Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Untuk Jadi Pengusaha, Uang Bukan Segalanya

Jombang, RMI NU Tegal. Umumnya orang menjadikan uang sebagai faktor utama ketika akan memulai usaha. Bila tidak ada modal berupa uang tunai, maka kesempatan berwiraswasta dianggap tidak mungkin dijalankan. Padahal uang bukanlah satu-satunya modal untuk berusaha, yang terpenting adalah kemauan kuat untuk berusaha.

Untuk Jadi Pengusaha, Uang Bukan Segalanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Jadi Pengusaha, Uang Bukan Segalanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Jadi Pengusaha, Uang Bukan Segalanya

Inilah pesan yang disampaikan H Muhammad Yasin, Ketua Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Wilayah Jawa Timur saat mengadakan silaturrahim ke Jombang, Senin (7/1)..

Gus Yasin -sapaan akrabnya- justru sangat mengeapresiasi beberapa santri yang berkeinginan kuat untuk menjadi pengusaha. "Modal utamanya adalah tekad dan jaringan," katanya. Tekad adalah merupakan keinginan kuat dari seseorang untuk terus mencoba dan berusaha berbagai peluang yang bisa diraih.

RMI NU Tegal

"Memang harus banyak belajar dan jangan gampang putus asa," kata pengelola Pesantren Al-Qurthuby, Pujer Bondowoso ini. 

Namun demikian, jangan terlalu membayangkan usaha yang akan dilakukan. "Langsung dikerjakan saja," katanya buka rahasia. Sebab kalau segala masalah yang berhubungan dengan usaha terlalu dipikirkan dengan detail, maka dapat dipastikan tidak dapat berjalan sesuai harapan. "Apalagi belum-belum sudah berfikir soal rugi," katanya. "Bagaimana mungkin kita bicara rugi kalau usaha belum dijalankan?" katanya balik bertanya.

RMI NU Tegal

Oleh sebab itu hal mendesak yang harus ditumbuhkan khususnya kepada para santri adalah keinginan kuat untuk berusaha.

Yang juga tidak kalah penting adalah memanfaatkan jaringan. "Terkadang dalam usaha tidak perlu memiliki modal uang, andai jaringan telah kita kuasai," ungkap suami dari Hj Zuhrotun Nikmah ini.

Dengan jaringan para pengusaha, maka dapat saja antara anggota hanya memberikan informasi peluang yang dimiliki. "Soal ketersediaan barang dan modal dapat menggunakan usaha dan modal orang lain," katanya. Dan inilah yang nantinya akan membedakan mereka yang memiliki jaringan dengan yang kurang punya koneksi. "Jaringan itu dapat dijalin dengan silaturahim," ungkapnya.

Karena itulah dengan terbentuknya HIPSI, maka diharapkan silaturahim antara pengusaha santri bisa terjalin dengan baik. "Dengan demikian, keinginan untuk menumbuhkan kesadaran berwirausaha dapat terealisir dalam waktu yang tidak lama," pungkasnya.  

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Saifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kyai, Budaya, Aswaja RMI NU Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

Gerakan HTI Berasal dari Harakah 313, bukan Ikhwanul Muslimin

Jakarta, RMI NU Tegal - Penulis buku HTI, Gagal Paham Khilafah, Makmun Rasyid menyatakan ketidaksepakatannya bahwa orang-orang HTI berasal dari Ikhwanul Muslimin di Mesir. Menurutnya, gerakan HTI bersumber dari harakah 313 yang hingga kini jarang diketahui banyak orang.

“Saya lebih sependapat dengan? pemikiran bahwa orang-orang yang pertama kali ikut pada Hizbut Tahrir itu adalah berasal dari harakah 313, mungkin ini belum banyak yang memahami,” jelas Makmun dalam peluncuran bukunya di UIN Syarif Hidayatullah. Kamis (6/10).

Gerakan HTI Berasal dari Harakah 313, bukan Ikhwanul Muslimin (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan HTI Berasal dari Harakah 313, bukan Ikhwanul Muslimin (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan HTI Berasal dari Harakah 313, bukan Ikhwanul Muslimin

Harakah 313 itu adalah simbol ketika Nabi Muhammad saw hijrah dari Mekah ke Madinah. Hal itu adalah simbol yang kemudian digunakan Hizbut Tahrir dalam pendekatan pengkaderan, metode kontak, mengajak orang-orang terdekat untuk bergabung.

RMI NU Tegal

Buku ini muncul salah satunya diawali dari perdebatan Makmun dengan orang-orang HTI. “Orang HTI selalu mengatakan bahwa Pancasila itu tidak ada dalam Al-Qur’an, saya pun bisa mengatakan dalam buku ini, bahwa khilafah tidak ada satu pun dalilnya dalam Al-Qur’an,” tegasnya.

RMI NU Tegal

Peluncuran buku ini dihadiri antara lain oleh Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, Ketua STKQ Al-Hikam Depok Dr Arif Zamhari, Ketua PCNU Kota Tangerang Selatan KH Mohammad Thohir, dan Penulis Buku Laskar Ulama-Santri dan Masterpiece Islam Nusantara Zainul Milal Bizawie.

Menurut Zainul Milal, “Buku ini ingin mengajak teman-teman dari HTI untuk bersama-sama membangun bangsa ini dalam bingkai keindonesiaan dalam bingkai NKRI.” (Damar-Adit Wibisono/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Hikmah, Budaya RMI NU Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

Sang Wali Berjiwa Sosial

Lamongan, RMI NU Tegal. Masalah-masalah sosial tampaknya mendapat perhatian penting bagi Sunan Drajat, putra Sunan Ampel yang menjalankan dakwah di daerah Jelak, kemudian ke desa Drajat. Empat pesan sosialnya masih terpampang di makamnya untuk mengingatkan para peziarah agar jangan lupa kepada sesamanya.

Wenehono teken marang wong kang wuto, wenehono mangan wong kang keluwen, wenehono payung wong kang kudanan, dan wenehono sandang wong kan kawudan (berikan tongkat pada orang yang buta, berikan makanan bagi orang yang kelaparan, berikan payung pada orang yang kehujanan dan berikan pakaian bagi orang yang telanjang) merupakan pesan-pesan yang selalu diungkapkan dalam dakwahnya.

Pesan-pesan sosialnya tersebut tampaknya sangat cocok dengan situasi sekarang ini sehingga pas jika pencanangan wisata ziarah ditempatkan di makamnya. Banyak rakyat yang kelaparan, bencana dimana-mana, korupsi terus berlangsung, sementara golongan elitnya hidup bermewah-mewah dan seolah tak tahu derita yang dialami oleh rakyatnya.

Sang Wali Berjiwa Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Sang Wali Berjiwa Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Sang Wali Berjiwa Sosial

Masa muda Sunan Drajat yang dikenal dengan nama Raden Kosim dijalani di Ampel Denta Surabaya. Setelah dewasa, sang ayah memerintahkannya untuk berdakwah di pesisir barat Gresik. Dalam perjalanannya melalui laut dengan menumpang biduk nelayan, perahunya dihantam gelombang, namun Raden Kosim selamat setelah ditolong oleh seekor ikan.

Menurut tarikh, peristiwa tersebut terjadi pada 1485. Ia mendarat di kampung Jelak, Banjarwati. Ia menetap disitu dan mendirikan surau untuk berdakwah dan mendirikan pesantren dan di situ pulalah ia menikah dengan Kemuning, putri Mbah Mayang Madu, tokoh setempat. Tiga tahun berselang, ia pindah ke selatan, sekitar satu kilometer ke tempat yang lebih tinggi yang dinamai desa Drajat.

RMI NU Tegal

Namun, ia masih menganggap bahwa tempat tersebut masih kurang strategis sehingga memutuskan pindah ke daerah perbukitan di wilayah selatan. Ia lalu membangun kompleks pesantren dengan masjidnya dan meninggal disitu, lokasi yang saat ini menjadi makamnya.

Sunan Drajat memiliki banyak nama. Semasa muda ia dikenal dengan sebutan Raden Qosim, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syekh Masakeh, Pangeran Syarifuddin, Pangeran Kadrajat, dan Masaikh Munat. Dia merupakan putra Sunan Ampel dari perkawinan dengan Nyi Ageng Manila. (mkf)

RMI NU Tegal

 

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Budaya RMI NU Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Habib Yahya Terpilih sebagai Mudir Jatman Lampung

Pringsewu, RMI NU Tegal

Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mutabaroh An-Nahdliyyah (Jatman) Provinsi Lampung menggelar Musyawaroh Idaroh Wusto (Musidwus) V yang dilaksanakan di Komplek Islamic Centre Lampung Timur. Musidwus yang berlangsung dari tanggal 15 Juni sampai dengan 18 Juni 2012 ini dilaksanakan untuk memilih kepengurusan Jatman Provinsi Lampung masa khidmat 2012-2014.

Sementara kepengurusan Jatman Pringsewu yang terdiri dari segenap Perwakilan dan Pengurus Thariqah di Kabupaten Pringsewu ikut serta dalam kegiatan tersebut. Pelepasan Rombongan dilakukan di Pendopo Kabupaten Pringsewu oleh Bupati Pringsewu KH. Sujadi Saddad pada tanggal 15 Juni 2012.

Habib Yahya Terpilih sebagai Mudir Jatman Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Yahya Terpilih sebagai Mudir Jatman Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Yahya Terpilih sebagai Mudir Jatman Lampung

Dalam pengarahannya, KH Sujadi mengharapkan Kegiatan Musidwus dapat berlangsung sukses dan rombongan dari Jatman Pringsewu dapat mengikuti kegiatan dengan baik dan aktif dalam sidang-sidang komisi yang akan dilakukan di Musidwus tersebut.

RMI NU Tegal

Rombongan yang berjumlah 17 orang ini berangkat ke lampung Timur dan tiba pada pukul 15.00 WIB. Setelah melakukan registrasi peserta, rombongan mengikuti Acara Pembukaan yang diikuti oleh seluruh rombongan dari 14 kabupaten yang ada di Provinsi Lampung.

Salah satu sambutan Pembukaan yaitu dari Danrem Lampung yang mengharapkan seluruh Jamaah Thariqah yang ada di Provinsi Lampung untuk ikut andil bagian dalam menjaga keutuhan NKRI dan mengisi kemerdekaan yang telah diraih.

RMI NU Tegal

Dalam Musidwus kali ini, terpilih sebagai Rais yaitu KH. Jamaluddin Al-Bustomi dan sebagai Mudir yaitu Habib Yahya As-Segaf. Sebagaimana diketahui bahwa Habib Yahya As-Segaf adalah Pimpinan Pondok Pesantren Sunan Jati Agung Pringsewu yang dikenal energik dengan wawasan keilmuan yang sangat tinggi. Ia juga pernah menjadi Mudir Aam Jatman Kabupaten Tanggamus ketika Pringsewu masih berada di bawah Pemerintah Daerah Kabupaten Tanggamus.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Muhammad Faizin

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Amalan, Pemurnian Aqidah, Budaya RMI NU Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Krisis Air, Alissa Wahid Kirim Bantuan di Temanggung

Temanggung, RMI NU Tegal. Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian Alissa Qautrunnada Wahid mengirimkan bantuan air bersih dan penampung air di desa Tlogopucang kecamatan Kandangan kabupaten Temanggung. Putri sulung Gus Dur ini bersama komunitas lintas agama secara simbolis menyerahkan bantuan yang diterima oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Krisis Air, Alissa Wahid Kirim Bantuan di Temanggung (Sumber Gambar : Nu Online)
Krisis Air, Alissa Wahid Kirim Bantuan di Temanggung (Sumber Gambar : Nu Online)

Krisis Air, Alissa Wahid Kirim Bantuan di Temanggung

Dalam kegiatan ini, telah disumbang air bersih yang bekerjasama dengan BPBD Temanggung, puluhan water torrent. Kegiatan ini digerakkan oleh GUSDURian Temanggung, Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Katholik St Petrus dan Paulus, TITD Cahaya Sakti, GPdI, Paduan Suara GKI Kelapa Cengkir Jakarta, Ehipassiko Family Club, KSP Mitra Abadi Jaya dan elemen lainnya.

Alissa didampingi oleh Romo Petrus Santoso, Pendeta Darmanto Lemuel, Pendeta Hoo Hwa Hooi, Pendeta Simon, serta sejumlah tokoh agama lainnya.

RMI NU Tegal

"Bantuan ini dikumpulkan dari para dermawan lintas agama. Para tokoh agama yang ada memberikan kontribusinya dengan menyumbangkan harta, tenaga, dan waktunya untuk membantu masyarakat yang mengalami bencana kekeringan, dalam hal ini di Tlogopucang," kata Alissa.

Menurut Alissa, kekeringan tidak hanya menjadi keprihatinan, namun butuh tindakan nyata menyelamatkan masyarakat dari krisis air. Bantuan yang disalurkan melalui Jaringan GUSDURian ini pada dasarnya hanya bersifat sementara karena tidak mengatasi akar persoalan. Namun kebutuhan yang mendesak, sifat sementara itu diprioritaskan.

RMI NU Tegal

"Yang permanen misalnya membuat sumur bor atau saluran air yang mencukupi kebutuhan seluruh warga," paparnya.

Kepala BPBD Temanggung Agus Sudaryono menjelaskan, jika semula kekeringan di wilayah lereng Sindoro dan Sumbing ini hanya tujuh kecamatan, pada akhir Agustus jumlah tersebut meningkat menjadi 11 kecamatan. Angka tersebut diprediksikan akan terus meningkat apabila kekeringan masih berlangsung.

"Ada 56 dusun sekarang yang mengalami kekeringan," tutur Agus.

Agus menambahkan, total anggaran penanganan kekeringan di kabupaten Temanggung sebanyak Rp 80 juta. Jumlah ini telah dikurangi dengan distribusi yang dilakukan selama ini. Anggaran yang menipis telah dibantu oleh pihak ketiga baik perusahaan maupun organisasi.

"Termasuk dalam hal ini GUSDURian Temanggung," tandas Agus. (Abaz Zahrotin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kyai, Budaya RMI NU Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Kader PMII Didorong Kuasai Karya-karya Ulama Aswaja

Jombang, RMI NU Tegal. Sejumlah mahasiswa di Jombang yang tergabung dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) melakukan follow-up materi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang sebulan lalu sudah diajarkan dalam penyelenggaraan Sekolah Aswaja.

Kader PMII Didorong Kuasai Karya-karya Ulama Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Didorong Kuasai Karya-karya Ulama Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Didorong Kuasai Karya-karya Ulama Aswaja

Mereka duduk bersila membentuk lingkaran bundar di area Taman Keplak Sari Kebon Ratu sembari berdiskusi serta mereview sejumlah pemahaman yang telah diserap sebelumnya, Ahad (16/10) siang.?

Agus Riyanto, Ketua III Bidang Keagamaan Pengurus Cabang (PC) PMII Jombang mengimbau agar pemahaman kader PMII tentang Aswaja hendaknya terus ditingkatkan. Setidaknya mereka sudah mulai menguasai terhadap setiap karya yang dibuat oleh para ulama Aswaja. ?

"Menarik sekali jika kader-kader Aswaja ini dalam bidang fiqih, tasawuf/teologi, aqidah, muamalah ada yang menguasainya masing-masing," kata Agus di hadapan mereka.?

Saat ini, kata Agus, terdapat berbagai kelompok atau organisasi Islam yang juga mengatasnamakan dirinya beraswaja. Namun Aswaja yang dianut mereka tak sesuai dengan pemahaman Aswaja yang diajarkan PMII pada umumnya.?

RMI NU Tegal

Karenanya, penguasaan kader PMII terhadap setiap produk ulama Aswaja sangat penting untuk menjaga kemurnian pemahaman merekn. "Seperti ketika browsing di internet tentang Aswaja, berapa persen Aswaja NU yang muncul, dan berapa banyak Aswaja dari yang lainnya, seperti Aswaja HTI," jelasnya.?

Mengingat belakangan ini terdapat banyak isu yang berkembang, baik dari sisi sosial, budaya dan agama, ke depan, mereka juga komit membahas tentang isu-isu tersebut dalam perspektif Aswaja serta metodologinya.?

"Oleh karenanya pendalaman teori dan pembahasan atas isu-isu lokal akan kita kaji dalam pertemuan selanjutnya, dan silakan sahabat-sahabat tuangkan dalam bentuk tulisan ilmiah nantinya," ujar Agus yang juga mantan Ketua Komisariat Wahab Hasbullah tersebut. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Budaya, Berita RMI NU Tegal

Istighosah di SMP 23 Penuh Airmata

Malang, RMI NU Tegal. Menjelang Ujian Ahir Nasional siswa-siswi SMP 23 Bluring Malang, gelar Istighosah bersama untuk membersihkan hati dan menjernihkan pikiran, di dalam masjid sekolah, Selasa (05/02).

Suasana haru melingkupi masjid sekolah tersebut kala Ustad Shamsul Hadi Mahfudz memimpin Istighosah yang dilanjutkan dengan wejangan motivasi.

Istighosah di SMP 23 Penuh Airmata (Sumber Gambar : Nu Online)
Istighosah di SMP 23 Penuh Airmata (Sumber Gambar : Nu Online)

Istighosah di SMP 23 Penuh Airmata

Koordinator ahli thariqoh al-Mu’tabaroh an Nahdhiyah itu tak henti-hentinya menyerukan untuk selalu mengedepankan akhlak sebagai kunci kesuksesan generasi bangsa. 

RMI NU Tegal

Menurutnya, akhlak dengan menghormati kepada yang lebih tua terutama ibu dan guru adalah langkah awal untuk memudahkan banyak hal, jika siswa sekarang kebingungan dan dipenuhi rasa takut lantaran ujian sudah dekat, maka minta maaf dan sungkem kepada ibu dan guru akan meringankan semuanya, 

RMI NU Tegal

“Tapi tidak melepas aktivitas belajar” ungkap alumnus pesantren Sidogiri tersebut.

Gus Syamsul mengatakan, sekarang banyak sekali ribuan sarjana yang justru banyak melakukan tindak korupsi, kolusi dan nepotisme, itu semual lantaran tidak di bekali akhlak yang matang serta ilmu-ilmu keagamaan, “Salah satunya dengan istighosah ini, mediasi untuk membersihkan diri dan mendekatkan diri pada Tuhan” ujarnya.

Dengan Istighosah kita mengharap dosa yang menghalang-halangi doa kitasegera diampuni, “Karena Tuhan tidak pernah menolak doa kita” tegasnya.

Setelah Istighosah dan suntikan spiritual, tampak sejumlah siswa-siswai yang di barengi oleh orang tuanya berderai airmata saling meminta maaf terhadap sesama dan guru-guru yang juga ikut serta dalam acara Istighosah yang bertajuk “Ikhtiyar menuju sukses ujian tahun 2013”.

Kontributor: Diana Manzila

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Budaya, Humor Islam, Khutbah RMI NU Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Warga NU Jangan Mudah Terpancing Isu Miring

Probolinggo, RMI NU Tegal. Warga NU jangan mudah terpancing oleh isu-isu miring yang berkembang di media sosial (medsos). Setiap informasi harus dikaji dan dicari sumber asalnya agar tidak salah dalam menyimpulkan. Dengan berhati-hati, diharapkan warga NU bisa kuat sebagaimana warga yang lain yang ada di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi Saifullah ketika menghadiri Daurah Kader Aswaja yang digelar MWCNU Kecamatan Wonomerto bekerja sama dengan Pengurus Cabang Aswaja NU Center (Asnuter) Kabupaten Probolinggo, Rabu (29/12) malam.

Warga NU Jangan Mudah Terpancing Isu Miring (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Jangan Mudah Terpancing Isu Miring (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Jangan Mudah Terpancing Isu Miring

“Al Qur’an juga sudah menjelaskan bahwasanya jika datang seorang fasiq maka hendaklah bertabayyun. Dengan bertabayyun, maka kita akan mendapatkan klarifikasi yang jelas dan benar-benar valid sumbernya,” katanya.

RMI NU Tegal

Menurut Kiai Abdul Hadi, sebagai umat Islam maka warga NU perlu memahami apa itu Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) sehingga tahu ciri-ciri akidah yang benar dengan demikian dapat membentengi diri dari aqidah-akidah yang menyimpang yang banyak bermunculan.

“Secara sederhana, ciri-ciri akidah yang benar adalah seorang yang beragama Islam, berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah, mengikuti Asy’ariyah atau Maturidiyah, mengikuti ulama tasawuf (shufiyyah) dan mengikuti salah satu mazhab fiqih. Kelima ciri identitas itu harus ada dalam diri seseorang dan tidak boleh ada satu pun yang lepas darinya agar dapat mengikuti akidah yang benar,” jelasnya.

RMI NU Tegal

Dalam kesempatan tersebut para pengurus NU juga digembleng dengan materi Sunnah wal Bid’ah oleh KH Masrur Nashor, Manhajuna fil Aqidah oleh Teguh Mahameru Zainul Hasan dan Hujjatuna Fil Figh oleh KH Zainullah Ghazali. Kegiatan ini diikuti seluruh jajaran pengurus MWCNU dan PRNU Kecamatan Wonomerto serta lembaga dan (badan otonom (banom).

Untuk memberikan feedback, pengurus NU juga diberikan kesempatan untuk bertanya. Bahkan kegiatan yang diagendakan selesai ba’da Isya’ tersebut tanpa terasa hingga jam 22.00 WIB. “Alhamdulillah, program yang dicanangkan PC Asnuter NU bersama MWCNU Wonomerto selesai dengan baik,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Tegal, Budaya RMI NU Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Kader IPNU Ini Berdakwah Melalui Permainan Sulap

Kudus,RMI NU Tegal. Biasanya, sulap hanyalah permainan yang sekadar menjadi hiburan semata. Namun, sebetulnya sulap bisa sebagai media dakwah. Pandangan demikian disampaikan seorang kader Corp Brigade Pembangunan (CBP) IPNU Kudus Ahmad Minan yang mahir bermain sulap.

Kader IPNU Ini Berdakwah Melalui Permainan Sulap (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader IPNU Ini Berdakwah Melalui Permainan Sulap (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader IPNU Ini Berdakwah Melalui Permainan Sulap

Menurut Minan, beberapa jenis sulap banyak terdapat nilai-nilai filosofis ajaran agama. ? Ia mencontohkan permainan teh botol berubah menjadi air putih memiliki makna mensucikan hati seseorang dengan ke-tawadlu-an.

"Artinya, setiap hati seseorang orang tentu ada dosa yang diwarnai pikiran kotor sehingga dengan keyakinan dan ketawadlu-an yang sungguh-sungguh bisa berubah suci dan bersih kembali," ujarnya kepada RMI NU Tegal di Kantor IPNU Kudus, Sabtu (14/3).

RMI NU Tegal

Ditanya awal mula tertarik dunia sulap, pria asal Desa Hadipolo, Jekulo, Kudus ini mengaku mendapat inspirasi dari seorang teman sekolah dari Jepara yang ingin belajar permainan ini. Usai tamat sekolah di Madrasah Aliyah, Minan belajar bersama tetangganya Mbah Mahmud yang kebetulan pintar ilmu sulap.

"Kemudian saya kembangkan sendiri dengan berlatih otodidak selama tiga tahun. Alhamdulillah, sekarang ini sudah mengusai tidak kurang dari puluhan jenis permainan mulai sulap classic, mentalis, tradisional, dan fakir (seperti Limbat)," tuturnya.

RMI NU Tegal

Selama ini, Minan yang juga santri Pondok Pesantren al-Hanafiyah Jekulo ini sering mendapat undangan manggung untuk mengisi kegiatan sekolah, organisasi ataupun even di Kota Kudus dan luar kota seperti Jepara.?

Untuk menguji kemahirannya, ia juga pernah mencari keberuntungan mendaftar dalam acara The Master di sebuah stasiun televisi swasta.

"Meskipun gagal seleksi di program The Master, saya tetap semangat mengembangkan ketrampilan sulap. Karena keterampilan ini juga bisa untuk kepentingan dakwah," tandasnya. (Qomarul Adib/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Bahtsul Masail, Budaya, Ubudiyah RMI NU Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Habib Luthfi: Tertib Lalu Lintas Pun adalah Bentuk Bela Negara

Pekalongan, RMI NU Tegal - Habib Luthfi mengatakan, tertib berlalu lintas di jalan raya adalah bentuk nyata dari bela negara. Pasalnya, dengan tertib berlalu lintas, di samping dapat menyelematkan diri sendiri juga dapat memperlancar aktivitas di jalan raya.

Demikian dikatakan Rais Am Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdiyyah (Jatman) pada acara ta’aruf peserta Konferensi Internasional Ulama Thareqah ‘Bela Negara’, Selasa (26/7) di rumahnya Pekalongan, Jawa Tengah.

Habib Luthfi: Tertib Lalu Lintas Pun adalah Bentuk Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Tertib Lalu Lintas Pun adalah Bentuk Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Tertib Lalu Lintas Pun adalah Bentuk Bela Negara

“Adalah keliru, jika bela negara hanya diartikan dengan memanggul dan mengangkat senjata, akan tetapi dengan tertib berlalu lintas di jalan raya, para guru, para dokter, petani serta para ahli lainnya menjalankan tugasnya dengan baik dan benar itu bentuk nyata dari bela negara,” ujarnya. (Baca juga: Tiap Tahun, Habib Luthfi Bantu Amankan Arus Mudik Lebaran)

Lebih lanjut dikatakan, dirinya memberikan kata sambutan pada acara ta’aruf yang dihadiri tamu-tamu dari luar negeri tidak menggunakan bahasa Arab atau Inggris akan tetapi tetap menggunakan bahasa Indonesia adalah bentuk kecintaan dirinya dan bela negara terhadap NKRI.

RMI NU Tegal

Sementara itu Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI Jendral Purn. Ryamizad Ryacudu dalam acara sambutan selamat datang peserta konferensi tersebut mengatakan, akhir akhir ini ada beberapa orang dan sekelompok orang salah mengartikan dalam menjalankan Islam dengan benar, akibatnya yang terjadi adalah dirinya dan kelompoknya menjadi yang merasa paling benar.

RMI NU Tegal

Dikatakan, jika hal demikian dibiarkan, maka yang terjadi adalah adanya friksi dan pertentangan di antara umat Islam sendiri, padahal Islam tidak demikian, Islam adalah agama rahmatan lil alamin yang melindungi pemeluknya maupun kelompok pemeluk agama lainnya.

Konferensi Internasional Ulama Thariqah membahas bela negara yang diprakarsai JATMAN dibuka hari ini di Gedung Juned diikuti delegasi ulama dari 40 negara dan 1.500 utusan ulama thariqah dari berbagai daerah di Indonesia. Untuk pelaksanaan konferensi, pihak panitia membagi dalam dua kelompok, yakni sebanyak 300 delegasi khusus dan tamu-tamu dari luar negeri akan membahas masalah bela negara di Hotel Santika, sedangkan delegasi lainnya dari berbagai daerah di Indonesia akan membahas dengan topik yang sama bertempat di Gedung Juned hingga Jumat mendatang.

Berbagai kegiatan penunjang seperti pawai merah putih, pentas musik ‘Debu’, istighotsah, ta’aruf peserta konferensi dan istighotsah muslimat thariqiyah ikut mewarnai kegiatan konferensi bela negara. Beberapa narasumber yang direncanakan hadir antara lain KH Hasyim Muzadi, KH Maemoen Zubair, Menpora Imam Nahrawi, H As’ad Said Ali serta beberapa delegasi luar negeri ikut memberikan sumbangan pemikiran tentang bela negara.

Sebagaimana diketahui, kegiatan yang sama pernah digelar Jatman pada bulan Januari 2016 di Kota Pekalongan yang dihadiri ulama ulama Timur Tengah serta mufti dari Amerika dengan menghasilkan Sembilan rekomendasi. (Abdul Muiz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Budaya RMI NU Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

PB IKA PMII Gelar Rakernas

Jakarta, RMI NU Tegal. Pengurus Besar Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) akan menggelar dialog nasional sekaligus rapat kerja nasional (Rakernnas) di Jakarta pada 12-14 September besok, yang akan dihadiri oleh seluruh pengurus besar dan pengurus cabang IKA PMII. Selain membahas persoalan internal pertemuan ini juga akan membahas sejumlah rekomendasi untuk Munas-Konbes NU 2012.

PB IKA PMII Gelar Rakernas (Sumber Gambar : Nu Online)
PB IKA PMII Gelar Rakernas (Sumber Gambar : Nu Online)

PB IKA PMII Gelar Rakernas

“PB IKA PMII melihat kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini sangat memprihatinkan. Baik dari aspek sosial politik, ekonomi maupun budaya. Politik misalnya sangat liberal, ekonomi sangat kapitalistik, yaitu semakin menciptakan jurang pemisah antara kaya dan miskin, antara rakyat dan pejabat, antara penguasa dan yang dikuasai,” tandas Sekjen PB IKA PMII A. Effendy Choirie pada wartawan di Gedung DPR RI Jakarta, Selasa (11/9).

Sedangkan dari aspek sosial budaya, masyarakat semakin tidak berdaya menghadapi gempuran politik liberal dan ekonomi kapitalistik, yang berakibat kekuatan sosial budaya tercerabut dari akar-akar historisnya, dari pusat-pusat kekuatannya bahkan pemimpin-pemimpin organisasi keagamaan seperti NU nyaris tidak mampu menjaga nilai-nilai yang fundamental dalam sosial budaya tersebut. Seperti kebersamaan, menjaga moralitas, keteladanan, kesahajaan, kejujuran dan sebagainya.

RMI NU Tegal

“Justru yang kita amati dari luar pimpinan NU dari pusat sampai daerah sadar atau tidak, justru menjadi agen-agen kapitalisme, kekuasaan dan politik liberal. Karena itu untuk mengembalikan jati diri khittahnya, masih ada waktu. Salah satu momentum yang harus digunakan adalah Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU), yang akan digelar di Pesantren Kempek, Cirebon, Jabar 14 September mendatang,” ujar Gus Choi-sapaan akrab anggota Komisi I DPR RI ini.

RMI NU Tegal

Dalam hal itulah lanjut Gus Choi, PB IKA PMII mendesak agar forum besar itu dijadikan momentum bagi NU untuk kembali kepada khittah kelahirannya, menjadi pemersatu, penjaga moral bangsa, keteladanan, kesederhanaan dan terus mengawal Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, pluralisme dan terus bersikap kritis terhadap kekuasaan dan setiap datangnya perkembangan yang merusak nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.

Selain itu kata Gus Choi, PBNU diharapkan terlibat mencari pemimpin Indonesia yang memiliki visi sosial budaya yang kuat, tidak hanya memiliki dimensi politik ekonomi. “Kalau seorang pemimpin hanya memiliki visi politik liberal dan ekonomi kapitalistik, maka akan semakin mengeksploitasi pusat kekuatan sosial budaya rakyat Indonesia,” ujarnya.

Penulis: Achmad Munif

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Budaya RMI NU Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

Kiai Said Inginkan Penyelenggaraan Muktamar di Pesantren

Jakarta, RMI NU Tegal. Diantara tiga tempat yang mengajukan diri sebagai tempat muktamar NU, yaitu Pesantren Tebuireng Jombang, NTB, dan Medan, KH Said Aqil Siroj masih mempertimbangkan antara Jawa Timur dan Medan. Lebih khusus lagi, ia menginginkan muktamar diselenggarakan di pesantren.

Dalam konteks muktamar untuk syiar, Kiai Said setuju dengan pendapat tersebut bahwa tempat penyelenggaraan muktamar NU harus dibuat merata di seluruh Indonesia, bukan didominasi oleh Jawa Timur yang sudah menyelenggarakan perhelatan tersebut selama 11 kali dari 33 kali muktamar.

Kiai Said Inginkan Penyelenggaraan Muktamar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Inginkan Penyelenggaraan Muktamar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Inginkan Penyelenggaraan Muktamar di Pesantren

“Idealnya memang ada pemerataan sebagai syiar NU, tapi kita harus mempertimbangkan situasi dan kondisi, transportasinya, dan dukungan dari pemerintah setempat dan masyarakat,” katanya.

RMI NU Tegal

Menurutnya, yang paling siap sekarang adalah Jawa Timur sementara NTB, dari sisi transportasi masih kurang dibandingkan dengan Surabaya.

“Kalau Sumatra Utara transportasi bagus, tetapi juga masih kita pertimbangkan apakah kondisi disana siap. Daripada nanti muktamar tidak maksimal, lebih baik yang sudah siap di Jawa Timur,” tandasnya.

RMI NU Tegal

Meskipun demikian, keputusan akhirnya akan ditentukan setelah melakukan survey terhadap kesiapan masing-masing lokasi.

“Walhasil, rapat akan membikin tim, mereka nantinya yang akan mensurvey. Dulu waktu di Makassar, saya dan Kiai Hafidz Utsman yang berangkat ke sana.”

Di sisi lain, ia juga berharap agar muktamar ke depan diselenggarakan di pesantren sesuai dengan visinya untuk menyelenggarakan seluruh kegiatan NU di pesantren dari rapat pleno, munas dan konbes sampai dengan muktamar.

“Saya ingin ke kembali ke pesantren. Apa pesantren di luar Jawa siap. Nanti kalau dipaksakan kualitas muktamar yang terganggu, lebih baik yang sudah siap,” tegasnya.?

“Saya ingin menyatukan kembali, NU itu pesantren dan pesantren itu NU.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Budaya RMI NU Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Mengungkap Peran Al-Qur’an Terhadap Persoalan Kemanusiaan, Kemasyarakatan, dan Kebangsaan

Jakarta, RMI NU Tegal. Kementerian Agama melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMA) akan menggelar Seminar Internasional tentang Al-Quran. Seminar Internasional ini dijadwalkan akan dilaksanakan pada 30 Agustus-1 September 2016 di Jakarta.?

Dilansir laman kemenag.go.id, seminar internasional ini mengangkat tema Peran Mushaf dalam Membangun Peradaban Islam dan Kemanusiaan. Seminar Internasional ini diharapkan menjadi forum pertemuan dan diskusi para pakar, para pemimpin perguruan tinggi, ilmuwan, cendekia, ulama, tokoh agama, dan lembaga-lembaga yang memiliki perhatian terhadap kajian Mushaf Al-Qur’an dalam upaya mengungkap peran Mushaf Al-Qur’an terhadap persoalan kemanusiaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan.

Mengungkap Peran Al-Qur’an Terhadap Persoalan Kemanusiaan, Kemasyarakatan, dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengungkap Peran Al-Qur’an Terhadap Persoalan Kemanusiaan, Kemasyarakatan, dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengungkap Peran Al-Qur’an Terhadap Persoalan Kemanusiaan, Kemasyarakatan, dan Kebangsaan

Terkait itu, seminar juga akan membahas sejumlah sub tema, antara lain: 1) Kontribusi dan Upaya dalam Pelayanan Mushaf dari Masa ke Masa; 2) Pengaruh Mushaf Al-Qur’an terhadap Umat Muslim dalam bidang Peradaban dan Bahasa; 3) Tradisi Penyalinan Mushaf Al-Qur’an antara Timur dan Barat Dunia Islam di Tengah Perkembangan Teknologi Modern.

Sub tema lainnya: Keraguan Seputar Mushaf Al-Qur’an dan Sejarahnya; Kodifikasi Mushaf Al-Qur’an dan Aliran Kaligrafi Arab; Mushaf Al-Qur’an dalam Seni Islam; Mushaf Al-Qur’an; Rasm, Dhabt, Waqf, dan Ibtida’; Mushaf Al-Qur’an dan Isu-isu Kontemporer; Mushaf-mushaf Kuno dalam Perspektif Filologi; serta Terjemah Al-Qur’an; Sejarah, Perkembangan dan Problematikanya.

Seminar akan diikuti para pegiat kajian Al-Qur’an dari kalangan akademisi, seperti dosen, peneliti, dan para pengkaji Al-Qur’an yang dibagi dalam dua kategori: pertama, peserta Pemakalah, yaitu: mereka yang diundang sebagai pembicara utama, atau mendaftar dan mengajukan makalahnya, serta telah mendapat persetujuan dari Tim Penilai Makalah (reviewer) yang telah ditunjuk oleh LPMA.?

RMI NU Tegal

Kedua, peserta umum, yaitu mereka yang mendaftarkan diri tanpa mengajukan makalah untuk mengikuti seluruh rangkaian seminar. Untuk kategori ini, penginapan dan konsumsi ditanggung oleh peserta yang bersangkutan.?

Untuk peserta pemakalah, LPMA membuka pendaftaran hingga batas akhir pengiriman abstrak makalah pada Selasa (31/5) mendatang. Abstraksi yang masuk akan dinilai oleh tim penilai dan hasilnya akan diumumkan pada Rabu, 8 Juni 2016. Peserta yang abtraksinya terpilih harus mengirimkan makalah lengkapnya sampai dengan Minggu, 31 Juli 2016. Adapun untuk peserta umum, dapat mendaftar hingga batas akhir 8 Juni 2016 atau hingga batas maksimal peserta umum telah terpenuhi.

Info selengkapnya terkait kegiatan seminar internasional ini, silakan klik: Seminar Internasional tentang Al-Quran. (Red: Fathoni)

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Quote, Meme Islam, Budaya RMI NU Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Tarawih Keliling, Wabup dan Ansor Jombang Sosialisasikan Muktamar

Jombang, RMI NU Tegal. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Jombang bersama Wakil Bupati Jombang menggelar safari Ramadhan di tiga kecamatan setempat, yakni Gudo, Mojowarno dan Perak.

Tarawih Keliling, Wabup dan Ansor Jombang Sosialisasikan Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarawih Keliling, Wabup dan Ansor Jombang Sosialisasikan Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarawih Keliling, Wabup dan Ansor Jombang Sosialisasikan Muktamar

Kegiatan diawali shalat isya dan tarawih berjamaah dilanjutkan pemberian bantuan kepada takmir masjid, mushalla, lembaga pendidikan dan sosial, guru TPQ, anak yatim dan janda miskin. Kegiatan dipungkasi taushiyah atau mauidhah hasanah.

Dalam amanahnya, Nyai Hj Mundjidah Wahab sebagai Wakil Bupati Jombang berharap masyarakat menjaga kerukunan, toleransi dan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan.

RMI NU Tegal

Demikian juga, Wabup menyarankan para pemilik warung dan rumah makan, dapat menutup sebagian tempat usahanya selama Ramadhan. "Ini dilakukan demi kenyamanan umat Muslim dalam berpuasa," kata Ibu Mundjidah, sapaan akrabnya, Senin (29/6), di Masjid Al-Mukminin, Kalangan, Kalangsemanding Perak.

Tidak lupa Mundjidah berharap Jombang menjadi kawasan yang aman, damai, kondusif terutama menjelang Muktamar ke-33 NU. "Mari kita sukseskan pelaksanaan muktamar yang mana baru kali ini Jombang sebagai tuan rumah," pesannya.

RMI NU Tegal

Hal yang sama juga disampaikan Ketua PC GP Ansor Jombang, H. Zulfikar Damam Ikhwanto. Ia juga menyatakan bahwa tarawih keliling atau Tarling selama Ramadhan diisi dengan sejumlah kegiatan yakni safari Ramadhan, sosialisasi muktamar, buka bersama, pemberian santunan dan kegiatan keagamaan lain.

Ia juga mengimbau seluruh kader Ansor dan Banser dan warga  agar menjaga kondusivitas apalagi mendekati pelaksanaan muktamar awal Agustus mendatang. Gus Antok, sapaan akrabnya juga menjelaskan bahwa di kota santri ada sejumlah kegiatan pra muktamar, seperti jalan sehat, pekan Aswaja, qaryah nahdliyah, serta pameran yang telah direncanakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Jombang.

"Mari manfaatkan momentum Ramadhan dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dan jadikan muktamar sebagai silaturrahim meningkatkan ukhuwah baik sesama muslim, sesama manusia sebagai warga masyarakat sebangsa dan setanah air," katanya.

Hadir menyertai Safari Ramadhan ini Ketua Tim Penggerak PKK, Hj. Tjaturina Yuliastuti Wihandoko, Kepala SKPD, staf ahli, camat, MUI, KUA, MWC NU, Muslimat, Ketua PC Fatayat NU dan Ketua PAC GP Ansor setempat beserta pengurus ranting.

Tampak juga dari unsur aparat keamanan yakni Wakapolres, Danramil Jombang, serta Kapolsek setempat. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Budaya, News RMI NU Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Mahfud MD: SBY Sudah Proporsional Tangani Korupsi

Pamekasan, RMI NU Tegal. Anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa DPR RI Moh Mahfud MD menilai, upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan pemerintahan Persiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tepat dan proporsional. Pendapat mantan Menteri Pertahanan itu berbeda Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) yang menilai bahwa pemberantasan korupsi cenderung tebang pilih, khususnya pada orang dekat mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Mahfud mengatakan hal itu, usai menghadiri dialog dengan tukang ojek dan tukang becak di Jalan Niaga, Pamekasan, Jawa Timur, Minggu (8/4) malam. Bahkan menurutnya, pemberantasan korupsi di era pemerintahan Presiden SBY jauh lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. “Justru saya melihat pemberantasan tindak pidana korupsi saat ini jauh lebih bagus ketimbang kepemimpinan Megawati,” ujarnya.

Dijelaskan, pemberantasan korupsi di era pemerintahan Megawati kurang bergaung. Indikasinya, terlihat dari minimnya pejabat publik yang diseret ke meja hijau. “Kalau dulu izin pemeriksaan pejabat publik seperti gubernur, tidak langsung diteken. Sekarang kan relatif lebih cepat. Presiden SBY langsung meneken permintaan izin pemeriksaan terhadap pejabat, seperti Abdullah Puteh (Gubernur NAD, Syaukani (Bupati Kutai Kertenegara), dan sebagainya,” terang Mahfud.

Mahfud MD: SBY Sudah Proporsional Tangani Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahfud MD: SBY Sudah Proporsional Tangani Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahfud MD: SBY Sudah Proporsional Tangani Korupsi

Karena itu, dia tidak setuju dengan pendapat sebagian pengamat, termasuk Gus Dur, yang menilai Presiden SBY terkesan tebang pilih dan hanya mengincar orang-orang rezim Megawati. Menurutnya, tudingan itu tidak sesuai dengan kenyataan sesungguhnya. Dia menilai, Presiden SBY tidak pandang bulu memerangi pelaku korupsi.

“Era pemerintahan Megawati hampir tidak ada mantan pejabat yang diperiksa. Bahkan, Megawati terkesan menghalang-halangi pemeriksaan seperti yang dialami Abdullah Puteh. Tapi, begitu SBY naik, Abdullah Puteh langsung diperiksa. Begitu pun dengan mantan pejabat lainnya,” ungkapnya.

RMI NU Tegal

Selain itu, Mahfud melihat tidak ada nuansa dendam dari SBY terhadap orang-orang Megawati, seperti banyak diberitakan media massa. “Rokhmin Dahuri (mantan Menteri Kelautan) dan Widjanarko Puspoyo (mantan Dirut Bulog) merupakan pejabat sejak era Gus Dur, bukan hanya orangnya Megawati,” paparnya.

Namun demikian, Mahfud tetap melihat adanya kelemahan pemberantasan korupsi di Indonesia pada era SBY. Indikasinya, penanganan korupsi belum berani menyentuh pejabat yang masih aktif. Padahal, banyak pejabat negara yang diduga tersandung korupsi dalam jumlah tidak sedikit.

RMI NU Tegal

“Beberapa pejabat yang nyata-nyata melakukan tindak korupsi lepas dari proses hukum. Yang diproses hanya mereka yang tidak lagi menjabat,” tandasnya.

Kondisi tersebut, menurut Mahfud, mengindikasikan adanya pengaruh kekuasaan yang masih dominan di negeri ini. Dengan kekuatan yang dimiliki, seorang pejabat bisa membeli hukum. Bahkan, katanya, hal itu tidak hanya dilakukan oleh pejabat di daerah, tapi juga di pusat. Sayangnya, pakar hukum dari UII Jogjakarta ini tidak bersedia menyebutkan nama-nama pejabat dimaksud. (gpa/sbh)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Cerita, Budaya, Fragmen RMI NU Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Mentan Ajak Pemuda Bekerja Keras, Jangan Andalkan Proposal

Makassar, RMI NU Tegal

Menteri Pertanian Republik Indonesia Andi Amran Sulaiman menyampaikan kuliah umum di hadapan 2000 mahasiswa dan mahasiswi baru Universitas Islam Makassar Sabtu (15/10) di Auditorium KH Muhyiddin Zain UIM Jalan Perintis Kemerdekaan Km. 9.

Dalam kuliah umumnya, ia memotivasi kepada mahasiswa baru, jangan dibiasakan “menenteng” proposal untuk memenuhi kegiatan semisal organisasi karena sesungguhnya Islam mengajarkan tangan di atas lebih mulia dari pada tangan di bawah. Menurut dia, anak muda harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhannya.

Mentan Ajak Pemuda Bekerja Keras, Jangan Andalkan Proposal (Sumber Gambar : Nu Online)
Mentan Ajak Pemuda Bekerja Keras, Jangan Andalkan Proposal (Sumber Gambar : Nu Online)

Mentan Ajak Pemuda Bekerja Keras, Jangan Andalkan Proposal

Soal kerja keras, ia bercerita sewaktu dilantik banyak yang meragukan kinerja Kementerian Petanian. Selama 6 bulan pihaknya tidak melakukan sosialisasi apa pun kepada media massa. Kementan berkeliling kurang lebih ke 300 kabupaten di Indonesia untuk mencari persoalan yang menghambat kemajuan pertanian dan ditentukan solusinya.

RMI NU Tegal

“Akhirnya kami mengeluarkan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, Alhamdulillah hasil pertanian kita meningkat tajam,” ungkapnya pada kegiatan bertema "Peran Perguruan Tinggi dalam Mewujudkan Kedaulatan Pangan.”

Kementan, sambungnya, juga punya komitmen memberantas korupsi. Kementan bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi, kejaksaan dan kepolisian mendampingi kerja-kerja Kementan.

RMI NU Tegal

“Saat ini KPK memiliki ruang kerja di Kementerian Pertanian untuk mengawasi seluruh kinerja kami. Selain itu biaya perjalanan kita kurangi dan mengalihkan untuk membeli traktor yang diperuntukkan petani,” terangnya seraya menyebutkan, saat ini Kementerian Pertanian mengeluarkan kebijakan dalam mengurangi impor.

Kepada seluruh mahasiswa dan mahasiswi UIM, ia berharap untuk meningkatkan tugasnya yaitu studi sesuai jurusan masing-masing.

“Belajar, belajar, dan belajar. Kami berharap kepada seluruh stakeholder UIM berkontribusi memajukan pertanian,” pintanya.

Sebelumnya, Rektor UIM Majdah Agus Arifin Numang berkisah, pada tahun 1980-an ada anekdot di tengah masyarakat dalam bentuk pertanyaan, apa bahasa Arab universitas di tengah sawah?

Jawabannya, kata Ketua Muslimat NU Sulawesi Selatan ini, adalah Al-Gazali sebab pada waktu, UIM masih bernama STAI Al-Gazali dan STIP Al-Gazali yang berada di pesawahan.

“Alhamdulillah saat ini UIM terus berbenah, bersama-sama Pengurus Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan serta Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali tak henti-hentinya membangun sarana dan prasarana kampus yang kita cintai,” jelasnya yang disusul dengan melaporkan saat ini UIM memiliki program desa sejahtera, mandiri dan berkarakter yang dikerjasamakan dengan Kementerian Sosial RI.

Hadir pada kesempatan tersebut, Sekretaris Yayasan KH Abd Kadir Saile, Wakil Rektor I Prof Arfin Hamid, Wakil Rektor II Saripuddin Muddin, Wakil Rektor III Abd Rahim Mas P Sanjata, Wakil Rektor IV Muammar Bakry, Direktur PPS Nurul Fuadi, Dekan FKIP Arfah Shiddiq, Dekan Fak. Ilkes Rivai Pakki, Dekan Fak. Pertanian La Sumange, Dekan Sastra Prof Abd Jalil, Dekan Fak. Teknik Suradi. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kyai, Aswaja, Budaya RMI NU Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Gus Mus Bakal Mengawali Rangkaian Seabad Madrasah Tambakberas

Jombang, RMI NU Tegal. Rangkaian peringatan satu abad madrasah dan 191 tahun Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur segera dimulai. Sejumlah kegiatan akan terus berlangsung, termasuk bedah buku yang menghadirkan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dan KH Husein Muhammad.

"Untuk pelaksanaan bedah buku akan dilaksanakan hari Selasa, 26 April mendatang," kata Muhyiddin Zainul Arifin, Rabu (6/5). Kegiatan ini juga sebagai pembuka seluruh rangkaian peringatan satu abad madrasah dan 191 tahun keberadaan pesantren setempat, lanjut koordinator devisi bedah buku tersebut.

Judul buku yang akan dibahas adalah Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren karangan Ahmad Hilmi dan kawan-kawan. "Mewakili tim penulis, yang akan hadir adalah Ahmad Hilmi," kata Gus Muhyiddin, sapaan akrabnya. Sedangkan pembanding yang telah bersedia hadir adalah Gus Mus dan Kiai Husein Muhammad, lanjutnya.

Gus Mus Bakal Mengawali Rangkaian Seabad Madrasah Tambakberas (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Bakal Mengawali Rangkaian Seabad Madrasah Tambakberas (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Bakal Mengawali Rangkaian Seabad Madrasah Tambakberas

Yang istimewa pada kegiatan ini, pihak penerbit menyediakan sejumlah buku karangan narasumber yang hadir. "Buku-buku Gus Mus dan Kiai Husein, termasuk buku yang akan dibedah, kami sediakan selama acara berlangsung," katanya. Kehadiran para pengarang tersebut nantinya dapat dimanfaatkan peserta untuk membeli buku dan mendapatkan tandatangan dari penulis yang bersangkutan. "Disamping mendapat tandatangan, bisa juga berfoto dengan pengarang dan penulis buku," canda Gus Muhyiddin.

Menurut Wakil Rektor Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang ini, bedah buku akan berlangsung di aula Pesantren Tambakberas dan dimulai pukul 08.00 pagi.

?

RMI NU Tegal

Diharapkan para pengasuh, peminat kepesantrenan, akademisi, aktifis lembaga pendidikan Islam dapat bergabung di acara ini sekaligus berbagi sudut pandang. "Masukan dari peserta dan narasumber tentu akan bermanfaat di forum ini," pungkasnya.

RMI NU Tegal

Sejumlah kegiatan pada peringatan satu abad madrasah dan 191 pesantren antara lain adalah bedah buku, wayang wali, ushbuul maahid, festival bonsai, seminar, gowes, expo dan kontes burung, lailatus shalawat, khatmil Quran bilghaib, khitanan massal serta pengajian umum. Bedah buku sebagai acara pembuka hingga ditutup pengajian umum 4 Juni mendatang. (Ibnu Nawawi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pesantren, Budaya RMI NU Tegal

Jumat, 24 November 2017

Kesaktian Pelanggar Lalu Lintas

Suatu hari rombongan 20 orang yang melakukan konvoi dengan sepeda motor mendapat teguran polisi yang sedang razia karena semuanya tak pakai helm. Pak Polisi mengomel keras meski kali ini para pelanggar masih diberi toleransi alias tidak ditilang.

Semua pengendara patuh kecuali satu orang. Ya, karena sudah mengenakan peci putih, seorang pemuda merasa tidak perlu memakai helm.

Kesaktian Pelanggar Lalu Lintas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesaktian Pelanggar Lalu Lintas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesaktian Pelanggar Lalu Lintas

"Temen-temen Anda sudah pakai helm. Kenapa Anda tidak pakai?" Tanya polisi kepada pemuda berpeci putih itu.

"Pakai peci itu lebih berpahala daripada pakai helm, Pak. Lagian, memang ada dalilnya harus pakai helm?"

RMI NU Tegal

Pak Polisi cuma garuk-garuk kepala, mundur pelan-pelan, dan membiarkan rombongan melanjutkan aksinya.

Di perempatan berikutnya, pemuda tersebut kembali kena semprit polisi. "Maaf, Mas. Menurut peraturan, semua pengendara motor mesti pakai helm," imbau polisi.

RMI NU Tegal

"Bapak menghina peci saya. Bapak anti Islam?"

Mendengar kata-kata itu, sang polisi keder. Tak berani membantah, apalagi menilang.

Di dua perempatan berikutnya, sang pemuda kembali kepergok polisi dan lagi-lagi berhasil lolos dengan "dalil" mematikan. Hingga akhirnya rombongan kena musibah besar. Jembatan yang mereka lewati ambruk dan menyebabkan semua pengendara menderita gegar otak. Kecuali pemuda berpeci putih itu.

Para dokter heran. Dengan kepala nyaris terbelah, bagaimana mungkin pemuda ini selamat dari gegar otak? Sungguh ajaib!

Setelah tim dokter bedah melakukan pemeriksaan, akhirnya terbongkar: ternyata di kepala pemuda tersebut enggak ada otaknya. (Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Santri, Nahdlatul, Budaya RMI NU Tegal

Pesantren Balekambang, Dari Tahfidz Al-Qur’an hingga Akademi Komunitas

Jepara, RMI NU Tegal. Satu lagi pendidikan yang diresmikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh, 1 Januari kemarin. Ialah Akademi Komunitas Balekambang (AKB) sebuah institusi pendidikan vokasi yang tahun ini membuka tiga program studi Diploma Dua (D2) Teknik Elektronik, Teknik Mesin serta Teknik Komputer dan Jaringan.

Hingga tahun ini pesantren yang berada di desa Gemiring Lor kecamatan Nalumsari kabupaten Jepara mengelola tujuh lembaga pendidikan; Tahfidz Al-Qur’an, Madrasah Salafiyah, Madrasah Ibtidaiyyah (MI), Madrasah Tsanawiyyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Akademi Komunitas Balekambang (AKB).

Pesantren Balekambang, Dari Tahfidz Al-Qur’an hingga Akademi Komunitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Balekambang, Dari Tahfidz Al-Qur’an hingga Akademi Komunitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Balekambang, Dari Tahfidz Al-Qur’an hingga Akademi Komunitas

Sejarah

RMI NU Tegal

Pesantren “Roudlotul Mubtadiin” Balekambang didirikan KH Hasbullah tahun 1884. Pengasuh pondok usai Mbah Hasbullah wafat digantikan KH Abdullah Hadziq hingga 1985. Sepeninggal Mbah Dullah tonggak kepemimpinan pesantren tertua di Jepara ini dilanjutkan putranya, KH Makmun Abdullah Hadziq.

Dibawah asuhan Kiai Makmun pesantren yang pernah menerima penghargaan dari Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) tahun 2010 sebagai “Pelopor Pendidikan Karakter Bangsa“ ini mengalami perkembangan pesat. Mengadopsi sistem pendidikan modern namun tidak meninggalkan tradisi salafiyahnya.

RMI NU Tegal

Tahun 2003, membuka Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hingga kini ada enam jurusan; Teknik Audio Video, Tata Busana, Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Komputer dan Jaringan, Animasi dan Tata Boga. Dua tahun berikutnya membuka Madrasah Ibtidaiyyah (MI). Tahun 2007 resmi membuka Madrasah Tsanawiyyah (MTs) dan 2010 membuka Madrasah Aliyah (MA).

Terima Santri Baru

Pada tahun pelajaran 2014/ 2015 pesantren Balekambang menerima pendaftaran santri baru. Syarat pendaftarannya meluputi mengisi formulir pendaftaran, surat pernyataan kesanggupan mengikuti peraturan pondok, menyerahkan foto copy ijazah dan SKHUN terakhir yang dilegalisir 2 lembar.

Foto copy KK, akte kelahiran, KTP wali santri yang masih berlaku dan raport. Menyerahkan pas foto ukuran 3 x 4 dan 2 x 3 masing-masing 2 lembar. Membayar infaq pondok Rp.200.000. Membayar rincian administrasi meliputi: bulanan, seragam sekolah 3 stel, kaos tim olahraga, jas almamater, almari dan perlengkapan lain.

Ketua pengurus pesantren, KH Mustamir Wildan menyampaikan pendaftaran santri dibuka dua gelombang. Gelombang I mulai 20 April – 30 Mei 2014. Gelombang II 25 Juni – 06 Juli 2014. Info lebih lanjut bisa dibuka di website http://pesantrenbalekambang.org. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Quote, Budaya RMI NU Tegal

Selasa, 21 November 2017

Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU

Malang, RMI NU Tegal

Saat perhelatan Harlah ke-70 Muslimat Nahdlatul Ulama di Gedung Olah Raga (GOR) Gajayana Malang Jawa Timur, Sabtu? pekan lalu? (26/3), ada dua rekor yang ditorehkan. Pertama adalah pergantian hijab dari berwarna hijau menjadi putih oleh 50 ribu lebih peserta. Kedua, pemukulan rebana oleh seluruh peserta dan diikuti Presiden RI.



Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU



Ribuan massa Muslimat NU dari seluruh Indonesia yang mencapai hampir 70 ribu jamaah sungguh membuat bangga siapa saja yang hadir di GOR Gajayana Kota Malang. Mereka adalah utusan Muslimat NU dari seluruh kawasan di Tanah Air, yang tentu saja didominasi dari Jawa Timur.



RMI NU Tegal



RMI NU Tegal

Gubernur Jatim Pimpin Rapat

Sejak pagi, para rombongan telah memadati kawasan kota dingin ini. Ratusan bus dan mini bus merangsek memadati kota dari berbagai penjuru. "Untungnya koordinasi dan komunikasi lintas sektoral tersebut berjalan baik yang dilakuan panitia antara Pemerintah Kota Malang dan Jawa Timur," kata Helmi M Noor, Kamis (31/3) malam.





Pemilik Cita Entertainment dan menjadi pengatur jalannya prosesi Harlah ini mengemukakan bahwa, angka 70 ribu jamaah terlampaui berdasarkan laporan dari koordinator setiap kabupaten. Tidak tertampungnya jamaah di dalam hingga meluber di sekitar GOR adalah bukti bahwa kehadiran mereka sebagai kebanggaan.





Ditemui di kantornya, kawasan Pagesangan Surabaya, Helmi menjelaskan sejumlah tahapan yang dilakukan sehingga kegiatan berjalan sesuai harapan. "Peringatan Harlah Muslimat NU benar-benar melalui koordinasi yang sangat rapi dan terperinci," kata dia.





Seluruh kekuatan seakan dikerahkan untuk menyukseskan perhelatan akbar tersebut. "Bahkan Gubernur Jawa Timur H Soekarwo juga berkenan memimpin rapat secara langsung agar acara berjalan sesuai harapan," katanya. Karena itu, seluruh kepala dinas bahu membahu turut memberikan yang terbaik demi nama baik Jawa Timur.





Hal tersebut sangat terasa ketika pelaksanaan harlah. Dinas Perhubungan memberikan panduan di sejumlah titik strategis sebagai panduan agar rombongan dari berbagai kota tidak sampai tersesat. "Sejumlah petunjuk arah tersedia di banyak sudut kota saat akan memasuki Kota Malang," kata alumnus Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini.





Demikian pula pihak kepolisian turun dengan kekuatan penuh, mengurai jalan sehingga tidak terjadi penumpukan. "Tidak sedikit kendaraan peserta yang dikawal menuju lokasi acara sehingga tidak menimbulkan jalan menjadi macet," katanya.





Fasilitas pendukung juga demikian membantu. "Dinas pertamanan menyediakan 100 kran di setiap sudut sehingga peserta bisa melaksanakan Shalat Dhuhur berjamaah di dalam GOR," ungkapnya. Air yang tersedia juga termasuk istimewa karena didatangkan langsung oleh kepala dinas setempat. Demikian pula soal kebersihan, kepala dinas setempat turun langsung memimpin pasukan, lanjutnya.





Sejumlah billboard di jalur utama setiap kabupaten dan kota juga semakin memeriahkan gaung harlah. "Dan semuanya dipersembahkan untuk Muslimat NU, tanpa diminta," ungkapnya. Apa yang didermakan para pegiat dan pemilik usaha periklanan out door tersebut sebagai panggilan demi suksesnya acara. "Inilah kehebatan Muslimat NU," terang Helmi.





Tutorial Peserta

Bisa dibayangkan bagaimana ribet dan sulitnya mengatur puluhan ribu ibu-ibu muslimat yang notabene usianya juga lanjut untuk bisa satu komando. Apalagi mereka datang dari seluruh pelosok Indonesia yang tidak mungkin dikumpulkan untuk dikondisikan dan megetahui teknis acara. "Ini pekerjaan yang sangat menantang," sergah bapak 3 anak ini.





Meski demikian sejumlah upaya tetap dilakukan agar jangan sampai berkumpulnya ribuan jamaah perempuan NU tersebut justru menjadi masalah. "Kalau mereka satu komando dan rapi, pasti akan terlihat istimewa," kenangnya.





Akhirnya ditemukanlah sejumlah cara di antaranya mengirimkan tutorial dalam bentuk video kepada koordinator peserta di seluruh Indonesia. "Rekaman itu sekaligus panduan bahwa pada kegiatan harlah nanti para peserta harus mengikuti langkah dan gerakan yang ada," kata alumnus Universitas Darul Ulum Jombang ini.





Saat para peserta sudah memadati GOR, dilakukan gladi resik untuk memantapkan panduan yang telah ada. "Dan untuk menyeragamkan bacaan shalawat dan ketukan pada 50 ribu rebana, kami menyediakan leader atau pemandu," ungkap dia.





Dengan demikian, puluhan ribu peserta hanya mengikuti saja bacaan dan ketukan rebana sehingga tercipta keserasian nada. Jumlah pemimpin shalawat tersebut adalah 200 orang dari unsur paduan suara Muslimat NU Jombang, 200 santri dari Pesantren Bahrul Maghfirah Malang, serta 50 personel grup shalawat dari el-Kiswah Surabaya.





Dan kalau menyaksikan tampilan rekaman yang sudah diunggah di youtube, maka akan terlihat bahwa 50 ribu peserta Harlah Muslimat NU demikian terpandu dan melantunkan shalawat serta menabuh rebana yang telah dibawa dengan tertib. "Suasananya benar-benar syahdu. GOR yang demikian luas berselimutkan shalawat," bangga Helmi.





Mendadak Presiden Hadir

Hal yang juga tidak diduga panitia termasuk Ketua Umum PP Muslimat NU sendiri, Hj Khofifah Indar Parawansa adalah kedatangan Presiden RI. "Sebenarnya 15 hari sebelum kegiatan Harlah sudah ada kepastian bahwa Presiden RI akan hadir," katanya. Karena itu sejumlah acara telah disiapkan dengan mempertimbangkan kedatangan presiden.





Namun 3 hari jelang pelaksanaan Harlah, ada kabar bahwa presiden berhalangan hadir. "Oleh karena itu, semua persiapan acara yang melibatkan sebelum, saat dan usai presiden hadir akhirnya dipangkas dari agenda," kenang Helmi. Perubahan jadwal tersebut juga membawa berkah karena "kerumitan" akan terurai.





Oleh karena itu, seluruh persiapan dan rangkaian acara akhirnya dipastikan tanpa kehadiran orang nomor satu di negeri ini. "Bagi panitia, hal tersebut sebagai sesuatu yang melegakan lantaran tidak terlalu ribet dengan aturan yang mengikat," kata mantan wartawan Majalah AULA PWNU Jatim tersebut.





Namun dengan tanpa disangka sekitar jam 4 sore di hari Jumat (25/3) ada telepon dari protokoler Pemerintah Provinsi Jatim bahwa Presiden RI akan datang pada puncak Harlah Muslimat NU tersebut. "Sebentar lagi pihak protokoler Istana akan menghubungi untuk membicarakan kehadiran presiden," katanya menirukan telpon dari Pemprov Jatim.





Padahal sore itu sedang dilakukan gladi resik panitia dan petugas inti untuk kelancaran acara besok siang. Kepastian akan hadirnya Presiden RI membuat Ibu Khofifah dan panitia serta petugas menitiskan air mata. "Subhanallah, ini kejadian luar biasa dan tidak diduga," kata Helmi menirukan ungkapan Khofifah. Kala itu Helmi melihat hampir seluruh panitia dari unsur Muslimat NU dan diikuti petugas lain menangis. Air mata tumpah lantaran haru atas kejadian serba mendadak tersebut.





Benar juga, pihak protokoler istana akhirnya meminta jadwal acara secara rinci kepada panitia. Usai diemail, ada sedikit revisi yang diberikan istana terkait mata rangkai acara yang harus dilaksanakan besok siang karena melibatkan presiden. "Sekitar jam 10 malam, rangkaian acara disepakati," tegas Helmi.





Dan malam itu juga, pasukan khusus dari Jakarta terbang ke Malang dengan pesawat Hercules untuk koordinasi. "Kalau mengandalkan pesawat keesokan harinya pasti tidak akan nutut," katanya.





Dengan tindakan tegas dan langkah taktis tersebut, pihak istana bisa melakukan penyisiran lokasi dari jam 6 pagi. "Seluruh kawasan dilakukan sterilisasi untuk memastikan keamanan bagi presiden dan rombongan," katanya. Saat itu juga akhirnya dilakukan pembagian tugas. Helmi dan "pasukan" fokus ke acara, sedangkan hal yang menyangkut keamanan GOR dan sekitarnya menjadi tanggung jawab pasukan keamanan.





GOR Layaknya Padang Arofah

Dengan lancarnya arus kendaraan menuju GOR karena dibantu pihak kepolisian dan dinas perhubungan, sejak pagi satu demi satu jamaah Muslimat NU memasuki lokasi. Standar Operasional Prosedur (SOP) ala Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres) pun diberlakukan. "Warga Muslimat yang akan masuk GOR harus melewati pintu deteksi yang membuat sedikit krodit," kata dia.





Maklum, jauh-jauh sebelum acara telah disampaikan bahwa selama di dalam GOR, peserta tidak bisa keluar lagi hingga usai acara. Keperluan shalat, bekal makanan dan sejenisnya harus telah lengkap. "Kami mengingatkan kepada peserta bahwa jadikan GOR Gajayana layaknya Padang Arofah," kata Helmi.





Nah, yang jadi "masalah" adalah ketika mereka melewati pintu deteksi sebagai SOP Paspampres. "Beberapa kali alarm bahaya berbunyi lantaran peserta membawa sejumlah peralatan layaknya bepergian jauh," seloroh Helmi. Makanan dan minuman di dalam rantang, sendok, bahkan tidak sedikit yang membawa pisau atau silet menjadi pengiring suasana sehingga terjadi antrean panjang di pintu masuk. Apalagi kala itu hanya tersedia dua pintu utama yang dibuka. "Kalau di media muncul liputan bahwa peserta berdesakan, ada benarnya meskipun tidak semuanya tepat," bela dia. Karena itu adalah konsekuensi bagi kehadiran presiden.





Namun pada prinsipnya, acara berjalan sesuai harapan. Tidak ada rombongan yang mengeluh lantaran jauh sebelum acara telah dilakukan sosialisasi terkait persiapan tersebut. Apalagi para perempuan NU yang terhimpun dalam Muslimat kerap melaksanakan ziarah wali yang mengharuskan menyiapkan keperluan pribadi dan ibadah secara mandiri. "Kemah sejenak di GOR Gajayana bagi ibu Muslimat NU sudah terbiasa," tegas Helmi.





Pecahnya rekor Museum Rekor Indonesia atau MURI menjadi puncak kesuksesan acara tersebut. Ada 50 ribu lebih jamaah yang telah menyiapkan kerudung putih untuk digantikan dari awalnya hijau. "Dalam hitungan 1 hingga 9, GOR Gajayana yang awalnya bernuansa hijau, akhirnya berubah menjadi putih," katanya.





Demikian pula, rekor selanjutnya adalah pelantunan shalawat dengan menggunakan rebana, pecah hari itu. Di tribun utama ada Presiden RI, Ketua Umum MUI yang juga Rais Aam PBNU, Ketua MPR, Menteri Agama RI, Gubernur Jawa Timur dan Ketua Umum PP Muslimat yang juga Menteri Sosial secara bersama menabuh rebana mengiringi jamaah yang berjumlah 50 ribu lebih. "Sungguh, suasana saat itu sangat khidmat dan tidak sedikit peserta yang menangis sembari menengadah sembari melantunkan shalawat," jelas Helmi.





Ribuan jamaah berbaju hijau dengan kerudung putih dengan bacaan Shalawat Badar yang dilantunkan menjadi selimut bagi stadion yang biasanya digunakan acara konser musik dan pertandingan bola. "Peristiwa ini membawa pesan bahwa dengan hijab, Indonesia akan menjadi kiblat mode dunia di masa mendatang," ungkapnya. Bahwa kegiatan dengan mengundang jamaah berjumlah ribuan tidak identik dengan acara hura-hura, tapi sarat makna.





Demikian pula pelantunan shalawat yang diiringi alat musik tradisional khas Indonesia membawa filosofi bahwa Islam dan tradisi adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. "Inilah Islam Indonesia, inilah Islam Nusantara, dan inilah Islam rahmatan lilalamin," kata dia.





Seluruh rangkaian acara yang dihadiri Presiden RI tersebut berlangsung sekitar 85 menit. "Lebih cepat dari yang disepakati protokol istana yakni 90 menit," terang Helmi. Sehingga seluruh rangkaian acara diteliti dengan cermat. "Jalannya acara setiap detik dan menitnya kita hitung dengan cermat agar jangan sampai mengganggu jadwal presiden," katanya.





Bagi masyarakat yang tidak berkesempatan mengikuti acara di GOR Gajayana, Helmi telah menyediakan rangkumannya dalam 9 serial yang dipubilikasikan lewat youtube. "Ada tayangan singkat prosesi hijab terbanyak dan menabuh rebana bersama Presiden Jokowi yang sudah tayang," terangnya. Kemudian akan menyusul tayangan laskar antinarkoba, pidato Presiden Jokowi, pidato Khofifah, Jokowi menyapa jamaah di GOR, taushiyah KH Hasyim Muzadi, juga Khofifah saat menyanyi. Selamat. (Ibnu Nawawi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ubudiyah, Budaya, Makam RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock