Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

Gelar Sultan itu Fondasi Keraton Kasultanan Mataram Islam

Yogyakarta, RMI NU Tegal. Gelar Sultan sesungguhnya merupakan bentuk amanat leluhur, yaitu fondasi Keraton Kasultanan Mataram Islam. Ia memuat berbagai makna, filosofi, dan bahkan teologi yang merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang dikandungnya. Ia mencerminkan visi dan misi institusi yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua PWNU DIY, Drs Kiai Jadul Maula dalam konferensi pers di kantor PWNU, Jl MT Haryono 40-42 Yogyakarta, Selasa (2/6) menanggapi Sabdaraja Sultan HB X yang menghilangkan beberapa gelar Sultan, diantaranya Ngabdurrahman, Sayidin Panotogomo, dan Kalifatullah.

Gelar Sultan itu Fondasi Keraton Kasultanan Mataram Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Sultan itu Fondasi Keraton Kasultanan Mataram Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Sultan itu Fondasi Keraton Kasultanan Mataram Islam

Kiai Jadul menjelaskan, bahwa selama ini PWNU banyak menampung keresahan masyarakat dan ulama pesantren dari berbagai daerah. Bukan hanya dari sekitar DIY, namun juga dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, hingga luar Jawa.

RMI NU Tegal

“Ada stigmatisasi perubahan gelar terhadap Islam. Ibarat rumah yang diganti bukan hanya pintu atau mengganti cat, tapi pondasi. Jadi implikasinya sangat besar,” tegas Kiai Jadul.

Hal ini, lanjutnya, lebih pada keprihatinan keagamaan dalam menyelamatkan kehidupan bermasyarakat, di luar wilayah politik. Ada kegelisahan di kalangan kiai tentang perubahan gelar tersebut. Karena ini tanpa diserta argumen yang jelas dan disepakati secara syar’i.

RMI NU Tegal

Kiai Jadul Maula kembali menegaskan, akibat perubahan gelar itu ada keresahan dikalangan kiai NU. Karena mereka beranggapan bahwa perubahan gelar ini telah menjadikan adanya stigmatisasi terhadap Islam. Gelar tersebut semua diambil dari Islam melalui perjalanan yang panjang. Sehingga jika gelar itu diubah maka ada proses pengaburan ke-Islam-an tersebut.

Makna gelar Sultan universal

Menurut Kiai Jadul, makna gelar sultan itu universal. Mengubah makna itu berarti ada yang hilang dalam diri kasultanan. ?

“Konsep-konsep penting di dalam gelar seperti: Ngabdurrahman, Sayidin Panotogomo, Kalifatullah, mengandung makna dan amanat bahwa seorang Sultan haruslah mewujudkan pengabdiannya yang tulus kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang dengan laku dan tindakan yang menjaga dan mengupayakan keseimbangan alam, religiusitas masyarakat dan kerukunan antar umat beragama serta keadilan sosial di tengah-tengah warganya,” tegasnya.

Kiai Jadul menjelaskan bahwa gelar Ngabdurrahman mengandung arti bahwa meski menjadi raja, Sultan adalah tetap hamba Allah SWT yang memiliki kasih sayang dengan sesama, termasuk kepada alam. Sedangkan gelar Sayidin Panotogomo, ? dalam pesantren mengandung arti adalah orang yang berkewajiban meningkatkan religiusitas masyarakat dan menata umat beragama yang berbeda agar harmonis. Gelar khalifatullah sendiri berarti Sultan adalah duta Allah SWT yang menegakkan kebenaran dan keadilan.?

“Dengan makna demikian, kami menganggap gelar-gelar itu penting. Adanya gelar itu sudah terbukti dari berdirinya Kraton Yogyakarta sebagai Kraton yang paling lama bertahan hingga sekarang,” tegasnya.? Karena itu, tandasnya, PWNU bersikap, gelar itu mesti dipertahankan. Jika gelar ini dihilangkan maka akan kehilangan porosnya. Karena gelar itu tidak semata-mata nama melainkan sebagai pengikat kontrak teologis, kontrak alam dan kontrak sosial. (Suhendra/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pertandingan, Cerita RMI NU Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Menulis Menyehatkan Jiwa

Yogyakarta, RMI NU Tegal. Menulis itu menyehatkan jiwa. Ketika menulis, Anda seperti orang curhat. Anda tidak butuh seorang psikiater atau seorang kawan. Anda cukup merepotkan diri sendiri untuk merangkai kata. Demikian diungkapkan Abidah El-Khalieqy dalam acara Sarasehan Sastrawan Perempuan (17/3).

Menulis Menyehatkan Jiwa (Sumber Gambar : Nu Online)
Menulis Menyehatkan Jiwa (Sumber Gambar : Nu Online)

Menulis Menyehatkan Jiwa

“Secara pribadi, saya merasa banyak penyakit yang hilang setelah menulis. Selain itu, menulis merupakan kebanggaan tersendiri,” tambahnya lagi.

Acara yang berlangsung di Pendopo Yasayan LKiS, Jl Pura No 203 Sorowajan, Yogyakarta tersebut merupakan hasil kerja sama antara PW Fatayat NU, bioskop Gadjah Wong Cinema, dan LKiS.  

RMI NU Tegal

Narasumber yang dihadirkan dalam acara tersebut di antaranya ialah penulis perempuan berkalung surban, Abidah El-Khalieqy, Cerpenis asal Pati, Ulfatin Ch, dan perwakilan dari komunitas Mata Pena, Isma Kazee. Tema yang disoroti dalam acara sarasehan kali ini ialah “Pengarusutamaan Gender dalam Kaya Sastra.”

RMI NU Tegal

Acara tersebut dihadiri oleh santri laki-laki dan perempuan serta kalangan Fatayat NU sendiri. Selain menggelar sarasehan sastra, acara yang dimulai sejak pukul 09.30 tersebut juga menyuguhkan film tentang kepenulisan oleh bioskop Gadjah Wong Cinema. Gadjah Wong Cinema merupakan salah satu bioskop miliki Lesbumi DIY yang memiliki tempat pemutaran film di Ngeban Resto, Jl. Cendrawasih, Gaten, Depok, Sleman. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Rokhim Bangkit  

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Cerita RMI NU Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Bukan Veto, Pengambilan Keputusan PBB Seharusnya dengan Suara Terbanyak

Jakarta, RMI NU Tegal. Ada 128 negara yang menentang keputusan sepihak Amerika Serikat yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Hanya sembilan yang mendukung Amerika Serikat, sebanyak 35 negara lainnya abstain, dan 21 negara sisanya abstain dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SMU PBB) yang digelar di New York, Kamis (21/12).

Menanggapi hal itu, Pakar Timur Tengah Universitas Indonesia (UI) Abdul Muta’ali menyebutkan, hasil tersebut menunjukkan bahwa mayoritas negara di dunia ini bersama Palestina dan menolak klaim sepihak Amerika Serikat.

Bukan Veto, Pengambilan Keputusan PBB Seharusnya dengan Suara Terbanyak (Sumber Gambar : Nu Online)
Bukan Veto, Pengambilan Keputusan PBB Seharusnya dengan Suara Terbanyak (Sumber Gambar : Nu Online)

Bukan Veto, Pengambilan Keputusan PBB Seharusnya dengan Suara Terbanyak

“Artinya,  mayoritas negara-negara di dunia melalui forum Sidang Majelis Umum PBB bersama Palestina,” kata Muta’ali kepada RMI NU Tegal melalui pesan tulis, Jumat (22/21).

Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI ini menyayangkan, hasil pemungutan suara tersebut hanya bersifat rekomendasi. Ia berharap, ke depan PBB harus mengubah pola pengambilan resolusi keputusan, yaitu berdasarkan dengan suara terbanyak.

“Bukan melalui veto,  melainkan suara terbanyak,” katanya.

Menurut dia, hasil pemungutan suara (voting) ini bisa dijadikan sebagai ajang untuk mengucilkan Amerika Serikat. Negara-negara yang menentang tersebut bisa membangun klausul baru untuk menentang klaim sepihak Donald Trump.

RMI NU Tegal

Selain itu, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) bisa membawa keputusan Trump tersebut ke Mahkamah Internasional di Den Haag Belanda. Ini bisa menjagal keputusan sepihak Trump tersebut.    

“Hal ini dilakukan untuk mencegah Intifada ketiga, agar tak banyak lagi korban yang berjatuhan,” terangnya.

Pada 1967, Israel menduduki wilayah Palestina, termasuk Yerusalem. Tetapi, PBB menerbitkan Resolusi yang menyatakan bahwa Yerusalem di bawah otoritas internasional. Pada 1980, Israel membuat Undang-Undang yang menyatakan Yerusalem adalah ibu kotanya. Tahun 1995, Amerika Serikat menguatkan UU tersebut. Hingga kemudian yang terbaru adalah keputusan sepihak Trump yang menyebutkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Rabu, 6 Desember 2017 lalu.

RMI NU Tegal

“Segala upaya untuk mengubah status quo Yerussalem merupakan tindakan ilegal,” tegas Doktor lulusan Universitas The Holy Quran and Islamic Sciences Sudan ini. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Makam, Nahdlatul Ulama, Cerita RMI NU Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Fasilitasi Jiwa Kewirausahaan Santri, Pesantren Al-Nahdlah Buka eLSAS Mart

Jakarta, RMI NU Tegal - Direktur Pesantren Al-Nahdlah Depok KH Asrorun Niam Sholeh resmi membuka eLSAS Mart, sejenis minimarket, Ahad (23/4). Upacara ini menandai beroperasinya eLSAS Mart di lingkungan Pesantren Al-Nahdlah, Depok, Jawa Barat.

Katib Syuriyah PBNU ini menegaskan, di samping melayani kebutuhan para santri, eLSAS Mart ini juga berfungsi sebagai laboratorium kewirausahaan santri.

Fasilitasi Jiwa Kewirausahaan Santri, Pesantren Al-Nahdlah Buka eLSAS Mart (Sumber Gambar : Nu Online)
Fasilitasi Jiwa Kewirausahaan Santri, Pesantren Al-Nahdlah Buka eLSAS Mart (Sumber Gambar : Nu Online)

Fasilitasi Jiwa Kewirausahaan Santri, Pesantren Al-Nahdlah Buka eLSAS Mart

"Ini akan difungsikan sebagai laboratorium kewirausahaan santri Al-Nahdlah. Ke depan, di samping tafaqquh fid din, santri Al-Nahdlah siap menjadi interpreneur santri," kata Kiai Asrorun Niam seperti dalam rilisnya kepada RMI NU Tegal.

Kehadiran eLSAS Mart dimaksudkan sebagai wahana pengembangan kewirausahaan para santri. eLSAS Mart didirikan atas kemitraan pihak pesantren dan manajemen Alfamart. Di samping jual-beli, kerja sama Al-Nahdlah dan Alfamart juga bergerak pada bidang pelatihan kewirausahaan santri, melalui lini SDM dan bisnis center.

RMI NU Tegal

"Pendidikan kewirausahaan akan masuk dalam kurikulum Al-Nahdlah di bawah kemitraan dengan tim Alfamart," tegasnya.

RMI NU Tegal

Sebelum kehadiran eLSAS Mart, Al-Nahdlah sudah memiliki kawasan pusat bisnis Al-Nahdlah yang terdiri atas beberapa kios dan rumah sewa untuk menopang kegiatan sosial dan pendidikan. Semuanya berada di bawah Yayasan Lembaga Studi Agama dan Sosial (eLSAS Foundation). (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Cerita RMI NU Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Rais Aam: NU Mengayomi Semua Umat

Garut, RMI NU Tegal. Pejabat Rais Aam PBNU KH A. Mustofa Bisri menegaskan NU adalah pemimpin umat, bukan pemimpin sebagian umat saja. Pemimpin yang hanya mengayomi sebagian golongan saja tidak layak disebut sebagai pemimpin. NU didirikan untuk mengayomi semua umat.

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini kemudian merujuk pada masa pra-lahirnya jam’iyyah? Nahdlatul Ulama. Saat itu para santri muda yang kemudian menjadi pendiri NU menjalin komunikasi dan memikirkan strategi perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia di tengah-tengah masa studi mereka di Arab Saudi.

Rais Aam: NU Mengayomi Semua Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam: NU Mengayomi Semua Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam: NU Mengayomi Semua Umat

"Para santri muda tersebut diantaranya adalah KH Hasyim Asy’ari (Jombang), KH Bisri Sansuri (Denanyar), KH Wahab Hasbullah (Tambakberas), dan KH Anwar Musyaddad (Garut)," katanya pada pidato majma buhuts an-nahdliyah di pesantren Al-Musaddadiyah, Garut, Jawa Barat, Sabtu (31/5).

RMI NU Tegal

Dalam kapasitasnya sebagai santri, mereka tidak saja mendoakan komunitas pesantren di tanah air, melainkan juga mendoakan seluruh rakyat Nusantarayang sedang dijajah. Bahkan, kemudian kecintaan para santri muda di tanah Arab itu terejawantahkan ketika mereka mulai mendiskusikan perlunya organisasi yang akan mewadahi kaum santri dan pesantren untuk merebut kedaulatan Nusantara dari tangan penjajah.

RMI NU Tegal

Dimensi jam’iyyah dan sekaligus jama’ah

Masih menurut KH A. Mustofa Bisri, para pendiri NU sadar betul dawuh Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah bahwa kebathilan yang terorganisir saja akan mengalahkan kebaikan, apalagi bila kebaikan diorganisir maka niscaya problematika umat dan bangsa akan dengan mudah diselesaikan.

Namun sayangnya, kritik Gus Mus, NU hingga kini belum juga bertransformasi menjadi jam’iyyah atau organisasi yang sesungguhnya. NU hanya kuat pada tingkat jama’ah saja. Padahal yang menjadi garis pembeda antara NU dengan organisasi-organisasi lainnya adalah NU memiliki dimensi jam’iyyah dan sekaligus jama’ah.

“Ini yang otentik dari NU dan tidak ada di organisasi lainnya. Kalau pun ada itu hanya meniru-niru NU,” tegas Kiai yang produktif menulis karya sastra ini.“Bila banyak pengamat NU seperti Mitsuo Nakamura, Andree Feillard, atau Martin van Bruinessen heran kenapa organisasi seperti NU ini tidak mati-mati, justru saya heran kenapa organisasi sebesar ini tidak hidup-hidup juga,” kritik Gus Mus yang disahut dengan tepukan riuh peserta yang hadir.

Pejabat Rais Aam yang menggantikan tongkat kepemimpinan KH Sahal Mahfudh ini menyebutkan,? yang membedakan antara NU dengan organisasi lainnya adalah karena NU bermula dari adanya komunitas-komunitas di berbagai penjuru Nusantara. Komunitas-komunitas tersebut memiliki karakteristik yang sama, yakni ada kiai, santri dan masyarakat pesantren. Dengan kata lain, NU sudah terlebih dahulu lahir sebagai jama’ah yang kemudian melatar-belakangi kelahirannya sebagai jam’iyyah (organsiasi).

Hal lain yang membuat NU otentik dibandingkan dengan organisasi lainnya adalah keberadaan orang-orang yang seolah-oleh mewakafkan dirinya untuk masyarakat. Mereka adalah para kiai yang jadi sumber rujukan masyarakat.

Gus Mus memberikan contoh, misalnya orang sakit datang ke kiai untuk diberi minum air yang sudah didoakan, orang tua menitipkan anaknya di pesantren untuk diberi pengetahuan, ingin berdagang minta didoakan agar dagangannya laris, akan bercocok tanam sowan ke kiai untuk didoakan agar tidak diserang hama, dan seterusnya. Semuanya dipenuhi para kiai tanpa dibayar. Para kiai tersebut hanya ingin meniru Nabi Muhammad SAW yang memperkenalkan konsep pemimpin sebagai khadimul ummah, bukan pemimpin yang justru merepotkan umatnya.

‘Alaikum bil NU’

Namun sayangnya, kiai yang penyair tersebut mengajukan kritik, sebagai organisasi besar NU seringkali diperalat oleh orang-orang luar. Padahal Gus Mus berkeyakinan bahwa apa yang disebut ‘alaikum bis sawadil a’dhom adalah sama dengan ‘alaikum bil NU’.

Anggota NU saat ini lebih dari 70 juta pengikut. Pengikut NU saja sudah tiga kali lipat lebih dibandingkan dengan jumlah total penduduk Arab Saudi. “Namun sebagai organisasi, NU hingga kini belum sepenuhnya organisatoris, kata Gus Mus.”

Bila NU bisa lebih terstruktur, niscaya akan menjadi kekuatan yang dahsyat bagi perubahan di negeri ini. Hal ini bisa terjadi bila, salah satunya, NU menjalankan tertib organisasi secara benar seperti semua elemen di tubuh NU berada satu garis komando dari Rais Aam. (Saifuddin Ihsan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Anti Hoax, Internasional, Cerita RMI NU Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Tabarruk Dipraktikkan Sejak Zaman Nabi

Jakarta, RMI NU Tegal. Mengharap bertambahnya kebaikan (tabarruk) melalui orang dan benda-benda tertentu pernah dipraktikkan sendiri oleh Rasulullah SAW, kemudian diikuti para sahabat, tabi’in, dan para penerusnya. Selama tetap memelihara tali tauhid, kegiatan tabarruk sah dilaksanakan dan akan berdampak positif bagi yang melakukannya.

Demikian pokok materi Kajian Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang digelar Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), Rabu (31/5) malam, di Gedung PBNU, Jakarta Pusat. Hadir dalam kesempatan ini, Ketua PP LDNU KH Zakky Mubarak, Wakil Ketua PP LDNU Syamsul Ma’arif, KH Abu Na’im Khofifi, serta sejumlah pengurus PBNU dan ulama lainnya.

Tabarruk Dipraktikkan Sejak Zaman Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tabarruk Dipraktikkan Sejak Zaman Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tabarruk Dipraktikkan Sejak Zaman Nabi

Kajian bertema “Konsep Tabaruk dalam Islam” ini dipimpin KH Misbahul Munir, pengasuh Pesantren Ilmu al-Qur’an al-Misbah. Menurutnya, dalil tabarruk bisa ditemukan secara jelas dalam al-Qur’an, Hadits, teladan sahabat, dan sejumlah kitab-kitab induk ulama klasik. 

RMI NU Tegal

Misbahul mengutip surat al-Baqarah (125). Ayat ini turun dilatari pertanyaan Umar kepada Rasulullah tentang keberadaan lokasi berdiri (maqam) Nabi Ibrahim. Nabi menjawab, lalu turun ayat “dan jadikanlah maqam Ibarahim sebagai tempat shalat.” Ia menunjukkan dalil lain dalam surat al-Baqarah (248) dan surat Yusuf (96).

Misbahul juga melanjutkan, Nabi sendiri pernah bertabarruk dengan air wudhu kaum muslimin dengan cara menyuruh mengambilkan air dari tempat bersuci kaum muslimin lalu meminumnya. “Fayasyrab yarju barakata aidil muslimin (lalu Nabi minum seraya mengharap keberkahan dari tangan-tangan kaum muslimin),” ujarnya merujuk hadits dalam kitab Syu’abul Iman.

RMI NU Tegal

Para sahabat dan ulama-ulama terkemuka, lanjutnya, juga turut memeragakan tabarruk, seperti mencium tangan, ziarah, menghormati tempat dan barang-barang khusus, bahkan menggunakannya sebagai sarana (wasilah) untuk tujuan-tujuan tertentu.

Kajian Aswaja merupakan agenda rutin PP LDNU sebagai bagian dari rangkaian acara Istighasah dan Pengajian Bulanan yang diselenggarakan saban Rabu malam pada minggu terakhir tiap bulan. Tujuannya adalah untuk memperluas wawasan, memupuk kebersamaan, dan menghindari permusuhan antarkelompok yang berbeda pandangan keagamaan.

 

Redaktur : Syaifullah Amin

Penulis     : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal IMNU, Cerita RMI NU Tegal

Abdullah Syarwani: Sangat Tepat Penolakan PBNU Terhadap Khilafah

Jakarta, RMI NU Tegal. Sikap tegas Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang menolak penerapan sistem kekhalifahan di Indonesia dinilai sangat tepat oleh H Abdullah Syarwani SH, Dubes RI untuk Lebanon, baik secara kultur maupun geopolitik.

Dikatakan, isu kekhilafahan sendiri tidak cukup popular di negara-negara Timur Tengah Sendiri. Hamas di Palestina, maupun Hizbullah yang sangat kuat di Lebanon sama sekali tidak mengangkat isu khilafah, walaupun keislaman mereka terbilang militan.

“Barangkali mereka menyadari ruwetnya penerapan sistem Islam di tingkat nasional apalagi menerapkan sistem pemerintahan yang bersifat transnasional itu,” kata Syarwani kepada RMI NU Tegal di Jakarta, Kamis (23/8).

Abdullah Syarwani: Sangat Tepat Penolakan PBNU Terhadap Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)
Abdullah Syarwani: Sangat Tepat Penolakan PBNU Terhadap Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)

Abdullah Syarwani: Sangat Tepat Penolakan PBNU Terhadap Khilafah

Apalagi dalam negara Pancasila seperti Indonesia, sistem itu tidak relevan dan memang secara praktis sulit diwujudkan dan apaya ke sana akan banyak merusak sistem kehidupan yang ada. Sementara bagi warga Nahdliyyin (NU), ketika aspirasi negara Islam sebagaimana yang tercermin dalam Piagam Jakarta telah ditempatklan sebagai jiwa dari konstutusi maka itu dianggap sudah cukup.

“NU memerlukan substansi agama, bukan formalitasnya. Ini sebuah sikap kenegaraan dan kebangsaan yang benar,” kata kader NU yang pernah menjadi pengurus Gerakan Pemuda Ansor tahun 1970-an itu.

RMI NU Tegal

Abdullah Syarwani yang juga dikenal sebagai sesepuhnya LSM itu mengingatkan, walaupun saat ini umat Islam Indonesia telah hidup dalam arus global sehingga membawa kita pada globally thought (berpikir secara global), namun tetap harus berpijak pada bumi sendiri agar tetap relevan. Karena itu, lanjutnya, NU harus bertindak secara lokal-nasional (local action), mengingat banyak persoalan lokal yang perlu diperhatikan bahkan perlu diperjuangkan agar tidak lenyak dalam arus globalisasi, baik politik, ekonomi maupun budaya.

“Sistem khilafah yang ditawarkan oleh Hizbut Tahrir itu adalah salah satu bentuk globaliasasi politik, yang ini tidak sesuai dengan nation state yang telah kita perjuangkan dan kita bangun. Dengan nation state itu kita perjuangkan toleransi dan keanekaragaman budaya, yang selalu akan diseragamkan oleh ideologi global transnasional, baik yang dating dari kalangan Islam maupun lainnya,” katanya.

Dikatakan, NU sangat menghormati tradisi dan budaya lokal termasuk tradisi politiknya. Karena tradisi itu yang sangat dekat dan relevan bagi kehidupan masyarakat. Sementara itu Pancasila merupakan yang dipegang NU merupakan puncak kompromi dari seluruh proses itu di masa lalu dan sekarang masih relevan untuk digunakan.

“Karena itu sangat tepat kalau NU menawarkan Islam dengan asaas Pancasila dan ahlussunnah wal jamaah itu pada dunia luar, sehingga melahirkan Islam yang toleran dan moderat, tetapi bersikap tegas terhadap gerakan yang bertentangan dengan prinsip NU,” katanya.

Bila bersikap demikian, maka secara organisasi NU benar-benar telah matang. Karena itu, menurut Abdullah Syarwani, KH Hasyim Muzadi dan PBNU harus konsisten dengan Sikapnya yang tegas itu.(dam)

RMI NU Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Cerita, Ulama, Kajian RMI NU Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Demo di Kantor Bulog, PMII Bandung Serukan Kedaulatan Pangan

Bandung, RMI NU Tegal. Ratusan anggota Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indoensia (PMII) Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (11/3), menggelar aksi damai untuk mendesak pemerintah menegakkan kedaulatan pangan di Indonesia dan segera mengatasi melambungnya harga sembako.

Sejak pagi, massa aksi penyampaian aspirasinya dari berkeliling di area kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung sekaligus menggalang massa dari mahasiswa lain di kampus setempat untuk bergabung bersama PMII.

Demo di Kantor Bulog, PMII Bandung Serukan Kedaulatan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Demo di Kantor Bulog, PMII Bandung Serukan Kedaulatan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Demo di Kantor Bulog, PMII Bandung Serukan Kedaulatan Pangan

Lalu menjelang siang, dengan menaiki 2 truk massa aksi bergerak menuju gudang Bulog Regional Kota Bandung di Jalan Gedebage. Di sana sekitar 1 jam mereka menyuarakan tuntutannya, kemudian mereka menggeliat menuju kantor di depan Perum Bulog Divisi Regional Jawa Barat, di Jalan Soekarno-Hatta No. 711A kota Bandung.

RMI NU Tegal

Aksi damai yang dilakukan PMII ini membuat perwakilan dari mereka diperkenankan melakukan audiensi tertutup bersama petinggi Bulog Regional Jawa Barat. Sementara ratusan massa lainnya tetap berada di luar gedung Perum Bulog tersebut. Aksi di seberang pinggir jalan ini banyak mendapatkan perhatian dari pengguna jalan.

Ahmad Riyadi, ketua PC PMII kota Bandung mengatakan bahwa aksi tersebut yang digelar sebagai bentuk respon PMII atas persoalan kebutuhan pokok masyarakat khususnya dalam masalah pangan, khususnya kebutuhan yang kini langka dan harganya melambung tinggi.

RMI NU Tegal

“Sebetulnya yang jadi persoalan adalah kebutuhan beras. Pemerintah seharusnya mendukung petani lokal (tradisional) untuk mengembangkan potensi lahan pertanian yang dimiliki. Hal tersebut sebagai upaya dalam mengatasi kebijakan impor beras yangi dilakukan oleh pemerintah," kata Riyadi yang juga sebagai penanggung jawab aksi tersebut.

Dia menjelaskan proses tersebut harus berbanding lurus dengan usaha Pemerintah melalui sosialisasi atau penyuluhan yang baik kepada para petani, misalnya penyuluhan terkait sumber pupuk atau penggunaan pestisida yang efektif.

"Artinya bahwa ini merupakan konsekuensi dari Pemerintah untuk berbicara soal pengelolaan dan kesejahteraan pertanian. Kalau semua ini bisa dilakukan oleh Pemerintah, saya rasa kita tidak butuh lho yang namanya beras impor, karena Indonesia mempunyai potensi pertanian yang sangat bagus,” ujar Riyadi menjelaskan? salah satu tuntutan dari aksi PMII kota Bandung itu.

Lebih lanjut, Riyadi atas nama rakyat mendesak kepada Pemerintah harus bisa mengintervensi stabilitas harga pasar, lebih-lebih bisa menentukan harga pasar. Pemerintah juga jangan sampai terjebak model kapitalisme yang akhirnya mengeksploitasi hak-hak rakyat.

“Lalu bagaimana cara Pemerintah mampu memberikan arahan kepada masyarakat (petani) untuk memberikan pupuk-pupuk yang baik. Begitu juga jangan sampai harga pupuk melambung tinggi, yang pada akhirnya harga beras ditentukan oleh harga pupuk,” tegas mahasiswa pascasarjana Universitas Langlangbuana itu.

Dia menambahkan, Pemerintah juga harus memperhatikan pendidikan dan kelayakan hidup di kalangan para petani. “Bagaimana pun Pemerintah harus mempertimbangkan hal itu, karena merekalah yang setiap hari di sawah untuk melakukan penanaman hingga pemanenan,” singgungnya.

“Harapannya, masyarakat harus mampu memanfaatkan lahan dimiliki, lalu pengelolaan tanaman yang baik, mulai dari pemilihan benih sampai proses pemanenan, serta mampu memasarkan dengan baik,” pungkas Riyadi. (Muhammad Zidni Nafi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Cerita, Warta, IMNU RMI NU Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

PBNU Dukung Penghentian Kurikulum 2013

Mataram, RMI NU Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendukung kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menghentikan Kurikulum 2013 karena dinilai sangat memberatkan peserta didik.

PBNU Dukung Penghentian Kurikulum 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Dukung Penghentian Kurikulum 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Dukung Penghentian Kurikulum 2013

"Saya sendiri saja mengaku bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 sangat kacau dan memberatkan anak didik. Untuk itu, saya sangat setuju kalau itu dihentikan," tegas Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj di Mataram, Sabtu.

Said Aqil berharap pemerintah segera melakukan perbaikan, demi kebaikan dunia pendidikan Indonesia.

RMI NU Tegal

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Rasyid Baswedan memutuskan untuk menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di seluruh Indonesia untuk disempurnakan.

"Proses penyempurnaan Kurikulum 2013 tidak berhenti, akan diperbaiki dan dikembangkan, serta dilaksanakan di sekolah-sekolah percontohan yang selama ini telah menggunakan Kurikulum 2013 selama tiga semester terakhir," kata Anies Baswedan di Jakarta, kemarin. (antara/mukafi niam)

RMI NU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Cerita, Fragmen RMI NU Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Mahfud MD: SBY Sudah Proporsional Tangani Korupsi

Pamekasan, RMI NU Tegal. Anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa DPR RI Moh Mahfud MD menilai, upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan pemerintahan Persiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tepat dan proporsional. Pendapat mantan Menteri Pertahanan itu berbeda Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) yang menilai bahwa pemberantasan korupsi cenderung tebang pilih, khususnya pada orang dekat mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Mahfud mengatakan hal itu, usai menghadiri dialog dengan tukang ojek dan tukang becak di Jalan Niaga, Pamekasan, Jawa Timur, Minggu (8/4) malam. Bahkan menurutnya, pemberantasan korupsi di era pemerintahan Presiden SBY jauh lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. “Justru saya melihat pemberantasan tindak pidana korupsi saat ini jauh lebih bagus ketimbang kepemimpinan Megawati,” ujarnya.

Dijelaskan, pemberantasan korupsi di era pemerintahan Megawati kurang bergaung. Indikasinya, terlihat dari minimnya pejabat publik yang diseret ke meja hijau. “Kalau dulu izin pemeriksaan pejabat publik seperti gubernur, tidak langsung diteken. Sekarang kan relatif lebih cepat. Presiden SBY langsung meneken permintaan izin pemeriksaan terhadap pejabat, seperti Abdullah Puteh (Gubernur NAD, Syaukani (Bupati Kutai Kertenegara), dan sebagainya,” terang Mahfud.

Mahfud MD: SBY Sudah Proporsional Tangani Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahfud MD: SBY Sudah Proporsional Tangani Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahfud MD: SBY Sudah Proporsional Tangani Korupsi

Karena itu, dia tidak setuju dengan pendapat sebagian pengamat, termasuk Gus Dur, yang menilai Presiden SBY terkesan tebang pilih dan hanya mengincar orang-orang rezim Megawati. Menurutnya, tudingan itu tidak sesuai dengan kenyataan sesungguhnya. Dia menilai, Presiden SBY tidak pandang bulu memerangi pelaku korupsi.

“Era pemerintahan Megawati hampir tidak ada mantan pejabat yang diperiksa. Bahkan, Megawati terkesan menghalang-halangi pemeriksaan seperti yang dialami Abdullah Puteh. Tapi, begitu SBY naik, Abdullah Puteh langsung diperiksa. Begitu pun dengan mantan pejabat lainnya,” ungkapnya.

RMI NU Tegal

Selain itu, Mahfud melihat tidak ada nuansa dendam dari SBY terhadap orang-orang Megawati, seperti banyak diberitakan media massa. “Rokhmin Dahuri (mantan Menteri Kelautan) dan Widjanarko Puspoyo (mantan Dirut Bulog) merupakan pejabat sejak era Gus Dur, bukan hanya orangnya Megawati,” paparnya.

Namun demikian, Mahfud tetap melihat adanya kelemahan pemberantasan korupsi di Indonesia pada era SBY. Indikasinya, penanganan korupsi belum berani menyentuh pejabat yang masih aktif. Padahal, banyak pejabat negara yang diduga tersandung korupsi dalam jumlah tidak sedikit.

RMI NU Tegal

“Beberapa pejabat yang nyata-nyata melakukan tindak korupsi lepas dari proses hukum. Yang diproses hanya mereka yang tidak lagi menjabat,” tandasnya.

Kondisi tersebut, menurut Mahfud, mengindikasikan adanya pengaruh kekuasaan yang masih dominan di negeri ini. Dengan kekuatan yang dimiliki, seorang pejabat bisa membeli hukum. Bahkan, katanya, hal itu tidak hanya dilakukan oleh pejabat di daerah, tapi juga di pusat. Sayangnya, pakar hukum dari UII Jogjakarta ini tidak bersedia menyebutkan nama-nama pejabat dimaksud. (gpa/sbh)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Cerita, Budaya, Fragmen RMI NU Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Geliat Kehidupan Muslim di Chiang Mai Thailand

Chiang Mai,? RMI NU Tegal. Suasana masjid Hidayatul Islam di Chiang Mai, Thailand terlihat lengang baik saat pagi, siang maupun sore hari. Seolah tidak ada kegiatan yang berarti, meski sekarang adalah bulan Ramadlan. Hal tersebut tentu sangat berbeda dengan suasana masjid yang begitu ramai dan gegap gempita penuh dengan kajian Islam saat bulan Ramadlan.

Geliat Kehidupan Muslim di Chiang Mai Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)
Geliat Kehidupan Muslim di Chiang Mai Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)

Geliat Kehidupan Muslim di Chiang Mai Thailand

Di sudut masjid, terlihat orang-orang melakukan beberapa aktivitas. Ada yang menata-nata meja dan kursi, ada yang memotong-motong daging, ada yang menumbuk bumbu-bumbu, dan ada yang menanak nasi. Semuanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Mereka ini lah pengurus masjid yang bertugas untuk menyiapkan hidangan untuk buka puasa di masjid Hidayatul Islam atau biasa dipanggil dengan masjid Banhaw.

RMI NU Tegal

“Saat Ramadlan, kita menyediakan makanan saat dinner time (buka puasa),” kata salah satu pengurus masjid Banhaw, Pantewee Mapai Roje, kepada? RMI NU Tegal? di Chiang Mai, Thailand, Sabtu (18/6).

RMI NU Tegal

Selain itu, terdengar juga suara-suara lirih anak kecil yang mengeja beberapa ayat Al Quran dari lantai tiga gedung masjid Banhaw.

“Kita juga ada Islamic school,” tegas Pantewee.

Menurut dia, sekolah Islam yang ada di masjid Banhaw tersebut memiliki lima tingkatan dan itu setara dengan sekolah dasar. Ada tiga puluh anak yang belajar dan tinggal di sekolah Islam tersebut. Semuanya laki-laki.

Di depan masjid terdapat gedung yang menjulang tinggi. Gedung tersebut memiliki lima lantai. Lantai pertama dibuat untuk ruang serba guna, termasuk tempat buka puasa bersama. Lantai kedua dipakai untuk ruang pertemuan dan ruang kelas. Lantai ketiga untuk perpustakaan, ruang kelas, dan ruang ustadz. Lantai ke empat adalah untuk ruang pertemuan dan ruang kelas. Sedangkan lantai lima difungsikan sebagai tempat tinggal santri dan lapangan olah raga.

Sekolah Islam tersebut dimulai sejak pukul Sembilan pagi dan selesai pada pukul satu siang. Mereka belajar nahwu, shorof, sirah nabawiyah, dan keilmuan Islam lainnya.?

Meski demikian, Pantewee menyebutkan bahwa perkembangan Islam di Chiang Mai berjalan begitu lamban. Baginya, ada dua hal yang menghambat dan menjadi persoalan bagi perkembangan Islam di Chiang Mai.?

Pertama, metode pengajaran. Laki-laki berambut perak tersebut menyanyangkan beberapa ustadz yang mengajarkan Islam dengan metode yang biasa-biasa saja. Sehingga hal tersebut kurang menarik perhatian anak-anak muda.?

Kedua, ajaran untuk menjadi orang yang egois. Pantewee juga menyanyangkan bahwa ada banyak ustadz yang melarang umat Islam untuk mengikuti dan berpartisipasi dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh komunitas non-muslim.?

“Mereka mengajarkan kita untuk menjadi orang yang egois,” pungkasnya.?

Ada tiga masjid di Chiang Mai, yaitu masjid Hidayatul Islam atau Banhaw, masjid Attaqwa, dan masjid Chang Khlan.? (Muchlishon Rochmat/Fathoni)?





Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Cerita, Ubudiyah, Doa RMI NU Tegal

Rabu, 29 November 2017

Hari Pahlawan, Pelajar NU Kartasura Shalawatan

Sukoharjo, RMI NU Tegal. Momentum Hari Pahlawan, Ahad (10/11) kemarin, diperingati para kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kartasura Sukoharjo, Jawa Tengah, dengan pembacaan shalawat.

Acara yang dikemas dengan nama Germas, singkatan dari Gerakan Remaja Pecinta Shalawat tersebut diikuti sekitar 60 anggota. Acara diisi dengan pembacaan maulid al-Barzanji dan diskusi.

Hari Pahlawan, Pelajar NU Kartasura Shalawatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Pahlawan, Pelajar NU Kartasura Shalawatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Pahlawan, Pelajar NU Kartasura Shalawatan

Ketua Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC IPPNU) Kabupaten Sukoharjo, Fitria Ayu, menjelaskan kegiatan shalawatan ini sebetulnya merupakan kegiatan rutin, yang kebetulan pada pelaksanaan kali ini bersamaan dengan tanggal 10 November atau Hari Pahlawan.

RMI NU Tegal

“Selama ini kegiatan (shalawatan) sebagai wadah pengkaderan untuk menarik minat remaja yang sekarang banyak gandrung dengan shalawat,” tuturnya.

RMI NU Tegal

Namun tidak hanya itu, ia menambahkan kegiatan shalawatan ini, selain menjadi ruang pengkaderan, nantinya juga dapat dibuat sebagai sebuah gerakan sosial. Gerakan sosial yang dimaksud, komunitas shalawat yang ada kemudian juga dapat menjadi wadah pemberdayaan sosial jamaahnya.

“Jadi secara kasarnya, shalawatan tidak hanya sekedar ibadah, tapi juga memiliki nilai sosial,” ujarnya kepada RMI NU Tegal, Ahad (10/11) .

Fitria menjelaskan, saat ini majelis shalawat seperti Ahbabul Musthofa, Jamuro, dan sebagainya layak untuk dibentuk sebagai sebuah gerakan sosial. “Paling tidak majelis shalawatan yang sudah ada, ini memiliki dua syarat untuk menjadi sebuah gerakan sosial. Yaitu figur dan massa,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal AlaNu, Makam, Cerita RMI NU Tegal

Jumat, 24 November 2017

Sarung Jadi Identitas Nasional

Banyuwangi, RMI NU Tegal - Pengurus Cabang (PC) Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) Kabupaten Banyuwangi melanjutkan pemilihan finalis duta Kang dan Mbak santri 2017 di Sun East Mall, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Ahad (24/9) pagi. Setelah sepekan sebelumnya mereka melangsungkan babak penyisihan peserta di alua Pondok Pesantren Bustanul Makmur, Ahad (17/9).

Momentum ini dihadiri langsung oleh Ketua RMI Kabupaten Banyuwangi KH Ahmad Munib Syafaat beserta pengurus harian lain, ratusan anggota badan otonom (Banom) NU Kabupaten Banyuwangi dan 15 peserta terpilih seleksi sebagai finalis.

Sarung Jadi Identitas Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarung Jadi Identitas Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarung Jadi Identitas Nasional

Acara yang bekerja sama dengan PC IPNU dan IPPNU Kabupaten Banyuwangi ini mengangkat Mariatul Kibtiyah, Ana Aniyati, Anang Lukman, dan KH Ali Marfu sebagai dewan juri.

RMI NU Tegal

Menurut Kiai Ahmad Munib Syafaat, model pakaian tahun ini berbeda dari tahun kemarin. Sarung sekarang, bukan identitas yang berarti dengan kekolotan.

"Karena banyak orang-orang penting dengan penuh percaya diri menggunakan kostum sarung di hadapan media nasional dan di depan publik. Sekarang sarung sudah menjadi identitas nasional," terang Kiai Munib di hadapan ratusan hadirin.

RMI NU Tegal

Ia mencontohkan, presiden, mentri, sampai dengan bupati, kerap kali mengenakan sarung.

"Tentu kita sudah jamak dengan nama Joko widodo, Imam Nahrawi, dan Abdullah Azwar Anas. Politikus di atas merupakan bagian dari pejabat negara sampai daerah yang mengenakan sarung pada sela-sela kesibukan mereka," tutur salah satu di antara pengasuh Pondok Pesantren Darussalam.

Ia menambahkan, karenanya kegiatan ini ke depan penting untuk dilaksanakan kembali. Sudah saatnya santri nusantara memiliki branding yang lebih baik. Dan selalu up to date dengan tantangan zaman yang terus berubah.

"Gelaran ini menjadi wadah penting untuk menumbuh kembangkan bakat dan minat santri. Juga menjadi ajang menunjukkan ke masyarakat luas khususnya di Kabupaten Banyuwangi, atas santri-santri yang memiliki dedikasi tinggi untuk kemajuan bangsa dan agamanya," tutur Gus Munib.

Dia menjelaskan, di tahun ini terdapat perwakilan peserta dari Negara Thailand. "Dan untuk tahun depan akan hadir sebagai peserta perwakilan dari Brunai Darussalam dan Malaysia," imbuh Gus Munib.

"Pada akhir laga nanti, sebelum didapuk sebagai juara. Seluruh peserta akan menunjukkan bakat dan minatnya di atas stage mall. Mulai dari; membaca kitab kuning, telling story, pidato bahasa asing, sampai bernyanyi," sambungnya.

Berhasil dipilih sebagai juara pertama duta Kang (kategori santri Laki-laki) atas nama M Sholeh Mubarok dari Pondok Pesantren Darussalam. Juara kedua atas nama M Yahya Ghozali dari Pondok Pesantren Darussalam 1. Juara ketiga adalah Rana Dwi Arisandi dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah.

Sedangkan finalis mbak (kategori perempuan), juara pertama atas nama Nurul Hidayah dari Pondok Pesantren Darussalam Putri Utara. Juara kedua diraih oleh Nila Shofy Nihayah, dan terakhir juara ketiga Dina Lutfiana dari Pondok Pesantren Darussalam Putri Selatan.

semuanya akan mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp. 1 juta bagi finalis juara pertama, juara kedua mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp.750 ribu, dan juara ketiga mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp.500 ribu. Ditambah masing-masing akan mendapatkan beasiswa Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sekolah dan pesantren selama satu tahun, trofy, dan sertifikat. (M Sholeh Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Sejarah, Cerita, Syariah RMI NU Tegal

Jumat, 17 November 2017

Kang Said: Capres Diterima Sebagai Tamu

Jakarta, RMI NU Tegal. Menjelang pemilihan presiden, sejumlah politikus bertandang ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kehadiran mereka di jalan Kramat Raya nomor 164 itu tidak bermakna permohonan dukungan politik tertentu. Mereka diterima jajaran pengurus NU seperti tamu pada umumnya.

Kang Said: Capres Diterima Sebagai Tamu (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Capres Diterima Sebagai Tamu (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Capres Diterima Sebagai Tamu

Demikian dikatakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Said Siroj sebelum rapat jajaran Rais Syuriyah dan Mustasyar PBNU di lantai lima jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Rabu (16/4) petang.

“Semua kita terima. Mereka itu tamu. Jadi siapa pun datang ke PBNU atau datang ke rumah, kita sambut terbuka,” kata Kang Said.

RMI NU Tegal

Ketika ditanya siapa lagi selain Jokowi dan Prabowo yang akan datang ke PBNU, Kang Said mengatakan tidak mengerti. “Baru Jokowi dan Prabowo saja,” tambah Kang Said.

RMI NU Tegal

“Kalau sekadar silaturahmi, kita terbuka. PBNU belum mengambil putusan dan sikap perihal capres. PBNU tidak mengarah ? ke siapa dan ke mana,” tandas Kang Said yang kemudian pamit untuk membuka rapat dengan jajaran Syuriyah dan Mustasyar yang juga dihadiri Pejabat Pelaksana Rais Aam PBNU KH A Musthofa Bisri Musthofa. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Cerita, Halaqoh RMI NU Tegal

Rabu, 15 November 2017

GP Ansor Jabar: Kemiskinan Sudah Nyata, Harus Diperangi!

Subang, RMI NU Tegal

Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haidar mengatakan, sudah saatnya kader GP Ansor bangkit dari segala keterpurukan.

"Ketika hari ini orang lain menilai bahwa kemiskinan itu sebuah isu, saya tegaskan bahwa kemiskinan itu sudah nyata," ujar Deni saat memberikan sambutan dalam acara Pelantikan Pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor Subang di Pondok Pesantren Al-Istiqamah, Kebondanas, Pusakajaya, Subang, Selasa (29/11).

GP Ansor Jabar: Kemiskinan Sudah Nyata, Harus Diperangi! (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jabar: Kemiskinan Sudah Nyata, Harus Diperangi! (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jabar: Kemiskinan Sudah Nyata, Harus Diperangi!

Dikatakan, sebagai organisasi kaderisasi, GP Ansor harusnya tampil untuk memberikan pembinaan dan pemberdayaan bagi para anggotanya.

RMI NU Tegal

"Salah satunya dengan penguatan kapasitas dan revitalisasi pemberdayaan kader. Jika itu dijalankan, niscaya GP Ansor menjelma sebagai organisasi yang besar," katanya.

RMI NU Tegal

Dengan penguatan kapasitas tersebut, lanjut Deni, hendaknya bisa memanfaatkan potensi dan peluang yang ada sehingga kader Ansor tidak kesulitan lagi dalam mengembangkan kreativitasnya itu.

"Terlebih, kader-kader Ansor sebetulnya memiliki skill individu yang bisa dikembangkan menjadi sebuah hasil karya yang baik. Tentu didorong dengan semangat yang tinggi," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Lomba, Cerita RMI NU Tegal

Kamis, 09 November 2017

Ini Pesan Gus Mus untuk Para Santri

Rembang, RMI NU Tegal - KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus) mengingatkan para santri untuk tetap menjaga identitas khas pesantren. Hal tersebut disampaikan saat iftitah peringatan Hari Santri yang digelar oleh PCNU Lasem dan Rembang Sabtu (21/10) malam.

Selain menjaga identitas, seorang santri harus tetap menjadi sosok yang sederhana. Yang paling penting, santri harus cinta pada tanah air, yaitu Indonesia dan menjaga keuntuhan bangsa.

Ini Pesan Gus Mus untuk Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Gus Mus untuk Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Gus Mus untuk Para Santri

Gus Mus berpesan, santri harus senantiasa menjaga identitas dan jati diri santri. Selain itu, kemandirian, serta pola hidup sederhana juga harus tercermin, jika kelak menjadi orang yang sukses.

RMI NU Tegal

"Saya ingatkan lagi, pegang identitas jati diri santri, mandiri sederhana, keindonesiaan," pesan Gus Mus.

Menurutnya, sikap kasih sayang merupakan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, serta berpegang teguh dengan ajaran Islam yang berhaluan Ahlussunah wal Jamaah, juga harus menjadi pedoman seorang santri dalam setiap langkahnya.

RMI NU Tegal

Amar ma’ruf dan nahi mungkar yang dilakukan oleh santri harus berlandaskan kasih sayang sebagaimana yang sudah dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

"Berpegang pada Islam yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah harus kalian pegangi jika kelak kalian menjadi orang yang sukses," tambah Gus Mus. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Pahlawan, Cerita, Santri RMI NU Tegal

Rabu, 25 Oktober 2017

Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah

Khutbah I

Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyerap Pelajaran Penting Tahun Baru Hijriah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?.

RMI NU Tegal

Waktu mengalir terus. Dan “tanpa terasa” kita sampai kepada pergantian tahun hijriah untuk kesekian kalinya. Detik menuju menit, jam, hari, bulan, hingga tahun senantiasa bergerak maju yang berarti semakin bertambah pula usia manusia. Yang perlu menjadi catatan adalah: apakah bertambah pula keberkahan usia kita? Ini pertanyaan singkat dan hanya bisa dijawab dengan merefleksikan secara panjang-lebar jejak perjalan hidup kita yang sudah lewat.

Tahun baru hijriah yang kita peringati setiap tahun terkandung sejarah dan nilai-nilai yang terus relevan hingga kini. Nabi sendiri tak pernah menetapkan kapan tahun baru Islam dimulai. Begitu pula tidak dilakukan oleh khalifah pertama, Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq. Awal penanggalan itu resmi diputuskan pada era khalifah kedua, Sayyidina Umar bin Khathab, sahabat Nabi yang terkenal membuat banyak gebrakan selama memimpin umat Islam.

RMI NU Tegal

Keputusan itu diambil melalui jalan musyawarah. Semula muncul beberapa usulan, di antaranya bahwa tahun Islam dihitung mulai dari masa kelahiran Nabi Muhammad. Ini adalah usulan yang cukup rasional. Rasulullah adalah manusia luar biasa yang melakukan revolusi ke arah peradaban yang lebih baik masyarakat Arab waktu itu. Karena itu kelahiran beliau adalah monumen bagi kelahiran perdaban itu sendiri. Tahun baru Masehi pun dimulai dari masa kelahiran figur yang diyakini membawa perubahan besar, yakni Isa al-Masih.

Yang menarik, Umar bin Khatab menolak usulan ini. Singkat cerita, forum musyawarah menyepakati momen hijrah Nabi dari Makkah menuju Madinah sebagai awal penghitungan kalender Islam atau kalender qamariyah yang merujuk pada perputaran bulan (bukan matahari). Karenanya kelak dikenal dengan tahun hijriah yang berasal dari kata hijrah (migrasi, pindah).

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah,

Memilih momen hijrah daripada momen kelahiran Nabi yang dilakukan Umar dan para sahabat lainnya mengandung makna yang sangat dalam. Kelahiran yang dialami manusia adalah peristiwa alamiah yang tak bisa ditolaknya. Nabi Muhammad pun saat lahir tak serta merta diangkat menjadi nabi kecuali setelah berusia 40 tahun. Beliau kala itu hanyalah bayi putra Abdullah bin Abdul Muthalib. Hal ini berbeda dari hijrah yang mengandung tekad, semangat perjuangan, perencanaan, dan kerja keras ke arah tujuan yang jelas: terealisasinya nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan dalam Islam (rahmatan lil ‘alamin).

Nabi memutuskan hijrah setelah melalui proses panjang selama 13 tahun di Makkah dengan berbagai tantangan dan jerih payahnya. Mula-mula beliau berdakwah secara tersembunyi, dimulai dari keluarga, orang-orang terdekat, dan pelan-pelan lalu kepada masyarakat luas secara terbuka. Selama itu, Rasulullah mendapat cukup banyak rintangan, mulai dari dicaci-maki, dilempar kotoran unta, kekerasan fisik, hingga percobaan pembunuhan. Semua dilalui dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan. Modal utama hingga hingga beliau berhasil menyadarkan sejumlah orang adalah akhlak mulia.

Rasulullah tampil sebagai agen perubahan di tengah masyarakat Arab yang begitu bejat. Asas tauhid melenceng jauh karena menganggap berhala sebagai Tuhan. Nilai-nilai kemanusiaan juga nyaris tak ada lantaran masih maraknya perbudakan, fanatisme suku, harta riba, penguburan hidup-hidup bayi perempuan, dan lain-lain. Rasulullah yang hendak mengubah cara pandang dan perilaku masyarakat jahiliyah mesti berhadapan para pembesar suku yang iri dan tamak kekuasaan, termasuk dari paman beliau sendiri, Abu Jahal dan Abu Lahab. Pengikut Islam bertambah, dan secara bersamaan bertambah pula tekanan dari musyrikin Quraisy. Hingga akhirnya atas perintah Allah, Nabi Muhammad bersama para sahabatnya berhijrah dari Makkah ke kota Yatsrib yang kelak dikenal dengan sebutan Madinah.

Perjalanan hijrah dilakukan di malam hari dengan cara sembunyi-sembunyi dan penuh kecemasan, menghindari kejaran kaum musyrikin Quraisy. Beruntung kala di kota Yatsrib, Rasulllah bersama sahabat-sahabatnya disambut positif penduduk setempat. Sebagian dari mereka mengenal Islam dan bahkan sudah beraiat kepada Nabi saat di Makkah. Di sinilah Nabi membangun peradaban Islam yang kokoh. Jumlah penganut semakin banyak, semangat persaudaraan antara Muhajirin dan Ansor dipupuk, dan kesepakatan-kesepakatan dengan kelompok di luar Islam diciptakan, demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang damai.

Mula-mula yang dilakukan Nabi setelah hijrah adalah mengubah nama dari Yatsrib menjadi Madinah. Mengapa Madinah (yang sekarang dimaknai sebagai “kota”)? Secara bahasa madînah berarti tempat peradaban. Perubahan nama ini memberi pesan tentang pergeseran pola perjuangan Nabi yang semula di Makkah banyak dipusatkan pada penyadaran pribadi-pribadi, menuju dakwah dalam konteks sosial yang terorganisisasi dalam negara Madinah. Di sini konstitusi (mitsaq al-madinah atau Piagam Madinah) dibangun, struktur pemerintahan disusun, dan aturan-aturan Islam seputar muamalah (hubungan antarsesama) banyak dikeluarkan di sana. Tentang Piagam Madinah, Nabi menjadikannya sebagai titik temu dari masyarakat Madinah yang plural saat itu, yang meliputi orang Muslim, orang Yahudi, suku-suku di Madinah, dan lain-lain. Demikianlah hijrah Nabi yang monumental itu seperti mendapatkan momentum puncaknya, yakni terwujudnya masyarakat yang beradab.

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah,

Setidaknya ada dua poin yang perlu digarisbawahi dari ulasan tersebut. Pertama, tahun baru hijriah harus dimaknai dalam kerangka perjuangan Nabi dalam merealisasikan nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan dalam Islam (rahmatan lil ‘alamin). Nabi sebagai sosok—termasuk momen kelahirannya—memang layak dihormati, tapi ada yang lebih penting lagi yakni spirit dan prestasi beliau sepanjang periode risalah. Dalam perjuangan itu ada ikhtiar, pengorbanan, keteguhan prinsip, keseriusan, kesabaran, dan keikhlasan. Yang terakhir ini menjadi sangat penting karena Rasulullah bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”

Nabi dan para sahabatnya menunjukkan ketulusan yang luar biasa semata hanya untuk jalan Allah. Namun justru karena niat seperti inilah mereka mendapatkan banyak hal, termasuk persaudaraan, keluarga baru, hingga kekayaan dan kesejahteraan selama di Madinah. Keikhlasan dan kerja kerasa dalam membangun masyarakat berketuhanan sekaligus berkeadaban berbuah manis meskipun tantangan akan selalu ada. Inilah teladan yang berikan Nabi dari hasil berhijrah.

Poin kedua adalah kenyataan bahwa Nabi tidak membangun negara berdasarkan fanatisme kelompok atau suku. Rasulullah menginisasi terciptanya kesepakatan bersama kepada seluruh penduduk Yatsrib untuk kepentingan jaminan kebasan beragama, keamanan, penegakan akhlak mulia, dan persaudaraan antaranggota masyarakat. Tujuan dari kesepakatan tersebut masih relevan kita terapkan hingga sekarang. Inilah hijrah yang tak hanya bermakna secara harfiah “pindah tempat”, melainkan juga pindah orientasi: dari yang buruk menjadi yang baik, dari yang baik menjadi lebih baik. Dan Rasulullah meneladankan, perubahan tersebut tak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk masyarakat secara kolektif.Semoga pergantian tahun hijriah membawa keberkahan bagi umur kita dengan belajar dari peristiwa hijrah Rasulullah yang monumental lengkap dengan nilai-nilai positif di dalamnya. Wallahu a’lam.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Alif Budi Luhur
Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Hadits, Kajian Sunnah, Cerita RMI NU Tegal

Minggu, 22 Oktober 2017

Siswa MI NU Sabet Medali Karate Nasional

Bojonegoro, RMI NU Tegal. Syukur dan bangga. Mungkin dua kata itulah yang pantas diucapkan oleh segenap keluarga besar Madrasah Ibtidaiyah Nahdlotul Ulama (MINU) Wali Songo Sumuragung Sumberrejo Bojonegoro ketika Galuh Eka Fidyanti meraih Juara III Karate tingkat Usia Dini Nasional.

Raut muka sumringah tampak dari wajah pemangku kepentingan MINU Wali Songo ketika menyambut kedatangan pelatih karate Lemkari kecamatan Sumberrejo yang menyerahkan medali beserta atribut lainnya atas prestasi dari anak didiknya yang meraih medali perunggu dalam kejuaraan karate Lemkari tingkat Nasional di kantor MINU Wali Songo Rabu (20/2) pagi. 

Siswa MI NU Sabet Medali Karate Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa MI NU Sabet Medali Karate Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa MI NU Sabet Medali Karate Nasional

Galuh Eka Yulianti siswi kelas III (tiga) ini meraih medali setelah melalui berbagai seleksi ketat dan bertahap. Siswa pendiam ketika kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung ini menyabet medali kategori usia dini – 30 kg putri.

RMI NU Tegal

Sebagaimana diketahui siswi yang senangnya duduk di bangku deretan belakang ini beberapa hari terakhir sering izin melalui wali kelasnya untuk mengikuti seleksi kejuaraan karate Lemkari tingkat kabupaten kategori/kumite usia dini – 30 kg putri. 

RMI NU Tegal

“Kami maklum jikalau ini demi prestasi anak didik kami,” ujar Mubarok Firdaus Wali kelas III.

Kegiatan kejuaraan karate Lemkari ini memperebutkan Piala ketua umum Lemkari dan Ronggolawe I (pertama) pada tanggal 15 s/d 17 Februari 2013 di Kota Tuban.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Olahraga, Hikmah, Cerita RMI NU Tegal

Minggu, 01 Oktober 2017

Mabincab PMII Lampung Timur Imbau Kader Sebar Paham Aswaja NU ke Pelosok Nusantara dan Dunia

Lampung Timur, RMI NU Tegal - Dalam era globalisasi ini, tantangan mahasiswa sangatlah berat dan kompleks, apalagi selaku mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Lampung. Ke depan mereka dituntut siap menjadi kader-kader (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Nahdlatul Ulama (NU) yang militan.

Jadilah kader PMII yang kaffah, yang dapat menyebarkan paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyyah ke pelosok Nusantara dan dunia.

Mabincab PMII Lampung Timur Imbau Kader Sebar Paham Aswaja NU ke Pelosok Nusantara dan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Mabincab PMII Lampung Timur Imbau Kader Sebar Paham Aswaja NU ke Pelosok Nusantara dan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Mabincab PMII Lampung Timur Imbau Kader Sebar Paham Aswaja NU ke Pelosok Nusantara dan Dunia

Demikian disampaikan Mabincab PMII Kabupaten Lampung Timur Ahmad Fauzi di hadapan 64 peserta dalam pembukaan Mapaba (Masa Penerimaan Anggota Baru) Komisariat Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Lampung, di gedung PCNU Kabupaten Lampung Timur, Jalan Ky Khanafiah Nomor 9 Lintas Timur Mataram Marga Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, Senin (20/11).

“Sahabat-sahabat semua yang butuh PMII dan NU, bukan PMII yang butuh sahabat-sahabat. Menjadi mahasiswa tidak hanya mengejar IPK dan lulus cepat saja, salah satu yang terpenting adalah ikut aktif dalam organisasi yang sesuai dengan nafas dan akidah Aswaja an-Nahdliyyah, yakni PMII sebagaimana yang telah diputuskan dalam Muktamar NU di Jombang Jawa Timur dua tahun lalu, bahwa PMII adalah salah satu badan otonom NU,” imbuh alumnus IAIN Metro Lampung ini.

RMI NU Tegal

Mapaba PMII Komisariat UNU Lampung dilaksanakan selama empat hari ke depan, Senin-Kamis, (20-23/11) dengan tema besar Meneguhkan Nilai-Nilai Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai Dasar Pergerakan.Mapaba juga diikuti peserta dari Komisariat STIE Lampung Timur, Komisariat STIS Braja Harjosari, Komisariat Universitas Terbuka.

Hadir dalam agenda pembukaan Mapaba tersebut Rektor UNU Lampung Nasir, anggota DPRD Lampung Timur Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa M Akmal Fathoni, dan lain-lain. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal

RMI NU Tegal Doa, Cerita RMI NU Tegal

Jumat, 01 September 2017

Tuntut Gaji, Guru PAI SD Se-Bojonegoro Luruk Kemenag

Bojonegoro, RMI NU Tegal. Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) se-Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Rabu (8/1/2014), meluruk kantor Kementrian Agama (Kemenag) Bojonegoro. Ratusan guru tersebut menuntut tunggakan gaji selama setahun yang belum dibayarkan.

"Selain menuntut gaji setahun, juga meminta Kemenag untuk mempermudah pencairan jangan dipersulit dengan dicairkan setahun sekali. Harapannya seperti dana yang lain, dicairkan tiga bulan sekali," ujar Fadhori, ketua koordinator GPAI SD se-Kabupaten Bojonegoro, kepada RMI NU Tegal.

Tuntut Gaji, Guru PAI SD Se-Bojonegoro Luruk Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuntut Gaji, Guru PAI SD Se-Bojonegoro Luruk Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuntut Gaji, Guru PAI SD Se-Bojonegoro Luruk Kemenag

Guru SD Kadipaten II Bojonegoro itu mengatakan, total anggaran hampir dua miliar rupiah diperuntukkan bagi mereka untuk menerima gaji setiap bulannya.

RMI NU Tegal

"Kalau Kemenag tidak bisa mengurusinya, diserahkan ke Dinas pendidikan saja. Karena sesuai aturannya, guru agama gajinya ditangani Kemenag," pungkasnya. Keterlambatan pencairan hanya terjadi pada GPAI SD, sementara gaji untuk GPAI SMP dan SMA telah cair.

RMI NU Tegal

Tampak para pendemo bapak dan ibu guru itu membawa poster bertuliskan, antara lain, “Cairkan Dana Sertifikasi/TPP GPAI SD 2013”, “Kalau Kemenag Tidak Mampu Menangani TPP Serahkan Kami ke Dinas Pendidikan, dan Jangan Persulit Sistem Pencairan Dana.

Kedua belah pihak, yakni antara perwakilan GPAI dan Kemenag, akhirnya melakukan pertemuan tertutup. "Hasilnya pertemuan, kita akan sampaikan ke Kanwil Jawa Timur, karena didaerah tidak mempunyai kewenangan apa-apa," ujar Kepala Kemenag Bojonegoro, Abdul Wahib usai pertemuan. (M Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

RMI NU Tegal Khutbah, Cerita, Budaya RMI NU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs RMI NU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik RMI NU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan RMI NU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock