Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2018

Kesan Raja Salman terhadap Rakyat Indonesia

Jakarta, RMI NU Tegal. Kunjungan diplomatik Raja Saudi Arabia Salman bin Abdul Aziz Al-Saud ke Indonesia, Rabu (1/3) menjadi perbincangan utama media dan netizen di dunia maya. Perbincangan heboh itu bahkan terjadi sebelum Raja Salman menginjakkan kakinya di Indonesia karena sejumlah hal yang tidak biasa dalam sebuah kunjungan diplomatik.

Kesan Raja Salman terhadap Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesan Raja Salman terhadap Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesan Raja Salman terhadap Rakyat Indonesia

(Baca:? Rombongan Kunjungan Raja Saudi, 1.500 Orang, 10 Menteri, dan 25 Pangeran)

Namun, Indonesia menyambut baik kunjungan Raja Saudi untuk pertama kalinya setelah terakhir 47 tahun silam. Raja Salman pun memberikan kesan tersendiri terhadap sambutan Presiden Joko Widodo dan rakyat Indonesia yang dinilainya hangat dan ramah.

“Saya sangat senang sekali saat ini berada di Indonesia. Senang sekali dengan rakyat Indonesia, dan saat ini saya sedang bersama yang mulia Presiden Indonesia,” ujar Raja Salman dalam kesempatan makan bersama Jokowi di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu.

Pernyataan Raja Salman itu direkam Presiden Jokowi dalam video vlog pribadinya saat makan bersama. Dalam video yang diunggah juga di Fanpage Presiden Joko Widodo, Raja Salman menuturkan bahwa rakyat Indonesia baginya adalah saudara.

RMI NU Tegal

“Dan bagi kami, rakyat Indonesia merupakan saudara kami dan juga rakyat yang sangat mulia,” ujar mantan Gubernur Riyadh ini.

Sebelumnya, Jokowi memberikan keterangan dalam vlognya bahwa dirinya sedang bersantap siang dengan Raja Salman dengan mengarahkan kamera videonya ke arah sang Raja yang terlihat sedang menikmati makanan berkuah.?

“Kunjungan Sri Raja Salman ini merupakan kunjungan balasan atas kedatangan saya ke Arab Saudi tahun 2015 yang lalu,” ujar Jokowi.

Saat itu, imbuh Jokowi, dirinya menyampaikan agar Raja Salman bisa berkunjung ke Indonesia. Kunjungan ini juga merupakan kunjungan bersejarah setelah 47 tahun Raja Saudi Arabia datang ke Indonesia.

RMI NU Tegal

Mantan Wali Kota Solo ini berharap, kunjungan ini bisa meningkatkan hubungan baik antara Indonesia dan Saudi Arabia.

“Hubungan yang saling menguntungakan,” tegas Jokowi.?

Dalam kunjungan ini, pemerintah Indoensia dan Arab Saudi menandatangani sejumlah kerja sama strategis di beberapa bidang. Selanjutnya, Raja Salman diagendakan memberikan sambutan di DPR RI dan berkunjung ke Masjid Istiqlal.?

Dalam rentang kunjungan yang berlangsung pada 1-9 Maret 2017 ini, Raja Salman dan ribuan delegasi lain juga akan berlibur ke Bali. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Kajian Islam, PonPes, Makam RMI NU Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Tiba di India, Dua Pesepeda Ini Minta doa Kiai dan Warga NU

Jakarta, RMI NU Tegal



Dua Warga NU, Hakam Mabruri dan Rofingatul Islamiah meminta didoakan kiai dan warga NU agar perjalanan mereka ke Timur Tengah dengan bersepeda selamat tanpa halangan apa pun hingga kembali lagi ke tanah kelahirannya, Malang, Jawa Timur. Saat ini keduanya berada di kota Varanasi, India.?

Tiba di India, Dua Pesepeda Ini Minta doa Kiai dan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiba di India, Dua Pesepeda Ini Minta doa Kiai dan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiba di India, Dua Pesepeda Ini Minta doa Kiai dan Warga NU

“Mohon maaf lahir batin, selemat Lebaran... Kami sudah sampai India, mohon doa dari para kiai dan warga NU, dari GP Ansor agar selamat sampai tujuan,” pintanya ketika dihubungi RMI NU Tegal dari Jakarta, Jumat (30/6).?

Hakam, ia dan istrinya telah sepuluh hari berada di India. Keduanya akan berada di negara itu selama sebulan.?

Mereka sampai di negara tersebut dengan pesawat terbang dari Bangkok menuju Calcutta. Dari kota itu mereka mengayuh sepeda ke Asansol, lalu ke Varanasi. Di antara kota lain yang akan dikunjungi adalah Agra dan New Delhi.?

RMI NU Tegal

Menurut dia, selama perjalanan, tak ada hambatan berarti. Bahkan di tiap negara, terutama di Malaysia dan di Pathani (bagian dari Thailand), keduanya disambut dan didukung warga Muslim dengan baik.

Soal makanan pun, menurutnya tidak terlalu sulit. Hanya di Thailand, sukar mendapatkan makanan halal, tapi telah dipersiapkan sebelumnya, keduanya telah membawa alat memasak. Menginap pun tidak kesulitan, jika tak bisa mendapatkan hotel, mereka mendirikan tenda. Hanya di India, keduanya selalu di penginapan yang terjangkau karena alasan keamanan.

Hakam dan Rofingah berangkat dari Malang, Desember tahun lalu. Setelah sebulan perjalanan dengan sepeda, mereka tiba di Jakarta. Mereka sempat tidur kantor Pimpinan Pusat GP Ansor dan sowan ke PBNU. setelah sebulan mengurus visa untuk Malaysia dan Thailand, keduanya bersepeda menuju Sumatera dilepas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Sekretaris Jenderal PBNU H. Helmy Faishal Zaini. (Abdullah Alawi)

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal PonPes, Makam RMI NU Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

PPP Tolak Kebijakan Lima Hari Sekolah

Jakarta, RMI NU Tegal. PPP secara tegas menolak kebijakan lima hari sekolah yang rencananya akan diterapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada Juli 2017, karena dikhawatirkan akan memunculkan kegaduhan baru, kata Wakil Ketua Umum PPP Arwani Tomafi.

"Kebijakan memaksakan perubahan jam belajar siswa sekolah akan memunculkan kegaduhan baru. Kami meminta Mendikbud untuk mengurungkan kebijakan itu," kara Arwani di Jakarta, Ahad.

PPP Tolak Kebijakan Lima Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
PPP Tolak Kebijakan Lima Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

PPP Tolak Kebijakan Lima Hari Sekolah

Dia mengatakan kebutuhan untuk mereformasi dunia pendidikan saat ini bukan dengan mengubah jam belajar siswa.?

Menurut dia, harus dipastikan bahwa semua anak bangsa ini bisa mengenyam pendidikan di sekolah, pastikan kesejahteraan guru terjamin, pastikan sarana prasarana sekolah tersedia dengan kualitas memadai.?

"Kebijakan perubahan jam sekolah itu dirasa jauh dari rasa keadilan, tidak memahami kearifan lokal serta tidak menghargai sejarah keberadaan lembaga pendidikan di masyarakat yang sudah berkembang dan berlangsung jauh sebelum kemerdekaan," ujarnya.

RMI NU Tegal

Arwani menjelaskan sistem dan proses belajar dan mengajar yang sekarang ini sudah berjalan dengan baik misalnya pengayaan jam pelajaran di luar sekolah melalui kursus, pengajian, madrasah diniyah.

RMI NU Tegal

Menurut dia apabila kebijakan lima hari sekolah dengan menambah durasi di ruang kelas ini diterapkan maka ini akan mematikan lembaga pendidikan seperti madrasah diniyah.

"Madrasah diniyah sudah terbukti selama ini menjadi pusat pembentukan karakter anak. Tidak hanya pengajaran nilai-nilai agama semata tetapi juga pengamalannya bahkan menjadi benteng pertahanan Pancasila dan NKRI," katanya.

Dia menegaskan apabila kebijakan itu dipaksakan maka sama saja menganggap semua itu ahistoris sehingga DPP PPP memerintahkan Fraksi PPP di DPR untuk menolak kebijakan tersebut dan meminta menteri untuk mengklarifikasi kebijakan ini secara serius.?

Kemendikbud akan memberlakukan kebijakan lima hari sekolah dalam sepekan di seluruh Indonesia mulai Juli 2017 dan pemerintah sedang menyusun regulasi terkait kebijakan tersebut. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Khutbah, Makam, Nusantara RMI NU Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Bukan Veto, Pengambilan Keputusan PBB Seharusnya dengan Suara Terbanyak

Jakarta, RMI NU Tegal. Ada 128 negara yang menentang keputusan sepihak Amerika Serikat yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Hanya sembilan yang mendukung Amerika Serikat, sebanyak 35 negara lainnya abstain, dan 21 negara sisanya abstain dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SMU PBB) yang digelar di New York, Kamis (21/12).

Menanggapi hal itu, Pakar Timur Tengah Universitas Indonesia (UI) Abdul Muta’ali menyebutkan, hasil tersebut menunjukkan bahwa mayoritas negara di dunia ini bersama Palestina dan menolak klaim sepihak Amerika Serikat.

Bukan Veto, Pengambilan Keputusan PBB Seharusnya dengan Suara Terbanyak (Sumber Gambar : Nu Online)
Bukan Veto, Pengambilan Keputusan PBB Seharusnya dengan Suara Terbanyak (Sumber Gambar : Nu Online)

Bukan Veto, Pengambilan Keputusan PBB Seharusnya dengan Suara Terbanyak

“Artinya,  mayoritas negara-negara di dunia melalui forum Sidang Majelis Umum PBB bersama Palestina,” kata Muta’ali kepada RMI NU Tegal melalui pesan tulis, Jumat (22/21).

Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI ini menyayangkan, hasil pemungutan suara tersebut hanya bersifat rekomendasi. Ia berharap, ke depan PBB harus mengubah pola pengambilan resolusi keputusan, yaitu berdasarkan dengan suara terbanyak.

“Bukan melalui veto,  melainkan suara terbanyak,” katanya.

Menurut dia, hasil pemungutan suara (voting) ini bisa dijadikan sebagai ajang untuk mengucilkan Amerika Serikat. Negara-negara yang menentang tersebut bisa membangun klausul baru untuk menentang klaim sepihak Donald Trump.

RMI NU Tegal

Selain itu, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) bisa membawa keputusan Trump tersebut ke Mahkamah Internasional di Den Haag Belanda. Ini bisa menjagal keputusan sepihak Trump tersebut.    

“Hal ini dilakukan untuk mencegah Intifada ketiga, agar tak banyak lagi korban yang berjatuhan,” terangnya.

Pada 1967, Israel menduduki wilayah Palestina, termasuk Yerusalem. Tetapi, PBB menerbitkan Resolusi yang menyatakan bahwa Yerusalem di bawah otoritas internasional. Pada 1980, Israel membuat Undang-Undang yang menyatakan Yerusalem adalah ibu kotanya. Tahun 1995, Amerika Serikat menguatkan UU tersebut. Hingga kemudian yang terbaru adalah keputusan sepihak Trump yang menyebutkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Rabu, 6 Desember 2017 lalu.

RMI NU Tegal

“Segala upaya untuk mengubah status quo Yerussalem merupakan tindakan ilegal,” tegas Doktor lulusan Universitas The Holy Quran and Islamic Sciences Sudan ini. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Makam, Nahdlatul Ulama, Cerita RMI NU Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Feri dan Ain Nahkodai Pelajar NU Jateng

Brebes, RMI NU Tegal.

Ferial Farchan dari Brebes dan Sri Nur Ainingsih (Blora) mendapat kepercayaan menakhodai Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nadhlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Provinsi Jawa Tengah. Mereka terpilih dalam Sidang Konferensi Wilayah (Konferwil) IPNU XV dan IPPNU XIV untuk periode 2016-2019, di pondok pesanteren Assalafiyah Luwungragi Brebes, Rabu (13/12).

Feri dan Ain Nahkodai Pelajar NU Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Feri dan Ain Nahkodai Pelajar NU Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Feri dan Ain Nahkodai Pelajar NU Jateng

Agenda sidang pemilihan Ketua PW IPNU berlangsung alot karena itu harus dilaksanakan dua putaran. Dalam tata tertib pemilihan, calon minimal harus mengantongi 12 suara. Pada putaran pertama, Feri mengantongi 21 suara dan rivalnya Kholid dari Kendal mendapatkan 14 suara dari 35 suara yang diperebutkan.

Akhirnya pada putaran kedua, Feri hanya kehilangan 1 suara, yakni berubah menjadi 20 sedangkan Kholid berhasil menambah 1 suara sehingga menjadi 15 suara. Namun demikian, Feri tetap unggul untuk menggantikan Amir Mustofa Zuhdi untuk periode tiga tahun mendatang.?

Sementara Sri Nur Ainingsih (Blora) terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PW IPPNU Jawa Tengah menggantikan Umi Saadah. Ain menjadi calon tunggal saat pelaksanaan sidang pemilihan yang yang berlangsung hingga jam 02.00 dini hari pada Rabu (13/12) .

RMI NU Tegal

“Ini hanya amanat Allah SWT, lewat kepercayaan rekan-rekan IPNU se Jawa Tengah, mohon doa restunya semoga bisa mengemban amanat ini dengan sebaik-baiknya,” ucap Feri ketika ditemui RMI NU Tegal diarea Konferwil.

Ke depannya, lanjut Feri, dia bertekad siap mengawal Pelajar NU Jawa Tengah untuk lebih meningkat kualiatas. Dan IPNU-IPPNU sebagai garda terdepan pengawal Ahlussunnah wal-Jamaah Annahdliyah.?

Selain itu, dia berharap IPNU IPPNU menjadi solusi para pelajar untuk menjadi benteng moral serta penangkal atas segala paham radikalisme.?

Konferwil dibuka Menteri Pemuda dan Olahraga RI Imam Nahrawi Senin malam (12/12/16) di Ponpes asuhan Rois Syuriyah PBNU KH Subhan Makmun.

RMI NU Tegal

Berbagai kegiatan untuk menyemarakan gelaran konferesi juga digelar, diantaranya, Talkshow bersama Menpora RI, Seminar Anti Radikalisme oleh Wakapolda Jateng, ? Lomba pembuatan film pendek, Festival musik hadroh, pemilihan duta Pelajar NU Jawa Tengah, ? pemutaran film "Jalan Dakwah Pesantren" karya RMI NU Tegal, ? dan pementasan seni musik dari Kemensos RI.?

Acara inti, berupa sidang-sidang Konferwil yang terdiri dari sidang komisi, sidang laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2013-2016, dan sidang pemilihan ketua PW IPNU IPPNU Jateng masa khidmat 2016-2019.

Konferwil bertajuk "Menjaga keberagamaan di tengah keberagaman untuk persatuan dan kesatuan bangsa" merupakan permusyawaratan tertinggi dari IPNU IPPNU tingkat Provinsi Jawa Tengah. Didalamnya juga membahas arah pergerakan organisasi IPNU IPPNU tiga tahun kedepan.?

Utusan resmi tiap kabupaten sejumlah tiap cabang 10 orang 35 cabang se-Provinsi Jateng, namun peserta yang hadir mencapai 1000 lebih kader IPNU IPPNU Se Jawa Tengah. (wasdiun/abdullah alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Fragmen, Makam, Pesantren RMI NU Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Majalah Santri Adakan Pelatihan Jurnalistik

Semarang, RMI NU Tegal. Redaksi Majalah Santri dari 12 perguruan tinggi yang tergabung dalam Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSS MoRA) menggelar pelatihan jurnlaistik di kampus IAIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah, Jumat (15/2).

Majalah Santri Adakan Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Santri Adakan Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Santri Adakan Pelatihan Jurnalistik

Kegiatan bertema ”Menegaskan Kembali Akar Jurnalistik Pesantren” ini resmi dibuka Sekretaris Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Tengah KH Arja Imroni yang juga Ketua Prodi Ilmu Falak IAIN Walisongo. Hadir pula mengisi materi, Direktur Moderate Muslim Society (MMS) Zuhairi Misrawi.

Pelatihan jurnalistik tersebut merupakan rangkaian dari acara pelantikan dan rapat kerja redaktur Majalah Santri periode 2013-2015. Pimpinan Umum Majalah SANTRI Surotul Ilmiyah mengatakan, kegiatan ini menjadi usaha serius dalam melestarikan budaya jurnalistik yang sudah mengakar lama pesantren.

RMI NU Tegal

“Pelatihan jurnalistik ini akan menjadi bekal kepengurusan Redaktur Majalah Santri yang baru di lantik agar tetap semangat megawal tradisi junalistik pesantren,” ujarnya.

Ketua CSS MoRA Nasional Imam Sahal Ramadhan berharap, Majalah Santri yang masih terdistribusi hanya pada sejumlah instansi Kementerian Agama RI dan pesantren tahun inidapat meningkatkan persebarannya ke kalangan yang lebih luas.

RMI NU Tegal

Peserta pelatihan seharian penuh aktif mengikuti materi jurnalistik. Sementara rapat kerja akan diselenggarakan dua hari mendatang, 16-17 Februari 2013. CSS MoRA merupakan sebuah organisasi yang menaungi mahasiswa program beasiswa santri berprestasi (PBSB) Kementerian Agama Republik Indonesia.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Makam, Pondok Pesantren, Anti Hoax RMI NU Tegal

Ini Pesan Ulama Yaman di Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Banda Aceh, RMI NU Tegal. Habib Abdurrahman bin Muhammad Umar Al-Ahdal, cucu dari Syech Ahmad bin Muhammad Al-Ahdal, pengarang kitab nahwu "Kawakib Durriyah" menyampaikan kuliah umumnya di masjid Raya Baiturrahman.

Ada beberapa point penting yang menjadi intisari dari taushiyah yang disampaikan ulama asal Yaman ini Senin malam (13/4) bada Shalat Isya lalu, yang pada umumnya menjelaskan tentang ilmu tauhid.

Ini Pesan Ulama Yaman di Masjid Raya Baiturrahman Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Ulama Yaman di Masjid Raya Baiturrahman Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Ulama Yaman di Masjid Raya Baiturrahman Aceh

“Ada banyak tanda kiamat yang telah kita lihat saat ini, antara lain banyak orang yang berlomba hafal Al-Quran namun mereka tidak paham bahkan tidak peduli hukum syariat,” kata Habib Abdurrahman.

RMI NU Tegal

Ia menyampaikan, Rasulullah SAW sangat mencintai umat yang beriman kepada Allah dan Rasulullah pada akhir zaman seperti kita saat ini.

Mengapa kita umat akhir zaman lebih dicintai olehRasulullah? Karena kita beriman dengan sesuatu yang ghaib, bukan saja dalam pengertian iman kepada hal-hal yang ghaib atau tidak dicapai oleh panca indra. Namun kita juga beriman kepada Rasulullah tanpa melihat beliau dan beliau hidup dimasa lampau pada beberapa abad silam.

Dalam kesempatan ini Habib juga memberikan penjelsan mengenai ahlussunnah wal jamaah, yakni golongan umat Islam yang berpegang teguh pada ajaran Nabi Muhammad SAW, para Sahabat Nabi dan ulama penerus beliau.

RMI NU Tegal

“Ketika ahlusunnah wal jamaah disebutkan maka mereka adalah yang berlandaskan pada pemahaman tauhid yang diajarkan oleh Imam Al-AsyAri dan Al-Maturidi, dan pemahaman ini telah diikuti oleh seluruh ulama-ulama yang mengikuti mazhab empat,” jelasnya.

Habib memberikan penjelasan panjang lebar. Kesan yang begitu mendalam pada pertemuan malam itu, Habib sangat takdzim dengan para jamaah yang menyalami dan yang memeluknya saat selesai majelis pengajian. Sang Habib kembali mencium tangan jamaah setelah mereka mencium tangannya. (Irfan Shiddiq/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Hikmah, Habib, Makam RMI NU Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah

Oleh Munawir Aziz*

Selama ini, dakwah yang digunakan untuk mengampanyekan nilai-nilai Islam sangat terkait dengan media. Penyampaian pesan-pesan keagamaan melalui media konvesional terbukti efektif sebagai agenda dakwah. Model-model dakwah dalam forum kajian, majelis taklim maupun acara-cara seminar mampu mempengaruhi perspektif kaum muslim agar memahami nilai-nilai agama secara lebih utuh.

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah

Akan tetapi, saat ini media mengalami revolusi dalam spektrum baru berupa media digital. Bagaimana merespon revolusi media dalam kerangka strategi dakwah? Bagaimana menampilkan model dakwah yang baru di tengah percepatan teknologi? Tentu saja, dakwah di era digital perlu menggunakan strategi-strategi baru untuk merespon ekosistem media digital yang berbeda dengan media konvensional.

Pertumbuhan media digital menemukan momentumnya dengan pertumbuhan kelas menengah muslim. Jika geliat kelas menengah dimulai dari tahun 1980an, yang kemudian menemukan akses luas pasca reformasi, tentu hal ini tidak bisa dilepaskan dari iklim politik dan kebebasan di ruang publik untuk mengekspresikan identitas. Kelas menengah muslim dianggap sebagai ceruk penting yang memiliki potensi luar biasa, dari akses ekonomi, gaya hidup, pengetahuan hingga keberpihakan politik. ?

RMI NU Tegal

Dalam hal ini, kelas menengah muslim adalah ceruk komunitas yang terus membesar, seiring pertumbuhan ekonomi dan akses pendidikan. Robisan mencatat, bahwa “dalam kelas menengah, terdapat sejumlah akademisi, kaum cendekiawan, reformis, intelektual, pengusaha muda, pengacara, tokoh politik, aktifis kebudayaan, kaum teknokrat, aktifis LSM, juru dakwah, publik figur, presenter, pengamat ekonomi dan sejenisnya” (Robison 1993: 30)

Untuk itu, Vatikiotis mengungkapkan bahwa kelas menengah muslim lebih banyak berada di perkotaan, karena mudahnya akses media dan jaringan pengetahuan. “Di Indonesia, kebangkitan kembali kepada semangat keagamaan tahun 1980an dan 1990an adalah fenomena khas kelas menengah di wilayah-wilayah perkotaan – segmen masyarakat yang paling banyak tersentuh oleh pembangunan ekonomi dan perubahan sosial. Fenomena ini berpengaruh luas pada meningkatnya ketaatan beragama padaorang-orang Islam yang sedang menikmati kemakmuran sebagai kelasmenengah” (Vatikiotis, 1996: 152 – 53). Akan tetapi, pandangan Vatikiotis ini perlu direvisi karena pertumbuhan media digital.

RMI NU Tegal

Seiring meningkatnya akses informasi melalui media digital, tentu pembagian demografi dalam pandangan Vatikiotis akan sedikit mengalami revisi. Ruang fisik semakin meluas tidak hanya di kota-kota besar semata, karena hal ini akan ditembus oleh akses ekonomi, media informasi dan perkembangan teknologi. Sekarang ini, sangat mungkin menemukan pengusaha muslim yang memiliki produk hijab skala menengah yang bermukim di pelosok Banyuwangi, namun memiliki kantor cabang di Jakarta dan Surabaya. Perkembangan teknologi, media sosial dan kemudahan akses infrastruktur memungkinkan fenomena ini terjadi.

Sirkulasi Ekonomi

Tumbuhnya kelas menengah muslim, juga ditunjang oleh tren positif pasar ekonomi syariah. Meningkatnya sirkulasi ekonomi dengan dalam pasar berlabel syariah, dapat dilacak pada perkembangan pesat bank syariah di Indonesia. Rintisan perbankan syariah yang dimulai pada 1991 oleh Bank Muamalat, tumbuh mencapai 40 % tiap tahunnya. Penetrasi ini melebihi bank konvensional yang tidak sampai kisaran 20%. Meski belum mencapai 5% dari total aset perbankan, akan tetapi geliat pasar ekonomi syariah sangat menjanjikan. Setidaknya, dari data awal 2014, sudah ada sekitar 11 Bank Umum Syariah (BUS), 23 Bank syariah dalam bentuk Unit Usaha Syariah (UUS), dan 160 Bank perkreditan rakyat syariah (BPRS). Dari jumlah ini, bank-bank syariah memiliki 2.925 kantor cabang dan memiliki lebih dari 12 juta akun nasabah dengan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai lebih dari 175 triliun rupiah (Yuswohadi, 2015).

Saat ini, tren ekonomi syariah berdampak pada bisnis kreatif dengan pasar kelas menengah muslim, dari fashion, kuliner, hingga wisata. Di beberapa daerah, wisata berbasis syariah sudah mulai menggeliat dengan memunculkan paket-paket jelajah daerah dengan panduan khusus untuk melayani pasar kelas menengah muslim. Dari sisi bisnis, tumbuhnya kelas menengah muslim menjadi tren penting pada zaman sekarang. Dampaknya, sangat terasa pada volunterism, fundrising dan agenda-agenda dakwah beserta amal yang mengakses kelas menengah muslim.

Revolusi Media

Tumbuhnya kelas menengah muslim perlu diimbangi dengan strategi dakwah yang tepat dan efektif. Revolusi media dengan tampilnya media sosial menjadi bagian penting untuk menerapkan dakwah di era digital. Di Indonesia, pengguna internet semakin meningkat, dengan akses media sosial yang terintegrasi. Para pengguna media sosial, cenderung menyampaikan pesan, pikiran dan mengakses informasi dari media-media baru sebagai platform visioner.

Data yang dirilis WeAreSocial (2015), pengguna internet di negeri ini pada kisaran 72,7 juta. Dari data ini, sekitar 72 juta merupakan pengguna aktif media sosial, yang diakses dari 60 juta akun media dari mobile. Ini artinya, media sosial sangat efektif dalam penyampaian pesan, perspektif dan informasi terbaru. Di sisi lain, media digital sebagai medan dakwah di era sekarang sangat signifikan untuk mencapai target kelas menengah muslim. Dakwah untuk kelas menengah muslim, dipengaruhi oleh bagaimana strategi menggunakan media digital untuk menyampaikan informasi serta mengkampanyekan pesan-pesan tertentu.

Tentu saja, hal ini menjadi tantangan menarik bagi ormas-ormas muslim untuk merespon tumbuhnya kelas menengah dan revolusi media digital. Kelas menengah muslim yang terkoneksi dengan akses media digital membutuhkan sentuhan dakwah yang lebih interaktif, efektif dan mudah diakses. Sentuhan teknologi dan grafis sangat diperlukan untuk memperkuat content-content dakwah. Berbagai platform media sosial dapat menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan karakter khas Indonesia. Dakwah yang ramah di era digital menjadi tantangan strategis bagi pelbagai ormas Islam di negeri ini.

* Peneliti media, Pengurus? Lembaga Ta’lif wan-Nasyr (LTN) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU),Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pondok Pesantren, Makam RMI NU Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Jika Dipaksakan, FDS Hilangkan Jiwa Kewirausahaan Generasi Muda

Pringsewu, RMI NU Tegal. Kebijakan Full Day School mendapat tentangan dari Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Provinsi Lampung Fathurrahman. Sekjen HIPSI Lampung Fathurrahman mengatakan bahwa FDS akan membunuh kreativitas dan life skill para generasi muda dalam bidang ekonomi dan kewirausahaan.

"Banyak anak didik sepulang sekolah membantu ekonomi keluarganya seperti di bengkel, cetak batu bata atau kalau di perkotaan membuka distro dan rental komputer kecil-kecilan," katan Pria yang akrab dipanggil Ustadz Faun ini, Sabtu (12/8) di Pringsewu, Lampung.

Jika Dipaksakan, FDS Hilangkan Jiwa Kewirausahaan Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Dipaksakan, FDS Hilangkan Jiwa Kewirausahaan Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika Dipaksakan, FDS Hilangkan Jiwa Kewirausahaan Generasi Muda

Jiwa kewirausahaan dan kemandirian harus ditanamkan kepada para generasi muda khususnya para pelajar. "Pelajar jangan hanya dibekali dengan teori ekonomi dan akuntansi. Namun mereka perlu untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau seharian hanya berkutat di sekolah, kapan praktiknya," tegasnya.

Selain kesempatan waktu yang dipangkas dan dibatasi untuk mengasah jiwa kewirausahaan, kebijakan FDS menurut alumni Pesantren Al Falah Ploso Jawa Timur ini juga akan berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat menengah kebawah.

"FDS tidak tepat diterapkan sebab akan membebani orang tua para pelajar. Sebagai contoh biaya uang saku akan bertambah padahal mayoritas orang tua berada pada kelas ekonomi menengah ke bawah, biasanya 2000-5000, bila FDS diterapkan membengkak bisa dua kali lipat karena bertambahnya biaya bekal dan transportasi. Tentu ini memberatkan," ujarnya.

RMI NU Tegal

Karena itu, kebijakan FDS menurutnya tidak tepat diterapkan di Indonesia. "Jangan latah menerapkan FDS, dan kepada sekolah yang terlanjur menerapkan ini jangan karena gengsi agar dianggap sebagai sekolah yang mampu melaksanakan kebijakan ini tanpa melihat sosio ekonomi anak didiknya," imbaunya.

RMI NU Tegal

Lebih jauh,ia mengingatkan bahwa kemandirian hidup generasi muda khususnya dibidang ekonomi pada saat ini akan berpengaruh pada kemandirian bangsa di masa yang akan datang. Sehingga perlu dibuat kebijakan yang dapat menumbuhkan life skill dan kewirausahaan bukan malah menjadikan generasi muda malas bekerja. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Makam RMI NU Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Rutin, Santuni Yatim Piatu Tiap 10 Muharram

Kendal, RMI NU Tegal. Ratusan masyarakat menghadiri acara Santunan Anak Yatim yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) bekerja sama dengan Pemuda Karang Taruna "Tanu Jaya" dan  Pemerintahan Desa Juwiring, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal, Senin (3/11), di Masjid as-Suada, salah satu masjid di desa setempat.

Acara yang dikemas sederhana ini dimulai dengan pembacaan ayat suci al-Quran, hingga puncak acara yaitu santunan dan diakhiri doa. Menurut Ketua Panitia Penyelenggara, Muallifin, acara ini memang dilaksanakan setiap tahun tepatnya tanggal 10 bulan Muharram.

Rutin, Santuni Yatim Piatu Tiap 10 Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)
Rutin, Santuni Yatim Piatu Tiap 10 Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)

Rutin, Santuni Yatim Piatu Tiap 10 Muharram

"Acara santunan ini bertujuan dalam rangka aksi sosial guna meringankan beban hidup dari anak yatim," ujarnya.

RMI NU Tegal

Dijelaskan, terdapat sekitar 19 anak penerima santunan yang terdiri dari 17 anak yatim dan 2 orang berstatus yatim piatu dalam kegiatan rutin ini. Santunan diserahkan langsung oleh tokoh masyarakat setempat.

RMI NU Tegal

Salah satu penerima santunan, Intan mengaku terharu dengan bantuan yang diberikan. Dia pun merasa senang karena masih banyak pihak yang peduli dengan keterbatasannya selama ini. "Semoga acara santunan seperti ini bisa terus dilaksanakan," katanya lugu.

Dalam acara ini, panitia memberikan bingkisan dan uang santunan sebesar Rp800.000 kepada setiap penerima santunan. Kegiatan juga dimeriahkan dengan pertunjukkan rebana untuk menyemarakkan acara. (M. Zulfa/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Makam, Aswaja RMI NU Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

MWCNU Besuk Gelar Pelatihan Rukun Kifayah

Probolinggo, RMI NU Tegal. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Besuk Kabupaten Probolinggo, Selasa (3/3) menggelar pelatihan rukun kifayah di Kantor MWCNU Besuk. Pelatihan ini diikuti oleh 100 orang peserta mulai dari pengurus MWC hingga ranting NU baik lembaga maupun badan otonom se-MWCNU Besuk.

Dalam pelatihan rukun kifayah ini, ada beberapa materi yang diberikan mulai dari perawatan saat mendekati sakaratul maut, memandikan, mengkafani, mensholati hingga menguburkan jenazah.

MWCNU Besuk Gelar Pelatihan Rukun Kifayah (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Besuk Gelar Pelatihan Rukun Kifayah (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Besuk Gelar Pelatihan Rukun Kifayah

Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Besuk Hasan Zainuri mengungkapkan pelatihan rukun kifayah ini digelar dengan tujuan untuk menyamakan persepsi dan praktek pelaksanaan perawatan jenazah sesuai syariat Islam.

RMI NU Tegal

“Sebab masih ada di beberapa wilayah ketika ada jenazah laki-laki yang memandikan adalah perempuan yang bukan mahromnya dan sebaliknya. Dengan adanya pelatihan ini, jika ada jenazah laki-laki maka yang merawat (memandikan dan mengkafani) juga laki-laki dan sebaliknya,” ungkapnya.

Menurut Zainuri, pelatihan rukun kifayah ini dimaksudkan untuk bisa berbagi ilmu pengetahuan secara mendalam terkait tata cara merawat jenazah yang benar menurut aturan dan syariat agama Islam.

RMI NU Tegal

“Dengan pelatihan ini warga NU bisa memahami bagaimana cara merawat jenazah yang benar sesuai dengan tuntunan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah dan kitab-kitab yang digunakan oleh ulama NU,” jelasnya.

Dengan pelatihan ini Zainuri mengharapkan agar warga NU bisa terampil dan paham dalam merawat jenazah sesuai dengan tuntunan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah dan syariat agama Islam.

“Setidaknya mampu menciptakan kader NU yang benar-benar handal dan terampil dalam merawat jenazah. Hal ini penting agar nantinya warga NU bisa merawat jenazah keluarganya sendiri tanpa tergantung kepada orang lain,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pemurnian Aqidah, Makam, Olahraga RMI NU Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Musibah Tak Terkait dengan Watak SBY-Kalla

Bandung, RMI NU Tegal. Musibah yang menimpa bangsa Indonesia tidak dapat dikaitkan dengan watak jelek para pemimpin bangsa. Karekter Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Wakil Presiden Yusuf Kalla, misalnya, hanya bisa dihubungkan dengan berbagai kebiijakan dan keputusan mreka dalam memimpin bangsa.

Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat KH Anis Arsyad menyatakan, umat Islam harus tetap berprasangka baik terhadap para pemimpin bangsa dan ikut serta mendukung segala program dan langkah mereka.

Dikatakan hal ini sejalan dengan penjelasan “man ra’a musliman hasanan fahuwa ‘indallahi hasanan.” Barangsiapa yang berprasangka baik kepada seseorang maka dia baik pula dalam pandangan Allah SWT. Semua pihak harus berintrospeksi dan mengoreksi diri terhadap berbagai musibah dan bencana yang terjadi silih berganti.

Musibah Tak Terkait dengan Watak SBY-Kalla (Sumber Gambar : Nu Online)
Musibah Tak Terkait dengan Watak SBY-Kalla (Sumber Gambar : Nu Online)

Musibah Tak Terkait dengan Watak SBY-Kalla

“Semua musibah dan bencana yang menimpa bangsa Indonesia tidak boleh dikaitkan kepada pribadi seorang pemimpin bangsa. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya,” katanya usai mengikuti rapat harian Syuriah dan Tanfidziyah PWNU Jawa Barat Sabtu (10/3).

 

Kecelakaan transportasi yang terjadi secara beruntun, baik di darat laut dan udara barangkali disebakan karena para pengemudinya tidak disiplin dan atau kendaraan yang dikemudikan sudah tidak layak pakai. Tanah longsor, mungkin menurut ilmu geologi sudah waktunya atau manusianya banyak melakukan perbuatan kerusakan di atas bumi.

RMI NU Tegal

Lalu, kata Kang Anis (panggilan akrab KH Anis Arsyad), munculnya berbagai penyakit seperti flu burung, mungkin karena manusia sudah tidak lagi menjaga kebersihan dan kesehatan atau bahkan mungkin cara Allah SWT untuk menambah ilmu kedokteran bagi para dokter.

Bahkan boleh jadi sudah tidak ada yang peduli terhadap kebenaran dan kemungkaran, atau sudah tidak ada lagi yang melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar sehingga musibah dan bencana di mana-mana dan terus menerus. “Kalau pun ada mubaligh, ustadz, pendeta dan yang lainnya yang menyeru kepada kebaikan dan kebenaran mungkin keikhlasannya kurang maksimal,” katanya.

 

RMI NU Tegal

Karena itu, kang Anis yang juga menantu KH Abdullah Abbas, Buntet Pesantren, Cirebon, mengajak semua agar melakukan introspeksi, koreksi, tafakur dan istighotsah bersama memohon kepada Allah SWT agar bangsa Indoensia ini berada dalam naungan rildlo-Nya, menjadi negara yang baldatun warobbun ghafur. (din)



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal AlaNu, Makam RMI NU Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Granat dan IPNU Sosialisasikan Bahaya Narkoba

Blitar, RMI NU Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Blitar, terus berusaha agar pelajar di wilayahnya terhindar dari penyalahgunaan narkoba. Melalui lembaga pendidikan, para pelajar NU tersebut melakukan pendampingan dan penyuluhan betapa pentingnya menghindari pengaruh narkoba. Khususnya ke lembaga-lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama. Selain itu IPNU juga melakukan kerjasama dengan Pengurus Granat (Gerakan Anti Narkoba)Kabupaten dan Kota Blitar.?

“Kami selalu memberikan pendampingi kepada para pelajar.Khususnya di lingkungan sekolah Ma’arif dan sekolah di lingkungan Kemenag," ujar Rijal Camelta Ghozwan, pengurus PC IPNU Kab Blitar, Senin (8/8).

Untuk memudahkan pendampingan, ungkap Rijal di beberapa sekolah tersebut didirikan organisasi IPNU dan IPPNU. Dengan begitu, dapat memudahkan koordinasi dalam pendampingan dan pembinaan.

Granat dan IPNU Sosialisasikan Bahaya Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Granat dan IPNU Sosialisasikan Bahaya Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Granat dan IPNU Sosialisasikan Bahaya Narkoba

“Kami selalu memberikan pendampingan melalui kegiatan positif kepada para siswa dan siswi di sekolahan tersebut," katanya.

Selain itu juga membuat edaran-edaran yang berisi tentang bahaya narkoba.Tidak jarang juga memberikan penjelasan melalui radio-radio dan televisi yang konsen terhadap ? bahayanya peredaran narkoba.”Dialog-dialog di radio dan tv juga selalu kami lakukan. Mengingat bahayanya narkoba," ungkapnya.

RMI NU Tegal

Menurutnya, masalah narkoba dikalangan pelajar sesunguhnya identik dengan krisis multidimensional yang sedang melanda bangsa Indonesia dan derasnya arus informasi yang berdampak luas pada perubahan perilaku dan pemikiran seseorang. Menjamurnya media elektronik khususnya media sosial sangat berpengaruh kuat terhadap pola perkembangan dan kehidupan pelajar zaman sekarang.

“Dengan kondisi itu orang tua harus melakukan kontrol ketika anaknya betah dalam kamar mengoprasikan internet selama 3-5 jam, apakah mereka benar-benar belajar atau justru membuka lembaran internet yang memberi pengetahuan negatif khususnya dalam hal narkoba.Karena melalui media itu akan ? memicu rasa ingin tahu dan penasaran tentang narkoba," ungkapnya.

Sesuai data Badan Pusat Statistik Kabupaten Blitar jumlah sekolah SMP, SMA berjumlah 226 sekolah dengan jumlah murid 71.836. Dari jumlah itu belum semua bisa diajak kerjasama.”Kami bisa bekerja sama hanya dengan sekolah-sekolah di lingkungan Kemenag dan LP Ma’arif NU,’’ terangnya.

Pendapat senada juga disampaikan pengurus Granat ? (Gerakan Anti Narkotika) Kabupaten dan Kota Blitar, Joko Nurbatin. Menurutnya ada berbagai dalih yang awalnya memotivasi kenapa pelajar terlibat Narkoba. Mulanya mulai iseng, tren, atau sekedar ingin mecoba (the experience seekers). Mereka tertarik ingin memiliki pengalaman baru.

RMI NU Tegal

“Granat sendiri memiliki keterbatasan untuk menjangkau lembaga pendidikan. Maka dari itu Granat mengajak bekerja sama dengan komunitas pelajar khususnya PC IPNU Kabupaten Blitar, sehingga bisa memantau kondisi pelajar saat ini," kata Joko.(Imam Kusnin Ahmad/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Makam, Lomba RMI NU Tegal

Rabu, 29 November 2017

Hari Pahlawan, Pelajar NU Kartasura Shalawatan

Sukoharjo, RMI NU Tegal. Momentum Hari Pahlawan, Ahad (10/11) kemarin, diperingati para kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kartasura Sukoharjo, Jawa Tengah, dengan pembacaan shalawat.

Acara yang dikemas dengan nama Germas, singkatan dari Gerakan Remaja Pecinta Shalawat tersebut diikuti sekitar 60 anggota. Acara diisi dengan pembacaan maulid al-Barzanji dan diskusi.

Hari Pahlawan, Pelajar NU Kartasura Shalawatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Pahlawan, Pelajar NU Kartasura Shalawatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Pahlawan, Pelajar NU Kartasura Shalawatan

Ketua Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC IPPNU) Kabupaten Sukoharjo, Fitria Ayu, menjelaskan kegiatan shalawatan ini sebetulnya merupakan kegiatan rutin, yang kebetulan pada pelaksanaan kali ini bersamaan dengan tanggal 10 November atau Hari Pahlawan.

RMI NU Tegal

“Selama ini kegiatan (shalawatan) sebagai wadah pengkaderan untuk menarik minat remaja yang sekarang banyak gandrung dengan shalawat,” tuturnya.

RMI NU Tegal

Namun tidak hanya itu, ia menambahkan kegiatan shalawatan ini, selain menjadi ruang pengkaderan, nantinya juga dapat dibuat sebagai sebuah gerakan sosial. Gerakan sosial yang dimaksud, komunitas shalawat yang ada kemudian juga dapat menjadi wadah pemberdayaan sosial jamaahnya.

“Jadi secara kasarnya, shalawatan tidak hanya sekedar ibadah, tapi juga memiliki nilai sosial,” ujarnya kepada RMI NU Tegal, Ahad (10/11) .

Fitria menjelaskan, saat ini majelis shalawat seperti Ahbabul Musthofa, Jamuro, dan sebagainya layak untuk dibentuk sebagai sebuah gerakan sosial. “Paling tidak majelis shalawatan yang sudah ada, ini memiliki dua syarat untuk menjadi sebuah gerakan sosial. Yaitu figur dan massa,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal AlaNu, Makam, Cerita RMI NU Tegal

Selasa, 21 November 2017

Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU

Malang, RMI NU Tegal

Saat perhelatan Harlah ke-70 Muslimat Nahdlatul Ulama di Gedung Olah Raga (GOR) Gajayana Malang Jawa Timur, Sabtu? pekan lalu? (26/3), ada dua rekor yang ditorehkan. Pertama adalah pergantian hijab dari berwarna hijau menjadi putih oleh 50 ribu lebih peserta. Kedua, pemukulan rebana oleh seluruh peserta dan diikuti Presiden RI.



Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Rumit di Balik Suksesnya Harlah Muslimat NU



Ribuan massa Muslimat NU dari seluruh Indonesia yang mencapai hampir 70 ribu jamaah sungguh membuat bangga siapa saja yang hadir di GOR Gajayana Kota Malang. Mereka adalah utusan Muslimat NU dari seluruh kawasan di Tanah Air, yang tentu saja didominasi dari Jawa Timur.



RMI NU Tegal



RMI NU Tegal

Gubernur Jatim Pimpin Rapat

Sejak pagi, para rombongan telah memadati kawasan kota dingin ini. Ratusan bus dan mini bus merangsek memadati kota dari berbagai penjuru. "Untungnya koordinasi dan komunikasi lintas sektoral tersebut berjalan baik yang dilakuan panitia antara Pemerintah Kota Malang dan Jawa Timur," kata Helmi M Noor, Kamis (31/3) malam.





Pemilik Cita Entertainment dan menjadi pengatur jalannya prosesi Harlah ini mengemukakan bahwa, angka 70 ribu jamaah terlampaui berdasarkan laporan dari koordinator setiap kabupaten. Tidak tertampungnya jamaah di dalam hingga meluber di sekitar GOR adalah bukti bahwa kehadiran mereka sebagai kebanggaan.





Ditemui di kantornya, kawasan Pagesangan Surabaya, Helmi menjelaskan sejumlah tahapan yang dilakukan sehingga kegiatan berjalan sesuai harapan. "Peringatan Harlah Muslimat NU benar-benar melalui koordinasi yang sangat rapi dan terperinci," kata dia.





Seluruh kekuatan seakan dikerahkan untuk menyukseskan perhelatan akbar tersebut. "Bahkan Gubernur Jawa Timur H Soekarwo juga berkenan memimpin rapat secara langsung agar acara berjalan sesuai harapan," katanya. Karena itu, seluruh kepala dinas bahu membahu turut memberikan yang terbaik demi nama baik Jawa Timur.





Hal tersebut sangat terasa ketika pelaksanaan harlah. Dinas Perhubungan memberikan panduan di sejumlah titik strategis sebagai panduan agar rombongan dari berbagai kota tidak sampai tersesat. "Sejumlah petunjuk arah tersedia di banyak sudut kota saat akan memasuki Kota Malang," kata alumnus Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini.





Demikian pula pihak kepolisian turun dengan kekuatan penuh, mengurai jalan sehingga tidak terjadi penumpukan. "Tidak sedikit kendaraan peserta yang dikawal menuju lokasi acara sehingga tidak menimbulkan jalan menjadi macet," katanya.





Fasilitas pendukung juga demikian membantu. "Dinas pertamanan menyediakan 100 kran di setiap sudut sehingga peserta bisa melaksanakan Shalat Dhuhur berjamaah di dalam GOR," ungkapnya. Air yang tersedia juga termasuk istimewa karena didatangkan langsung oleh kepala dinas setempat. Demikian pula soal kebersihan, kepala dinas setempat turun langsung memimpin pasukan, lanjutnya.





Sejumlah billboard di jalur utama setiap kabupaten dan kota juga semakin memeriahkan gaung harlah. "Dan semuanya dipersembahkan untuk Muslimat NU, tanpa diminta," ungkapnya. Apa yang didermakan para pegiat dan pemilik usaha periklanan out door tersebut sebagai panggilan demi suksesnya acara. "Inilah kehebatan Muslimat NU," terang Helmi.





Tutorial Peserta

Bisa dibayangkan bagaimana ribet dan sulitnya mengatur puluhan ribu ibu-ibu muslimat yang notabene usianya juga lanjut untuk bisa satu komando. Apalagi mereka datang dari seluruh pelosok Indonesia yang tidak mungkin dikumpulkan untuk dikondisikan dan megetahui teknis acara. "Ini pekerjaan yang sangat menantang," sergah bapak 3 anak ini.





Meski demikian sejumlah upaya tetap dilakukan agar jangan sampai berkumpulnya ribuan jamaah perempuan NU tersebut justru menjadi masalah. "Kalau mereka satu komando dan rapi, pasti akan terlihat istimewa," kenangnya.





Akhirnya ditemukanlah sejumlah cara di antaranya mengirimkan tutorial dalam bentuk video kepada koordinator peserta di seluruh Indonesia. "Rekaman itu sekaligus panduan bahwa pada kegiatan harlah nanti para peserta harus mengikuti langkah dan gerakan yang ada," kata alumnus Universitas Darul Ulum Jombang ini.





Saat para peserta sudah memadati GOR, dilakukan gladi resik untuk memantapkan panduan yang telah ada. "Dan untuk menyeragamkan bacaan shalawat dan ketukan pada 50 ribu rebana, kami menyediakan leader atau pemandu," ungkap dia.





Dengan demikian, puluhan ribu peserta hanya mengikuti saja bacaan dan ketukan rebana sehingga tercipta keserasian nada. Jumlah pemimpin shalawat tersebut adalah 200 orang dari unsur paduan suara Muslimat NU Jombang, 200 santri dari Pesantren Bahrul Maghfirah Malang, serta 50 personel grup shalawat dari el-Kiswah Surabaya.





Dan kalau menyaksikan tampilan rekaman yang sudah diunggah di youtube, maka akan terlihat bahwa 50 ribu peserta Harlah Muslimat NU demikian terpandu dan melantunkan shalawat serta menabuh rebana yang telah dibawa dengan tertib. "Suasananya benar-benar syahdu. GOR yang demikian luas berselimutkan shalawat," bangga Helmi.





Mendadak Presiden Hadir

Hal yang juga tidak diduga panitia termasuk Ketua Umum PP Muslimat NU sendiri, Hj Khofifah Indar Parawansa adalah kedatangan Presiden RI. "Sebenarnya 15 hari sebelum kegiatan Harlah sudah ada kepastian bahwa Presiden RI akan hadir," katanya. Karena itu sejumlah acara telah disiapkan dengan mempertimbangkan kedatangan presiden.





Namun 3 hari jelang pelaksanaan Harlah, ada kabar bahwa presiden berhalangan hadir. "Oleh karena itu, semua persiapan acara yang melibatkan sebelum, saat dan usai presiden hadir akhirnya dipangkas dari agenda," kenang Helmi. Perubahan jadwal tersebut juga membawa berkah karena "kerumitan" akan terurai.





Oleh karena itu, seluruh persiapan dan rangkaian acara akhirnya dipastikan tanpa kehadiran orang nomor satu di negeri ini. "Bagi panitia, hal tersebut sebagai sesuatu yang melegakan lantaran tidak terlalu ribet dengan aturan yang mengikat," kata mantan wartawan Majalah AULA PWNU Jatim tersebut.





Namun dengan tanpa disangka sekitar jam 4 sore di hari Jumat (25/3) ada telepon dari protokoler Pemerintah Provinsi Jatim bahwa Presiden RI akan datang pada puncak Harlah Muslimat NU tersebut. "Sebentar lagi pihak protokoler Istana akan menghubungi untuk membicarakan kehadiran presiden," katanya menirukan telpon dari Pemprov Jatim.





Padahal sore itu sedang dilakukan gladi resik panitia dan petugas inti untuk kelancaran acara besok siang. Kepastian akan hadirnya Presiden RI membuat Ibu Khofifah dan panitia serta petugas menitiskan air mata. "Subhanallah, ini kejadian luar biasa dan tidak diduga," kata Helmi menirukan ungkapan Khofifah. Kala itu Helmi melihat hampir seluruh panitia dari unsur Muslimat NU dan diikuti petugas lain menangis. Air mata tumpah lantaran haru atas kejadian serba mendadak tersebut.





Benar juga, pihak protokoler istana akhirnya meminta jadwal acara secara rinci kepada panitia. Usai diemail, ada sedikit revisi yang diberikan istana terkait mata rangkai acara yang harus dilaksanakan besok siang karena melibatkan presiden. "Sekitar jam 10 malam, rangkaian acara disepakati," tegas Helmi.





Dan malam itu juga, pasukan khusus dari Jakarta terbang ke Malang dengan pesawat Hercules untuk koordinasi. "Kalau mengandalkan pesawat keesokan harinya pasti tidak akan nutut," katanya.





Dengan tindakan tegas dan langkah taktis tersebut, pihak istana bisa melakukan penyisiran lokasi dari jam 6 pagi. "Seluruh kawasan dilakukan sterilisasi untuk memastikan keamanan bagi presiden dan rombongan," katanya. Saat itu juga akhirnya dilakukan pembagian tugas. Helmi dan "pasukan" fokus ke acara, sedangkan hal yang menyangkut keamanan GOR dan sekitarnya menjadi tanggung jawab pasukan keamanan.





GOR Layaknya Padang Arofah

Dengan lancarnya arus kendaraan menuju GOR karena dibantu pihak kepolisian dan dinas perhubungan, sejak pagi satu demi satu jamaah Muslimat NU memasuki lokasi. Standar Operasional Prosedur (SOP) ala Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres) pun diberlakukan. "Warga Muslimat yang akan masuk GOR harus melewati pintu deteksi yang membuat sedikit krodit," kata dia.





Maklum, jauh-jauh sebelum acara telah disampaikan bahwa selama di dalam GOR, peserta tidak bisa keluar lagi hingga usai acara. Keperluan shalat, bekal makanan dan sejenisnya harus telah lengkap. "Kami mengingatkan kepada peserta bahwa jadikan GOR Gajayana layaknya Padang Arofah," kata Helmi.





Nah, yang jadi "masalah" adalah ketika mereka melewati pintu deteksi sebagai SOP Paspampres. "Beberapa kali alarm bahaya berbunyi lantaran peserta membawa sejumlah peralatan layaknya bepergian jauh," seloroh Helmi. Makanan dan minuman di dalam rantang, sendok, bahkan tidak sedikit yang membawa pisau atau silet menjadi pengiring suasana sehingga terjadi antrean panjang di pintu masuk. Apalagi kala itu hanya tersedia dua pintu utama yang dibuka. "Kalau di media muncul liputan bahwa peserta berdesakan, ada benarnya meskipun tidak semuanya tepat," bela dia. Karena itu adalah konsekuensi bagi kehadiran presiden.





Namun pada prinsipnya, acara berjalan sesuai harapan. Tidak ada rombongan yang mengeluh lantaran jauh sebelum acara telah dilakukan sosialisasi terkait persiapan tersebut. Apalagi para perempuan NU yang terhimpun dalam Muslimat kerap melaksanakan ziarah wali yang mengharuskan menyiapkan keperluan pribadi dan ibadah secara mandiri. "Kemah sejenak di GOR Gajayana bagi ibu Muslimat NU sudah terbiasa," tegas Helmi.





Pecahnya rekor Museum Rekor Indonesia atau MURI menjadi puncak kesuksesan acara tersebut. Ada 50 ribu lebih jamaah yang telah menyiapkan kerudung putih untuk digantikan dari awalnya hijau. "Dalam hitungan 1 hingga 9, GOR Gajayana yang awalnya bernuansa hijau, akhirnya berubah menjadi putih," katanya.





Demikian pula, rekor selanjutnya adalah pelantunan shalawat dengan menggunakan rebana, pecah hari itu. Di tribun utama ada Presiden RI, Ketua Umum MUI yang juga Rais Aam PBNU, Ketua MPR, Menteri Agama RI, Gubernur Jawa Timur dan Ketua Umum PP Muslimat yang juga Menteri Sosial secara bersama menabuh rebana mengiringi jamaah yang berjumlah 50 ribu lebih. "Sungguh, suasana saat itu sangat khidmat dan tidak sedikit peserta yang menangis sembari menengadah sembari melantunkan shalawat," jelas Helmi.





Ribuan jamaah berbaju hijau dengan kerudung putih dengan bacaan Shalawat Badar yang dilantunkan menjadi selimut bagi stadion yang biasanya digunakan acara konser musik dan pertandingan bola. "Peristiwa ini membawa pesan bahwa dengan hijab, Indonesia akan menjadi kiblat mode dunia di masa mendatang," ungkapnya. Bahwa kegiatan dengan mengundang jamaah berjumlah ribuan tidak identik dengan acara hura-hura, tapi sarat makna.





Demikian pula pelantunan shalawat yang diiringi alat musik tradisional khas Indonesia membawa filosofi bahwa Islam dan tradisi adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. "Inilah Islam Indonesia, inilah Islam Nusantara, dan inilah Islam rahmatan lilalamin," kata dia.





Seluruh rangkaian acara yang dihadiri Presiden RI tersebut berlangsung sekitar 85 menit. "Lebih cepat dari yang disepakati protokol istana yakni 90 menit," terang Helmi. Sehingga seluruh rangkaian acara diteliti dengan cermat. "Jalannya acara setiap detik dan menitnya kita hitung dengan cermat agar jangan sampai mengganggu jadwal presiden," katanya.





Bagi masyarakat yang tidak berkesempatan mengikuti acara di GOR Gajayana, Helmi telah menyediakan rangkumannya dalam 9 serial yang dipubilikasikan lewat youtube. "Ada tayangan singkat prosesi hijab terbanyak dan menabuh rebana bersama Presiden Jokowi yang sudah tayang," terangnya. Kemudian akan menyusul tayangan laskar antinarkoba, pidato Presiden Jokowi, pidato Khofifah, Jokowi menyapa jamaah di GOR, taushiyah KH Hasyim Muzadi, juga Khofifah saat menyanyi. Selamat. (Ibnu Nawawi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Ubudiyah, Budaya, Makam RMI NU Tegal

Minggu, 19 November 2017

PMII Surabaya Desak Pemerintah Tolak Revisi UU KPK

Surabaya, RMI NU Tegal

Penolakan terhadap rencana Revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (RUU KPK) kembali disuarakan. Kali ini desakan kepada Gubernur dan Bupati di Jawa Timur dilakukan oleh PC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Surabaya melalui aksi damai di depan Gedung Negara Grahadi, Rabu (17/2).

Sekretaris Umum PMII Surabaya, Irfan Jauhari mengatakan revisi UU KPK merupakan upaya sistematis politisi atau pejabat pemerintahan untuk membuka kran korupsi yang lebih besar. Sebab, tindakan penghancuran pemberantasan korupsi di Indonesia sudah sering direncanakan pelaku tindak pidana korupsi, mulai dari kriminalisasi hingga pembunuhan terhadap lembaga antirasuah ? tersebut.

PMII Surabaya Desak Pemerintah Tolak Revisi UU KPK (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Surabaya Desak Pemerintah Tolak Revisi UU KPK (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Surabaya Desak Pemerintah Tolak Revisi UU KPK

“Pelemahan ini harus dihentikan, sebab kami melihat revisi Undang-Undang tersebut hanya akan memperlambat dan melemahkan kinerja dan kekuatan KPK. KPK kuat bersama rakyat dan mahasiswa,” ujarnya bersemangat.

Ia menjelaskan pasal yang mengarah pada pelemahan KPK tertera dalam beberapa pasal. ? Diantaranya Pasal 5, Pasal 7 huruf d, Pasal 13, Pasal 14 ayat 1, dan Pasal 53 ayat 1. Dalam pasal-pasal tersebut tertera penyadapan dapat dilakukan apabila telah disetujui dewan pengawas.?

RMI NU Tegal

Para mahasiswa terus meneriakkan agar keberadaan KPK tetap dikuatkan, bukan sebaliknya apalagi dengan tindakan diskriminasi. Revisi UU KPK dinilai sebagai upaya pelemahan dengan cara legal. Salah satunya membatasi umur KPK hanya 12 tahun, membatasi kewenangan dengan tidak memiliki tugas dan kewenangan melakukan penuntutan, hanya menangani perkara korupsi dengan kerugian minimal Rp 25 miliar dan tidak melakukan rekrutmen pegawai secara mandiri.

Ia juga menagih janji politik Presiden Joko Widodo yang berkomitmen mewujudkan Nawacita. Termasuk menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya. “Presiden harus hadir dalam mengawal upaya pelemahan KPK. Jika KPK lemah berarti melindungi koruptor,” tegasnya.?

Aksi damai puluhan aktivis PMII dari berbagai kampus, UIN Sunan Ampel, Universitas Bhayangkara, UPN Veteran Jatim, STAI Tasfiwirul Afkar, Unesa, ITS dan Universitas Airlangga ini bertepatan dengan pelantikan sebanyak 17 bupati/walikota di seluruh Jawa Timur. Meski sempat dihalangi petugas kepolisian, mahasiswa tetap kukuh menyampaikan aspirasi agar Gubernur dan Bupati menolak Revisi UU KPK. (Lukman Hakim/Fathoni)

?

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Makam, Doa, Nahdlatul Ulama RMI NU Tegal

Selasa, 07 November 2017

Raja Arab Saudi, Nahdlatul Ulama dan Islam Nusantara

Oleh: M. Rikza Chamami



Hari ini, Rabu 1 Maret 2017 menjadi sejarah baru harmoni dua negara berpenduduk mayoritas Muslim, Indonesia-Arab Saudi. Kemesraan ini bukan hal yang baru, mengingat memang selama ini dua negara sudah saling bekerja sama.

Ada yang aneh dan di luar kebiasaan kunjungan Kepala Negara lainnya. Kehadiran Raja Salman seakan membuat heboh media karena membawa 1.500 rombongan dengan tujuh pesawat dan perlengkapan serba mewah.

Raja Arab Saudi, Nahdlatul Ulama dan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Raja Arab Saudi, Nahdlatul Ulama dan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Raja Arab Saudi, Nahdlatul Ulama dan Islam Nusantara

Wajar saja, negara Petro Dollar itu memang sangat menghormati Rajanya dan ingin memberikan yang terbaik ketika hadir kemanapun. Indonesia juga menyambut dengan penuh kegembiraan.

Buktinya, titik lokasi yang dikunjungi Raja Salman dari Istana Bogor, Gedung DPR/MPR, Masjid Istiqlal, Hotel dan Bali sudah dipersiapkan secara khusus. Bahkan kekuatan TNI dan Polri dikerahkan khusus dalam pengamanan Khadimul Haramain ini.

RMI NU Tegal

Dalam keterangan resmi Duta Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi dijelaskan bahwa Jokowi dan Raja Salman akan menandatangani 10 kerja sama. Di antara kerja sama yang penulis singgung dalam tulisan singkat ini adalah terkait kerjasama bidang agama dan keagamaan.

Jangan sampai dengan janji-janji kerja sama bidang ekonomi dengan nilai investasi USD 25 miliar atau sekitar Rp.333 triliun (kurs USD Rp.13.350), problem keagamaan lenyap dari perhatian publik.

Tour Raja Arab Saudi ke berbagai negara Asia memang baru menjadi sorotan dunia. Apalagi kebijakan politik diskriminatif Donald Trump kepada Timur Tengah baru-baru ini membuat Arab Saudi mulai berpikir mencari mitra strategis.

RMI NU Tegal

Maka pilihan Arab Saudi berkomitmen menjalin kemitraan dengan Indonesia, Malaysia, China dan Jepang bernilai strategis. Oleh sebab itu, Indonesia harus mampu menangkap semua peluang kemitraan dengan Arab Saudi.

Bagi Arab Saudi sendiri, Indonesia pasti dianggap sangat istimewa karena menyumbang jamaah umroh dan haji yang sangat besar. Termasuk Indonesia dianggap sebagai saudara karena memiliki tenaga kerja terbesar di tanah suci itu.

*Kesan Positif*

Kesan Indonesia yang bermadzhab Sunni dan Arab Saudi bermadzhab Wahabi bukan satu-satunya pemisah bekerjasama. Sebab masyarakat Arab sendiri sangat menghormati keanekaragaman madzhab dan bahkan menjalin kerja sama dengan negara-negara sekuler.

Maka, jika selama ini bantuan yang mengalir dari Arab Saudi ke Indonesia boleh dibilang salah sasaran. Kenapa? Sebab bantuan itu justeru beralamat bagi "Islam Ngamukan" dan "Islam Fentungan" yang tidak khas Indonesia.

Masyarakat Indonesia yang toleran dijual dan dihasut anti Arab--oleh mereka. Intinya agar bantuan itu diambil mereka sendiri. Alhasil, pola busuk itu membuat suasana yang makin runcing.

Awal Maret 2017 menjadi momentum yang baik untuk Indonesia dalam mengenalkan Islam Indonesia. Siapa? Nahdlatul Ulama sebagai wadah mayoritas muslim Indonesia.

NU adalah pewaris Islam Arab yang sudah mengindonesia, bukan mengindonesiakan Arab. Sehingga jika ingin memahami Islam Indonesia perlu melihat NU sebagai organisasi terbesar dengan sikapnya yang sangat Islami dan moderat.

Bahkan NU mengajari untuk menghormat orang-orang Arab keturunan Nabi Muhammad dengan sebutan Habib, Yek atau Sayyid. Rasa hormat warga NU pada keturunan Arab juga diaktualisasikan dengan gelar acara rutin maulid bersama para habaib.

NU menjadi satu-satunya lembaga Islam yang sangat konsisten menggunakan kitab Arab dan ilmu Arab. Kajian-kajian di Madrasah dan Pondok Pesantren hingga kini masih mempertahankan kitab-kitab berbahasa Arab.

Maka, jika menyebut NU sebagai sebuah jamiyyah tidak akan lepas dari manhaj Arab. Apalagi jika dirunut sanad keilmuan para pendiri NU, ilmu yang diajarkan hingga kini berasal dari negeri Arab dan dari guru-guru Arab.

Oleh sebab itu, kehadiran Raja Salman ke Indonesia menjadi sebuah momentum baru bagi penataan agama dan keagamaan Islam khas Indonesia atau Islam Nusantara.

Pemahaman komprehensif Arab Saudi terhadap Islam Nusantara akan semakin memantapkan arah kerjasama keagamaan. Sebab boleh dipastikan, peserta umroh, haji dan ziarah ke Arab Saudi adalah warga NU. Termasuk para pelajar dan tenaga kerja di Arab Saudi juga banyak dari NU. Sebab NU-lah yang memiliki kesadaran menjalankan sunnah dan dekat dengan garis sanad ilmu Arab.

Jika memang momentum ini dapat dibuka, maka akan ada warna kiblat keagamaan yang bersifat pelangi, yaitu Pelangi Nusantara Arabia. Sebab kekhasan Arab jika sudah menyatu dengan Indonesia akan tampak beda. Apalagi kekhasan itu diracik oleh NU, pasti ada seni dan budaya yang begitu indah.

Itulah ciri khas keNUan yang sejak awal menjadikan Wali Songo sebagai kiblat Islam Nusantara. Dari para tokoh Walisongo yang berasal dari keturunan bangsa Arab itu, NU berdiri dan besar hingga saat ini. Menyebut orang NU anti-Arab, sama halnya dengan menutup sejarah dan tidak paham sejarah.

Selamat berNU dan berArab.*)

Penulis adalah Dosen UIN Walisongo & Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Makam, Doa RMI NU Tegal

Senin, 06 November 2017

Maulid Tradisi Baik untuk Teladani Nabi Muhammad

Probolinggo, RMI NU Tegal. Sebagai upaya menjaga tradisi ke-NU-an di kalangan pelajar, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Probolinggo memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Kamis (15/12) malam.

Maulid Tradisi Baik untuk Teladani Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid Tradisi Baik untuk Teladani Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid Tradisi Baik untuk Teladani Nabi Muhammad

Kegiatan yang dipusatkan di Kantor PCNU Kota Probolinggo ini diikuti oleh 50 orang peserta terdiri dari perwakilan pembina (majelis alumni) pengurus PC IPNU-IPPNU Kota Probolinggo. Serta perwakilan Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Komisatiat (PK) IPNU-IPPNU se-Kota Probolinggo.

Ketua PC IPNU Kota Probolinggo Anton mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk menambah rasa cinta pelajar NU terhadap Nabi Muhammad SAW sekaligus semakin menambah kekompakan pengurus PC IPNU-IPPNU Kota Probolinggo dan PAS serta Majelis alumni PC IPNU-IPPNU Kota Probolinggo.

“Melalui kegiatan ini kami berharap agar IPNU-IPPNU di Kota Probolinggo semakin kompak dan semakin besar dengan melaksanakan dan menjaga tradisi-tradisi ke-NU-an sekaligus menjadi media menampung aspirasi para pelajar,” harapnya.

RMI NU Tegal

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua PC IPPNU Kota Probolinggo Nur Baiti As-Syiddiqy. Menurutnya, kegiatan ini bisa menjadi sarana untuk meneladani akhlak dan perilaku Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari

“Sebagai pelajar kita wajib melestarikan semua tradisi-tradisi yang dilakukan oleh para ulama-ulama NU. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa semakin meningkatkan rasa cinta kita kepada Rasulullah SAW,” katanya.

RMI NU Tegal

Dalam kesempatan tersebut, Pembina PC IPNU-IPPNU Kota Probolinggo Kiai Saiful Islam. Dirinya berharap agar keberadaan IPNU-IPPNU supaya bisa menjadi organisasi yang berintelektual dan kompak yang menjadi contoh bagi pemuda serta bisa menjaga tradisi NU. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Olahraga, Makam RMI NU Tegal

Rabu, 25 Oktober 2017

Santri Darunnajah Dilatih Perbanyak Konten Positif di Internet

Bogor, RMI NU Tegal. Pondok Pesantren Darunnajah, Cipining, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menyelenggarakan pelatihan seputar jejaring media sosial bagi para santri setempat, Kamis (23/4). Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperbanyak konten positif di dunia maya.

Pelatihan tersebut diikuti 57 orang dengan membawa labtop. Para peserta juga terdiri dari para pendidik dan mahasiswa dari lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola Yayasan Darunnajah se-Jabodetabek dan Banten.

Santri Darunnajah Dilatih Perbanyak Konten Positif di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Darunnajah Dilatih Perbanyak Konten Positif di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Darunnajah Dilatih Perbanyak Konten Positif di Internet

"Sebelum terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi, santri perlu diberikan pendidikan media sosial, agar mereka mampu menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan," jelas KH Dr Sofwan Manaf,? pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Pusat.

RMI NU Tegal

Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan itu pakar media sosial Hariqo Wibawa Satria dari Magnitude. Ia menjelaskan apa yang tidak boleh dan bisa dilakukan di media sosial, perencanaan dan optimalisasi penggunaan media sosial untuk pribadi dan organisasi, hingga praktik pembuatan konten-konten media sosial.

RMI NU Tegal

Menurut Hariqo, dulu masyarakat pasif dan hanya jadi penikmat konten. Tapi sekarang siapapun, asal mau, sudah bisa jadi koki atau produsen konten. Ia juga mengapresiasi kemampuan santri-santri Darunnajah membuat konten utamanya video.

"Saya hanya beri waktu 30 menit, sudah jadi 11 video yang kreatif dan inspiratif. Makin banyak video positif yang kita upload, makin sehat dunia maya," tambah Hariqo.

Hartati, seorang peserta mengaku inilah pertama kali dirinya membuat video. "Kita tak bisa menyalahkan terus banyaknya konten negatif di internet, saatnya kita berlomba-lomba mengupload konten positif sebanyak mungkin," katanya. (Sigit Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal PonPes, Internasional, Makam RMI NU Tegal

Ketua LTNNU Jember Juara Penyuluh Teladan Jawa Timur

Jember, RMI NU Tegal - Ketua Kelompok Kerja Penyuluh Agama Islam Kabupaten Jember Muhammad Muslim meraih juara 1 Lomba Penyuluh Teladan Jawa Timur yang digelar di? aula Kanwil Kemenag Jawa Timur, Selasa lalu. Lelaki yang juga Ketua LTNNU Jember ini berhasil meraih prestasi itu setelah mengungguli 38 penyuluh dari seluruh kabupaten/kota se-Jawa Timur dengan mengumpulkan nilai 3.372.

"Saya melakukan ini bukan untuk menjadi teladan, karena tugas penyuluh itu harus berbuat baik, bukan berebut menjadi yang terbaik. Tapi, saya bangga bisa menjadi yang terbaik," ujarnya kepada RMI NU Tegal di Jember, Sabtu (15/7).

Ketua LTNNU Jember Juara Penyuluh Teladan Jawa Timur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua LTNNU Jember Juara Penyuluh Teladan Jawa Timur (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua LTNNU Jember Juara Penyuluh Teladan Jawa Timur

Muslim patut berbangga. Upaya untuk menggapai posisi ini tidaklah mudah. Ada sekian tahapan yang harus dilewati, mulai dari penilaian makalah, croscek lapangan hingga adu argumentasi di depan juri yang terdiri atas para professor.

Menurut Ketua Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) se-Eks Karesidenan Besuki ini, prestasi yang diraih tidak lepas dari semangat dan keiklasannya dalam memberikan bimbingan di berbagai lembaga, utamanya di Lapas Kelas II A Jember dan Masjid Muhammad Cheng Ho. Makalah yang ia angkat juga memotret kegiatannya di dua lembaga tersebut.

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal

"Saya punya banyak sekali kelompok binaan dan kelompok sasaran binaan, tapi yang menyedot perhatian lebih ada dua, yakni lapas dan Masjid Cheng Ho. Maka, dari keduanya saya menulis makalah atau karya ilmiah," tegasnya.

Di babak penyisihan, ia menyodorkan kegiatan bimbingannya di Lapas Kelas II A Jember dengan mengangkat judul Model Penyuluhan di Lapas Berbasis Kultur Pendidikan Pesantren. Semua tahapan di babak ini berhasil dilewati Muslim dengan baik.

Ia akhirnya mencapai babak final, dan bertarung dengan enam finalis penyuluh teladan. Mereka adalah penyuluh dari Kabupaten Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Ponorogo dan Jember. Di babak ini, Muslim mengangkat aktivitas pembinaannya di Masjid H Muhammad Cheng Ho yang dituangkan dalam makalah berjudul Pembinaan Keagaman dan Ekonomi Muallaf di Masjid Cheng Hoo dalam Bingkai Fiqh Progresif.

"Alhamdulillah nilai saya tertinggi (3.372)," kata Muslim.

Dengan capaian ini, Muslim berhak mewakili Kanwil Kemenag Jatim untuk lomba penyuluh teladan nasional yang akan dilaksanakan Agustus 2017. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Syariah, Makam, Pahlawan RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock