Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Januari 2018

Isi Rakernas IPNU, Sekjen PBNU Ajak Kader Giatkan Keterampilan Menulis

Jakarta, RMI NU Tegal. Sebelum Rakernas berlangsung hari ini, rekan-rekan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) menggelar kegiatan bertajuk Meet Up Alumni dan Kader; Gala Dinner dan IPNU Essay Award, Kamis (8/12).

Kegiatan yang dihadiri Sekjen PBNU Helmy Faisal Zaeni dan Sa’dullah Affandi itu berlangsung di hotel Paragon, Jl. KH. Wahid Hasyim No 29, Menteng, Jakarta Pusat dengan membawakan materi jurnalistik.

Isi Rakernas IPNU, Sekjen PBNU Ajak Kader Giatkan Keterampilan Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Isi Rakernas IPNU, Sekjen PBNU Ajak Kader Giatkan Keterampilan Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Isi Rakernas IPNU, Sekjen PBNU Ajak Kader Giatkan Keterampilan Menulis

Dalam sambutannya, Helmy Faisal mengajak rekan-rekan IPNU untuk menggeliatkan kepenulisan. Pernah satu ketika dia melihat catatan ayahnya tentang pesantren Buntet. Dia mengatakan pada ayahnya bahwa itu barang yang sangat berharga.

“Di lemari rumah ada stensilan tentang kajian pesantren. Ini adalah hal tak ternilai,” ujarnya pada sang ayah.

RMI NU Tegal

Dalam acara tersebut, Sa’dullah Affandi berkesempatan mengomentari ide-ide brilian dari para juara lomba esai yang digelar PP IPNU. Ia mengingatkan para kader NU yang hadir saat itu untuk memperhatikan teknik penulisan yang baik.?

Pengutipan pendapat seseorang juga harus hati-hati dilakukan mengingat kesalahan sedikit bisa berakibat fatal, yakni plagiasi.

RMI NU Tegal

Acara tersebut juga menjadi momen bahagia bagi lima pelajar yang terpilih sebagai juara lomba esai. Berikut nama-nama pemenang lomba esai PP IPNU:

1. Nahda Ellen (MAN 1 Kota Magelang)

2. Denny Taruma Primananda (SMA 1 Pundung, Bantul)

3. Fidelia Febi Valentika (SMA 1 Ungaran, Semarang)

4. Slamet Daroini (SMK Al-Hikam, Madiun)

5. Tristina Rohimatul Wahidah

(Syakir/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal PonPes, Tegal RMI NU Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Akan Adopsi Pendidikan Pesantren

Purwakarta, RMI NU Tegal. Kasus yang menimpa Nurmayani, guru bidang studi biologi SMP Negeri 1 Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang mencubit anak polisi kemudian berakhir di sel penjara jadi perhatian publik, termasuk Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.?

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Akan Adopsi Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Akan Adopsi Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Akan Adopsi Pendidikan Pesantren

Dedi menilai, sistem pendidikan di Indonesia saat ini lebih menekankan pada aspek transformasi ilmu pengetahuan, dan justru mengabaikan etika serta karakter peserta didik. Seharusnya, lanjut Dedi, sistem pendidikan nasional mengadopsi sistem pendidikan pesantren yang terbukti sukses menanamkan budi pekerti kepada para santri dengan cara menerapkan metode aplikatif pembelajaran karakter, bukan sekadar transformasi ilmu pengetahuan.

RMI NU Tegal

"Sering kan, kita menyalahkan peserta didik yang tidak bisa diatur. Problemnya berarti mentalitas dan karakter. Maka pola pendidikan yang diterapkan harus berbasis karakter budi pekerti, tidak lagi melulu transformasi ilmu. Zaman dahulu kalau keras kepada anak didik tidak akan menjadi masalah. Lah, hari ini urusannya bisa penjara," kata Dedi saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (25/5).

RMI NU Tegal

Menurut Dedi, saat karakter menjadi acuan pembelajaran, semua mata pelajaran di sekolah harus mengacu pada variabel budi pekerti. Peserta didik yang memiliki budi pekerti yang buruk, kata dia, sudah seharusnya tidak naik kelas. Hukuman tidak naik kelas ini pun harus dilakukan secara sistematis.

"Misalnya setiap mata pelajaran nilai peserta didik dikurangi 2. Taruhlah dia dapat nilai Matematika 7. Nah, karena budi pekertinya jelek, di rapor harus ditulis 5," ujar Bupati yang dikenal sering menulis lagu bertema spiritual ini.

Dedi menekankan pola penilaian baru ini harus dilaksanakan secara konsisten di semua sekolah di Kabupaten Purwakarta. Tidak dibenarkan suatu saat ada protes dari orang tua siswa yang tidak terima nilai anaknya dikurangi.

"Kalau masuk pesantren, kan, biasanya ditanya dulu kesanggupan mengikuti peraturan atau tidak. Maka saat masuk sekolah di Purwakarta semua pihak harus ditanya kesanggupan menerima pola baru ini," kata Dedi. (Anif/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pertandingan, Tegal RMI NU Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Warga NU Jangan Mudah Terpancing Isu Miring

Probolinggo, RMI NU Tegal. Warga NU jangan mudah terpancing oleh isu-isu miring yang berkembang di media sosial (medsos). Setiap informasi harus dikaji dan dicari sumber asalnya agar tidak salah dalam menyimpulkan. Dengan berhati-hati, diharapkan warga NU bisa kuat sebagaimana warga yang lain yang ada di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi Saifullah ketika menghadiri Daurah Kader Aswaja yang digelar MWCNU Kecamatan Wonomerto bekerja sama dengan Pengurus Cabang Aswaja NU Center (Asnuter) Kabupaten Probolinggo, Rabu (29/12) malam.

Warga NU Jangan Mudah Terpancing Isu Miring (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Jangan Mudah Terpancing Isu Miring (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Jangan Mudah Terpancing Isu Miring

“Al Qur’an juga sudah menjelaskan bahwasanya jika datang seorang fasiq maka hendaklah bertabayyun. Dengan bertabayyun, maka kita akan mendapatkan klarifikasi yang jelas dan benar-benar valid sumbernya,” katanya.

RMI NU Tegal

Menurut Kiai Abdul Hadi, sebagai umat Islam maka warga NU perlu memahami apa itu Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) sehingga tahu ciri-ciri akidah yang benar dengan demikian dapat membentengi diri dari aqidah-akidah yang menyimpang yang banyak bermunculan.

“Secara sederhana, ciri-ciri akidah yang benar adalah seorang yang beragama Islam, berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah, mengikuti Asy’ariyah atau Maturidiyah, mengikuti ulama tasawuf (shufiyyah) dan mengikuti salah satu mazhab fiqih. Kelima ciri identitas itu harus ada dalam diri seseorang dan tidak boleh ada satu pun yang lepas darinya agar dapat mengikuti akidah yang benar,” jelasnya.

RMI NU Tegal

Dalam kesempatan tersebut para pengurus NU juga digembleng dengan materi Sunnah wal Bid’ah oleh KH Masrur Nashor, Manhajuna fil Aqidah oleh Teguh Mahameru Zainul Hasan dan Hujjatuna Fil Figh oleh KH Zainullah Ghazali. Kegiatan ini diikuti seluruh jajaran pengurus MWCNU dan PRNU Kecamatan Wonomerto serta lembaga dan (badan otonom (banom).

Untuk memberikan feedback, pengurus NU juga diberikan kesempatan untuk bertanya. Bahkan kegiatan yang diagendakan selesai ba’da Isya’ tersebut tanpa terasa hingga jam 22.00 WIB. “Alhamdulillah, program yang dicanangkan PC Asnuter NU bersama MWCNU Wonomerto selesai dengan baik,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Tegal, Budaya RMI NU Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Panglima TNI: Umat Islam Jangan Terpecah Belah

Tegal, RMI NU Tegal. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta umat Islam di Indonesia jangan sampai terpecah belah dan berperang sendiri.

Panglima TNI: Umat Islam Jangan Terpecah Belah (Sumber Gambar : Nu Online)
Panglima TNI: Umat Islam Jangan Terpecah Belah (Sumber Gambar : Nu Online)

Panglima TNI: Umat Islam Jangan Terpecah Belah

Hal itu ditegaskan Gatot ? saat Safari Ramadhan dan buka bersama di Lapangan Markas Brigade Infanteri (Brigif)/4 Dewa Ratna di Slawi, Kabupaten Tegal, Rabu (14/6).

?

Gatot menilai, saat ini ada indikasi benih-benih perpecahan mulai muncul seiring dengan sikap saling menjelek-jelekkan dan menyalahkan satu sama lain.

"Benih-benih ini sudah mulai ada. Mari kita ingatkan teman-teman kita yang suka mencaci dan menjelekkan orang, mengkafirkan orang. Jika kita biarkan ini, negara kita bisa porak poranda," ujar Jenderal bintang empat ini.

RMI NU Tegal

Orang nomor satu di jajaran TNI itu menyebutkan, setiap muslim harus rendah hati. Sifat sombong hanya milik Allah. Dalam konteks kekinian, banyak orang yang cenderung mengklaim bahwa diri dan kelompoknya adalah benar sementara yang lain salah.

Menurutnya, jika umat Islam tidak berpedoman pada nilai-nilai ini (rendah hati dan tidak menyalahkan orang lain-red), maka perang saudara tidak terelakkan. Perang saudara dan hilangnya sikap cinta tanah air inilah yang menjadi salah satu sebab negara-negara Muslim di kawasan Timur Tengah berkecamuk hingga sekarang.

RMI NU Tegal

Meski demikian, Jenderal kelahiran Tegal itu menyebut, Jawa Tengah merupakan daerah yang adem ayem. Di saat beberapa daerah lain sedikit bergejolak, Jawa Tengah telah menunjukkan diri bahwa masyarakatnya hidup guyup dan rukun.

Menurut dia, hal itu tak lepas dari peran ulama yang bersinergi dengan TNI-Polri, serta semua lapisan masyarakat.

Lebih lanjut, Gatot merencanakan gerakan doa bersama seluruh elemen masyarakat yang akan digelar bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus mendatang. Kegiatan itu dikhususkan pada khataman Al-Qur’an yang digelar di seluruh markas atau kantor satuan jajaran TNI dari Sabang sampai Merauke.

Adapun buka bersama diikuti oleh ribuan santri dari berbagai daerah. Selain itu, juga digelar santunan kepada 1.423 anak yatim.?

Kegiatan tersebut juga diikuti Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen Tatang Sulaiman, Kapolda Irjen Condro Kirono, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Ulama Kharismatik asal Pekalongan Maulana Habib Luthfi bin Yahya, Habib Tohir Alkaf, Bupati Tegal Enthus Susmono dan tokoh-tokoh lainnya. (Hasan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Amalan, Tegal RMI NU Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Lembaga Dakwah PBNU Prihatin atas Ceramah Agama Penuh Hujatan dan Caci-maki

Jakarta, RMI NU Tegal - Akhir-akhir ini kebhinekaan dan rajutan kebangsaan terusik oleh cara dakwah sebagian kelompok Islam yang berisi fitnah, hujatan, dan ujaran kebencian. Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) sebagai corong PBNU dalam bidang dakwah prihatin melihat fenomena dan kondisi dakwah seperti demikian.

Menurut pengurus harian LDNU, dakwah yang disampaikan oleh sekelompok umat Islam belakangan ini tidak lagi menjadi penyejuk, tapi telah menjadi medan untuk saling menghujat antarsesama. Dakwah bukan lagi merangkul, tapi memukul; bukan lagi ramah, tapi marah.

Lembaga Dakwah PBNU Prihatin atas Ceramah Agama Penuh Hujatan dan Caci-maki (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Dakwah PBNU Prihatin atas Ceramah Agama Penuh Hujatan dan Caci-maki (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Dakwah PBNU Prihatin atas Ceramah Agama Penuh Hujatan dan Caci-maki

LDNU mengadakan workshop bertema Membangkitkan Dakwah Ramah untuk Indonesia Berkeadaban. Dalam pertemuan ini mereka merumuskan pedoman dakwah Islam Nusantara yang ramah, toleran, dan menghargai kebudayaan. Hasilnya akan menjadi pedoman dakwah bagi para dai LDNU di seluruh Indonesia.

RMI NU Tegal

Kesuksesan dakwah walisongo di Nusantara tak lepas dari pola dakwah yang digunakan oleh mereka. Dakwah ramah atau dakwah bil hikmah wal mau’izhatil hasanah (dengan hikmah dan tutur kata yang baik) telah menarik minat masyarakat Jawa hingga akhirnya ajaran Islam diserap secara perlahan-lahan oleh mereka.

RMI NU Tegal

Model dakwah demikian dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) karena hanya model dakwah seperti inilah saat ini yang cocok dengan karakter bangsa Indonesia yang majemuk dan terdiri dari berbagai macam suku bangsa, adat istiadat, dan agama.

Tampak hadir sebagai narasumber Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Prof Dr H Abdurrahman Mas’ud (Kemenag), Sidarta Danu Subroto (Wantimpres), Hosea Nicky Hogan (Direktur Pengembangan BEI), dan Kepala Balitbang Kementerian Sosial.

Hasil pertemuan ini akan disahkan dalam Rakernas LDNU pada 20-21 Februari 2017 di Pesantren Ats-Tsaqafah asuhan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Jagakarsa, Jakarta Selatan. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Tegal RMI NU Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Syaban Jalan Menuju Puncak

Iitulah mengapa bulan ini dikatakan ‘sya’aban’, karena sya’ban yang berasal dari kata syi’ab bisa dimaknai sebagai jalan setapak menuju puncak. Artinya bulan sya’ban adalah bulan persiapan yang disediakan oleh Allah swt kepada hambanya untuk menapaki dan menjelajahi keimanannya sebagai persiapan menghadapi puncak ‘bulan Ramadhan’.

? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ?, ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ?. ? ?-

? ? ? ?, ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ? ? ? ?, ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ?, ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ?.

Syaban Jalan Menuju Puncak (Sumber Gambar : Nu Online)
Syaban Jalan Menuju Puncak (Sumber Gambar : Nu Online)

Syaban Jalan Menuju Puncak

Faya Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama menjaga kwalitas taqwa kita kepada Allah swt. dengan menjalankan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya dengan penuh kesadaran dan keinsyafan.

Karena hanya dengan taqwalah jalan kita mendekati Allah swt. mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun diakhirat, seperti yang difirmankan Allah dalam yunus 63-64

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa * Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.

RMI NU Tegal

Hadirin Kaum Muslimin yang Dirahmati Allah

Syukur Alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah yang Maha Kuasa, karena hari ini kita semua masih menikmati indahnya bulan sya’ban. Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriyah. Secara bahasa kata “Sya’ban” mempunyai arti “berkelompok”. Nama ini disesuaikan dengan tradisi bangsa Arab yang berkelompok mencari nafkah pada bulan itu). Sya’ban termasuk bulan yang dimuliakan oleh Rasulullah Saw. selain bulan yang empat, yaitu Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Salah satu pemuliaan Rasulullah Saw. terhadap bulan Syaban ini adalah beliau banyak berpuasa pada bulan ini.

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasai dan Abu Dawud dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah menyatakan, Usamah berkata pada Rasululllah Saw., Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunat) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Syaban. Rasul menjawab: Bulan Syaban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.’”

RMI NU Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Bulan itu (Sya‘ban) berada di antara Rajab dan Ramadhan adalah bulan yang dilupakan manusia dan ia adalah bulan yang diangkat padanya amal ibadah kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, maka aku suka supaya amal ibadah ku di angkat ketika aku berpuasa”. ( HR. an-Nasa’i)

Hadirin Kaum Muslimin yang Budiman

Oleh karena itu, marilah di awal bulan Syaban ini kita perkokoh keimanan dan ketaqwaan kita. Mumpung masih ada waktu, mumpung ada bulan Sya’ban yang penuh dengan keutamaan dan keistimewaan. Mungkin itulah mengapa bulan ini dikatakan ‘sya’aban’, karena sya’ban yang berasal dari kata syi’ab bisa dimaknai sebagai jalan setapak menuju puncak. Artinya bulan sya’ban adalah bulan persiapan yang disediakan oleh Allah swt kepada hambanya untuk menapaki dan menjelajahi keimanannya sebagai persiapan menghadapi puncak ‘bulan Ramadhan’.

Meniti perjalanan menuju puncak bukanlah hal yang mudah. Minimal memerlukan persiapan-persiapan yang terkadang sangat melelahkan dan menguras energy. Ingatlah pekerjaan mendaki gunung yang mengharuskan berbagai macam pelatihan. Begitu pula meniti puncak di bulan Sya’ban tentunya pendakian itu mengharuskan kesungguhan hati dan niat yang suci karena mendaki adalah usaha menuju yang lebih tinggi yang harus dilalui dengan sedikit susah dan payah. Kepayahan itu akan terasa ketika kita memilih berpuasa di bulan Sya’ban sebagai bentuk pendakian menuju puncak.

Rasulullah saw bersabda bahwa bulan ini dinamakan Sya’ban karena berhamburan kebajikan di dalamnya. Barang siapa berpuasa tiga hari di awal bulan Sya’ban, tiga hari di pertengahannya dan tiga hari di akhirnya. Maka niscaya Allah tulis untuk orang itu pahala tujuh puluh orang nabi, dan seperti ibadah tujuh puluh tahun, dan jiakalau orang itu meninggal pada tahun ini akan diberikan preikat mati syahid.

? Ma’asyiral Mu’minin Rahimakumullah

Pendakian menuju puncak di bulan Sya’ban ini juga dapat dilakukan dengan cara banyak beristigfar dan meminta ampun atas segala dosa yang? telah kita lakukan di bulan-bulan sebelumnya. Baik dosa yang kita lakukan dalam bentuk tindakan dan kelakukan yang kasat mata maupun dosa yang adanya di dalam hati dan tidak kasat mata, dan justru dosa terakhir inilah yang terkadang lebih menumpuk di bandingkan dosa kelakukan. Ujub, sum’ah, takabbur dan lain sebagainya;

Coba kita dalami an-Nahl ayat 78:

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur

Bukankah ayat tersebut seolah mewajibkan manusia agar selalu insyaf dan sadar bahwasannya berbagai kedudukan kita di dunia ini, jabatan, kekuatan, kekayaan, kegagahan, kepandaian dan semuanya adalah pemberian Allah swt, dan manusia pada awalnya tidak mengerti sesuatu apa.

karenanya, jika terbersit dalam hati kita sebagai manusia akan kepamilikan dan ke-Aku-an sadarlah bahwa itu adalah sebuah kesalahan dan dosa. Apalagi jikalau perasaan itu disertai dengan kesengajaan menafikan Allah swt. maka segralah bertaubat. Allah sendiri mengancam orang-orang seperti ini dalam surat Thaha ayat 124:

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta."?

Dengan? demikian, Ma’asyiral Muslimin

Wajiblah setiap manusia itu selalu bersujud dan berbakti kepada Allah swt. setiap saat, setiap waktu, semakin berpangkat, semakin pandai, semakin kaya, semakin berada, maka sujudnya harus semakin dalam dan penuh makna.

Sebagai penghujung khutbah ini, marilah di waktu yang istimewa ini di bulan Sy’aban yang penuh fadhilah ini, kita mendaki bersama dengan menjalankan berbagai amal shaleh dan meminta pengampunan dan magfirah-Nya, sehingga kita akan sampai dipuncak nanti sebagi insan yang siap menjalankan keinsaniyahannya di depan Sang Khaliq

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Red. Uli H

?

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Bahtsul Masail, Lomba, Tegal RMI NU Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Pertama dalam Sejarah, Arab Saudi Izinkan Ada Mufti Perempuan

Riyadh, RMI NU Tegal. Langkah Arab Saudi untuk melakukan reformasi kebijakan dan menerabas konservatisme terus bergulir. Yang terbaru, perempuan di negara monarki ini diizinkan mengeluarkan fatwa.

Keputusan bersejarah tersebut merupakan hasil pemungutan suara di Dewan Syura atau badan penasihat resmi Arab Saudi. Sebanyak 107 suara mendukung adanya mufti perempuan.

Pertama dalam Sejarah, Arab Saudi Izinkan Ada Mufti Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertama dalam Sejarah, Arab Saudi Izinkan Ada Mufti Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertama dalam Sejarah, Arab Saudi Izinkan Ada Mufti Perempuan

Dengan demikian, aspirasi ini mengakhiri monopoli mufti laki-laki yang bertahan selama 45 tahun. Seperti dipaparkan Arab News, Jumat (29/9), para mufti perempuan dipilih oleh dekret Kerajaan.

Aspirasi tersebut semula muncul dari salah satu anggota Dewan Syura dalam pertemuan ke-49, yang meminta Presidensi Umum Penelitian Ilmiah dan Pemberian Fatwa, untuk membuka bagian independen untuk perempuan.

Presidensi Umum Penelitian Ilmiah dan Pemberian Fatwa merupakan satu-satunya badan pemerintah yang berwenang menerbitkan fatwa di Kerajaan Arab Saudi.

RMI NU Tegal

Ini bukan kali pertama Arab Saudi mulai terbuka bagi perempuan. Sebelumnya, Raja Salam bin Abdul Aziz mengeluarkan dektrit langka dengan memperbolehkan perempuan menyetir. Keputusan tersebut secara resmi berlaku pada Juni 2018.

Pada perayaan hari nasional 23 September 2017, pemerintah Arab Saudi juga secara perdana memperbolehkan perempuan memasuki stadion lalu menikmati kemeriahan konser musik dan tarian tradional. (Red: Mahbib)

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Tegal, Ahlussunnah, Kajian RMI NU Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Pemuda NU Grawan Awali Gerakan Ansor Rembang Bertani

Rembang, RMI NU Tegal - Bersamaan dengan panen raya jagung manis jenis sweet lady pada Kamis (26/1) pagi Pimpinan Ranting Ansor Desa Grawan Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang mengawali pencanangan Gerakan Ansor Bertani. GP Ansor Desa Grawan menjadi pilot project program GP Ansor Rembang.

Salah seorang petani muda yang merupakan kader GP Ansor Grawan Munawar mengaku, panen raya tahun ini ia berhasil memanen sekitar 3,5 ton jagung manis dari sepertiga hektare lahan uji coba miliknya.

Pemuda NU Grawan Awali Gerakan Ansor Rembang Bertani (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda NU Grawan Awali Gerakan Ansor Rembang Bertani (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda NU Grawan Awali Gerakan Ansor Rembang Bertani

"Panen sepertiga hektare bobot 3,5 ton dengan harga untuk grade A Rp2.000 per kilogram dan grade B Rp1.500 per kilogram. Grade A itu yang per kilonya isi tiga jagung utuh. Sedangkan grade B yang isi lima jagung utuh," jelasnya.

RMI NU Tegal

Ia bertekad akan mengembangkan komoditas jagung manis itu pada lahan milik para kader Ansor PAC Kecamatan Sumber. Menurutnya, jagung manis lumayan prospektif. Selain bisa dipanen pada waktunya, katek jagungnya laku dijual untuk sayuran.

RMI NU Tegal

Sementara itu, Ketua GP Ansor Rembang Hanies Cholil Barro pada Kamis (26/1) mengatakan, usia kader GP Ansor merupakan usia yang sangat produktif yang berpotensi mengembangkan sektor pertanian. Karena kader Ansor usianya 20 sampai 40 tahun.

"Mumpung usianya masih produktif, dimana tenaga lagi full-full-nya, pemikiran juga lagi cemerlang-cemerlangnya, maka perlu digerakkan pada berbagai sektor, tidak terkecuali pertanian agar jangan sampai terjadi stagnasi generasi petani," jelasnya.

Ia menambahkan, melalui gerakan ini para kader Ansor diharapkan menjadi contoh bagaimana mengelola sektor pertanian yang baik dan benar mulai dari soal pengolahan lahan, pemilihan bibit unggul, perawatan tanaman, hingga cara pemasaran hasil panen berbasis potensi tiap daerah.

"Hari ini (26/1) Ranting Grawan di Kecamatan Sumber melakukan pencanangan GP Ansor Bertani setelah sebelumnya Krikilan melakukan hal yang sama. Kecamatan lain menyusul. Kita melihat pertanian sebagai sendi perekonomian yang harus dibangkitkan," tandasnya. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Nusantara, Tegal RMI NU Tegal

Kamis, 23 November 2017

Rasa Syukur Seorang Narapidana

"Bagaimana kabarmu di penjara?" Tanya seorang sufi lewat sebuah surat kepada sahabatnya.

Sahabatnya menjadi tahanan sebuah kerajaan lantaran suatu kesalahan. Para sipir sekali waktu datang bersama seorang Majusi lalu merantainya secara bergandengan dengan teman sufi itu. Apesnya, si Majusi sedang didera penyakit mules. Sehingga, tiap kali si Majusi hendak buang hajat, sahabat sufi tersebut terpaksa menemani di sebelahnya. Selalu. Bau busuk yang menusuk hidung dan gerak serbaterbatas akibat rantai besi itu tentu sangat mengganggu.

Rasa Syukur Seorang Narapidana (Sumber Gambar : Nu Online)
Rasa Syukur Seorang Narapidana (Sumber Gambar : Nu Online)

Rasa Syukur Seorang Narapidana

Sang sufi paham dengan keadaan sahabatnya ini dan karenanya ingin memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja.

RMI NU Tegal

"Aku bersyukur kepada Allah," balas surat si narapidana kepada sang sufi.

RMI NU Tegal

"Sampai kapan kau bersyukur? Memangnya ada yang lebih buruk dari keadaanmu sekarang?"

"Seandainya ikat pinggang si Majusi digandengkan dengan perutku tentu keadaannya akan lebih parah. Saudaraku, sebetulnya aku berhak mendapatkan hukuman lebih dari ini."

Lanjut si narapidana, "Jika memang Tuhan mengampuniku melalui takdir semacam ini, bukankah syukur wajib kupanjatkan?"

Ia lalu menjelaskan tentang rasa takut terhadap pedihnya sanksi di neraka seandainya dirinya tak memperoleh ampunan. Demikian kisah yang tercatat dalam kitab an-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi.

Ada cara pandang unik yang dimiliki si narapidana. Ia menilai hukuman yang diterimanya saat itu selayak karunia kebaikan. Sebuah pola pikir yang hanya bisa diraih bila seseorang mempunyai pengertian lebih luas tentang anugerah dan musibah. Anugerah tak mesti sebuah kenikmatan, dan tak semua kesengsaraan bisa disebut musibah.

Orang dengan kacamata masa depan akan berpikir tentang pendidikan jiwanya dalam menyesali kesalahan, melapangkan hati menanggung risiko, dan membenahi diri, hingga tentang nasib kehidupan akhirat di masa mendatang. Dengan demikian, mengeluhkan atau menghindari tanggung jawab hukum, terlebih dengan membuat kesalahan baru (misalnya dengan menyuap penegak hukum), adalah sebuah kepicikan. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Tegal, Meme Islam RMI NU Tegal

Selasa, 21 November 2017

Gus Dur dan Kepiawaian Menulisnya

Beberapa lama setelah berada di kampung halamannya, Tebuireng, Jombang di tahun-tahun 1972-1974, selain mengajar di Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asyari, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mulai menekuni kembali bakat menulisnya dan menjadi kolomnis di berbagi media massa nasional. Pada kurun ini tulisannya kerap bermunculan di berbagai media massa mulai dari majalah nasional umum seperti Tempo hingga majalah islami seperti Panji Masyarakat yang didirikan oleh Buya Hamka.

Selain memiliki kelebihan-kelebihan lainnya yang sudah jamak diketahui publik,? salah satu dari kemampuan lainnya Gus Dur yang menonjol bahkan sedari kanak-kanak adalah menulis. Di majalah Tempo sejak tahun 1970-an sampai 1980-an, ia kerap datang sendiri untuk menulis kolomnya. Begitu produktifnya hingga tulisan yang satu belum dimuat, sudah ada lagi tulisan yang lain. Produktivitas Gus Dur membuat Goenawan Muhammad, pemimpin redaksi Tempo waktu itu mengambil inisiatif untuk menyediakan satu meja khusus plus mesin ketik untuknya. Hampir tiap minggu Gus Dur menulis. Menurut pengakuannya dalam suatu wawancara di televisi, itu dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sekeluarga.

Gus Dur dan Kepiawaian Menulisnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Kepiawaian Menulisnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Kepiawaian Menulisnya

Dalam menulis Gus Dur mempunyai banyak ide. Hal-hal yang bagi orang lain dipandang sepele dan remeh temeh, dibuatnya menjadi penting.? Keluasan wilayah pemikirannya mengagumkan banyak orang dan sulit untuk diimbangi. Dibanding dengan cendekiawan atau penulis lain, spektrum? perhatian Gus Dur masih jauh lebih luas. Tulisannya tidak hanya masalah-masalah agama dan sosial politik, melainkan juga budaya, sejarah, pertanian, musik, sampai sepakbola nasional dan internasional.

RMI NU Tegal

Ketika menulis, Gus Dur kerap berangkat dari asumsi dan akumulasi pengetahuan yang dimilikinya. Karena Gus Dur secara umum dikenal mempunyai analisa yang banyak tepatnya, maka tak heran ia pernah diminta oleh harian terkemuka di ibu kota untuk menganalisis pertandingan-pertandingan sepakbola dalam suatu ajang piala dunia.

Menurut kesaksian salah satu saudara kandungnya, Salahuddin Wahid, Gus Dur memang mempunyai kemampuan menulis yang dimiliki sejak kecil. Kemampuan menulis Gus Dur tergolong luar biasa. Sewaktu SD, dia telah memenangkan lomba menulis se-Jakarta.? Bahkan ketika tidak dapat menulis sendiri, Gus Dur mendiktekan apa yang ingin ditulisnya. Meskipun hanya didektekan, tetapi hasilnya tetap merupakan sebuah tulisan yang bermutu dengan tata bahasa dan sistematika yang bagus. Di tangan Gus Dur, segala sesuatu dapat dijadikan sebagai obyek tulisannya.

RMI NU Tegal

Pada saat Gus Dur dioperasi sekitar tahun 1993, ia diminta untuk membuat kata pengantar sebuah buku berbahasa Inggris. Buku itu dibacakan oleh salah seorang putrinya. Ternyata dengan mudah saja Gus Dur dapat membuat kata pengantar dengan mendiktekannya. Hal itu lantaran Gus Dur pandai menarik benang merah atau hal-hal pokok dari sebuah buku meski cuma dibacakan oleh orang lain.

Kemahiran menulis yang dimiliki Gus Dur sebagaimana di atas tentu saja banyak faktor pendukungnya. Di samping peran luasnya pergaulan, banyaknya pengalaman dan aspek bakat, yang tidak kalah pentingnya lagi adalah karena faktor budaya bacanya yang tinggi yang telah tertanam sejak dari kecil.

Sejak kecil saat masih tinggal di rumahnya di Matraman, oleh ayahnya memang Gus Dur dan saudara-saudaranya telah dididik dan diarahkan agar mereka gemar membaca buku. Untuk putra-putrinya, KH Wahid Hasyim menyediakan buku-buku di rumah tersebut dengan sangat beragam topik dan temanya, tidak hanya tentang keislaman. Selain buku, disediakan pula olehnya di samping media-media Islam, juga terdapat media massa Katolik dan terbitan non-Muslim lainnya. Gus Dur dan adik-adiknya melalui bejibun bahan bacaan tersebut dirangsang untuk membaca apa saja yang mereka sukai.

M. Haromain, Warga NU bergiat di Forum Santri Temanggung

Disarikan dari:

Ali Yahya, Sama Tapi Berbeda: Potret Keluarga Besar KH. A. Wahid Hasyim, Penerbit: Yayasan KH. A. Wahid Hasyim, Jakarta, 2007.? ?

Majalah Tebuireng, edisi 09, Januari-Maret, 2010? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ubudiyah, Tegal RMI NU Tegal

Rabu, 08 November 2017

Lakpesdam NU Indramayu Lakukan Pendampingan BUMDES di Kuningan

Kuningan, RMI NU Tegal - Program Peduli Lakpesdam NU Kabupaten Indramayu, Jawa Barat melakukan pendampingan di Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Senin (21/3). Pendampingan berlangsung di Aula Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) Kabupaten Kuningan tersebut disampaikan penjelasan seluk-beluk pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDES).

Workshop BUMDES yang diikuti enam puluh orang perwakilan dari kelompok tani, kelompok wanita tani, para pengusaha di desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, aparatur desa dan tokoh pemuda.

Lakpesdam NU Indramayu Lakukan Pendampingan BUMDES di Kuningan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Indramayu Lakukan Pendampingan BUMDES di Kuningan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Indramayu Lakukan Pendampingan BUMDES di Kuningan

Menurut Ketua Lakpesdam NU Indramayu Iing Rohimin, implementasi Undang-Undang No.6 tahun 2014 Tentang Desa memberikan harapan besar bagi masyarakat di desa di seluruh Indonesia. Pasalnya melalui UU tersebut, pemerintah desa diberikan kewenangan yang sedemikian strategis untuk membangun dan mengembangkan desa. Salah satu hal yang menjadi kewenangan desa adalah bagaimana desa bisa mengembangkan perberdayaan masyarakat baik dalam bidang ekonomi maupun peningkatan sumber daya manusia.

“Upaya peningkatan perekonomian untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat desa, bisa dilakukan dengan pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUMDES),” katanya.

RMI NU Tegal

Iing yang juga Program Officer (PO) Program Peduli Lakpesdam NU Kabupaten Indramayu tersebut menegaskan, workshop menghadirkan narasumberdari BPMD yang menjelaskan tentang mekanisme pembentukan BUMDES dan seorang narasumber dari salah satu desa di Kuningan yang telah memiliki BUMDES sehingga para peserta bisa mendapat pembelajaran tentang BUMDES yang sudah ada dan bahkan sudah maju yang bisa direplikasi di Desa Manislor.

RMI NU Tegal

Sementara Sekrtetasi BPMD Kuningan Ahmad Sobandi dalam sambutannya yang sekaligus membuka workshop menjelaskan, pihaknya merasa sangat berterima kasih kepada Lakpesdam, karena sebenarnya yang berkewajiban menyampaikan sosialisasi kepada masyarakat tentang BUMDES adaalah BPMD.

“Saya merasa sangat bangga dan bahagia karena Lakpesdam justeru bergerak lebih cepat dan membantu masyarakat dalam upaya memberikan sosialisasi dan pembelajaran tentang pentingnya BUMDES,” ujarnya.

Lebih jauh dikatakan Ahmad Sobandi, bahwa BUMDES merupakan instrument penting untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa. “Dengan adanya BUMDES, maka masyarakat desa bisa bersama-sama membicarakan tentang upaya peningkatan ekonomi dari mulai perencanaan, hingga pengelolaan dan mencari berbagai terobosan usaha untuk meningkatkan perekonomian warga. Saya berharap melalui workshop ini, para peserta terutama aparat desa bisa segera mendirikan BUMDES di Desa Manislor sehingga potensi ekonomi yang ada bisa semakin dimaksimalkan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat secara cepat,” jelas Ahmad Sobandi.

Narasumber dari BPMD Januri dalam pemaparannya menjelaskan tentang mekanisme pembentukan dan menjalankan BUMDES. Pembentukan BUMDES dilakukan secara musyawarah, kemudian dipilih para pengurus dan dibuat aturan bersama untung menjalankannya.

“BUMDES nantinya bisa memilih berbagai usaha untuk mengakomodir berbagai kebutuhan masyarakat, sehingga roda ekonomi bisa berputar di desa dan keuntungannya untuk kepentingan bersama,” jelas Januri.

Narasumber dari BUMDES Desa Lengkong, Didin Saefudin memaparkan tentang BUMDES yang maju dan memiliki aset besar di desanya. “BUMDES kami awalnya hanya menangani hal-hal kecil, misalkan membantu masyarakat dalam pembayaran listrik dan PDAM, tapi seiring berjalannya waktu, kini BUMDES di Desa Kami bisa menyediakan berbagai kebutuhan pokok masyarakat, seperti gas elpiji, beras, sembako dan lainnya sebagainya,” tutur Didin.

Saat forum dialog dibuka, para antusias mengajukan berbagai pertanyaan sehingga workshop berjalan dinamis dan banyak memberikan informasi bagi warga Desa Manislor yang akan mendirikan BUMDES di desanya. Salah seorang peserta mengaku sangat puas dengan jalannya workshop karena dirinya menjadi semakin terpacu untuk bersama-sama warga lainnya mendirikan BUMDES di Desa Manislor.

Di akhir acara, Iing Rohimin menjelaskan, bahwa upaya membangun inklusi di Desa Manislor, lebih banyak akan disinergikan dengan Impelementasi UU Desa, karena dengan pembentukan BUMDES salah satunya, bisa semakin membuka recognisi sekaligus membangun perekonomian warga dengan meningkatkan kesejahteraan warga Desa Manislor. (Red: Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Tegal RMI NU Tegal

Kamis, 26 Oktober 2017

PCNU Kebumen Gelar Lomba Musabaqah Tilawatil Barzanji

Kebumen, RMI NU Tegal. Dalam rangka memperingati Harlah ke-89 NU, PC NU Kabupaten Kebumen menggelar lomba Musabaqah Tilawatil Barzanji (MTB). Kegiatan dilaksanakan, Ahad (1/2) dan dipusatkan di kantor PCNU Kebumen. Peserta merupakan perwakilan dari 26 Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) di 26 Kecamatan.

PCNU Kebumen Gelar Lomba Musabaqah Tilawatil Barzanji (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kebumen Gelar Lomba Musabaqah Tilawatil Barzanji (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kebumen Gelar Lomba Musabaqah Tilawatil Barzanji

"Lomba musbaqah tilawatil barzanji ini khusus kita adakan untuk memeriahkan peringatan Harlah ke-89 NU," kata Ketua PCNU Kebumen, Drs H Masykur Rozak MPdI di sela-sela acara.

Rozak menerangkan, lomba ini sebenarnya salah satu rangkaian dari kegiatan peringatan Harlah ke-89 NU. Sedangkan puncak peringatan Harlah, lanjutnya, akan digelar pengajian akbar, Kamis (5/2) malam di Masjid Agung Kebumen.?

RMI NU Tegal

“Pengajian akbar juga akan diisi oleh Bupati Tegal Ki Entus Susmono,” ujarnya.

Rozak menjelaskan, lomba ini juga untuk menebalkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad saw dan nguri-uri (merawat) tradisi Islam yang diwariskan para ulama NU terdahulu. Dengan adanya lomba ini, tambahnya, diharapkan ke depan masyarakat terutama warga NU di Kebumen lebih bersemangat lagi dalam nguri-uri tradisi-tradisi peniggalan para ulama.

RMI NU Tegal

"Bagi para pemenang lomba, panitia juga sudah menyiapkan hadiah berupa trofi dan uang pembinaan yang akan diberikan pada acara puncak peringatan Harlah NU di masjid Agung Kebumen," pungkasnya.

Lomba yang dimulai sejak pagi dan berakhir pukul 16.30 WIB ini berlangsung cukup meriah. Sebab antara setiap peserta melantunkan pembacaan kisah hidup Rasulullah Muhammad SAW tersebut dengan syair yang berbeda-beda. Meski demikian, para penonton yang hadir tetap merasa sejuk, bahkan mereka ikut melantunkan bacaan Barzanji yang sedang dilantunkan setiap peserta lomba. (Beniyanto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Tegal RMI NU Tegal

Santri Diharapkan Bantu Mendorong Masyarakat Hidup Sehat

Surabaya, RMI NU Tegal. Ikhtiar mengantisipasi dan mencegah penyebaran penyakit pada santri di pondok pesantren menjadi perhatian pemerintah. Para santri pun diharapkan dapat membantu mendorong masyarakat sekitar agar berperilaku hidup bersih dan sehat.

Demikian diungkapkan Menteri Kesehatan (Menkes) Fadila Supari saat berkunjung ke Pondok Pesantren At-Tauhid, Sidosermo, Surabaya, Ahad (25/2) kemarin. Dalam kunjungan ke Ponpes pimpinan KH Mas Mansyur itu, Menkes juga sekaligus meresmikan program Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren).

Santri Diharapkan Bantu Mendorong Masyarakat Hidup Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Diharapkan Bantu Mendorong Masyarakat Hidup Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Diharapkan Bantu Mendorong Masyarakat Hidup Sehat

“Dengan program ini. Paling tidak, para santri bisa memberikan motivasi, inspirasi dan katalisator dalam menghimpun sumber daya masyarakat dalam berprilaku hidup sehat. Sekaligus dapat menyukseskan pembangunan kesehatan,” kata Menkes menyerahkan sejumlah alat-alat kesehatan dan obat-obatan, terutama untuk penyakit demam berdarah dan flu burung.

Sementara, Pengasuh Ponpes At-Tauhid KH Mas Mansyur mengaku cukup bangga Ponpesnya dipilih pemerintah untuk mengembangkan Poskestren. Ia berjanji, keberadaan poskestren itu, tidak hanya dimanfaatkan santri, melainkan juga masyarakat sekitar.

“Poskestren ini nanti akan kami kelola secara profesional oleh para santri-santri sendiri. Dan petugas kesehatannya akan didatangkan langsung dari Dinas Kesehatan dan dari pesantren sendiri dalam menangani pasien,” ujar Kiai Mansyur.

RMI NU Tegal

Selain bisa memberikan pelayanan kesehatan pada santri dan masyarakat, Kiai Mansyur berharap, santri-santri nantinya juga mendapat bimbingan penyuluhan dan pelatihan dalam menangani pasien oleh Dinas Kesehatan. “Paling tidak para santri bisa mengerti bagaimana memberikan penanganan pada pasien dan memberikan pertolongan pertama,” harapnya.

Bantu Program Pemerintah



Pada bagian lain, Menkes menambahkan, data di Dinas Kesehatan Nasional, sedikitnya terdapat 14.798 ponpes di seluruh Indonesia dengan jumlah santri sekitar 2.057.814. “Dengan jumlah tersebut keberdaan santri cukup membantu program kesehatan pemerintah. Ke depan, keberadaan santri ketika sudah berbaur dengan masyarakat bukan hanya membawa pesan agama tapi juga menyampaikan pesan kesehatan,” ungkapnya usai menyerahkan dana sebesar Rp 200 juta untuk pembangunan Poskestren.

RMI NU Tegal

Dengan berdirinya Poskestren itu, Menkes mengatakan, pemahaman pemberdayaan masyarakat akan sadarnya kesehatan harus diberikan sejak dini. Yakni, dengan memberikan pengarahan pada para santri yang notabenenya adalah pelajar. Menurutnya, keberadaan santri dan ponpes untuk membantu program kesehatan pemerintah dalam memberantas penyakit menular harus mulai diberdayakan.

“Selama ini yang menjadi perhatian dari pemerintah untuk memberdayakan program kesehatan kebanyakan pos-pos kesehatan atau RSUD. Dengan Poskestren keberadaan santri dalam membantu program kesehatan nasional juga ikut terdorong,” terang Menkes. (duta)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Tegal, Kiai, AlaNu RMI NU Tegal

Minggu, 15 Oktober 2017

Lesbumi PBNU Tekankan Pentingnya Menjaga Identitas dan Budaya Bangsa

Jakarta, RMI NU Tegal

Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Agus Sunyoto menyatakan bahwa globalisasi merupakan produk kapitalisme global yang berpotensi menggerus identitas bangsa, etnis, bahasa, budaya, agama, dan segala yang berciri lokal. Apabila suatu bangsa sudah tidak memiliki identitas bangsa, maka bangsa itu akan punah.

“Jika perubahan kekuasaan politik terjadi, maka suatu bangsa yang tidak memiliki identitas kuat akan hilang dari peradaban,” ungkap Agus saat Jumpa Pers usai Rakernas Lesbumi, Kamis (28/1/2016) di Media Center Gedung PBNU Lantai 5.

Lesbumi PBNU Tekankan Pentingnya Menjaga Identitas dan Budaya Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi PBNU Tekankan Pentingnya Menjaga Identitas dan Budaya Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi PBNU Tekankan Pentingnya Menjaga Identitas dan Budaya Bangsa

Ia menegaskan, suatu bangsa akan digiring oleh setting kapitalisme global menjadi masyarakat satu dunia yang memiliki satu identitas. Desain kapitalisme global yang telah disiapkan sejak abad ke-17 dirumuskan secara sistematis untuk memberikan persepsi bahwa bangsa barat merupakan bangsa superior.

“Mengapa budaya barat superior, sedangkan budaya lokal sendiri inferior. Sebenarnya Indonesia bangsa yang memiliki peradaban tinggi. Maka perlu kita perkuat tradisi lokal, jangan sampai kita menjadi bangsa inlander seperti yang dicita-citakan mereka,” tegas Agus didampingi pengurus Lesbumi lain, Candra Malik dan Jadul Maula.?

Ia menambahkan, lahirnya Islam Nusantara merupakan jawaban dari permasalahan kapitalisme global yang merongrong budaya lokal bangsa. Upaya untuk menangkal bahaya liberalisme dan fundamentalisme merupakan tujuan Islam Nusantara seperti Gerakan Non-blok menetralisir perang dingin blok barat dan blok timur.

RMI NU Tegal

“Proses Islamisasi di Indonesia disiarkan melalui kesenian bukan melalui pedang. Islam yang menyatu dengan budaya membentuk suatu peradaban yang khas. Hal itu yang membedakan Islam di Indonesia dengan bangsa lain,” pungkasnya. (Afifah Marwa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Kyai, Tegal, Doa RMI NU Tegal

Kamis, 12 Oktober 2017

NU Jangan Jadi "Silent Majority"

Majalengka, RMI NU Tegal. Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Potensi ini semestinya dapat dimaksimalkan dalam membangun peradaban di Nusantara. NU jangan jadi silent majority.

Hal ini disampaikan Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, KH Maman Imanulhaq, saat diminta pandangannya mengenai peran NU Subang pasca Konfercab VII yang digelar di Pesantren Pagelaran III, Rabu (21/8) lalu.

NU Jangan Jadi Silent Majority (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jangan Jadi Silent Majority (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jangan Jadi "Silent Majority"

"NU jangan jadi silent majority (mayoritas yang diam). Kelompok radikal, yang ekstremis itu sebenarnya minoritas tetapi bisa merajelela, NU yang mayoritas? sudah seharusnya berperan aktif, dalam pola dakwah misalnya, dakwah NU itu mengajak dan merangkul, bukan dakwah yang mengejek dan memukul," paparnya

RMI NU Tegal

Kiai Maman pun menilai bahwa kelompok ekstrim yang sedikit itu bisa seolah menjadi besar karena mereka mampu memainkan media.

"Mereka mampu membuat aksi yang sekiranya bisa naik menjadi news, jadi seolah mereka mayoritas, padahal mereka sedikit," tegasnya

RMI NU Tegal

Untuk tidak menjadi silent majority, tambah Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka itu mengharapkan agar para pengurus NU berperan aktif dengan cara melakukan 3S, yaitu silaturahmi, silatulfikri dan silatulamal.

"Memperbanyak silaturhmi dengan berbagai pihak, terutama kaum tani dan nelayan, karena saya kira mereka juga warga NU," ujarnya

Selian itu, lanjut Kiai Maman,? silatulfikri juga juga perlu dilakukan, yakni menyamakan visi misi dengan berbagai pihak, terutama para pengurus, kemudian terakhir adalah silatulamal. “Yaitu bagaimana mampu merealisasikan visi misi tersebut supaya tidak hanya dalam tataran wacana saja," tukasnya.

Lebih lanjut, penulis buku Fatwa Dan Canda Gus Dur tersebut memberi masukan agar NU mampu menunjukan kinerjanya secara maksimal

"Saya melihat NU itu reaksional, seperti masjid direbut baru mulai membenahi masjid, seharusnya kalau membenahi dari dulu tentu tidak akan seperti itu, nah kalau NU terus memperlihatkan sikap yang reaksional saya kira lama-lama orang akan meninggalkan NU, karena orang akan lebih realistis melihatnya" pungkasnya. (Aiz Luthfi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Tegal RMI NU Tegal

Kunjungi Sentra Usaha Kecil, Peserta Terkesima

Jombang, RMI NU Tegal. Tidak sedikit peserta yang terinspirasi saat mengunjungi sejumlah usaha kecil menengah pada kegiatan ini. Sebagian mereka bahkan bertekad untuk membuat usaha serupa di tempat masing-masing.

Penegasan ini disampaikan oleh pimpinan kontingen dari kalimantan Tengah, Wahyudi. “Kinjungan yang sangat bermanfaat,” katanya usai mendatangi kerajinan perkakas kayu di Desa Wringinpitu Mojowarno, Jombang (26/4).

Kunjungi Sentra Usaha Kecil, Peserta Terkesima (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi Sentra Usaha Kecil, Peserta Terkesima (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi Sentra Usaha Kecil, Peserta Terkesima

Ajang Perkemahan Wirakarya Pramuka Ma’arif NU Nasional atau Perwimanas ini memang tidak semata membekali peserta dengan keterampilan kepramukaan dan pendalaman Aswaja. Peserta juga diberikan kesempatan mengunjungi sejumlah sentra industri kecil.

RMI NU Tegal

Disamping memiliki sejumlah pesantren besar, Jombang ternyata memiliki banyak sentra usaha kecil dan menangah yang bisa dibanggakan. Mereka dibina secara periodik oleh Pemerintah Daerah Jombang sehingga kuantitas dan kualitas hasilnya layak disejajarkan dengan usaha dari daerah lain.

RMI NU Tegal

Para peserta Perwimanas diberikan kesempatan mengunjungi sentra kegiatan usaha itu secara bergilir.?

“Kita berharap para peserta dari penjuru tanah air bisa belajar secara serius dari sukses para pengusaha ini,” tandas tuan rumah Perwimanas, H Salmanuddin kepada RMI NU Tegal beberapa waktu lalu.?

Pengasuh Pesantren Babussalam Kalibening Mojoagung ini menandaskan bahwa ada lima sentra usaha yang akan dikunjungi peserta, yakni kerajinan perkakas kayu, kerajinan manik-manik dan borci, kunjungan ke pabrik kecap, proses produksi minyak Atsirih serta proses usaha susu perah.?

“Semua usaha itu menjadi ciri khas bagi kalangan yang ingin berkunjung ke Jombang,” tandasnya.

Lokasi keempat tujuan usaha tersebut terpencar. Untuk kerajinan perkakas kayu ada di Desa Wringinpitu Mojowarno. Sedangkan untuk kerajinan manik-manik di Desa Gudo, dan perusahaan kecap “Tjap Dorang” di ? Kota Jombang serta minyak Atsirih di Desa Wonomerto Wonosalam, juga di Murukan Wonosalam untuk proses usaha susu sapi perah. Karena jenis usaha yang digeluti dan akan dikunjungi berbeda, tentu saja tidak akan sama pula jenis dan model kunjungan tersebut.?

“Untuk di kerajinan perkakas kayu, peserta diberikan kesempatan belajar pertukangan,” kata Gus Salman, sapaan akrabnya. Demikian juga saat berada di sentra manik-manik, peserta diberikan kesempatan mempelajari cara merangkai sehingga menjadi sejumlah kerajinan manik-manik yang bervariasi.?

Jombang juga dikenal sebagai penghasil kecap yang khas yakni Tjap Dorang. “Bisa dipastikan, para tamu dari luar kota lebih gemar memesam kecap ini daripada makanan atau oleh-oleh lain,” ungkap Gus Salam.?

Nah, bagaimana proses pembuatan kecap yang berkualitas sehingga menjadi salah satu ikon kota santri, tentu sangatlah menarik. “Peserta dapat mempelajari proses pembuatan kecap yang bermutu tersebut,” terangnya.?

Dan saat berkunjung ke sentra minyak Atsirih, peserta juga akan mendapatkan pengetahuan proses penguapan sampai menghasilkan minyak, demikian juga untuk proses pengembangan usaha susu sapi perah.

Bagi Gus Salman, pengenalan secara lebih dekat kepada sejumlah sentra industri kecil ini nantinya akan memberikan bekal kepada peserta bagaimana menjadi pengusaha yang ulet dan tangguh. Bahkan untuk sebagian kawasan seperti usaha manik-manik dan perkakas kayu, tidak hanya dimiliki perseorangan.?

“Di dua kawasan itu, mayoritas masyarakatnya bekerja secara total dalam menjadikan usahanya sebagai sandaran hidup,” lanjutnya.

Wahyudi berkeyakinan akan ada tindaklanjut dari kunjungan tersebut. “Kalau perlu kita akan membuat usaha serupa atau membuat kerjasama distribusi dari daerah penghasil usaha tersebut,” pungkasnya.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Tegal, Warta, Sejarah RMI NU Tegal

Minggu, 10 September 2017

Gus Dur: Nabi Palsu Tak Tahan Lama

Jakarta, RMI NU Tegal. Ditengah hiruk pikuknya orang menghujat orang yang mengaku sebagai nabi palsu, Gus Dur merupakan figur yang cukup tenang, tidak terpengaruh oleh situasi yang panas dan emosional. Mengapa? Bagi Gus Dur, sesuatu yang palsu, termasuk nabi palsu tak akan bertahan lama.

Biar saja kan hilang sendiri nanti, wong palsu, tidak tahan lama, ujar Gus Dur dalam acara kongkow kongkow yang digelar rutin setiap Sabtu pagi (3/11) di sebuah radio swasta.

Gus Dur: Nabi Palsu Tak Tahan Lama (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Nabi Palsu Tak Tahan Lama (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Nabi Palsu Tak Tahan Lama

Salah seorang pendengar juga menyampaikan pertanyaan yang menggelitik Kenapa Gus Dur pintar dan alim tidak mau ngaku menjadi nabi? ujar penelpon itu. Apalagi sekarang lagi ramainya munculnya aliran Al Qiyadah yang pemimpinya mengaku menjadi nabi.

Karuan saja Gus Dur dengan selorohnya jawab dengan ceplas-ceplos. Saya bukan orang gila. Yang ngaku nabi itu kan orang gila, ujar cucu pendiri NU itu. Pasalnya, sudah jelas Nabi Muhammad SAW itu adalah nabi dan rasul terkahir, tidak ada nabi lagi setelah itu. Makanya yang ngaku, saya katakan gila.

Baginya, orang seperti Ahmand Mushaddeq perlu didekati, dibimbing dan diajak dialog karena apa yang dilakukan adalah salah. Saya bilang salah, bukan memakai istilah sesat,ujar Gus Dur.(mad)



RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Hikmah, Tegal RMI NU Tegal

RMI NU Tegal

Sabtu, 09 September 2017

NU dan Nasionalisme Baru

Oleh Syaiful Arif

Sebagai organisasi yang lekat dengan komitmen kebangsaan, Nahdlatul Ulama (NU) tak lepas membawa spirit ini, salah satunya tersirat pada Muktamar ke-33 di Jombang, Jawa Timur Agustus 2015 lalu. Pertanyaannya, seberapa kontekstual spirit tersebut menghadapi absurditas politik di negeri yang tak juga lepas dari kesemuan demokrasi?

Di manakah spirit kebangsaan pada Muktamar ke-33 NU kemarin? Tentu dalam koherensi logis dari tema muktamar: Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia. Nilai kebangsaan menjadi koherensi dari corak kultural Islam Nusantara. Bagaimana penjelasannya?

Mark Woodward dalam Java, Indonesia and Islam menemukan koherensi ini, dalam keterkaitan antara "Islam kebudayaan" dan "Islam kebangsaan". Koherensi ini ia temukan dalam hubungan antara pribumisasi budaya dan kontekstualisasi politik. Artinya, pribumisasi Islam ke dalam budaya menjadi conditio sine qua non bagi kontekstualisasi Islam ke dalam sistem politik modern (Woodward, 2011:67).

NU dan Nasionalisme Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Nasionalisme Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Nasionalisme Baru

Islam Nusantara, yang merupakan realitas historis-kultural, hasil pribumisasi Islam ke dalam budaya Nusantara, menyediakan kondisi kultural bagi terbentuknya nasionalisme NU. Ini terjadi karena pribumisasi -manifestasi ajaran Islam melalui budaya lokal- telah meleraikan ketegangan agama dan budaya, yang tidak dialami oleh puritanisme Islam. Bagi yang terakhir ini, agama senantiasa dibenturkan dengan budaya, sehingga melahirkan perjuangan simbolis: penegaran simbol Islam atas budaya dan sistem politik liyan.

Bagi NU yang telah meleraikan ketegangan antara agama dan budaya; perjuangan Islam menjadi substantif. Maka syariat Islampun didekati terutama dari tujuan (maqashid al-syariah) dan prinsip dasarnya (mabadi al-syariah). Inti nilainya terdapat pada kemaslahatan serta moderatisme (wasathiyyah) yang memungkinkan NU mewujudkan cita bukan dari idealisme, melainkan realisme. Artinya, dalam mewujudkan tujuan syariah, kaum tradisionalis ini berangkat dari realitas, baik realitas budaya maupun kenegaraan Indonesia. Ini yang membentuk Islam Nusantara yang menjadi basis-struktur bagi supra-struktur Islam Indonesia.

Dengan demikian, wacana Islam Nusantara menandai proses kembali ke akar nasionalisme NU karena corak kebangsaan organisasi ini dibentuk oleh pendekatan dakwahnya yang bersifat sosio-kultural. "Yang kultural" ini berbasis pada corak keislaman Nusantara.

RMI NU Tegal

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan bagus mendefinisikan corak sosio-kultural NU ini. Menurutnya, gerakan NU bersifat sosial karena ia menginginkan perubahan struktur sosial menuju masyarakat berkeadilan. Hanya saja, berbeda dengan gerakan sosio-politik yang memakai strategi politik (pendirian Negara Islam), NU menggunakan strategi kultural melalui dua langkah. Pertama, pemijakan atas nilai-nilai budaya masyarakat. Kedua, menggunakan modal budaya masyarakat terutama komunitas, lembaga dan asiosiasi kulturalnya. Hal ini dilakukan Gus Dur melalui gerakan pengembangan masyarakat berbasis pesantren dekade 1980. Dalam hal ini, pesantren adalah modal budaya masyarakat yang dijadikan basis pengembangan ekonomi berdasar nilai-nilai Islam yang berkembang di pesantren.

Pengembangan masyarakat melalui pesantren ini lebih mempertanyakan struktur politik yang timpang, daripada bentuk negara NKRI. Oleh karenanya, lawan strukturalnya adalah pembangunan developmentalistik Orde Baru, bukannya negara republik yang hendak diganti dengan Negara Islam.

Fase Nasionalisme

Seperti diketahui, nasionalisme NU memang dibentuk di dalam muktamar atau Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama. Pertama, pengakuan wilayah Nusantara sebagai dar al-Islam (wilayah Islam) pada Muktamar ke-11 di Banjarmasin (1936).

RMI NU Tegal

Ini mafhum diketahui, di mana NU menetapkan wilayah Nusantara yang saat itu dikuasai pemerintah kolonial Belanda, sebagai dar al-Islam. Pemaknaan dar al-Islam bukan sebagai negara Islam (daulah Islamiyyah), melainkan wilayah Islam, telah menumbuhkan nasionalisme karena NU mengakui Nusantara sebagai tanah kaum Muslim. Karena status keislaman ini, Hadlratus Syeikh Hasyim Asyari mengeluarkan Resolusi Jihad pada Oktober 1945. Membela tanah air dari penjajahan, fardlu ain hukumnya.

Kedua, afirmasi atas pembentukan negara-bangsa (nation-state) Indonesia, bukan negara Islam. Ini terjadi pada keterlibatan Kiai Wahid Hasyim pada Sidang BPUPKI-PPKI 1945. Ketiga, penahbisan Presiden Republik Indonesia (RI) sebagai pemimpin dalam keadaan darurat yang memiliki otoritas (waly al-amri al-dlaruri bi al-syaukah) melalui Munas Alim Ulama di Cipanas (1954). Disebut darurat, karena presiden RI tidak sepenuhnya sah menurut fikih Sunni, sebab tidak memenuhi syarat sebagai khalifah dunia Islam. Namun secara konstitusional, ia memiliki kekuasaan sehingga sah menerapkan syariah Islam, terutama penunjukan wali hakim dalam pernikahan Muslim. Melalui penahbisan ini, pemerintah RI sah secara syari.

Keempat, pembelaan Demokrasi Pancasila sebagai pilihan otentik dibanding Demokrasì Terpimpin, liberal dan komunis pada Muktamar ke-24 di Bandung (1967). Kelima, penerimaan atas Pancasila pada Munas Alim Ulama di Situbondo (1983). Serta keenam, Maklumat Penyelamatan NKRI dan Pancasila dari fundamentalisme agama dan pasar pada Harlah ke-85 NU (2011).

Sosio-Nasionalisme

Hanya saja segenap fase kebangsaan ini terhenti pada legitimasi Islam atas nasionalisme dalam rangka bentuk negara. Hal ini bisa dipahami sebab NU berkepentingan menjaga NKRI dari delegitimasi radikalisme Islam. Akan tetapi di masa ketika reformasi politik telah berjalan meninggalkan nasionalisme paska-kolonial; nasionalisme NU perlu diperbarui demi demokratisasi yang makin substantif. Untuk hal ini perlu dilakukan beberapa hal.

Pertama, pendalaman nasionalisme menuju apa yang Soekarno sebut sebagai sosio-nasionalisme. Dalam kerangka ini, nasionalisme bukan hanya pembelaan atas bangunan negara-bangsa. Melainkan perwujudan tujuan pendirian negara yang oleh Pancasila diarahkan menuju keadilan sosial.

Kedua, transformasi pemikiran politik Sunni klasik, menuju politik NU yang berpijak pada konsep politik kontemporer. Ini sebenarnya potensial, sebab pendekatan maqashid al-syariah menempatkan politik sebagai res publica (kebaikan publik). Dengan potensi ini, pemikiran politik NU sejajar dengan teori republikanisme, yang membangkitkan kembali ontologi politik di tengah demokrasi prosedural manipulatif.

Pada titik ini, Muktamar ke-33 kemarin sebenarnya menawarkan warna baru dalam tradisi demokrasi melalui pemilihan Rais Aam berdasarkan musyawarah dewan ulama tertinggi (ahlul halli wal aqdi). Ini dilakukan untuk menghindari politisasi yang terjadi dalam pemungutan suara (voting). Dengan demikian, NU telah mengawali transformasi demokrasi dari majoritarianisme kepada syura (musyawarah). Satu hal yang diidealkan oleh prinsip permusyawaratan Pancasila.

Hanya saja warna baru demokrasi di kalangan nahdliyin ini akan terhenti pada pemilihan pemimpin (nashb al-imamah), jika tidak dibarengi dengan pendalaman nasionalisme di atas. Dua agenda mendasar menanti. Pertama, penguatan etos kewarganegaraan, terutama di kalangan umat Islam. Kedua, radikalisasi demokrasi dalam bentuk penguatan demokrasi partisipatoris menuju perwujudan res publica. Jika tidak, nasionalisme NU hanya terhenti di mimbar dakwah, namun abai dengan ketidakadilan struktural yang menjadi nasib keseharian negeri ini.

 

* Penulis adalah Dosen Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta

 

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Khutbah, Tegal, Humor Islam RMI NU Tegal

Sejumlah Tokoh Bakal Ramaikan Peringatan Hari Toleransi di Klaten

Klaten, RMI NU Tegal - Peringatan Hari Toleransi Internasional di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, bakal menghadirkan beberapa tokoh nasional. Menurut salah satu perwakilan panitia, Marzuki, acara yang digagas Forum Kebersamaan Umat Beriman (FKUB Kebersamaan) Klaten ini, akan dihelat mulai Sabtu (12/11).

“Acara pembuka yakni apel dan karnaval Antar-Iman, dari Alun-alun menuju Monumen Joeang Klaten,” terang Marzuki, yang juga Ketua PC GP Ansor Klaten, Ahad (13/11).

Sejumlah Tokoh Bakal Ramaikan Peringatan Hari Toleransi di Klaten (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Tokoh Bakal Ramaikan Peringatan Hari Toleransi di Klaten (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Tokoh Bakal Ramaikan Peringatan Hari Toleransi di Klaten

Lebih lanjut dipaparkan Marzuki, kegiatan akan berlangsung selama lima hari, yakni pada tanggal 12-16 November. “Acara utamanya adalah pertemuan luas (nasional) para penggerak aktivitas dan karya lintas iman dan budaya se-Indonesia. Mereka akan mempresentasikan, berefleksi dan sharing atas peran yang digelutinya selama ini,” papar dia.

Adapun tokoh yang rencananya akan hadir, antara lain KH Imam Aziz (PBNU), Alissa Wahid (Gusdurian), Romo Beny S (Katolik, aktivis perdamaian), Muhammad Al-Fayyadl (Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam, Probolinggo), Dr Pradjarta (Yayasan Percik, Salatiga), Bikhu Panyavaro (Rohaniawan, Aktivis Lingkungan Hidup, Purwokerto), dan lain sebagainya.

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal

Pada kesempatan tersebut, para peserta juga akan diajak untuk mengunjungi "Desa Muktikultur" di Klaten yang memiliki kekayaan budaya dan keragaman agama yang dapat bersinergi, hidup damai berdampingan dengan penuh keramahan dan keberdayaan. (Ajie Najmuddin/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Tegal, AlaSantri, Olahraga RMI NU Tegal

Senin, 04 September 2017

NU dan Kebangkitan Nasional

Oleh Fathoni Ahmad

Dalam sejarah pergerakan nasional, tidak ada yang memungkiri bahwa kebangkitan bangsa Indonesia dari belenggu kolonialisme erat korelasinya dengan peran generasi muda. Sebab itu, kesadaran demikian harus tertanam kuat pada diri para anak bangsa untuk memajukan Indonesia setelah para orang tua dulu berhasil membangkitkan sendi-sendi nasionalisme melalui perjuangan dengan taruhan jiwa dan raga. Paradigma ini bila perlu diinternalisasikan ke alam bawah sadar sehingga setiap ancaman apapun yang berpotensi memecah belah persatuan dan sikap nasionalisme secara otomatis tertolak pada diri generasi muda sebagai tulang punggung eksistensi kemajuan bangsa dan negara.Kebangkitan Nasional perlu diarahkan pada tantangan-tantangan yang terkait nasionalisme. Semangat inilah yang terus dijaga oleh Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial kegamaan (jam’iyyah diniyyah ijtima’iyah) terbesar di Indonesia bahkan pada level dunia dengan terus memberdayakan generasi muda melalui wadah pelajar maupun pemuda. Di titik inilah perjuangan NU hingga kini tidak hanya bergerak sebagai organisasi keagamaan, melainkan memperkuat basis sosial kemasyarakatan sehingga tercipta bangsa dan negara yang kokoh seperti yang telah dilakukan oleh para ulama pendirinya.

NU yang direpresentasikan oleh kalangan pesantren mampu melahirkan sebuah pergerakan nasional di mana para santri atau golongan muda saat itu berkomitmen memperkuat diri demi melepaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan. Peran kalangan dan ulama pesantren begitu nyata dalam membangun pondasi kekuatan bangsa secara embrionik melalui perkumpulan para pemuda dengan komitmen cinta tanah air yang berhasil dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah beberapa tahun setelah dr Soetomo mendirikan organisasi pemuda bernama Budi Oetomo pada 20 Mei 1908 sebagai titik pijak kebangkitan nasional.

Semangat Abdul Wahab muda sekitar tahun 1914 setelah pulang dari menuntut ilmu di Mekkah merasa tidak bisa memaksimalkan seluruh kemampuan berpikir dan bergeraknya saat menjadi salah satu bagian dari Syarikat Islam (SI) dengan tokoh utamanya Haji Oemar Said Tjokroaminoto (1883-1934 M). Kiai Wahab merasa tidak puas jika belum mendirikan organisasi sendiri. Karena dalam pandangannya, SI terlalu mengutamakan kegiatan politik, sedangkan dirinya menginginkan tumbuhnya nasionalisme di kalangan pemuda melalui kegiatan pendidikan.

NU dan Kebangkitan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Kebangkitan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Kebangkitan Nasional

Singkatnya pada tahun 1916, KH Wahab Chasbullah berhasil mendirikan perguruan Nahdlatul Wathan dengan bantuan beberapa kiai lain dengan dirinya menjabat sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan). Sejak saat itulah Nahdlatul Wathan dijadikan markas penggemblengan para pemuda. Mereka dididik untuk menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air. Bahkan setiap hendak dimulai kegiatan belajar, para murid diharuskan terlebih dahulu menyayikan lagu perjuangan dalam bahasa Arab yang kini populer, yakni? Yalal Wathan yang juga dikenal dengan judul Syubbanul Wathan.

Semangat nasionalisme Kiai Wahab yang berusaha terus diwujudkan melalui wadah pendidikan juga turut serta melahirkan organisasi produktif seperti Tashwirul Afkar. Selain itu, terlibatnya Kiai Wahab di berbagai organisasi pemuda seperti Indonesische Studieclub, Syubbanul Wathan (pemuda cinta tanah air), dan kursus masail diniyyah bagi para ulama muda pembela madzhab tidak lepas dari kerangka tujuan utamanya, yakni membangun semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang sedang terjajah. Kiai Wahab telah membuktikan diri bahwa internalisasi semangat nasionalisme sangat efektif diwujudkan melalui ranah pendidikan. Hal ini dilakukan dengan masif di berbagai pesantren sehingga peran kalangan pesantren sendiri diakui oleh dr Soetomo (Bung Tomo) sebagai lembaga yang sangat berperan dalam membangun keilmuan yang kokoh bagi bangsa Indonesia sekaligus dalam pergerakan nasional untuk mewujudkan kemerdekaan.

Dalam salah satu sumber historis, Bung Tomo berkata: “Sebelum gopermen Hindia Belanda membuka sekolahnja, pada waktoe itoe, pesantrenlah jang mendjadi soember pengetahoean, mendjadi mata air ilmoe bagi bangsa kita boelat-boelatnja”. ? Selain itu dia juga memberikan pernyataan jelas terkait nasionalisme yang terus dibangun oleh kalangan pesantren. Bung Tomo berkata: “Pesantren adalah konservatorium nasionalisme dan patriotisme Indonesia. Andai tidak ada pesantren, andai kata tokoh-tokoh Indonesia hanya mendapatkan pendidikan Barat, kiranya sulit mengajak mereka untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.”?

RMI NU Tegal

Semacam testimoni dr Soetomo tersebut bukan isapan jempol belaka. Tokoh-tokoh ulama dan kiai tidak hanya menginspirasi kalangan pesantren, tetapi juga memberikan spirit (ruh) perjuangan kepada para tokoh nasional seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Jenderal Soedirman, Bung Tomo, dan lain sebagainya. Tokoh perjuangan dari kalangan nasionalis itu secara mantap menjadikan ulama sebagai pelabuhan berpikir dan bertindak dalam melakukan perjuangan kemerdekaan saat itu, terutama kepada KH Muhammada Hasyim Asy’ari yang kerap kali menjadi tempat meminta pendapat bagi para pemuda pergerakan nasional dalam melawan menjajah.?

Bahkan Kiai Hasyim Asy’ari merumuskan ‘dalil’ bahwa mencintai tanah air adalah sebagian dari iman, hubbul wathani minal iman yang berhasil membuat bangsa Indonesia tergerak untuk bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Artinya, memperjuangkan kemerdekaan rakyat dari belenggu penjajah sama dengan menegakkan agama. Karena di tanah air Indonesia yang merdeka inilah, nilai-nilai agama Islam bisa tumbuh dan berkembang.

Dari sekilas riwayat perjuangan para kiai dan kalangan pesantren di atas, telah membuktikan bahwa lahirnya NU pada tahun 1926 yang digagas para ulama Nusantara saat itu tidak hanya bertujuan membangun pondasi paham keagamaan yang kuat di tengah masyarakat dengan paham Islam yang moderat dan inklusif, tetapi juga didorong oleh semangat nasionalisme yang berusaha diterapkan kepada para pemuda melalui sistem pendidikan pesantren.

Tantangan generasi muda kini

RMI NU Tegal

Para bapak pendiri bangsa (founding fathers) telah berkorban jiwa dan raga demi memperjuangkan dan menegakkan kemerdekaan bagi bangsa dan negara Indonesia. Perjuangan yang bermula dengan memberdayakan para pemuda memberikan pelajaran bagi generasi muda sekarang bahwa kemajuan negeri yang telah 71 tahun merdeka ini ada di pundak para anak bangsa. Di titik inilah kebangkitan nasional yang telah lama direngkuh harus diwujudkan dengan berbagai macam kemajuan bangsa sehingga mewujudkan kesejahteraan dan keadilan.

Seorang dr Soetomo bersama perkumpulan dokter muda di STOVIA yang notabene sekolah Barat, justru tidak melunturkan rasa nasionalisme. Begitu juga dengan Soekarno, Hatta, dan beberapa tokoh nasionalis lain yang juga memperoleh pendidikan ala Barat. Mendapat pendidikan ala Barat justru membuat mereka berpikir bahwa kemajuan dan kebebasan yang serasa lezat didapat oleh Barat, juga berhak diperoleh bangsa Indonesia.?

Generasi muda bebas berkiprah dan memperoleh pendidikan di berbagai belahan dunia asal tidak alpa dengan kondisi bangsa dan tanah airnya. Berangkat dari pemikiran para founding fathers tersebut, anak bangsa baik di dalam maupun yang sedang mengenyam pendidikan di luar negeri hendaknya tidak membawa mental inlander dengan mengagung-agungkan kemajuan bangsa lain dengan mengolok-olok negerinya sendiri tanpa bergerak melakukan apapun. Justru kemajuan bangsa lain secara teknologi dan tatanan sosial-kemasyarakatan harus membuat mereka bergerak berupaya melakukan perubahan meskipun berawal dari lingkup masyarakat lokal.

Selain itu, potensi dan kekayaan Indonesia, baik dari sisi alam, budaya, tradisi, kearifan lokal, dan lain-lain harus mampu dimanfaatkan para generasi muda untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa di kancah dunia global. Apalagi dewasa ini banyak media yang dapat digunakan untuk mempromosikan pesona Indonesia kepada masyarakat internasional termasuk karakter Islam yang ramah, moderat, toleran, dan mau berbaur dengan berbagai bangsa yang kini sedang mengalami stigma negatif oleh sebagian masyarakat global karena aksi terorisme.

Di titik inilah penulis ingin menyampaikan secara gamblang tantangan nasionalisme yang banyak tereduksi pada diri para generasi muda Indonesia yang sebagian asyik dengan mental intoleransi dan paham radikal tanpa memahami harmoni persatuan bangsa Indonesia yang justru terbangun dari kemajemukan dengan tali ikat Pancasila. Tentu ironis dan miris ketika nasionalisme dibenturkan dengan keyakinan agama. Karena jelas para pendiri bangsa ini dapat menyatukan berbagai agama, suku, bangsa, dan lain-lain di tanah air dengan tali nasionalisme.?

Bangsa Indonesia patut prihatin ketika ada sebagian anak bangsa yang menolak hormat pada bendera Merah Putih dengan dalih syirik. Padahal para pahlawan bangsa ini bertaruh jiwa dan raga untuk dapat mengibarkan dwi tunggal tersebut. Tentu dengan logika sederhana saja ketika mereka juga menghormati orang tua, apakah hal itu berarti mereka juga menyembah orang tua? Tentu tidak, karena menghormati benda dan Tuhan ada caranya masing-masing. Jangan sampai dengan propaganda kelompok-kelompok tertentu dengan paham transnasional (bukan dari Indonesia) dibungkus agama yang jauh dari nilai-nilai Islam dan Pancasila membuat persatuan dan nasionalisme bangsa menjadi pudar. Jagalah agamamu, untuk Indonesiamu. Selamat Hari Kebangkitan Nasional!

Fathoni Ahmad, Pengajar di STAINU Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Tegal, Nahdlatul Ulama RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock