menyebut persaingan media menjadikan profesionalisme wartawan semakin turun. Untuk mencegah penyebarluasan paham radikal terorisme, media disarankan meminimalisir persaingan. 

Hal itu disampaikan Willy saat menjadi narasumber Visit Media Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Gorontalo ke Mimoza TV, Rabu (8/11).

Cegah Terorisme, Pers Didorong Minimalisir Persaingan (Sumber Gambar : Nu Online)
Cegah Terorisme, Pers Didorong Minimalisir Persaingan (Sumber Gambar : Nu Online)

Cegah Terorisme, Pers Didorong Minimalisir Persaingan

"Karena alasan persaingan media sekarang mendewakan klik, rating, dan oplah; yang ujungnya media menjadi tidak profesional," kata Willy.

Ketidakprofesionalan media, lanjut Willy, di antaranya tampak dari terjadinya glorifikasi, fabrikasi, justifikasi. Dalam isu terorisme, tak jarang berbagai pelanggaran menjadikan berita yang disajikan media menjadi teror baru bagi masyarakat. 

"Contoh kasus bom di Jalan Thamrin, Jakarta. Kejadiannya tidak besar, tapi karena media mengejar rating dan membuatnya heboh, masyarakat yang di Gorontalo juga merasakan kengeriannya," tambah Willy.

RMI NU Tegal

Willy menambahkan, menjadi tugas industri pers dan wartawan secara pribadi untuk meningkatkan independensi dan profesionalismenya.

"Profesionalisme akan mencegah persaingan antarmedia," tutupnya. 

RMI NU Tegal

Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo mendukung apa yang disampaikan Willy Pramudya. Menurutnya, pencegahan terorisme bukan hanya menjadi tugas pemerintah. 

"Pers adalah bagian dari yang wajib ikut terlibat dalam pencegahan terorisme. Bagaimana keterlibatannya, salah satunya dengan menjaga profesionalisme," kata Yosep. 

Stanley, demikian Yosep Adi Prasetyo disapa, juga menyampaikan empat fungsi pers, yaitu penyampaian informasi kepada masyarakat, media pendidikan, media hiburan serta sarana pengingat dan pengawal pemerintahaan. Pemberitaan media diminta tidak meninabobokkan aparat pemerintahan. 

"Media juga harus mampu menyampaikan kritik apabila menemukan ketidakadilan, karena ketidakadilan dalah salah satu penyebab seseorang menjadi radikal dan mau melakukan aksi terorisme," tandas Stanley.   

Stanley mengajak media menjalankan fungsi mata dan telinga bagi masyarakat, mengingatkan bahwa ancaman radikalisme dan terorisme ada di mana-mana dan bisa terjadi kapan saja. 

Visit Media merupakan salah satu metode yang dijalankan di kegiatan Pelibatan Media Massa dalam Pencegahan Terorisme. Satu metode lainnya adalah Dialog Literasi Media sebagai Upaya Cegah dan Tangkal Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sunnah, Ahlussunnah, Habib RMI NU Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Ketua PWNU Jawa Tengah Bicara Radikalisme

Rembang, RMI NU Tegal - Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abu Hafsin menyebutkan bahwa paham dan gerakan radikal merupakan sebuah kenyataan yang ada sejak zaman dahulu mungkin sampai hari akhir. Menurutnya, gerakan-gerakan sempalan yang merupakan gerakan radikalisme ini tidak akan pernah pudar.

Demikian disampaikan Kiai Abu Hafsin di hadapan ratusan peserta talkshow yang diselenggarakan oleh MWCNU Sedan di aula MA YSPIS Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Kamis (18/2) malam.

Ketua PWNU Jawa Tengah Bicara Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU Jawa Tengah Bicara Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU Jawa Tengah Bicara Radikalisme

Dalam kesempatan tersebut hadir sebagai narasumber utama Drs KH Abu Hapsin Umar yang juga menjabat sebagai Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Jawa Tengah. Didampingi oleh Effendi selaku Plt Kepala Kejaksaan Negeri Rembang.

RMI NU Tegal

Abu Hapsin menjelaskan, pada zaman Rasulullah juga sudah ada, pada zaman sahabat juga ada. Saya kira, seandainya kita melirik ke belakang setelah terjadi fitnatul kubro antara Khalifah Ali dan Muawiyah, kemudian ada sekelompok orang yang dahulu merupakan pengikut Khalifah Ali karena tidak puas dengan kebijakan yang diambil oleh khalifah Ali mereka keluar dari Syiah.

RMI NU Tegal

Mereka membentuk kelompok sendiri dalam sejarah Islam yang dikenal dengan orang-orang Khawarij. "Sikap dan karakternya kalau seandainya saat ini kita lihat, persis sekali dengan orang-orang radikal yang hidup pada zaman sekarang," terangnya.

Acara talkshow ini bertema "Menggugat Paham dan Perilaku Radikalisme" yang diikuti oleh mayoritas kader GP Ansor dari berbagai kecamatan yang ada di Rembang. Tampak antusiasme dari kalangan kader muda NU yang hadir sebagai peserta dalam melontarkan berbagai pertanyaan mengenai paham dan perilaku radikalisme.

Menurut Abu Hafsin, gerakan ini menunjukkan upaya untuk melakukan perubahan tapi dengan cara radikal, gerakan yang tidak menunjukkan cara-cara santun. Orang bisa terdorong menjadi radikal juga dari berbagai faktor.

"Seringkali kita dapat memahaminya dengan ucapannya yang terdengar tidak ada dalam sunah dan Al-Quran. Pokoknya apa-apa yang tidak ada dalam sunah dan Al-Quran adalah di luar Islam," pungkasnya.

Namun demikian, Abu Hafsin menyatakan optimis bahwa ruang gerak dan penyebaran paham radikal dapat dipersempit dengan sosialisasi paham NU yang moderat.

Turut hadir pula Mustasyar PCNU Kabupaten Rembang KH Sahlan M Nur yang dalam acara tersebut juga berkesempatan memimpin doa sebagai penutup acara. (Aan Ainun Najib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ahlussunnah RMI NU Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Ansor Sukoharjo Panen 2 Ton Nila, Kasatkornas Suntik Modal

Sukoharjo, RMI NU Tegal. PAC Ansor Bendosari, Sukoharjo, Jawa Tengah yang membudidayakan ikan nila dengan keramba di Waduk Mulur menghasilkan 2 ton saat panen perdana. Harakah nyata kemandirian ekonomi tersebut membuat Kepala Satkornas Banser H Alfa Isnaeni tertarik dan menyuntikan modal tambahan berupa dua petak keramba senilai Rp5 juta.

Kepala Asrendiklat Satkornas Banser Nuril Huda, di Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (3/8) menjelaskan, kemandirian ekonomi atau mengembangkan kewirausahaan tertuang dalam Peraturan Dasar Peraturan Rumah Tanggah (PD-PRT) Gerakan Pemuda Ansor.

Ansor Sukoharjo Panen 2 Ton Nila, Kasatkornas Suntik Modal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Sukoharjo Panen 2 Ton Nila, Kasatkornas Suntik Modal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Sukoharjo Panen 2 Ton Nila, Kasatkornas Suntik Modal

Ia lalu menambahkan, setelah ikut panen raya perdana bersama jajaran PC GP Ansor Sukoharjo pada Rabu 2 Agustus 2017 yang dikelola Kelompok Usaha Bersama (KUB) PAC Ansor Bendosari, H Alfa mendorong kader untuk semakin menggiatkan kemandirian ekonomi.

"Bantuan dua petak keramba tersebut diberikan Kasatkornas kepada Satkorcab Banser Sukoharjo sebagai penegasan dukungan terhadap gerakan kemandirian kader," ujar Nuril.

KUB Ansor Bendosari memiliki 5 petak keramba, satu keramba rata-rata menghasilkan 4 kuintal setiap kali panen. Adapun harga per kilogram ikan nila pada kisaran Rp22 ribu.?

RMI NU Tegal

Menggunakan sampan dan dayung tangan, H Alfa bersama kader Ansor dan Banser Sukoharjo menuju ke tengah Waduk Mulur tempat keramba berada kemudian melakukan pemanenan secara simbolis.

RMI NU Tegal

? Usaha lain dikembangkan Pemuda Ansor di Sukoharjo adalah ternak kambing dengan sistem modal bergulir kepada anggota.

"Bantuan tersebut untuk memotivasi kader Ansor dan Banser di Indonesia untuk berani melakukan gerakan wirausaha," demikian Nuril Huda. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Halaqoh, Ahlussunnah RMI NU Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Pertama dalam Sejarah, Arab Saudi Izinkan Ada Mufti Perempuan

Riyadh, RMI NU Tegal. Langkah Arab Saudi untuk melakukan reformasi kebijakan dan menerabas konservatisme terus bergulir. Yang terbaru, perempuan di negara monarki ini diizinkan mengeluarkan fatwa.

Keputusan bersejarah tersebut merupakan hasil pemungutan suara di Dewan Syura atau badan penasihat resmi Arab Saudi. Sebanyak 107 suara mendukung adanya mufti perempuan.

Pertama dalam Sejarah, Arab Saudi Izinkan Ada Mufti Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertama dalam Sejarah, Arab Saudi Izinkan Ada Mufti Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertama dalam Sejarah, Arab Saudi Izinkan Ada Mufti Perempuan

Dengan demikian, aspirasi ini mengakhiri monopoli mufti laki-laki yang bertahan selama 45 tahun. Seperti dipaparkan Arab News, Jumat (29/9), para mufti perempuan dipilih oleh dekret Kerajaan.

Aspirasi tersebut semula muncul dari salah satu anggota Dewan Syura dalam pertemuan ke-49, yang meminta Presidensi Umum Penelitian Ilmiah dan Pemberian Fatwa, untuk membuka bagian independen untuk perempuan.

Presidensi Umum Penelitian Ilmiah dan Pemberian Fatwa merupakan satu-satunya badan pemerintah yang berwenang menerbitkan fatwa di Kerajaan Arab Saudi.

RMI NU Tegal

Ini bukan kali pertama Arab Saudi mulai terbuka bagi perempuan. Sebelumnya, Raja Salam bin Abdul Aziz mengeluarkan dektrit langka dengan memperbolehkan perempuan menyetir. Keputusan tersebut secara resmi berlaku pada Juni 2018.

Pada perayaan hari nasional 23 September 2017, pemerintah Arab Saudi juga secara perdana memperbolehkan perempuan memasuki stadion lalu menikmati kemeriahan konser musik dan tarian tradional. (Red: Mahbib)

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Tegal, Ahlussunnah, Kajian RMI NU Tegal

Rabu, 29 November 2017

Santri Siaga Bencana Peduli Banjir Jakarta

Jakarta, RMI NU Tegal. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU telah melaksanakan Tanggap Darurat di 8 RT Kedoya Utara. Tim SSB NU (Santri Siaga Bencana) Jakarta Barat disupport oleh LPBI NU membuka dapur umum selama 4 hari, mulai selasa 15-18 Januari 2013.

Setiap hari mereka memberi makan selama dua kali untuk 1100 jiwa warga terdampak yang berada di 8 RT, yaitu RT 2, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Kedoya Utara Jakarta Barat. 

Santri Siaga Bencana Peduli Banjir Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Siaga Bencana Peduli Banjir Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Siaga Bencana Peduli Banjir Jakarta

Koordinator Posko LPBI NU Peduli Kedoya Lukman menyatakan bahwa sebuah kewajiban bagi warga NU untuk membantu masyarakat yang terkena bencana.

RMI NU Tegal

Selain membuka dapur umum di Kedoya tim LPBI NU melalui SSB NU juga membuka posko di Grogol Petamburan, Cengkareng dan daerah terdampak yang lain di Jakarta. 

RMI NU Tegal

Syamsul Bahri warga RT 8 menyambut baik inisiatif LPBI NU dengan membuka dapur umum dan menyalurkannya kepada warga di 8 RT. Karena belum ada yang memberikan bantua logistik dan makanan ke warga. Sampai saat ini sebagian warga masih mengungsi di masjid sementara warga yang tidak mengungsi, tapi tinggal di lantai 2 rumahnya membutuhkan bantuan sembako. Hal ini dikarenakan akses jalan yang masih terndam air dan kurang berjalannya roda ekonomi.

Hal ini diamini oleh Wahib dari PP LPBI NU yang akan memberikan bantuan paket sembako kepada 1100 jiwa di 8 RT Kedoya Utara dan tempat lain. 

“Semoga ini dapat membantu meringankan beban masyarakat di wilayah Jakarta Barat,” katanya. 

Di Grogol Petamburan, LPBI NU membuka posko di Masjid  Jami’ Al Ikhlas, samping banjir kanal barat, di daerah ini 12 RT terdampak banjir luapan dari banjir dari tanggul di Roxy, SSB NU telah membantu evakuasi dan membantu pemenuhan kebutuhan dasar 

Ketua PP LPBI NU, Avianto Muhtadi menjelaskan sebelum memberikan bantuan kemanusiaan, Tim Santri Siaga Bencana yang sudah terlatih dalam manajemen penanggulangan bencana melakukan assessment di area terdampak untuk mengetahui kondisi lapangan, jumlah warga yang membutuhkan bantuan dan jenis bantuan yang paling dibutuhkan. 

Hal ini dimaksudkan agar bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran dan efektif. Avianto berharap bantuan yang sudah dan sedang diberikan dapat meringankan beban masyarakat yang sedang tertimpa musibah. 

Selain itu, menurut Avianto, para relawan LPBI NU sejak awal didorong untuk membuka Posko Kemanusiaan di Masjid agar fungsi sosial Masjid dapat semakin dirasakan oleh masyarakat selain juga karena secara fisik, masjid memiliki struktur bangunan yang lebih kokoh dan lebih tinggi sehingga relatif aman dari banjir.

 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pendidikan, Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama RMI NU Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Sempat Vakum, IPPNU Sukabumi Dibentuk Kembali

Sukabumi, RMI NU Tegal. Setelah beberapa tahun terakhir vakum, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Sukabumi dan Kota Sukabumi akhirnya dibentuk kembali.

Menurut Ketua Pimpinan Wilayah IPPNU Jawa Barat Nunung Nurjanah, kepengurusan PC IPPNU Sukabumi sebenarnya sudah terbentuk sejak lama, hanya saja beberapa tahun belakangan nyaris tak ada aktivitas. “Lalu kepengurusan sebelumnya tidak tersisa satupun, sehingga kepengurusan kembali dibentuk,” ungkap Nunung kepada RMI NU Tegal, Ahad (12/10).

Sempat Vakum, IPPNU Sukabumi Dibentuk Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)
Sempat Vakum, IPPNU Sukabumi Dibentuk Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)

Sempat Vakum, IPPNU Sukabumi Dibentuk Kembali

Nunung mengakui, vakumnya kepengurusan sebelumnya disebabkan kurangnya pembinaan secara intensif oleh Pimpinan Wilayah. Selain itu, PCNU Sukabumi pada saat itu belum berjalan dengan baik dalam membina Badan Otonom (Banom) yang berada di bawahnya.

RMI NU Tegal

Dua kepengurusan cabang IPPNU tersebut terbentuk, Kamis (9/10), di Pondok Pesantren Sunanul Huda, Kabupaten Sukabumi. PW IPPNU Jawa Barat segera menyiapkan surat keputusan (SK) lantas mengadakan pelantikan.

RMI NU Tegal

“Sebetulnya yang terpenting bukanlah pelantikan, tetapi setalah itu yang terpenting adalah gerakannya,” tegasnya di hadapan puluhan perwakilan dari sekolah dan pondok pesantren.

Ia berharap, kepengurusan yang sudah terbentuk bisa berjalan normal seperti cabang-cabang lainnya, serta kuantitas dan kualitas kader juga semakin baik. “Mudah-mudah setelah ini mereka berani untuk mengajak teman-teman lainnya yang ada di sekolah-sekolah dan pesantren-pesantren,” harapnya.

Dari data yang dihimpun oleh RMI NU Tegal, sampai saat ini di bawah PW IPPNU Jawa Barat, tinggal tiga cabang yang belum terbentuk, yakni Kota Depok, Kota Cirebon, dan Kabupaten Pangandaran. (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ahlussunnah, Bahtsul Masail, Berita RMI NU Tegal

Rabu, 22 November 2017

Bergerak, Kerja Sama dan Penguatan Ekonomi Kunci Kemajuan Organisasi

Way Kanan, RMI NU Tegal

Setiap orang bisa sukses jika mau menghormati orang lain dan mau bekerja sama, ujar Sekretaris Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan, Lampung, Eko Wahyudi pada 57 peserta Pendidikan Kepemimpinan Dasar (PKD) VI, di Banjit, Way Kanan, Lampung, Sabtu (15/10).

Bergerak, Kerja Sama dan Penguatan Ekonomi Kunci Kemajuan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bergerak, Kerja Sama dan Penguatan Ekonomi Kunci Kemajuan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bergerak, Kerja Sama dan Penguatan Ekonomi Kunci Kemajuan Organisasi

"Pendidikan ini adalah salah satu pintu gerbang bagi pemuda yang ingin berhimpun dalam Nahdlatul Ulama (NU). Karena itu penting bagi kader untuk memajukan dirinya dan organisasi," paparnya.

Ketua Lakpesdam NU Supri Iswan menambahkan, Pemuda Ansor adalah bagian dari NU, selain itu, ada juga Muslimat, Fatayat, PMII, IPNU dan IPPNU. "Gerakan Pemuda Ansor juga memiliki badan semiotonom yang disebut Barisan Ansor Serbaguna atau Banser," ujar Ketua PC GP Ansor Way Kanan masa khidmah 2010-2014 itu menambahkan.

PC GP Ansor Way Kanan melalui PAC Banjit dipimpin Yudi Hutriwinata menggelar PKD VI di MA Nurul Islam, Kampung Simpang Asam mulai Jumat 14 Oktober hingga Ahad 16 Oktober 2016. Selain Aswaja dan Keansoran, materi yang disampaikan meliputi kewirausahaan dan keorganisasian. Wakil Ketua Heri Amanudin dan Hasyim Asyari turut mengisi materi kegiatan itu. Tokoh NU Kiai Hambali dan H Aly Murtadho berpartisipasi menyukseskan kegiatan tersebut.

RMI NU Tegal

Praktik keorganisasian dengan ilustrasi membangun mushala senilai Rp150 juta dilakukan peserta yang dibagi menjadi lima kelompok. Peserta diminta mengumpulkan pakaian, sarung, peci, jam tangan, sandal dan barang lain yang melekat di badan mereka tanpa sampai telanjang dengan masing-masing harga telah disepakati bersama oleh bendahara kelompok.

"Kerja sama, rela berkorban, ikhlas, bergerak, bertanggung jawab diperlukan untuk tercapainya tujuan bersama yang diilustrasikan dengan membangun mushala tadi," ujar Irawan, salah satu peserta PKD VI.

Berkaitan dengan persoalan organisasi, peserta menyimpulkan ketidakdisiplinan, mau menang sendiri, tidak taat peraturan hingga lemahnya sektor ekonomi adalah beberapa contoh kendala bagi organisasi.

"Solusi demi kemajuan organisasi ialah disiplin, mau mendengar, taat peraturan. Adapun untuk penguatan sektor ekonomi perlu diadakan, contoh sederhananya anggota mau menabung bagi organisasi. Hal-hal tersebut penting bagi kemajuan organisasi," ujar Irawan lagi pada sesi diskusi. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Ahlussunnah RMI NU Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Dilantik, Muslimat NU Kraksaan Canangkan Tertib Organisasi

Probolinggo, RMI NU Tegal. Pengurus Pimpinan Cabang Muslimat NU Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo masa khidmah 2015-2020 resmi dilantik di Pesantren Al-Masduqiyah Kelurahan Patokan Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Ahad (27/12).

Pengurus Muslimat NU Kota Kraksaan ini dilantik oleh Ketua PW Muslimat NU Jawa Timur Hj Masruroh Wahid didampingi Sekretaris PW Muslimat NU Kota Kraksaan Hj Mutafarrida.

Dilantik, Muslimat NU Kraksaan Canangkan Tertib Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Muslimat NU Kraksaan Canangkan Tertib Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Muslimat NU Kraksaan Canangkan Tertib Organisasi

Pelantikan ini diikuti oleh 200 orang terdiri dari Ketua PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah A Suja’i, badan otomom (banom) NU, instansi terkait, pengasuh pesantren, seluruh pengurus cabang, 13 anak cabang dan 10 orang ranting se-PCNU Kota Kraksaan.

RMI NU Tegal

Ketua PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah A Suja’i mengungkapkan, jika ada tetangganya yang meninggal dunia, Muslimat NU harus berada di depan dan mengurus jenazahnya sesuai dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

RMI NU Tegal

“Tolong foto-foto Ketua Muslimat NU Kota Kraksaan dipasang di kantor dan dikirimi Al-Fatihah setiap bulan. Demi keberlangsungan program Muslimat NU, pengurus harus menjalin keharmonisan dengan pengurus PCNU Kota Kraksaan dan yang lainnya,” katanya.

Sementara Ketua Muslimat NU Kota Kraksaan Hj Zulfa Badri menyampaikan ucapan terima kasih dan permintaan maaf jika apa yang dilakukan selama ini masih dinilai masih kurang maksimal. Yang jelas, pihaknya bertekad akan tertib organisasi di segala bidang.

“Mohon doa dan dukungannya supaya ke depan Muslimat NU Kota Kraksaan bisa bekerja dengan sempurna sesuai AD/ART organisasi. Komunikasi dan koordinasi adalah kunci sukses sebuah organisasi,” ujarnya.

Sedangkan Hj Masruroh Wahid meminta masyarakat tidak menunggu menjadi pengurus untuk bekerja dan berjuang di Muslimat NU Kota Kraksaan. Selain itu, pengurus harus senantiasa memberi lewat organisasi Muslimat NU dan jangan meminta.

“Laksanakan tugas dengan tetap berpegang teguh pada Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) an-Nahdliyah. Isilah budaya-budaya atau tradisi-tradisi sesuai dengan Aswaja. Dakwah tidak cukup bil hal, tetapi berikanlah bukti nyata di tengah-tengah masyarakat,” ungkapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Fragmen, Pahlawan, Ahlussunnah RMI NU Tegal

Senin, 06 November 2017

Habib Syech Serukan Jamaah Hormati Perbedaan

Semarang, RMI NU Tegal. Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf kembali menegaskan pentingnya nasionalisme. Ia mengajak warga untuk tetap bersatu, saling menghormati perbedaan, dan menjunjung tinggi konstitusi.

Habib Syech Serukan Jamaah Hormati Perbedaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech Serukan Jamaah Hormati Perbedaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech Serukan Jamaah Hormati Perbedaan

“Saya ingin NKRI tetap utuh, maka dari itu hormatilah perbedaan, hormatilah pemimpin, hormatilah polisi, dan sebagainya,” katanya di hadapan ribuan jamaah yang memadati acara Pengajian Akbar dan Maulidur Rasul di halaman Pondok Pesantren Riyadus Sholihin Al-islamy Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (16/10) malam.

Dalam acara bertema “Gunungpati Bershalawat” itu, Habib Syech berpesan agar warga Indonesia tetap bershalawat, supaya negara Indonesia tetap selamat. “Ayo kita bersatu dengan landasan agama dan UUD (Undang-Undang Dasar 1945). Semoga negeri kita selamat, Indonesia tetap kuat, tetap satu,” imbuhnya.

RMI NU Tegal

Di akhir pengajian, Habib Syech dan jama’ah menyayikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipimpin oleh polisi setempat.

RMI NU Tegal

Pengajian akbar ini digelar Pondok Pesantren Riyadus Sholihin Al-islamy Gunungpati. Ribuan orang tampak antusias berbondong-bondong mengahdiri lokasi acara. Seperti M Syafiqul Umam, santri Pondok Pesantren Luhur Wahid Hasyim Semarang yang saat itu ikut bershalawat. Dia mengaku merasa sangat bahagia bisa ikut bershalawat bersama Habib Syech.

“Saya merasa senang dan hati saya merasa sejuk ketika bershalawat, Mas,” kata mahasiswa Universitas Wahid Hasyim Semarang ini. (Yusrul Wafa/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ahlussunnah, News, Bahtsul Masail RMI NU Tegal

Minggu, 05 November 2017

Syetan pun Tawarkan Surga

Rembang, RMI NU Tegal. Pejabat Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri mengatakan, sesungguhnya syetan merupakan musuh yang paling nyata. Syetan mengiming-imingi manusia dengan surga, padahal itu neraka.

Syetan pun Tawarkan Surga (Sumber Gambar : Nu Online)
Syetan pun Tawarkan Surga (Sumber Gambar : Nu Online)

Syetan pun Tawarkan Surga

Kiai yang akrab disapa Gus Mus menyampaikan hal itu di hadapan jamaah pengajian Al-Ibriz, rutinan di aula Pondok Pesantren Raudlatu Tholibien Leteh, Rembang, Jawa Tengah, Jumat pagi (28/2).

Hakikatnya sejak zaman manusia pertama, syetan sudah berkomitmen menjerumuskan anak Adam agar masuk ke dalam neraka.

RMI NU Tegal

Kata Pengasuh pondok pesantren Raudlatu Tholibien Rembang itu, Syetan juga diberikan kebebasan untuk menggoda manusia, agar berbelok dari jalan yang lurus. “Tergantung kita sebagai manusia mau tetap patuh kepada Allah SWT, apa mau mendengarkan suara syetan.

Gus Mus juga mengatakan, jika syetan diizinkann untuk menggoda manusia, maka Allah juga menurunkan utusan untuk mengingatkan manusia melalui firman-firman-Nya. Tujuannya, agar tidak terjerumus ke jurang neraka.

RMI NU Tegal

“Sesungguhnya cara yang digunakan syetan untuk menggoda manusia, sangatlah lembut dan penuh tipu daya,” katanya. (Ahamd Asmu’i/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal IMNU, Santri, Ahlussunnah RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock