Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Konservatisme Islam Semakin Menguat di Malaysia

Bogor, RMI NU Tegal. Dalam urusan perlindungan terhadap kebebasan beragama warganya, Malaysia memiliki cerita tersendiri. Seperti diungkap oleh Ehsan Shahwahid dari Islamic Renaissance Front (IRF) Malaysia dalam Asia Interfaith Forum 2017 yang digelar Pusat Studi Pesantren (PSP) di Bogor, Selasa (17/10). Negeri Jiran itu tengah bergelut dengan menguatnya semangat Islamisasi yang dirasa mulai masuk dalam berbagai lini.

Islam di Malaysia, seperti dijelaskan oleh Ehsan, masuk sejak masa pra-kolonialisme pada abad ke-9. Sejak masa itu hingga abad ke-15, Islam mulai dimasukkan dalam pembangunan struktural Malaysia, utamanya di kalangan kesultanan. 

Konservatisme Islam Semakin Menguat di Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Konservatisme Islam Semakin Menguat di Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Konservatisme Islam Semakin Menguat di Malaysia

Di masa itu pula hukum syariah Islam diperkenalkan di banyak kerajaan di negeri itu. Saat ini, berabad-abad kemudian, Islam sudah begitu melekat pada warga Malaysia, hingga keberadaannya telah merangsek pada level administrasi pemerintah dan kebijakan publik.

Dalam konstitusi Malaysia tertulis bahwa Islam adalah agama resmi negara, meski mereka juga memberi pengakuan terhadap kebebasan individual, termasuk bebas untuk memilih agama yang dianut. Meski diakui oleh Ehsan, hal ini tidaklah selalu mudah untuk dilakukan, terutama dengan semakin menguatnya konservatisme di kalangan masyarakat Malaysia.

Hal ini bisa dilihat dari beberapa kebijakan terbaru terkait dengan Islam di negeri yang merdeka sejak 1957 itu, beberapa di antaranya adalah pelarangan menggunakan kata “Allah” untuk warga non-muslim. 

RMI NU Tegal

“Tidak hanya kata itu, ada sekitar 25 kata lain yang tidak boleh digunakan oleh non-muslim seperti kitab dan lain-lain,” jelasnya.

RMI NU Tegal

Pemerintah Malaysia juga baru-baru ini mengeluarkan larangan terhadap segala bentuk liberalisme, mulai dari pembicara-pembicara publik yang dianggap liberal, hingga buku-buku yang dipandang beraliran serupa.

“Ada dua pembicara publik dari Indonesia yang sempat dikenai larangan, mulai dari Ulil Abshar Abdalla hingga yang terbaru, Mun’is Sirry,” ungkapnya.

Ehsan juga menyebut larangan ketat terkait buku-buku yang dipandang liberal. “Bahkan untuk buku monumental karya Charles Darwin misalnya, anda tidak akan menemukan cetakannya versi Bahasa Malaysia; semuanya di edisi berbahasa Inggris,” lanjutnya.

Terkait ini, Ehsan menyimpulkan tiga hal utama yang menjadi tantangan, yakni; Islam yang berkelindan dalam kepentingan politik, politisasi ajaran Islam oleh lembaga-lembaga pemerintahan, dan terakhir meningkatnya konservatisme dan otoritarianisme.

Untuk menanggulanginya, Ehsan menyebut keharusan untuk melakukan reformasi di tubuh Islam, yakni dengan bersikap terbuka terhadap diskursus-diskursus tradisional dan modern. Selain itu, ia juga menyebut perlunya perbaikan dalam bidang koordinasi antara kelompok-kelompok Islam, utamanya yang beraliran moderat-progresif.

Khusus untuk kasus Malaysia, ia menyebut kebutuhan untuk belajar dari Indonesia, utamanya dalam hal memperkuat organisasi massa yang berbasis keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah dalam mennghadapi permasalahan sosial dan isu-isu kekinian.

Terakhir, ia menyatakan perlunya membangun jaringan regional lintas negara untuk bersama-sama mengatasi masalah ini, sebab permasalahan ini bisa saja terjadi di mana-mana, tidak hanya terbatas di Malaysia.

 

Sementara upaya untuk melakukan perubahan ini tidak bisa dilakukan sendiri, karenanya jaringan lintas negara ini diharap mempu memberi kontribusi positif dalam upaya membangun pemahaman agama yang baik. (Khoirul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Jadwal Kajian, Kajian Sunnah RMI NU Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

KH Kholirurrahman-Jema’ie Makmur Pimpin NU Ketapang-Kalbar

Ketapang, RMI NU Tegal. Konferensi Cabang ke-11 Nahdlatul Ulama Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, yang dilaksanakan Ahad (20/4) kemarin di Ketapang telah mengeluarkan berbagai keputusan strategis antara lain memilih dan menetapkan Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah masa khidmat 2014-2019.

Sidang Pleno kelima yang dipimpin Wakil Ketua PCNU Kabupaten Ketapang demesioner masa khidmat 2009-2014 Drs. Satuki Huddin, M.Si ini berjalan khidmat dan sukses. Sebelum diadakan pemilihan seluruh peserta konferensi diminta pimpinan sidang untuk sama-sama membaca Shalawat Badar dan pembacaan ummul kitab yang dipimpin oleh KH. Kholilurrahman.

KH Kholirurrahman-Jema’ie Makmur Pimpin NU Ketapang-Kalbar (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Kholirurrahman-Jema’ie Makmur Pimpin NU Ketapang-Kalbar (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Kholirurrahman-Jema’ie Makmur Pimpin NU Ketapang-Kalbar

Pemilihan PCNU masa khidmat 2014-2019 didahului dengan pemilihan Rais Syuriyah. Setelah diajukan bakal calon (balon) melalui pemilihan langsung dan rahasia akhirnya terjaring empat balon terpilih yakni KH Kholirurrahman, KH Faisol Maksum, KH Abdullah Alfaqir dan KH Jema’ie Makmur.

RMI NU Tegal

Berdasarkan Tata Tertib Konfercab ke-11 dalam pemilihan pengurus cabang bahwa seorang calon dinyatakan sah apabila didukung oleh sekurang-kurangnya 5 (lima) suara dari peserta konferensi. Oleh karena itu setelah diadakan penghitungan dari suara sah yang berhak memilih dari 18 rais syuriyah tingkat MWC plus satu orang perwakilan syuriyah PCNU Ketapang, akhirnya yang memenuhi syarat hanya satu orang balon yakni KH Kholilurrahman setelah memperoleh 15 suara.

Mengingat balon yang terpih hanya satu orang, akhirnya seluruh peserta konfercab menyepakati agar balon yang terpilih secara aklamasi langsung ditetapkan sebagai Rais Syuriyah PCNU masa khidmat 2014-2019.

RMI NU Tegal

Proses pemilihan Ketua Tanfidziyah dilaksanakan setelah pemilihan Rais Syuriyah. Pemilihan balon ketua tanfidziah juga dilaksanakan secara langsung dan rahasia. Setelah diadakan penghitungan suara balon yang terpilih hanya 2 (dua) orang yakni KH. Abdullah Alfaqir dan KH Jema’ie Makmur.

Mengingat hanya satu orang yang memenuhi syarat yakni KH Jema’ie Makmur setelah memperoleh dukungan 18 suara dari 19 suara yangh berhak memilih, akhirnya peserta konfercab menetapkan secara aklamasi KH Jema’ie Mamur sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Ketapang Masa Khidmat 2014-2019 setelah disetujui Rais Syuriyah terpilih.

KH Kholilurrahman sebelumnya adalah Wakil Rais Suriyah PCNU Kabupaten Ketapang Masa Khidmat 20109-2014 sementara KH Jema’ie Makmur Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Ketapang Masa Khidmat 20109-2014 dan pada pemilihan kali ini beliau kembali memimpin NU ketapang lima tahun ke depan.

Sebelum disahkan melalui pembacaan SK pada sidang Pleno kelima ini, juga ditetapkan tim formatur sebanyak 5 (lima) orang yakni Rais Syuriyah terpilih merangkap ketua, Ketua Tanfidziyah merangkap sekretaris dan 3 (tiga) orang dari pengurus MWC masing-masing MWC Delta Pawan, Benua Kayong dan Matan Hilir Utara. Kepada Tim Formatur diamanatkan agar menyusun kepengurusan NU Ketapang Masa Khidmat 2014-2019 dengan jangka waktu satu bulan. (Syafi’ie /Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Habib, Hikmah, Kajian Sunnah RMI NU Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Santri Situbondo Menang di Ajang Film Nasional

Situbondo, RMI NU Tegal



Setelah bersaing ketat dengan 142 Film Indie terpilih dari seluruh Nusantara, akhirnya film karya Andi Ahmad Miskil Khitam dinobatkan sebagai film terfavorit dalam ajang Moviestival 2016 di Bandung, Jawa Barat. Acara ini diselenggarakan oleh PT Pos & Komunitas Film Pendek Indonesia (KFPI) dengan tema "Nurani Bangsaku: Filmkan Nuranimu untuk Indonesia yang Lebih Baik”.

Akil , sapaan akrab Andi Ahmad Miskil Khitam, yang merupakan santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, mengalahkan finalis lain dari berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Palembang, Pekanbaru, Malang, Bengkulu, dan kota lainnya.?

Santri Situbondo Menang di Ajang Film Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Situbondo Menang di Ajang Film Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Situbondo Menang di Ajang Film Nasional

“Saya tidak menyangka karya wong ndeso asli Sukorejo Situbondo bisa menang di ajang yang sangat bergengsi ini. Ini semua berkat dukungan dan kerja keras dari semua tim yang terlibat dalam pembuatan film ini,” kata Akil.

Film yang berjudul “Jika Salah Karena Aku Berbeda" itu diumumkan sebagai film terfavorit dalam Malam Penghargaan Moviestival 2016 pada 27 Oktober 2016 di Graha Pos Indonesia, Jalan Banda Nomor 30, Bandung. Sebagian cerita dalam film ini diangkat dari kisah nyata.

Video ini, jelasnya, mengandung pesan moral yang sangat dalam untuk menghargai perbedaan. “Karena setiap orang terlahir unik dan berbeda. Maka jadikanlah perbedaan itu indah, dengan segala dimensi maknanya. Karena nurani bangsa kita merangkul semua perbedaan," lanjut Akil.

RMI NU Tegal

Akil yang merupakan tim Internet Cerdas Indonesia sebelumnya juga pernah membuat Situbondo bangga lewat video parawisata yang dibuatnya. Berkat video promosi tersebut, parawisata Situbondo lebih dikenal oleh netizen Indonesia.?

RMI NU Tegal

Rahmat Saputra, pendiri Internet Cerdas Indonesia, mengatakan, prestasi ini tentu sangat membanggakan Situbondo. Karena, menurutnya, walaupun pemuda desa, Akil mampu bersaing di tingkat nasional. Salah satunya berkat teknologi internet, di mana kita bisa belajar dari mana saja dan dari siapa saja. Prestasi ini juga membanggakan dunia pesantren, apalagi kita baru saja memperingati hari santri 22 Oktober lalu.?

“Saat ini, pesantren tidak hanya melahirkan tokoh-tokoh agama, tapi juga seniman besar. Ini seperti cita-cita KHR As’ad Syamsul Arifin, pendiri Pondok Pesantren Sukorejo dan mediator berdirinya organisasi NU: ‘Saya bercita-cita agar santri saya seperti santrinya Sunan Ampel, ada yang menjadi fuqaha, seniman, negarawan dan waliyullah’. Cita-cita itu mungkin telah terwujud sekarang. Ada banyak nama-nama seniman besar yang ada di Situbondo seperti Bapak Syamsul A Hasan, Bapak Zainul Walid, Ahmad Sufiatur Rahman, Muhammad Nur Taufiq, dan lain-lain,” ujarnya. ?

Di samping film “Jika Salah Karena Aku Berbeda", banyak karya lainnya yang bisa dilihat di chanel Youtube Mr Akil Angelo. Saat ini Akil sedang dikontrak eksklusif untuk membuat video dokumenter Serikat Tenaga Kerja Bongkar Muat (STKBM) Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kajian Sunnah RMI NU Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Inilah Batasan Sabar

Di antara sifat yang paling mulia dan utama adalah sabar. Keutamaan sifat ini banyak disebutkan dalam Al-Qur’an, hadits, dan penjelasan para ulama. Menurut Al-Ghazali, setidaknya ada sekitar tujuh puluh lebih keterangan Al-Qur’an terkait sifat keutamaan sabar, anjuran sabar, dan ganjaran yang akan diperoleh orang yang senantiasa menjaga kesabaran.

Saking mulianya tabiat ini, tak heran bila kesabaran selalu diidentikkan dengan keimanan. Seperti yang dikatakan Sahabat Ali bin Abi Thalib RA, “Ketahuilah bahwa kaitan antara kesabaran dan keimanan adalah ibarat kepala dan tubuh. Jika kepala manusia sudah tidak ada, secara langsung tubuhnya juga tidak akan berfungsi. Demikian pula dengan kesabaran. Apabila kesabaran sudah hilang, keimanan pun akan hilang.”

Inilah Batasan Sabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Batasan Sabar (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Batasan Sabar

Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa kesabaran memiliki berbagai macam hukum. Tidak semua bentuk kesabaran yang dianggap baik dan mulia. Ada beberapa bentuk kesabaran yang malah dinilai tidak baik dan kurang tepat. Kesabaran pun sebenarnya harus tahu tempatnya supaya tidak terjebak pada kesabaran yang diharamkan. Al-Ghazali mengatakan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

RMI NU Tegal

Artinya, “Sabar dapat dibagi menjadi beberapa kategori sesuai dengan hukumnya: sabar wajib, sunah, makruh, dan haram. Sabar dalam menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang syariat adalah wajib. Sementara menahan diri dari yang makruh merupakan sabar sunah. Sedangkan menahan diri dari sesuatu yang dapat membahayakan merupakan terlarang (haram) seperti menahan diri ketika disakiti. Misalnya orang yang dipotong tangannya, atau tangan anaknya sementara ia hanya berdiam saja. contoh lainnya, sabar ketika melihat istrinya diganggu orang lain sehingga membangkitkan cemburunya tetapi ia memilih tidak menampakkan rasa cemburunya. Begitu juga orang yang diam saat orang lain mengganggu keluarganya. Semua itu sabar yang diharamkan.”

Keterangan ini menunjukan bahwa dalam sabar ada tempatnya sendiri. Justru ketika ia bersabar malah terjebak dalam kesalahan dan keharaman. Seperti yang dicontohkan di atas, ketika melihat orang yang tertimpa musibah, maka sebaiknya kita langsung menolong orang tersebut, apalagi bila korbannya berada dalam kondisi darurat. Begitu pula ketika seorang istri yang diganggu orang lain. Sabar dalam kondisi ini termasuk sabar yang diharamkan berdasarkan penjelasan Al-Ghazali. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kiai, Kajian Sunnah, Doa RMI NU Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Kisah Nyata Ulama Dikubur dan Hidup Kembali

Suatu saat, Abdullah bin Umar Al Baidlawi sudah dianggap meninggal oleh orang-orang di sekitarnya. Usai dirawat sebagaimana jenazah pada lazimnya, ia dikebumikan dan diratakan tanah di atas pusaranya. Namun, setelah dikubur, Abdullah ternyata belum mati. Hanya jantung dan napasnya yang berhenti sementara.

Demikian dikatakan Habib Abdullah bin Abdurrahman Al-Muhdlar dari Hadramaut, Yaman saat menjawab pertanyaan salah satu pengunjung tentang mati suri dalam acara Haflah Akhir Sanah Pesantren Darut Tauhid Al Huda, Jatilawang, Wanayasa, Banjarnegara, Rabu (25/5).

Kisah Nyata Ulama Dikubur dan Hidup Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Nyata Ulama Dikubur dan Hidup Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Nyata Ulama Dikubur dan Hidup Kembali

Ia melanjutkan, karena orang tersebut hidup namun tidak bisa keluar dari dalam kuburan, Abdullah bin Umar kemudian bernadzar. Jika saya bisa hidup kembali ke dunia sebagaimana semula, aku bernadzar akan menafsiri Al-Qur’an.

RMI NU Tegal

Ternyata, tidak sampai selang waktu lama, ada seorang yang berprofesi sebagai pencuri kain kafan datang menggali kuburan di mana Abdullah dikebumikan. Ia kaget bukan kepalang. Jenazah yang ia gali dapat bergerak sendiri. Ia pun lari tunggang-langgang.

RMI NU Tegal

Habib muda ini melanjutkan, jenazah yang hidup lagi ini lalu menyeru kepada pencuri, “Hai, jangan lari, kemari! Begini, kamu ini ingin mencuri kain kafanku bukan?”

“Iya,” jawab pencuri.

“Sekarang, bawalah kain kafanku ini dan katakan kepada orang kampung suruh mereka mengirimkanku pakaian kemari,” pesan Abdullah. Dan benar, setelah kembali, Abdullah bin Umar ini menyusun tafsir Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil yang terkenal dengan Tafsir Al-Baidlawi.

Habib Muhdlar menyimpulkan dengan adanya kisah tersebut, bahwa siapa pun dalam memutuskan perkara harus ada kalimat wallahu a’lam. Manusia hanya memutuskan yang tampak lahir saja. Sedangkan hakikatnya hanya Allah yang maha tahu.

“Seperti dokter di akhir zaman ini yang langsung memvonis mati salah satu pasien, misalnya. Mereka tanpa mengatakan allahu a‘lam. Padahal ini hanya pengetahuan saja. Bukan hakikat sebagaimana yang terjadi dalam cerita di atas,” tandasnya.

Maka tak jarang, lanjutnya, banyak orang mati yang hakikatnya belum mati namun ia mati justru baru saat ia dikubur, karena ia tak bisa bernapas atau yang lainnya sedangkan dokter memang sudah memberikan vonis mati. Di sinilah pentingnya kalimat allahu a’lam.

Terakhir, dai dari Yaman ini berpesan supaya tidak terlalu terburu-buru dalam mengurus jenazah. Cepat itu perlu, tapi jangan terlalu. Ciri-ciri orang mati setidaknya ada tiga hal, di antaranya hidung yang sudah melenceng, seperti meleleh ke samping, telapak kaki yang sudah tidak tegak ke atas, dan mulut yang berbau busuk. (Mundzir/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pertandingan, Pendidikan, Kajian Sunnah RMI NU Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Istri Dianggap ‘Nusyuz’ bila Melakukan Hal Ini

Dalam bahtera pernikahan, persoalan pasti akan selalu ada. Perselisihan pendapat dalam sebuah masalah hampir dipastikan terjadi antara suami dan istri. Tidak jarang, muara dari perselisihan tersebut adalah sikap nusyuz yang ditampakkan oleh sang istri. Dalam pemaparan kali ini, akan dibahas apa sebenarnya arti dari nusyuz, apa saja yang bisa menyebabkan seorang perempuan dianggap nusyuz, apa yang harus dilakukan oleh suami, dan bagaimana konsekuensi hukumnya menurut syariat.

(Baca: Masak dan Mencuci Bukan Kewajiban Istri)Mustafa al-Khin dan Musthafa al-Bugha dalam al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam al-Syâfi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), juz IV, halaman 106, mendefinisikan nusyuz dengan redaksi berikut:

Istri Dianggap ‘Nusyuz’ bila Melakukan Hal Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Istri Dianggap ‘Nusyuz’ bila Melakukan Hal Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Istri Dianggap ‘Nusyuz’ bila Melakukan Hal Ini

RMI NU Tegal

? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?…? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Nusyuz-nya seorang perempuan ialah sikap durhaka yang ditampakkannya di hadapan suami dengan jalan tidak melaksanakan apa yang Allah wajibkan padanya, yakni taat terhadap suami… nusyuz-nya perempuan ini hukumnya haram, dan merupakan satu dari beberapa dosa besar.”

Selain haram, nusyuz juga mengakibatkan konsekuensi hukum berupa terputusnya nafkah, sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Muhammad bin Qasim dalam Fathul Qarib (Surabaya: Kharisma, 2000), halaman 239: 

RMI NU Tegal

? ? ? ?

Artinya: “Ada dua hal yang bisa gugur akibat nusyuz, yakni hak gilir dan hak mendapatkan nafkah”. 

Lebih lanjut, dalam lanjutan teks di kitab al-Fiqh al-Manhaji dijelaskan bahwa seorang perempuan akan dianggap nusyuz apabila ia keluar rumah dan bepergian tanpa seizin suami, tidak membukakan pintu bagi suami yang hendak masuk, dan menolak ajakan suami untuk berhubungan suami-istri padahal ia tidak sedang uzur seperti sakit atau lainnya, atau saat suami menginginkannya namun ia sibuk dengan hajatnya sendiri, dan lainnya.

Lantas apakah berarti setiap akan keluar atau bepergian, seorang istri harus meminta izin lagi dan lagi kepada suaminya? Tidak juga. Izin dari suami ini bisa diberikan secara umum, artinya jika diyakini bahwa suami pasti rela, maka itu bisa dianggap sebagai izin.

(Baca: Hukum Istri Ambil Uang Suami Tanpa Izin

(Baca: Suami Larang Isteri Kunjungi Orang Tuanya)Tidak semua tindakan kasar yang dilakukan oleh istri dianggap sebagai nusyuz. Sebagaimana dijelaskan dalam lanjutan teks kitab Fathul Qarib:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Menurut pendapat yang lebih sahih, berkata kasar kepada suami bukan termasuk nusyuz, tetapi dia berhak (harus) diajari oleh suami jika melakukan hal tersebut. Jika hal ini terjadi, suami tidak perlu melapor pada qadli (hakim).”

Jika sudah terbukti bahwa istri melakukan nusyuz dengan cara keluar rumah atau bepergian semaunya tanpa seizin suami atau menolak ajakan suami untuk berhubungan, maka tindakan yang perlu dilakukan oleh suami, sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an, yakni:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS an-Nisa: 34)

(Baca: Inilah Hukum Suami yang Lakukan KDRT kepada Istrinya)Cara pertama ialah suami menasihati istrinya bahwa apa yang dilakukan tersebut adalah haram dan bisa mengakibatkan terhentinya pemberian nafkah lahir. Jika masih nusyuz, maka langkah kedua ialah tidak memberikan nafkah batin kepadanya. Langkah terakhir jika masih tetap nusyuz ialah dengan memukulnya, namun memukul di sini tidak boleh sembarangan, pukulan yang dilakukan hanyalah pukulan yang sifatnya ancaman belaka, dan tidak boleh melukai.

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Muhammad Ibnu Sahroji)



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pondok Pesantren, Kajian Sunnah, Sejarah RMI NU Tegal

Siswa Madrasah Wakili Indonesia di Olimpiade Internasional

Jakarta, RMI NU Tegal. Madrasah kembali membawa nama harum Indonesia di kancah Internasional. Setelah berhasil meraih prestasi pada olimpiade sains nasional yang berlangsung di Yogyakarta beberapa hari lalu, salah satu ? siswa madrasah didaulat menjadi duta Indonesia di kancah olimpiade sains tingkat dunia.?

Siswa Madrasah Wakili Indonesia di Olimpiade Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa Madrasah Wakili Indonesia di Olimpiade Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa Madrasah Wakili Indonesia di Olimpiade Internasional

Adalah Muhammad Ahdillah Fadlila Dayajati, siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia (IC) Gorontalo terpilih menjadi salah satu duta Indonesia dalam International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) tahun 2015. Ajang bergengsi tingkat dunia ini akan berlangsung di Magelang pada tanggal 26 juli – 4 Agustus 2015, seperti dikutip dari situs kemenag.go.id.

Perjuangan Fadhil, begitu biasanya ia disapa, tidaklah mudah. Dia memulai prestasi olimpiade sejak masih duduk di kelas X dan XI di MAN Insan Cendekia Gorontalo. Saat itu, Fadhil berhasil mendapatkan medali perunggu dalam ajang OSN tahun 2013 di Bandung. Tidak ? menyerah sampai disitu, Fadhil terus belajar dengan giat, dan akhirnya berhasil mendapatkan medali emas setahun kemudian, tepatnya dalam ajang OSN 2104 yang berlangsung di Mataram NTB.?

RMI NU Tegal

Mendapat medali emas OSN 2014 bukanlah akhir dari perjuangan Fadhil. Setidaknya ada tiga tahapan seleksi menuju IOAA yang harus dilaluinya, yaitu: pelatnas tahap 1 atau 30 besar yang diadakan di Bandung pada Oktober – November 2014, pelatnas tahap 2 atau 22 besar pada Maret 2015, dan pelatnas tahap 3 atau 16 besar pada April – Mei 2015.?

RMI NU Tegal

Setelah mengikuti pelatnas ketiga yang merupakan penentu ke tahap internasional, akhirnya Muhammad Ahdillah Fadlilla DJ berhasil menjadi yang terbaik dan masuk sebagai MAIN TEAM (TIM UTAMA) yang akan berlaga di ajang IOAA tahun 2015 bersama beberapa siswa lainnya. Tim Nasional Indonesia untuk mengikuti IOAA 2015 di Magelang tanggal 26 Juli – 4 Agustus 2015 terdiri dari ? 10 siswa ? yang terbagi ? dalam 2 ? Tim (Main Team dan Guest Team) dan ? masing-masing terdiri dari 5 (lima) siswa. ?

Prestasi Muh. Ahdillah Fadlilla DJ tak luput dari perhatian Direktur Pendidikan Madrasah kemenag RI. ?

“Kami sangat mengapresiasi prestasi ananda Muh. Fadlilla yang mampu bersaing dan menjadi duta Indonesia dalam ajang IOAA tahun ini. Kami senantiasa mendorong madrasah untuk terus berprestasi dan menjadi kiblat pendidikan di Tanah Air,” papar M. Nur Kholis, Jakarta, Senin (06/01). Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini berpesan agar prestasi yang ditorehkan siswa MAN Insan Cendekia Gorontalo ini dapat memacu semangat madrasah lain agar terus berprestasi.?

Sementara itu, Kepala MAN IC Gorontalo Moh. Naim mengatakan bahwa prestasi tersebut merupakan buah dari kerja keras semua pihak, khususnya tim olimpiade dan guru pembina olimpiade dalam menggembleng peserta didik sejak kelas X. Ini juga buah perhatian dari Kanwil Kementerian Agama Provinsi Gorontalo, Dinas Dikpora Provinsi Gorontalo serta Direktorat Pendidikan Madrasah Kementerian Agama RI.?

“Terima kasih kepada semua pihak dan mohon doanya agar ananda Fadlilla bisa sukses memperoleh medali di ajang IOAA 2015 ini,” harapnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal PonPes, Nahdlatul Ulama, Kajian Sunnah RMI NU Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Banser Kawal Karnaval Gebyar Sultan Agung

Pati, RMI NU Tegal. Sebanyak 1600 orang memeriahkan Karnaval Gebyar Sultan Agung yang diselenggarakan setiap tahun, Sabtu (26/12). Mereka adalah para siswa lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Pengembangan Pendidikan Islam Sultan Agung (YPPISA), Sukolilo, Pati. Mereka terdiri atas siswa TK, MI, MTs, SMP, MA, dan SMK Sultan Agung.

“Kami sangat berterima kasih kepada anggota Banser yang sudah ikut mengawal dan menyukseskan acara Gebyar Sultan Agung,” kata Ketua Panitia Gebyar Sultan Agung Ahmad Mun’im.

Banser Kawal Karnaval Gebyar Sultan Agung (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Kawal Karnaval Gebyar Sultan Agung (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Kawal Karnaval Gebyar Sultan Agung

Ketua GP Ansor Sukolilo Ahmad Darmaji mengatakan, karena banyak pengunjung yang menyaksikan Karnaval Gebyar Sultan Agung, anggota Banser disebar di titik-titik strategis guna lancarnya pawai.

RMI NU Tegal

Tepat pada 08.00 wib Karnaval Gebyar Sultan Agung dimulai dan dibuka langsung oleh Bupati Pati H Haryanto. Titik awal karnaval dimulai dari halaman YPPISA kemudian melewati jalan raya Pati-Purwodadi Km 27 dan berakhir di titik awal semula.

RMI NU Tegal

Gebyar Sultan Agung ini merupakan salah satu bentuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Siswa-siswi yang ikut Karnaval Gebyar Sultan Agung diharapkan dapat mengambil hikmah dan keteladanan dari akhlak Nabi Muhammad SAW sehingga nanti terbentuk siswa yang berkarakter. (Moh Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kajian Sunnah, Kiai RMI NU Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Syiir Tanpo Waton Hipnotis Puluhan Ribu Jamaah

Jombang, RMI NU Tegal. Lantunan Syiir Tanpo Waton yang dikumandangkan KH Nizom Asshofa menghipnotis puluhan ribu jamaah yang menghadiri peringatan 1000 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, di Tebuireng Jombang, Kamis malam (27/8).

Syiir Tanpo Waton Hipnotis Puluhan Ribu Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)
Syiir Tanpo Waton Hipnotis Puluhan Ribu Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)

Syiir Tanpo Waton Hipnotis Puluhan Ribu Jamaah

Syiir tanpo waton menutup kegiatan pengajian yang dihelat di areal makam Gus Dur yang menghadirkan mantan Menteri Agama Prof Tholhah Hasan, dan KH Maimun Zubair yang dihadiri sekitar 20 hingga 25 ribu jamaah.

Suara Gus Nizom yang memang terdengar sangat mirip dengan suara Al Marhum Gus Dur seakan sosok cucu pendiri NU, KH Hasyim Asyari yang dikenal dekat dengan beragai kalangan dan masyarakat kecil ini turut hadir ditengah tengah jamaah.

RMI NU Tegal

”Suaranya memang sangat mirip dengan Gus Dur, padahal beliau masih sangat muda,” kata Yusuf salah satu wartawan yang tepat di depan podium.

Gus Nizom, tampil dengan didampingi sekitar 20 pengikutnya dengan berpakain hitam dan berambut gondrong. Sementara para jamaah larut dengan lantunan lantunan syiir yang dikenal dengan Syiir Gus Dur.

RMI NU Tegal

Peringatan 1000 hari wafatnya presiden RI ke-4, kemarin terlihat sangat meriah, sejaka siang ribuan jamaah sudah terlihat memasuki kawasan pondok pesantren Tebuireng Jombang. Kondisi ini semakin padat ketika dimulai acara tahlil. 

Setidaknya 20 ribu orang memadati Pesantren Tebuireng. Membludaknya jamaah membuat banyak pengunjung tak bisa masuk ke areal pondok dan tertahan diluar pagar. 

"Panitia hanya memperkirakan dihadiri sekitar 10 ribu orang, tapi melihat seperti ini bisa lebih 20 ribu orang,’’ kata Lukman Hakim ketua panitia pelaksana.

Saking padatnya pengunjung, jalan raya yang berada di depan pondok sampai harus ditutup. Sementara arus kendaraan dialihkan melalui jalur alternatif. Pengunjung memang mulai berdatangan dengan berbagai cara. Ada yang berjalan kaki, mengendarai motor, mobil, bus serta kereta kelinci. Tak heran ketika jelang Magrib area parkir sudah penuh dengan kendaraan. Padahal acara baru dimulai setelah salat Isya.

Pukul 19.00, WIB jarak satu kilometer dari Tebuireng, jalan raya sudah padat merayap. Di kanan kiri jalan berderet mobil parkir. Nah, begitu memasuki gerbang Tebuireng, pengunjung sudah berdesak-desakan. Bahkan, di pintu gerbang utara, sejumlah petugas keamanan terpaksa menghalau para pengunjung. Pasalnya, area di sekitar makam Gus Dur sudah sesak pengunjung. 

"Maaf jangan masuk ke area makam. Karena pengunjung sudah penuh sesak. Sekali lagi, harap kembali lagi,’’ kata Djamaludin Karim Wakil Komandan Satkorcab Banser Jombang yang mengatur di pintu masuk gerbang pondok pesantren.

Redaktur    : Hamzah Sahal

Kontributor : Muslimin Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal AlaNu, Kajian Sunnah, Olahraga RMI NU Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Pengembangan Ahlussunnah wal Jamaah di Lingkungan NU

Oleh KH Abdurrahman Wahid

Beberapa tahun terakhir ini kita saksikan pergulatan yang hebat di kalangan berbagai kelompok Islam di Tanah Air. Banyak muncul berbagai organisasi baru yang mengajukan klaim sebagai perwadahan organisasi kaum ulama Indonesia, baik yang berstatus swasta maupun setengah resmi. Ada yang didirikan khusus untuk menampung aspirasi kelompoknya saja, tetapi ada yang didirikan sebagai wadah dialog (musawarah) para ulama berbagai kelompok.

Di samping bertemunya segala macam ajaran dari berbagai kelompok di lingkungan perguruan-perguruan tinggi agama dan non-agama, organisasi-organisasi keulamaan itu akhirnya membawakan kebutuhan untuk melakukan perumusan kembali pengertian aqidah Ahlussunnah wal Jamaah di lingkungan Nahdlatul Ulama sendiri. Ini tercetus antara lain dalam bentuk membatasi pengertian ke-ahlussunnah-an hanya pada satu ajaran saja. Yaitu ajaran tauhid kedua imam Asy’ari dan Al-Maturidi saja. Asa yang selama ini menjadi dasar keputusan bersama (ijma’ = konsesus) tentang madzhab fiqh dan akhlaq al-tasawwuf diminta agar ditinjau kembali karena ada kemungkinan keduanya tidak termasuk asa ke-ahlussunnah-an.

Pengembangan Ahlussunnah wal Jamaah di Lingkungan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengembangan Ahlussunnah wal Jamaah di Lingkungan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengembangan Ahlussunnah wal Jamaah di Lingkungan NU

Kita dapat menghargai dan mengerti munculnya keinginan seperti itu yang didasarkan kepada niat baik untuk mencari pendekatan sejauh mungkin antara warga Nahdlatul Ulama dan warga organisasi-organisasi lain, sebagai reaksi atas perpecahan hebat yang terjadi dalam batang tubuh umat Islam sendiri selama ini. Kita dapat memahami munculnya gagasan islaf (meniru kaum salaf) hingga kepada masa sebelum perbentukan madzhab fiqh, sebagai ikhtiyar penghayatan kembali masa keemasan Khulafaur Rasyiddin. Kita dapat memahami peningkatan kecenderungan untuk istidlal langsung kepada nushush manqulah yang menjadi sumber utama hukum agama kita, dengan mengurangi pengambilan langsung dari aqwal fi qutubihim al-muqarrarah, demi tercapainya kesatuan dan persyatuan di kalangan umat Islam. Semuanya akan kita korbankan dan kita persembahkan kalau diperlukan untuk memelihara kesatuan dan persatuan itu.

Tetapi kenyataan yang ada tidaklah semudah impian di atas. Andai kita tinggalkan perumusan yang sudah ada tentang al-Usus al-tsalatsah fi I’tiqadi ahlissunnah wal Jamaah (bertauhid mengikuti Imam al-Asy’ari dan al-Maturidi, berfiqh mengikuti salah satu madzhab empat dan berakhlaq sesuai dengan perumusan Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam Abu Hamid al-Ghazali) dan kita ambil patokan paling sederhana seperti yang diusulkan di atas, dapat dipastikan persatuan dan kesatuan umat Islam tetap belum terwujud. Perpecahan hebat di lingkungan umat Islam diakibatkan oleh perbedaan besar dalam soal-soal luar aqidah, maka yang terjadi adalah perbedaan dalam penerapan aqidah itu sendiri dalam masalah-masalah nyata yang timbul dalam kehidupan. Kaum Ahlussunnah wal Jam’ah di lingkungan Nahdlatul Ulama menggunakan segala kelengkapan (alat) dan istimbath al-ahkam, termasuk usulul al-fiqh, qawaid al-fiqh, dan hikmat al-tasry’ dalam merumuskan keputusan hukum agama mereka, sedangkan orang lain hanya menggunakan istinbath dari (pengambilan lnagsung dari dalam naqli tanpa terlalu mementingkan penggunaan alat-alat tersebut di atas dalil naqli itu) dalam mengambil keputusan. Biar bagaimanapun juga, tiak akan ada kesepakatan cara (wasail, metode) di kalangan kaum muslimin, dan tetap akan ada perbedaan pendapat (ikhtilaf al-ara’) di antara mereka sebagai akibat sebagaimana diperkuat oleh kaidah ikhtilaf al-ummah rahmah.

Menciptakan Saling Penghargaan

Pemecahan persoalannya bukanlah dengan cara mempersatukan semua wasail yang berbeda-beda itu, melainkan menciptakan saling penghargaan di antara kelompok yang berlainan pandangan itu. Kesamaan sikap hidup dan pandangan umum tentang kehidupan adalah alat utama untuk menghilangkan perbedaan pendapat, atau setidak-tidaknya usaha menghindarkan perbedaan yang tajam. Sikap hidup dan pandangan umum tentang kehidupan yang bersamaan secara nisbi, dapat dikembangkan melalui penyusunan dasar-dasar umum penerapan aqidah masing-masing guna maslahah bersama. Kalau kita perbincangkan pengembangan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, maka caranya bukanlah dengan mengembangkan (perumusan kembali) aqidah yang sudah muttafaq ‘alaih semenjak berabad-abad, melainkan dengan mengembangkan dasar-dasar umum penerapan aqidah yang sudah diterima secara umum di lingkungan Nahdlatul Ulama itu. Biarkanlah al-usus al-tsalatsah yang sudah menjadi konsesus itu tetap pada keasliannya, sesuai dengan kaidah “al-ashlu baqau ma kana ala makana”. Yang terpenting adalah bagaimana merumuskan dasar-dasar umum penerapan ketiga usus itu dalam kehidupan nyata sekarang.

RMI NU Tegal

Dua Bentuk Kerja Utama

RMI NU Tegal

Pengembangan dasar-dasar umum penerapan aqidah yang sudah ada, tanpa mengubah aqidah itu sendiri, dapatlah dirumuskan sebagai upaya pengembangan ajaran (ta’lim) Ahlussunnah wal Jamaah. Pengembangan ajaran itu mengambil bentuk dua kerja utama berikut.

Pertama, pengenalan pertumbuhan kesejarahan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah yang meliputi pengkajian kembali sejarah pertumbuhan Ahlussunnah wal Jamaah dan dasar-dasar umum penerapannya di brbagai negara dan bangsa, semenjak masa lalu dan sekarang. Ini meliputi pengkajian wilayah (dirasat al-aqalim al-muslimah/area studies of Islamic people), dari Afrika Barat hingga ke Oceania dan Suriname. Kekhususan dasar umum masing-masing wilayah harus dipelajari secara teliti, untuk memungkinkan pengenalan mendalam dan terperinci atas praktik-praktik ke-ahlussunnah-an.

Kedua, perumusan dasar-dasar umum kehidupan bermasyarakat di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, meliputi bidang-bidang berikut;

1.? Pandangan tentang tempat manusia dalam kehidupan alam

2.? Pandangan tentang ilmu, teknologi, dan pengetahuan

3.? Pandangan ekonomis tentang pengaturan kehidupan masyarakat

4.? Pandangan tentang hubungan individu (syakhs) dan masyarakat (mujtama’)

5.? Pandangan tentang tradisi dan penyegarannya melalui kelembagaan hukum, pendidikan, politik dan budaya

6.? Pandangan tentang cara-cara pengembangan masyarakat, dan

7.? Asas-asa penerapan ajaran agama dalam kehidupan.

Secara terpadu, perumusan akan dasar-dasar umum kehidupan bermasyarakat itu akan membentuk perilaku kelompok dan perorangan yang terdiri dari sikap hidup, pandangan hiup, dan sistem nilai (manhaj al-qiyam al-mutsuliyyah) yang secara khusus akan memberikan kebulatan gambaran watak hidup Ahlussunnah wal Jamaah (syakhsyiyatu ma tamassaka bi aqidati Ahlissunnah wal Jamaah).

Kehidupan Masa Kini

Perumusan dasar-dasar umum kehidupan bermasyarakat yang dibagi dalam tujuh bidang di atas, akan dapat dilakukan dalam sebuah dialog terbuka di kalangan warga Nahdlatul Ulama, tidak hanya terbatas di lingkungan tertentu saja. Untuk memungkinkan pembicaraan terbuka yang eifisien, diperlukan sebuah kerangka umum pandangan Nahdlatul Ulama atas masalah-masalah kehidupan masa kini. Kerangka umum itu, menurut hemat penulis, haruslah memasukan unsur-unsur berikut.

Pertama, pandangan bahwa keseluruhan hidup ini adalah peribadatan (al-hayatu ‘ibadatun kulluha). Pandangan ini akan membuat manusia menyadari pentingnya arti kehidupan, kemuliaan kehidupan, karena itu hanya kepadanya lah diserahkan tugas kemakhlukan (al-wadhifat al-khalqiyyat) untuk mengabdi dan beribadat kepada Allah SWT. Demikian berharganya kehidupan, sehingga menjadi tugas umat manusia lah untuk memelihara kehidupan ini dengan sebaik-baiknya, termasuk memelihara kelestarian sumber-sumber alam, memelihara sesama manusia dari pemerasan oleh segolongan kecil yang berkuasa melalui cara-cara bertentangan dengan perikemanusiaan, meningkatkan kecerdasan bangsa guna memanfaatkan kehidupan secara lebih baik, dan seterusnya.

Kedua, kejujuran sikap hidup merupakan sendi kehidupan bermasyarakat sejahtera. Kejujuran sikap ini meliputi kemampuan melakukan pilihan antara berbagai hal yang sulit, guna kebahagiaan hidup masa depan; kemampuan memperlakukan orang lain seperti kita memperlakukan diri sendiri (sehingga tidak terjadi aturan permainan hidup bernegara yang hanya mampu menyalahkan orang lain dan menutup mata terhadap kesalahan sendiri); dan kemampuan mengakui hak mayoritas bangsa dan umat manusia untuk menentukan arah kehidupan bersama. Kejujuran sikap ini akan membuat manusia mampu memahami betapa terbatasnya kemampuan diri sendiri, dan betapa perlunya ia kepada orang lain, bahkan kepada orang yang berbeda pendirian sekalipun. Ini akan membawa kepada keadilan dalam perlakuan di muka hukum, penegakan demokrasi dalam arti yang sebenarnya, dan pemberian kesempatan yang sama untuk mengembangkan pendapat masing-masing dalam kehidupan bernegara.

Ketiga, moralitas (akhlaq) yang utuh dan bulat. Akhlaq yang seperti ini, yang sudah dikembangkan begitu lama oleh para ulama kita, tidak rela kalau kita hanya berbicara tentang pemberantasan korupsi sambil terus-menberus mengerjakannya; tidak dapat menerima ajakan hidup sederhana oleh mereka yang bergelimang dalam kemewahan tidak terbatas yang umumnya diperoleh dari usaha yang tidak halal; dan menolak penguasaan seluruh wilayah kehidupan ekonomi oleh hanya sekelompok kecil orang belaka.

Secara keseluruhan, kerangka umum di atas akan membawa Nahdlatul Ulama kepada penyusunan sebuah strategi perjuangan baru yang akan mampu memberikan jawaban kepada tantangan-tantangan yang dihadapi Nahdlatul Ulama sendiri dewasa ini dan di masa mendatang, strategi perjuangan itu, yang unsur-unsurnya sudah banyak dibicarakan dan dirumuskan dalam berbagai kesempatan oleh banyak kalangan Nahdlatul Ulama sendiri, perlu dirumuskan dan disusun, jika kita ingin melakukan perjuangan yang lebih terarah dengan cara yang lebih tepat.

Dua Sendi

Untuk keperluan penyusunan strategi perjuangan itu, di bawah ini akan dikemukakan kedua sendi yang tidak boleh tidak harus dimiliki.

Pertama, pendekatan yang akan diambil oleh strategi itu sendiri, yang seharusnya ditekankan pada penanganan masalah-masalah kongkret yang dihadapi oleh masyarakat melalui kerja-kerja nyata dalam sebuah proyek rintisan, baik di bidang pertanian, perburuhan, industri kecil, kesehatan masyarakat, pendidikan keterampilan, dan seterusnya.

Kedua, organisasi atau arah yang akan ditempuh oleh strategi itu sendiri, yang seyogianya dipusatkan pada pelayanan kepada kebutuhan pokok mayoritas bangsa, yaitu kaum miskin dan yang berpenghasilan rendah.

?

?

*) Tulisan ini pernah dimuat sebagai kata pengantar dalam buku “Ahlussunnah wal Jamaah: Sebuah Kritik Historis” karya ? KH Said Aqil Siroj (Jakarta: Pustaka Cendikia Muda, 2008).

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ahlussunnah, Kajian Sunnah RMI NU Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Ansor NTB Sosialisasikan Hasil Rakornas

Lombok, RMI NU Tegal. Ansor NTB sosialisasi hasil Rapat Koordinasi Nasional di Kantor Aula PWNU NTB usai sholat Magrib Berjamaah kepada cabang-cabang se-Lombok, Jumat malam (03/07)

"Sampai saat ini Ansor NTB masih dapat klaster 1," kata Suaeb Query, ketua PW Ansor NTB dihadapan cabang cabang se-Lombok yang hadir.

Ansor NTB Sosialisasikan Hasil Rakornas (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor NTB Sosialisasikan Hasil Rakornas (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor NTB Sosialisasikan Hasil Rakornas

Suaeb juga menyampaikan agenda Ansor saat ini adalah mengawal muktamar ke-33 NU berdasarkan hasil rakornas di Jakarta 13-14 Juni lalu.?

RMI NU Tegal

Disamping itu mantan PB PMII ini menambahkan bahwa sesungguhnya Ansor yang dinilai dan diberikan klaster 1 atau 2 dan seterusnya adalah cabang cabang dengan syarat memiliki pengurus Anak Cabang (PAC) tingkat kecamatan dan atau pernah melaksanakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) dan Diklatsar Banser.?

Pantaun RMI NU Tegal pada pertemuan ini, cabang-cabang yang hadir diberikan waktu oleh M. Akri, sekretaris Ansor NTB selaku pemandu jalannya acara pertemuan ini untuk menyampaikan tanggapan dan pikiran-pikarannya dalam pertemuan ini. (Hadi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal News, Jadwal Kajian, Kajian Sunnah RMI NU Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Safari ‘Berlari’ PC IPNU-IPPNU Nganjuk

Nganjuk, RMI NU Tegal. Spirit untuk menggenjot program dan kaderisasi di PC IPNU-IPPNU Nganjuk bukan isapan jempol belaka. Setelah pelantikan bulan Maret lalu, di awal April ini, pengurus IPNU-IPPNU Nganjuk “berlarian” untuk merealisasikan hasil rapat kerja dan mengawal kegiatan-kegiatan di tingkat bawahnya. Sebut saja dalam sehari, bisa jadi pengurus IPNU-IPPNU Nganjuk mengendarai roda duanya dari ujung utara menuju ujung selatan.?

Ahad pagi awal bulan April ini misalnya, pagi hari pengurus IPNU-IPPNU Nganjuk menghadiri istighotsah pelajar menghadapi UN di PAC Jatikalen (ujung utara), agak panas mereka bergeser ke PAC Kertosono untuk menghadiri peringatan harlah IPNU-IPPNU di Masjid Ar-Roudloh. Belum selesai, selepas dzuhur mereka bergeser ke PAC Prambon (Selatan) untuk menghadiri Konferensi Anak Cabang IPNU-IPPNU Prambon di Kantor MWC NU Prambon, di samping beberapa pengurus PC yang telah “dipatok” untuk mengawal konferancab dua tahunan tersebut. Malamnya pun masih menyempatkan untuk menghadiri acara dari kakak-kakak GP Ansor di luar kota.

Safari ‘Berlari’ PC IPNU-IPPNU Nganjuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Safari ‘Berlari’ PC IPNU-IPPNU Nganjuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Safari ‘Berlari’ PC IPNU-IPPNU Nganjuk

Spirit untuk memperbaiki keadaan dan membawa perubahan lebih baik ternyata bukan hanya orasi yang disampaikan ketika terpilih dan terlantik. Banyak agenda yang telah dikerjakan dalam masa jabatan yang belum genap seumur jagung. Penghidupan dan pengukuhan kembali PAC-PAC yang vakum terus digenjot, sebut saja PAC Loceret dan PAC Jatikalen. Invasi ke sekolah-sekolah untuk mendirikan komisariat-komisariat juga digalakkan habis-habisan.

“Sudah ada beberapa sekolah maupun madrasah yang menghubungi kami, ada juga sekolah dan madrasah yang kami sowani untuk pendirian komisariat IPNU-IPPNU. Berbagai pihak juga digandeng untuk mewujudkan mimpi besar tersebut, di antaranya LP Maarif NU,” ungkap Wahid yang juga mahasiswa IAI Tribakti Kediri.

RMI NU Tegal

Sosialisasi PD/PRT serta POA IPNU-IPPNU juga mulai dilaksanakan di PAC-PAC, mulainya dari PAC Baron. Tidak kalah kencangnya, bidang kaderisasi melaksanakan pemantapan pelatih Makesta-Lakmud bertempat di PAC Gondang, dikandung maksud, agar kebutuhan pelatihan dari “rencana besar” Komisariat-PAC-Ranting dapat didukung oleh tenaga yang profesional dan handal.

Tidak mau kalah, lembaga semi otonom CBP-KPP yang telah mulai “kerja, kerja, kerja”nya dengan makrab (malam keakraban) serta bakti sosial di Wilangan. Segera setelah ini, bekerja sama dengan lembaga pers akan melaksanakan diklat jurnalistik media daring.?

“Sirnalah gelap, terbitlah terang. Ini adalah masa kebangkitan dan perbaikan menyeluruh untuk PC IPNU-IPPNU Nganjuk. Semua juga tahu bahwa ujung tombak penanaman ideologi dan nasionalisme ada di masa pelajar, jadi IPNU-IPPNU Nganjuk harus menjadi garda awal Aswaja dan NKRI” tegas salah satu pembina PC IPNU Nganjuk yang jua alumni STAI Miftahul Ula Kertosono. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Jadwal Kajian, Kajian Sunnah RMI NU Tegal

Rabu, 25 Oktober 2017

Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah

Khutbah I

Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?.

RMI NU Tegal

Waktu mengalir terus. Dan “tanpa terasa” kita sampai kepada pergantian tahun hijriah untuk kesekian kalinya. Detik menuju menit, jam, hari, bulan, hingga tahun senantiasa bergerak maju yang berarti semakin bertambah pula usia manusia. Yang perlu menjadi catatan adalah: apakah bertambah pula keberkahan usia kita? Ini pertanyaan singkat dan hanya bisa dijawab dengan merefleksikan secara panjang-lebar jejak perjalan hidup kita yang sudah lewat.

Tahun baru hijriah yang kita peringati setiap tahun terkandung sejarah dan nilai-nilai yang terus relevan hingga kini. Nabi sendiri tak pernah menetapkan kapan tahun baru Islam dimulai. Begitu pula tidak dilakukan oleh khalifah pertama, Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq. Awal penanggalan itu resmi diputuskan pada era khalifah kedua, Sayyidina Umar bin Khathab, sahabat Nabi yang terkenal membuat banyak gebrakan selama memimpin umat Islam.

RMI NU Tegal

Keputusan itu diambil melalui jalan musyawarah. Semula muncul beberapa usulan, di antaranya bahwa tahun Islam dihitung mulai dari masa kelahiran Nabi Muhammad. Ini adalah usulan yang cukup rasional. Rasulullah adalah manusia luar biasa yang melakukan revolusi ke arah peradaban yang lebih baik masyarakat Arab waktu itu. Karena itu kelahiran beliau adalah monumen bagi kelahiran perdaban itu sendiri. Tahun baru Masehi pun dimulai dari masa kelahiran figur yang diyakini membawa perubahan besar, yakni Isa al-Masih.

Yang menarik, Umar bin Khatab menolak usulan ini. Singkat cerita, forum musyawarah menyepakati momen hijrah Nabi dari Makkah menuju Madinah sebagai awal penghitungan kalender Islam atau kalender qamariyah yang merujuk pada perputaran bulan (bukan matahari). Karenanya kelak dikenal dengan tahun hijriah yang berasal dari kata hijrah (migrasi, pindah).

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah,

Memilih momen hijrah daripada momen kelahiran Nabi yang dilakukan Umar dan para sahabat lainnya mengandung makna yang sangat dalam. Kelahiran yang dialami manusia adalah peristiwa alamiah yang tak bisa ditolaknya. Nabi Muhammad pun saat lahir tak serta merta diangkat menjadi nabi kecuali setelah berusia 40 tahun. Beliau kala itu hanyalah bayi putra Abdullah bin Abdul Muthalib. Hal ini berbeda dari hijrah yang mengandung tekad, semangat perjuangan, perencanaan, dan kerja keras ke arah tujuan yang jelas: terealisasinya nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan dalam Islam (rahmatan lil ‘alamin).

Nabi memutuskan hijrah setelah melalui proses panjang selama 13 tahun di Makkah dengan berbagai tantangan dan jerih payahnya. Mula-mula beliau berdakwah secara tersembunyi, dimulai dari keluarga, orang-orang terdekat, dan pelan-pelan lalu kepada masyarakat luas secara terbuka. Selama itu, Rasulullah mendapat cukup banyak rintangan, mulai dari dicaci-maki, dilempar kotoran unta, kekerasan fisik, hingga percobaan pembunuhan. Semua dilalui dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan. Modal utama hingga hingga beliau berhasil menyadarkan sejumlah orang adalah akhlak mulia.

Rasulullah tampil sebagai agen perubahan di tengah masyarakat Arab yang begitu bejat. Asas tauhid melenceng jauh karena menganggap berhala sebagai Tuhan. Nilai-nilai kemanusiaan juga nyaris tak ada lantaran masih maraknya perbudakan, fanatisme suku, harta riba, penguburan hidup-hidup bayi perempuan, dan lain-lain. Rasulullah yang hendak mengubah cara pandang dan perilaku masyarakat jahiliyah mesti berhadapan para pembesar suku yang iri dan tamak kekuasaan, termasuk dari paman beliau sendiri, Abu Jahal dan Abu Lahab. Pengikut Islam bertambah, dan secara bersamaan bertambah pula tekanan dari musyrikin Quraisy. Hingga akhirnya atas perintah Allah, Nabi Muhammad bersama para sahabatnya berhijrah dari Makkah ke kota Yatsrib yang kelak dikenal dengan sebutan Madinah.

Perjalanan hijrah dilakukan di malam hari dengan cara sembunyi-sembunyi dan penuh kecemasan, menghindari kejaran kaum musyrikin Quraisy. Beruntung kala di kota Yatsrib, Rasulllah bersama sahabat-sahabatnya disambut positif penduduk setempat. Sebagian dari mereka mengenal Islam dan bahkan sudah beraiat kepada Nabi saat di Makkah. Di sinilah Nabi membangun peradaban Islam yang kokoh. Jumlah penganut semakin banyak, semangat persaudaraan antara Muhajirin dan Ansor dipupuk, dan kesepakatan-kesepakatan dengan kelompok di luar Islam diciptakan, demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang damai.

Mula-mula yang dilakukan Nabi setelah hijrah adalah mengubah nama dari Yatsrib menjadi Madinah. Mengapa Madinah (yang sekarang dimaknai sebagai “kota”)? Secara bahasa madînah berarti tempat peradaban. Perubahan nama ini memberi pesan tentang pergeseran pola perjuangan Nabi yang semula di Makkah banyak dipusatkan pada penyadaran pribadi-pribadi, menuju dakwah dalam konteks sosial yang terorganisisasi dalam negara Madinah. Di sini konstitusi (mitsaq al-madinah atau Piagam Madinah) dibangun, struktur pemerintahan disusun, dan aturan-aturan Islam seputar muamalah (hubungan antarsesama) banyak dikeluarkan di sana. Tentang Piagam Madinah, Nabi menjadikannya sebagai titik temu dari masyarakat Madinah yang plural saat itu, yang meliputi orang Muslim, orang Yahudi, suku-suku di Madinah, dan lain-lain. Demikianlah hijrah Nabi yang monumental itu seperti mendapatkan momentum puncaknya, yakni terwujudnya masyarakat yang beradab.

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah,

Setidaknya ada dua poin yang perlu digarisbawahi dari ulasan tersebut. Pertama, tahun baru hijriah harus dimaknai dalam kerangka perjuangan Nabi dalam merealisasikan nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan dalam Islam (rahmatan lil ‘alamin). Nabi sebagai sosok—termasuk momen kelahirannya—memang layak dihormati, tapi ada yang lebih penting lagi yakni spirit dan prestasi beliau sepanjang periode risalah. Dalam perjuangan itu ada ikhtiar, pengorbanan, keteguhan prinsip, keseriusan, kesabaran, dan keikhlasan. Yang terakhir ini menjadi sangat penting karena Rasulullah bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”

Nabi dan para sahabatnya menunjukkan ketulusan yang luar biasa semata hanya untuk jalan Allah. Namun justru karena niat seperti inilah mereka mendapatkan banyak hal, termasuk persaudaraan, keluarga baru, hingga kekayaan dan kesejahteraan selama di Madinah. Keikhlasan dan kerja kerasa dalam membangun masyarakat berketuhanan sekaligus berkeadaban berbuah manis meskipun tantangan akan selalu ada. Inilah teladan yang berikan Nabi dari hasil berhijrah.

Poin kedua adalah kenyataan bahwa Nabi tidak membangun negara berdasarkan fanatisme kelompok atau suku. Rasulullah menginisasi terciptanya kesepakatan bersama kepada seluruh penduduk Yatsrib untuk kepentingan jaminan kebasan beragama, keamanan, penegakan akhlak mulia, dan persaudaraan antaranggota masyarakat. Tujuan dari kesepakatan tersebut masih relevan kita terapkan hingga sekarang. Inilah hijrah yang tak hanya bermakna secara harfiah “pindah tempat”, melainkan juga pindah orientasi: dari yang buruk menjadi yang baik, dari yang baik menjadi lebih baik. Dan Rasulullah meneladankan, perubahan tersebut tak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk masyarakat secara kolektif.Semoga pergantian tahun hijriah membawa keberkahan bagi umur kita dengan belajar dari peristiwa hijrah Rasulullah yang monumental lengkap dengan nilai-nilai positif di dalamnya. Wallahu a’lam.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Alif Budi Luhur
Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Hadits, Kajian Sunnah, Cerita RMI NU Tegal

Minggu, 17 September 2017

PBNU Apresiasi Kinerja LAZISNU

Jakarta, RMI NU Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan apresiasinya terhadap kinerja Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah (LAZIS NU) yang dari tahun ke tahun terus menunjukkan perbaikan.

“Semoga di tahun depan kinerjanya semakin baik,” katanya dalam sambutan pada pembagian bingkisan dari Lazis NU yang diserahkan kepada jamaah di masjid gedung PBNU.

PBNU Apresiasi Kinerja LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Apresiasi Kinerja LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Apresiasi Kinerja LAZISNU

Warga sekitar gedung PBNU yang rutin mengikuti sholat tarawih yang dikelola oleh Lembaga Dakwah NU ini mendapatkan bingkisan yang berisi beras, minyak goreng, sarung, sajadah dan gula.

RMI NU Tegal

Dalam pesannya, KH Said Aqil meminta agar jamaah yang menerima zakat dari Lazis NU bisa menjadi manusia yang mandiri, sabar, tawakkal, kuat dan tegar. Puasa menjadikan badan secara fisik lemah, tetapi menumbuhkan kekuatan mental.

“Moga-moga Bapak Ibu yang menerima zakat tahun depan sudah bisa memberikan zakat, bukan menerima,” katanya yang disambut dengan bacaan amiin secara serentak oleh jamaah.

RMI NU Tegal

Kepada mereka, Kiai Said juga meminta agar mendoakan pengurus NU agar dapat menjalankan amanah organisasi secara baik. Keberadaan NU sebagai organisasi yang moderat penting untuk menjaga keutuhan Indonesia. 

“Kalau tidak ada NU, Islam Indonesia akan dikuasai oleh kelompok radikal dan liberal,” tandasnya.

KH Masyhuri Malik, ketua Lazis NU menjelaskan, dalam bulan Agustus ini, pihaknya telah mendistribusikan zakat dan infak senilai 3 milyar. 1 milyar berupa 10.000 paket sembako yang didistibusikan ke PWNU dan PCNU se-Jawa. Selain itu diterima amanah untuk membagikan 4 ton kurma dan 4 ribu dus susu. Dalam waktu dekat, juga dibagikan modal kerja senilai 1 Milyar kepada 100 pengusaha mikro.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pahlawan, Warta, Kajian Sunnah RMI NU Tegal

Minggu, 03 September 2017

Kontingen Tubaba Siap Tarung Porsadin III Provinsi Lampung

Tubaba, RMI NU Tegal

Kontingen Tulang Bawang Barat siap mengikuti pertandingan pada Pekan Olahraga dan Seni Santri Diniyah (Porsadin) tingkat Provinsi Lampung yang akan digelar pada tanggal 21 Oktober 2017 di Bandarlampung.

Kontingen Tubaba Siap Tarung Porsadin III Provinsi Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontingen Tubaba Siap Tarung Porsadin III Provinsi Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Kontingen Tubaba Siap Tarung Porsadin III Provinsi Lampung

Hal ini diungkapkan Ketua FKDT Tulang Bawang Barat Abdullah Nasir, saat pelepasan kontingen Porsadi III Tingkat Provinsi Lampung di komplek Islamic Centre Panaragan Jaya, Jumat (20/10).

Hadir dalam pelepasan tersebut Kepala Kemenag Tubaba yang diwakili Kasi Pendis Nuning Hermiyati, Ketua FKDT Tubaba Abdullah Nasir, Konsultan Hukum FKDT Sodri Helmi, para kontingen, dan tokoh agama setempat.

Kasi Pendis Kemenag Tubaba Nuning Hermiyati berharap para kontingen berangkat dengan semangat sebagai duta kemenag Tubaba dapat membawa kemenangan dan nama harum daerah.

"Semoga bisa menghasilkan prestasi yang membanggakan. Kalian adalah duta Kemenag dan Pemda Tubaba. Jaga nama baik Kabupaten Tubaba. Kendalikan emosi, jangan sampai berantem saat bertanding," ujarnya.

RMI NU Tegal

Harapan ini digambarkan disetiap perlombaan maupun jenis pertandingan yang diikuti peserta dari Tubaba maka daerah lain sudah mengenal kemampuan santri-santri dari bumi ragem sai mangi wawai. 

Ia menambahkan, kegiatan Porsadin tersebut adalah ajang silaturahmi untuk mempertemukan antara santri-santri seluruh Provinsi Lampung agar saling mengenal, karena santri-santri tersebut sebagai generasi penerus yang harus memiliki integritas dan memiliki keahlian dan ketrampilan supaya kelak menjadi pemuda harapan bangsa bukan saja ilmunya yang lebih banyak tetapi juga harus memiliki kemampuan fisik yang handal. (Gati Susanto/Kendi Setiawan).

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Kajian Sunnah, Ulama, Bahtsul Masail RMI NU Tegal

Rabu, 30 Agustus 2017

Selamat Datang Bulan Syaban 1437 H!

Jakarta, RMI NU Tegal

Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengeluarkan ikhbar bahwa 1 Syaban 1437 H jatuh pada 8 Mei 2016. Ketetapan ini berdasarkan hasil observasi tim rukyat Lembaga Falakiyah NU yang berhasil melihat hilal dari sejumlah daerah, Sabtu (7/5) petang.

Selamat Datang Bulan Syaban 1437 H! (Sumber Gambar : Nu Online)
Selamat Datang Bulan Syaban 1437 H! (Sumber Gambar : Nu Online)

Selamat Datang Bulan Syaban 1437 H!

Bulan sabit tanda awal bulan di antaranya berhasil dilihat di Bukit Condrodipo, Gresik, Jawa Timur oleh Ustadz Muchyiddin Hasan (36) dan Sholahuddin (48) dari LFNU Kabupaten Gresik pada pukul 17:39 WIB dengan ketinggian 4 derajat 02 16"; Syamsul Maarif (34) dari LFNU Kabupaten Mojokerto pada pukul 17:45 WIB dengan irtifa 2 derajat 42 18"; dan Syamsul Fuad (47) pada pkul 17:46 WIB. Hilal juga terlihat di Pelabuhan Ratu Sukabumi, Jawa Barat. Saksinya adalah KH M Yahya dari Sukabumi pada pukul 17:48 WIB di ketinggian 748.

Ketua Lembaga Falakiyah PBNU KH A Ghazalie Masroeri mengucapkan terima kasih kepada Nahdliyin dari berbagai daerah dalam pelaksanaan rukyat kali ini. Atas hasil pantauan hilal tersebut, Ahad ini, atau persisnya sejak malam Ahad, Syaban sudah mulai menapaki hari pertama.

RMI NU Tegal

Syaban merupakan bulan kedelapan dalam kalender hijriah. Sya’ban berasal dari kata syiab yang artinya jalan di atas gunung. Bulan ini menjadi jalan umat Islam untuk kian mempersiapkan diri menghadapi bulan paling istimewa sesudahnya, yakni Ramadlan. Marhaban ya syahra Syabana. Selamat datang, wahai bulan Syaban! (Mahbib)

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pondok Pesantren, Nusantara, Kajian Sunnah RMI NU Tegal

Minggu, 23 April 2017

NahNu Harapkan Nahdliyin Dapat Akses Investasi Keuangan

Jakarta, RMI NU Tegal. Seminar nasional hasil kerjasama Nahdliyin Nusantara (NahNu) dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan memberi ruang seluas-luasnya bagi warga NU untuk mendapatkan akses investasi keuangan.

Ketua Umum NahNu Miftahul Aziz mengatakan hal tersebut kepada RMI NU Tegal di sela-sela seminar yang dihelat di lantai 8 gedung PBNU Jl Kramat Raya No 164 Jakarta Pusat, Selasa (30/9) siang. Seminar mengusung tema “Combined Assurance pada Industri Jasa Keuangan: Upaya mewujudkan Industri Jasa Keuangan yang Sehat dan Stabil”.

NahNu Harapkan Nahdliyin Dapat Akses Investasi Keuangan (Sumber Gambar : Nu Online)
NahNu Harapkan Nahdliyin Dapat Akses Investasi Keuangan (Sumber Gambar : Nu Online)

NahNu Harapkan Nahdliyin Dapat Akses Investasi Keuangan

Menurut Aziz, masyarakat harus mengerti bahwa hari ini industri keuangan sedang melakukan berbagai pembenahan. Dalam hal ini, OJK yang memiliki hak atau fungsi pengaturan dan pengawasan industri keuangan membuat satu desain insurance yang terintegrasi. Desain itu nantinya diberlakukan pada industri keuangan.

RMI NU Tegal

“Itu penting karena pascakrisis 1998 isu tentang stabilitas sistem keuangan yang bisa tercipta ketika jasa keuangan kita sehat maka dibutuhkan satu insurance yang berbeda dengan asuransi pada umumnya. Ini adalah jaminan adanya manajemen resiko yang baik, ada good goverment yang baik, serta tata kelola keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.

RMI NU Tegal

Sehingga, lanjut dia, program memperluas akses investasi untuk masyarakat agar mereka memiliki akses kepada industri keuangan bisa berhasil karena mereka merasa nyaman.

Nahdliyin sebagai penduduk mayoritas di republik ini, bagi Aziz, sangat diuntungkan adanya jasa keuangan yang sehat ini. “Jika otoritas keuangan ini sehat, negara ini sehat, maka manfaat yang paling besar tentu didapat warga Nahdliyin. Sebaliknya, kalau buruk maka yang dirugikan adalah Nahdliyin juga,” tegasnya. (musthofa asrori/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kajian Sunnah RMI NU Tegal

Minggu, 08 Januari 2017

LPBINU Jepara Latih Kader Susun Kajian Risiko Bencana

Jepara, RMI NU Tegal - Sebagai tindak lanjut dari Program Penguatan Kapasitas Pemerintah dan Masyarakat Lokal dalam Kesiapsiagaan untuk Respons Bencana yang Cepat dan Efektif, Pengurus Cabang Lembaga Penanggulangan Bencana dan Peribahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Kabupaten Jepara menggelar Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana, Selasa-Jumat (21–24/02).

Dalam acara yang berlangsung di gedung BBPBAP Jepara ini,? Rurit Rudianto, Deputi Program Manajer Pengurus Pusat LPBINU menyatakan, kajian risiko merupakan landasan awal kebijakan bencana di daerah.

LPBINU Jepara Latih Kader Susun Kajian Risiko Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Jepara Latih Kader Susun Kajian Risiko Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Jepara Latih Kader Susun Kajian Risiko Bencana

Jika kajian tidak tepat maka, kata dia, kebijakan menjadi amburadul. Dari pelatihan ini peserta diharapkan mampu menyusun kajian risiko dan peta risiko bencana.

RMI NU Tegal

Kepala BPPD Jepara Lulus Suprayitno mengungkapkan, bencana harus ditangani bersama-sama. Menurutnya, pelatihan tersebut jarang diperoleh oleh relawan Organisasi Pemerintah Daerah (OPD).

“Karena pemerintah tidak mampu mengadakan kegiatan ini, kami hanya berterima kasih kepada LPBI karena sudah ditulungi. Hanya ilmu warisan yang tidak bakal hilang,” sebutnya.

RMI NU Tegal

Dengan pelatihan, Lulus berharap ada 1 kajian data yang diolah menjadi dokumen. Kemudian dokumen diusulkan acuan rujukan Penyusunan Rencana Daerah (PRD) dan menjadi rencana aksi.

Ahmad Kholil, Wakil Ketua PCNU Jepara menyebut LPBINU Jepara salah satu lembaga kebanggaan PCNU. Karena hampir setahunan ini bekerja sama dengan PP LPBINU dengan dukungan dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia.

“Harapan kami kegiatan ini menjadi upaya untuk meningkatkan kapasitas menanggulangi kebencanaan,” harap Kholil.

Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana ini dipandu oleh Humanitarian Open Street Map Team (HOT) dan membahas beberapa materi antara lain; Open Street Map, Java Open Street Map, Pengenalan GPS, OSM Trackers, Field Papers, Survery Lapang dan Mapathon.

Pelatihan ini diikuti oleh 22 orang peserta yang merupakan perwakilan dari BPBD, LPBI NU, Pramuka, PMI, perguruan tinggi yang berasal dari Jepara dan Kudus. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pertandingan, News, Kajian Sunnah RMI NU Tegal

Minggu, 20 Desember 2015

Figur Harapan Pemimipin PCNU Jombang

Jombang, RMI NU Tegal. Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH Isrofil Amar menyebutkan tentang figur terbaik terkait pemimpin PCNU setempat yang hendak menggantikan dirinya pada konferensi cabang (Konfercab) tahun 2017 mendatang.

Figur Harapan Pemimipin PCNU Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Figur Harapan Pemimipin PCNU Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Figur Harapan Pemimipin PCNU Jombang

"Tentang figur yang layak sebagai Ketua Tanfidziyah, pertama adalah orang yang berpengalaman dalam organisasi," katanya kepada RMI NU Tegal, Kamis (22/9/2016). Pengalaman tersebut dapat dilihat pada keaktifan pengurus dalam pengabdiannya kepada NU sebelumnya. "Makanya nanti ada syarat harus kader yang dipilih," imbuhnya.

Yang kedua, lanjut Kiai Isrofil, adalah memiliki jiwa kemasyarakatan yang baik. Seorang ketua dituntut untuk bisa bersikap santun, ramah serta bisa menyesuaikan dengan sejumlah situasi yang terjadi di masyarakat "Artinya figur yang bisa bergaul kemana-kemana," kata salah satu dosen di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Peterongan Jombang itu.

Yang ketiga, jelas dia, adalah kader yang mencintai NU. Kepentingan pemimpin di organisasi Islam terbesar itu hanya semata-mata untuk menjaga keutuhan NU serta melanjutkan perjuangan muassis (pendiri). Hal ini dapat dilihat dalam visi misai dan tujuan secara umum NU didirikan, yakni berjuang untuk agama, bangsa (masyarakat) dan negara.

RMI NU Tegal

"Di NU tidak memiliki tendensi apa-apa, hanya karena cinta kepada NU. Jangan sampai memilih orang yang tendesius, ingin jadi Pengurus NU agar menjadi tenar, agar terkenal atau sebagai tambahan penghasilan," ungkapnya. Kiai Isrofil tak menafikan jika ada calon yang memiliki tujuan demikian. "Nanti kita bisa lihat sendiri," jelasnya

Yang keempat, katanya, adalah orang yang memiliki jiwa peduli kepada pengurus dan organisasinya. Menjadi pemimpin sudah seharusnya memperhatikan keberadaan organisasinya, juga beruapaya membuat ? NU menjadi semakin besar. "Misalnya ada rapat atau kegiatan selalu menyempatkan. Kalau bahasn jawanya kober," ? pungkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal News, Kajian Sunnah RMI NU Tegal

Minggu, 06 Desember 2015

Kartanu di Jombang Kota Sukses Besar

Jombang, RMI NU Tegal. Pelaksanaan Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) di Jombang cukup menggembirakan. Bahkan untuk wilayah kota, optimis bisa melampaui target yang ditetapkan.

Hal ini seperti hasil dari rapat evaluasi Kartanu PCNU dengan MWC NU se-Jombang, Kamis (28/3), di Aula Kantor PCNU Jombang. Bahkan strategi dan kiat khusus dari MWC NU Jombang dalam menjalankan program ini menginspirasi semua MWC NU untuk mencontoh agar bisa sukses .

Kartanu di Jombang Kota Sukses Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kartanu di Jombang Kota Sukses Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kartanu di Jombang Kota Sukses Besar

Panitia Kartanu sempat dibuat khawatir terhadap upaya sebagian pihak yang ingin menggagalkan program ini. Afandi, sekretaris Panitia tidak habis mengerti dengan beredarnya informasi tersebut di salah satu harian di Jombang. “Ini harus diklarifikasi,” katanya kepada RMI NU Tegal.

RMI NU Tegal

Dalam perjalanan Kartanu yang sudah memasuki empat MWC, memang untuk Jombang kota ada peningkatan yang membanggakan.?

RMI NU Tegal

“Beberapa kali pemotretan diselenggarakan di banyak tempat,” katanya. Dan pesertanya juga lumayan besar.?

Bagi Afandi, hal ini tidak lain lantaran para pimpinan MWC NU Jombang cukup antusias. Ia mencatat, hampir di semua lokasi pemotretan, Ketua MWC NU dan sekretaris melakukan pemantauan.?

“Mereka selalu datang di lokasi pembuatan Kartanu,” kata alumnus Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum ini. Hal ini sangat berbeda dengan MWC NU yang lain.?

Karena itu, seperti dinyatakan sebelumnya bahwa kunci sukses Kartanu adalah pada antusias para pengurus untuk meyakinkan warga.?

“Apalagi khusus di Jombang, ada sejumlah rumah sakit yang bekerjasama untuk memberikan keringanan biaya kepada mereka yang memiliki kartu identitas ini,” terangnya.?

Hingga kini, jumlah warga yang memiliki Kartanu di MWC NU Jombang mencapai sebelas ribu. Dan sosialisasi untuk suksesnya kegiatan masih terus berlangsung.?

Tak heran kalau Ketua PCNU Jombang, KH Isrofil Amar memberikan perhatian khusus dan meminta kepada semua MWC NU se-Jombang yang sudah dan belum untuk mengikuti cara yang sama dari MWC NU Jombang. Kiai Isrofil mengingatkan bahwa PCNU Jombang berkewajiban mensukseskan program ini. Karena NU didirikan para masyayikh dari Jombang.?

“Maka, Kartanu di Jombang harus menjadi contoh bagi Jawa Timur,” katanya. “Dan target kita adalah mencapai angkan 400 hingga 500 ribu,” lanjutnya.

Bagi Afandi, angka tersebut memang cukup besar. “Tapi kalau pengurus bisa bergerak dan meyakinkan warga, kita sebagai panitia optimis angka lima ratus ribu dapat terlampaui,” katanya. Keberadaan panitia hanya menfasilitasi kegiatan Kartanu.?

“Yang menjadi ujung tombak adalah para pengurus, khususnya pimpinan ranting,” pungkasnya.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kajian Sunnah, Anti Hoax RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock